Keantariksaan kita

Kemarin (17/02) saya menyempatkan hadir di kuliah tamu yang digagas oleh Jurusan Teknik Geomatika ITS yang menghadirkan kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin dengan tema “Peran Iptek dan Antariksa untuk menjadikan Indonesia Maju dan Mandiri”. Disana dibicarakan tentang apa saja yang telah-sedang dan akan dilakukan oleh LAPAN untuk menunjang kebutuhan Indonesia terhadap penguasaan antariksanya yang luarbiasa kerennya. Karena bidang antariksa ini pada gilirannya akan terintegrasi dengan seluruh aspek kehidupan bangsa, tetapi difokuskan pada pengkajian cuaca antariksa, atmosfer, sains keantariksaan (beserta teknologinya yang berupa roket, satelit dan aeronautika atau penerbangan), penginderaan jauh dan kajian kebijakan aerospace dan antariksanya.

LAPAN juga benar-benar menjadi sebuah kebanggaan nasional. Saya terpikir untuk mengambil KP (kerja praktik) disana saking excitednya dengan proyek-proyek LAPAN, terkhusus di bidang teknologi satelit, roket, radar dan penginderaan jauhnya. Itu adalah teknologi-teknologi yang bisa menopang, menunjang dan menyokong kemandirian, kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.

Pengembangan di bidang keantariksaan sudah seharusnya menjadi prioritas dalam pengembangan jangka panjang, kalau tidak, kita akan tertinggal dari Negara-negara lain. Sains antariksa ini bila kita tahu, pada akhirnya merupakan suatu lintas disiplin ilmu yang integratif, saling berhubungan dengan bidang yang lain. Siapa sangka bahwa proyek-proyek keantariksaan bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk komunikasi (yaeyalaah. Haha), navigasi dan prediksi. Saya semakin tertarik untuk memikirkan ulang proyek-proyek yang dikembangkan oleh LAPAN ini untuk mengkorelasikannya dengan teknologi big data dan data science yang sedang booming itu. di ITS sendiri, karena teknologi itu jurusan matematika langsung cabut dari fakultas mipa dan memilih untuk mendirikan fakultas sendiri, fakultas matematika dan aktuaria. Oia, big data dan data science itu sendiri merupakan disiplin ilmu yang relative baru, gabungan antara ilmu matematika (statistika) dan ilmu computer dan lulusannya termasuk yang paling banyak dicari sampe Harvard Business Review pernah memuat tulisan Data Scientist: The Sexiest Job of the 21st Century. Ini bukan tanpa dasar. Karena pada tahun 2011, McKinsey Global Institute memprediksi adanya kekurangan hampir 200 ribu ilmuwan data pada 2018. Ini baru di Amerika Serikat saja. Pantesan kan kalau perusahaan mengiming-imingi mereka dengan gaji ukuran “jumbo”.

Balik lagi ke LAPAN :p. Dari keempat misi utama LAPAN yang telah disebut diatas itu, dipaparkan lebih detail dalam tujuh program utamanya yang berupa pengembangan teknologi satelit, teknologi roket (termasuk di bidang aeronautika dengan mulai mengembangkan pesawat N2-19), pengembangan bank data penginderaan jauh nasional dengan citra satelit resolusi tinggi (ini nantinya bisa digunakan untuk memetakan bencana, bidang agraria, pertanian, kelautan atau kemaritiman, dlsb), dan empat program lainnya saya lupa. Haha. Disini saya hanya akan menuliskan sedikit saja tentang teknologi satelit, roket dan radar serta aplikasi lebih lanjut dari ketiga teknologi itu.

1). Teknologi Satelit

Sesungguhnya yang dikhawatirkan oleh orang saat ini bukan semata-mata kiamat manusia (karena kalau kiamat manusia terjadi, ya sudah. Itu menandai berakhirnya kehidupan manusia di bumi), tetapi kiamat teknologi. Karena hampir keseluruhan system teknologi dan informasi (semisal internet dan jaringan komunikasi data) yang kita gunakan sekarang bergantung sepenuhnya pada ruang antariksa, medan magnet, dan atmosfer dengan gelombang-gelombangnya. Nah bila ada badai matahari atau yang mengacaukan system antariksa itu, maka artinya teknologi itu semua akan ambyar semuanya. Terlebih karena antariksa juga merupakan wilayah operasional satelit, sementara satelit ini kita tahu sangat buanyak sekali kegunaannya. Sehingga menjadi penting untuk bisa mengamati dan memantau cuaca antariksa ini.

Indonesia, yang adalah suatu bangsa yang luas yang disebut sebagai nusantara. Kata Prof Thomas, Nusantara itu sendiri adalah pulau-pulau yang disatukan oleh laut. Maka mutlak untuk menjembatani semua wilayah itu dan mempertahankannya, penguasaan kita terhadap system komunikasi yang berbasis satelit mutlak diperlukan. Dan btw, umur satelit itu ternyata pendek loh, kira-kira 10 sampai beberapa puluhan tahun. Beberapa satelit yang sudah diluncurkan lapan adalah seri A hingga A3 dengan misi yang berbeda-beda. Sisanya yang sedang dikembangkan (sekaligus mencari dana tambahan dari mitra bisnis) adalah lapan A4 (misi kemaritiman) dan A5 (misi radar atau SAR). Serie A ini merupakan serie satelit eksperimen dan dicukupkan hingga A5.

Citra satelit yang bisa dibuat Lapan ada 3 macam ; resolusi rendah (untuk keperluan cuaca dan lingkungan), resolusi menengah (lingkungan dan hutan) dan resolusi tinggi (pembuatan peta skala 1:1000). Nantinya satelit-satelit yang dikembangkan oleh lapan ini bisa digunakan sebagai system pemantau bumi nasional yang meliputi pemantauan kebakaran hutan (deforestasi dan carbon stock atau berupa kajian iklim), bencana, klasifikasi lahan atau tanah, infrastruktur pertanian (berupa system kanal irigasi yang sudah benar atau terlihat ruwet sehingga perlu dan bisa dibenarkan alurnya), fase pertumbuhan padi (jadi nantinya kita bisa menentukan distribusi pupuk dan perkiraan masa panen).

Citra satelit resolusi tinggi ini sangat bermanfaat untuk melihat secara lebih jelas potensi kelautan kita. Dengan itu kita bisa mengetahui suhu permukaan laut, kandungan klorofil, hingga bisa memetakan zona potensi penangkapan ikan yang artinya bisa ikut membantu nelayan  untuk meningkatkan produktifitas tangkapan ikannya. Nelayan gak perlu lagi was-was ketika melaut tidak akan dapat ikan, karena sedari awal sudah ditunjukan tempat mana yang sedang banyak ikannya.

2). Teknologi Transport dan Tanpa Awak

Teknologi ini dimaksudkan pengembangannya untuk pembuatan pesawat terbang (bekerja sama dengan PT. DI untuk pesawat penumpang) dan pesawat tanpa awak (drone) yang dimaksudkan untuk misi penjelajahan dan eksplorasi ke wilayah-wilayah bencana yang kadang sulit ditembus oleh moda transportasi biasa. Ketika bencana terjadi biasanya diikuti dengan kelumpuhan infrastruktur dan komunikasinya. Tapi selain itu, nantinya pesawat tanpa awak ini juga bisa digunakan untuk memantau wilayah maritim kita. Bayangkan betapa akan ekonomisnya bila dibandingkan dengan menerjunkan langsung kapal operasi dengan cost yang tentunya cukup besar.

3). Teknologi Roket

Roket ini digunakan untuk apa lagi coba kalau bukan untuk meluncurkan satelit. Tanpa roket, bagaimana meluncurkan satelit, kan. Dan roket ini akan menjadi sangat ekonomis ketika diluncurkan di wilayah ekuator (kok bisa? iyaaa lah). makanya Lapan juga membuat beberapa bandara antariksa di wilayah-wilayah yang mendekati garis ekuator, salahsatunya di daerah Biak (minus 2 derajat).

Selain untuk peluncuran satelit, roket juga bisa digunakan untuk pembuatan hujan buatan, modifikasi cuaca sehingga dengan penggunaan teknologi roket nantinya hujan bisa diarahkan untuk turun atau jatuh dilaut, jadinya gak akan lagi banjir di daerah padat penduduk (*waaw).

Sebetulnya masih banyak hal yang masih perlu pendalaman dan perlu ditanyakan ke Prof. Thomas, tapi sayangnya karena hari itu adalah hari jumat dan waktunya terasa sangat sebentar sekali, diskusi yang menarik itu terpaksa harus diakhiri. saya padahal mau tanya sesuatu, tetapi jatah penanya hanya satu orang buat mahasiswa, dan saya gak kebagian. Hiks.

Advertisements

Muslim itu Mesti Peka

(*Pernah diposting sebelumnya di website Percikan Iman, 2015 silam)

Manusia adalah makhluk sosial yang tak sekedar memikirkan keadaan dirinya sendiri, tetapi juga lingkungan tempat dimana ia tinggal dan berinteraksi. Dunia memang tak pernah mengijinkan bagi manusia untuk hidup sendirian, karena mesti bagaimanapun, mereka saling terhubung dan saling membutuhkan antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Teorinya manusia itu adalah makhluk sosial, tapi bukan karena semata-mata teori itu lantas kita harus merasa wajib untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Tetapi karena secara fithrah dan naluriah kita memang memerlukan orang lain, sehingga jadi absahlah teori tersebut. Lihatlah Nabi Adam ‘alaihi salam, meskipun beliau sudah enak dan nyaman tinggal di surga, tetap saja merasa tidak kerasan ketika beliau hidup sendirian, dan akhirnya diberilah Siti Hawa untuk mendampingi dan menentramkan hatinya. Artinya, bahagia saja tidak cukup. Perlu ada orang lain untuk menggenapkan kebahagiaan tersebut. :p

Mungkin bisa saja kita untuk memilih dan memutuskan hidup menyendiri dan sendirian. Jauh dari keramaian, dan tertolak akses terhadap manusia lainnya, tetapi, ketahuilah, bahwa hidup yang seperti itu, secara tidak langsung telah mematikan kehidupan itu sendiri. Manusia tidak akan pernah mencapai nilai kemanusiaannya tanpa melibatkan orang lain. Taruhlah bahwa nilai kebermanfaatan manusia, yang dalam hal ini menyangkut kebahagiaannya dan kesuksesannya, selalu berkaitan dengan manusia lain, semacam memberikan dedikasi hidupnya agar berguna untuk orang lain.

Bisa kita lihat beberapa contoh kehidupan orang-orang  kaya dunia saat ini, akan kita dapati bahwa kebahagiaan hidup mereka tidak sepenuhnya terletak dalam uang dan kekayaan. Mereka malah lebih suka untuk mengeluarkan uangnya demi bakti sosial dan kegiatan kemasyarakatan atau kegiatan-kegiatan filantropis (derma) lainnya, dan ternyata, itu membuat mereka merasa bahagia. Dan konon kabarnya, mereka malah ketagihan untuk terus menerus melakukan bakti tersebut. Semacam ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa dibeli oleh uang atau materi.

Hidup memang kompleks. Tidak sekedar berpikir tentang makan apa saya hari ini, lalu bagaimana besok, atau dapatkah cita-cita masa kecil terwujud, bagaimana berpelesiran ke luar negeri, dan sekelumit keinginan-keinginan ilusional yang membayang dalam benak dan seakan ketika kita bisa meraihnya, maka kebahagiaan sudah pasti teraih. Padahal tentu saja tidak demikian.

Nyatanya kebahagiaan itu sangat sederhana yang melibatkan orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang perlu mendapatkan “secuil” perhatian dan kepeduliaan kita. Bahwa dengan keberadaan mereka, menjadikan keberadaan kita menjadi bermakna dalam artian bahwa secara tidak langsung mereka telah menyediakan peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan. Maka, sebetulnya yang perlu berterimakasih atas kebaikan kita itu bukan mereka yang mendapatkan kebaikan tersebut, tetapi kitalah, yang karena mereka, masih terbuka peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila dunia ini sudah di dominasi oleh orang-orang yang kaya dan tidak perlu mendapatkan bantuan?

Maka, sebelum engkau makan dengan lahap dan enaknya, perhatikan dulu tetanggamu, perhatikan lingkungan sekitarmu. Apakah mereka sudah kenyang? Sudah makan dan tak kebingungan dengan masalah dunia dan penghidupan? Apakah anak mereka masih suka menangis karena menahan laparnya perut mereka dan orang tuanya yang seakan sudah kehabisan akal dan alasan untuk bagaimana lagi memberi tahukan kepada anaknya bahwa saat itu mereka sedang tidak punya sesuatu untuk di makan? Ataukah keberadaan kita memang sudah kehilangan nilai dan makna, sehingga ada dan tidak adanya kita tidak mempunyai perbedaan sama sekali. Kita kenyang dan tercukupi kebutuhan, sementara di samping rumah kita perut-perut tetangga kita masih tidak bisa tenang dan harus menahan pedihnya lapar.

Ada satu kisah menarik dari sang Kholilullah, yakni Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam. Terkait dengan mengapa beliau mendapatkan gelar Kholil-nya Allah. Gelar yang tidak sembarangan nabi bisa memperolehnya, bahkan diyakini bahwa dengan segala keutamaannya, Nabi Ibrahim di dapuk menjadi nabi yang terbilang paling terpandang diantara sekian banyak nabi. Selain beliau merupakan salahsatu dari ke-5 nabi yang mempunyai predikat Ulul Azmi (yang terbaik kesabaran dan kesyukurannya serta paling tangguh dalam menghadapi cobaan), berkat beliau pula, yang berdoa tiada henti, akhirnya dikabulkan doanya dengan terlahirnya sang cucu jauh, Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wassalam, sebagai perwujudan dari rahmatan lil alamin untuk segenap alam dan sepanjang masa.

Kisah ini adalah tentang bagaimana Nabi Ibrahim mempunyai kebiasaan untuk tidak pernah mau makan sendirian, sebelum ditemani oleh 80 orang tetangga atau orang lain, siapa saja, tidak membeda-bedakan. Dalam keyakinannya, beliau tidak akan makan bila belum berkumpul dengan 80 orang yang akan diajaknya makan. Masya Allah, … bisa dibayangkan bagaimana pemurah, pengasih dan dermawannya Nabi Ibrahim. Dan ini setiap kali beliau mau makan. Jadi kalau misalnya beliau makan 2 atau 3 kali sehari, itu artinya ada 160 atau 240 orang yang beliau beri makan.

Beliau, dalam kisah tersebut, hingga sampai berlelah-lelah untuk mengumpulkan orang sebanyak itu. Dan setelah berkumpul orang banyak tersebut, maka dimulailah makan sambil mengucap syukur dan tiada hentinya mengucapkan terimakasih kepada orang-orang tersebut karena telah mau menemani beliau makan. Karena tiada keberkahan yang berlimpah pada makanan yang hanya di makan untuk diri sendiri, sehingga kita pun sering mendengar istilah yang terkenal di kalangan orang desa atau santri, bahwa tak penting menu makannya apa, tetapi bila makan dengan kawan atau keluarga, maka ada keberkahan tersendiri yang menjadikan makanan tersebut terasa nikmat sekali. Jadi, hampir setiap kali makan, nabi Ibrahim, seperti sedang mengadakan acara syukuran atau hajatan. Karena memang saking banyaknya orang yang beliau undang. Maka itulah Islam,itulah muslim dan mukmin. Perilaku dan tindak tanduk kesehariannya selalu memberikan manfaat kepada orang di sekitarnya. Kebaikan yang tersebar ke sekelilingnya,sehingga benar lah adanya  apa yang telah Rasul Saw sabdakan, “Manusia terbaik itu adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Dalam hadits tersebut, tidak dikatakan orang yang paling bermanfaat itu adalah orang yang kaya. Karena kita tahu, kekayaan saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang baik dan bermanfaat untuk orang lain. Bahkan, terkadang sering kita lihat orang yang tak berpunya, dan malah seharusnya mendapatkan santunan dari pihak lain, malah mendermakan sebagian materinya untuk orang lain. Itulah manfaat. Ia tidak bisa dimonopoli oleh harta dan materi, tetapi merupakan pembuktian kualitas keimanan seorang muslim.

Iman memang letaknya di hati, tetapi buahnya, selalu bisa dilihat dari perilaku yang tampak. Perilaku tersebut merupakan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak cukup untuk disebut sebagai orang yang beriman, ketika lidah dan perbuatannya malah membahayakan orang lain, sehingga orang lain merasa tidak aman dan tidak tenang atas perbuatannya. Tidak cukup pula iman itu dirasakan oleh dirinya sendiri, karena iman yang sejati, dan sebenar-benarnya iman, perlu pembuktian dengan tindakan. Mau sesepele atau sekecil apapun perbuatan baik tersebut, itu tak jadi soal. Lihatlah dawuh Rasul di kesempatan yang lain, ketika beliau menyebutkan bahwa cabang iman itu ada banyak, dan salah satu diantaranya adalah dengan menyingkirkan batu kerikil, cucuk, paku, serpihan kaca atau apapun yang membahayakan di jalan, agar supaya tidak membahayakan orang lain. Lihatlah, ..dengan perbuatan sederhana seperti menyingkirkan batu kerikil di jalan yang dikhawatirkan akan membahayakan orang lain saja, tercatat sebagai perilaku orang yang beriman, dan perbuatan tersebut termasuk pula dari cabang iman.

Jadi, sudahkah anda berbuat baik hari ini?

Ref :

*Link tulisan yang pernah dipublish itu, http://percikaniman.id/2015/10/04/muslim-itu-peka-terhadap-sesama/

Mahasiswa ; Kembalilah Ke Budaya Membaca Buku, Bukan Internet.

Zaman memang telah berubah, dan akan selalu berubah. Bahkan mungkin saja roda zaman telah menggilas kita, dan kita terseret tertatih-tatih. Bila tidak bisa menyesuaikan, bisa-bisa kita tergulung olehnya. Tapi perubahan itu tidak selalu positif dan tidak selalu harus diikuti, kan?. Untuk suatu perubahan yang negative, masak harus diikuti, kan amboi anehnya. Terhadap perubahan kita punya pilihan dan berhak untuk memilih. Kata siapa status quo selalu bermakna kolot, jasdul dan norak? Dan kali ini, saya menjadi sangat ingin menuliskan tentang budaya yang kian mengganas dikalangan mahasiswa ; menjadikan internet sebagai segalanya. Yang membuat buku, jendela dunia itu, menjadi kian tidak menarik dan kehilangan tajinya. Alih-alih menaikkan tingkat literasi, saya pikir internet malah membuat budaya literasi di kalangan mahasiswa turun drastis bak ipk-mu, rek. *Eh.

perpusnas
Ya ampuun.. perih mata ini.*Gambar diambil dari web Perpusnas

Bila kita melihat kecenderungan dunia digital dengan akses terhadap informasi yang tak ada habis-habisnya melemparkan kita pada suatu kondisi (yang jauh lebih mengerikan dari) alienasinya Karl Marx. Kita dibingungkan oleh serbuan informasi yang terus menerus, membuat batas antara benar dan salah menjadi setipis harapanku padamu (loh?). Haha. banjir informasi di internet sekarang dengan perspektif yang berbeda-beda ini akan membuat kita bagai minum air asin ; semakin diminum semakin haus. akhirnya alih-alih membuat kita paham, malah membuat kita bingung, salah kaprah dan keblinger. maka, definisi kebenaran bukan lagi sesuatu yang sejati, melainkan jadi sekedar suatu repetisi yang dipaksakan. Kebenaran adalah kebohongan dikali 500 kali. Artinya apa? Kebohongan yang diulang-ulang pada suatu waktu akan menjadi kebenaran dan menjadi opini umum atas suatu masalah.

Buku telah menjadi media alternative dalam menyimpan pengetahuan. Dan itu memang tidak pernah mengecewakan. Tetapi dengan menyingsingnya fajar era internet, apakah masih relevan dan patut bahwa yang memonopoli peng’arsipan’ atas pengetahuan itu dipegang oleh buku? Apakah internet bisa menjadi cara baru kita dalam merawat kewarasan berpikir dan sumber mencari pengetahuan, informasi dan ilmu? Kita sepertinya masih ragu untuk sampai ketahap itu. terlebih, setahu saya google itu, misalnya, isinya adalah sampah semua. Belum lagi fakta yang mengejutkan bahwa apa yang kita cari dari google, Wikipedia, Yahoo atau blog hanya 4% dari apa yang ada di samudera luas internet. Kita masih berada di permukaannya saja (itulah mengapa kita sering mendengar untuk aktivitas kita mencari informasi di google dinamai dengan istilah surfing atau berselancar), karena 96% informasi di internet (yang jarang atau susah di akses?) terdapat di kedalamannya yang dikenal dengan istilah deepweb atau bahkan ada lagi yang lebih dalam ; darkweb. Disana terdapat jurnal-jurnal ilmu pengetahuan, riset dari yang normal hingga yang absurd bahkan bengis pun ada. Tapi bukan tempatnya disini untuk membincangkan tentang keeksotisan deepweb. *Tsaah

perpus-geologi-ugm
Doi sejati eykeu

Nah, Sebuah paper yang ditulis oleh John Gehl dan Suzanne Douglas yang berjudul From Movable Type to Data Deluge, yang diterbitkan oleh Jurnal Educom Review, menjelaskan tentang berubahnya kendali informasi dan pengetahuan. di era sebelumnya, kita menganggap pembawa pesan memiliki lebih banyak informasi dan pengetahuan daripada pembaca. di era internet, posisi itu berubah ; pemilik kontrol bukan si pembawa pesan, tapi si pemegang gadget.

Kata gehl dan douglas, internet telah membuat penggunanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena akses dan kesetaraan informasi. dengan ketersediaan informasi yang sangat luas itu yang bisa mereka akses lewat ujung jari, pengguna internet merasa bahwa level pengetahuan mereka setara dengan siapapun. sementara kalau menurut Elias Aboujaoude, seorang doktor ilmu kejiwaan klinis dari stanford university, mengemukakan bahwa internet meyakinkan kita bahwa kita lebih terpelajar, lebih dewasa atau lebih pintar dibanding kita yang sebenarnya. internet telah menjadi mesin peningkat rasa percaya diri yang belum pernah ada dalam peradaban manusia. Padahal aslinya bisa jadi kita tidak seperti anggapan tersebut.

Mengutip tulisannya Hilman Fajrian yang menyebutkan laporan British Library pada tahun 2008, bahwa pembaca buku dan pembaca digital itu mempunyai perilaku yang berbeda. Otak pun bekerja dengan cara yang berbeda antara membaca buku dan digital. pembaca digital cenderung tak menyortir, tidak konsisten, tak kritis, melompat-lompat dan tak sabar. rata-rata pembaca onlen hanya menghabiskan 4 menit untuk sebuah buku elektronik, setelah itu melompat ke buku elektronik lain atau internet. dilaporan itu juga disbut 89% mahasiswa inggris menggunakan google untuk mendapatkan informasi. Sebenarnya, sebut british library, pembaca online atau digital tidak benar-benar membaca, tapi “memindai” (scaning atau skimming) halaman. pemindaian inilah yang kita kenal dengan istilah power browse ; cepat dan melompat-lompat. perilaku ini sangat berbeda dengan cara membaca buku yang kita kenal ; perlahan, sabar dan bersedia mengulang. power browse berimplikasi pada tingkat kedalaman pemahaman bacaan, daya kritis, dan daya ingat. yang ujung-ujungnya adalah rendahnya kualitas pengetahuan yang didapat. Cara membaca cepat ini wajar mengingat bahwa ketika kita membaca di layar itu lebih melelahkan ketimbang membaca buku.

Nicholas Carr dalam bukunya yang berjudul “Is Google Making us Stupid?” mengatakan bahwa budaya literasi sebelum masa internet itu seperti berenang di lautan ; perlahan tapi penuh pengalaman. dengan internet, kita seperti mengendarai jetski ; cepat tapi minim pengalaman. Di internet, bahasannya bukan lagi salah atau benar, melainkan yang populer dan tidak. maka siapapun tiba-tiba bisa menulis apa saja, bisa menjadi ahli apa saja, dan bisa menjadi sangat sotoy (:p) dan itu yang berbahaya bagi iklim kebudayaan intelektual kita. Kegiatan untuk mengkonfirmasi terhadap berita juga menunjukan kebalikannya daripada afirmasi di era internet sekarang ini (makanya jangan menelan bulat-bulat setiap berita, khawatirnya keselek. Kunyah dulu pelan-pelan dan utamakan ‘tabayun’ (baca ; kroscek). karena perilaku mengkonfirmasi pemberitaan ini memang jauh lebih melelahkan, lama, dan susah. Sementara di internet, siapa cepat maka itulah yang paling dilirik. Sebelum berintanya menjadi basi dan sudah tidak menarik lagi. akhirnya, kita hanya menerima pemberitaan begitu saja. benar tidaknya tergantung siapa yang paling banyak pembacanya (populer). semakin banyak orang yang setuju (yang ditandai dengan banyaknya like atau share), semakin kelihatanlah benarnya pemberitaan itu. padahal kan belum tentu. perasaan skeptis terhadap isi berita, kekritisan dan curiga jadi hilang begitu saja. Lagi-lagi kata Gehl dan Douglas, “Kalau anda menginginkan informasi yang sejati di internet, berarti anda punya masalah”. hehe. Nah, kan!

Seperti kemarin misalnya, ketika muncul isu rencana aksi mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai ‘aksi bela rakyat’. Semua mahasiswa mendadak menjadi ahli ekonomi, ahli politik, ikut menyuarakan pendapatnya antara yang pro-aksi dan kontra. Saya kira informasi yang mereka tahu hanya sebatas apa yang ada di internet. Meskipun hampir di setiap kampus menyelenggarakan kajian analisis terhadap isu-isu tersebut sebelum memunculkan sikapnya masing-masing, tetap saja internet menjadi andalan untuk berbicara, beropini dan menyanggah. Saya tidak hendak mengomentari tentang aksi tersebut, tapi lebih kepada bagaimana konstruk berpikir mahasiswa yang bila informasinya searah hanya dari internet, akan seperti apa dampaknya. Tapi kalau bukan dari internet, lantas kita dapat ‘pengetahuan’ itu darimana? Nah, bisa banyak sebetulnya, bisa dari dosen, pakar, koran, atau majalah. Tapi itu hanya input, prosesnya tetap ada di kepala mahasiswa, bagaimana dia mengolah akan sangat menentukan apa outputnya. Itu yang lebih kurang bisa menunjukan independensi dari sikap seorang mahasiswa. Ah tiba-tiba saya jadi mau mengutip kata-kata Pram yang sangat membekas di novel Bumi Manusia, “Sebagai orang yang terpelajar, harus sudah bisa adil sejak dalam pikiran.” meskipun mahasiswa juga tidak semestinya di judge atas setiap outputannya itu, karena sepanjang itulah mahasiswa bergelut dengan pemikiran, lingkungan dan keresahan internal jiwanya. Bila pun ternyata keliru, kan masih bisa dianggap wajar, sebagai sekelompok orang yang masih dalam tahap belajar dan merasa.

Kalau kita menganggap bahwa pemerintah anti-kritik karena berpikir semua kebijakannya itu lahir dari pikiran para ahli dan politisi, ini juga keliru.  Proses dinamika dalam kehidupan berbangsa itu harus terus ada. Maka, meskipun gagasan yang diusung mahasiswa keliru (misalnya), tetap saja itu satu nilai yang harus diapresiasi. Saya sepakat dengan Fauzan Fikry, yang mengutip Pak Ashjar Imron, salahseorang anggota MPM ITS era 70-an, yang mengatakan bahwa dahulu kalau mahasiswa ditanya solusi, ada jawaban standar ; kami ini ibarat pasien, bukan dokter. Pasien yang merasakan sakitnya masyarakat. Sementara anda lah dokternya yang kami bayar yang harus mencari solusinya. Jangan terjebak dengan kajian atau analisis mereka yang pasti lebih hebat dan punya jam terbang yang lebih tinggi. Konsentrasilah sebagai pasien, berbicara moral mewakili denyut nadi wong cilik.

Kembali lagi kepada internet sebagai sumber informasi. Apakah ia sah sebagai sumber? Sah-sah saja, selama itu hanya menjadi pembanding atau sumber sekunder. Yang jadi masalah adalah menjadikan internet segala-galanya terlebih tanpa melihat siapa yang berbicara atau yang menulis.  

Tapi, meskipun pada akhirnya kembali lagi kepada proses kreatif dan kearifan manusianya itu sendiri dalam mempergunakan internet. Kita sudah tahu bahwa internet itu sepertihalnya pisau bermata dua. Bisa negative, bisa pula positif. Karena teknologi itu netral. Manusialah yang memberikan makna kedalamnya. Dulu juga Aristoteles pernah mengkritik tulisan, karena ia dianggap menghilangkan tradisi diskusi dan menumpulkan ingatan. Yang jelas perubahan itu pasti, setiap teknologi baru bisa jadi akan menimbulkan ketakutan. Tapi manusia selalu bisa menyesuaikan diri dengan tingkat survival yang luar biasa dan sungguh mengagumkan. Bukankah keberadaan manusia yang sudah ribuan tahuan hingga sekarang membuktikan, bahwa kita telah bisa menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup itu sendiri. Jadi, bisa jadi apa yang saya tulis ini keliru, dan tugas kita lah untuk terus mencari dengan membuat antitesa dari setiap tesa yang ada. Selalu begitu proses dialektika yang kadang melelahkan, tapi terdapat kenikmatan dan keasyikannya sendiri.

perpus
Kalo surga itu memang ada, maka didalamnya pasti bakalan banyak buku. (Garcia)

Referensi :

Jakob Nielsen, How Little Do Users Read, 06 mei 2008.

Harald Weinreich, Hartmut Obendorf, Eelco Herder, and Matthias Mayer: “Not Quite the Average: An Empirical Study of Web Use,” in the ACM Transactions on the Web, vol. 2, no. 1 (February 2008), article #5.

Hilman Fajrian, Internet membuat kita makin ‘bodoh’. 2012. Kompasiana.

John Gehl, Suzanne Douglas, From Movable Type to Data Deluge, diterbitkan oleh Jurnal Educom Review.

Nicholas Carr, Is Google Making us Stupid?

Sang Maestro ; Sebuah Review

maestro
Covernya

Data buku :

Judul : Sang Maestro ; Sejarah Pemikiran Ekonomi
Pengarang : Mark Skousen
Penerbit : Prenada Media Grup
Halaman : 564 hlm + xii
Cetakan : 5, Januari 2015
Ukuran : 15×23 cm

Sudah sejak lama saya ‘ngebet’ dengan ide-ide yang membentuk pemikiran ekonomi dan keberjalanan sejarahnya hingga membentuk tatanan dunia seperti sekarang ini. Meskipun saya berlatarbelakang pendidikan teknik, dan di kelas hanya sekilassingkat saja tentang ekonomi, itu pun yang praktis semacam pengantar untuk manajemen finansial, perhitungan biaya atau resiko, analis investasi, dlsb. Padahal ekonomi jauh lebih menarik daripada hal-hal semacam itu saja.

Buku ini adalah koentji, yang saya dapati belakangan ini, agak terlambat memang. Buku yang diterjemahkan sejak tahun 2004 dan baru saya tahu akhir tahun lalu dan baru berkesempatan untuk mengkhotamkannya kemarin di sela-sela EAS (Evaluasi Akhir Semester) dan kesibukan lainnya. Saya menikmati pembacaan terhadap buku ini, buku yang menghadirkan sebuah keunikan dalam penyampaiannya oleh Mark Skousen. Selamat, tujuan anda tercapai bung. Buku ekonomi yang benar-benar menarik, renyah, dan jauh dari kata kering, muram atau gersang. Sejak dari halaman pertama, sudah menimbulkan ‘hasrat’ yang menggebu-gebu untuk menuntaskannya. Jarang ada buku yang punya efek seperti itu. 😀

Buku ini membuat saya lebih paham tentang sejarah ide, libertarian, sosialisme, kapitalis, sejarah uang, dlsb, hingga bisa merampungkan satu artikel yang ditujukan untuk diikutsertakan sebagai prasyarat mengikuti kelas singkat Mazhab Ekonomi Austri a.k.a Mises BootCamp, di Jakarta, yang diselenggarakan oleh SFL (Student For Liberty) Indonesia. Sayangnya saya malah ndak jadi berangkat karena alasan konyol ; kehabisan tiket kereta Surabaya-Jakarta. *Bbrrrr

Review ini sengaja saya buat karena dalam benak saya, belum tuntas sebuah pembacaan terhadap buku hingga ia dituliskan, hingga ia bisa dipahami dalam bentuk yang lain. Kata sebuah pepatah, “Kau belum benar-benar paham hingga bisa menjelaskannya ke nenekmu, dengan sesederhana mungkin tetapi isinya sampai”. Itu memang susah dan perlu pembiasaan, makanya setiap baca buku, sebaiknya hasilnya didiskusikan dengan teman atau dituliskan. Karena bila hanya selesai dan berhenti di titik terakhir dari halaman terakhir buku, bisa jadi proses pengendapan buku itu tidak akan terlalu mendalam. Karena kalau yang membedakan setiap orang adalah dari bacaan bukunya, maka akan lebih komplit lagi untuk menyempurnakan pembacaan itu dengan mendiskusikannya. Walaupun saya juga seseringnya memperlakukan buku semenjak halaman pertama sebagai teman diskusi (selain teman duduk). Artinya dalam pembacaan saya, ada proses diskusi didalamnya. Kadang saya tidak sepakat dengan apa yang dituliskan penulis, kadang sepakat, kadang perlu saya bubuhkan komentar di bawahnya, kadang saya caci apa yang ditulis penulisnya, dlsb. Saya tidak mentah-mentah menerima begitu saja. Makanya jangan pernah mau meminjamka buku ke saya, karena bisa dipastikan buku itu akan kembali tidak seperti sedia kala. Bukan karena tidak utuh, melainkan sudah akan penuh dengan coretan-coretan saya. Haha. Saya jadi ingat kata-kata Gusdur, “Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya kepada orang lain, tapi orang lebih bodoh lagi kalau mengembalikan buku yang ia pinjam”. *satir. Halah kok malah melebar kesini. *Kebiasaan. :p

Tesis dari buku ini sebetulnya sederhana ; ingin menampilkan perkembangan ilmu ekonomi dari mula kemunculannya yang ditandai oleh tokohnya yang terkemuka ; Adam Smith dengan magnum opusnya yang berjudul The Wealth of Nations hingga hari ini dengan cara yang unik. Dijalin dalam alur semenarik novel dengan tokoh-tokoh yang saling berkaitan dan tak terpisah. Semuanya berkumpul untuk membangun sebuah rumah ‘ekonomi’ yang bisa kita saksikan seperti sekarang ini. Sebuah rumah yang menaungi dunia ini dengan visinya untuk menciptakan kekayaan universal, meningkatkan standard hidup semua orang, menjunjung kebebasan, pasar bebas, distribusi merata, kesempatan yang sama, dan untuk hidup yang diharapkan akan menjadi semakin lebih baik dan lebih baik lagi.

Buku ini juga menampilkan ide-ide libertarian, yang diserang oleh sosialisme terutama serangan gigih dari Karl Marx, namun fakta telah menunjukan siapa yang menang diantara pertarungan 2 wacana atau ide tersebut. Ide-ide sosialis dan marxisme sudah tidak akan pernah dilirik lagi oleh dunia, karena kegagalannya yang pasti di Uni Soviet. Jadi, gak perlu sebegitunya takut dengan kebangkitan PKI. Hehe. Orang dungu mana yang mau menerapkan sebuah sistem yang sudah nyata-nyata gagal. Karena dalam system ekonomi, satu teori tidak akan pernah dipakai bila ternyata gagal dalam tataran praktis atau realnya. Ilmu ekonomi selalu menyandingkan dan menyandarkan antara kenyataan dengan teori. Bila teori tidak mendapatkan landasannya dalam dunia nyata, yang mereka sebut sebagai teori menara gading, jelas-jelas sebuah keburukan. Makanya dalam sejarah ekonomi ada yang disebut dengan istilah Kejahatan Ricardian. Saya kira apa, ternyata karena David Ricardo yang memasukkan terlalu banyak teori matematika kedalam ilmu ekonomi tanpa ada pembuktian real di lapangannya. Meski kuat secara logika, ia jadi tidak terlalu berguna dan malah membuat ilmu ekonomi jadi gersang, tidak menarik, dan menjauhkannya dari dunia nyata.

Di hal sampul ada 3 kutipan yang menarik untuk membuka buku yang setebal 563 halaman ini ;

“Mencari kekayaan, .. bagi sebagian besar manusia adalah sumber perbaikan moral terbesar.”

–Nassau Senior

“Ide dari filsuf politik dan ekonomi, baik itu benar atau salah, lebih kuat ketimbang yang diperkirakan. Sesungguhnya dunia ini dikuasai oleh segelintir orang.” – Jhon Maynard Keynes

“Ilmu ekonomi membahas drama terbesar dari seluruh umat manusia, yakni perjuangan umat manusia untuk melepaskan diri dari keinginan.” – John M. Ferguson

Laissez Faire

Adalah sebuah konsep tentang kesejahteraan manusia yang mengacu kepada system pasar bebas dan tanpa intervensi (yang berlebihan) dari Negara, sehingga mekanisme pasar yang ‘diatur’ oleh tangan alamiah atau tangan ghaib bekerja sebagaimana mestinya. Nantinya konsep ini akan bertarung dengan konsep sosialisme marxis (paham intervensionisme). Dan kita tahu siapa yang keluar sebagai pemenang dari pertarungan itu.:D Hail ya Adam Smith !

Jadi semua perjalanan ide-ide ekonomi (teori dan praktik) itu cuma berkisar dari pondasi yang telah diletakkan oleh Adam Smith, lalu dari sana dimulailah periode revisian, koreksi, hingga lahirnya tesis yang bertentangan, dan akhirnya menuju penyempurnaan di penghujung abad 19 atau awal 20. Lebih kurang cerita ringkasnya adalah begitu. Filsapat kebebasan alamiah dan invisible hand yang diajarkan Smith menjadi karakter utama dalam sejarah ekonomi modern ketika revolusi industry dan kebebasan politik muncul ke panggung sejarah umat manusia, dan menciptakan era baru kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi sepanjang dua abad sesudahnya.

Tantangan pertama yang berusaha menggoyahkan tatanan dari Smith berasal dari 2 muridnya yang terkenal dan berpengaruh ; Robert Malthus dan David Ricardo. Keduanya mengemukakan doktrin yang muram tentang hukum besi upah subsisten (standar minimum atau gaji pas-pasan bagi pekerja) dan penderitaan yang tiada akhir dari kelas buruh. Lalu muncul lah Jhon Stuart Mill yang digalaukan oleh kebebasan (liberty) dan sosialisme pada saat komunitarianisme sedang ada di puncak-puncaknya. Terus pada revolusi industry di abad ke 19 pertengahan, muncul tokoh yang radikal dengan kehadiran Karl Marx ke panggung sejarah secara mengejutkan. Ia bicara tentang eksploitasi (buruh) dan alienasi (keterasingan) di kalangan kaum buruh industry. Sebetulnya gampang sekali sekarang untuk mematahkan argument-argumen dari Karl Marx, karena secara kenyataan konsepnya sudah jadul dan gak di upgrade. Konsepnya hanya berlaku ketika revolusi industry sedang marak. Sementara sekarang, dengan kemajuan zaman, perbaikan kualitas hidup, standar kesejahteraan buruh, motif kerja dlsb, menjadi jelas bahwa konsep Karl Marx sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Apalagi selepas ujicobanya yang gagal di Negara Soviet. Konon, China juga sudah gak komunis-komunis amat, system ekonominya malah menganut ekonomi pasar bebas. Komunismenya hanya disimpan untuk urusan politik tok. Nah kan? Atau kita bisa melihat negara yang komunis tulen sekarang seperti Cuba dan Korea utara, dan siapa pulak yang mau hidup terbelakang seperti mereka? Terisolir dari dunia luar dan takut perubahan. :p

Setelah era Marx, si anak nakal yang kurang ajar, lalu munculah revolusi marginal yang dihidupkan oleh 3 tokohnya yang berperan penting ; Carl Menger di Austri, Leon Walras di Swiss, dan William Stenley Jevons di Inggris. Setelah itu muncul depresi besar karena krisis ekonomi yang parah di tahun 1929-1930 dengan memunculkan Maynard Keyness sebagai tokoh kuncinya. Tapi sekarang kita juga tahu bahwa beberapa teoriya ternyata tidak cukup akurat untuk memprediksi kelakuan ekonomi makro, mikro dan relasi uang yang menghubungkan diantara keduanya. Dan siapakah yang bisa menjembatani permasalahan yang serius itu? yap, dia adalah Ludwig Von Misses, yang sekarang di puja-puja, apalagi oleh kalangan libertarian. Ekonom asal austri ini, bersama temannya, Friedrich Von Hayyek (yang pernah memenangkan nobel ekonomi) berhasil menyelamatkan kapitalisme. Oia, Keynes pernah dipuja-puja karena komprominya antara ekonomi kapitalis dengan intervensi dari pemerintah. Keyness ini bukan pewaris adam smith yang sah. Haha. Ia mencampurkan konsep kapitalis dan sosialis, pemerintah diberi bagiannya untuk turut ikut campur dalam perekonomian di lapangan (secara makro).

Babak terakhir (yang dikisahkan oleh buku ini) adalah setelah perang dunia kedua. Para ekonom monetaris yang anti revolusi, dipimpin oleh Milton Friedman dari Chicago, mulai memfokuskan pada kajian tentang ketidakstabilan kebijakan makro pemerintah. Nah, Friedman yang suka karya empiris ketimbang model abstrak, menunjukan bahwa ikut campurnya pemerintah kebanyakan menghasilkan efek negative. Ia mencontohkan biang keladi yang memicu depresi besar ternyata adalah kebijakan2nya Federal Reserve. Akhirnya, dengan mengadopsi kebijakan moneter yang stabil, maka ekonomi pasar yang mengatur diri sendiri a la Adam Smith sekali lagi bisa kembali berkembang.

Yang menarik dari buku ini adalah selain menampilkan ide-ide dari para ekonom, juga dilengkapi secara ringkas kisah hidup dan latarbelakang keilmuannya sehingga bisa melahirkan teorinya itu. ini yang penting, karena kita juga perlu memahami kehidupannya selain memahami ide-ide mereka. Karena jelas tidak adil jika kita mengabaikan suatu teori dari seorang filsup hanya karena dia mungkin seorang suami yang buruk atau pemabuk. Kita tahu kehidupan Karl Marx memang patut dicela, tetapi apakah itu berarti teori alieanasi dan eksploitasinya keliru? Ide-ide mempunyai manfaat dan dasarnya tersendiri, dan manfaat itu tidak ada hubungannya dengan orang yang menggagasnya.   

Buku ini diperuntukkan untuk pembaca umum bahkan untuk orang yang bukan dari jurusan ekonomi macem saya pun bisa sangat menikmatinya. Ekonomi dibuat sesederhana dan sejelas mungkin. Cocok bagi yang ingin mengetahui terbuat dari apa ekonomi modern itu. sebuah cerita yang menarik dan based on true.

Kata Paul Samuelson, Akan kuberitahu kalian satu rahasia. Ahli-ahli ekonomi sering dipandang sebagai orang yang berpikiran segersang debu dan menjemukan. Anggapan itu keliru, sebab yang benar adalah sebaliknya.

Merevisi Kaderisasi Kampus

Note : dibawah ini berserakan istilah-istilah yang berhubungan dengan teknik kimia. Jadi jangan kaget ya.

Saya jadinya juga ikut-ikutan menjadi mainstream dengan ikut membahas agenda abadi dan terpenting di segenap pelosok kampus Indonesia ; Kaderisasi. Entah itu dari segi urgensinya, pro-kontra, efisiensi, nirrelevansi, dlsb. Tapi oke lah kita sepakati dari awal bahwa disini saya tidak hendak memprovokasi anda untuk menolak kaderisasi, karena saya percaya bahwa “bila anda ingin menghancurkan sebuah system atau ide atau gagasan, maka anda harus membuat atau memunculkan system atau ide atau gagasan baru untuk menggantikannya”. Jadi daripada berangkat dari nol lagi, kenapa tidak di revisi saja yang sudah ada. Kita hanya perlu melanjutkan upaya-upaya yang sudah dirintis oleh para pendahulu di kampus (*saya tidak mau menyebut mereka senior, karena kontruksi senior-junior adalah fasis dan melahirkan mental inlander! Haha :p), dengan harapan agar proses itu bisa menjadi lebih baik lagi dengan upaya untuk merevisi yang tidak perlu dan menambal beberapa kekurangannya.

gerigi-its
Gerakan Integralistik ITS. gerbang awal Ospek (Kampus), yang selanjutnya akan diikuti dengan sedereta ospek atau kaderisasi di setiap jurusannya.

Revisian ini tentunya dengan mempertimbangkan efisiensi prosesnya, output kaderisasi, visinya yang jauh ke depan, human resources dan upaya-upaya untuk mencari model kaderisasi yang ideal atau setidaknya menuju kepada proses perbaikan segenap elemen massanya. Proses adalah kata lain untuk mengawal perbaikan ini, bahwa semenjak awal perlu ditekankan bahwa kaderisasi bukanlah searah, melainkan dua arah, timbal balik, reversible, di pihak yang dikadernya maupun pengkadernya, sehingga tidak akan melahirkan gap atau pandangan bahwa pengkader adalah segalanya, serba tahu, serba benar, sementara yang di kader dianggap sebagai barang mentah yang masih polos sehingga harus diperlakukan seperti anak kecil yang belum bisa berpikir mandiri dan harus diarahkan segenap perilaku, sikap dan pikirannya. Kaderisasi adalah pendewasaan, adalah pembentukan pola pikir atau konstruksi berpikir yang benar, adalah kesetaraan dan egaliter. Sehingga bila senior salah, tidak menutup kemungkinan untuk dikoreksi, dan harus mau. 🙂

Sebagai langkah awal untuk mencari sebuah sistem kaderisasi yang baik kita bisa berangkat dari studi biografi. Pilih beberapa nama yang bersinar atau sukses, berusia paruh baya sekira 30-35 tahunan (sehingga kehidupan mereka dengan kampusnya tidak terlalu jauh-jauh amat), lalu  pelajarilah proses kaderisasi yang mereka lalui hingga mereka bisa menciptakan karya yang cemerlang. Demikian juga sebaliknya, pilih beberapa nama eks-aktifis kampus yang lahir dari kaderisasi “mainstream” dan kini berusia 30-35 tahun. Kemudian lihatlah kiprah mereka saat ini. In fact, Kenyataannya orang-orang yang sukses paska kehidupan kampus ternyata bukan produk dari kaderisasi “mainstream”. Orang-orang berusia 30-35 tahun yang kini memiliki karya fenomenal kebanyakan adalah yang dulunya “biasa-biasa” saja di kampus (bukan aktifis populer), untuk memberikan contoh ambil saja nama seperti Ceo bukalapak, gojek, atau mungkin Elon musk juga bisa kita masukkan dalam kategori ini. Kita pun tak jarang mendengar beberapa testimoni yang kurang baik tentang eks-aktifis kampus namun sekarang kerjanya nggak becus : Keras kepala, songong, teamworknya jelek (*ini kata alumni :p). Bila kenyataannya memang demikian apakah masih layak untuk mempertahankan kaderisasi semacam ‘itu’ sekian puluh tahun, tentu sangat layak juga untuk mempertanyakan kembali validitasnya dengan melihat seberapa jauh kiprah mantan-mantan kadernya di dunia ‘nyata’ ; di rimba belantara kehidupan yang sebenarnya.

Setiap kaderisasi akan mempunyai coraknya tersendiri. Kampus tertentu akan melahirkan warnanya yang khas. Sehingga antara kampus institute, universitas atau politeknik, sekurangnya akan terdapat perbedaan dari segi kaderisasi dan hasilnya. karakter dari lulusan ITS dan ITB (misalnya), di dunia kerja atau di post-post struktural tertentu ternyata berbeda. Karena resources atau sumberdaya dan permasalahan yang dihadapi pun pasti beda. Input selalu menyertai output, malah bisa dibilang input sepenuhnya dipengaruhi oleh output. Keluaran apa yang diharapkan oleh suatu organisasi, pada saatnya akan menentukan konten, capaian, dan ‘cara’ dari kaderisasi itu sendiri. Makanya, perubahan zaman menjadi sangat relevan disini. Kita tidak mungkin mempertahankan cara kaderisasi lama yang sudah ‘jadul’ atau “yang gak aptudet” untuk tetap dipaksakan dan dicekokan ke mahasiswa baru. Zamannya beda, tantangannya juga beda. Nah, ini sebetulnya bisa menjadi diskusi yang panjang lebar karena telah memasukkan unsur ‘tantangan (zaman)’. Sebetulnya kaderisasi kampus itu tujuannya jangka pendek (skala kehidupan kampus hingga lulus tok) atau jangka panjang (untuk kehidupan setelah kampusnya juga). Bila orientasinya jangka panjang, dan begitulah para senior atau alumni sering menitikberatkan pada kebanyakan konten kaderisasi yang sangat dipengaruhi dan disesuaikan oleh kebutuhan pabrik atau industri (?), yang merupakan tempat nantinya bagi seorang mahasiswa teknik kimia seperti saya misalnya. Tentu saja ada distorsi disini, kalau begitu bagaimana dengan nasib lulusan teknik kimia yang tidak berminat untuk bekerja di industry? “mental” yang sudah diajarkan itu kan menjadi non sense. Kenapa tidak mulai dengan standard yang lebih universal dan bisa berlaku dimana saja? Saya kira nilai-nilai semacam kerja sama, budaya apresiasi, solidaritas, kejujuran, kerja keras dlsb sangat dibutuhkan oleh siapapun orangnya. Makanya diawal, salahsatu solusinya adalah dengan studi biografi tokoh. Karena ini bertumpu pada 2 hal ; aspek empiris dari si pelaku, dan aspek historis oranglain yang bisa ditiru. Sehingga nantinya hanya cukup merubah beberapa hal dan penyesuaian saja untuk diterapkan. Harapannya? Minimal bisa menyamai kesuksesan orang itu. bukankah manusia memang paling suka meniru? Atau dalam bahasa postmo, amati-modifikasi-tiru-inovasi.

Kenapa kaderisasi selalu menjadi sorotan utama dan perlu mendapat perhatian serius? Karena beberapa hal juga sebenarnya. Kaderisasi dianggap vital tidak hanya untuk keberjalanan atau regenerasi dari suatu organisasi, melainkan pada kaderisasi itu juga kita mengharapkan lahirnya bibit-bibit unggul. Terbentuknya mahasiswa yang berkarakter. Sehingga investasi para pengkader untuk menyisihkan waktu yang lebih bagi proses ini tidak berakhir sia-sia.

Kalau pun ada yang menolak kaderisasi, sejatinya ia bukan menolak mentah-mentah kaderisasinya, melainkan cara atau metodenya saja. Siapapun akan sepakat bahwa kaderisasi itu penting, perlu dan bermanfaat. Tetapi bila metodenya salah atau banyak kelirunya, ini akan berimbas pada buruknya citra kaderisasi. Siapapun akan sepakat bahwa Lari keliling kampus dan push up itu baik dan menyehatkan. Mengundang pembicara untuk mengisi materi juga bagus. Jalan bebek, merangkak, atau lainnya, bagus-bagus saja untuk latihan fisik. Tapi kalau diikuti dengan ‘perilaku’ yang tak semestinya seperti ada hierarki senior-junior, ini mulai tidak baik. Yang ingin saya kritisi salahsatunya adalah itu, senioritas sudah gak jaman lagi. Itu benar-benar budaya atau mental inlander. Struktur hierarkis yang menempatkan sekelompok orang diatas sekelompok lainnya adalah penindasan! Haha. Saya tidak pernah setuju dengan senioritas! Apalagi kalau atas nama senior lantas bisa memaksakan yang tidak-tidak atau yang gak masuk akal, sampai kontak fisik misalnya, ini jelas keliru. Penyalahgunaan posisi. Baik kontak fisik (abuse) atau verbal abuse (lewat kata-kata, bentakan atau cercaan) sampai kapanpun tidak akan bisa melahirkan seseorang yang berkarakter kuat, tangguh, dan menjadi SDA unggul. kalau menjadi orang yang gampang mengeluh, pandai mengomel (seperti saya?), menyalahkan orang lain, mungkin bisa. :3

Kata alumni, dia pernah kagum dengan salahsatu organisasi pecinta alam yang kaderisasinya kata dia terbilang bagus. Yaitu wanadri. Kaderisasi di wanadri, selain mempnyai coraknya sendiri, juga terdapat keunikan dari hierarki antara yang dikader dengan pengkader. Jadi di sana itu konon katanya, jika sang pengkader (mereka menyebutnya pelatih) memanggil para peserta, mereka menggunakan sebutan “tuan”. Bandingkan dengan sebutan-sebutan di beberapa ospek yang mengarah pada verbal abuse. Atau hal yang tak pantas lainnya!

Nah, terus corak atau hierarki senior-junior yang buruk lainnya bisa dilihat dari kontraproduktipnya atau berlawanan dengan esensi dari kaderisasi itu sendiri. Hierarki itu tidak memungkinkan yang dikader untuk bisa memunculkan daya kritis. Karena sedari awal sudah dibatasi oleh tembok yang mengatakan, “Kita ini senior. Apa yang kita lakukan benar dan itu untuk kebaikan kalian semua juga. Nanti kalian akan tahu manfaatnya kaderisasi”. Jangan sampai pikiran-pikiran seperi itu menjadi argument normatif untuk mensahihkan perbuatan-perbuatan oportunis selama proses kaderisasi. Jadi alih-alih mempertahankan lingkungan yang menciptakan gap angkatan atau lahirnya senior-junior, kenapa tidak dimulai kaderisasinya dengan konsep egaliter. Kesetaraan, keceriaan, kesenangan, dan hal-hal menarik lainnya harus dimasukkan kedalam kurikulum kaderisasi. 😀

Kenapa saya panjang lebar membahas-soal-kan kaderisasi ini, meski kita juga tidak menutup mata bahwa kaderisasi bisa saja bukan segalanya. Bukan lagi menjadi satu-satunya faktor pembentuk karakter mahasiswa (naïf sekali kalau sampai berpikiran seperti ini). Jadi tidak fair juga kalau semua permasalahan yang berkaitan dengan karakter mahasiswa atau kompetensi, mental dan pikirannya, melulu menjadikan kaderisasi sebagai kambing hitamnya. Hanya yang perlu digaris bawahi adalah ini, bahwasannya kaderisasi itu merupakan kegiatan yang sangat time consuming, jadi wajar saja jika orang mempertanyakan hasilnya. Selain tentang investasi waktu yang telah disisihkan, ini juga berhubungan dengan efisiensi prosesnya, efektivitasnya, dan output yang dihasilkannya.

Seinget saya (saya nggak tahu sekarang bagaimana) ospek dilakukan nyaris satu semester full (atau ada yang sampe setahun). Lupa berapa kali pertemuan yang dilakukan, yang jelas kegiatannya dilakukan nyaris 2 atau 3 kali dalam seminggu (yang resmi dari panitianya). Belum lagi pertemuan angkatan untuk menyelesaikan tugas-tugas dari panitia tersebut. Tugas buku marun emang menyebalkan, saya sampai harus membuatnya 2 kali. *peace. Panitianya juga meluangkan waktu setidaknya dua kali lebih banyak. Jadi, seandainya kaderisasi itu hasilnya baik, kita masih bisa mempertanyakan apakah hasilnya sepadan dengan banyaknya waktu yang diinvestasikan?

Terakhir, asumsi dasar lainnya adalah “corak” lama, sepertinya dipikir-pikir memang efektif untuk membangun solidaritas diantara kader. Saya percaya, meski ketika kaderisasi kami ditampar, disuruh jalan bebek, merangkak, bahkan ada yang lebih absurd lagi selain itu, itu semua ternyata bisa membuat angkatan saya menjadi semakin solid dan saling mengenal.

Dan, ya ampun, saya sepertinya sudah terlalu kebanyakan berbual dalam tulisan ini. Intinya, saya sangat sotoy dengan data yang seadanya. Jadi, dari sekian pemaparan diatas, bisa saja ternyata saya salah. 😀

gerigi-banyakan
Lumayan dapet Muri. :p

Referensi :

*Beberapa ide dalam tulisan ini dianggit dari Kang Zul(kaida) Akbar, yang sedang nyelesain Ph.D di FSU, Amerika. saya berhutang banyak kepada beliau. 🙂

Ring of Fire dan Isi Perut Bumi Indonesia

Berapa sih luas Indonesia? Berapa luas garis pantainya? Berapa kira-kira jarak yang membentang dari sabang sampai Merauke berjejer pulau-pulau? Dulu saya malu ketika ditanya oleh dosen FTK (Fakultas Teknik Kelautan), ITS, tentang luas Indonesia, dan tak ada dari kami yang tahu. Kata beliau, bagaimana mau mencintai Indonesia kalau luasnya saja tidak tahu? Kalau misal ada orang yang mencuri “sebagian” tanah Indonesia, kalau ndak tahu, lah piye? Belum lagi tentang kandungannya. Meskipun untuk mengetahui kandungan perutnya Indonesia ini bukanlah perkara yang gampang.

Makanya ketika diajukan pertanyaan kepada salahseorang dosen Perminyakan ITB tentang bagaimana kalau minyak habis, jawab beliau, sebetulnya bukan habis dalam arti tidak ada lagi minyak sama sekali di bumi, melainkan minyak yang sudah terpetakan itulah yang habis, sementara di banyak tempat belum terpetakan sama sekali dan belum tersentuh eksplorasi minyaknya. Meskipun saya santai-santai kalau pun toh nanti minyak habis, karena saya yakin bila saatnya tiba, manusia sepertinya sudah akan menemukan energy penggantinya. *optimisme. Dulu juga gitu, kan? Sebelum minyak bumi ditemukan, manusia sangat bergantung kepada minyak ikan paus.

oil_reserves
Peta cadangan minyak bumi di tahun 2013. gambar dari wikipedia.org

Ini sebetulnya entah nyata atau tidak, karena dari eksplorasi dan eksploitasi yang ada sekarang, belum diketahui tentang potensi kandungan perut bumi Indonesia. Badan geofisika dan meteriologi juga masih belum bisa mempetakan 100% tentang isi perut bumi Indonesia itu. Padahal peta tentang kandungan didalamnya bisa jadi satu langkah awal bagaimana kelak kita bisa mengelolanya secara arif untuk seluas-luasnya kesejahteraan rakyat Indonesia. Itu kalau memang perut Indonesia berlimpah dengan minyak, emas dan mineral berharga lainnya. Lah kalau ternyata tidak ada dan kosong melompong? Siapa yang tahu?

Masih dari bukunya Pak Bondan, Bre-X ; Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, ada penjelasan tentang konsep yang familiar di dunia pertambangan. Ini perlu kita bahas karena berkaitan dengan potensi perut bumi Indonesia untuk selanjutnya akan kita tengok, sebetulnya apa saja sih isi perut bumi Indonesia itu.

Berangkat dari istilah yang sering kita dengar, bahwa Indonesia itu dikenal sebagai kepulauan yang terlewati oleh Ring of Fire. Cincin api? Apakah maksudnya? Banyak gunung berapinya? Tentu saja. Tapi apa implikasinya?

Nah dalam dunia pertambangan, dikenal istilah beberapa teori yang berguna untuk menjelaskan kandungan mineral suatu wilayah, salahsatunya adalah teori tektonika lempeng (plate tectonics). Konsep ini disusun berdasarkan sejumlah data dan informasi baru dari hasil penelitian geofisika dan geologi kelautan, studi gempa, dan topografi dasar samudera.

Teori tektonika lempeng ini agak mirip dengan teori mengenai apung benua. Teori ini mengatakan bahwa lapisan kerak bumi atau litosfir yang menyelubungi bumi bukanlah merupakan kulit yang utuh, melainkan retak terkerat-kerat. Akibat retakan-retakan itu, terdapat tujuh lempeng litosfir berukuran besar, di samping banyak lagi lempeng pecahan yang berukuran kecil. Lempeng-lempeng ini selalu bergerak, bergeseran satu dengan yang lain, memisah maupun saling bertabrakan. Tabrakan-tabrakan yang terjadi antara dua lempengan mengakibatkan terjadinya suatu proses geologi yang penting, yaitu proses deformasi tepian benua yang menyebabkan terbentuknya jalur pegunungan lipatan, metamorfosa akibat suhu dan tekanan tinggi dalam akar pegunungan, dan pelelehan bagian lempeng yang menghujam dan menghasilkan intrusi bersifat granit dan vulkanisma bersifat andesit pada lempeng yang terungkit. Kegiatan magma ini dapat menimbulkan mineralisasi, seperti halnya juga pemekaran dasar samudera yang mengeluarkan magma ultra basa.

Dengan teori tektonik lempeng ini ternyata dapat dengan lebih mudah dijelaskan berbagai jenis gejala tektonik dan struktur geologi yamg rumit. Dalam kaitannya dengan konsep tektonik lempeng, pada dasarnya dapat dibedakan dua macam lingkungan pembentukkan mineralisasi logam.

Yang pertama, berkaitan dengan batuan yang terbentuk dalam cekungan samudera dan busur kepulauan. Yang kedua, berkaitan dengan batuan benua yang sering berupa granit dan berasal dari batuan kerak bumi. Secara populer, konsep tektonik lempeng itu juga dikenal dengan teori “Ring of Fire”, yaitu sebuah lingkaran semu di sekitar Samudera Pasifik yang terdiri atas rangkaian gunung berapi. Teori itu mengatakan bahwa gunung berapi tidak muncul di sembarang tempat, melainkan di dalam lingkungan “Ring of Fire” ini. Indonesia terletak dalam salah satu busur lingkaran gunung berapi ini. Betapa menakjubkannya bukan? Maka, nikmat yang mana lagikah yang akan engkau dustakan?😀

Kabar gembira lainnya adalah bahwasannya busur-busur kepulauan Indonesia itu merupakan daerah pertemuan dan pertabrakan tiga lempeng kerak bumi, yaitu: lempeng India-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Apa artinya?

Artinya adalah bahwa dengan teori tektonik lempeng dapat dijelaskan pola penyebaran mineralisasi di Indonesia. Prof. Dr. J.A. Katili dan banyak penelitian lain telah menerapkan teori tersebut dalam konsep eksplorasi mineral logam secara regional di Indonesia. Kegiatan eksplorasi mineral dalam 25 tahun terakhir ini di Indonesia –terutama yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing– banyak mengacu pada teori ini.

Isi perut bumi Indonesia

Dalam tulisannya di Kompas, 14 April 1997, Prof. Dr. R.P. Koesoemadinata menulis bahwa dengan adanya peta geologi Indonesia, ditambah lagi dengan data yang dikumpulkan dari aktivitas penambangan sebelumnya –antara lain eksplorasi minyak dan gas bumi– maka para ahli geologi di Indonesia secara umum telah memperoleh gambaran tentang keadaan geologi Indonesia. Maraknya aktivitas perhutanan juga ikut membantu bertambahnya informasi umum geologi, antara lain: penyebaran dan umur batuan, serta susunan dan struktur batuan. Dari informasi tersebut, dan dengan memperhatikan gejala-gejala geologi yang dapat dibaca pada peta geologi, seorang geolog dapat menafsirkan daerah-daerah yang berpeluan untuk menemukan endapan mineral atau minyak dan gas bumi.

Teknologi satelit pun banyak membantu memperkaya informasi geologi umum. Dr. Ir. Indrojono Soesilo di Kompas menulis, inderaja (remote sensing) yang dilakukan dengan fasilitas satelit dapat mengungkap struktur lapisan batuan permukaan bumi, misalnya: apakah strukturnya berpola rekahan (terbuka), atau tertutup (lipatan). Untuk memperoleh citra inderaja yang baik dari udara diperlukan sensor khusus hiperspektral yang spektrumnya mencapai 200 gelombang. Bila untuk melihat struktur batuan digunakan sensor radar, untuk menampilkan rona tanah atau memantau warna batuan mineral ubahan hidrotermal diperlukan sensor optik. Kedua jenis sensor ini dipakai untuk pengambilan citra inderaja.

Tetapi, sekalipun satelit militer Amerika Serikat bisa melakukan inderaja untuk membaca nomor pelat mobil yang diparkir di Kremlin, atau jumlah pasukan dan tank Irak yang sedang bergerak ke Kuwait, teknologi satelit ternyata belum bisa menembus permukaan bumi lebih dari kedalaman beberapa inci. Ini barangkali merupakan suatu kenyataan yang mengecewakan. Teknologi yang sudah berkemampuan mendeteksi keadaan fisik kimia planet Jupiter serta bintang-bintang yang jauh itu ternyata belum mampu melihat isi perut bumi ini sendiri? Satelit ternyata juga mempunyai keterbatasan yang sama untuk mengintip kekayaan samudera. Kecuali tentang ikan-ikan yang berada di dekat permukaan samudera, teknologi satelit tetap belum mampu menembus ke dalam laut. Barangkali dari Jurusan IT bisa membantu membuat satelit yang bisa mendeteksi dan mengetahui isi perut bumi, siapa tahu kan?

Tapi hingga alat itu diketemukan kelak, maka cara konvensional untuk mengetahui bahwa di dalam bumi itu terdapat mineralnya, emas atau minyak, satu-satunya cara adalah dengan langsung mengebornya. Setelah mengebor baru akan bisa kita peroleh kesimpulannya, bahwa disitu ada emas/minyaknya atau tidak. Masalahnya pengeboran itu tidak semurah yang dibayangkan. Kalau beneran ada, ya ndak apa-apa, balik modal. Lah kalo ternyata ndak ada? Tekor. Rugi bandar. Hehe.

Bagaimana membuat peta geologi suatu wilayah?

Nah, simple sebetulnya, jadi dari sebuah citra inderaja itu kita akan tahu informasi lengkap tentang keadaan geologi permukaan (surface geology), seorang ahli geologi dapat menafsirkan –dengan cara memproyeksikan– keadaan geologi di dalam kerak bumi. Namun, yang diproyeksikan itu pun hanyalah gejala geologi dalam skala besarnya, belum terinci. Interprestasi citra satelit, karenanya, baru merupakan informasi awal. Nah makanya kata Pak Bondan, Istilah “berburu emas dengan satelit” adalah pengertian yang menyesatkan.

Disini Pak Koesoemadinata membuat analogi yang cukup menarik. Ibaratnya seorang dokter, dengan stetoskop ia bisa memproyeksikan apa yang kira-kira terjadi di bawah permukaan kulit seorang pasien. Dokter juga memakai alat pengukur tekanan darah, termometer, pengukur denyut nadi. Dengan semua informasi itu seorang dokter dapat memperkirakan dan mencurigai adanya suatu penyakit (verdatch). Untuk memastikan penyakit itu, harus dilakukan lagi berbagai pengujian ke dalam atau dari dalam tubuh si penderita, antara lain: pemeriksaan darah, pemeriksaan urin dan tinja, scanning, serta kadang-kadang bahkan harus dengan biopsi atau pembedahan untuk memastikan penyakit yang dideritanya.

Tapi untuk mengetahui secara pasti apa yang dikandung bumi, hingga saat ini, satu-satunya cara untuk mengetahui adanya suatu endapan mineral atau akumulasi minyak dan gas bumi adalah dengan melakukan pengeboran. Jadi jurusan geologi nyari wilayah yang kira-kira berpotensi (lewat penelitian batuan dan indikasi yang lainnya), lalu bila dirasa berkemungkinan wilayah itu ada mineral dibawahnya, maka giliran anak Pertambangan atau perminyakan yang bekerja. Bila pengeborannya dimaksudkan untuk fluida cair alias minyak, anak perminyakan yang turun tangan. Tapi bila yang di bornya itu mineral atau logam-logam berharga, maka anak pertambangan yang bekerja. Kalau anak Tekkim seperti saya? Cukup menunggu diatas saja, bila bahan-bahan mentah itu sudah ada di atas, baru yang mengelola atau memprosesnya adalah kita. Hehe. Nah nanti dipasarkan oleh anak pemasaran, bisnis atau teknik Industri. Sisanya yang mengurusi lingkungan seperti limbah dan konservasinya, biar anak TL yang main. 😀 sinergi dan harmoni dalam kebersamaan.

Setahu saya, selain pengeboran minyak, anak perminyakan juga diajari untuk menentukan cadangan minyak dan gas bumi. Entah dengan menganalisis reservoirnya atau apa lah. Saya kurang paham. Hanya untuk mengetahui cadangan minyak dan gas itu sedikitnya diperlukan dua sumur bor dengan kedalaman ribuan meter. Satu sumur bor minyak bisa memerlukan biaya puluhan juta dolar. Sedangkan untuk menentukan cebakan mineral diperlukan lebih banyak sumur bor, tetapi cukup dengan kedalaman beberapa ratus meter saja. Untuk menentukan adanya mineralisasi emas, misalnya, dibutuhkan sangat banyak lubang bor mengingat kadar emas serta penyebarannya yang sangat bervariasi. Kadangkala dari ratusan pemboran itu baru bisa dihitung sumberdaya tereka (inferred resources). Untuk memperoleh angka sumberdaya terukur (measured resources) bagi komoditi emas, harus dilakukan tiga lubang pengeboran pada jarak 25 meter, dan harus ada terowongan yang dibuka. Penghitungan dilakukan dengan metode geostatistik, sehingga masih membuka peluang kesalahan. Sedangkan untuk memperoleh angka hitungan sumberdaya terindikasi (indicated resources), standarnya adalah dua lubang pengeboran pada jarak 25 meter.

Karena itu, adalah hal yang nyaris mustahil bagi Pemerintah untuk mengadakan semacam inventaris teradap potensi endapan mineral maupun minyak dan gas bumi yang tersimpan di dalam perut bumi Indonesia. Tak ada satu negara pun di dunia ini yang mempunyai data potensial kekayaan hasil tambangnya. Di samping biayanya yang sangat tinggi, aktivitas pekerjaanya pun sangat luas dan akan memerlukan sumberdaya manusia terampil dalam jumlah yang sangat besar. Karena itu pulalah Pemerintah mengakui tingkat kesulitan para penambang, dan memberikan berbagai insentif serta fasilitas untuk melaksanakan kegiatannya.

Referensi bacaan lanjut :

  1. Teknik Penggambaran Peta Geologi ; https://www.scribd.com/doc/138495829/Teknik-Penggambaran-Peta-Geologi
  2. Penyusunan Peta Geologi, http://psdg.bgl.esdm.go.id/kepmen_pp_uu/susun-peta-geologi%20(1).pdf
  3. Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, Bondan Winarno.

Pertambangan di Indonesia

(Sebetulnya tulisan ini lebih tepat dijuduli ringkasan dari bukunya Pak Bondan yang berjudul Sebongkah Emas Di Kaki Pelangi, karena saya menuliskan ini juga setelah membaca buku itu, tetapi jelas bukan dimaksudkan sebagai review karena fokus di tulisan ini adalah bahwasannya saya ingin menampilkan tentang perkembangan dunia tambang di Indonesia dari masa ke masa. Jadi kalau di buku itu tujuannya adalah untuk mengungkap kasus penipuan terbesar dalam dunia pertambangan Indonesia oleh perusahaan Bre-X, maka saya disini mencukupkan diri pada beberapa data yang ada dalam buku itu untuk melengkapi pemahaman saya terhadap bagaimana jalannya sejarah pertambangan di Indonesia, yang kata orang sumber daya alamnya melimpah itu. Oia, buku Pak Bondan itu adalah hasil reportase dan investigasinya atas kasus Bre-X)

Nah jadi dari awal saya sudah bilang, meski rujukan primer tulisan saya adalah buku itu, tetapi ini bukan review. 😀 Intinya ingin bercerita tentang sejarah panjang pengelolaan pertambangan dan perminyakan nasional di tempat strategis ; Kalimantan (?) dan Irian Jaya atau Papua (Gunung Ersberg, dan Grasberg), dan beberapa revisian peraturan didalamnya seperti Kontrak Karya, Kuasa Pertambangan, dlsb.

Isu tentang kekayaan yang dikandung perut bumi Indonesia sepertinya memang tidak akan lekang oleh waktu dan tak akan pernah habis bosan untuk diperbincangkan. Tentang bagaimana pengelolaannya, apakah pemerintah sudah benar dalam bertindak dan bersikap khususnya terkait PMA (Penanaman modal asing), tentang daulat energi (terkesan sangat keren dan nasionalis sekali bukan istilah ini? :D), dan sederet hal-hal lainnya yang ternyata masih berupa opini, terkaan dan dangkal sekali. Jauh dari analisis kenyataan dan lapangan. Justru di medan aslinya, bisnis di sektor pertambangan ini sangat rawan dan beresiko tinggi. Nanti kita akan tahu kenapa hanya segelintir perusahaan atau orang yang mau terjun ke bisnis ini. Ibaratnya, investasi awal di bisnis ini tergolong sangat besar dengan kepastian yang belum tentu. Kan ini namanya gambling, iya ndak? Baik di sektor pertambangan atau perminyakan.

Konon, untuk mengadakan eksplorasi dan eksploitasi minyak hingga pengeborannya diperlukan sekurangnya 20 sumur yang harus di bor dengan biaya persumurnya mencapai 20 juta dollars. Dan dari 20 sumur tersebut belum tentu ada minyaknya. Tetapi kalau ada satu saja sumur yang ada minyaknya, itu sudah mengcover biaya awal tadi. 😀 makanya minyak bisa jadi sedemikian mahalnya. Tapi, subsektor pertambangan minyak risikonya jauh lebih kecil dibanding dengan pertambangan emas.

Nah, kata Jim Bob Moffett juga begitu, doi yang merupakan orang elit di PT Freeport pernah mengatakan bahwa usaha di bidang pertambangan adalah usaha yang sangat tinggi resikonya.

“Bila Anda mau memasuki bidang usaha pertambangan, Anda harus memiliki kepiawaian teknis, ditunjang dengan konsultan ahli yang punya reputasi baik, di samping modal yang sangat besar. Tidak ada jalan pintas. Anda harus mengikuti program eksplorasi yang komplet untuk menemukan cebakan yang bernilai komersiel tinggi. Peluang bagi seseorang yang punya modal pas-pasan – memperhitungkan kondisi alam Indonesia yang berat – untuk menemukan endapan mineral adalah sangat kecil, seperti keajaiban.”

Kemahsyuran Sumatera sebagai Pulau Emas telah berlangsung selama dua ribu tahun (?)*Kita tentu boleh bertanya angka tahun itu pak bondan dapat darimana :mrgreen: . Tapi sayangnya, tak cukup banyak catatan tentang kegiatan penambangan emas di Swarnadwipa ini. Peta kuno pra-kolonial Sumatera menunjukkan adanya dua tempat penambangan emas, yaitu: Rejanglebong di bagian utara Bengkulu, dan Batanggadis dibagian selatan Sumatera Barat. Tempat-tempat lain di Sumatera yang diketahui mempunyai deposit emas pada masa itu adalah di sekitar: Meulaboh di Aceh; Kotacina di Sumatera Utara; Muarasipongi, Buo, Batangasai, dan Salida di Sumatera Barat. Kotacina, misalnya, merupakan pelabuhan dagang yang ramai pada abad 11-13. Tak ada catatan sejarah tentang penambangan emas di Kotacina, tetapi penggalian arkeologis di sekitar Kotacina menemukan berbagai perhiasan emas purba.

Lalu tentang Kalimantan, …

– Pulau ketiga terbesar di dunia, setelah Greenland dan Irian – sangat sedikit kehadiran catatan-catatan etnografi masa lampau yang menunjukkan adanya kandungan emas. T.M. van Leeuwen, penemu cebakan emas Kelian, dalam Journal of Geochemical Exploration hanya menulis secara sepintas tentang penambangan emas oleh orang-orang Cina di Kalimantan pada abad ke-4. Sebuah catatan lain menunjukkan adanya temuan benda purbakala terbuat dari emas di Sambas dan Limbang, Kalimantan Barat. Mineral emas juga tercatat ditemukan di sekitar Monterado di Kalimantan Tengah, sekitar Martapura di Kalimantan Selatan, dan sekitar Barito di Kalimantan Selatan (John N. Miksic, 1989). Kegiatan penambangan di Kalimantan yang tercatat di masa lalu – berdasarkan catatan geologi Belanda pada 1930 adalah sebuah tambang batubara enam kilometer dari muara Sungai Kelian, Kecamatan Longiram, Kabupaten Kutai, Di masa modern, sumberdaya tambang yang terkenal di Kalimantan adalah minyak. Pada masa Perang Dunia II, Jepang berusaha keras menduduki Kalimantan karena minyak bumi yang akan dipakai untuk menggerakkan mesin-mesin perang.

Sebagian orang juga berteori bahwa nama Kalimantan sebetulnya berasal dari kata “kali”,”emas”, dan “intan”, yang menunjukkan adanya keterkaitan pulau ini dengan hasil tambang emas dan intan. Intan yang merupakan alotropi karbon – dan merupakan zat alami terkeras yang dikenal orang – sudah ditemukan di berbagai tempat di Kalimantan Tengah, Selatan, dan Barat selama beberapa abad. Tambang intan tradisional yang terkenal di Kalimantan adalah Martapura. Di Campaka, dekat Martapura, Kalimantan Selatan, pada 1965 ditemukan intan sebesar 166 karat yang terkenal dan diberi nama “Trisakti”.

Sebenarnyalah terdapat cukup banyak bukti yang menunjukkan adanya kegiatan penambangan emas dan intan di Kalimantan. Pada pertengahan abad 18, Sultan Mempawah (Kalimantan Barat) mendatangkan sekitar 20 orang Cina dari Provinsi Kwantung untuk dipekerjakan di tambang-tambang emas di Kalimantan Barat. Keberhasilan pekerja-pekerja tambang dari Cina itu membuat Sultan Sambas dan para sultan lainnya pun mulai mendatangkan pekerja-pekerja tambang dari Cina. (Catatan Penulis: satu abad kemudian para penjajah Belanda meniru cara yang sama dengan mendatangkan pekerja-pekerja tambang dari Cina untuk menggarap pertambangan timah di pulau-pulau Bangka, Belitung, dan Singkep).

Kalau kita pelajari perjanjian kerja antara para sultan dan pekerja tambang di masa itu, sebenarnyalah mereka sudah menggunakan konsep profit sharing atau production sharing. Kedua belah pihak mempunyai kedudukan yang setara (equal partners) dalam perjanjian bagi hasil itu. Kabar pun segera terdengar di kalangan orang-orang Hakka dan Hoklo di Provinsi Kwantung tentang adanya cebakan emas di Kalimantan Barat. Semacam gold rush pun terjadi ketika orang-orang dari Kwantung ini berduyun-duyun datang ke Kalimantan Barat.

Sejarah Gunung Emas Cartenz, Irian Jaya. (Hal 5)

Dibanding temuan-temuan cebakan emas di kalimantan, nyatanya, penemuan emas di Irian Jaya lah yang merupakan salah satu surprise zaman modern Indonesia. Awalnya adalah pada tahun 1936, seorang geolog Belanda bernama Jean-Jacques Dozy yang menjadi anggota ekspedisi Colijn berhasil mencapai Ngga Pulu, 4906 meter. Ngga Pulu pada waktu itu adalah puncak yang tertinggi pada garis antara Puncak Himalaya dan Puncak Andes. Pada waktu itu Ngga Pulu bahkan lebih tinggi dari Puncak Jaya, puncak tertinggi Pegunungan Carstenz pada saat ini. Mencairnya es pada Puncak Ngga Pulu membuat ketinggiannya terus menurun dari tahun ke tahun. Perlu dicatat bahwa Ekspedisi Colijn bukanlah ekspedisi geologi, melainkan untuk melihat gunung berpuncak es yang tampak oleh pelaut-pelaut Belanda yang melintasi perairan Irian.

Pada ketinggian 3500 meter, Jean-Jacques Dozy, terperangah melihat sebuah bukit yang tampak hitam pekat, menjulang dengan ketinggian 75 meter di atas padang rumput alpin. Naluri geologinya segera mengatakan bahwa bukit yang sedang dilihatnya itu adalah sebuah cebakan mineral yang teramat kaya. Ia menamakan julangan itu sebagai Ertsberg, Gunung Bijih. “Tak salah lagi,” kata Dozy ketika itu. “Tak seorang geolog pun bisa tertipu oleh gunung hitam ini. Titik hijau dan birunya terlalu nyata untuk mendeteksi kandungan tembaga yang kaya di dalamnya.” Itulah mungkin yang disebut sebagai sense of engineering atau intuisinya engineer, anak teknik pasti tahu istilah itu. 😀

Laporan Jean-Jacques Dozy itu diterbitkan pada 1939 dan sejak itu mendekam di perpustakaan Universitas Leiden, mengumpulkan debu. Perang Dunia II yang kemudian pecah menciptakan prioritas-prioritas baru yang membuat laporan Dozy itu semakin terlupakan. Baru pada 1959 seorang Forbes Wilson –ketika itu geolog pada Freeport Sulphur yang berpusat di Louisiana, Amerika Serikat– dalam riset kepustakaannya menemukan laporan Dozy itu. Dozy tak hanya menulis tentang kekayaan cebakan yang diduga mengandung tembaga itu, tetapi juga melaporkan bahwa tempat itu mungkin merupakan lokasi tambang yang paling sulit di dunia. Bulu Kuduk Forbes Wilson bangkit. Ia tahu bahwa ia sedang dalam proses menemukan sebuah harta karun yang tiada terperi.

Pada tahun 1960 Forbes Wilson sudah merayap mendaki Ngga Pulu. Bila pada 1936 Dozy memerlukan 57 hari setelah diterjunkan dengan parasut, pada 1960 Wilson memerlukan 17 hari untuk mencapai tempat itu. Wilson segera menemukan kesalahanDozy. Gunung Bijih itu bukan 75 meter tingginya, melainkan 179 meter. Lebih daripada itu, Wilson juga menaksir bahwa kandungan tembaga dari Ertsberg bisa ditemukan hingga kedalaman 360 meter. Apa yang ditemukan Wilson adalah jauh lebih besar daripada apa yang diduga Dozy (George A. Mealey, 1996). Tetapi, Freeport belum bisa segera melaksanakan niatnya untuk menambang kekayaan Irian Jaya. Kondisi politik Indonesia pada waktu itu sedang mengalami berbagai kerawanan. Baru pada awal Pemerintahan Orde Baru, Freeport mengajukan izin dan menjadi PMA (Penanaman Modal Asing) yang pertama di Indonesia. Freeport kemudian mengontrak Betchel – perusahaan konstruksi terkemuka di Amerika Serikat – untuk membangun sarana penambangan di medan yang sangat sulit itu. Dan Freeport pun menemukan keberuntungannya. Tambang tembaga itu ternyata mempunyai kandungan emas yang sangat tinggi.

Berburu Emas

Dari baheula hingga sekarang ternyata ketergila-gilaan manusia terhadap logam mulia, yaitu emas, tak pernah kunjung surut. Bahkan dalam sejarahnya, ilmu kimia pun juga sempat dibayang-bayangi oleh mitos tentang emas ini, yaitu bagaimana pencarian para kimiawan terhadap senyawa atau unsur apapun (kayu misalnya) yang bila direaksikan akan menghasilkan emas.

Nah, Penemuan emas ternyata masih merupakan hal yang diburu orang. Dari Stockwatch Canada (informasi bursa saham Canada) yang mempunyai situs web di Internet, setiap minggu sedikitnya ada tiga berita tentang temuan emas di berbagai penjuru dunia. Ini berkaitan dengan banyaknya junior companies Canada yang bergerak di bidang ekplorasi mineral di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia saat ini diperkirakan sekitar seratus junior companies Canada melakukan kegiatan penelitian umum dan eksplorasi.

Sebelum abad 18, penghasil utama emas di dunia adalah Amerika Selatan. Pada abad 16, ekspedisi-ekspedisi yang dikirim Spanyol untuk menemukan El Dorado di Amerika Selatan, malah menemukan harta karun Aztec di Meksiko dan Inca di Peru, serta menjarahnya untuk dibawa pulang ke Spanyol. Emas pada masa itu kebanyakan dipakai sebagai mata uang dan perhiasan. Oia, bisa dipastian bahwa disamping emas, pasti selalu ada kolonialisme disana. Inget prinsip 3G kaum penjajah kan? Gold adalah salahsatu motifnya. 😀

Sekilas tentang Kontrak Karya. (Hal 17)

Sedikit menyinggung tentang regulasi pemerintah Indonesia di bidang emas, minyak atau gas yang dikategorikan sebagai sumber daya alam. Di UUD kita, secara jelas hal tersebut dinyatakan dalam ayat 3 Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Bersumber dari amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang sakral itulah semua peraturan tentang pertambangan diderivaksikan. Secara bijaksana pula Pemerintah membuat penafsiran, bahwa “menguasai” tidaklah identik dengan “memiliki”. Penafsiran ini merupakan landasan penciptaan peraturan-peraturan di bidang usaha pertambangan Indonesia. Dalam sebuah diskusi di Sekretariat Negara sekitar sepuluh tahun yang lalu, Pemerintah bertekad untuk mengurangi kesan (down tone) kepemilikan, dan sebaliknya mencuatkan kepentingan pemasukan negara, kesempatan kerja, dan mengurangi kesenjangan dengan memakai aset yang dikuasai Negara.

Hasil tambang yang pertama kali diatur oleh Pemerintah adalah minyak bumi. Pada dasarnya, Pemerintah menerapkan konsep production sharing dalam pengelolaan sumberdaya minyak bumi Indonesia dengan kontraktor-kontraktor asing. Kurangnya pengalaman Pemerintah pada waktu itu (baca : sekira zaman orba) dalam menangani kontrak-kontrak yang melibatkan perusahaan besar dari mancanegara, membuat Pemerintah memperlakukannya dengan penuh kewaspadaan. Salah satu hal yang dianggap “menakutkan” bagi pemerintah pada waktu itu adalah munculnya kekuatan tujuh perusahaan minyak raksasa yang dikenal dengan sebutan “The Seven Sisters”. Pada satu titik, “The Seven Sisters” ini, baik secara sendiri-sendiri maupun beraliansi, bisa saja mendikte pemerintah dengan usulkan klausal-klausal perjanjian yang menguntungkan mereka.

Untuk mencegah kemungkinan itu, Pemerintah menerapkan strategi merangkul perusahaan-perusahaan ekplorasi perminyakan berskala kecil (junior companies) untuk beroperasi di Indonesia. Asamera, misalnya, adalah salah satu perusahaan ekplorasi minyak pertama yang oleh Ibnu Sutowo, Direktur Utama Pertamina pada masa itu (kalo pernah baca novelnya Habibi-Ainun gak akan asing dengan nama itu. Hehe), diberi kontrak untuk melakukan eksplorasi di Indonesia. Asamera berhasil dan hingga kini masih eksis, bahkan telah men-transformasi-kan dirinya menjadi perusahaan minyak yang andal, tidak lagi sekadar yunior. Contoh perusahaan yang semula kecil dan kini telah berhasil di bidang perminyakan Indonesia adalah IIAPCO.

Kontrak Pertambangan berdasarkan production sharing itu hanya berlaku bagi komoditi minyak dan gas bumi, serta batubara. Batubara dimasukkan dalam klasifikasi yang sama karena fungsinya sebaga sumber energi. Untuk jenis-jenis mineral lain, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pertambangan, Pemerintah menerapkan sistem Kuasa Pertambangan (KP, hanya untuk pengusaha nasional), Dan Kontrak Karya (KK, hanya untuk perusahaan asing). Lahirnya Undang-Undang Pertambangan itu juga memberikan landasan yang lebih mantap bagi peningkatan operasi penambangan mineral. Pada 1952, misalnya, telah berakhir masa konsesi bagi perusahaan-perusahaan pertambangan Belanda yang melakukan penambangan timah di pulau-pulau Bangka, Belitung, dan Singkep. Sebelum lahirnya Undang-Undang Pertambangan, perusahaan tambang timah negara itu nyaris beroperasi di atas aturan-aturan yang ad hoc, antara lain dengan Perpu 37.

Pembedaan sistem itu sebetulnya sangat berlandasan. Penambangan mineral jauh lebih tinggi risikonya dibandingkan penambangan minyak dan gas bumi. Perusahaan minyak, misalnya, cukup mengebor dua lubang – di Indonesia pada kedalaman 600-2000 meter, di tempat-tempat lain bisa sampai 3000 meter –dengan biaya sekitar AS$4 juta per lubang, untuk bisa memutuskan apakah terdapat cebakan ekonomis di kawasan itu. “Bahkan, bila tajam analisis seismiknya untuk menemukan oil trap atau gas trap di dalam perut bumi, dengan satu lubang pun sudah ketemu,” kata B.M.W. Siagian, seorang geolog kawakan yang kini memimpin PT Timah Investasi Mineral. Perusahaan tambang mineral, sebaliknya, harus melakukan pengeboran sebanyak ratusan lubang sebelum bisa menarik kesimpulan tentang adanya cebakan ekonomis. Biaya pengeboran rata-rata mencapai AS$100 per meter, atau sekitar AS$25,000 per lubang. “Tergantung jenis batuan di mana mineralisasi ditemukan. Bisa mahal, bisa kurang mahal,” kata Siagian. Perbedaan utama antara KPS (Kontrak Production Sharing) dan KK (Kontrak Karya) adalah bahwa KPS manajemen seluruh kontraktor asing ditengani oleh Indonesia, dalam hal ini Pertamina. Setiap perencanaan pengembangan harus disetujui Pemerintah. Untuk produk minyak, Indonesia memperoleh bagian 85%, sedangkan kontraktor memperoleh 15% sebagai upah. Untuk gas bumi, kontraktor memperoleh upah lebih besar, yaitu 30%.

Susahnya Menambang Mineral itu, … (Hal 21)

Menurut Soetaryo Sigit bahwa success rate untuk usaha pertambangan mineral emas rasionya adalah kurang dari 3:100. Padahal di subsektor minyak dan gas bumi angka keberhasilannya bisa mencapai 1:2. Sukses yang dicapai segelintir perusahaan tambang mineral hanyalah sebuah puncak gunung es yang tampak di atas permukaan laut. Di bawahnya terpuruk ratusan perusahaan tambang yang sedang berusaha untuk mencapai puncak gunung es, dan sebagian besar bahkan sudah terkubur beku di bawah sana.

Risiko teringgi yang dihadapi perusahaan pertambangan adalah biaya eksplorasi yang tak ada batasnya. Siapa yang bisa memastikan bahwa setelah sumur bor keseratus akan ditemukan emas? Tingginya risiko usaha pertambangan juga diperkuat dengan unsur-unsur berikut: lokasinya yang jauh di pelosok tanpa infrastruktur memadai, memerlukan modal yang sangat besar (capital intensive), usia penambangan yang terbatas, serta pencegahan pencemaran dan rehabilitasi lingkungan yang juga mahal biayanya (sosial maupun aktual). Kuntoro Mangkusubroto dalam ceramahnya di Metal Mining Agency of Japan pada akhir September 1996 mengatakan: “Every mineral prospect is now the site of intense environmental, social and political negotiation.” Harga komoditi mineral yang ditetapkan oleh pasar membuat perusahaan penambangan hanya menjadi price taker yang setiap saat berada dalam posisi rawan oleh goyangan harga pasar. Belum lagi bila harus dipertimbangkan upaya-upaya Pengembangan wilayah (community development) mengingat lokasi operasi biasanya berada di daerah terpencil yang terbelakang pembangunannya. Semua risiko itu juga membuat rintangan lain bagi perusahaan pertambangan: sulitnya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan. Anggapan-anggapan umum dan para pakar yang kurang memahami masalah untuk memperketat aturan-aturan Kontrak Karya – apalagi mengubahnya menjadi Undang-Undang – akan berakibat kontra-produktif. Misalnya, Rachman Wiriosudarmo, mengatakan bila kontraktor ditekan dengan pajak yang semakin tinggi, dampaknya adalah pada merosotnya komitmen di bidang perlindungan lingkungan, konservasi mineral, dan pengembangan wilayah. Pada masa Mohamad Sadli menjadi Menteri Pertambangan, misalnya, pernah diberlakukan ketentuan tentang windfall profit (bila keuntungan melebihi 15% dikenai pajak tambahan) yang antara lain membuat “kosong”- nya permohonan Kontrak Karya selama sepuluh tahun. Unsur keberuntungan boleh dikata tak ada di bidang usaha pertambangan. Jim Bob Moffett, CEO Freeport, selalu mengatakan bahwa: “Luck is when hardwork meets opportunity.” Perusahaan-perusahaan pertambangan yang sekarang berada di puncak gunung es itu bukanlah perusahaan-perusahaan yang beruntung. Mereka telah terlebih dahulu mempertaruhkan segala daya dan dana untuk menemukan cebakan mineral yang dikejarnya.

Referensi bacaan :

  1. Bre-X ; Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, Bondan Winarno. bagi yang ingin membacanya dalam bentuk pdf, silakan sudah ada yang berbaik hati menguploadnya di sini.