Engineering · Geology · Petroleum

Ring of Fire dan Isi Perut Bumi Indonesia

Berapa sih luas Indonesia? Berapa luas garis pantainya? Berapa kira-kira jarak yang membentang dari sabang sampai Merauke berjejer pulau-pulau? Dulu saya malu ketika ditanya oleh dosen FTK (Fakultas Teknik Kelautan), ITS, tentang luas Indonesia, dan tak ada dari kami yang tahu. Kata beliau, bagaimana mau mencintai Indonesia kalau luasnya saja tidak tahu? Kalau misal ada orang yang mencuri “sebagian” tanah Indonesia, kalau ndak tahu, lah piye? Belum lagi tentang kandungannya. Meskipun untuk mengetahui kandungan perutnya Indonesia ini bukanlah perkara yang gampang.

Makanya ketika diajukan pertanyaan kepada salahseorang dosen Perminyakan ITB tentang bagaimana kalau minyak habis, jawab beliau, sebetulnya bukan habis dalam arti tidak ada lagi minyak sama sekali di bumi, melainkan minyak yang sudah terpetakan itulah yang habis, sementara di banyak tempat belum terpetakan sama sekali dan belum tersentuh eksplorasi minyaknya. Meskipun saya santai-santai kalau pun toh nanti minyak habis, karena saya yakin bila saatnya tiba, manusia sepertinya sudah akan menemukan energy penggantinya. *optimisme. Dulu juga gitu, kan? Sebelum minyak bumi ditemukan, manusia sangat bergantung kepada minyak ikan paus.

oil_reserves
Peta cadangan minyak bumi di tahun 2013. gambar dari wikipedia.org

Ini sebetulnya entah nyata atau tidak, karena dari eksplorasi dan eksploitasi yang ada sekarang, belum diketahui tentang potensi kandungan perut bumi Indonesia. Badan geofisika dan meteriologi juga masih belum bisa mempetakan 100% tentang isi perut bumi Indonesia itu. Padahal peta tentang kandungan didalamnya bisa jadi satu langkah awal bagaimana kelak kita bisa mengelolanya secara arif untuk seluas-luasnya kesejahteraan rakyat Indonesia. Itu kalau memang perut Indonesia berlimpah dengan minyak, emas dan mineral berharga lainnya. Lah kalau ternyata tidak ada dan kosong melompong? Siapa yang tahu?

Masih dari bukunya Pak Bondan, Bre-X ; Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, ada penjelasan tentang konsep yang familiar di dunia pertambangan. Ini perlu kita bahas karena berkaitan dengan potensi perut bumi Indonesia untuk selanjutnya akan kita tengok, sebetulnya apa saja sih isi perut bumi Indonesia itu.

Berangkat dari istilah yang sering kita dengar, bahwa Indonesia itu dikenal sebagai kepulauan yang terlewati oleh Ring of Fire. Cincin api? Apakah maksudnya? Banyak gunung berapinya? Tentu saja. Tapi apa implikasinya?

Nah dalam dunia pertambangan, dikenal istilah beberapa teori yang berguna untuk menjelaskan kandungan mineral suatu wilayah, salahsatunya adalah teori tektonika lempeng (plate tectonics). Konsep ini disusun berdasarkan sejumlah data dan informasi baru dari hasil penelitian geofisika dan geologi kelautan, studi gempa, dan topografi dasar samudera.

Teori tektonika lempeng ini agak mirip dengan teori mengenai apung benua. Teori ini mengatakan bahwa lapisan kerak bumi atau litosfir yang menyelubungi bumi bukanlah merupakan kulit yang utuh, melainkan retak terkerat-kerat. Akibat retakan-retakan itu, terdapat tujuh lempeng litosfir berukuran besar, di samping banyak lagi lempeng pecahan yang berukuran kecil. Lempeng-lempeng ini selalu bergerak, bergeseran satu dengan yang lain, memisah maupun saling bertabrakan. Tabrakan-tabrakan yang terjadi antara dua lempengan mengakibatkan terjadinya suatu proses geologi yang penting, yaitu proses deformasi tepian benua yang menyebabkan terbentuknya jalur pegunungan lipatan, metamorfosa akibat suhu dan tekanan tinggi dalam akar pegunungan, dan pelelehan bagian lempeng yang menghujam dan menghasilkan intrusi bersifat granit dan vulkanisma bersifat andesit pada lempeng yang terungkit. Kegiatan magma ini dapat menimbulkan mineralisasi, seperti halnya juga pemekaran dasar samudera yang mengeluarkan magma ultra basa.

Dengan teori tektonik lempeng ini ternyata dapat dengan lebih mudah dijelaskan berbagai jenis gejala tektonik dan struktur geologi yamg rumit. Dalam kaitannya dengan konsep tektonik lempeng, pada dasarnya dapat dibedakan dua macam lingkungan pembentukkan mineralisasi logam.

Yang pertama, berkaitan dengan batuan yang terbentuk dalam cekungan samudera dan busur kepulauan. Yang kedua, berkaitan dengan batuan benua yang sering berupa granit dan berasal dari batuan kerak bumi. Secara populer, konsep tektonik lempeng itu juga dikenal dengan teori “Ring of Fire”, yaitu sebuah lingkaran semu di sekitar Samudera Pasifik yang terdiri atas rangkaian gunung berapi. Teori itu mengatakan bahwa gunung berapi tidak muncul di sembarang tempat, melainkan di dalam lingkungan “Ring of Fire” ini. Indonesia terletak dalam salah satu busur lingkaran gunung berapi ini. Betapa menakjubkannya bukan? Maka, nikmat yang mana lagikah yang akan engkau dustakan?😀

Kabar gembira lainnya adalah bahwasannya busur-busur kepulauan Indonesia itu merupakan daerah pertemuan dan pertabrakan tiga lempeng kerak bumi, yaitu: lempeng India-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Apa artinya?

Artinya adalah bahwa dengan teori tektonik lempeng dapat dijelaskan pola penyebaran mineralisasi di Indonesia. Prof. Dr. J.A. Katili dan banyak penelitian lain telah menerapkan teori tersebut dalam konsep eksplorasi mineral logam secara regional di Indonesia. Kegiatan eksplorasi mineral dalam 25 tahun terakhir ini di Indonesia –terutama yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing– banyak mengacu pada teori ini.

Isi perut bumi Indonesia

Dalam tulisannya di Kompas, 14 April 1997, Prof. Dr. R.P. Koesoemadinata menulis bahwa dengan adanya peta geologi Indonesia, ditambah lagi dengan data yang dikumpulkan dari aktivitas penambangan sebelumnya –antara lain eksplorasi minyak dan gas bumi– maka para ahli geologi di Indonesia secara umum telah memperoleh gambaran tentang keadaan geologi Indonesia. Maraknya aktivitas perhutanan juga ikut membantu bertambahnya informasi umum geologi, antara lain: penyebaran dan umur batuan, serta susunan dan struktur batuan. Dari informasi tersebut, dan dengan memperhatikan gejala-gejala geologi yang dapat dibaca pada peta geologi, seorang geolog dapat menafsirkan daerah-daerah yang berpeluan untuk menemukan endapan mineral atau minyak dan gas bumi.

Teknologi satelit pun banyak membantu memperkaya informasi geologi umum. Dr. Ir. Indrojono Soesilo di Kompas menulis, inderaja (remote sensing) yang dilakukan dengan fasilitas satelit dapat mengungkap struktur lapisan batuan permukaan bumi, misalnya: apakah strukturnya berpola rekahan (terbuka), atau tertutup (lipatan). Untuk memperoleh citra inderaja yang baik dari udara diperlukan sensor khusus hiperspektral yang spektrumnya mencapai 200 gelombang. Bila untuk melihat struktur batuan digunakan sensor radar, untuk menampilkan rona tanah atau memantau warna batuan mineral ubahan hidrotermal diperlukan sensor optik. Kedua jenis sensor ini dipakai untuk pengambilan citra inderaja.

Tetapi, sekalipun satelit militer Amerika Serikat bisa melakukan inderaja untuk membaca nomor pelat mobil yang diparkir di Kremlin, atau jumlah pasukan dan tank Irak yang sedang bergerak ke Kuwait, teknologi satelit ternyata belum bisa menembus permukaan bumi lebih dari kedalaman beberapa inci. Ini barangkali merupakan suatu kenyataan yang mengecewakan. Teknologi yang sudah berkemampuan mendeteksi keadaan fisik kimia planet Jupiter serta bintang-bintang yang jauh itu ternyata belum mampu melihat isi perut bumi ini sendiri? Satelit ternyata juga mempunyai keterbatasan yang sama untuk mengintip kekayaan samudera. Kecuali tentang ikan-ikan yang berada di dekat permukaan samudera, teknologi satelit tetap belum mampu menembus ke dalam laut. Barangkali dari Jurusan IT bisa membantu membuat satelit yang bisa mendeteksi dan mengetahui isi perut bumi, siapa tahu kan?

Tapi hingga alat itu diketemukan kelak, maka cara konvensional untuk mengetahui bahwa di dalam bumi itu terdapat mineralnya, emas atau minyak, satu-satunya cara adalah dengan langsung mengebornya. Setelah mengebor baru akan bisa kita peroleh kesimpulannya, bahwa disitu ada emas/minyaknya atau tidak. Masalahnya pengeboran itu tidak semurah yang dibayangkan. Kalau beneran ada, ya ndak apa-apa, balik modal. Lah kalo ternyata ndak ada? Tekor. Rugi bandar. Hehe.

Bagaimana membuat peta geologi suatu wilayah?

Nah, simple sebetulnya, jadi dari sebuah citra inderaja itu kita akan tahu informasi lengkap tentang keadaan geologi permukaan (surface geology), seorang ahli geologi dapat menafsirkan –dengan cara memproyeksikan– keadaan geologi di dalam kerak bumi. Namun, yang diproyeksikan itu pun hanyalah gejala geologi dalam skala besarnya, belum terinci. Interprestasi citra satelit, karenanya, baru merupakan informasi awal. Nah makanya kata Pak Bondan, Istilah “berburu emas dengan satelit” adalah pengertian yang menyesatkan.

Disini Pak Koesoemadinata membuat analogi yang cukup menarik. Ibaratnya seorang dokter, dengan stetoskop ia bisa memproyeksikan apa yang kira-kira terjadi di bawah permukaan kulit seorang pasien. Dokter juga memakai alat pengukur tekanan darah, termometer, pengukur denyut nadi. Dengan semua informasi itu seorang dokter dapat memperkirakan dan mencurigai adanya suatu penyakit (verdatch). Untuk memastikan penyakit itu, harus dilakukan lagi berbagai pengujian ke dalam atau dari dalam tubuh si penderita, antara lain: pemeriksaan darah, pemeriksaan urin dan tinja, scanning, serta kadang-kadang bahkan harus dengan biopsi atau pembedahan untuk memastikan penyakit yang dideritanya.

Tapi untuk mengetahui secara pasti apa yang dikandung bumi, hingga saat ini, satu-satunya cara untuk mengetahui adanya suatu endapan mineral atau akumulasi minyak dan gas bumi adalah dengan melakukan pengeboran. Jadi jurusan geologi nyari wilayah yang kira-kira berpotensi (lewat penelitian batuan dan indikasi yang lainnya), lalu bila dirasa berkemungkinan wilayah itu ada mineral dibawahnya, maka giliran anak Pertambangan atau perminyakan yang bekerja. Bila pengeborannya dimaksudkan untuk fluida cair alias minyak, anak perminyakan yang turun tangan. Tapi bila yang di bornya itu mineral atau logam-logam berharga, maka anak pertambangan yang bekerja. Kalau anak Tekkim seperti saya? Cukup menunggu diatas saja, bila bahan-bahan mentah itu sudah ada di atas, baru yang mengelola atau memprosesnya adalah kita. Hehe. Nah nanti dipasarkan oleh anak pemasaran, bisnis atau teknik Industri. Sisanya yang mengurusi lingkungan seperti limbah dan konservasinya, biar anak TL yang main. 😀 sinergi dan harmoni dalam kebersamaan.

Setahu saya, selain pengeboran minyak, anak perminyakan juga diajari untuk menentukan cadangan minyak dan gas bumi. Entah dengan menganalisis reservoirnya atau apa lah. Saya kurang paham. Hanya untuk mengetahui cadangan minyak dan gas itu sedikitnya diperlukan dua sumur bor dengan kedalaman ribuan meter. Satu sumur bor minyak bisa memerlukan biaya puluhan juta dolar. Sedangkan untuk menentukan cebakan mineral diperlukan lebih banyak sumur bor, tetapi cukup dengan kedalaman beberapa ratus meter saja. Untuk menentukan adanya mineralisasi emas, misalnya, dibutuhkan sangat banyak lubang bor mengingat kadar emas serta penyebarannya yang sangat bervariasi. Kadangkala dari ratusan pemboran itu baru bisa dihitung sumberdaya tereka (inferred resources). Untuk memperoleh angka sumberdaya terukur (measured resources) bagi komoditi emas, harus dilakukan tiga lubang pengeboran pada jarak 25 meter, dan harus ada terowongan yang dibuka. Penghitungan dilakukan dengan metode geostatistik, sehingga masih membuka peluang kesalahan. Sedangkan untuk memperoleh angka hitungan sumberdaya terindikasi (indicated resources), standarnya adalah dua lubang pengeboran pada jarak 25 meter.

Karena itu, adalah hal yang nyaris mustahil bagi Pemerintah untuk mengadakan semacam inventaris teradap potensi endapan mineral maupun minyak dan gas bumi yang tersimpan di dalam perut bumi Indonesia. Tak ada satu negara pun di dunia ini yang mempunyai data potensial kekayaan hasil tambangnya. Di samping biayanya yang sangat tinggi, aktivitas pekerjaanya pun sangat luas dan akan memerlukan sumberdaya manusia terampil dalam jumlah yang sangat besar. Karena itu pulalah Pemerintah mengakui tingkat kesulitan para penambang, dan memberikan berbagai insentif serta fasilitas untuk melaksanakan kegiatannya.

Referensi bacaan lanjut :

  1. Teknik Penggambaran Peta Geologi ; https://www.scribd.com/doc/138495829/Teknik-Penggambaran-Peta-Geologi
  2. Penyusunan Peta Geologi, http://psdg.bgl.esdm.go.id/kepmen_pp_uu/susun-peta-geologi%20(1).pdf
  3. Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, Bondan Winarno.
Engineering · Historis · Politik

Pertambangan di Indonesia

(Sebetulnya tulisan ini lebih tepat dijuduli ringkasan dari bukunya Pak Bondan yang berjudul Sebongkah Emas Di Kaki Pelangi, karena saya menuliskan ini juga setelah membaca buku itu, tetapi jelas bukan dimaksudkan sebagai review karena fokus di tulisan ini adalah bahwasannya saya ingin menampilkan tentang perkembangan dunia tambang di Indonesia dari masa ke masa. Jadi kalau di buku itu tujuannya adalah untuk mengungkap kasus penipuan terbesar dalam dunia pertambangan Indonesia oleh perusahaan Bre-X, maka saya disini mencukupkan diri pada beberapa data yang ada dalam buku itu untuk melengkapi pemahaman saya terhadap bagaimana jalannya sejarah pertambangan di Indonesia, yang kata orang sumber daya alamnya melimpah itu. Oia, buku Pak Bondan itu adalah hasil reportase dan investigasinya atas kasus Bre-X)

Nah jadi dari awal saya sudah bilang, meski rujukan primer tulisan saya adalah buku itu, tetapi ini bukan review. 😀 Intinya ingin bercerita tentang sejarah panjang pengelolaan pertambangan dan perminyakan nasional di tempat strategis ; Kalimantan (?) dan Irian Jaya atau Papua (Gunung Ersberg, dan Grasberg), dan beberapa revisian peraturan didalamnya seperti Kontrak Karya, Kuasa Pertambangan, dlsb.

Isu tentang kekayaan yang dikandung perut bumi Indonesia sepertinya memang tidak akan lekang oleh waktu dan tak akan pernah habis bosan untuk diperbincangkan. Tentang bagaimana pengelolaannya, apakah pemerintah sudah benar dalam bertindak dan bersikap khususnya terkait PMA (Penanaman modal asing), tentang daulat energi (terkesan sangat keren dan nasionalis sekali bukan istilah ini? :D), dan sederet hal-hal lainnya yang ternyata masih berupa opini, terkaan dan dangkal sekali. Jauh dari analisis kenyataan dan lapangan. Justru di medan aslinya, bisnis di sektor pertambangan ini sangat rawan dan beresiko tinggi. Nanti kita akan tahu kenapa hanya segelintir perusahaan atau orang yang mau terjun ke bisnis ini. Ibaratnya, investasi awal di bisnis ini tergolong sangat besar dengan kepastian yang belum tentu. Kan ini namanya gambling, iya ndak? Baik di sektor pertambangan atau perminyakan.

Konon, untuk mengadakan eksplorasi dan eksploitasi minyak hingga pengeborannya diperlukan sekurangnya 20 sumur yang harus di bor dengan biaya persumurnya mencapai 20 juta dollars. Dan dari 20 sumur tersebut belum tentu ada minyaknya. Tetapi kalau ada satu saja sumur yang ada minyaknya, itu sudah mengcover biaya awal tadi. 😀 makanya minyak bisa jadi sedemikian mahalnya. Tapi, subsektor pertambangan minyak risikonya jauh lebih kecil dibanding dengan pertambangan emas.

Nah, kata Jim Bob Moffett juga begitu, doi yang merupakan orang elit di PT Freeport pernah mengatakan bahwa usaha di bidang pertambangan adalah usaha yang sangat tinggi resikonya.

“Bila Anda mau memasuki bidang usaha pertambangan, Anda harus memiliki kepiawaian teknis, ditunjang dengan konsultan ahli yang punya reputasi baik, di samping modal yang sangat besar. Tidak ada jalan pintas. Anda harus mengikuti program eksplorasi yang komplet untuk menemukan cebakan yang bernilai komersiel tinggi. Peluang bagi seseorang yang punya modal pas-pasan – memperhitungkan kondisi alam Indonesia yang berat – untuk menemukan endapan mineral adalah sangat kecil, seperti keajaiban.”

Kemahsyuran Sumatera sebagai Pulau Emas telah berlangsung selama dua ribu tahun (?)*Kita tentu boleh bertanya angka tahun itu pak bondan dapat darimana :mrgreen: . Tapi sayangnya, tak cukup banyak catatan tentang kegiatan penambangan emas di Swarnadwipa ini. Peta kuno pra-kolonial Sumatera menunjukkan adanya dua tempat penambangan emas, yaitu: Rejanglebong di bagian utara Bengkulu, dan Batanggadis dibagian selatan Sumatera Barat. Tempat-tempat lain di Sumatera yang diketahui mempunyai deposit emas pada masa itu adalah di sekitar: Meulaboh di Aceh; Kotacina di Sumatera Utara; Muarasipongi, Buo, Batangasai, dan Salida di Sumatera Barat. Kotacina, misalnya, merupakan pelabuhan dagang yang ramai pada abad 11-13. Tak ada catatan sejarah tentang penambangan emas di Kotacina, tetapi penggalian arkeologis di sekitar Kotacina menemukan berbagai perhiasan emas purba.

Lalu tentang Kalimantan, …

– Pulau ketiga terbesar di dunia, setelah Greenland dan Irian – sangat sedikit kehadiran catatan-catatan etnografi masa lampau yang menunjukkan adanya kandungan emas. T.M. van Leeuwen, penemu cebakan emas Kelian, dalam Journal of Geochemical Exploration hanya menulis secara sepintas tentang penambangan emas oleh orang-orang Cina di Kalimantan pada abad ke-4. Sebuah catatan lain menunjukkan adanya temuan benda purbakala terbuat dari emas di Sambas dan Limbang, Kalimantan Barat. Mineral emas juga tercatat ditemukan di sekitar Monterado di Kalimantan Tengah, sekitar Martapura di Kalimantan Selatan, dan sekitar Barito di Kalimantan Selatan (John N. Miksic, 1989). Kegiatan penambangan di Kalimantan yang tercatat di masa lalu – berdasarkan catatan geologi Belanda pada 1930 adalah sebuah tambang batubara enam kilometer dari muara Sungai Kelian, Kecamatan Longiram, Kabupaten Kutai, Di masa modern, sumberdaya tambang yang terkenal di Kalimantan adalah minyak. Pada masa Perang Dunia II, Jepang berusaha keras menduduki Kalimantan karena minyak bumi yang akan dipakai untuk menggerakkan mesin-mesin perang.

Sebagian orang juga berteori bahwa nama Kalimantan sebetulnya berasal dari kata “kali”,”emas”, dan “intan”, yang menunjukkan adanya keterkaitan pulau ini dengan hasil tambang emas dan intan. Intan yang merupakan alotropi karbon – dan merupakan zat alami terkeras yang dikenal orang – sudah ditemukan di berbagai tempat di Kalimantan Tengah, Selatan, dan Barat selama beberapa abad. Tambang intan tradisional yang terkenal di Kalimantan adalah Martapura. Di Campaka, dekat Martapura, Kalimantan Selatan, pada 1965 ditemukan intan sebesar 166 karat yang terkenal dan diberi nama “Trisakti”.

Sebenarnyalah terdapat cukup banyak bukti yang menunjukkan adanya kegiatan penambangan emas dan intan di Kalimantan. Pada pertengahan abad 18, Sultan Mempawah (Kalimantan Barat) mendatangkan sekitar 20 orang Cina dari Provinsi Kwantung untuk dipekerjakan di tambang-tambang emas di Kalimantan Barat. Keberhasilan pekerja-pekerja tambang dari Cina itu membuat Sultan Sambas dan para sultan lainnya pun mulai mendatangkan pekerja-pekerja tambang dari Cina. (Catatan Penulis: satu abad kemudian para penjajah Belanda meniru cara yang sama dengan mendatangkan pekerja-pekerja tambang dari Cina untuk menggarap pertambangan timah di pulau-pulau Bangka, Belitung, dan Singkep).

Kalau kita pelajari perjanjian kerja antara para sultan dan pekerja tambang di masa itu, sebenarnyalah mereka sudah menggunakan konsep profit sharing atau production sharing. Kedua belah pihak mempunyai kedudukan yang setara (equal partners) dalam perjanjian bagi hasil itu. Kabar pun segera terdengar di kalangan orang-orang Hakka dan Hoklo di Provinsi Kwantung tentang adanya cebakan emas di Kalimantan Barat. Semacam gold rush pun terjadi ketika orang-orang dari Kwantung ini berduyun-duyun datang ke Kalimantan Barat.

Sejarah Gunung Emas Cartenz, Irian Jaya. (Hal 5)

Dibanding temuan-temuan cebakan emas di kalimantan, nyatanya, penemuan emas di Irian Jaya lah yang merupakan salah satu surprise zaman modern Indonesia. Awalnya adalah pada tahun 1936, seorang geolog Belanda bernama Jean-Jacques Dozy yang menjadi anggota ekspedisi Colijn berhasil mencapai Ngga Pulu, 4906 meter. Ngga Pulu pada waktu itu adalah puncak yang tertinggi pada garis antara Puncak Himalaya dan Puncak Andes. Pada waktu itu Ngga Pulu bahkan lebih tinggi dari Puncak Jaya, puncak tertinggi Pegunungan Carstenz pada saat ini. Mencairnya es pada Puncak Ngga Pulu membuat ketinggiannya terus menurun dari tahun ke tahun. Perlu dicatat bahwa Ekspedisi Colijn bukanlah ekspedisi geologi, melainkan untuk melihat gunung berpuncak es yang tampak oleh pelaut-pelaut Belanda yang melintasi perairan Irian.

Pada ketinggian 3500 meter, Jean-Jacques Dozy, terperangah melihat sebuah bukit yang tampak hitam pekat, menjulang dengan ketinggian 75 meter di atas padang rumput alpin. Naluri geologinya segera mengatakan bahwa bukit yang sedang dilihatnya itu adalah sebuah cebakan mineral yang teramat kaya. Ia menamakan julangan itu sebagai Ertsberg, Gunung Bijih. “Tak salah lagi,” kata Dozy ketika itu. “Tak seorang geolog pun bisa tertipu oleh gunung hitam ini. Titik hijau dan birunya terlalu nyata untuk mendeteksi kandungan tembaga yang kaya di dalamnya.” Itulah mungkin yang disebut sebagai sense of engineering atau intuisinya engineer, anak teknik pasti tahu istilah itu. 😀

Laporan Jean-Jacques Dozy itu diterbitkan pada 1939 dan sejak itu mendekam di perpustakaan Universitas Leiden, mengumpulkan debu. Perang Dunia II yang kemudian pecah menciptakan prioritas-prioritas baru yang membuat laporan Dozy itu semakin terlupakan. Baru pada 1959 seorang Forbes Wilson –ketika itu geolog pada Freeport Sulphur yang berpusat di Louisiana, Amerika Serikat– dalam riset kepustakaannya menemukan laporan Dozy itu. Dozy tak hanya menulis tentang kekayaan cebakan yang diduga mengandung tembaga itu, tetapi juga melaporkan bahwa tempat itu mungkin merupakan lokasi tambang yang paling sulit di dunia. Bulu Kuduk Forbes Wilson bangkit. Ia tahu bahwa ia sedang dalam proses menemukan sebuah harta karun yang tiada terperi.

Pada tahun 1960 Forbes Wilson sudah merayap mendaki Ngga Pulu. Bila pada 1936 Dozy memerlukan 57 hari setelah diterjunkan dengan parasut, pada 1960 Wilson memerlukan 17 hari untuk mencapai tempat itu. Wilson segera menemukan kesalahanDozy. Gunung Bijih itu bukan 75 meter tingginya, melainkan 179 meter. Lebih daripada itu, Wilson juga menaksir bahwa kandungan tembaga dari Ertsberg bisa ditemukan hingga kedalaman 360 meter. Apa yang ditemukan Wilson adalah jauh lebih besar daripada apa yang diduga Dozy (George A. Mealey, 1996). Tetapi, Freeport belum bisa segera melaksanakan niatnya untuk menambang kekayaan Irian Jaya. Kondisi politik Indonesia pada waktu itu sedang mengalami berbagai kerawanan. Baru pada awal Pemerintahan Orde Baru, Freeport mengajukan izin dan menjadi PMA (Penanaman Modal Asing) yang pertama di Indonesia. Freeport kemudian mengontrak Betchel – perusahaan konstruksi terkemuka di Amerika Serikat – untuk membangun sarana penambangan di medan yang sangat sulit itu. Dan Freeport pun menemukan keberuntungannya. Tambang tembaga itu ternyata mempunyai kandungan emas yang sangat tinggi.

Berburu Emas

Dari baheula hingga sekarang ternyata ketergila-gilaan manusia terhadap logam mulia, yaitu emas, tak pernah kunjung surut. Bahkan dalam sejarahnya, ilmu kimia pun juga sempat dibayang-bayangi oleh mitos tentang emas ini, yaitu bagaimana pencarian para kimiawan terhadap senyawa atau unsur apapun (kayu misalnya) yang bila direaksikan akan menghasilkan emas.

Nah, Penemuan emas ternyata masih merupakan hal yang diburu orang. Dari Stockwatch Canada (informasi bursa saham Canada) yang mempunyai situs web di Internet, setiap minggu sedikitnya ada tiga berita tentang temuan emas di berbagai penjuru dunia. Ini berkaitan dengan banyaknya junior companies Canada yang bergerak di bidang ekplorasi mineral di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia saat ini diperkirakan sekitar seratus junior companies Canada melakukan kegiatan penelitian umum dan eksplorasi.

Sebelum abad 18, penghasil utama emas di dunia adalah Amerika Selatan. Pada abad 16, ekspedisi-ekspedisi yang dikirim Spanyol untuk menemukan El Dorado di Amerika Selatan, malah menemukan harta karun Aztec di Meksiko dan Inca di Peru, serta menjarahnya untuk dibawa pulang ke Spanyol. Emas pada masa itu kebanyakan dipakai sebagai mata uang dan perhiasan. Oia, bisa dipastian bahwa disamping emas, pasti selalu ada kolonialisme disana. Inget prinsip 3G kaum penjajah kan? Gold adalah salahsatu motifnya. 😀

Sekilas tentang Kontrak Karya. (Hal 17)

Sedikit menyinggung tentang regulasi pemerintah Indonesia di bidang emas, minyak atau gas yang dikategorikan sebagai sumber daya alam. Di UUD kita, secara jelas hal tersebut dinyatakan dalam ayat 3 Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Bersumber dari amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang sakral itulah semua peraturan tentang pertambangan diderivaksikan. Secara bijaksana pula Pemerintah membuat penafsiran, bahwa “menguasai” tidaklah identik dengan “memiliki”. Penafsiran ini merupakan landasan penciptaan peraturan-peraturan di bidang usaha pertambangan Indonesia. Dalam sebuah diskusi di Sekretariat Negara sekitar sepuluh tahun yang lalu, Pemerintah bertekad untuk mengurangi kesan (down tone) kepemilikan, dan sebaliknya mencuatkan kepentingan pemasukan negara, kesempatan kerja, dan mengurangi kesenjangan dengan memakai aset yang dikuasai Negara.

Hasil tambang yang pertama kali diatur oleh Pemerintah adalah minyak bumi. Pada dasarnya, Pemerintah menerapkan konsep production sharing dalam pengelolaan sumberdaya minyak bumi Indonesia dengan kontraktor-kontraktor asing. Kurangnya pengalaman Pemerintah pada waktu itu (baca : sekira zaman orba) dalam menangani kontrak-kontrak yang melibatkan perusahaan besar dari mancanegara, membuat Pemerintah memperlakukannya dengan penuh kewaspadaan. Salah satu hal yang dianggap “menakutkan” bagi pemerintah pada waktu itu adalah munculnya kekuatan tujuh perusahaan minyak raksasa yang dikenal dengan sebutan “The Seven Sisters”. Pada satu titik, “The Seven Sisters” ini, baik secara sendiri-sendiri maupun beraliansi, bisa saja mendikte pemerintah dengan usulkan klausal-klausal perjanjian yang menguntungkan mereka.

Untuk mencegah kemungkinan itu, Pemerintah menerapkan strategi merangkul perusahaan-perusahaan ekplorasi perminyakan berskala kecil (junior companies) untuk beroperasi di Indonesia. Asamera, misalnya, adalah salah satu perusahaan ekplorasi minyak pertama yang oleh Ibnu Sutowo, Direktur Utama Pertamina pada masa itu (kalo pernah baca novelnya Habibi-Ainun gak akan asing dengan nama itu. Hehe), diberi kontrak untuk melakukan eksplorasi di Indonesia. Asamera berhasil dan hingga kini masih eksis, bahkan telah men-transformasi-kan dirinya menjadi perusahaan minyak yang andal, tidak lagi sekadar yunior. Contoh perusahaan yang semula kecil dan kini telah berhasil di bidang perminyakan Indonesia adalah IIAPCO.

Kontrak Pertambangan berdasarkan production sharing itu hanya berlaku bagi komoditi minyak dan gas bumi, serta batubara. Batubara dimasukkan dalam klasifikasi yang sama karena fungsinya sebaga sumber energi. Untuk jenis-jenis mineral lain, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pertambangan, Pemerintah menerapkan sistem Kuasa Pertambangan (KP, hanya untuk pengusaha nasional), Dan Kontrak Karya (KK, hanya untuk perusahaan asing). Lahirnya Undang-Undang Pertambangan itu juga memberikan landasan yang lebih mantap bagi peningkatan operasi penambangan mineral. Pada 1952, misalnya, telah berakhir masa konsesi bagi perusahaan-perusahaan pertambangan Belanda yang melakukan penambangan timah di pulau-pulau Bangka, Belitung, dan Singkep. Sebelum lahirnya Undang-Undang Pertambangan, perusahaan tambang timah negara itu nyaris beroperasi di atas aturan-aturan yang ad hoc, antara lain dengan Perpu 37.

Pembedaan sistem itu sebetulnya sangat berlandasan. Penambangan mineral jauh lebih tinggi risikonya dibandingkan penambangan minyak dan gas bumi. Perusahaan minyak, misalnya, cukup mengebor dua lubang – di Indonesia pada kedalaman 600-2000 meter, di tempat-tempat lain bisa sampai 3000 meter –dengan biaya sekitar AS$4 juta per lubang, untuk bisa memutuskan apakah terdapat cebakan ekonomis di kawasan itu. “Bahkan, bila tajam analisis seismiknya untuk menemukan oil trap atau gas trap di dalam perut bumi, dengan satu lubang pun sudah ketemu,” kata B.M.W. Siagian, seorang geolog kawakan yang kini memimpin PT Timah Investasi Mineral. Perusahaan tambang mineral, sebaliknya, harus melakukan pengeboran sebanyak ratusan lubang sebelum bisa menarik kesimpulan tentang adanya cebakan ekonomis. Biaya pengeboran rata-rata mencapai AS$100 per meter, atau sekitar AS$25,000 per lubang. “Tergantung jenis batuan di mana mineralisasi ditemukan. Bisa mahal, bisa kurang mahal,” kata Siagian. Perbedaan utama antara KPS (Kontrak Production Sharing) dan KK (Kontrak Karya) adalah bahwa KPS manajemen seluruh kontraktor asing ditengani oleh Indonesia, dalam hal ini Pertamina. Setiap perencanaan pengembangan harus disetujui Pemerintah. Untuk produk minyak, Indonesia memperoleh bagian 85%, sedangkan kontraktor memperoleh 15% sebagai upah. Untuk gas bumi, kontraktor memperoleh upah lebih besar, yaitu 30%.

Susahnya Menambang Mineral itu, … (Hal 21)

Menurut Soetaryo Sigit bahwa success rate untuk usaha pertambangan mineral emas rasionya adalah kurang dari 3:100. Padahal di subsektor minyak dan gas bumi angka keberhasilannya bisa mencapai 1:2. Sukses yang dicapai segelintir perusahaan tambang mineral hanyalah sebuah puncak gunung es yang tampak di atas permukaan laut. Di bawahnya terpuruk ratusan perusahaan tambang yang sedang berusaha untuk mencapai puncak gunung es, dan sebagian besar bahkan sudah terkubur beku di bawah sana.

Risiko teringgi yang dihadapi perusahaan pertambangan adalah biaya eksplorasi yang tak ada batasnya. Siapa yang bisa memastikan bahwa setelah sumur bor keseratus akan ditemukan emas? Tingginya risiko usaha pertambangan juga diperkuat dengan unsur-unsur berikut: lokasinya yang jauh di pelosok tanpa infrastruktur memadai, memerlukan modal yang sangat besar (capital intensive), usia penambangan yang terbatas, serta pencegahan pencemaran dan rehabilitasi lingkungan yang juga mahal biayanya (sosial maupun aktual). Kuntoro Mangkusubroto dalam ceramahnya di Metal Mining Agency of Japan pada akhir September 1996 mengatakan: “Every mineral prospect is now the site of intense environmental, social and political negotiation.” Harga komoditi mineral yang ditetapkan oleh pasar membuat perusahaan penambangan hanya menjadi price taker yang setiap saat berada dalam posisi rawan oleh goyangan harga pasar. Belum lagi bila harus dipertimbangkan upaya-upaya Pengembangan wilayah (community development) mengingat lokasi operasi biasanya berada di daerah terpencil yang terbelakang pembangunannya. Semua risiko itu juga membuat rintangan lain bagi perusahaan pertambangan: sulitnya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan. Anggapan-anggapan umum dan para pakar yang kurang memahami masalah untuk memperketat aturan-aturan Kontrak Karya – apalagi mengubahnya menjadi Undang-Undang – akan berakibat kontra-produktif. Misalnya, Rachman Wiriosudarmo, mengatakan bila kontraktor ditekan dengan pajak yang semakin tinggi, dampaknya adalah pada merosotnya komitmen di bidang perlindungan lingkungan, konservasi mineral, dan pengembangan wilayah. Pada masa Mohamad Sadli menjadi Menteri Pertambangan, misalnya, pernah diberlakukan ketentuan tentang windfall profit (bila keuntungan melebihi 15% dikenai pajak tambahan) yang antara lain membuat “kosong”- nya permohonan Kontrak Karya selama sepuluh tahun. Unsur keberuntungan boleh dikata tak ada di bidang usaha pertambangan. Jim Bob Moffett, CEO Freeport, selalu mengatakan bahwa: “Luck is when hardwork meets opportunity.” Perusahaan-perusahaan pertambangan yang sekarang berada di puncak gunung es itu bukanlah perusahaan-perusahaan yang beruntung. Mereka telah terlebih dahulu mempertaruhkan segala daya dan dana untuk menemukan cebakan mineral yang dikejarnya.

Referensi bacaan :

  1. Bre-X ; Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, Bondan Winarno. bagi yang ingin membacanya dalam bentuk pdf, silakan sudah ada yang berbaik hati menguploadnya di sini.
Science

Karat Besi untuk Anti Radar

Saya tidak dan belum pernah meneliti tentang kegunaan karat selain kenyataan bahwa karat adalah sampah. Sesuatu yang tidak berguna, cenderung merugikan, dan harapannya kalau punya perkakas dari besi, karatnya akan tidak terlalu banyak-banyak amat. Semenjak kuliah di Teknik Kimia, yang mana didalamnya juga mempelajari tentang korosi. Selalu yang dibahas itu adalah cara pencegahan. Korosi adalah phenomena yang membayang-bayangi semua jenis peralatan yang terbuat dari besi. Korosi adalah niscaya. Tidak bisa tidak. Tidak mungkin dihentikan, karena yang mungkin hanya memperlambat lajunya. Upaya-upaya pencegahannya banyak seperti dengan anoda-katoda, anoda korban, pengecatan (yang sederhana banget) dan lain-lainnya. Hal itu dimaksudkan agar efek dari korosi tidak terlalu membuat masalah. Saya ingat, di perkuliahan ada pula rumus untuk menghitung umur besi sebelum karat benar-benar membuatnya menjadi tak berguna.

karat-besi
Proses korosi. gambar diambil dari The Central Science, 2000

Saya tidak pernah tahu juga bahwa ada teknologi yang memanfaatkan pasir besi sebagai komponen utamanya. Hingga pada subuh hari itu, selepas sholat berjamaah, dihadapan kengkawan yang sudah kehabisan topik obrolan dan bingung mau ngapain, berbicaralah mas Faishol, mahasiswa tingkat akhir dari jurusan Fisika, FMIPA, ITS. Didapuk untuk menjadi pembicara dadakan tentang subjek penelitiannya yang membuatnya beberapa hari ke depan diundang untuk mempresentasikan kertas kerjanya di Jepang.

Riset beliau bersama timnya berangkat dari ide sederhana diatas ; Korosi itu pasti terjadi. sementara besi yang sudah berkarat itu hanya akan menjadi rongsokan saja. Tak berguna. Nah, kira-kira adakah kegunaan atau bisakah rongsokan tersebut atau produk dari karat besi itu dimanfaatkan? Dan ternyata ada!

***

Sudah bertahun-tahun yang lalu teknologi di bidang aeronautika dan antariksa berkembang pesat. Entah itu untuk transportasi, kemiliteran, teknologi atau pengembangan dari riset-riset sebelumnya. Salahsatu teknologi itu adalah anti radar yang dipasang di pesawat (pesawat siluman) atau sesuatu apapun yang keberadaannya perlu diketahui atau dilacak. Pesawat menggunakan radar yang menyampaikan pesan koordinat dimana pesawat itu berada dengan stasiun pemancar (dan penerima) di bandara. Untuk pesawat komersil, radar ini jelas sangat dibutuhkan. Berapa banyak pesawat yang jatuh dan kecelakaan bermula dari hilangnya kontak antara pesawat tersebut dengan awak kru di bandara. Nah, tapi ada juga beberapa hal yang membuat kita tidak ingin dilacak atau diketahui posisinya. Teknologi untuk membuat radar tidak bisa melacak keberadaan pesawat itulah yang disebut anti radar. Dipasang di pesawat yang bersangkutan dan bekerja pada range frekuensi yang tidak bisa dilacak oleh radar di bandara. Simpelnya seperti itu. Cara kerjanya yang lebih detail, mungkin bisa baca-baca di jurnal terkait.

pesawawat-siluman
Ilustrasi pesawat siluman.

Bidang apa yang perlu teknologi ini? Yap, militer. Dalam perang, posisi menentukan prestasi kalah atau menang. Pernah dengar cerita kan mengapa Hitler dengan nazinya bisa kalah di perang dunia ke-2? Salahsatunya karena komunikasi mereka dan posisi setiap kapal perangnya bisa dengan mudah diketahui oleh musuh. Bagi yang pernah nonton pilem The Imitation Game, yang menceritakan kisah hidup Alan Turing, yang membuat mesin enigma alias mesin pemecah sandi, akan ketahuan bagaimana vitalnya untuk menyembunyikan keberadaan pesawat atau kapal-kapal perang.

Anti radar ini dibuat dari elemen yang disebut pasir besi, rumus kimianya adalah Fe2O3. disinilah letak kerennya tim mas Faishol itu. Mereka sadar bahwa pasir besi ini mempunyai rumus kimia yang sama dengan karat besi. Yang itu artinya karat besi bisa dimanfaatkan sebagai bahan substitusi untuk membuat anti radar. Bahan yang murah dan cenderung terabaikan kini bisa jadi bermanfaat. Tahu tambang pasir besi di Lumajang yang sempat heboh kemarin-kemarin itu yang menyebabkan tewasnya aktivis Salim Kancil? Penambangan illegal itu sangat menguntungkan pihak penambang, tetapi sangat merugikan persawahan dan tanah-tanah warga di sekitarnya.

Sebenarnya perkembangan teknologi anti radar ini sudah jauh berkembang. Di Rusia contohnya, mereka sudah bisa membuat teknologi yang bisa mendeteksi pesawat (atau apapun itu) yang menggunakan anti radar. Teknologi yang mereka buat bekerja pada range frekuensi yang lebih besar, panjang dan mencakup range frekuensi pada titik rentang dimana anti radar bekerja. Riset dari tim mas Faishol berfokus pada kegunaan atau pemanfaatan karat besi untuk membuat anti radar. Ini suatu yang menjadi terobosan baru karena belum pernah ada sebelumnya. Teknik konvensional dalam pembuatan anti radar kebanyakan menggunakan pasir besi.

Saya bertanya kepada beliau, Apakah risetnya itu bisa diaplikasikan dan dibuat? Kata beliau, untuk saat ini belum bisa diaplikasikan. Untuk sebentar saya termenung dan berkerut dahi. Lho, kok tidak bisa di aplikasikan? Kata dia, Penelitian ini baru awal banget. Masih permukaan, belum bisa langsung diaplikasikan. Harus didalami dulu terkait kekuatan ketahanan dengan lingkungan dan korosi. Jadi belum bisa. Memang jauh dari sempurna dan perlu pengembangan lebih lanjut. Fokus dari risetnya sendiri adalah untuk mengetahui pada kedalaman range berapa karat besi bisa berguna untuk teknologi anti radar. Lebih dalam dan lebih lebar. Tetapi bila hal itu sudah mungkin dan terbukti. Aplikasinya terbatas hanya untuk militer saja, karena pesaat siluman (sebutan pesawat anti radar) memang untuk militer, karena kalau untuk teknologi di bidang pesawat terbang, ini kebalikan dari logika umum. Pesawat itu perlu di deteksi agar tidak hilang arah dan tak tau kemana arah jalan pulang dan tetap bisa berkomunikasi dengan pihak bandara.

Yang mengejutkan adalah bahwasannya inspirasi dari riset ini bermula dari apa yang diketemukan oleh mas Faishol ketika membaca salahsatu ayat al-Quran yang menceritakan tentang karunia atau anugerah yang diberikan kepada Nabi Daud, lebih kurang dalam al-Quran itu (saya lupa ayat yang disitir oleh beliau) menjelaskan tentang fungsi dari besi sebagai alat untuk melindungi di medan perang. Konteksnya saat itu bisa jadi besi bisa dijadikan untuk perlengkapan perang semacam baju besi, tameng, pedang, dlsb. Tetapi lanjutan ayat itu yang membuat mas faishol merenunginya dalam-dalam, bahwa fungsi besi itu lebih luas lagi bagi orang-orang yang benar-benar memikirkannya. Mas faishol jadi kepikiran tentang karat besi yang merupakan produk dari besi itu sendiri yang tak teraplikasikan, apakah ada guna dan manfaatnya atau tidak? Dan memang ternyata ada.

Semoga beliau dan timnya dilancarkan selama perjalanan dan kunjungan ilmiah ke negeri sakura mala mini (05/12/2016). Diberi kelancaran dan kemudahan serta keberkahan dari apa yang diteliti oleh mereka. Menjadi sumbangsih terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa yang akan datang. Sosok yang menginspirasi, humble, ramah dan penuh ide brilian, serta sholeh sekali orangnya. Cocok dan memenuhi kriteria calon suami idaman pokoknya. *Eeaaa. Loh kok jadi kesini ngebahasnya. Selingan lah. Haha. 😀

Referensi bacaan lanjut :

http://artikel.dikti.go.id/index.php/PKM-P/article/viewFile/24/24 à “Pembuatan Pelapis Penyerap Gelombang Mikro Berbasis M-Hexaferrite Dari Pasir Alam Pada Kabin Pesawat “

*Tulisan ini dipublish seijin dari beliau.

Culture

Kopi dan Mahasiswa

Disklaimer ; Sebelumnya, perlu diketahui bahwa didepan saya yang sedang menulis ini ada secangkir kopi hangat Chocino dengan sedikit Glukosa tambahan yang sedang mengepul dan enak lalu tak mau berbagi.dan disklaimer ini benar-benar tidak penting! :v

Saya termasuk orang yang tidak suka bersikap fanatik. Karena fanatisme dalam hal apapun tidak mengijinkan adanya intervensi dari nalar, yang artinya seseorang yang (dibutakan) oleh fanatisme itu murni karena kecintaan yang membabi buta, tidak tersisa didalamnya logika. Makanya, bila saya sedang menghadapi orang yang fanatik (terhadap bola, tokoh, orang, band atau agama apapun itu), tak perlu saya sodori argumen, fakta atau referensi ilmiah, karena itu tidak akan terlalu membantu dan berguna. Intinya saya tidak suka fanatik, tapi setelah dipikir-pikir, kalaupun ternyata saya dipaksa untuk bersikap fanatik, maka kefanatikan saya hanya pada 2 hal ; buku dan kopi. Untuk dua hal itu saya rela melakukan apa saja. *Uhuuk.

Dalam hal kopi, sehari (menurut Nat Geo) itu sekira 300 mg caffeine yang masuk kedalam tubuh seseorang disebut sebagai takaran yang moderat. Nah bila takaran ini dioper ke kopi, maka bila satu atau dua cangkir kopi itu beratnya 12 ons, yang artinya tergantung berapa besar ukuran cangkir kopi Anda, yang adapun kalau cangkir saya tergolong kecil, karena saya hanya butuh menyeruput kopi setiap kali ngantuk. Maka, bila saya timbang bubuk kopi saya pergelas kecil itu, ternyata beratnya hanya 7 gram. Itu artinya, jika dalam sehari saya minum 4 gelas “kopi kecil”, saya berjarak 2 gram dari batas 300 miligram yang diperbolehkan tsb. jadi masih tergolong aman. Bagaimanapun, selera, pilihan dan kesukaan terhadap sesuatu tidak seharusnya menumpulkan akal, logika dan nalar kita, kan? Jadi, ingat juga kesehatan. Kopi tidak seharusnya menjadi sumber bencana, karena seperti yang akan kita diskusikan selanjutnya, akan didapati bahwa terdapat romantikanya tersendiri yang ada di dalam secangkir kopi.

ojekparis
Obrolan urban, membahas tema-tema sederhana dengan kata yang mempesona. salut buat Seno Gumira

Kita mulai dengan satu postulat sederhana, bahwa kopi bukan sekedar minuman biasa, tetapi telah menjadi makna. Hal ini bisa dipahami bila kita mau menengok sebentar sejarah kopi dari masa ke masa dan pergulatan wacana yang ditimbulkan oleh sebab kopi, karena Semenjak booming Starbucks, ternyata kopi disebut-sebut sebagai “Legal drug”. Majalah National Geographic bahkan menyebutkan betapa abad modern sebetulnya digerakkan oleh kopi yang bikin orang melek, siang maupun malam, dan menghidupkan kota-kota dunia. Untungnya, manusia bisa menarik diri dengan mudah dari ketagihan kopi ini. dengan kata lain, tidak seperti narkoba, tidak akan ada istilah “sakauw” kopi. Yang ada hanyalah beberapa efek pada saraf selama beberapa hari (withdrawal syndrome), namun kemudian tubuh akan segera menyeimbangkan diri. Perilaku minum kopi telah menggelindingkan sejarah serta memberi bentuk dan inspirasi terhadap keberlangsungan budaya kita sekarang. Jadi tidak sekedar nikmatnya saja yang kita sesap, hirup dan sruput (ini istilah anak-anak Lpm yang menggambarkan pemakanaa terhadap suatu fenomena seperti halnya menyeruput kopi, untuk mendapatkan kenikmatan puncak yang perlu pelan-pelan dan sambil dihayati betul), kopi telah menjelmakan diri sebagai suatu wacana. Ada yang bilang bahwa kopi itu diciptakan oleh sejarah, tetapi nikmatnya oleh filsapat. Saya kira ada benarnya juga. Coba bayangkan sudah berapa ratus lembar kertas yang tertuang didalamnya kesyahduan mencicip kopi dengan aromanya yang khas, ampasnya yang pekat (bak rindu), rasanya yang memikat, dan seabrek keistimewaan lainnya dari kopi yang tidak akan bisa kita temui di minuman yang lain. Kita tidak perlu vodka, whiski, atau jack daniels, karena pada secangkir kopi, tersimpan berjuta rasa yang membangkitkan romantika jiwa mahasiswa.

Dalam salahsatu esainya yang aduhai gurihnya, Seno Gumira pernah mengatakan bahwa kopi bukan hanya caffein, kopi telah menjadi makna! Begini, dalam percaturan kopi, Indonesia nyatanya bisa cukup berbangga diri. karena salahsatu varietasnya, yaitu “Kopi luwak” yang diberitakan The Jakarta Post tanggal 18 february 2005 ; ternyata inilah kopi termahal di dunia, karena hanya biji kopi yang terbungkus faeces (tinja) luwaklah yang dianggap sahih sebagai ‘kopi luwak’ –jadi bukan sekedar ber-merk Kopi luwak. Bahkan yang membuat kita tercengang adalah harga bijinya yang mencapai US$250 perkilo (unroasted) dan US$600 perkilo (roasted). dan percangkirnya bisa mencapai US$5. kita memang bicara tentang dunia kopi internasional, meski kebun penyuplai ‘kopi luwak’ dunia ini hanya ada di sumatera, tetapi dimiliki Daarhnour dari Belanda, yang mendistribusikannya terutama ke Amerika serikat, dengan M. P. Mountanos Inc, di Los angeles, sebagai pelanggan terbesar. tentu jadi ironis ; ‘kopi luwak’ yang tulen ternyata tak bisa dibeli di Indonesia karena sudah kadung dibawa keluar.

images
Tidak ada yang mengalahkan taik hewan yang satu ini.

Lalu diskusi tentang kopi juga pada satu titik bisa menjadi teramat serius. Bagaimana orang-orang bisa menjadikan kopi sebagai sebuah studi yang asyik. Karena pada kopi terbuka kemungkinan untuk diteliti dan dikaji secara mendalam. Ambil contoh seperti laporan The Jakarta Post edisi 23 februari lalu. dibawah judul Coffee and its effect on culture, a popular topic on college campuses, Murray Evans dari Asociated press melaporkan telah berlangsungnya diskusi “The cafe and public life” di Centre College, Dallas, Kentucky, yang memperdebatkan kopi sebagai bagian dari (citra) kelas. tesis diskusi itu, kopi bukan sekedar minuman, karena konsumsinya telah mengubah masyarakat dari abad ke abad. topik ini mungkin tampak aneh, tetapi justru menunjukan eksistensi kopi, bahwa makna kehadirannya bisa dibongkar dalam perbincangan yang serius dan berbobot. Keren, kan? Jangan remehkan hal-hal kecil di sekitar kita.

Sebagai sebuah wacana kopi membangkitkan gairah intelektualitas kita, dan sebagai sebuah fungsi, kopi merupakan minuman praktis yang memungkinkan mahasiswa bisa tahan bergadang hingga dini hari. Kopi siap menemani waktu-waktu sepi ketika malam menghampiri. Terlalu berharga jika melewatkan malam hanya dengan tidur. Mahasiswa perlu tidur, itu jelas. Tetapi bukan untuk tidur, mahasiswa itu ada. Maksudnya, tidur hanya sekedar untuk melepas lelah dan melepas kesadaran. Barang 2 atau 3 jam seharusnya sudah lebih dari cukup. Itu kalau menganggap waktu menjadi sedemikian berarti dan pentingnya. Tapi mahasiswa mana yang tidak menganggap entitas waktu tidak seperti itu, kan? Karena waktulah yang nantinya akan membentuk dia. kolektifitas dia memaknai waktunya itu yang akan memberitahukan siapa dan bagaimana kualitas dirinya. Waktu yang tersedia untuk semua mahasiswa sama, tetapi untuk apa dan bagaimana waktu itu dipergunakan, bisa jadi berbeda-beda.

Malam bagi saya sudah menjadi tidak ada bedanya dengan siang. Sama-sama terdapat aktifitas yang tidak bisa ditinggalkan dan ditanggalkan. Kata pepatah bijak, doi pernah mengatakan, “Malam itu panjang, Janganlah tidurmu membuatnya menjadi pendek. Begitu juga, Siang itu terang, janganlah perbuatan burukmu membuatnya menjadi gelap.” Terlebih saya termasuk pengagum berat langit malam (baca : astronomi), kan konyol kalau sewaktu mengamati hujan meteor orionid (seperti beberapa minggu yang lalu) saya pulas tidur. Waktu-waktu langit menunjukan keindahannya itu justru ketika malam hari. Nah, kan!

Berbicara tentang kopi seperti tidak akan ada habisnya. Misal, hubungan kopi dan panjang umur pun sempat-sempatnya diteliti, papernya pertama kali dipublikasikan oleh Harvard Study secara online pada Nov. 16, 2015, oleh Circulation yang menemukan bahwa jika anda minum kopi pada takaran yang moderat, ternyata itu berhubungan dengan rendahnya resiko dari kematian dini. Intinya apa? Kopi bisa membuat anda panjang umur! Riset itu dievaluasi dari jawaban Quesioner yang disebar dan dijawab oleh lebih dari 208,000 laki-laki dan perempuan, pada usia 30 tahunan.

Yang lainnya, adalah kajian yang dipublikasikan oleh jurnal Scientific Reports. Dikatakan bahwa kopi yang kita minum akan menempel (tercetak) dalam gen kita. Meskipun riset ini masih perlu diteliti lebih lanjut, seperti kata salah seorang penelitinya, Dr Nicola Pirastu, yang mengatakan bahwa “Kita perlu melakukan penelitian lebih lanjut terkait ini untuk mengkonfirmasi penemuan ini juga menjelaskan mekanisme biologis diantara PDSS2 terhadap konsumsi kopi.”

Yang jelas, kopi sangat berhubungan dengan tingkat kefokusan. Yang artinya bisa membuat kita belajar dengan lebih mudah. Mahasiswa-mahasiswa malam tahu rasanya terjaga sembari ditemani secangkir kopi yang sedang mengepulkan aromanya yang aduhai maknyusnya.

23328842052_d87782d0f8
Mari di sruput kopinya.

Referensi :

Tiada Ojek Di Paris, 2015, Seno Gumira Ajidarma.

The Jakarta Post.

Majalah National Geographic

Journal Reference: Nicola Pirastu, Maarten Kooyman, Antonietta Robino, Ashley van der Spek, Luciano Navarini, Najaf Amin, Lennart C. Karssen, Cornelia M Van Duijn, Paolo Gasparini. “Non-additive genome-wide association scan reveals a new gene associated with habitual coffee consumption”. Scientific Reports, 2016; 6: 31590 DOI: 10.1038/srep31590

Historis · Musik

Denting Sonata Berusia 200 Tahun

Saya selalu terpukau dan kagum terhadap karya-karya musisi klasik kelas wahid semacam Beethoven, Mozart, Schubert, Bach atau Schuman (kesemua orang yang keren ini ternyata saling terkoneksi dan membentuk jaringan murid-guru, itu artinya murid yang keren terwarisi juga oleh gurunya yang sama kerennya). Bagaimana mereka bisa menjadikan perasaannya kedalam deretan alunan musik yang indah dan menggetarkan. Coba dengarkan Fur Elise-nya Beethoven yang menyayat hati dan mendayu-dayu itu. Saya selalu berdecak kagum setiap mendengarkan denting piano sonata berusia 200 tahun yang sampai hari ini terus direproduksi untuk berbagai keperluan itu – dari bel pintu dan musik permanen penjual es krim keliling sampai nada dering telepon seluler terbaru. Atau Movement finale symphoninya dia yang ke-9. Bila kita membaca jurnal-jurnal musik yang membedah struktur, komposisi, pesan dan apa yang tersurat dalam deretan note musik itu, kita akan mengerti betapa musik, yang kata Pidi Baiq, itu adalah perasaan yang bisa didengarkan. tanpa musik, hampalah dunia ini. Beneran. 🙂

Setiap mendengarkan Fur Elise-nya Beethoven saya mencoba untuk menghayati bagaimana amuk cinta Beethoven pada Elise (atau dalam versi lain kepada Therease), lalu menghayati bagaimana Beethoven menuangkan kekecewaannya menjadi suatu karya seni yang jempolan. Tapi setiap itu juga usaha saya nyaris selalu gagal. Saya hanya tau bahwa didalamnya mungkin berisi ketulusan, keresahan, dan kesyahduan cinta– juga kegemasan, ketaksabaran dan kadang ketakkuasaan membendung luapan perasaan yang menerjang-nerjang liar tak terkendali. Fur Elise, sebuah symphoni tentang rintihannya yang menyayat hati karena perpisahan dengan orang yang dicintainya. Tepatnya ditinggal nikah sih. :p Begitulah, derita cinta itu memang tiada akhirnya, Cuk.

beethoven
Ini orang yang sedag kita perbincangkan itu. gambar by Joseph Karl Stieler, 1820. diambil dari wikipedia.org

Well, tapi kita pun perlu beruntung, kalau seandainya Beethoven tidak merasakan patah hati, hingga sekarang mungkin kita tidak akan pernah bisa menikmati keindahan Fur Elise. Yap. Kadang, seseorang yang patah hati pun bisa berkarya, karena patah hati juga ternyata merupakan potensi untuk berkarya, seminimalnya dengan begitu kita bisa membuat puisi. Haha. Jadi, daripada terkungkung pada tragedi, sebaiknya dari sekarang kita mulai membiasakan diri untuk melihat celah positif dari apapun yang menimpa kita, yang kalau dari tampaknya seperti sebuah derita. Padahal, bisa jadi itu sumber bahagiamu, juga. Dan satu lagi, Ini juga menjadi alasan bahwa setiap mahasiswa teknik seminimalnya perlu menguasai satu alat musik, entah itu gitar, piano, biola, harmonika atau apapun itu, untuk mengantisipasi keadaan-keadaan ‘full presured’ oleh sebab ditolak cinta. Atau diterima cinta.

Lalu saya juga tidak berhenti kagum kepada Beethoven ini, orang yang membuat saya tak habis heran karena ia menulis Symphony No.6, sebuah puisi musikal yang mengiris (saya menyukai interpretasi dari Cleveland Philharmonic Orchestra). Pusat Studi Beethoven di Universitas Colorado menyimpan beberapa puluh lembar rambut maestro Jerman itu, dan dari sana menyimpulkan bahwa tingginya kadar timah dalam air minum dan air mandinya adalah penyebab ia cepat tua dan berambut perak. meskipun saya juga tertarik untuk tahu dari lapisan batinnya yang manakah ia mengeluarkan Fur Elise – juga Das Lebowl, rintihannya yang menyayat hati karena perpisahan dengan kekasih itu. Orang yang membuat saya mencoba buka-buka dan baca-baca jurnal music yang menganalisis karya-karyanya. Dan ternyata mengasyikan sekali. musik memang ajaib, ia bisa menimbulkan efek sedih, gembira, haru, emosional dan mampu membangkitkan kenangan atau masa lalu. karena itulah musik bisa dijadikan sebagai sebuah terapi. 🙂 seperti misalnya unsur2 musik yang paling mempengaruhi pendengarnya adalah bagian beat, ritme dan harmoni, belum lagi ada unsur2 semacam biomusicology, musical acoustics, music theory, psychoacoustics, embodied music cognition, aesthetic of music, dan comparative musicology, yang tidak akan dijelaskan sekarang. mungkin kapan-kapan lah.

Kalo kita lihat-telaah Movement finale symphoni ke-9-nya Beethoven ini, kita akan tau bahwa itu adalah karya terobosan yang coba dihadirkan oleh Beethoven dalam kehidupan sekaligus karir bermusiknya. Sebuah karya yang menandai depresinya yang akut karena terserang ketulian yang parah. Bayangkan, seorang manusia yang mencintai musik di uji dengan tuli, penderitaan yang luarbiasa menekan dan membuat diri sesak mengap-mengap. Seolah dunia menjadi begitu sempit. Padahal, kata beberapa kritikus musik, Beethoven mengalami ketulian ketika sedang berada di puncak-puncak karirnya. Sungguh miris sekali.

Dari beberapa jurnal musik yang saya baca, saya dapati beberapa detail terkait dengan Beethoven dan karya-karyanya ini yang kadang perlu konteks dan latar cerita didalam ruang dan waktu yang seperti apakah ketika Beethoven mengkreasi ciptaan-ciptaannya. Ini nantinya akan membuat kita menjadi lebih paham setiap alunan nada yang ia hasilkan. Apakah berangkat dari perasaan sedih, marah, bahagia, rindu, merana atau seperti apa. Ada indikasi menebak-nebak, tetapi justru itulah keasyikannya tersendiri ketika bergumul dengan nada-nada indah setiap composer dunia, meski dari dulu saya gak bisa-bisa mainin piano. Haha. Saya hanya penikmat tok. Plus pengamat amatiran.

Makanya tidak mengherankan bila banyak sekali orang yang menaruh minat dan tertarik kepada (karya) Beethoven. Sudah berapa jurnal yang membahas, menganalisis struktur material musiknya, mengujicobakannya, memodifikasinya dan mengembangkannya dalam varian yang baru. Itulah sebabnya dalam dunia music, masalah originalitas itu hanya utopia belaka. Tidak ada yang benar-benar original dan kita bisa bermalam-malam untuk mendiskusikan tentang apa maksudnya original, plagiat, sadur, edit, atau lain sebagainya.

Kritikus music umumnya menyukai tafsiran mereka atas karya-karya Beethoven karena dinilai didalamnya memang terdapat paduan yang unik. Tidak sekedar merepresentasikan perasaannya saja, lebih jauh dari itu Beethoven adalah orangnya yang menjadi jembatan peralihan dari genre music klasik ke eranya music romantic. Artinya Beethoven memang sudah jadi fenomenal. Hingga lagunya yang kita bahas diawal, Fur Elise, cukup menyita perhatian dan mengundang perdebatan yang tidak sebentar. Tentang siapakah sebenarnya Elise itu, apakah ia memang ditujukan untuk Elise, atau cuma karena typo orang yang menyalin karyanya sebagai Therease, atau siapa, hingga saat ini belum diketahui. Sebuah perdebatan yang terasa konyol, tapi percayalah, untuk sesuatu yang engkau cintai, kau ingin tahu segalanya. Sedalam-dalamnya. Disini, fanatik dan cinta menjadi blur dan bias konteks.

Referensi :

“Fur Fathia”, Ahmad Basyaib. sebuah artikel yang menarik yang menginspirasi untuk membuat tulisan serupa. manusia dengan jenis pengetahuan ensiklopedi

“Beethoven’s deafness and his three styles”
Edoardo Saccenti1,2, Age K Smilde1,2, dan Wim H M Saris2,3

  1. Biosystems Data Analysis Group, Swammerdam Institute for Life Sciences, University of Amsterdam, Science Park 904, 1098 XH, Amsterdam, Netherlands
  2. Netherlands Metabolomics Centre, Einsteinweg 55, 2333 CC, Leiden, Netherlands
  3. Department of Human Biology, Maastricht University Medical Centre, Universiteitssingel 50, 6229 ER, Maastricht, Netherlands

“British Medical Journal”, 2011; 343, 20 December 2011

William Kinderman, The Cambridge Companion to Beethoven, Cambridge: Cambridge University Press, 2000, p. 125–126, ISBN 978-0-521-58934-5

Max Unger, diterjemahkan oleh Theodore Baker, “Beethoven and Therese von Malfatti,” The Musikal Quarterly 11, no. 1 (1925): 63–72.

Historis · Politik

Masihkah Rambut Gondrong Mahasiswa Menandakan Idealisme?

*Pernah diposting sebelumnya di LPM 1.0 (Pers Mahasiswa ITS)

Rambut gondrong pernah menjadi musuh awal Orde Baru selain komunisme.

(Anonim)

Setidaknya kita tahu bahwa yang memperjuangkan kemerdekaan ini sebagiannya adalah para pemuda, yang dikemudian hari mempunyai peran yang tidak sepele dalam mengawal kebijakan pemerintahan. Para pemuda atau mahasiswa ini merupakan garda terdepan yang memperjuangkan aspirasi rakyat bawah yang dirasa masih murni mempunyai idealisme dan tidak bias kepentingan. Bila berbicara tentang pemuda atau mahasiswa, saya selalu suka dengan kata-katanya Tan Malaka yang ini, “Hanya idealismelah satu-satunya kemewahan yang dipunyai oleh anak muda”. 

Lantas kita juga tahu bahwa yang melengserkan orde baru itu digerakan oleh spirit ‘perlawanan’ dari kaum intelektual muda ini (meski tidak sesederhana itu juga sih sejarah real di belakang gerakan 98 itu) yang artinya mahasiswa patut diperhitungkan dalam kontestasi perpolitikan di Negara ini. Meski kita lihat belakangan ini ada upaya-upaya untuk mencegah keterlibatan mahasiswa dalam panggung perpolitikan dan mengkerdilkan statusnya untuk sekedar belajar tok di kampus, gak usah macem-macem. Jadi sekarang kalau kita melihat mahasiswa terhadap pmerintah itu bak singa ompong yang sudah kehilangan tajinya.

Pembukaan diatas yang secara singkat menggambarkan pemuda, mahasiswa, sejarah dan politik ini perlu saya kedepankan sebelum membahas tema yang menarik yaitu kaitannya rambut gondrong dengan idealisme mahasiswa. Emang ada kaitannya kah? Eits faktanya rambut gondrong itu pada suatu waktu pernah menjadi spirit perlawanan kaum muda atau mahasiswa dalam merongrong kemapanan kuasa pemerintah yang terlalu mengatur lho.

Bagi generasi millennial semacam kita rambut gondrong bukanlah sesuatu yang ada hubungannya dengan idealisme. Semenjak SD hingga SMA doktrin itu masih terus melekat dalam benak bahwa anak laki-laki gak boleh berambut panjang. Dan kita pun mengiyakannya begitu saja, tanpa kita tahu mengapa harus begitu? Ketika SMP atau SMA saya termasuk yang mempermasalahkan kekonyolan pihak sekolah yang merazia (memotong paksa) siswa yang berambut panjang hanya demi alasan ‘kerapihan’. Citranya sudah kelewat negatif bagi seseorang yang berambut panjang, dicap urakan lah, gak bisa diatur, anak nakal, dan sederet label2 negatif lainnya. Padahal, kan tidak selamanya siswa berambut gondrong begitu, ya ndak?

Kita memang hidup pasca orde baru, sehingga kehidupan kita juga secara tidak langsung masih terwarisi pikiran-pikiran orde baru yang sepenuhnya tidak bisa dihilangkan. Mental “cari aman”, “gimana bapak saja”, “wes manut ae”, dlsb masih mendominasi sebagian besar orang-orang sekarang. Tak terkecuali mahasiswanya juga. Nah, warisan ini akan semakin mudah kita pahami manakala kita tahu konstruksi sejarah yang diciptakan oleh orde baru dan bagaimana orde baru memainkan peran politik dan kuasanya. Bila kita perhatikan mengapa orde baru bisa sampai ‘tahan’ hingga 32 tahun, akan kita dapati bahwa ternyata narasi sejarah yang mereka ciptakan dan mereka tanamkan itu harus dianggap sebagai sebuah kebenaran yang tanpa gugatan.

8035942
Buku yang aduhai muantep dan degilnya. Top! bisa diperoleh di toko buku kesayangan pemiliknya.

Terkait dengan perbincangan kita kali ini, sebetulnya ada satu buku menarik yang kebetulan membahas tema serupa, yaitu tentang wacana rambut gondrong dan instabilitas politik nasional yang dikarang oleh Aria Wiratma Yudistira dengan judul “Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an”, sebuah buku yang sebetulnya merupakan skripsi beliau di Jurusan sejarah UI. Di kalangan mahasiswa sejarah UI buku ini masih merupakan skripsi yang fenomenal dan greget, karena mengangkat tema yang seksi tetapi sangat penting untuk melihat celah kekosongan sejarah nasional kita yang cenderung disetir oleh pemerintah. Bukan hal yang baru bahwa pemerintah memang melegitimasi kekuasannya dengan sejarah. Dalam buku itu secara gamblang ditampilkan bagaimana orde baru sampai harus mengatur rambut masyarakatnya, atau spesifiknya kaum pemuda atau mahasiswanya. Ini bukan hal yang berlebihan mengingat jargon yang digaungkan oleh orde baru adalah tentang stabilitas nasional dalam bidang politik, ekonomi dan budaya. Hal-hal yang merongrong itu semua, sebisa mungkin dipadamkan sebelum menjalar kemana-mana. Termasuk bila para pemuda atau mahasiswa dianggap merongrong kekuasaan orde baru, maka pemerintah tidak akan tinggal diam untuk mendepolitisasi seluruh pergerakan mahasiswa. Contoh sederhananya adalah bagaimana Orba merubah istilah pemuda yang memiliki konotasi politik dan bersifat revolusioner sebagaimana pada periode-periode sebelumnya, menjadi remaja atau yang pada periode 1990-an disebut ABG (Anak Baru Gede). Remaja digambarkan sebagai kumpulan orang belum matang, cenderung bergerombol, kadangkala menggunakan seragam sekolah, tidak disiplin gampang naik darah, liar, dan yang terutama menjadi bagian yang tidak penting, bau kencur dan tidak tahu apa-apa. Ketika zaman Orba kosa kata pemuda haram digunakan.

Anak muda, yang sebelumnya menjadi katalis gerakan rakyat, secara sistematis dimatikan potensinya. Mereka dijauhkan dari kehidupan berpolitik dengan cara memposisikan mereka sebagai pewaris idealisme pembangunan Orde Baru. Demi menjaga stabilitas nasional, tindak preventif yang berlebihan pun dilakukan hingga selera pribadi seperti gaya rambut menjadi ancaman yang dianggap potensial. Kalau sekarang kita akan menganggap kebijakan itu konyol, tapi percayalah bahwa itu pernah terjadi di negeri ini. J

Kronologisnya kira-kira begini, Zaman 60-an itu menandai lahirnya Orde baru, lalu dunia berada dalam suasana perang dingin gontok-gontokan antara kubu Amerika dengan Soviet, Nah ketika itu diikuti juga dengan tren budaya hippies yang sedang marak-maraknya dan mewabah. Budaya Hippies sendiri adalah salah satu gerakan counter-culture yang berkembang di Amerika Serikat pada era itu. Gerakan ini lahir sebagai antitesis dari generasi sebelumnya yang dinilai telah jauh dari alam tempat mereka berasal. Menurut mereka manusia modern telah dibutakan oleh ambisi menaklukkan, perang, dan menang.

Tidak mau kalah oleh tren global, ternyata ada sebagian anak muda Indonesia yang juga ikut-ikutan mengikuti mode tersebut sebagai penyaluran atas ekspresi kebebasan dengan membiarkan rambut gondrong, celana berpotongan cutbrai, dan pakaian tampil kedodoran. Melalui koran, majalah serta radio dan film-film, anak-anak muda di kota-kota besar di Indonesia terbawa pengaruh mode macam ini. Tapi perilaku itu tidak diikuti dengan pemahaman atas nilai-nilai ideologis yang terkandung didalam tren tersebut.

Lalu, rambut panjang yang menjadi gaya khas anak muda Hippies ini mulai menjadi wacana serius di Indonesia pada awal 70-an. Pemerintah tidak tinggal diam. Oleh pemerintah Rambut gondrong dicitrakan dengan negatif lewat wacana di media masa yang mereka gunakan sebagai alat propaganda, sehingga tidak heran bila judul-judul berita ketika itu berkisar seperti “7 gondrong merampok bis”, “6 pemuda gondrong perkosa 2 wanita”, “Disambar si gondrong”, itu menjadi sesuatu yang biasa. Apa yang digambarkan dalam berita itu menunjukan bagaimana citra rambut gondrong dibentuk.

kang Eka.png
Dosen ITS yang nyentrik karena berambut gondrong.Pak Raditya Eka Rizkiantoro, terinspirasi oleh Indian dan Moge. bekas personel The Panasdalam Band. gambar diambil dari majalah Y-ITS edisi ke-3.

Artinya disini kita melihat bahwa Foucault benar ketika menyatakan bahwa kekuasaan menjadi alat untuk menormalisasi individu-individu melalui serangkain norma dan peraturan yang ditetapkan. Kekuasaan cenderung memaksakan kehendaknya. Menurut Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam bahwa “Pelarangan rambut gondrong tahun 60-an dan 70-an itu bukan hanya soal perbedaan persepsi tua versus muda, militer versus sipil, laki-laki versus perempuan, tetapi menyangkut pula masalah praktik kekuasaan dan simbol perlawanan terhadap kekuasaan tersebut. Mengapa penjahat yang ditangkap aparat keamanan kepalanya digunduli ? Apakah ada anasir subversi bersembunyi di bawah rambut itu? Pada era ’70-an biasanya perampok diberitakan berambut gondrong, tetapi sebaliknya era ’90-an penculik para aktivis dikabarkan berambut cepak.”

Nah jadi saat kekuasaan merumuskan bahwa rambut gondrong identik dengan radikalisme dan sikap acuh tak acuh, disitu ada perlawanan dari mahasiswa. Konon, peristiwa Malari tahun 1974 itu juga berawal dari rambut gondrong. Mungkin kapan-kapan kita perlu mendiskusikan tentang peristiwa Malari ini sebagai bagian dari politik identitas bahwa kita harus tahu sejarah yang sebenarnya, insyaAllah.

Menurut Musyafak di Suara Merdeka, setidaknya ada dua sebab pemerintah merepresi rambut gondrong ketika itu. Pertama, pemuda dianggap penting dalam dinamika kebangsaan sebagai generasi penerus kepemimpinan masa depan hingga perlu kontrol dan pembinaan. Namun, saat itu pemuda justru berkembang tidak sesuai keinginan penguasa. Kondisi politik-ekonomi Orde Baru pada awal 1970-an masih labil oleh pelbagai persoalan naiknya harga pangan maupun bahan bakar minyak (BBM), juga pembersihan orang-orang yang dicurigai terkait gerakan Partai Komunis Indonesia PKI sangat menakuti rakyat. Realitas sosial berjalan tidak sesuai cita-cita politik-kebangsaan, secara tidak langsung mendorong kaum muda bertumbuh sebagai counter culture (budaya tanding).

Secara behavioral, budaya tanding terejawantah dalam pola hidup memilih berbeda dari kebiasaan dominan yang jamak dan lumrah. Salah satunya gaya hidup rambut gondrong yang lebih dianggap masyarakat sebagai laku norak, atau bahkan mreman (berlagak preman). Secara ideologis, budaya tanding ini mewujud dalam kepercayaan nurani yang berkehendak lepas dari jejaring kekuatan dominan dan menolak status quo. Konteksnya dengan Orde Baru adalah penolakan secara radikal terhadap pemapanan tata politik yang otoriter dan mewabahnya korupsi, kolusi, serta nepotisme. Counter culture secara behavioral sekaligus ideologis saat itu diperankan oleh mahasiswa atau pemuda, kebanyakan berambut gondrong, yang kerap melakukan aksi protes dan demonstrasi kepada pemerintah. Fakta besar adalah meletusnya peristiwa Malari (15 Januari) 1974 itu.

Kedua, pemerintah risih melihat perilaku kaum muda mengikuti tren kebarat-baratan dengan cara memelihara rambut panjang. Dan ini yang konyol, Orde baru sampai harus mempermainkan sejarah dengan mengatakan bahwa Rambut gondrong merupakan budaya asing dan bukan kepribadian bangsa Indonesia. Karena setelah dilacak, rambut panjang atau gondrong ternyata bisa ditemukan dalam sejarah keadaban manusia nusantara pada masa kerajaan-kerajaan. Thomas Stamford Raffles (2002) mencatat, pada masanya ketika Belanda berada di Indonesia, khususnya di Distrik Sunda dan Cirebon, menemukan kebanyakan petinggi pribumi berambut panjang.

Artinya bahwa gunting ternyata pernah menjadi alat utama Orde Baru untuk mengatur rakyatnya sendiri.  Mempunyai rambut gondrong itu ternyata tidak sesederhana kelihatannya karena terdapat nilai ideologi dan beban makna serta historis dibelakangnya yang turut menyertainya sebagai pengejawantahan atas ekspresi kebebasan. Tapi Kini, masihkah ada dari mahasiswa yang berambut gondrong itu mewarisi spirit perlawanan, penentangan atas dasar idealisme terhadap kemapanan kuasa elit pemerintah? Sebuah pertanyaan yang seharusnya bisa lebih dari sekedar untuk menggugah kesadaran kita, Rek! Nah.

Referensi bacaan :

*Aria Wiratma Yudhistira. 2010. Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an. Tangerang : Marjin Kiri.

**Majalah Historia Online

***Suara Merdeka, Musyafak Timur Banua, 03 Oktober 2010