Culture · Historis · Kampus · Uncategorized

Pacaran, Cinta dan Dialektika Pernikahan : Pandangan dari Chandra Natadipurba dan kearifan dari Hamid Basyaib

socrates

Tak ada habis-habisnya bila kita membincangkan cinta, karena memang ia adalah bahasan yang objek (atau subjek) nya dialami oleh semua orang (dewasa), dalam segala spektrumnya. Tak bisa dipungkiri bahwa spectrum cinta memang luas, jauh lebih luas dari alam semesta ini. Bahkan karena cinta pula, alam semesta ini ada ; yaitu Cinta Tuhan kepada makhluk-makhluk-Nya. Boleh dikata, cinta adalah sebab musabab atau asal muasal dari kehidupan ini. Tanpa cinta, tidak akan ada pula kehidupan. Tentu saja saya asal-asalan saja bilang begitu. *Eeeegubraak

Kita kesampingkan cinta yang umum itu untuk membahas cinta yang lebih spesifik (meski kita juga bisa berdebat tentang apakah pacaran itu termasuk manifestasi atau ekspresi dari cinta :mrgreen: ) yaitu pacaran. Di kalangan mahasiswa (di kalangan manapun sih, kecuali kalangan anak-anak TK yang masih murni. *Haha, apapula ini. *skiip) gejala pacaran bisa dengan mudah dijumpai. Orang biasanya pacaran dengan beragam alasan. Entah kebutuhan, entah keinginan, entah pelampiasan, atau entah-entah yang lainnya. Dan diantara sederet alasan yang kalau dijumlahkan sekira sepuluh juta dua ratus tiga puluh satu alasan itu, ada satu alasan yang nampaknya logis dan mulia, yaitu, pacaran sebagai medium untuk mengenal kepribadian pasangannya. Kan tujuan pacaran itu cuma dua, kalau gak nikah, ya untuk berpisah. Nah, perlu gak perlu sih untuk benar-benar memastikan apakah dia memang pantas untuk dijadikan teman hidup (atau teman jalan tok), perlu karena kita tidak sedang memilih kucing dalam karung ketika memutuskan untuk menikahi seseorang, terus gak perlunya, karena jodoh itu sudah ditentukan (tapi anehnya lho kita masih bisa milih-milih, meski sudah ditentukan, iya gak? yang 4 kriteria menurut Nabi), intinya sih pandangan orang yang bilang gak perlu (pacaran) itu karena yang disebut jodoh adalah dia yang berjabat tangan dengan orangtua atau walinya si perempuan dan dibilang sah sah sah sama setiap saksi yang hadir saat itu. karena, katanya, “bagian tersulit dari cinta bukan menunggu, menerima, menjaga ataupun setia. Bagian tersulit dari cinta adalah mempertanggungjawabkannya. Jika cinta itu benar milik Sang Penguasa Alam, perjuangan jalan yang Dia ridhoi hingga ombak membawamu terdampar pada satu daratan tempat dirimu akan singgah selamanya”.

Balik lagi ke soalan yang menganggap bahwa untuk mengenal pasangan lebih dalam lewat medium yang kita namakan Pacaran itu apakah absah dan valid atau tidak, seperti misalnya apakah “hanya” dengan pacaran, kita benar-benar bisa mengenal seseorang yang akan dijadikan pasangan hidup? Tentu saja bahasan ini akan sepenuhnya berkelumit tentang masalah kepribadian atau personality. Saya jadi ingat esainya Chandra Natadipurba di Aufklarung yang menjelaskan hal ini dan sangat saya sukai, lebih kurang beliau bilang begini,

Kepribadian atau personality berasal dari akar kata persona. Dalam bahasa yunani Persona berarti topeng atau kedok. Karenanya, dalam dunia psikopop (psikologi popular), personality adalah tampilan luar dari performansi seseorang. Ia adalah fungsi dari sesuatu yang lebih esensial dan lebih dalam dari dirinya yaitu character (watak). Ibarat gunung es, personality adalah puncak gunung es yang ada diatas permukaan laut, sedangkan character adalah keseluruhannya, termasuk dasar gunung es yang terletak jauh dibawah permukaan laut. Dan kita biasanya menyebut character sebagai akhlak, yaitu sesuatu yang kita kerjakan tanpa melalui proses berpikir lagi. Jelajah literature yang lebih jauh membuat anda akan menemukan kajian yag lebih dalam dan popular tentang etika karakter dan etika kepribadian. Salahsatu kajian yang terkanal adalah dalam bab pertama 7 habits of highly effective people karya Stephen R. Covey.

Nah, Perbedaan yang paling mendasar dari keduanya adalah pada kondisi berlakunya. Kalau personality bersifat temporer, dialektis dan oportunis, maka character biasanya inheren, tetap dan terinternalisasi dalam diri seseorang. Hal ini disebabkan oleh karena personality muncul dari proses berfikir. Perhitungan untung rugi atau asas manfaat dan penyikapan sementara terhadap sebuah stimulus, terlebih jika berhubungan dengan orang lain. Sedangkan karakter muncul dari kombinasi kode genetic, nilai-nilai dan keyakinan plus pengalaman serta lingkungan masa kecil yang tidak bisa diubah secara otomatis, sehingga karakter hampir mustahil bisa diubah dan dimanipulasi. Biasanya karakter kita selalu tampil apa adanya.

Sebagai manusia kita berkecenderungan untuk menampilkan topeng yang baik-baik saja walaupun kadang-kadang topeng tersebut tidak sesuai dengan realitas kita. Sebagai contoh, jika seorang teller bank murah senyum ketika menghadapi pelanggan. Performansi yang muncul dari teller tersebut adalah kepribadiannya, sebab dia memang dibayar untuk tersenyum pada pelanggan. Namun, belum tentu karakternya adalah ramah. Ketika kita bertemunya sebagai orang biasa di pasar dan tak sengaja bersenggolan dengannya, bisa jadi dia judes pada kita. Dan kita akan kecewa karena ternyata dia tidak seramah yang kita kira. Dengan analogi demikian, dalam konteks ini, maka ketika dua orang berpacaran, mereka sebenarnya sedang berlomba-lomba memunculkan topeng terbaik pada pasangannya, dalam bentuk, apa yang saya sebut dengan, “Kepribadian yang termanipulasi”. Kita memang terkadang terpaksa memanipulasinya sebab kita ingin tampil sempurna dihadapannya dan karena tidak ingin ‘pasaran’ kita turun.

Misalnya adalah karena sejatinya manusia akan selalu punya cela, maka usaha ini sebenarnya utopis (tidak mungkin dilakukan). Karena justru saat pacaran itulah pasangan kita giat menyembunyikan hal-hal buruk dan menampilkan hal-hal yang baik saja dari dirinya. rajin menggunakan topeng “kepribadian”nya yang memikat. Dan kita, dalam hal ini terutama wanita, sangat senang diberikan kebohongan terselubung ini. Itulah mengapa walaupun para wanita tahu rayuan laki-laki itu gombal belaka, setiap wanita akan melayang-layang, berbunga-bunga dan bersemu merah jika ada laki-laki yang memujinya. Sehingga, kalau kita berharap bahwa kita akan semakin mengenal pasangan kita dengan medium ini sebenarnya usaha itu seperti menggantang asap alias melakukan pekerjaan yang sia-sia.

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pacaran bukanlah medium yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan diawal pembicaraan kita.

Coba deh, kalau mau kita lihat secara jujur, aktivitas yang kita lakukan ketika pacaran sebenarnya tidak membuka peluang untuk mengenal pasangan kita lebih jauh. Nonton film, makan berdua, jalan-jalan ke mal tidak akan sanggup membuka tabir karakter pasangan kita. Bukan aktivitas diatas, melainkan ada empat aktivitas yang kalau kita lakukan akan memberi tahu kita sebenarnya bagaimana karakter teman kita : pertama, berjalan kaki jauh melintasi medan yang sulit, kedua, bertetangga dengannya dalam jangka waktu yang lama, ketiga, melakukan transaksi perdagangan dengan orang tersebut, dan, keempat bersama-sama mengalami kondisi-kondisi ekstrim tertentu. Kegiatan-kegiatan yang bisa pasangan pacaran lakukan biasanya malah semakin menyembunyikan topeng dari kedoknya. Oleh karenanya, membangun sebuah hubungan yang penuh dengan topeng dan kedok seperti itu, ibarat membangun sebuah rumah laba-laba, rapuh dan mudah sekali hancur.

Atau katakanlah akhirnya setelah melalui medium pacaran, pasangan kita ini melanjutkan perjalanan ke bahtera rumah tangga. Tentu saja, pasangan ini berangkat dengan pengalaman-pengalaman semasa pacarannya. Dalam masa itu, sadar atau tidak, telah terbentuk semacam persepsi tertentu dalam diri pasangan kita. Sesuatu yang hendak saya sebut dengan “horizon harapan”. Nah, karena dalam pacaran kita hanya menampilkan yang baik-baik saja dari diri kita, wajar kalau kemudian “horizon harapan” itu terlalu tinggi. Harapan yang terlalu tinggi dan kemudian bertemu dengan realitas diri kita yang tidak sesuai dengan “horizon harapan” itulah yang kemudian menimbulkan kekecewaan dan ketidakharmonisan. Kekecewaan dan ketidakharmonisan muncul karena pada hakikatnya tidak ada seoragpun didunia ini yang benar-benar suka dibohongi dan diberi kepalsuan. Wajar kemudian kalau kita banyak mendengar kisah pasangan yang tujuh tahun pacaran, namun ketika menikah tujuh bulan kemudian langsung cerai. karena kecewa, marah atau merasa “tertipu” mungkin. Karena si “dia” ternyata tidak selembut, semacho, sepintar, seromantis, sebertanggungjawab dan se-se-lainnya yang diduga. Ironis!

Sisi pragmatis dari diri kita kemudian mungkin bertanya, “Kalau pacaran bukan cara yang tepat mengenal pasangan kita, lantas?” tentang ini si jenius Socrates punya jawaban, “Menikahlah. Kalau kau menemukan istri yang baik, kau akan hidup bahagia. Kalau istrimu tidak baik, maka kau akan belajar jadi filosof.”

***

Kalau kamu suka seseorang (atau ingin menikahi seseorang sekalipun), saran saya, jangan pernah memberikan cintamu 100%. Kamu harus tetap memberikan ruang bagi cinta untuk tumbuh (*Eaa). Karena kalau cinta kamu seratus persen, kamu tidak punya ruang lagi untuk berpikir.

Nah, penjelasan selanjutnya, dikutip (dengan sedikit perubahan untuk menyesuaikan dengan alur pembahasan) dari Hamid Basyaib, bahwa tanpa ruang sisa itu, cinta akan rutin, dan karenanya membosankan, setidaknya tak mungkin lagi mekar – tak mungkin tumbuh ke berbagai arah yang barangkali tak terduga, tapi lebih kaya. Dan setiap hal yang setinggi seratus persen hanya punya satu arah perubahan: menurun, berkurang, mengalami erosi. Mungkin akhirnya mati. Cinta memang tak pernah bunuh-diri. Ia biasanya mati karena dibunuh oleh satu atau kedua pelaku yang terlibat dalam percintaan itu.

Pernyataan itu sebetulnya tertafsirkan dari Kahlil Gibran, yang menyarankan supaya dalam kebersamaan tetap harus ada ruang bagi kedua pihak. Kita harus menginsafi, bahwa perkawinan bukanlah penunggalan dua pribadi, tapi kesepakatan antara dua orang yang punya sejarah personal masing-masing untuk memandang ke satu arah yang sama. Keduanya tak perlu, tak boleh, melebur menyatu. Masa sih? Sebab harga termurah dari peleburan itu adalah hilangnya diri kita, berubah menjadi bukan siapa-siapa, menjadi bukan apa-apa.

Saya pun tak pernah tahu ada statistik tentang tingkat kelanggengan suatu perkawinan berdasarkan lama masa pacaran. Apakah panjang masa pacaran mampu menjamin keawetan sebuah perkawinan? Apakah masa yang singkat berpeluang besar untuk kegagalannya? Saya belum pernah baca data yang meyakinkan. Yang saya tahu: ada pasangan yang perkawinannya langgeng sampai akhir hayat, setelah melalui masa pacaran yang singkat (atau tak pernah melewatinya sama sekali karena dijodohkan orangtua); ada pasangan yang usia perkawinannya jauh lebih singkat daripada masa pacarannya, sampai para tamu resepsi pernikahan mereka mengeluh: belum habis letih dari menghadiri pestanya, perkawinannya sudah hancur.

Meski cinta pada dasarnya emosional, keingintahuan orang di sepanjang sejarah selalu berusaha memperluas pangsa rasionalnya. Geloranya universal. Semua kebudayaan besar memiliki epos cinta masing-masing – Rama & Shinta, Romeo & Juliet, Qais & Layla, Sam Pek Eng Tay, Tristan & Isolde, Marc Anthony & Cleopatra. Daya pukau kisah-kisah itu, bahkan berikut kepahitan dan tragedi mereka, terus memancar sampai hari ini, mendorong para penggubah menulis pelbagai versi turunan; membuat nama-nama itu bagian integral dari nomenklatur sebuah bangsa dan bahasa mereka masing-masing, bahkan menjadikan nama-nama itu idiom bahasa dan budaya universal.

Tapi keuniversalan cerita mereka tak pernah mampu mereduksi kekhususan kisah cinta orang-orang biasa seperti kita. Teks besar cinta mereka tak membuat cinta kita sekadar catatan kaki. Bukankah kita pun merasakan segenap getaran yang tak terkira, yang tak terkatakan itu? Getaran yang membuat kita hanya mampu menangis, satu-satunya cara kita menyerah karena tak sanggup merumuskannya dengan seluruh simpanan perbendaharaan kata kita?

Itu sebabnya beribu-ribu lagu terus ditulis orang di seputar cinta. Setiap hari kita mendengar lahirnya lagu baru tentang tema ini. Dan pernahkah kamu menerka-nerka berapa novel dan film bertema cinta yang pernah dibuat orang? Tak akan pernah ada yang mampu menghitungnya.

Mengapa kita, tetap berani menikah di tengah kepungan wajah-wajah murung akibat ketakbahagiaan perkawinan mereka; di tengah serakan marriage jokes yang membuat kita tergelak tapi juga miris?

Kamu pasti ingat sejumlah lelucon ironis itu. Ada yang bilang perkawinan ideal adalah antara perempuan buta dan lelaki tuli – si isteri tak akan melihat ulah suaminya yang menjengkelkan, sang suami tak bisa mendengar omelan isteri yang tak pernah putus.

Seorang suami mengaku tak takut lagi pada terorisme karena sudah menikah selama dua tahun. Katherine Hepburn menyilakan para gadis untuk menikah jika mereka “ingin mengganti kekaguman dan pemujaan ribuan lelaki dengan kritik satu orang” – suami, konon, selalu hanya melihat kekurangan isterinya.

Setelah tujuh atau dua belas kali menikah, Zsa Zsa Gabor mengaku tak kapok kawin asalkan suami berikutnya “berusia 85, punya simpanan seratus juta dolar, dan mau menandatangani perjanjian bahwa enam bulan lagi dia akan mati.” Dan dewi Hollywood itu mengaku tak mengerti apa-apa tentang seks, “karena saya selalu menikah.”

Agatha Christie juga tak henti berganti suami, dan sampai pada kearifan untuk ia sarankan pada gadis-gadis yang sedang mencari pasangan hidup: kawinlah dengan arkeolog, sebab makin tua kita (isteri) akan makin tertarik dia. Jika suami bukan ahli purbakala, semua perempuan sudah tahu apa yang sering terjadi.

Apa resep perkawinan yang awet? Seorang suami mengaku dia dan isterinya sanggup menjaga perkawinan selama tujuh belas tahun karena mereka rutin makan di restoran yang baik, dengan red wine lezat dan temaram candle light yang membangun suasana mesra. “Saya melakukannya tiap Senin malam,” katanya, “dan isteri saya Kamis malam”. Suami lain mengaku rumah-tangganya benar-benar bahagia selama dua puluh tahun – tapi kemudian ia dan isterinya tinggal serumah.

Mungkin catatan tertua tentang ironi semacam ini adalah dari Socrates, dari masa sekitar 2500 tahun silam. “Bagaimanapun, kawinlah”, sarannya pada para pria. “Jika kau mendapatkan isteri yang baik, kau akan bahagia. Jika kau mendapat isteri yang buruk, kau akan jadi filosof.” Kini kita tahu kenapa dia jadi filosof. *Hahaha

Mungkin benar bahwa perkawinan itu seperti benteng terkepung: yang di dalam ingin keluar, yang di luar ingin masuk. Atau kita termasuk golongan yang disindir Voltaire, yang mengumumkan bahwa perkawinan adalah satu-satunya medan petualangan yang terbuka bagi para pengecut?

Jadi, mengapa akhirnya kita memutuskan untuk menikah? Mungkinkah sekadar karena kita, di tengah konstruk masyarakat tempat kita hidup ini, tak sanggup menanggung beratnya tekanan sosial yang tak menoleransi kebersamaan hidup kita tanpa dukungan dokumen-dokumen negara dan aturan agama – hal-hal yang tak berhubungan dengan cinta yang merekat kebersamaan kita? Juga karena kita tak akan sanggup melawan kuasa negara yang tak akan memberi status hukum bagi anak-anak yang mungkin lahir dari kebersamaan kita?

Atau mungkin karena diam-diam kita curiga bahwa pasangan-pasangan yang sinis itu hanya menonjolkan aspek-aspek buruk dari perkawinan mereka. Mereka telah berlaku seperti wartawan yang terus berpedoman pada kredo usang: bad news is good news. Mereka curang karena menonjolkan keburukan yang cuma secuil di tengah kebaikan yang melimpah. Mereka menampilkan diri sebagai serangga yang terperangkap.

Mereka berlomba untuk tampil sebagai korban, bukan pelaku, dari perkawinan hasil kerja sama dengan pasangan masing-masing. Status sebagai korban memang menyamankan perasaan – dengan itu mereka bukan hanya tak bersalah atas ketaksempurnaan perkawinan mereka, tapi sekaligus menderita dan dirugikan akibat tindakan pasangan. Tidak ada kekuatan yang lebih besar dalam menarik simpati daripada derita ganda ini.

Tapi katakanlah sinisme mereka sahih; bahwa mereka memang mewakili gejala yang makin umum tentang mengecewakannya perkawinan, seperti terlihat dari statistik perceraian yang meningkat di banyak tempat. Dengan semua itu agaknya kita percaya bahwa kita masih mungkin mencuri kebahagiaan dari situasi umum kekecewaan itu. Sebab kita memaknai kebahagiaan lebih sebagai kata kerja ketimbang kata benda; sebagai konsep dinamis, yang harus diupayakan secara aktif dengan sepenuh kesungguhan, bukan sesuatu yang akan kita terima dengan pasif karena ia kita sangka bisa hadir begitu saja di ruang tamu rumah kita.

Ia pasti terkait erat dengan cinta yang enigmatik itu. Ada ribuan definisi cinta – dan tak ada yang memadai. Kamu boleh memilihnya satu atau beberapa sekaligus. Tapi saya harap kamu sepakat dengan rumusan yang saya ramu dari bahan-bahan Scott Peck: cinta adalah kehendak untuk melampaui kemampuan kita sendiri guna memungkinkan pasangan kita tumbuh secara spiritual.

Dan spiritualitas, seperti kita pahami bersama, bercakupan lebih luas daripada hal-ihwal yang terkait dengan agama, apalagi sekadar dengan aspek ritualnya. Spiritualitas membuat kita bersedia mendaki puncak-puncak kemanusiaan kita; juga membuat kita tak terpaku pada keremehan suatu benda, melainkan mengintai makna yang lebih dalam daripada arti yang lazim ditawarkan oleh benda itu. Seperti kata seorang bijak, “Jika kau tahu bagaimana proses mengelopaknya sekuntum bunga, maka seluruh hidupmu akan berubah.”

Notes : saya berterimakasih sekali terhadap dua orang itu untuk penafsirannya atas hal-hal yang menarik ini. Ini semua sepenuhnya berasal dari inspirasi mereka. saya hanya (seperti kata Newton) sedang berdiri di bahu raksasa, untuk mengambil yang baik-baik dan bagus-bagusnya saja.

—————-

*Referensi :

Chandra Natadipurba. 2008. “Pacaran”. Bandung : Aufklarung.

Hamid Basyaib. 2007. “Fur Fathia ; Surat cinta menuju pernikahan”. Jakarta.

Culture · Uncategorized

Mahasiswa ; Kembalilah Ke Budaya Membaca Buku, Bukan Internet.

Zaman memang telah berubah, dan akan selalu berubah. Bahkan mungkin saja roda zaman telah menggilas kita, dan kita terseret tertatih-tatih. Bila tidak bisa menyesuaikan, bisa-bisa kita tergulung olehnya. Tapi perubahan itu tidak selalu positif dan tidak selalu harus diikuti, kan?. Untuk suatu perubahan yang negative, masak harus diikuti, kan amboi anehnya. Terhadap perubahan kita punya pilihan dan berhak untuk memilih. Kata siapa status quo selalu bermakna kolot, jasdul dan norak? Dan kali ini, saya menjadi sangat ingin menuliskan tentang budaya yang kian mengganas dikalangan mahasiswa ; menjadikan internet sebagai segalanya. Yang membuat buku, jendela dunia itu, menjadi kian tidak menarik dan kehilangan tajinya. Alih-alih menaikkan tingkat literasi, saya pikir internet malah membuat budaya literasi di kalangan mahasiswa turun drastis bak ipk-mu, rek. *Eh.

perpusnas
Ya ampuun.. perih mata ini.*Gambar diambil dari web Perpusnas

Bila kita melihat kecenderungan dunia digital dengan akses terhadap informasi yang tak ada habis-habisnya melemparkan kita pada suatu kondisi (yang jauh lebih mengerikan dari) alienasinya Karl Marx. Kita dibingungkan oleh serbuan informasi yang terus menerus, membuat batas antara benar dan salah menjadi setipis harapanku padamu (loh?). Haha. banjir informasi di internet sekarang dengan perspektif yang berbeda-beda ini akan membuat kita bagai minum air asin ; semakin diminum semakin haus. akhirnya alih-alih membuat kita paham, malah membuat kita bingung, salah kaprah dan keblinger. maka, definisi kebenaran bukan lagi sesuatu yang sejati, melainkan jadi sekedar suatu repetisi yang dipaksakan. Kebenaran adalah kebohongan dikali 500 kali. Artinya apa? Kebohongan yang diulang-ulang pada suatu waktu akan menjadi kebenaran dan menjadi opini umum atas suatu masalah.

Buku telah menjadi media alternative dalam menyimpan pengetahuan. Dan itu memang tidak pernah mengecewakan. Tetapi dengan menyingsingnya fajar era internet, apakah masih relevan dan patut bahwa yang memonopoli peng’arsipan’ atas pengetahuan itu dipegang oleh buku? Apakah internet bisa menjadi cara baru kita dalam merawat kewarasan berpikir dan sumber mencari pengetahuan, informasi dan ilmu? Kita sepertinya masih ragu untuk sampai ketahap itu. terlebih, setahu saya google itu, misalnya, isinya adalah sampah semua. Belum lagi fakta yang mengejutkan bahwa apa yang kita cari dari google, Wikipedia, Yahoo atau blog hanya 4% dari apa yang ada di samudera luas internet. Kita masih berada di permukaannya saja (itulah mengapa kita sering mendengar untuk aktivitas kita mencari informasi di google dinamai dengan istilah surfing atau berselancar), karena 96% informasi di internet (yang jarang atau susah di akses?) terdapat di kedalamannya yang dikenal dengan istilah deepweb atau bahkan ada lagi yang lebih dalam ; darkweb. Disana terdapat jurnal-jurnal ilmu pengetahuan, riset dari yang normal hingga yang absurd bahkan bengis pun ada. Tapi bukan tempatnya disini untuk membincangkan tentang keeksotisan deepweb. *Tsaah

perpus-geologi-ugm
Doi sejati eykeu

Nah, Sebuah paper yang ditulis oleh John Gehl dan Suzanne Douglas yang berjudul From Movable Type to Data Deluge, yang diterbitkan oleh Jurnal Educom Review, menjelaskan tentang berubahnya kendali informasi dan pengetahuan. di era sebelumnya, kita menganggap pembawa pesan memiliki lebih banyak informasi dan pengetahuan daripada pembaca. di era internet, posisi itu berubah ; pemilik kontrol bukan si pembawa pesan, tapi si pemegang gadget.

Kata gehl dan douglas, internet telah membuat penggunanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena akses dan kesetaraan informasi. dengan ketersediaan informasi yang sangat luas itu yang bisa mereka akses lewat ujung jari, pengguna internet merasa bahwa level pengetahuan mereka setara dengan siapapun. sementara kalau menurut Elias Aboujaoude, seorang doktor ilmu kejiwaan klinis dari stanford university, mengemukakan bahwa internet meyakinkan kita bahwa kita lebih terpelajar, lebih dewasa atau lebih pintar dibanding kita yang sebenarnya. internet telah menjadi mesin peningkat rasa percaya diri yang belum pernah ada dalam peradaban manusia. Padahal aslinya bisa jadi kita tidak seperti anggapan tersebut.

Mengutip tulisannya Hilman Fajrian yang menyebutkan laporan British Library pada tahun 2008, bahwa pembaca buku dan pembaca digital itu mempunyai perilaku yang berbeda. Otak pun bekerja dengan cara yang berbeda antara membaca buku dan digital. pembaca digital cenderung tak menyortir, tidak konsisten, tak kritis, melompat-lompat dan tak sabar. rata-rata pembaca onlen hanya menghabiskan 4 menit untuk sebuah buku elektronik, setelah itu melompat ke buku elektronik lain atau internet. dilaporan itu juga disbut 89% mahasiswa inggris menggunakan google untuk mendapatkan informasi. Sebenarnya, sebut british library, pembaca online atau digital tidak benar-benar membaca, tapi “memindai” (scaning atau skimming) halaman. pemindaian inilah yang kita kenal dengan istilah power browse ; cepat dan melompat-lompat. perilaku ini sangat berbeda dengan cara membaca buku yang kita kenal ; perlahan, sabar dan bersedia mengulang. power browse berimplikasi pada tingkat kedalaman pemahaman bacaan, daya kritis, dan daya ingat. yang ujung-ujungnya adalah rendahnya kualitas pengetahuan yang didapat. Cara membaca cepat ini wajar mengingat bahwa ketika kita membaca di layar itu lebih melelahkan ketimbang membaca buku.

Nicholas Carr dalam bukunya yang berjudul “Is Google Making us Stupid?” mengatakan bahwa budaya literasi sebelum masa internet itu seperti berenang di lautan ; perlahan tapi penuh pengalaman. dengan internet, kita seperti mengendarai jetski ; cepat tapi minim pengalaman. Di internet, bahasannya bukan lagi salah atau benar, melainkan yang populer dan tidak. maka siapapun tiba-tiba bisa menulis apa saja, bisa menjadi ahli apa saja, dan bisa menjadi sangat sotoy (:p) dan itu yang berbahaya bagi iklim kebudayaan intelektual kita. Kegiatan untuk mengkonfirmasi terhadap berita juga menunjukan kebalikannya daripada afirmasi di era internet sekarang ini (makanya jangan menelan bulat-bulat setiap berita, khawatirnya keselek. Kunyah dulu pelan-pelan dan utamakan ‘tabayun’ (baca ; kroscek). karena perilaku mengkonfirmasi pemberitaan ini memang jauh lebih melelahkan, lama, dan susah. Sementara di internet, siapa cepat maka itulah yang paling dilirik. Sebelum berintanya menjadi basi dan sudah tidak menarik lagi. akhirnya, kita hanya menerima pemberitaan begitu saja. benar tidaknya tergantung siapa yang paling banyak pembacanya (populer). semakin banyak orang yang setuju (yang ditandai dengan banyaknya like atau share), semakin kelihatanlah benarnya pemberitaan itu. padahal kan belum tentu. perasaan skeptis terhadap isi berita, kekritisan dan curiga jadi hilang begitu saja. Lagi-lagi kata Gehl dan Douglas, “Kalau anda menginginkan informasi yang sejati di internet, berarti anda punya masalah”. hehe. Nah, kan!

Seperti kemarin misalnya, ketika muncul isu rencana aksi mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai ‘aksi bela rakyat’. Semua mahasiswa mendadak menjadi ahli ekonomi, ahli politik, ikut menyuarakan pendapatnya antara yang pro-aksi dan kontra. Saya kira informasi yang mereka tahu hanya sebatas apa yang ada di internet. Meskipun hampir di setiap kampus menyelenggarakan kajian analisis terhadap isu-isu tersebut sebelum memunculkan sikapnya masing-masing, tetap saja internet menjadi andalan untuk berbicara, beropini dan menyanggah. Saya tidak hendak mengomentari tentang aksi tersebut, tapi lebih kepada bagaimana konstruk berpikir mahasiswa yang bila informasinya searah hanya dari internet, akan seperti apa dampaknya. Tapi kalau bukan dari internet, lantas kita dapat ‘pengetahuan’ itu darimana? Nah, bisa banyak sebetulnya, bisa dari dosen, pakar, koran, atau majalah. Tapi itu hanya input, prosesnya tetap ada di kepala mahasiswa, bagaimana dia mengolah akan sangat menentukan apa outputnya. Itu yang lebih kurang bisa menunjukan independensi dari sikap seorang mahasiswa. Ah tiba-tiba saya jadi mau mengutip kata-kata Pram yang sangat membekas di novel Bumi Manusia, “Sebagai orang yang terpelajar, harus sudah bisa adil sejak dalam pikiran.” meskipun mahasiswa juga tidak semestinya di judge atas setiap outputannya itu, karena sepanjang itulah mahasiswa bergelut dengan pemikiran, lingkungan dan keresahan internal jiwanya. Bila pun ternyata keliru, kan masih bisa dianggap wajar, sebagai sekelompok orang yang masih dalam tahap belajar dan merasa.

Kalau kita menganggap bahwa pemerintah anti-kritik karena berpikir semua kebijakannya itu lahir dari pikiran para ahli dan politisi, ini juga keliru.  Proses dinamika dalam kehidupan berbangsa itu harus terus ada. Maka, meskipun gagasan yang diusung mahasiswa keliru (misalnya), tetap saja itu satu nilai yang harus diapresiasi. Saya sepakat dengan Fauzan Fikry, yang mengutip Pak Ashjar Imron, salahseorang anggota MPM ITS era 70-an, yang mengatakan bahwa dahulu kalau mahasiswa ditanya solusi, ada jawaban standar ; kami ini ibarat pasien, bukan dokter. Pasien yang merasakan sakitnya masyarakat. Sementara anda lah dokternya yang kami bayar yang harus mencari solusinya. Jangan terjebak dengan kajian atau analisis mereka yang pasti lebih hebat dan punya jam terbang yang lebih tinggi. Konsentrasilah sebagai pasien, berbicara moral mewakili denyut nadi wong cilik.

Kembali lagi kepada internet sebagai sumber informasi. Apakah ia sah sebagai sumber? Sah-sah saja, selama itu hanya menjadi pembanding atau sumber sekunder. Yang jadi masalah adalah menjadikan internet segala-galanya terlebih tanpa melihat siapa yang berbicara atau yang menulis.  

Tapi, meskipun pada akhirnya kembali lagi kepada proses kreatif dan kearifan manusianya itu sendiri dalam mempergunakan internet. Kita sudah tahu bahwa internet itu sepertihalnya pisau bermata dua. Bisa negative, bisa pula positif. Karena teknologi itu netral. Manusialah yang memberikan makna kedalamnya. Dulu juga Aristoteles pernah mengkritik tulisan, karena ia dianggap menghilangkan tradisi diskusi dan menumpulkan ingatan. Yang jelas perubahan itu pasti, setiap teknologi baru bisa jadi akan menimbulkan ketakutan. Tapi manusia selalu bisa menyesuaikan diri dengan tingkat survival yang luar biasa dan sungguh mengagumkan. Bukankah keberadaan manusia yang sudah ribuan tahuan hingga sekarang membuktikan, bahwa kita telah bisa menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup itu sendiri. Jadi, bisa jadi apa yang saya tulis ini keliru, dan tugas kita lah untuk terus mencari dengan membuat antitesa dari setiap tesa yang ada. Selalu begitu proses dialektika yang kadang melelahkan, tapi terdapat kenikmatan dan keasyikannya sendiri.

perpus
Kalo surga itu memang ada, maka didalamnya pasti bakalan banyak buku. (Garcia)

Referensi :

Jakob Nielsen, How Little Do Users Read, 06 mei 2008.

Harald Weinreich, Hartmut Obendorf, Eelco Herder, and Matthias Mayer: “Not Quite the Average: An Empirical Study of Web Use,” in the ACM Transactions on the Web, vol. 2, no. 1 (February 2008), article #5.

Hilman Fajrian, Internet membuat kita makin ‘bodoh’. 2012. Kompasiana.

John Gehl, Suzanne Douglas, From Movable Type to Data Deluge, diterbitkan oleh Jurnal Educom Review.

Nicholas Carr, Is Google Making us Stupid?