Sakura Program

Intro

Sakura Exchange Program in Science merupakan program berkunjung ke Jepang yang diselenggarakan dan didanai oleh Japan Science and Technology Agency (JST). Aktifitas dari program ini meliputi pengenalan riset, budaya dan obyek wisata di Jepang. Fasilitas yang diperoleh adalah tiket pesawat pulang pergi, biaya penginapan, serta uang saku selama di Jepang. Program ini disupervisi oleh profesor (sensei) di berbagai kampus di Jepang. Kali ini saya berkesempatan untuk mengikutnya atas kerjasama pembimbing saya di Laboratorium Pengolahan Limbah Industri (PLI), Teknik Kimia ITS, dengan Prof Masato Tominaga di Saga University, Faculty of Applied Science and Chemistry, Saga University.

Awal tahun ini (2018) saya berkesempatan untuk menggunakan passport saya untuk pertama kalinya. visa pertama pun sudah tertera. entah mengapa, perjalanan ke luar negeri selalu menyenangkan dengan berbagai kejutan yang ditemui. waktu itu adalah waktu-waktu hectic ketika di kampus sedang berlangsung sidang pabrik (Pra-rancang pabrik Kimia), tapi saya malah pergi ke Jepang. dan mulai jatuh cinta dengan negara itu, termasuk dengan orang-orangnya. sebelum berangkat, saya pernah dikasih wejangan oleh teman seperjalanan, Shaimah Rinda, tentang perjalanan ke luar negeri ini, katanya, sensasinya itu, apa ya, semacam sepulangnya, kamu akan merasakan sesuatu yang berbeda, semacam ketagihan untuk melakukan perjalanan lainnya. dan benar saja, sepulang dari sana, ada sesuau yang berbeda dan berubah dengan diri saya yang susah dijelaskan oleh kata-kata. :p

“Kamu sering bertanya: Apakah kegembiraan hidup? Sebuah pesta? Sepotong musik jazz? Semangkok bakso? Sebait puisi? Sebatang rokok? Seorang istri?

Ah ya, apakah kebahagiaan hidup? Selembar ijazah? Sebuah rumah? Sebuah mobil? Walkman?ganja? Kamu selalu bertanya bagaimana caranya menikmati hidup.

Aku tidak ingin kaya. Aku hanya ingin hidup. Aku ingin melihat banyak tempat… Aku ingin menghirup seribu satu bau kehidupan.” (SGA)

Program ini berdurasi sepuluh hari dan diisi dengan beragam kegiatan dengan main eventnya berupa visit lab. Para mahasiswa sensei di labnya menjadi teman selama hari-hari itu. mereka menunjukan dan memperlihatkan alat-alat di labnya sekaligus cara mereka bekerja dengan alat-alat tersebut. Beruntung bagi saya, karena tema skripsi saya juga merupakan tema riset yang sedang digarap di sana, sehingga saya diperkenalkan dengan teori-teori dasar, rujukan, jurnal, hingga alat-alat analisisnya (termasuk menginterpretasikan setiap data yang diambil). Selain visit lab, ada juga kunjungan museum (pertukaran budaya dan sejarah Jepang), ke beberapa castle bersejarah di Saga dan Kumamoto, sightseeing ke Kumamoto, Suijenzi Park, dan tempat-tempat bersejarah lainnya.

Berangkat dari Surabaya pada tanggal 15 Januari dengan menggunakan Silk Air untuk selanjutnya transit di Singapura dan dilanjutkan ke Fukuoka, Jepang, dengan menggunakan Singapore Airlines. Perjalanan lebih kurang selama 7 jam dan tiba di Fukuoka keesokan harinya jam 08:20 waktu setempat, yang ternyata sudah ditunggu oleh dua orang mahasiswanya Sensei ; Mr Takuya dan Syunfei yang langsung mengantarkan kami menuju kampus Saga University setelah proses pemeriksaan di bagian imigrasi.

Siangnya kami melakukan orientasi, perkenalan, makan siang, pengaturan konektivitas dan akses wifi kampus serta campus tour bersama sensei dan semua mahasiswa di labnya yang berjumlah 7 orang dengan rincian 4 orang S1 (Kazufumi, Kazuki, Seigo dan Yusuke) dan 3 orang S2 (Syunfei, Takuya dan Motofumi). Selanjutnya check in di guest house international sembari menaruh semua barang-barang dan istirahat. Malamnya kami bertemu dengan orang-orang Indonesia yang sedang berkuliah di Saga University (PPI Saga). Lewat mereka kami ditunjukan beberapa tempat untuk belanja keperluan pribadi yang aman di kantong, tempat makan yang halal, dan lain-lain. Untuk makanan, intinya kita memang harus selektif, karena sangat takut salah memasukan sesuatu ke dalam mulut. Namun, ternyata ada lebih banyak makanan yang bisa kami makan. Jika standar pencariannya makanan berlabel halal, akan sangat susah ditemukan. Tapi, kalau standar pencariannya adalah makanan halal yang tidak mengandung bahan – bahan haram, ada. Intinya tidak mengandung segala sesuatu yang berasal dari babi, alkohol, daging hewan yang disembelih dan lemak hewan (takutnya berasal dari babi). Selain itu insyaallah halal. Hari-hari berikutnya kami mulai belanja sendiri. Memilih makanan yang sudah yakin halal, dan meninggalkan makanan yang menimbulkan keraguan, meski dengan ekpresi mupeng (muka pengen) dan penasaran.

Dari jadwal 10 hari selama disini, 5 hari diantaranya berupa kegiatan eksperimen di lab, kami dibagi dua kelompok dengan fokus eksperimen yang berbeda. Saya didampingi oleh Mr Syunfei melakukan eksperimen MFC atau Mud Battery dari lumpur, sementara Mrs Yunita dan Rinda didampingi oleh Mr Takuya melakukan eksperimen tentang electrode carbon nano tube dan Single walled Carbon.

Hari kedua kami melakukan kunjungan (sightseeing) ke Museum Okuma, salah satu tokoh pendiri Saga University dan tokoh pendidikan nasional Jepang. Okuma merupakan satu dari sekian tokoh yang menjadi bagian dari restorasi besar-besaran di Jepang khususnya dalam bidang pendidikan, sains dan teknologi. Di museum itu kami melihat banyak peninggalan beliau termasuk rumah masa kecil dan kelahirannya yang terawat apik dan bagus. Rumah klasik khas Jepang dengan atap dari tumpukan jerami yang tersusun menebal. Setelah itu kami mengunjungi Saga Castle dengan segenap peninggalan historis dan sisa-sisa kejayaan serta kemegahannya. Kunjungan museum yang menjadi satu dari sekian rangkaian kegiatan sakura ini bertujuan untuk mengenalkan budaya dan sejarah Jepang yang masih mereka rawat dan terjaga. Betapa Jepang ditengah arus modernisasinya, juga tidak lupa untuk menjaga sejarahnya.

 

sakura1

Gambar 1. Berfoto bersama di Museum Okuma. Dari kanan ke kiri : Sensei Tominaga, Saya, Ibu Yunita, Shaimah Rinda.

Hari ketiga dan keempat diisi dengan aktivitas di laboratoirum yang super duper lengkap dan canggih. Peralatan dan fasilitas lab yang terdapat disana bisa dibilang sangat lengkap dan serba canggih. Lab yang terdapat di lantai 7 di Fakultas Sains Terapan dan Kimia (disana jurusan teknik kimia dan kimia tergabung dalam satu fakultas yang sama). Sensei kami, Prof Tominaga, menunjukan dan menjelaskan semua alat-alat yang ada di labnya yang memang merupakan alat-alat beliau yang diboyong dari Kampus Kumamoto University, kampus dimana beliau mengabdi sebagai dosen sebelumnya. 

sakura2

Selama di lab, saya didampingi oleh Mr Syunfei (Terimakasih mas atas kebaikannya yang berlimpah. wkwk) untuk melakukan riset di bidang MFC (Microbial Fuel Cells) dengan menggunakan lumpur dan electrode tertentu seperti elektroda Titanium, Carbon Cloth dan Carbon Cloth-Modified (pencampuran dengan kitchen bran atau dedak padi). Kita ingin tahu jenis elektroda mana yang menghasilkan power density atau listik yang paling besar dalam system MFC itu untuk digunakan sebagai mud battery. Persiapan-persiapan untuk membuat mud battery dari awal dijelaskan secara rinci, detail, jelas dan lengkap dengan praktikumnya ; membuat setiap electrode, penyiapan lumpur dan pembuatan electrode reference. sementara Ibu Yunita dan Rinda di dampingi oleh Takuya untuk riset di bidang elektroda, seperti Carbon-Nanotube Electrode, dlsb.

Hari kelima, tepatnya hari Sabtu, kami melakukan Sightseeing di Kumamoto dengan menggunakan kereta Shinkansen dari Stasiun Saga bersama tiga orang ; Mr Syunfei, Takuya dan Motofumi. Di sana, kami mengunjungi Suijenzi Park dan beberapa kuil yang terdapat disana. Tempat yang tenang, asri, dengan suhu yang cukup dingin untuk kulit tropis kami, lebih kurang 7o C. Suasana yang sangat mendukung untuk proses meditasi, berpikir dan merenung. Disana kami juga melakukan ritual minum teh yang unik dan berkesan. Dari taman itu, kami melanjutkan kunjungan ke Kumamoto Castle yang sedang di perbaiki karena terkena dampak gempa di tahun 2016. Lagi-lagi, di Kumamoto pun kami mendapatkan kesan betapa Jepang sangat menjaga betul sejarahnya sehingga mereka tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi. Membuat saya lagi-lagi harus berdecak kagum sembari diam-diam takjub dan menghormati peradaban yang mereka bangun, dari dulu hingga sekarang tetap terawat.

Hari ketujuh dan kedelapan diisi dengan aktivitas lab kembali, pembimbing yang sama, Mr Syunfei, mengajarkan cara menggunakan alat-alat yang berhubungan dengan riset MFC seperti penggunaan multi meter dengan eksternal resistor yang beragam, cyclic voltammetry, dan uji SEM untuk melihat lapisan biofilm di elektrodanya. Beliau juga mengintrepretasikan dan menggunakan data-data yang sudah kami ambil itu ke dalam bagan grafik agar bisa lebih mudah dimengerti dan ditarik kesimpulan, tentu saja kegiatan ini sangat berguna untuk skripsi saya di kampus karena, selain temanya yang sama, beberapa jurnal referensi yang beliau gunakan juga sangat relevan dengan skripsi saya tentang MFC dari lumpur lapindo dan stillage.

Hari kesembilan, yang merupakan hari terakhir di lab diisi dengan sesi presentasi dari kami (riset kami dan laporan eksperimen yang telah dilakukan selama disana), termasuk penyajian presentasi dari setiap mahasiswa profesornya, masing-masing mempresentasikan hasil penelitiannya selama ini. Setelah itu, sebelum farewell party (pesta takoyaki sampai kenyang sekenyang-kenyangnya), profesor menutup kegiatan sakura program ini dengan seremonial dan pemberian sertifikat dan foto bersama. Sejak saat itu, maka kami bertiga, telah secara resmi menjadi bagian dari keluarga besar alumni JST Sakura Program. Farewell party diisi dengan kegiatan-kegiatan santai, hangat dan penuh keakraban.

Dan tak terasa, setelah 9 hari disana dengan beragam kegiatan dan kenangan (Eaa). hari kesepuluh, alias esoknya, kami harus pulang ke Indonesia, perjalanan Saga – Fukuoka Airport dengan menggunakan bus, ditemani oleh profesor dan kedua mahasiswanya. Banyak hal-hal yang beliau ceritakan kepada saya selama di perjalanan itu dan sangat mendalam atas kesan saya terhadap beliau, terhadap Jepang, dan segala hal yang saya lihat selama disana. Meski hanya sepuluh hari, tetapi itu adalah hari-hari saya yang berharga, dan tak mungkin akan bisa saya lupakan.

 

Note : *Catatan ini adalah tulisan saya yang serupa di website Teknik Kimia ITS, sebagai laporan perjalanan.

Advertisements

Keantariksaan kita

Kemarin (17/02) saya menyempatkan hadir di kuliah tamu yang digagas oleh Jurusan Teknik Geomatika ITS yang menghadirkan kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin dengan tema “Peran Iptek dan Antariksa untuk menjadikan Indonesia Maju dan Mandiri”. Disana dibicarakan tentang apa saja yang telah-sedang dan akan dilakukan oleh LAPAN untuk menunjang kebutuhan Indonesia terhadap penguasaan antariksanya yang luarbiasa kerennya. Karena bidang antariksa ini pada gilirannya akan terintegrasi dengan seluruh aspek kehidupan bangsa, tetapi difokuskan pada pengkajian cuaca antariksa, atmosfer, sains keantariksaan (beserta teknologinya yang berupa roket, satelit dan aeronautika atau penerbangan), penginderaan jauh dan kajian kebijakan aerospace dan antariksanya.

LAPAN juga benar-benar menjadi sebuah kebanggaan nasional. Saya terpikir untuk mengambil KP (kerja praktik) disana saking excitednya dengan proyek-proyek LAPAN, terkhusus di bidang teknologi satelit, roket, radar dan penginderaan jauhnya. Itu adalah teknologi-teknologi yang bisa menopang, menunjang dan menyokong kemandirian, kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.

Pengembangan di bidang keantariksaan sudah seharusnya menjadi prioritas dalam pengembangan jangka panjang, kalau tidak, kita akan tertinggal dari Negara-negara lain. Sains antariksa ini bila kita tahu, pada akhirnya merupakan suatu lintas disiplin ilmu yang integratif, saling berhubungan dengan bidang yang lain. Siapa sangka bahwa proyek-proyek keantariksaan bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk komunikasi (yaeyalaah. Haha), navigasi dan prediksi. Saya semakin tertarik untuk memikirkan ulang proyek-proyek yang dikembangkan oleh LAPAN ini untuk mengkorelasikannya dengan teknologi big data dan data science yang sedang booming itu. di ITS sendiri, karena teknologi itu jurusan matematika langsung cabut dari fakultas mipa dan memilih untuk mendirikan fakultas sendiri, fakultas matematika dan aktuaria. Oia, big data dan data science itu sendiri merupakan disiplin ilmu yang relative baru, gabungan antara ilmu matematika (statistika) dan ilmu computer dan lulusannya termasuk yang paling banyak dicari sampe Harvard Business Review pernah memuat tulisan Data Scientist: The Sexiest Job of the 21st Century. Ini bukan tanpa dasar. Karena pada tahun 2011, McKinsey Global Institute memprediksi adanya kekurangan hampir 200 ribu ilmuwan data pada 2018. Ini baru di Amerika Serikat saja. Pantesan kan kalau perusahaan mengiming-imingi mereka dengan gaji ukuran “jumbo”.

Balik lagi ke LAPAN :p. Dari keempat misi utama LAPAN yang telah disebut diatas itu, dipaparkan lebih detail dalam tujuh program utamanya yang berupa pengembangan teknologi satelit, teknologi roket (termasuk di bidang aeronautika dengan mulai mengembangkan pesawat N2-19), pengembangan bank data penginderaan jauh nasional dengan citra satelit resolusi tinggi (ini nantinya bisa digunakan untuk memetakan bencana, bidang agraria, pertanian, kelautan atau kemaritiman, dlsb), dan empat program lainnya saya lupa. Haha. Disini saya hanya akan menuliskan sedikit saja tentang teknologi satelit, roket dan radar serta aplikasi lebih lanjut dari ketiga teknologi itu.

1). Teknologi Satelit

Sesungguhnya yang dikhawatirkan oleh orang saat ini bukan semata-mata kiamat manusia (karena kalau kiamat manusia terjadi, ya sudah. Itu menandai berakhirnya kehidupan manusia di bumi), tetapi kiamat teknologi. Karena hampir keseluruhan system teknologi dan informasi (semisal internet dan jaringan komunikasi data) yang kita gunakan sekarang bergantung sepenuhnya pada ruang antariksa, medan magnet, dan atmosfer dengan gelombang-gelombangnya. Nah bila ada badai matahari atau yang mengacaukan system antariksa itu, maka artinya teknologi itu semua akan ambyar semuanya. Terlebih karena antariksa juga merupakan wilayah operasional satelit, sementara satelit ini kita tahu sangat buanyak sekali kegunaannya. Sehingga menjadi penting untuk bisa mengamati dan memantau cuaca antariksa ini.

Indonesia, yang adalah suatu bangsa yang luas yang disebut sebagai nusantara. Kata Prof Thomas, Nusantara itu sendiri adalah pulau-pulau yang disatukan oleh laut. Maka mutlak untuk menjembatani semua wilayah itu dan mempertahankannya, penguasaan kita terhadap system komunikasi yang berbasis satelit mutlak diperlukan. Dan btw, umur satelit itu ternyata pendek loh, kira-kira 10 sampai beberapa puluhan tahun. Beberapa satelit yang sudah diluncurkan lapan adalah seri A hingga A3 dengan misi yang berbeda-beda. Sisanya yang sedang dikembangkan (sekaligus mencari dana tambahan dari mitra bisnis) adalah lapan A4 (misi kemaritiman) dan A5 (misi radar atau SAR). Serie A ini merupakan serie satelit eksperimen dan dicukupkan hingga A5.

Citra satelit yang bisa dibuat Lapan ada 3 macam ; resolusi rendah (untuk keperluan cuaca dan lingkungan), resolusi menengah (lingkungan dan hutan) dan resolusi tinggi (pembuatan peta skala 1:1000). Nantinya satelit-satelit yang dikembangkan oleh lapan ini bisa digunakan sebagai system pemantau bumi nasional yang meliputi pemantauan kebakaran hutan (deforestasi dan carbon stock atau berupa kajian iklim), bencana, klasifikasi lahan atau tanah, infrastruktur pertanian (berupa system kanal irigasi yang sudah benar atau terlihat ruwet sehingga perlu dan bisa dibenarkan alurnya), fase pertumbuhan padi (jadi nantinya kita bisa menentukan distribusi pupuk dan perkiraan masa panen).

Citra satelit resolusi tinggi ini sangat bermanfaat untuk melihat secara lebih jelas potensi kelautan kita. Dengan itu kita bisa mengetahui suhu permukaan laut, kandungan klorofil, hingga bisa memetakan zona potensi penangkapan ikan yang artinya bisa ikut membantu nelayan  untuk meningkatkan produktifitas tangkapan ikannya. Nelayan gak perlu lagi was-was ketika melaut tidak akan dapat ikan, karena sedari awal sudah ditunjukan tempat mana yang sedang banyak ikannya.

2). Teknologi Transport dan Tanpa Awak

Teknologi ini dimaksudkan pengembangannya untuk pembuatan pesawat terbang (bekerja sama dengan PT. DI untuk pesawat penumpang) dan pesawat tanpa awak (drone) yang dimaksudkan untuk misi penjelajahan dan eksplorasi ke wilayah-wilayah bencana yang kadang sulit ditembus oleh moda transportasi biasa. Ketika bencana terjadi biasanya diikuti dengan kelumpuhan infrastruktur dan komunikasinya. Tapi selain itu, nantinya pesawat tanpa awak ini juga bisa digunakan untuk memantau wilayah maritim kita. Bayangkan betapa akan ekonomisnya bila dibandingkan dengan menerjunkan langsung kapal operasi dengan cost yang tentunya cukup besar.

3). Teknologi Roket

Roket ini digunakan untuk apa lagi coba kalau bukan untuk meluncurkan satelit. Tanpa roket, bagaimana meluncurkan satelit, kan. Dan roket ini akan menjadi sangat ekonomis ketika diluncurkan di wilayah ekuator (kok bisa? iyaaa lah). makanya Lapan juga membuat beberapa bandara antariksa di wilayah-wilayah yang mendekati garis ekuator, salahsatunya di daerah Biak (minus 2 derajat).

Selain untuk peluncuran satelit, roket juga bisa digunakan untuk pembuatan hujan buatan, modifikasi cuaca sehingga dengan penggunaan teknologi roket nantinya hujan bisa diarahkan untuk turun atau jatuh dilaut, jadinya gak akan lagi banjir di daerah padat penduduk (*waaw).

Sebetulnya masih banyak hal yang masih perlu pendalaman dan perlu ditanyakan ke Prof. Thomas, tapi sayangnya karena hari itu adalah hari jumat dan waktunya terasa sangat sebentar sekali, diskusi yang menarik itu terpaksa harus diakhiri. saya padahal mau tanya sesuatu, tetapi jatah penanya hanya satu orang buat mahasiswa, dan saya gak kebagian. Hiks.