Buku · Kampus · Review

Resensi buku The Elements of Journalism

Judul               : The Element of Journalism

Penulis             : Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

Tahun Terbit    : 2001

Halaman          : 214 hlm

Peresensi         : Sandri

(*Pernah dipublish oleh Persma ITS, LPM 1.0)

buku 9 element of jouralism
Diterjemahkan oleh Yayasan Pantau, tahun 2006

Diantara buku-buku yang membahas tentang dunia jurnalisme (yang kebanyakan ditulis oleh Jurnalis), tidak banyak yang membahas tentang prinsip-prinsip dasar yang bersifat umum dalam mekanisme kerja jurnalisme itu sendiri, apalagi yang bisa dijadikan “kitab suci”nya kaum jurnalis. Padahal dunia pers itu sendiri mendapatkan momentumnya sudah sejak jauh-jauh hari dan semakin mendapatkan tajinya ketika dunia dimasuki oleh teknologi informasi ; televisi, radio dan sekarang, internet. Jadi kebayang kan betapa urgent-nya untuk menetapkan standard dan elementary principlesnya, sesuatu yang mendesak, gawat dan tak bisa ditawar-tawar lagi.

Pers atau jurnalisme dipandang sebagai senjata yang ampuh dalam mendikte kehidupan masyarakat, sesuatu yang paling disukai oleh kaum yang memerintah. Maka sering kita mendengar ocehan ‘hadits’ yang tak bersanad, bahwa barangsiapa yang menguasai pers atau media, maka ia akan menguasai dunia.

Karena urgenitas itu seakan-akan diabaikan dan ditunda-tunda, akhirnya malapetaka itu terjadi. tepatnya di tahun 90-an era kegelapan dalam dunia jurnalisme mengalami katastropi yang mengerikan ; pers tidak lagi dipercaya oleh masyarakat sebagai pemberi berita atau informasi. Kredibilitas pers diragukan dengan semaraknya permainan kapitalistik dan penguasa. Pers penuh dengan bisnis dan mengesampingkan etika atau kaidah jurnalistik. Dan ini tidak baik untuk kehidupan pers jangka panjang. Akhirnya di tahun itu beberapa jurnalis senior berkumpul dan mengadakan forum untuk menentukan dasar-dasar atau prinsip jurnalisme yang menempatkannya kedalam tempatnya lagi, agar jurnalisme kembali terhormat. Isi dan hasil dari forum itu dituangkan dalam buku ini, The Element of Journalism. Sebuah buku apik yang meletakan prinsip-prinsip dasar dan kaidah jurnalisme yang bisa dipakai oleh siapa saja,khususnya kaum jurnalis, dalam kaitannya untuk mewartakan ‘kebenaran’ atau informasi yang bias dari keliru atau salah. Lebih dari 1200 wartawan terlibat dalam pembuatan buku ini (dalam bentuk wawancara dan sumbang saran).

Setelah di cetak ulang entah yang keberapa kalinya, buku ini benar-benar dijadikan kitab sucinya media atau jurnalisme. Belum lengkap rasanya bila yang bergiat dibidang jurnalistik tidak membaca buku ini. Katanya Majalah Gatra sampai harus menerjemahkan buku ini untuk konsumsi pribadi perusahaannya, mau tidak mau setiap karyawannya diharuskan untuk membaca buku ini.

Buku ini diawali dengan perbincangan tentang wacana jurnalisme itu sendiri. Sangat runut dan sistematis. Apa sebetulnya yang dimaksud jurnalisme, siapa yang berhak mendefinisikannya, dari sudut pandang apa hingga mengapa kita harus membakukan definisi itu. di halaman 16 dan 17 tercatat bahwa :

“Teknologi sekarang membuat informasi tersedia untuk banyak orang, dengan ritme yang terlalu cepat. Dan informasi itu ternyata menciptakan demokrasi. (hal 16). Prinsip dan maksud dari jurnalisme itu sendiri didefinisikan oleh sesuatu yang seharusnya menjadi dasar, yang berfungsi sebagai permainan baru dalam kehidupan orang. jurnalisme tidak seharusnya didefinisikan oleh teknologi, oleh jurnalis, atau pers atau teknik yang mereka kerjakan. tapi harus mengacu ke basik atau dasar dari keberadaan jurnalisme itu sendiri. “Maksud atau tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan bagi masyarakat umum informasi yang mereka perlukan untuk bebas dan pemerintahan sendiri.” (hal 17) .

Elemen atau prinsip dasar jurnalisme itu semuanya ada sembilan, prinsip2 ini bisa menjadikan jurnalisme sebagai penyedia akses informasi yang kredibel yang dibutuhkan masyarakat adalah sebagai berikut ;

1). Jurnalisme adalah (mewartakan) kebenaran

2). Kesetian pertama adalah untuk masyarakat

3). Disiplin dalam melakukan verifikasi

4). Jurnalis harus menjaga independensi

5). Jurnalisme sebagai pemantau kekuasaan dan penyambung lidah mereka yang tertindas

6). Jurnalisme sebagai forum publik

7). Jurnalisme itu harus memikat sekaligus relevan

8). Kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif

9). Setiap wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. 

Elemen jurnalisme yang pertama adalah kebenaran, yang ironisnya, ternyata yang paling membingungkan. Karena definisi kebenaran itu bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang yang digunakan. Bisa bermacam-macam tergantung situasi dan kondisi. Dan kita bisa sampai berbusa-busa ketika mendiskusikan tentang kebenaran. Saya sendiri sudah muak dengan banyaknya filsup yang mencoba mendefinisikan kebenaran itu. tapi akhirnya mendapatkan kompromi dari kenyataan bahwa ternyata kebenaran itu relatif *Tsaah, kibas rambut.

Kebingungan itu sejatinya karena dalam teorinya, kebenaran itu ada banyak macamnya seperti kebenaran fungsional, kebenaran objektif, kebenaran subjektif, kebenaran realitas, teori kebenaran koherensi lah, teori kebenaran korespondensi, teori kebenaran performatif, kebenaran pragmatis, kebenaran proposisi, kebenaran paradigmatik, dlsb. Jadi ketika Bill menjelaskan bahwa kebenaran adalah prinsip pertama jurnalisme, kita akan bertanya lebih lanjut, bahwa yang dimaksudkan doi itu kebenaran yang mana? Kebenaran menurut siapa? karena setiap orang itu punya latarbelakang yang berbeda-beda, pengalaman yang beragam, tingkat intelektualitas, buku bacaan, agama, etnis, dlsb yang sangat menentukan cara pandang, cara berpikir dan definisinya terhadap kebenaran. Terus lahyaopo, rek?

Nah, ternyata dari berbagai kebenaran itu, jurnalisme hanya mendasarkan kebenarannya pada kebenaran fungsional, kebenaran dalam tataran praktis, kebenaran yang bisa dibentuk dari hari ke hari. *skip dulu ya, bakalan panjang kalo harus dijelaskan disini. :p

Lanjut ke prinsip kedua, bahwa seorang jurnalis harus menempatkan loyalitasnya untuk masyarakat, bukan untuk perusahaannya. Loyalitas ini sangat penting apalagi sejak tahun 1980-an kabarnya banyak wartawan amerika yang berubah jadi orang bisnis. Sebuah survei menemukan separuh wartawan Amerika menghabiskan setidaknya sepertiga waktu mereka buat urusan manajemen ketimbang jurnalisme.

Prinsip ketiga adalah disiplin dalam melakukan verifikasi. Ini berguna untuk membedakan mana gosip, mana fakta, mana isu, mana propaganda, atau mana fiksi. Jadi harus ada batas yang jelas antara fiksi dan jurnalisme. Jurnalisme tidak boleh dicampuri oleh fiksi atau hal-hal yang dramatis misalnya. Ini sebetulnya membingunkan juga karena kalau hanya menyajikan apa adanya, terasa tulisan itu akan kering tanpa bumbu-bumbu fiksi atau sastra, tapi nanti akan kita lihat di prinsip selanjutnya. Intinya sih jurnalisme itu meliput untuk kepentingan masyarakat yang bisa menghibur tapi juga bisa tidak. Kalau tidak menghibur, ya jangan dipaksa-paksakan untuk bisa menghibur.

Prinsip ke empat adalah independensi. Dan itu tidak berarti netral. Karena menjadi netral itu bukan prinsip dasar jurnalisme. Prinsipnya, wartawan harus bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput. Intinya jurnalisme harus mengabdi pada kepentingan masyarakat, dan memenuhi berbagai ketentuan lain yang harus ditaati oleh seorang wartawan.

Prinsip kelima adalah fungsi jurnalisme sebagai pemantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Memantau kekuasaan ini dilakukan dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi. Salah satu cara pemantauan ini adalah melakukan investigative reporting, sebuah jenis reportase di mana si wartawan berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, siapa yang seharusnya jadi terdakwa, mirip-mirip teknik pengungkapan suatu kejahatan oleh seorang detektif. Betapa kerennya menjadi seorang jurnalis itu kan? Haha. Ayo masuk LPM (lumayan numpang promosi :p ).

Prinsip ke enam adalah jurnalisme sebagai forum publik. Kalau untuk prinsip ini sudah jamak bahwa di setiap surat kabar umumnya mereka menyediakan rubrik khusus pembaca atau masyarakat untuk mengungkapkan uneg-unegnya semisal surat pembaca. Termasuk untuk mempertanyakan berita yang di muat di surat kabar itu juga. Karena umumnya masyarakat juga ingin berkomentar terhadap suatu peristiwa. nantinya komentar-komentar itu akan didengar oleh para politisi dan birokrat yang menjalankan roda pemerintahan. Memang tugas merekalah untuk menangkap aspirasi masyarakat. Dengan demikian, fungsi jurnalisme sebagai forum publik sangatlah penting karena, seperti pada zaman Yunani baheula, lewat forum inilah demokrasi bisa ditegakkan. *Eeaaa.

Prinsip ketujuh adalah perlunya jurnalis yang memikat sekaligus relevan. Ini terbilang susah. Teknik penulisan berita yang sesuai fakta, tanpa adanya penambahan hal-hal fiksi atau lebay, tapi tetap bisa memikat sekaligus relevan. Bill Kovack menyarankan untuk setiap jurnalis agar tidak kering atau garing dalam tulisannya untuk belajar menulis narasi (narrative report) atau nonfiksi yang menjadikan narasinya bercorak kesastra-sastraan. Jadi bagaimana menampilkan sebuah laporan atau tulisan yang “enak dibaca dan perlu” (motto majalah Tempo). Jangan sampai isi laporannya hanya angka-angka, data, dan hal-hal membosankan lainnya. Untuk melihat laporan yang memikat sekaligus relevan bisa membaca bukunya Seno Gumira semisal Tidak ada Ojek di Paris, Ketika Jurnalisme Di Bungkam Sastra Harus Bicara, Layar Kata, Kisah Mata, Surat Dari Palmerah atau Sembilan Wali dan Siti Jenar.

Lalu prinsip ke delapan adalah kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif. Kovach dan Rosenstiel mengatakan banyak suratkabar yang menyajikan berita yang tak proporsional. Judul-judulnya sensional. Penekanannya pada aspek yang emosional. Yang judul-judulnya ndak proporsional dan cenderung membuat kita muak duluan semisal berita-berita di U*C news. Haha. Saya sudah lama menguninstal aplikasi browser ini karena blas tidak mencerdaskan sama sekali. Wkwkwk

Terakhir, prinsip ke sembilan adalah bahwa setiap jurnalis harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Ini prinsip yang menjamin aktualisasi dan idealisme seorang jurnalis yang tidak musti di dikte oleh perusahaan atau kelompoknya. Ini murni kata hatinya (kalo hatinya belum patah loh yah). Jadi bisa saja seorang wartawan tidak setuju dengan pandangan dewan direksi atau bosnya dan bebas-bebas saja ia untuk mendebatnya, untuk mengungkapkan kata hatinya. Makanya biasanya di ruang redaksi itu kerap terjadi “suara-suara berisik”. Ruang redaksi tidak seharusnya menjadi sebuah ruang kediktatoran, kan. Karena pimred itu bukan Tuhan, yang bisa saja keliru, khilaf atau salah. :p Nah setiap redaktur sepatutnya harus paham ini, mereka memang bertugas untuk mengambil keputusan final terhadap apa yang akan di publis, tapi mereka juga harus bisa mengakomodir dan membuka diri agar setiap orang yang hendak memberikan kritik atau pandangannya bisa terakomodasi. Kata Bob Woodward dari The Washington Post pernah mengatakan bahwa, “Jurnalisme yang paling baik seringkali muncul ketika ia menentang manajemennya.” Nah kan.

Buku · Ekonomi · Historis · Review

Sang Maestro ; Sebuah Review

maestro
Covernya

Data buku :

Judul : Sang Maestro ; Sejarah Pemikiran Ekonomi
Pengarang : Mark Skousen
Penerbit : Prenada Media Grup
Halaman : 564 hlm + xii
Cetakan : 5, Januari 2015
Ukuran : 15×23 cm

Sudah sejak lama saya ‘ngebet’ dengan ide-ide yang membentuk pemikiran ekonomi dan keberjalanan sejarahnya hingga membentuk tatanan dunia seperti sekarang ini. Meskipun saya berlatarbelakang pendidikan teknik, dan di kelas hanya sekilassingkat saja tentang ekonomi, itu pun yang praktis semacam pengantar untuk manajemen finansial, perhitungan biaya atau resiko, analis investasi, dlsb. Padahal ekonomi jauh lebih menarik daripada hal-hal semacam itu saja.

Buku ini adalah koentji, yang saya dapati belakangan ini, agak terlambat memang. Buku yang diterjemahkan sejak tahun 2004 dan baru saya tahu akhir tahun lalu dan baru berkesempatan untuk mengkhotamkannya kemarin di sela-sela EAS (Evaluasi Akhir Semester) dan kesibukan lainnya. Saya menikmati pembacaan terhadap buku ini, buku yang menghadirkan sebuah keunikan dalam penyampaiannya oleh Mark Skousen. Selamat, tujuan anda tercapai bung. Buku ekonomi yang benar-benar menarik, renyah, dan jauh dari kata kering, muram atau gersang. Sejak dari halaman pertama, sudah menimbulkan ‘hasrat’ yang menggebu-gebu untuk menuntaskannya. Jarang ada buku yang punya efek seperti itu. 😀

Buku ini membuat saya lebih paham tentang sejarah ide, libertarian, sosialisme, kapitalis, sejarah uang, dlsb, hingga bisa merampungkan satu artikel yang ditujukan untuk diikutsertakan sebagai prasyarat mengikuti kelas singkat Mazhab Ekonomi Austri a.k.a Mises BootCamp, di Jakarta, yang diselenggarakan oleh SFL (Student For Liberty) Indonesia. Sayangnya saya malah ndak jadi berangkat karena alasan konyol ; kehabisan tiket kereta Surabaya-Jakarta. *Bbrrrr

Review ini sengaja saya buat karena dalam benak saya, belum tuntas sebuah pembacaan terhadap buku hingga ia dituliskan, hingga ia bisa dipahami dalam bentuk yang lain. Kata sebuah pepatah, “Kau belum benar-benar paham hingga bisa menjelaskannya ke nenekmu, dengan sesederhana mungkin tetapi isinya sampai”. Itu memang susah dan perlu pembiasaan, makanya setiap baca buku, sebaiknya hasilnya didiskusikan dengan teman atau dituliskan. Karena bila hanya selesai dan berhenti di titik terakhir dari halaman terakhir buku, bisa jadi proses pengendapan buku itu tidak akan terlalu mendalam. Karena kalau yang membedakan setiap orang adalah dari bacaan bukunya, maka akan lebih komplit lagi untuk menyempurnakan pembacaan itu dengan mendiskusikannya. Walaupun saya juga seseringnya memperlakukan buku semenjak halaman pertama sebagai teman diskusi (selain teman duduk). Artinya dalam pembacaan saya, ada proses diskusi didalamnya. Kadang saya tidak sepakat dengan apa yang dituliskan penulis, kadang sepakat, kadang perlu saya bubuhkan komentar di bawahnya, kadang saya caci apa yang ditulis penulisnya, dlsb. Saya tidak mentah-mentah menerima begitu saja. Makanya jangan pernah mau meminjamka buku ke saya, karena bisa dipastikan buku itu akan kembali tidak seperti sedia kala. Bukan karena tidak utuh, melainkan sudah akan penuh dengan coretan-coretan saya. Haha. Saya jadi ingat kata-kata Gusdur, “Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya kepada orang lain, tapi orang lebih bodoh lagi kalau mengembalikan buku yang ia pinjam”. *satir. Halah kok malah melebar kesini. *Kebiasaan. :p

Tesis dari buku ini sebetulnya sederhana ; ingin menampilkan perkembangan ilmu ekonomi dari mula kemunculannya yang ditandai oleh tokohnya yang terkemuka ; Adam Smith dengan magnum opusnya yang berjudul The Wealth of Nations hingga hari ini dengan cara yang unik. Dijalin dalam alur semenarik novel dengan tokoh-tokoh yang saling berkaitan dan tak terpisah. Semuanya berkumpul untuk membangun sebuah rumah ‘ekonomi’ yang bisa kita saksikan seperti sekarang ini. Sebuah rumah yang menaungi dunia ini dengan visinya untuk menciptakan kekayaan universal, meningkatkan standard hidup semua orang, menjunjung kebebasan, pasar bebas, distribusi merata, kesempatan yang sama, dan untuk hidup yang diharapkan akan menjadi semakin lebih baik dan lebih baik lagi.

Buku ini juga menampilkan ide-ide libertarian, yang diserang oleh sosialisme terutama serangan gigih dari Karl Marx, namun fakta telah menunjukan siapa yang menang diantara pertarungan 2 wacana atau ide tersebut. Ide-ide sosialis dan marxisme sudah tidak akan pernah dilirik lagi oleh dunia, karena kegagalannya yang pasti di Uni Soviet. Jadi, gak perlu sebegitunya takut dengan kebangkitan PKI. Hehe. Orang dungu mana yang mau menerapkan sebuah sistem yang sudah nyata-nyata gagal. Karena dalam system ekonomi, satu teori tidak akan pernah dipakai bila ternyata gagal dalam tataran praktis atau realnya. Ilmu ekonomi selalu menyandingkan dan menyandarkan antara kenyataan dengan teori. Bila teori tidak mendapatkan landasannya dalam dunia nyata, yang mereka sebut sebagai teori menara gading, jelas-jelas sebuah keburukan. Makanya dalam sejarah ekonomi ada yang disebut dengan istilah Kejahatan Ricardian. Saya kira apa, ternyata karena David Ricardo yang memasukkan terlalu banyak teori matematika kedalam ilmu ekonomi tanpa ada pembuktian real di lapangannya. Meski kuat secara logika, ia jadi tidak terlalu berguna dan malah membuat ilmu ekonomi jadi gersang, tidak menarik, dan menjauhkannya dari dunia nyata.

Di hal sampul ada 3 kutipan yang menarik untuk membuka buku yang setebal 563 halaman ini ;

“Mencari kekayaan, .. bagi sebagian besar manusia adalah sumber perbaikan moral terbesar.”

–Nassau Senior

“Ide dari filsuf politik dan ekonomi, baik itu benar atau salah, lebih kuat ketimbang yang diperkirakan. Sesungguhnya dunia ini dikuasai oleh segelintir orang.” – Jhon Maynard Keynes

“Ilmu ekonomi membahas drama terbesar dari seluruh umat manusia, yakni perjuangan umat manusia untuk melepaskan diri dari keinginan.” – John M. Ferguson

Laissez Faire

Adalah sebuah konsep tentang kesejahteraan manusia yang mengacu kepada system pasar bebas dan tanpa intervensi (yang berlebihan) dari Negara, sehingga mekanisme pasar yang ‘diatur’ oleh tangan alamiah atau tangan ghaib bekerja sebagaimana mestinya. Nantinya konsep ini akan bertarung dengan konsep sosialisme marxis (paham intervensionisme). Dan kita tahu siapa yang keluar sebagai pemenang dari pertarungan itu.:D Hail ya Adam Smith !

Jadi semua perjalanan ide-ide ekonomi (teori dan praktik) itu cuma berkisar dari pondasi yang telah diletakkan oleh Adam Smith, lalu dari sana dimulailah periode revisian, koreksi, hingga lahirnya tesis yang bertentangan, dan akhirnya menuju penyempurnaan di penghujung abad 19 atau awal 20. Lebih kurang cerita ringkasnya adalah begitu. Filsapat kebebasan alamiah dan invisible hand yang diajarkan Smith menjadi karakter utama dalam sejarah ekonomi modern ketika revolusi industry dan kebebasan politik muncul ke panggung sejarah umat manusia, dan menciptakan era baru kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi sepanjang dua abad sesudahnya.

Tantangan pertama yang berusaha menggoyahkan tatanan dari Smith berasal dari 2 muridnya yang terkenal dan berpengaruh ; Robert Malthus dan David Ricardo. Keduanya mengemukakan doktrin yang muram tentang hukum besi upah subsisten (standar minimum atau gaji pas-pasan bagi pekerja) dan penderitaan yang tiada akhir dari kelas buruh. Lalu muncul lah Jhon Stuart Mill yang digalaukan oleh kebebasan (liberty) dan sosialisme pada saat komunitarianisme sedang ada di puncak-puncaknya. Terus pada revolusi industry di abad ke 19 pertengahan, muncul tokoh yang radikal dengan kehadiran Karl Marx ke panggung sejarah secara mengejutkan. Ia bicara tentang eksploitasi (buruh) dan alienasi (keterasingan) di kalangan kaum buruh industry. Sebetulnya gampang sekali sekarang untuk mematahkan argument-argumen dari Karl Marx, karena secara kenyataan konsepnya sudah jadul dan gak di upgrade. Konsepnya hanya berlaku ketika revolusi industry sedang marak. Sementara sekarang, dengan kemajuan zaman, perbaikan kualitas hidup, standar kesejahteraan buruh, motif kerja dlsb, menjadi jelas bahwa konsep Karl Marx sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Apalagi selepas ujicobanya yang gagal di Negara Soviet. Konon, China juga sudah gak komunis-komunis amat, system ekonominya malah menganut ekonomi pasar bebas. Komunismenya hanya disimpan untuk urusan politik tok. Nah kan? Atau kita bisa melihat negara yang komunis tulen sekarang seperti Cuba dan Korea utara, dan siapa pulak yang mau hidup terbelakang seperti mereka? Terisolir dari dunia luar dan takut perubahan. :p

Setelah era Marx, si anak nakal yang kurang ajar, lalu munculah revolusi marginal yang dihidupkan oleh 3 tokohnya yang berperan penting ; Carl Menger di Austri, Leon Walras di Swiss, dan William Stenley Jevons di Inggris. Setelah itu muncul depresi besar karena krisis ekonomi yang parah di tahun 1929-1930 dengan memunculkan Maynard Keyness sebagai tokoh kuncinya. Tapi sekarang kita juga tahu bahwa beberapa teoriya ternyata tidak cukup akurat untuk memprediksi kelakuan ekonomi makro, mikro dan relasi uang yang menghubungkan diantara keduanya. Dan siapakah yang bisa menjembatani permasalahan yang serius itu? yap, dia adalah Ludwig Von Misses, yang sekarang di puja-puja, apalagi oleh kalangan libertarian. Ekonom asal austri ini, bersama temannya, Friedrich Von Hayyek (yang pernah memenangkan nobel ekonomi) berhasil menyelamatkan kapitalisme. Oia, Keynes pernah dipuja-puja karena komprominya antara ekonomi kapitalis dengan intervensi dari pemerintah. Keyness ini bukan pewaris adam smith yang sah. Haha. Ia mencampurkan konsep kapitalis dan sosialis, pemerintah diberi bagiannya untuk turut ikut campur dalam perekonomian di lapangan (secara makro).

Babak terakhir (yang dikisahkan oleh buku ini) adalah setelah perang dunia kedua. Para ekonom monetaris yang anti revolusi, dipimpin oleh Milton Friedman dari Chicago, mulai memfokuskan pada kajian tentang ketidakstabilan kebijakan makro pemerintah. Nah, Friedman yang suka karya empiris ketimbang model abstrak, menunjukan bahwa ikut campurnya pemerintah kebanyakan menghasilkan efek negative. Ia mencontohkan biang keladi yang memicu depresi besar ternyata adalah kebijakan2nya Federal Reserve. Akhirnya, dengan mengadopsi kebijakan moneter yang stabil, maka ekonomi pasar yang mengatur diri sendiri a la Adam Smith sekali lagi bisa kembali berkembang.

Yang menarik dari buku ini adalah selain menampilkan ide-ide dari para ekonom, juga dilengkapi secara ringkas kisah hidup dan latarbelakang keilmuannya sehingga bisa melahirkan teorinya itu. ini yang penting, karena kita juga perlu memahami kehidupannya selain memahami ide-ide mereka. Karena jelas tidak adil jika kita mengabaikan suatu teori dari seorang filsup hanya karena dia mungkin seorang suami yang buruk atau pemabuk. Kita tahu kehidupan Karl Marx memang patut dicela, tetapi apakah itu berarti teori alieanasi dan eksploitasinya keliru? Ide-ide mempunyai manfaat dan dasarnya tersendiri, dan manfaat itu tidak ada hubungannya dengan orang yang menggagasnya.   

Buku ini diperuntukkan untuk pembaca umum bahkan untuk orang yang bukan dari jurusan ekonomi macem saya pun bisa sangat menikmatinya. Ekonomi dibuat sesederhana dan sejelas mungkin. Cocok bagi yang ingin mengetahui terbuat dari apa ekonomi modern itu. sebuah cerita yang menarik dan based on true.

Kata Paul Samuelson, Akan kuberitahu kalian satu rahasia. Ahli-ahli ekonomi sering dipandang sebagai orang yang berpikiran segersang debu dan menjemukan. Anggapan itu keliru, sebab yang benar adalah sebaliknya.