Historis · Musik

Denting Sonata Berusia 200 Tahun

Saya selalu terpukau dan kagum terhadap karya-karya musisi klasik kelas wahid semacam Beethoven, Mozart, Schubert, Bach atau Schuman (kesemua orang yang keren ini ternyata saling terkoneksi dan membentuk jaringan murid-guru, itu artinya murid yang keren terwarisi juga oleh gurunya yang sama kerennya). Bagaimana mereka bisa menjadikan perasaannya kedalam deretan alunan musik yang indah dan menggetarkan. Coba dengarkan Fur Elise-nya Beethoven yang menyayat hati dan mendayu-dayu itu. Saya selalu berdecak kagum setiap mendengarkan denting piano sonata berusia 200 tahun yang sampai hari ini terus direproduksi untuk berbagai keperluan itu – dari bel pintu dan musik permanen penjual es krim keliling sampai nada dering telepon seluler terbaru. Atau Movement finale symphoninya dia yang ke-9. Bila kita membaca jurnal-jurnal musik yang membedah struktur, komposisi, pesan dan apa yang tersurat dalam deretan note musik itu, kita akan mengerti betapa musik, yang kata Pidi Baiq, itu adalah perasaan yang bisa didengarkan. tanpa musik, hampalah dunia ini. Beneran. 🙂

Setiap mendengarkan Fur Elise-nya Beethoven saya mencoba untuk menghayati bagaimana amuk cinta Beethoven pada Elise (atau dalam versi lain kepada Therease), lalu menghayati bagaimana Beethoven menuangkan kekecewaannya menjadi suatu karya seni yang jempolan. Tapi setiap itu juga usaha saya nyaris selalu gagal. Saya hanya tau bahwa didalamnya mungkin berisi ketulusan, keresahan, dan kesyahduan cinta– juga kegemasan, ketaksabaran dan kadang ketakkuasaan membendung luapan perasaan yang menerjang-nerjang liar tak terkendali. Fur Elise, sebuah symphoni tentang rintihannya yang menyayat hati karena perpisahan dengan orang yang dicintainya. Tepatnya ditinggal nikah sih. :p Begitulah, derita cinta itu memang tiada akhirnya, Cuk.

beethoven
Ini orang yang sedag kita perbincangkan itu. gambar by Joseph Karl Stieler, 1820. diambil dari wikipedia.org

Well, tapi kita pun perlu beruntung, kalau seandainya Beethoven tidak merasakan patah hati, hingga sekarang mungkin kita tidak akan pernah bisa menikmati keindahan Fur Elise. Yap. Kadang, seseorang yang patah hati pun bisa berkarya, karena patah hati juga ternyata merupakan potensi untuk berkarya, seminimalnya dengan begitu kita bisa membuat puisi. Haha. Jadi, daripada terkungkung pada tragedi, sebaiknya dari sekarang kita mulai membiasakan diri untuk melihat celah positif dari apapun yang menimpa kita, yang kalau dari tampaknya seperti sebuah derita. Padahal, bisa jadi itu sumber bahagiamu, juga. Dan satu lagi, Ini juga menjadi alasan bahwa setiap mahasiswa teknik seminimalnya perlu menguasai satu alat musik, entah itu gitar, piano, biola, harmonika atau apapun itu, untuk mengantisipasi keadaan-keadaan ‘full presured’ oleh sebab ditolak cinta. Atau diterima cinta.

Lalu saya juga tidak berhenti kagum kepada Beethoven ini, orang yang membuat saya tak habis heran karena ia menulis Symphony No.6, sebuah puisi musikal yang mengiris (saya menyukai interpretasi dari Cleveland Philharmonic Orchestra). Pusat Studi Beethoven di Universitas Colorado menyimpan beberapa puluh lembar rambut maestro Jerman itu, dan dari sana menyimpulkan bahwa tingginya kadar timah dalam air minum dan air mandinya adalah penyebab ia cepat tua dan berambut perak. meskipun saya juga tertarik untuk tahu dari lapisan batinnya yang manakah ia mengeluarkan Fur Elise – juga Das Lebowl, rintihannya yang menyayat hati karena perpisahan dengan kekasih itu. Orang yang membuat saya mencoba buka-buka dan baca-baca jurnal music yang menganalisis karya-karyanya. Dan ternyata mengasyikan sekali. musik memang ajaib, ia bisa menimbulkan efek sedih, gembira, haru, emosional dan mampu membangkitkan kenangan atau masa lalu. karena itulah musik bisa dijadikan sebagai sebuah terapi. 🙂 seperti misalnya unsur2 musik yang paling mempengaruhi pendengarnya adalah bagian beat, ritme dan harmoni, belum lagi ada unsur2 semacam biomusicology, musical acoustics, music theory, psychoacoustics, embodied music cognition, aesthetic of music, dan comparative musicology, yang tidak akan dijelaskan sekarang. mungkin kapan-kapan lah.

Kalo kita lihat-telaah Movement finale symphoni ke-9-nya Beethoven ini, kita akan tau bahwa itu adalah karya terobosan yang coba dihadirkan oleh Beethoven dalam kehidupan sekaligus karir bermusiknya. Sebuah karya yang menandai depresinya yang akut karena terserang ketulian yang parah. Bayangkan, seorang manusia yang mencintai musik di uji dengan tuli, penderitaan yang luarbiasa menekan dan membuat diri sesak mengap-mengap. Seolah dunia menjadi begitu sempit. Padahal, kata beberapa kritikus musik, Beethoven mengalami ketulian ketika sedang berada di puncak-puncak karirnya. Sungguh miris sekali.

Dari beberapa jurnal musik yang saya baca, saya dapati beberapa detail terkait dengan Beethoven dan karya-karyanya ini yang kadang perlu konteks dan latar cerita didalam ruang dan waktu yang seperti apakah ketika Beethoven mengkreasi ciptaan-ciptaannya. Ini nantinya akan membuat kita menjadi lebih paham setiap alunan nada yang ia hasilkan. Apakah berangkat dari perasaan sedih, marah, bahagia, rindu, merana atau seperti apa. Ada indikasi menebak-nebak, tetapi justru itulah keasyikannya tersendiri ketika bergumul dengan nada-nada indah setiap composer dunia, meski dari dulu saya gak bisa-bisa mainin piano. Haha. Saya hanya penikmat tok. Plus pengamat amatiran.

Makanya tidak mengherankan bila banyak sekali orang yang menaruh minat dan tertarik kepada (karya) Beethoven. Sudah berapa jurnal yang membahas, menganalisis struktur material musiknya, mengujicobakannya, memodifikasinya dan mengembangkannya dalam varian yang baru. Itulah sebabnya dalam dunia music, masalah originalitas itu hanya utopia belaka. Tidak ada yang benar-benar original dan kita bisa bermalam-malam untuk mendiskusikan tentang apa maksudnya original, plagiat, sadur, edit, atau lain sebagainya.

Kritikus music umumnya menyukai tafsiran mereka atas karya-karya Beethoven karena dinilai didalamnya memang terdapat paduan yang unik. Tidak sekedar merepresentasikan perasaannya saja, lebih jauh dari itu Beethoven adalah orangnya yang menjadi jembatan peralihan dari genre music klasik ke eranya music romantic. Artinya Beethoven memang sudah jadi fenomenal. Hingga lagunya yang kita bahas diawal, Fur Elise, cukup menyita perhatian dan mengundang perdebatan yang tidak sebentar. Tentang siapakah sebenarnya Elise itu, apakah ia memang ditujukan untuk Elise, atau cuma karena typo orang yang menyalin karyanya sebagai Therease, atau siapa, hingga saat ini belum diketahui. Sebuah perdebatan yang terasa konyol, tapi percayalah, untuk sesuatu yang engkau cintai, kau ingin tahu segalanya. Sedalam-dalamnya. Disini, fanatik dan cinta menjadi blur dan bias konteks.

Referensi :

“Fur Fathia”, Ahmad Basyaib. sebuah artikel yang menarik yang menginspirasi untuk membuat tulisan serupa. manusia dengan jenis pengetahuan ensiklopedi

“Beethoven’s deafness and his three styles”
Edoardo Saccenti1,2, Age K Smilde1,2, dan Wim H M Saris2,3

  1. Biosystems Data Analysis Group, Swammerdam Institute for Life Sciences, University of Amsterdam, Science Park 904, 1098 XH, Amsterdam, Netherlands
  2. Netherlands Metabolomics Centre, Einsteinweg 55, 2333 CC, Leiden, Netherlands
  3. Department of Human Biology, Maastricht University Medical Centre, Universiteitssingel 50, 6229 ER, Maastricht, Netherlands

“British Medical Journal”, 2011; 343, 20 December 2011

William Kinderman, The Cambridge Companion to Beethoven, Cambridge: Cambridge University Press, 2000, p. 125–126, ISBN 978-0-521-58934-5

Max Unger, diterjemahkan oleh Theodore Baker, “Beethoven and Therese von Malfatti,” The Musikal Quarterly 11, no. 1 (1925): 63–72.