Culture · Historis · Kampus · Uncategorized

Pacaran, Cinta dan Dialektika Pernikahan : Pandangan dari Chandra Natadipurba dan kearifan dari Hamid Basyaib

socrates

Tak ada habis-habisnya bila kita membincangkan cinta, karena memang ia adalah bahasan yang objek (atau subjek) nya dialami oleh semua orang (dewasa), dalam segala spektrumnya. Tak bisa dipungkiri bahwa spectrum cinta memang luas, jauh lebih luas dari alam semesta ini. Bahkan karena cinta pula, alam semesta ini ada ; yaitu Cinta Tuhan kepada makhluk-makhluk-Nya. Boleh dikata, cinta adalah sebab musabab atau asal muasal dari kehidupan ini. Tanpa cinta, tidak akan ada pula kehidupan. Tentu saja saya asal-asalan saja bilang begitu. *Eeeegubraak

Kita kesampingkan cinta yang umum itu untuk membahas cinta yang lebih spesifik (meski kita juga bisa berdebat tentang apakah pacaran itu termasuk manifestasi atau ekspresi dari cinta :mrgreen: ) yaitu pacaran. Di kalangan mahasiswa (di kalangan manapun sih, kecuali kalangan anak-anak TK yang masih murni. *Haha, apapula ini. *skiip) gejala pacaran bisa dengan mudah dijumpai. Orang biasanya pacaran dengan beragam alasan. Entah kebutuhan, entah keinginan, entah pelampiasan, atau entah-entah yang lainnya. Dan diantara sederet alasan yang kalau dijumlahkan sekira sepuluh juta dua ratus tiga puluh satu alasan itu, ada satu alasan yang nampaknya logis dan mulia, yaitu, pacaran sebagai medium untuk mengenal kepribadian pasangannya. Kan tujuan pacaran itu cuma dua, kalau gak nikah, ya untuk berpisah. Nah, perlu gak perlu sih untuk benar-benar memastikan apakah dia memang pantas untuk dijadikan teman hidup (atau teman jalan tok), perlu karena kita tidak sedang memilih kucing dalam karung ketika memutuskan untuk menikahi seseorang, terus gak perlunya, karena jodoh itu sudah ditentukan (tapi anehnya lho kita masih bisa milih-milih, meski sudah ditentukan, iya gak? yang 4 kriteria menurut Nabi), intinya sih pandangan orang yang bilang gak perlu (pacaran) itu karena yang disebut jodoh adalah dia yang berjabat tangan dengan orangtua atau walinya si perempuan dan dibilang sah sah sah sama setiap saksi yang hadir saat itu. karena, katanya, “bagian tersulit dari cinta bukan menunggu, menerima, menjaga ataupun setia. Bagian tersulit dari cinta adalah mempertanggungjawabkannya. Jika cinta itu benar milik Sang Penguasa Alam, perjuangan jalan yang Dia ridhoi hingga ombak membawamu terdampar pada satu daratan tempat dirimu akan singgah selamanya”.

Balik lagi ke soalan yang menganggap bahwa untuk mengenal pasangan lebih dalam lewat medium yang kita namakan Pacaran itu apakah absah dan valid atau tidak, seperti misalnya apakah “hanya” dengan pacaran, kita benar-benar bisa mengenal seseorang yang akan dijadikan pasangan hidup? Tentu saja bahasan ini akan sepenuhnya berkelumit tentang masalah kepribadian atau personality. Saya jadi ingat esainya Chandra Natadipurba di Aufklarung yang menjelaskan hal ini dan sangat saya sukai, lebih kurang beliau bilang begini,

Kepribadian atau personality berasal dari akar kata persona. Dalam bahasa yunani Persona berarti topeng atau kedok. Karenanya, dalam dunia psikopop (psikologi popular), personality adalah tampilan luar dari performansi seseorang. Ia adalah fungsi dari sesuatu yang lebih esensial dan lebih dalam dari dirinya yaitu character (watak). Ibarat gunung es, personality adalah puncak gunung es yang ada diatas permukaan laut, sedangkan character adalah keseluruhannya, termasuk dasar gunung es yang terletak jauh dibawah permukaan laut. Dan kita biasanya menyebut character sebagai akhlak, yaitu sesuatu yang kita kerjakan tanpa melalui proses berpikir lagi. Jelajah literature yang lebih jauh membuat anda akan menemukan kajian yag lebih dalam dan popular tentang etika karakter dan etika kepribadian. Salahsatu kajian yang terkanal adalah dalam bab pertama 7 habits of highly effective people karya Stephen R. Covey.

Nah, Perbedaan yang paling mendasar dari keduanya adalah pada kondisi berlakunya. Kalau personality bersifat temporer, dialektis dan oportunis, maka character biasanya inheren, tetap dan terinternalisasi dalam diri seseorang. Hal ini disebabkan oleh karena personality muncul dari proses berfikir. Perhitungan untung rugi atau asas manfaat dan penyikapan sementara terhadap sebuah stimulus, terlebih jika berhubungan dengan orang lain. Sedangkan karakter muncul dari kombinasi kode genetic, nilai-nilai dan keyakinan plus pengalaman serta lingkungan masa kecil yang tidak bisa diubah secara otomatis, sehingga karakter hampir mustahil bisa diubah dan dimanipulasi. Biasanya karakter kita selalu tampil apa adanya.

Sebagai manusia kita berkecenderungan untuk menampilkan topeng yang baik-baik saja walaupun kadang-kadang topeng tersebut tidak sesuai dengan realitas kita. Sebagai contoh, jika seorang teller bank murah senyum ketika menghadapi pelanggan. Performansi yang muncul dari teller tersebut adalah kepribadiannya, sebab dia memang dibayar untuk tersenyum pada pelanggan. Namun, belum tentu karakternya adalah ramah. Ketika kita bertemunya sebagai orang biasa di pasar dan tak sengaja bersenggolan dengannya, bisa jadi dia judes pada kita. Dan kita akan kecewa karena ternyata dia tidak seramah yang kita kira. Dengan analogi demikian, dalam konteks ini, maka ketika dua orang berpacaran, mereka sebenarnya sedang berlomba-lomba memunculkan topeng terbaik pada pasangannya, dalam bentuk, apa yang saya sebut dengan, “Kepribadian yang termanipulasi”. Kita memang terkadang terpaksa memanipulasinya sebab kita ingin tampil sempurna dihadapannya dan karena tidak ingin ‘pasaran’ kita turun.

Misalnya adalah karena sejatinya manusia akan selalu punya cela, maka usaha ini sebenarnya utopis (tidak mungkin dilakukan). Karena justru saat pacaran itulah pasangan kita giat menyembunyikan hal-hal buruk dan menampilkan hal-hal yang baik saja dari dirinya. rajin menggunakan topeng “kepribadian”nya yang memikat. Dan kita, dalam hal ini terutama wanita, sangat senang diberikan kebohongan terselubung ini. Itulah mengapa walaupun para wanita tahu rayuan laki-laki itu gombal belaka, setiap wanita akan melayang-layang, berbunga-bunga dan bersemu merah jika ada laki-laki yang memujinya. Sehingga, kalau kita berharap bahwa kita akan semakin mengenal pasangan kita dengan medium ini sebenarnya usaha itu seperti menggantang asap alias melakukan pekerjaan yang sia-sia.

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pacaran bukanlah medium yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan diawal pembicaraan kita.

Coba deh, kalau mau kita lihat secara jujur, aktivitas yang kita lakukan ketika pacaran sebenarnya tidak membuka peluang untuk mengenal pasangan kita lebih jauh. Nonton film, makan berdua, jalan-jalan ke mal tidak akan sanggup membuka tabir karakter pasangan kita. Bukan aktivitas diatas, melainkan ada empat aktivitas yang kalau kita lakukan akan memberi tahu kita sebenarnya bagaimana karakter teman kita : pertama, berjalan kaki jauh melintasi medan yang sulit, kedua, bertetangga dengannya dalam jangka waktu yang lama, ketiga, melakukan transaksi perdagangan dengan orang tersebut, dan, keempat bersama-sama mengalami kondisi-kondisi ekstrim tertentu. Kegiatan-kegiatan yang bisa pasangan pacaran lakukan biasanya malah semakin menyembunyikan topeng dari kedoknya. Oleh karenanya, membangun sebuah hubungan yang penuh dengan topeng dan kedok seperti itu, ibarat membangun sebuah rumah laba-laba, rapuh dan mudah sekali hancur.

Atau katakanlah akhirnya setelah melalui medium pacaran, pasangan kita ini melanjutkan perjalanan ke bahtera rumah tangga. Tentu saja, pasangan ini berangkat dengan pengalaman-pengalaman semasa pacarannya. Dalam masa itu, sadar atau tidak, telah terbentuk semacam persepsi tertentu dalam diri pasangan kita. Sesuatu yang hendak saya sebut dengan “horizon harapan”. Nah, karena dalam pacaran kita hanya menampilkan yang baik-baik saja dari diri kita, wajar kalau kemudian “horizon harapan” itu terlalu tinggi. Harapan yang terlalu tinggi dan kemudian bertemu dengan realitas diri kita yang tidak sesuai dengan “horizon harapan” itulah yang kemudian menimbulkan kekecewaan dan ketidakharmonisan. Kekecewaan dan ketidakharmonisan muncul karena pada hakikatnya tidak ada seoragpun didunia ini yang benar-benar suka dibohongi dan diberi kepalsuan. Wajar kemudian kalau kita banyak mendengar kisah pasangan yang tujuh tahun pacaran, namun ketika menikah tujuh bulan kemudian langsung cerai. karena kecewa, marah atau merasa “tertipu” mungkin. Karena si “dia” ternyata tidak selembut, semacho, sepintar, seromantis, sebertanggungjawab dan se-se-lainnya yang diduga. Ironis!

Sisi pragmatis dari diri kita kemudian mungkin bertanya, “Kalau pacaran bukan cara yang tepat mengenal pasangan kita, lantas?” tentang ini si jenius Socrates punya jawaban, “Menikahlah. Kalau kau menemukan istri yang baik, kau akan hidup bahagia. Kalau istrimu tidak baik, maka kau akan belajar jadi filosof.”

***

Kalau kamu suka seseorang (atau ingin menikahi seseorang sekalipun), saran saya, jangan pernah memberikan cintamu 100%. Kamu harus tetap memberikan ruang bagi cinta untuk tumbuh (*Eaa). Karena kalau cinta kamu seratus persen, kamu tidak punya ruang lagi untuk berpikir.

Nah, penjelasan selanjutnya, dikutip (dengan sedikit perubahan untuk menyesuaikan dengan alur pembahasan) dari Hamid Basyaib, bahwa tanpa ruang sisa itu, cinta akan rutin, dan karenanya membosankan, setidaknya tak mungkin lagi mekar – tak mungkin tumbuh ke berbagai arah yang barangkali tak terduga, tapi lebih kaya. Dan setiap hal yang setinggi seratus persen hanya punya satu arah perubahan: menurun, berkurang, mengalami erosi. Mungkin akhirnya mati. Cinta memang tak pernah bunuh-diri. Ia biasanya mati karena dibunuh oleh satu atau kedua pelaku yang terlibat dalam percintaan itu.

Pernyataan itu sebetulnya tertafsirkan dari Kahlil Gibran, yang menyarankan supaya dalam kebersamaan tetap harus ada ruang bagi kedua pihak. Kita harus menginsafi, bahwa perkawinan bukanlah penunggalan dua pribadi, tapi kesepakatan antara dua orang yang punya sejarah personal masing-masing untuk memandang ke satu arah yang sama. Keduanya tak perlu, tak boleh, melebur menyatu. Masa sih? Sebab harga termurah dari peleburan itu adalah hilangnya diri kita, berubah menjadi bukan siapa-siapa, menjadi bukan apa-apa.

Saya pun tak pernah tahu ada statistik tentang tingkat kelanggengan suatu perkawinan berdasarkan lama masa pacaran. Apakah panjang masa pacaran mampu menjamin keawetan sebuah perkawinan? Apakah masa yang singkat berpeluang besar untuk kegagalannya? Saya belum pernah baca data yang meyakinkan. Yang saya tahu: ada pasangan yang perkawinannya langgeng sampai akhir hayat, setelah melalui masa pacaran yang singkat (atau tak pernah melewatinya sama sekali karena dijodohkan orangtua); ada pasangan yang usia perkawinannya jauh lebih singkat daripada masa pacarannya, sampai para tamu resepsi pernikahan mereka mengeluh: belum habis letih dari menghadiri pestanya, perkawinannya sudah hancur.

Meski cinta pada dasarnya emosional, keingintahuan orang di sepanjang sejarah selalu berusaha memperluas pangsa rasionalnya. Geloranya universal. Semua kebudayaan besar memiliki epos cinta masing-masing – Rama & Shinta, Romeo & Juliet, Qais & Layla, Sam Pek Eng Tay, Tristan & Isolde, Marc Anthony & Cleopatra. Daya pukau kisah-kisah itu, bahkan berikut kepahitan dan tragedi mereka, terus memancar sampai hari ini, mendorong para penggubah menulis pelbagai versi turunan; membuat nama-nama itu bagian integral dari nomenklatur sebuah bangsa dan bahasa mereka masing-masing, bahkan menjadikan nama-nama itu idiom bahasa dan budaya universal.

Tapi keuniversalan cerita mereka tak pernah mampu mereduksi kekhususan kisah cinta orang-orang biasa seperti kita. Teks besar cinta mereka tak membuat cinta kita sekadar catatan kaki. Bukankah kita pun merasakan segenap getaran yang tak terkira, yang tak terkatakan itu? Getaran yang membuat kita hanya mampu menangis, satu-satunya cara kita menyerah karena tak sanggup merumuskannya dengan seluruh simpanan perbendaharaan kata kita?

Itu sebabnya beribu-ribu lagu terus ditulis orang di seputar cinta. Setiap hari kita mendengar lahirnya lagu baru tentang tema ini. Dan pernahkah kamu menerka-nerka berapa novel dan film bertema cinta yang pernah dibuat orang? Tak akan pernah ada yang mampu menghitungnya.

Mengapa kita, tetap berani menikah di tengah kepungan wajah-wajah murung akibat ketakbahagiaan perkawinan mereka; di tengah serakan marriage jokes yang membuat kita tergelak tapi juga miris?

Kamu pasti ingat sejumlah lelucon ironis itu. Ada yang bilang perkawinan ideal adalah antara perempuan buta dan lelaki tuli – si isteri tak akan melihat ulah suaminya yang menjengkelkan, sang suami tak bisa mendengar omelan isteri yang tak pernah putus.

Seorang suami mengaku tak takut lagi pada terorisme karena sudah menikah selama dua tahun. Katherine Hepburn menyilakan para gadis untuk menikah jika mereka “ingin mengganti kekaguman dan pemujaan ribuan lelaki dengan kritik satu orang” – suami, konon, selalu hanya melihat kekurangan isterinya.

Setelah tujuh atau dua belas kali menikah, Zsa Zsa Gabor mengaku tak kapok kawin asalkan suami berikutnya “berusia 85, punya simpanan seratus juta dolar, dan mau menandatangani perjanjian bahwa enam bulan lagi dia akan mati.” Dan dewi Hollywood itu mengaku tak mengerti apa-apa tentang seks, “karena saya selalu menikah.”

Agatha Christie juga tak henti berganti suami, dan sampai pada kearifan untuk ia sarankan pada gadis-gadis yang sedang mencari pasangan hidup: kawinlah dengan arkeolog, sebab makin tua kita (isteri) akan makin tertarik dia. Jika suami bukan ahli purbakala, semua perempuan sudah tahu apa yang sering terjadi.

Apa resep perkawinan yang awet? Seorang suami mengaku dia dan isterinya sanggup menjaga perkawinan selama tujuh belas tahun karena mereka rutin makan di restoran yang baik, dengan red wine lezat dan temaram candle light yang membangun suasana mesra. “Saya melakukannya tiap Senin malam,” katanya, “dan isteri saya Kamis malam”. Suami lain mengaku rumah-tangganya benar-benar bahagia selama dua puluh tahun – tapi kemudian ia dan isterinya tinggal serumah.

Mungkin catatan tertua tentang ironi semacam ini adalah dari Socrates, dari masa sekitar 2500 tahun silam. “Bagaimanapun, kawinlah”, sarannya pada para pria. “Jika kau mendapatkan isteri yang baik, kau akan bahagia. Jika kau mendapat isteri yang buruk, kau akan jadi filosof.” Kini kita tahu kenapa dia jadi filosof. *Hahaha

Mungkin benar bahwa perkawinan itu seperti benteng terkepung: yang di dalam ingin keluar, yang di luar ingin masuk. Atau kita termasuk golongan yang disindir Voltaire, yang mengumumkan bahwa perkawinan adalah satu-satunya medan petualangan yang terbuka bagi para pengecut?

Jadi, mengapa akhirnya kita memutuskan untuk menikah? Mungkinkah sekadar karena kita, di tengah konstruk masyarakat tempat kita hidup ini, tak sanggup menanggung beratnya tekanan sosial yang tak menoleransi kebersamaan hidup kita tanpa dukungan dokumen-dokumen negara dan aturan agama – hal-hal yang tak berhubungan dengan cinta yang merekat kebersamaan kita? Juga karena kita tak akan sanggup melawan kuasa negara yang tak akan memberi status hukum bagi anak-anak yang mungkin lahir dari kebersamaan kita?

Atau mungkin karena diam-diam kita curiga bahwa pasangan-pasangan yang sinis itu hanya menonjolkan aspek-aspek buruk dari perkawinan mereka. Mereka telah berlaku seperti wartawan yang terus berpedoman pada kredo usang: bad news is good news. Mereka curang karena menonjolkan keburukan yang cuma secuil di tengah kebaikan yang melimpah. Mereka menampilkan diri sebagai serangga yang terperangkap.

Mereka berlomba untuk tampil sebagai korban, bukan pelaku, dari perkawinan hasil kerja sama dengan pasangan masing-masing. Status sebagai korban memang menyamankan perasaan – dengan itu mereka bukan hanya tak bersalah atas ketaksempurnaan perkawinan mereka, tapi sekaligus menderita dan dirugikan akibat tindakan pasangan. Tidak ada kekuatan yang lebih besar dalam menarik simpati daripada derita ganda ini.

Tapi katakanlah sinisme mereka sahih; bahwa mereka memang mewakili gejala yang makin umum tentang mengecewakannya perkawinan, seperti terlihat dari statistik perceraian yang meningkat di banyak tempat. Dengan semua itu agaknya kita percaya bahwa kita masih mungkin mencuri kebahagiaan dari situasi umum kekecewaan itu. Sebab kita memaknai kebahagiaan lebih sebagai kata kerja ketimbang kata benda; sebagai konsep dinamis, yang harus diupayakan secara aktif dengan sepenuh kesungguhan, bukan sesuatu yang akan kita terima dengan pasif karena ia kita sangka bisa hadir begitu saja di ruang tamu rumah kita.

Ia pasti terkait erat dengan cinta yang enigmatik itu. Ada ribuan definisi cinta – dan tak ada yang memadai. Kamu boleh memilihnya satu atau beberapa sekaligus. Tapi saya harap kamu sepakat dengan rumusan yang saya ramu dari bahan-bahan Scott Peck: cinta adalah kehendak untuk melampaui kemampuan kita sendiri guna memungkinkan pasangan kita tumbuh secara spiritual.

Dan spiritualitas, seperti kita pahami bersama, bercakupan lebih luas daripada hal-ihwal yang terkait dengan agama, apalagi sekadar dengan aspek ritualnya. Spiritualitas membuat kita bersedia mendaki puncak-puncak kemanusiaan kita; juga membuat kita tak terpaku pada keremehan suatu benda, melainkan mengintai makna yang lebih dalam daripada arti yang lazim ditawarkan oleh benda itu. Seperti kata seorang bijak, “Jika kau tahu bagaimana proses mengelopaknya sekuntum bunga, maka seluruh hidupmu akan berubah.”

Notes : saya berterimakasih sekali terhadap dua orang itu untuk penafsirannya atas hal-hal yang menarik ini. Ini semua sepenuhnya berasal dari inspirasi mereka. saya hanya (seperti kata Newton) sedang berdiri di bahu raksasa, untuk mengambil yang baik-baik dan bagus-bagusnya saja.

—————-

*Referensi :

Chandra Natadipurba. 2008. “Pacaran”. Bandung : Aufklarung.

Hamid Basyaib. 2007. “Fur Fathia ; Surat cinta menuju pernikahan”. Jakarta.

Historis · Kampus · Politik

Wacana Bernegara

Tulisan ini sepenuhnya diambil dari diskusi di TMI (Teknokrat muda ITS), Surabaya, pada hari sabtu, 04 maret 2017 di selasar perkapalan dengan rujukan utama dari perspektif Benedict Anderson di bukunya yang berjudul “Imagined Communitites”. Saya sendiri belum sempat membaca langsung buku itu, tapi sepertinya memang menarik. Dan mengapa tulisan yang diskusinya sudah lama ini baru di posting sekarang? Itu semata karena kemalasan saya untuk menyelesaikan penulisan ini. *hehe. Dan karena tidak tega melihat tulisan setengah jadi ini teronggok begitu saja di leptop akhirnya saya tuntaskan juga, karena katanya, tulisan yang baik itu adalah tulisan yang selesai.

Beberapa pertanyaan awal untuk memantik diskusi ini diantaranya adalah; Apakah alasan munculnya Negara? Apakah Negara itu? dan apakah atau siapakah yang menjadi Negara pertama? bagaimanakah caranya untuk menghilangkan Negara dan siapa yang berhak untuk melakukan itu? dlsb. Hmm, pertanyaan-pertanyaan itu kembali ke awal sih, bahwa ini semua sepenuhnya tentang sejarah Negara itu sendiri, yang mengacu ke perjanjian westpalia (Jerman). Perjanjian ini dinilai menjadi cikal bakal atau gen awal dari pembentuk konsep Negara, yang seiring waktu mengalami koreksi dan perbaikan system hingga menjadi bentuk Negara seperti sekarang ini. Jadi sebelum adanya perjanjian itu boleh dikata di dunia ini belum ada Negara, dunia kebanyakan masih disebut kerajaan, kesultanan, keratin, koloni, wilayah, dlsb, tergantung keinginan penguasa ditempat itu inginnya disebut apa. 

Perjanjian westpalia dilahirkan pada tahun 1648 sebagai respon atas kekuasan kerajaan yang dinilai anarki (setara). Setiap kerajaan tidak boleh mengerajai (?) kerajaan lainnya atau mensubordinatnya. Tidak boleh ada satu raja dengan kerajaan lebih dari satu. Dalam tatanan kekuasaan yang ingin disepakati ketika itu adalah kesepakatan untuk menjamin bahwa dari kekuasaan yang hirarki agar bisa menjadi anarki. Jadi tidak boleh antara kerajaan menindas kerajaan lainnya. Konsep ini pada evolusi selanjutnya berubah bentuk menjadi system kenegaraan, sehingga dengan itu dimulailah era wilayah-wilayah yang awalnya adalah jajahan, mulai memerdekan diri dan menyatakan dirinya sebagai Negara. Pada era ini Negara-negara baru yang terbentuk disebut sebagai Negara dunia pertama. istilah ini mengacu pada pembabakan sejarah Negara. Kita mengenal bahwa Indonesia termasuk Negara dunia ketiga, artinya Negara Indonesia baru hadir di akhir-akhir periodisasi negara. Jadi, istilah Negara itu sebenarnya mengacu kepada term yang menyatakan bahwa ia tidak boleh berada di bawah subordinat Negara lain. Antara satu Negara dengan lainnya harus equal atau setara (equal dalam hal apa?). 

Awal mula sekali era dari dunia ini adalah era imperialism, era ekspansi kekuasaa dimana dunia sepenuhnya diperebutkan oleh orang-orang yang kuat dan powerful. Eranya penaklukan. Dunia diatur oleh seperti tidak ada bedanya dengan sistem rimba, hanya yang kuatlah yang berhak memerintah. Tidak ada tempat bagi yang lemah. Setelah era imperialisme lalu terbitlah era kolonialisme, tidak sekedar ekspansi tetapi juga mulai melakukan eksploitasi di wilayah taklukan (penjajahan) untuk mengambil manfaat sebanyak mungkin dari Negara yang terjajah tersebut. Tetapi lambat laun di era ini mulai terjadi perkembangan hingga akhirnya pihak penjajah (dengan pertimbangan tertentu) sudah mau memberikan hak politis bagi negeri jajahannya. Mungkin itu dianggap adil sebagai timbal balik atau rasa terimakasih dari penjajah ke si terjajah. Dari era kolonialisme inilah muncul rasa nasionalisme dari orang yang terjajah, yang merasa bahwa negaranya haruslah ditentukan dan digerakkan oleh rakyat Negara itu sendiri tanpa ada campur tangan dari pihak luar. Setelah era kolonialisme lalu ada era modern yang ditandai dengan terbentuknya liga bangsa-bangsa, ini terbentuk setelah dunia mengalami perang dunia pertama dan perlu ada suatu badan khusus yang diakui oleh semua Negara yang mempunyai otoritas atau wewenang untuk menjaga ketertiban dan kedamaian dunia, selain itu juga karena setiap Negara juga ternyata mau tidak mau mempunyai ketergantungan kepada Negara lainnya, tidak bisa jalan bila sendiri-sendiri.

Teori-teori tentang pembentukan Negara ada beberapa versi, yang paling kuno atau jadul diajukan oleh Thomas Aquinas yang menyatakan bahwa Negara itu adalah anugerah dari Tuhan, sehingga orang yang berkuasa secara tidak langsung adalah representasi dari kehendak Tuhan itu sendiri. Orang yang berkuasa adalah tangan kanan atau ditunjuk oleh Tuhan (Kaisar = anak dewa). Teori kedua adalah kontrak social, perumusnya ada Jhon Locke, Thomas Hook, dll, yang menyatakan bahwa Negara itu adalah suatu proyek bersama, suatu kontrak social yang dikehendaki oleh sekelompok atau mayoritas orang yang merasa harus mewakilkan kekuasaannya pada segelintir orang untuk mengatur hajat hidup orang banyak. Dari teori inilah kemudian muncul demokrasi. Nah, ada beberapa istilah kunci untuk memahami ini, ada Negara, negeri dan bangsa. Ketiganya jelas berbeda. Negara adalah dari perspektif hukum atau pemerintah, sementara negeri adalah dari perspektif wilayah atau land dari Negara itu sendiri, dan bangsa merujuk kepada people atau orang-orang yang mendiami tempat itu sendiri (rakyat). Jadi, dari kontrak social kita menjadi tahu bahwa Negara itu dibuat atas dasar kesepakatan bersama (proyek bersama) dengan tujuan untuk menyelenggarakan kemaslahatan yang semaksimal mungkin atau melangsungkan kesejahteraan rakyatnya. Atau secara lebih gampang dan mudahnya, Negara itu dibentuk oleh wacana atau opini dari semua rakyat di suatu wilayah (kesepakatan). Wacana itulah yang menjadi pokok dasar pembentukan Negara. Nah, bila kita melihat Indonesia, maka Negara Indonesia dibentuk atas dasar wacana setiap founding father yang sudah merumuskan bentuk dari bangunan Negara Indonesia ini. Seberapa kuat dasar yang diberikan kepada Indonesia menentukan seberapa kuat Negara ini akan tetap ada. Artinya bila wacana-wacana itu yang berupa dasar Negara (UUD 1945 dan Pancasila) digugat oleh semua rakyat, maka mau tidak mau Indonesia ini akan runtuh pula. Dan keruntuhan itu bisa dilihat dari apakah masih relevan dasar-dasar yang ditanamkan oleh founding father itu dengan kenyataan Indonesia saat ini? Ini jadi seperti kita ingin menagih janji kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh mereka, apakah sudah terpenuhi belum realisasinya.

Dalam undang-undang dasar 1945, pokok penting penyelenggaraan Negara Indonesia ini didasarkan ada empat hal yang menjadi capaian dan kerja dari pemerintah atau Negara untuk rakyatnya secara keseluruhan yaitu :

1). Di bidang hukum ; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia

2). Di bidang perekonimian ; memajukan kesejahteraan umum.

3). Di bidang pendidikan ; mencerdaskan kehidupan bangsa.

4). Di bidang social politik global ; dan, ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Nah cara terbaik untuk menganalisis lebih dalam dan memahami setiap point dari tujuan adanya Negara Indonesia adalah degan merujuk kembali para pencetusnya dan apa maksud mereka atau tafsirannya terhadap point-point itu. kita kembali ke sumber awal dari suatu kerangka yang ada, semisal point pertama yang berbicara tentang hukum, apa maksud founding father kita dengan “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia” itu, kita bisa merujuk kepada pemikiran Soekarno, bahwa point ini menjamin seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan hukum yang adil, tidak terpisah-pisah atau terbagi-bagi, sehingga jadi jelaslah bahwa di Indonesia hanya ada satu jenis rakyat, yaitu rakyat Indonesia, tidak ada istilah pribumi, asing, non-asing, dlsb. Siapapun yang lahir dan tumbuh serta mencari penghidupan di Indonesia adalah rakyat Indonesia (yang dibuktikan dengan kartu tanda penduduk dan administrasi lainnya). Bangsa kita adalah bangsa yang bhineka dan beraneka ragam, kepentingan bangsa diatas kepentingan golongan atau suku, sehingga tidak ada istilah mayoritas atau minoritas, tidak ada istilah suku jawa lebih unggul daripada suku lain. Indonesia adalah gabungan dari semua suku yang ada dengan keunikan dan khasnya masing-masing, suku Sunda, Jawa, Madura, Dayak, Papua, Aceh, Melayu, dlsb.

Kemudian point kedua berbicara tentang perekonomian Negara, bahwa tujuan adanya Indonesia ini adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Kira-kira siapakah sosok atau tokoh yang relevan dan kompeten di bidang ini? Kita mengenal Bung Hatta sebagai bapak koperasi Indonesia, focus dan konsen perjuangan beliau selain memperjuangkan kemerdekaan negeri ini adalah menciptakan konsep yang memungkinkan semua rakyat bisa sejahtera dengan konsep koperasinya. Perpaduan antara kapitalis dan sosialis yang sesuai dengan tabiat rakyat Indonesia yang suka gotong royong. Dalam bukunya, Bung Hatta dengan gamblang menyebutkan apa maksud dari system koperasinya itu,

Problem di bidang hukum ; tirani mayoritas (?), Negara yang seperti absen dalam penderitaan setiap warga atau golongan, hukum tajam kebawah tetapi tumpul ke atas. klise sekali, bukan? tetapi ini masalah mendasar di sebuah negara yang mengatasnamakan negara hukum. sewaktu SMA, ini doktrin yang paling melekat yang saya dapatkan dari pelajaran PKN, bahwa Indonesia itu adalah negara hukum. terkesan bertolakbelakang dengan realitas? itu lain soal (problem juga sebenarnya). tapi dasar ini yang seharusnya menjadi panduan dan pedoman kita dalam berkebangsaan. hukum kita mungkin masih jauh dari sempurna (ya iyalaah), tetapi itu bukan alasan untuk tidak menggunakan hukum itu sendiri bukan? kalau lah hukum kita masih bersifat kolonialis (karena diwariskan dari Belanda), ya apa salahnya kalau direvisi dan dikoreksi bersama-sama sehingga menghasilkan hukum yang berkeadilan, beradab dan memihak pada kebenaran. hukum ini adalah masalah fundamental, dan bagamana warga negara memandang hukum itu, dengan sendirinya mencerminkan pandangan seberapa jauh warga negaranya itu beradab dan maju. hukum menjadi tolak ukur. hukum tidak di desain untuk menjadi alat politik dan kekuasaan semata yang dengan seenaknya bisa digunakan untuk menindas yang lemah, tetapi hukum ada untuk menjaga neraca keadilan itu tetap seimbang. hukum tidak bertujuan untuk menghukum semata, tetapi lebih jauh daripada itu, hukum dibuat untuk mencegah para bajingan bertindak seenaknya. hukum adalah wajah peradaban dan emanusiaan yang tertinggi, itusebabnya Pram pernah berujar dalam novel tetraloginya yang aduhai keren gilanya itu, “Kalau kemanusiaan (dan hukum) tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia itu seorang sarjana.”

Problem di bidang perekonomian ; Tingkat pengangguran dan gaps antara yang kaya dengan yang miskin semakin menganga, isu-isu liberalisasi asset Negara, keterlibatan dalam pasar bebas (ekonom neo-liberal), dlsb. tentang isu pasar bebas itu sendiri, ini masalah ekonomi yang tidak mudah membeberkannya dalam beberapa kata, perlu ruang tersendiri. anak-anak SFL (Student For Liberty) Indonesia, giat sekali mengkampanyekan isu ini.

Problem di bidang pendidikan saat ini ;

PTN-BH atau Perguruan tinggi negeri badan hukum yang baru-baru ini ramai diterapkan dibeberapa perguruan tinggi negeri seperti ITB, UI, UGM, UB, Unair, ITS, dll. Terdapat pro-kontra tentang penerapan status ini di kampus-kampus tersebut, mulai dari elemen mahasiswa, dosen, hingga birokrat kampus. Kampus yang menyandang status PTN BH diartikan sebagai kampus yang otonom atau mandiri dalam masalah anggaran penyelenggaraan pendidikannya. Disini Negara tidak  lagi memberikan 100% APBN untuk setiap kampus negeri. Jadi pihak kampus mau tidak mau harus mencari anggarannya dari mana saja, bisa dari sponshorship dengan perusahaan, biaya masuk mahasiswa, biaya persemester, dlsb, jadi boleh dikata  bahwa PTN BH itu adalah Upaya Pemerintah Menswastakan Negeri.

Di akhir, dan yang perlu di garis bawahi, bahwa kita perlu mengingat kembali bahwasannya Indonesia ini adalah rumah kita. kita harus paham betul apakah Indonesia itu, dan disinilah kita bisa berperan. Indonesia sebagai wacana, dan kita sah-sah saja menganggapnya demikian, adalah sebuah konsep atau gagasan yang bisa jadi belum tentu final. Indonesia dirumuskan oleh para founding fathers kita (kita sangat berterimakasih kepada mereka), dimana orang-orangnya sama juga seperti kita, manusia biasa yang bisa saja khilaf dan salah, sehingga jangan menganggap bahwa wacana Indoneisa ini adalah wacana yang final. sebagai wacana, ia bisa mengalami perubahan, dan untuk itulah kedewasaan kita dalam berbangsa ditimbang. dinamika kebangsaan kita itu terus berubah. para founding fathers adalah generasi perintis dan pelopor, dan generasi kita adalah generasi perubah, yang semoga saja di tangan generasi kita, Indonesia bisa bernasib lebih baik lagi, menjadi negara yang maju dan sejahtera, dimana rakyatnya mempunyai nilai dan kualitas kemanusiaan yang tinggi. Kalau doanya Mbah Moen (KH Maimun Zubair, ulama sepuh NU), beliau sangat berharap bahwa Indonesia bisa menjadi pemimpin dunia ini, menjadi kiblat utama tentang bagaimana sebaiknya manusia menjadi manusia.

Saya tidak memaksudkan bahwa Indonesia sebagai wacana yang belum final sebagai keinginan atau keharusan untuk merubah ideologi negara. indonesia bukan negara agama (karena rakyatnya tidak hanya memeluk satu agama tok), tetapi adalah negara multikultur dan muti etnis serta multi agama, sehingga keberagaman ini tidak mungkin bisa ditampung dalam sebuah ideologi agama tertentu (khilafah). untuk lebih jelasnya mengapa Indonesia tidak cocok bila menggunakan ideologi agama, bisa membaca buku Ilusi negara Islam, karangan Abdurahman Wahid, Gus Mus dan Syafi’i Maarif (supervisinya).

*Dicukupkan segitu dulu bualannya, karena saya akan segera hibernasi kembali untuk waktu yang tidak akan ditentukan. 😀

Culture · Historis

Muslim itu Mesti Peka

(*Pernah diposting sebelumnya di website Percikan Iman, 2015 silam)

Manusia adalah makhluk sosial yang tak sekedar memikirkan keadaan dirinya sendiri, tetapi juga lingkungan tempat dimana ia tinggal dan berinteraksi. Dunia memang tak pernah mengijinkan bagi manusia untuk hidup sendirian, karena mesti bagaimanapun, mereka saling terhubung dan saling membutuhkan antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Teorinya manusia itu adalah makhluk sosial, tapi bukan karena semata-mata teori itu lantas kita harus merasa wajib untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Tetapi karena secara fithrah dan naluriah kita memang memerlukan orang lain, sehingga jadi absahlah teori tersebut. Lihatlah Nabi Adam ‘alaihi salam, meskipun beliau sudah enak dan nyaman tinggal di surga, tetap saja merasa tidak kerasan ketika beliau hidup sendirian, dan akhirnya diberilah Siti Hawa untuk mendampingi dan menentramkan hatinya. Artinya, bahagia saja tidak cukup. Perlu ada orang lain untuk menggenapkan kebahagiaan tersebut. :p

Mungkin bisa saja kita untuk memilih dan memutuskan hidup menyendiri dan sendirian. Jauh dari keramaian, dan tertolak akses terhadap manusia lainnya, tetapi, ketahuilah, bahwa hidup yang seperti itu, secara tidak langsung telah mematikan kehidupan itu sendiri. Manusia tidak akan pernah mencapai nilai kemanusiaannya tanpa melibatkan orang lain. Taruhlah bahwa nilai kebermanfaatan manusia, yang dalam hal ini menyangkut kebahagiaannya dan kesuksesannya, selalu berkaitan dengan manusia lain, semacam memberikan dedikasi hidupnya agar berguna untuk orang lain.

Bisa kita lihat beberapa contoh kehidupan orang-orang  kaya dunia saat ini, akan kita dapati bahwa kebahagiaan hidup mereka tidak sepenuhnya terletak dalam uang dan kekayaan. Mereka malah lebih suka untuk mengeluarkan uangnya demi bakti sosial dan kegiatan kemasyarakatan atau kegiatan-kegiatan filantropis (derma) lainnya, dan ternyata, itu membuat mereka merasa bahagia. Dan konon kabarnya, mereka malah ketagihan untuk terus menerus melakukan bakti tersebut. Semacam ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa dibeli oleh uang atau materi.

Hidup memang kompleks. Tidak sekedar berpikir tentang makan apa saya hari ini, lalu bagaimana besok, atau dapatkah cita-cita masa kecil terwujud, bagaimana berpelesiran ke luar negeri, dan sekelumit keinginan-keinginan ilusional yang membayang dalam benak dan seakan ketika kita bisa meraihnya, maka kebahagiaan sudah pasti teraih. Padahal tentu saja tidak demikian.

Nyatanya kebahagiaan itu sangat sederhana yang melibatkan orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang perlu mendapatkan “secuil” perhatian dan kepeduliaan kita. Bahwa dengan keberadaan mereka, menjadikan keberadaan kita menjadi bermakna dalam artian bahwa secara tidak langsung mereka telah menyediakan peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan. Maka, sebetulnya yang perlu berterimakasih atas kebaikan kita itu bukan mereka yang mendapatkan kebaikan tersebut, tetapi kitalah, yang karena mereka, masih terbuka peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila dunia ini sudah di dominasi oleh orang-orang yang kaya dan tidak perlu mendapatkan bantuan?

Maka, sebelum engkau makan dengan lahap dan enaknya, perhatikan dulu tetanggamu, perhatikan lingkungan sekitarmu. Apakah mereka sudah kenyang? Sudah makan dan tak kebingungan dengan masalah dunia dan penghidupan? Apakah anak mereka masih suka menangis karena menahan laparnya perut mereka dan orang tuanya yang seakan sudah kehabisan akal dan alasan untuk bagaimana lagi memberi tahukan kepada anaknya bahwa saat itu mereka sedang tidak punya sesuatu untuk di makan? Ataukah keberadaan kita memang sudah kehilangan nilai dan makna, sehingga ada dan tidak adanya kita tidak mempunyai perbedaan sama sekali. Kita kenyang dan tercukupi kebutuhan, sementara di samping rumah kita perut-perut tetangga kita masih tidak bisa tenang dan harus menahan pedihnya lapar.

Ada satu kisah menarik dari sang Kholilullah, yakni Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam. Terkait dengan mengapa beliau mendapatkan gelar Kholil-nya Allah. Gelar yang tidak sembarangan nabi bisa memperolehnya, bahkan diyakini bahwa dengan segala keutamaannya, Nabi Ibrahim di dapuk menjadi nabi yang terbilang paling terpandang diantara sekian banyak nabi. Selain beliau merupakan salahsatu dari ke-5 nabi yang mempunyai predikat Ulul Azmi (yang terbaik kesabaran dan kesyukurannya serta paling tangguh dalam menghadapi cobaan), berkat beliau pula, yang berdoa tiada henti, akhirnya dikabulkan doanya dengan terlahirnya sang cucu jauh, Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wassalam, sebagai perwujudan dari rahmatan lil alamin untuk segenap alam dan sepanjang masa.

Kisah ini adalah tentang bagaimana Nabi Ibrahim mempunyai kebiasaan untuk tidak pernah mau makan sendirian, sebelum ditemani oleh 80 orang tetangga atau orang lain, siapa saja, tidak membeda-bedakan. Dalam keyakinannya, beliau tidak akan makan bila belum berkumpul dengan 80 orang yang akan diajaknya makan. Masya Allah, … bisa dibayangkan bagaimana pemurah, pengasih dan dermawannya Nabi Ibrahim. Dan ini setiap kali beliau mau makan. Jadi kalau misalnya beliau makan 2 atau 3 kali sehari, itu artinya ada 160 atau 240 orang yang beliau beri makan.

Beliau, dalam kisah tersebut, hingga sampai berlelah-lelah untuk mengumpulkan orang sebanyak itu. Dan setelah berkumpul orang banyak tersebut, maka dimulailah makan sambil mengucap syukur dan tiada hentinya mengucapkan terimakasih kepada orang-orang tersebut karena telah mau menemani beliau makan. Karena tiada keberkahan yang berlimpah pada makanan yang hanya di makan untuk diri sendiri, sehingga kita pun sering mendengar istilah yang terkenal di kalangan orang desa atau santri, bahwa tak penting menu makannya apa, tetapi bila makan dengan kawan atau keluarga, maka ada keberkahan tersendiri yang menjadikan makanan tersebut terasa nikmat sekali. Jadi, hampir setiap kali makan, nabi Ibrahim, seperti sedang mengadakan acara syukuran atau hajatan. Karena memang saking banyaknya orang yang beliau undang. Maka itulah Islam,itulah muslim dan mukmin. Perilaku dan tindak tanduk kesehariannya selalu memberikan manfaat kepada orang di sekitarnya. Kebaikan yang tersebar ke sekelilingnya,sehingga benar lah adanya  apa yang telah Rasul Saw sabdakan, “Manusia terbaik itu adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Dalam hadits tersebut, tidak dikatakan orang yang paling bermanfaat itu adalah orang yang kaya. Karena kita tahu, kekayaan saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang baik dan bermanfaat untuk orang lain. Bahkan, terkadang sering kita lihat orang yang tak berpunya, dan malah seharusnya mendapatkan santunan dari pihak lain, malah mendermakan sebagian materinya untuk orang lain. Itulah manfaat. Ia tidak bisa dimonopoli oleh harta dan materi, tetapi merupakan pembuktian kualitas keimanan seorang muslim.

Iman memang letaknya di hati, tetapi buahnya, selalu bisa dilihat dari perilaku yang tampak. Perilaku tersebut merupakan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak cukup untuk disebut sebagai orang yang beriman, ketika lidah dan perbuatannya malah membahayakan orang lain, sehingga orang lain merasa tidak aman dan tidak tenang atas perbuatannya. Tidak cukup pula iman itu dirasakan oleh dirinya sendiri, karena iman yang sejati, dan sebenar-benarnya iman, perlu pembuktian dengan tindakan. Mau sesepele atau sekecil apapun perbuatan baik tersebut, itu tak jadi soal. Lihatlah dawuh Rasul di kesempatan yang lain, ketika beliau menyebutkan bahwa cabang iman itu ada banyak, dan salah satu diantaranya adalah dengan menyingkirkan batu kerikil, cucuk, paku, serpihan kaca atau apapun yang membahayakan di jalan, agar supaya tidak membahayakan orang lain. Lihatlah, ..dengan perbuatan sederhana seperti menyingkirkan batu kerikil di jalan yang dikhawatirkan akan membahayakan orang lain saja, tercatat sebagai perilaku orang yang beriman, dan perbuatan tersebut termasuk pula dari cabang iman.

Jadi, sudahkah anda berbuat baik hari ini?

Ref :

*Link tulisan yang pernah dipublish itu, http://percikaniman.id/2015/10/04/muslim-itu-peka-terhadap-sesama/

Buku · Ekonomi · Historis · Review

Sang Maestro ; Sebuah Review

maestro
Covernya

Data buku :

Judul : Sang Maestro ; Sejarah Pemikiran Ekonomi
Pengarang : Mark Skousen
Penerbit : Prenada Media Grup
Halaman : 564 hlm + xii
Cetakan : 5, Januari 2015
Ukuran : 15×23 cm

Sudah sejak lama saya ‘ngebet’ dengan ide-ide yang membentuk pemikiran ekonomi dan keberjalanan sejarahnya hingga membentuk tatanan dunia seperti sekarang ini. Meskipun saya berlatarbelakang pendidikan teknik, dan di kelas hanya sekilassingkat saja tentang ekonomi, itu pun yang praktis semacam pengantar untuk manajemen finansial, perhitungan biaya atau resiko, analis investasi, dlsb. Padahal ekonomi jauh lebih menarik daripada hal-hal semacam itu saja.

Buku ini adalah koentji, yang saya dapati belakangan ini, agak terlambat memang. Buku yang diterjemahkan sejak tahun 2004 dan baru saya tahu akhir tahun lalu dan baru berkesempatan untuk mengkhotamkannya kemarin di sela-sela EAS (Evaluasi Akhir Semester) dan kesibukan lainnya. Saya menikmati pembacaan terhadap buku ini, buku yang menghadirkan sebuah keunikan dalam penyampaiannya oleh Mark Skousen. Selamat, tujuan anda tercapai bung. Buku ekonomi yang benar-benar menarik, renyah, dan jauh dari kata kering, muram atau gersang. Sejak dari halaman pertama, sudah menimbulkan ‘hasrat’ yang menggebu-gebu untuk menuntaskannya. Jarang ada buku yang punya efek seperti itu. 😀

Buku ini membuat saya lebih paham tentang sejarah ide, libertarian, sosialisme, kapitalis, sejarah uang, dlsb, hingga bisa merampungkan satu artikel yang ditujukan untuk diikutsertakan sebagai prasyarat mengikuti kelas singkat Mazhab Ekonomi Austri a.k.a Mises BootCamp, di Jakarta, yang diselenggarakan oleh SFL (Student For Liberty) Indonesia. Sayangnya saya malah ndak jadi berangkat karena alasan konyol ; kehabisan tiket kereta Surabaya-Jakarta. *Bbrrrr

Review ini sengaja saya buat karena dalam benak saya, belum tuntas sebuah pembacaan terhadap buku hingga ia dituliskan, hingga ia bisa dipahami dalam bentuk yang lain. Kata sebuah pepatah, “Kau belum benar-benar paham hingga bisa menjelaskannya ke nenekmu, dengan sesederhana mungkin tetapi isinya sampai”. Itu memang susah dan perlu pembiasaan, makanya setiap baca buku, sebaiknya hasilnya didiskusikan dengan teman atau dituliskan. Karena bila hanya selesai dan berhenti di titik terakhir dari halaman terakhir buku, bisa jadi proses pengendapan buku itu tidak akan terlalu mendalam. Karena kalau yang membedakan setiap orang adalah dari bacaan bukunya, maka akan lebih komplit lagi untuk menyempurnakan pembacaan itu dengan mendiskusikannya. Walaupun saya juga seseringnya memperlakukan buku semenjak halaman pertama sebagai teman diskusi (selain teman duduk). Artinya dalam pembacaan saya, ada proses diskusi didalamnya. Kadang saya tidak sepakat dengan apa yang dituliskan penulis, kadang sepakat, kadang perlu saya bubuhkan komentar di bawahnya, kadang saya caci apa yang ditulis penulisnya, dlsb. Saya tidak mentah-mentah menerima begitu saja. Makanya jangan pernah mau meminjamka buku ke saya, karena bisa dipastikan buku itu akan kembali tidak seperti sedia kala. Bukan karena tidak utuh, melainkan sudah akan penuh dengan coretan-coretan saya. Haha. Saya jadi ingat kata-kata Gusdur, “Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya kepada orang lain, tapi orang lebih bodoh lagi kalau mengembalikan buku yang ia pinjam”. *satir. Halah kok malah melebar kesini. *Kebiasaan. :p

Tesis dari buku ini sebetulnya sederhana ; ingin menampilkan perkembangan ilmu ekonomi dari mula kemunculannya yang ditandai oleh tokohnya yang terkemuka ; Adam Smith dengan magnum opusnya yang berjudul The Wealth of Nations hingga hari ini dengan cara yang unik. Dijalin dalam alur semenarik novel dengan tokoh-tokoh yang saling berkaitan dan tak terpisah. Semuanya berkumpul untuk membangun sebuah rumah ‘ekonomi’ yang bisa kita saksikan seperti sekarang ini. Sebuah rumah yang menaungi dunia ini dengan visinya untuk menciptakan kekayaan universal, meningkatkan standard hidup semua orang, menjunjung kebebasan, pasar bebas, distribusi merata, kesempatan yang sama, dan untuk hidup yang diharapkan akan menjadi semakin lebih baik dan lebih baik lagi.

Buku ini juga menampilkan ide-ide libertarian, yang diserang oleh sosialisme terutama serangan gigih dari Karl Marx, namun fakta telah menunjukan siapa yang menang diantara pertarungan 2 wacana atau ide tersebut. Ide-ide sosialis dan marxisme sudah tidak akan pernah dilirik lagi oleh dunia, karena kegagalannya yang pasti di Uni Soviet. Jadi, gak perlu sebegitunya takut dengan kebangkitan PKI. Hehe. Orang dungu mana yang mau menerapkan sebuah sistem yang sudah nyata-nyata gagal. Karena dalam system ekonomi, satu teori tidak akan pernah dipakai bila ternyata gagal dalam tataran praktis atau realnya. Ilmu ekonomi selalu menyandingkan dan menyandarkan antara kenyataan dengan teori. Bila teori tidak mendapatkan landasannya dalam dunia nyata, yang mereka sebut sebagai teori menara gading, jelas-jelas sebuah keburukan. Makanya dalam sejarah ekonomi ada yang disebut dengan istilah Kejahatan Ricardian. Saya kira apa, ternyata karena David Ricardo yang memasukkan terlalu banyak teori matematika kedalam ilmu ekonomi tanpa ada pembuktian real di lapangannya. Meski kuat secara logika, ia jadi tidak terlalu berguna dan malah membuat ilmu ekonomi jadi gersang, tidak menarik, dan menjauhkannya dari dunia nyata.

Di hal sampul ada 3 kutipan yang menarik untuk membuka buku yang setebal 563 halaman ini ;

“Mencari kekayaan, .. bagi sebagian besar manusia adalah sumber perbaikan moral terbesar.”

–Nassau Senior

“Ide dari filsuf politik dan ekonomi, baik itu benar atau salah, lebih kuat ketimbang yang diperkirakan. Sesungguhnya dunia ini dikuasai oleh segelintir orang.” – Jhon Maynard Keynes

“Ilmu ekonomi membahas drama terbesar dari seluruh umat manusia, yakni perjuangan umat manusia untuk melepaskan diri dari keinginan.” – John M. Ferguson

Laissez Faire

Adalah sebuah konsep tentang kesejahteraan manusia yang mengacu kepada system pasar bebas dan tanpa intervensi (yang berlebihan) dari Negara, sehingga mekanisme pasar yang ‘diatur’ oleh tangan alamiah atau tangan ghaib bekerja sebagaimana mestinya. Nantinya konsep ini akan bertarung dengan konsep sosialisme marxis (paham intervensionisme). Dan kita tahu siapa yang keluar sebagai pemenang dari pertarungan itu.:D Hail ya Adam Smith !

Jadi semua perjalanan ide-ide ekonomi (teori dan praktik) itu cuma berkisar dari pondasi yang telah diletakkan oleh Adam Smith, lalu dari sana dimulailah periode revisian, koreksi, hingga lahirnya tesis yang bertentangan, dan akhirnya menuju penyempurnaan di penghujung abad 19 atau awal 20. Lebih kurang cerita ringkasnya adalah begitu. Filsapat kebebasan alamiah dan invisible hand yang diajarkan Smith menjadi karakter utama dalam sejarah ekonomi modern ketika revolusi industry dan kebebasan politik muncul ke panggung sejarah umat manusia, dan menciptakan era baru kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi sepanjang dua abad sesudahnya.

Tantangan pertama yang berusaha menggoyahkan tatanan dari Smith berasal dari 2 muridnya yang terkenal dan berpengaruh ; Robert Malthus dan David Ricardo. Keduanya mengemukakan doktrin yang muram tentang hukum besi upah subsisten (standar minimum atau gaji pas-pasan bagi pekerja) dan penderitaan yang tiada akhir dari kelas buruh. Lalu muncul lah Jhon Stuart Mill yang digalaukan oleh kebebasan (liberty) dan sosialisme pada saat komunitarianisme sedang ada di puncak-puncaknya. Terus pada revolusi industry di abad ke 19 pertengahan, muncul tokoh yang radikal dengan kehadiran Karl Marx ke panggung sejarah secara mengejutkan. Ia bicara tentang eksploitasi (buruh) dan alienasi (keterasingan) di kalangan kaum buruh industry. Sebetulnya gampang sekali sekarang untuk mematahkan argument-argumen dari Karl Marx, karena secara kenyataan konsepnya sudah jadul dan gak di upgrade. Konsepnya hanya berlaku ketika revolusi industry sedang marak. Sementara sekarang, dengan kemajuan zaman, perbaikan kualitas hidup, standar kesejahteraan buruh, motif kerja dlsb, menjadi jelas bahwa konsep Karl Marx sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Apalagi selepas ujicobanya yang gagal di Negara Soviet. Konon, China juga sudah gak komunis-komunis amat, system ekonominya malah menganut ekonomi pasar bebas. Komunismenya hanya disimpan untuk urusan politik tok. Nah kan? Atau kita bisa melihat negara yang komunis tulen sekarang seperti Cuba dan Korea utara, dan siapa pulak yang mau hidup terbelakang seperti mereka? Terisolir dari dunia luar dan takut perubahan. :p

Setelah era Marx, si anak nakal yang kurang ajar, lalu munculah revolusi marginal yang dihidupkan oleh 3 tokohnya yang berperan penting ; Carl Menger di Austri, Leon Walras di Swiss, dan William Stenley Jevons di Inggris. Setelah itu muncul depresi besar karena krisis ekonomi yang parah di tahun 1929-1930 dengan memunculkan Maynard Keyness sebagai tokoh kuncinya. Tapi sekarang kita juga tahu bahwa beberapa teoriya ternyata tidak cukup akurat untuk memprediksi kelakuan ekonomi makro, mikro dan relasi uang yang menghubungkan diantara keduanya. Dan siapakah yang bisa menjembatani permasalahan yang serius itu? yap, dia adalah Ludwig Von Misses, yang sekarang di puja-puja, apalagi oleh kalangan libertarian. Ekonom asal austri ini, bersama temannya, Friedrich Von Hayyek (yang pernah memenangkan nobel ekonomi) berhasil menyelamatkan kapitalisme. Oia, Keynes pernah dipuja-puja karena komprominya antara ekonomi kapitalis dengan intervensi dari pemerintah. Keyness ini bukan pewaris adam smith yang sah. Haha. Ia mencampurkan konsep kapitalis dan sosialis, pemerintah diberi bagiannya untuk turut ikut campur dalam perekonomian di lapangan (secara makro).

Babak terakhir (yang dikisahkan oleh buku ini) adalah setelah perang dunia kedua. Para ekonom monetaris yang anti revolusi, dipimpin oleh Milton Friedman dari Chicago, mulai memfokuskan pada kajian tentang ketidakstabilan kebijakan makro pemerintah. Nah, Friedman yang suka karya empiris ketimbang model abstrak, menunjukan bahwa ikut campurnya pemerintah kebanyakan menghasilkan efek negative. Ia mencontohkan biang keladi yang memicu depresi besar ternyata adalah kebijakan2nya Federal Reserve. Akhirnya, dengan mengadopsi kebijakan moneter yang stabil, maka ekonomi pasar yang mengatur diri sendiri a la Adam Smith sekali lagi bisa kembali berkembang.

Yang menarik dari buku ini adalah selain menampilkan ide-ide dari para ekonom, juga dilengkapi secara ringkas kisah hidup dan latarbelakang keilmuannya sehingga bisa melahirkan teorinya itu. ini yang penting, karena kita juga perlu memahami kehidupannya selain memahami ide-ide mereka. Karena jelas tidak adil jika kita mengabaikan suatu teori dari seorang filsup hanya karena dia mungkin seorang suami yang buruk atau pemabuk. Kita tahu kehidupan Karl Marx memang patut dicela, tetapi apakah itu berarti teori alieanasi dan eksploitasinya keliru? Ide-ide mempunyai manfaat dan dasarnya tersendiri, dan manfaat itu tidak ada hubungannya dengan orang yang menggagasnya.   

Buku ini diperuntukkan untuk pembaca umum bahkan untuk orang yang bukan dari jurusan ekonomi macem saya pun bisa sangat menikmatinya. Ekonomi dibuat sesederhana dan sejelas mungkin. Cocok bagi yang ingin mengetahui terbuat dari apa ekonomi modern itu. sebuah cerita yang menarik dan based on true.

Kata Paul Samuelson, Akan kuberitahu kalian satu rahasia. Ahli-ahli ekonomi sering dipandang sebagai orang yang berpikiran segersang debu dan menjemukan. Anggapan itu keliru, sebab yang benar adalah sebaliknya.

Engineering · Historis · Politik

Pertambangan di Indonesia

(Sebetulnya tulisan ini lebih tepat dijuduli ringkasan dari bukunya Pak Bondan yang berjudul Sebongkah Emas Di Kaki Pelangi, karena saya menuliskan ini juga setelah membaca buku itu, tetapi jelas bukan dimaksudkan sebagai review karena fokus di tulisan ini adalah bahwasannya saya ingin menampilkan tentang perkembangan dunia tambang di Indonesia dari masa ke masa. Jadi kalau di buku itu tujuannya adalah untuk mengungkap kasus penipuan terbesar dalam dunia pertambangan Indonesia oleh perusahaan Bre-X, maka saya disini mencukupkan diri pada beberapa data yang ada dalam buku itu untuk melengkapi pemahaman saya terhadap bagaimana jalannya sejarah pertambangan di Indonesia, yang kata orang sumber daya alamnya melimpah itu. Oia, buku Pak Bondan itu adalah hasil reportase dan investigasinya atas kasus Bre-X)

Nah jadi dari awal saya sudah bilang, meski rujukan primer tulisan saya adalah buku itu, tetapi ini bukan review. 😀 Intinya ingin bercerita tentang sejarah panjang pengelolaan pertambangan dan perminyakan nasional di tempat strategis ; Kalimantan (?) dan Irian Jaya atau Papua (Gunung Ersberg, dan Grasberg), dan beberapa revisian peraturan didalamnya seperti Kontrak Karya, Kuasa Pertambangan, dlsb.

Isu tentang kekayaan yang dikandung perut bumi Indonesia sepertinya memang tidak akan lekang oleh waktu dan tak akan pernah habis bosan untuk diperbincangkan. Tentang bagaimana pengelolaannya, apakah pemerintah sudah benar dalam bertindak dan bersikap khususnya terkait PMA (Penanaman modal asing), tentang daulat energi (terkesan sangat keren dan nasionalis sekali bukan istilah ini? :D), dan sederet hal-hal lainnya yang ternyata masih berupa opini, terkaan dan dangkal sekali. Jauh dari analisis kenyataan dan lapangan. Justru di medan aslinya, bisnis di sektor pertambangan ini sangat rawan dan beresiko tinggi. Nanti kita akan tahu kenapa hanya segelintir perusahaan atau orang yang mau terjun ke bisnis ini. Ibaratnya, investasi awal di bisnis ini tergolong sangat besar dengan kepastian yang belum tentu. Kan ini namanya gambling, iya ndak? Baik di sektor pertambangan atau perminyakan.

Konon, untuk mengadakan eksplorasi dan eksploitasi minyak hingga pengeborannya diperlukan sekurangnya 20 sumur yang harus di bor dengan biaya persumurnya mencapai 20 juta dollars. Dan dari 20 sumur tersebut belum tentu ada minyaknya. Tetapi kalau ada satu saja sumur yang ada minyaknya, itu sudah mengcover biaya awal tadi. 😀 makanya minyak bisa jadi sedemikian mahalnya. Tapi, subsektor pertambangan minyak risikonya jauh lebih kecil dibanding dengan pertambangan emas.

Nah, kata Jim Bob Moffett juga begitu, doi yang merupakan orang elit di PT Freeport pernah mengatakan bahwa usaha di bidang pertambangan adalah usaha yang sangat tinggi resikonya.

“Bila Anda mau memasuki bidang usaha pertambangan, Anda harus memiliki kepiawaian teknis, ditunjang dengan konsultan ahli yang punya reputasi baik, di samping modal yang sangat besar. Tidak ada jalan pintas. Anda harus mengikuti program eksplorasi yang komplet untuk menemukan cebakan yang bernilai komersiel tinggi. Peluang bagi seseorang yang punya modal pas-pasan – memperhitungkan kondisi alam Indonesia yang berat – untuk menemukan endapan mineral adalah sangat kecil, seperti keajaiban.”

Kemahsyuran Sumatera sebagai Pulau Emas telah berlangsung selama dua ribu tahun (?)*Kita tentu boleh bertanya angka tahun itu pak bondan dapat darimana :mrgreen: . Tapi sayangnya, tak cukup banyak catatan tentang kegiatan penambangan emas di Swarnadwipa ini. Peta kuno pra-kolonial Sumatera menunjukkan adanya dua tempat penambangan emas, yaitu: Rejanglebong di bagian utara Bengkulu, dan Batanggadis dibagian selatan Sumatera Barat. Tempat-tempat lain di Sumatera yang diketahui mempunyai deposit emas pada masa itu adalah di sekitar: Meulaboh di Aceh; Kotacina di Sumatera Utara; Muarasipongi, Buo, Batangasai, dan Salida di Sumatera Barat. Kotacina, misalnya, merupakan pelabuhan dagang yang ramai pada abad 11-13. Tak ada catatan sejarah tentang penambangan emas di Kotacina, tetapi penggalian arkeologis di sekitar Kotacina menemukan berbagai perhiasan emas purba.

Lalu tentang Kalimantan, …

– Pulau ketiga terbesar di dunia, setelah Greenland dan Irian – sangat sedikit kehadiran catatan-catatan etnografi masa lampau yang menunjukkan adanya kandungan emas. T.M. van Leeuwen, penemu cebakan emas Kelian, dalam Journal of Geochemical Exploration hanya menulis secara sepintas tentang penambangan emas oleh orang-orang Cina di Kalimantan pada abad ke-4. Sebuah catatan lain menunjukkan adanya temuan benda purbakala terbuat dari emas di Sambas dan Limbang, Kalimantan Barat. Mineral emas juga tercatat ditemukan di sekitar Monterado di Kalimantan Tengah, sekitar Martapura di Kalimantan Selatan, dan sekitar Barito di Kalimantan Selatan (John N. Miksic, 1989). Kegiatan penambangan di Kalimantan yang tercatat di masa lalu – berdasarkan catatan geologi Belanda pada 1930 adalah sebuah tambang batubara enam kilometer dari muara Sungai Kelian, Kecamatan Longiram, Kabupaten Kutai, Di masa modern, sumberdaya tambang yang terkenal di Kalimantan adalah minyak. Pada masa Perang Dunia II, Jepang berusaha keras menduduki Kalimantan karena minyak bumi yang akan dipakai untuk menggerakkan mesin-mesin perang.

Sebagian orang juga berteori bahwa nama Kalimantan sebetulnya berasal dari kata “kali”,”emas”, dan “intan”, yang menunjukkan adanya keterkaitan pulau ini dengan hasil tambang emas dan intan. Intan yang merupakan alotropi karbon – dan merupakan zat alami terkeras yang dikenal orang – sudah ditemukan di berbagai tempat di Kalimantan Tengah, Selatan, dan Barat selama beberapa abad. Tambang intan tradisional yang terkenal di Kalimantan adalah Martapura. Di Campaka, dekat Martapura, Kalimantan Selatan, pada 1965 ditemukan intan sebesar 166 karat yang terkenal dan diberi nama “Trisakti”.

Sebenarnyalah terdapat cukup banyak bukti yang menunjukkan adanya kegiatan penambangan emas dan intan di Kalimantan. Pada pertengahan abad 18, Sultan Mempawah (Kalimantan Barat) mendatangkan sekitar 20 orang Cina dari Provinsi Kwantung untuk dipekerjakan di tambang-tambang emas di Kalimantan Barat. Keberhasilan pekerja-pekerja tambang dari Cina itu membuat Sultan Sambas dan para sultan lainnya pun mulai mendatangkan pekerja-pekerja tambang dari Cina. (Catatan Penulis: satu abad kemudian para penjajah Belanda meniru cara yang sama dengan mendatangkan pekerja-pekerja tambang dari Cina untuk menggarap pertambangan timah di pulau-pulau Bangka, Belitung, dan Singkep).

Kalau kita pelajari perjanjian kerja antara para sultan dan pekerja tambang di masa itu, sebenarnyalah mereka sudah menggunakan konsep profit sharing atau production sharing. Kedua belah pihak mempunyai kedudukan yang setara (equal partners) dalam perjanjian bagi hasil itu. Kabar pun segera terdengar di kalangan orang-orang Hakka dan Hoklo di Provinsi Kwantung tentang adanya cebakan emas di Kalimantan Barat. Semacam gold rush pun terjadi ketika orang-orang dari Kwantung ini berduyun-duyun datang ke Kalimantan Barat.

Sejarah Gunung Emas Cartenz, Irian Jaya. (Hal 5)

Dibanding temuan-temuan cebakan emas di kalimantan, nyatanya, penemuan emas di Irian Jaya lah yang merupakan salah satu surprise zaman modern Indonesia. Awalnya adalah pada tahun 1936, seorang geolog Belanda bernama Jean-Jacques Dozy yang menjadi anggota ekspedisi Colijn berhasil mencapai Ngga Pulu, 4906 meter. Ngga Pulu pada waktu itu adalah puncak yang tertinggi pada garis antara Puncak Himalaya dan Puncak Andes. Pada waktu itu Ngga Pulu bahkan lebih tinggi dari Puncak Jaya, puncak tertinggi Pegunungan Carstenz pada saat ini. Mencairnya es pada Puncak Ngga Pulu membuat ketinggiannya terus menurun dari tahun ke tahun. Perlu dicatat bahwa Ekspedisi Colijn bukanlah ekspedisi geologi, melainkan untuk melihat gunung berpuncak es yang tampak oleh pelaut-pelaut Belanda yang melintasi perairan Irian.

Pada ketinggian 3500 meter, Jean-Jacques Dozy, terperangah melihat sebuah bukit yang tampak hitam pekat, menjulang dengan ketinggian 75 meter di atas padang rumput alpin. Naluri geologinya segera mengatakan bahwa bukit yang sedang dilihatnya itu adalah sebuah cebakan mineral yang teramat kaya. Ia menamakan julangan itu sebagai Ertsberg, Gunung Bijih. “Tak salah lagi,” kata Dozy ketika itu. “Tak seorang geolog pun bisa tertipu oleh gunung hitam ini. Titik hijau dan birunya terlalu nyata untuk mendeteksi kandungan tembaga yang kaya di dalamnya.” Itulah mungkin yang disebut sebagai sense of engineering atau intuisinya engineer, anak teknik pasti tahu istilah itu. 😀

Laporan Jean-Jacques Dozy itu diterbitkan pada 1939 dan sejak itu mendekam di perpustakaan Universitas Leiden, mengumpulkan debu. Perang Dunia II yang kemudian pecah menciptakan prioritas-prioritas baru yang membuat laporan Dozy itu semakin terlupakan. Baru pada 1959 seorang Forbes Wilson –ketika itu geolog pada Freeport Sulphur yang berpusat di Louisiana, Amerika Serikat– dalam riset kepustakaannya menemukan laporan Dozy itu. Dozy tak hanya menulis tentang kekayaan cebakan yang diduga mengandung tembaga itu, tetapi juga melaporkan bahwa tempat itu mungkin merupakan lokasi tambang yang paling sulit di dunia. Bulu Kuduk Forbes Wilson bangkit. Ia tahu bahwa ia sedang dalam proses menemukan sebuah harta karun yang tiada terperi.

Pada tahun 1960 Forbes Wilson sudah merayap mendaki Ngga Pulu. Bila pada 1936 Dozy memerlukan 57 hari setelah diterjunkan dengan parasut, pada 1960 Wilson memerlukan 17 hari untuk mencapai tempat itu. Wilson segera menemukan kesalahanDozy. Gunung Bijih itu bukan 75 meter tingginya, melainkan 179 meter. Lebih daripada itu, Wilson juga menaksir bahwa kandungan tembaga dari Ertsberg bisa ditemukan hingga kedalaman 360 meter. Apa yang ditemukan Wilson adalah jauh lebih besar daripada apa yang diduga Dozy (George A. Mealey, 1996). Tetapi, Freeport belum bisa segera melaksanakan niatnya untuk menambang kekayaan Irian Jaya. Kondisi politik Indonesia pada waktu itu sedang mengalami berbagai kerawanan. Baru pada awal Pemerintahan Orde Baru, Freeport mengajukan izin dan menjadi PMA (Penanaman Modal Asing) yang pertama di Indonesia. Freeport kemudian mengontrak Betchel – perusahaan konstruksi terkemuka di Amerika Serikat – untuk membangun sarana penambangan di medan yang sangat sulit itu. Dan Freeport pun menemukan keberuntungannya. Tambang tembaga itu ternyata mempunyai kandungan emas yang sangat tinggi.

Berburu Emas

Dari baheula hingga sekarang ternyata ketergila-gilaan manusia terhadap logam mulia, yaitu emas, tak pernah kunjung surut. Bahkan dalam sejarahnya, ilmu kimia pun juga sempat dibayang-bayangi oleh mitos tentang emas ini, yaitu bagaimana pencarian para kimiawan terhadap senyawa atau unsur apapun (kayu misalnya) yang bila direaksikan akan menghasilkan emas.

Nah, Penemuan emas ternyata masih merupakan hal yang diburu orang. Dari Stockwatch Canada (informasi bursa saham Canada) yang mempunyai situs web di Internet, setiap minggu sedikitnya ada tiga berita tentang temuan emas di berbagai penjuru dunia. Ini berkaitan dengan banyaknya junior companies Canada yang bergerak di bidang ekplorasi mineral di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia saat ini diperkirakan sekitar seratus junior companies Canada melakukan kegiatan penelitian umum dan eksplorasi.

Sebelum abad 18, penghasil utama emas di dunia adalah Amerika Selatan. Pada abad 16, ekspedisi-ekspedisi yang dikirim Spanyol untuk menemukan El Dorado di Amerika Selatan, malah menemukan harta karun Aztec di Meksiko dan Inca di Peru, serta menjarahnya untuk dibawa pulang ke Spanyol. Emas pada masa itu kebanyakan dipakai sebagai mata uang dan perhiasan. Oia, bisa dipastian bahwa disamping emas, pasti selalu ada kolonialisme disana. Inget prinsip 3G kaum penjajah kan? Gold adalah salahsatu motifnya. 😀

Sekilas tentang Kontrak Karya. (Hal 17)

Sedikit menyinggung tentang regulasi pemerintah Indonesia di bidang emas, minyak atau gas yang dikategorikan sebagai sumber daya alam. Di UUD kita, secara jelas hal tersebut dinyatakan dalam ayat 3 Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Bersumber dari amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang sakral itulah semua peraturan tentang pertambangan diderivaksikan. Secara bijaksana pula Pemerintah membuat penafsiran, bahwa “menguasai” tidaklah identik dengan “memiliki”. Penafsiran ini merupakan landasan penciptaan peraturan-peraturan di bidang usaha pertambangan Indonesia. Dalam sebuah diskusi di Sekretariat Negara sekitar sepuluh tahun yang lalu, Pemerintah bertekad untuk mengurangi kesan (down tone) kepemilikan, dan sebaliknya mencuatkan kepentingan pemasukan negara, kesempatan kerja, dan mengurangi kesenjangan dengan memakai aset yang dikuasai Negara.

Hasil tambang yang pertama kali diatur oleh Pemerintah adalah minyak bumi. Pada dasarnya, Pemerintah menerapkan konsep production sharing dalam pengelolaan sumberdaya minyak bumi Indonesia dengan kontraktor-kontraktor asing. Kurangnya pengalaman Pemerintah pada waktu itu (baca : sekira zaman orba) dalam menangani kontrak-kontrak yang melibatkan perusahaan besar dari mancanegara, membuat Pemerintah memperlakukannya dengan penuh kewaspadaan. Salah satu hal yang dianggap “menakutkan” bagi pemerintah pada waktu itu adalah munculnya kekuatan tujuh perusahaan minyak raksasa yang dikenal dengan sebutan “The Seven Sisters”. Pada satu titik, “The Seven Sisters” ini, baik secara sendiri-sendiri maupun beraliansi, bisa saja mendikte pemerintah dengan usulkan klausal-klausal perjanjian yang menguntungkan mereka.

Untuk mencegah kemungkinan itu, Pemerintah menerapkan strategi merangkul perusahaan-perusahaan ekplorasi perminyakan berskala kecil (junior companies) untuk beroperasi di Indonesia. Asamera, misalnya, adalah salah satu perusahaan ekplorasi minyak pertama yang oleh Ibnu Sutowo, Direktur Utama Pertamina pada masa itu (kalo pernah baca novelnya Habibi-Ainun gak akan asing dengan nama itu. Hehe), diberi kontrak untuk melakukan eksplorasi di Indonesia. Asamera berhasil dan hingga kini masih eksis, bahkan telah men-transformasi-kan dirinya menjadi perusahaan minyak yang andal, tidak lagi sekadar yunior. Contoh perusahaan yang semula kecil dan kini telah berhasil di bidang perminyakan Indonesia adalah IIAPCO.

Kontrak Pertambangan berdasarkan production sharing itu hanya berlaku bagi komoditi minyak dan gas bumi, serta batubara. Batubara dimasukkan dalam klasifikasi yang sama karena fungsinya sebaga sumber energi. Untuk jenis-jenis mineral lain, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pertambangan, Pemerintah menerapkan sistem Kuasa Pertambangan (KP, hanya untuk pengusaha nasional), Dan Kontrak Karya (KK, hanya untuk perusahaan asing). Lahirnya Undang-Undang Pertambangan itu juga memberikan landasan yang lebih mantap bagi peningkatan operasi penambangan mineral. Pada 1952, misalnya, telah berakhir masa konsesi bagi perusahaan-perusahaan pertambangan Belanda yang melakukan penambangan timah di pulau-pulau Bangka, Belitung, dan Singkep. Sebelum lahirnya Undang-Undang Pertambangan, perusahaan tambang timah negara itu nyaris beroperasi di atas aturan-aturan yang ad hoc, antara lain dengan Perpu 37.

Pembedaan sistem itu sebetulnya sangat berlandasan. Penambangan mineral jauh lebih tinggi risikonya dibandingkan penambangan minyak dan gas bumi. Perusahaan minyak, misalnya, cukup mengebor dua lubang – di Indonesia pada kedalaman 600-2000 meter, di tempat-tempat lain bisa sampai 3000 meter –dengan biaya sekitar AS$4 juta per lubang, untuk bisa memutuskan apakah terdapat cebakan ekonomis di kawasan itu. “Bahkan, bila tajam analisis seismiknya untuk menemukan oil trap atau gas trap di dalam perut bumi, dengan satu lubang pun sudah ketemu,” kata B.M.W. Siagian, seorang geolog kawakan yang kini memimpin PT Timah Investasi Mineral. Perusahaan tambang mineral, sebaliknya, harus melakukan pengeboran sebanyak ratusan lubang sebelum bisa menarik kesimpulan tentang adanya cebakan ekonomis. Biaya pengeboran rata-rata mencapai AS$100 per meter, atau sekitar AS$25,000 per lubang. “Tergantung jenis batuan di mana mineralisasi ditemukan. Bisa mahal, bisa kurang mahal,” kata Siagian. Perbedaan utama antara KPS (Kontrak Production Sharing) dan KK (Kontrak Karya) adalah bahwa KPS manajemen seluruh kontraktor asing ditengani oleh Indonesia, dalam hal ini Pertamina. Setiap perencanaan pengembangan harus disetujui Pemerintah. Untuk produk minyak, Indonesia memperoleh bagian 85%, sedangkan kontraktor memperoleh 15% sebagai upah. Untuk gas bumi, kontraktor memperoleh upah lebih besar, yaitu 30%.

Susahnya Menambang Mineral itu, … (Hal 21)

Menurut Soetaryo Sigit bahwa success rate untuk usaha pertambangan mineral emas rasionya adalah kurang dari 3:100. Padahal di subsektor minyak dan gas bumi angka keberhasilannya bisa mencapai 1:2. Sukses yang dicapai segelintir perusahaan tambang mineral hanyalah sebuah puncak gunung es yang tampak di atas permukaan laut. Di bawahnya terpuruk ratusan perusahaan tambang yang sedang berusaha untuk mencapai puncak gunung es, dan sebagian besar bahkan sudah terkubur beku di bawah sana.

Risiko teringgi yang dihadapi perusahaan pertambangan adalah biaya eksplorasi yang tak ada batasnya. Siapa yang bisa memastikan bahwa setelah sumur bor keseratus akan ditemukan emas? Tingginya risiko usaha pertambangan juga diperkuat dengan unsur-unsur berikut: lokasinya yang jauh di pelosok tanpa infrastruktur memadai, memerlukan modal yang sangat besar (capital intensive), usia penambangan yang terbatas, serta pencegahan pencemaran dan rehabilitasi lingkungan yang juga mahal biayanya (sosial maupun aktual). Kuntoro Mangkusubroto dalam ceramahnya di Metal Mining Agency of Japan pada akhir September 1996 mengatakan: “Every mineral prospect is now the site of intense environmental, social and political negotiation.” Harga komoditi mineral yang ditetapkan oleh pasar membuat perusahaan penambangan hanya menjadi price taker yang setiap saat berada dalam posisi rawan oleh goyangan harga pasar. Belum lagi bila harus dipertimbangkan upaya-upaya Pengembangan wilayah (community development) mengingat lokasi operasi biasanya berada di daerah terpencil yang terbelakang pembangunannya. Semua risiko itu juga membuat rintangan lain bagi perusahaan pertambangan: sulitnya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan. Anggapan-anggapan umum dan para pakar yang kurang memahami masalah untuk memperketat aturan-aturan Kontrak Karya – apalagi mengubahnya menjadi Undang-Undang – akan berakibat kontra-produktif. Misalnya, Rachman Wiriosudarmo, mengatakan bila kontraktor ditekan dengan pajak yang semakin tinggi, dampaknya adalah pada merosotnya komitmen di bidang perlindungan lingkungan, konservasi mineral, dan pengembangan wilayah. Pada masa Mohamad Sadli menjadi Menteri Pertambangan, misalnya, pernah diberlakukan ketentuan tentang windfall profit (bila keuntungan melebihi 15% dikenai pajak tambahan) yang antara lain membuat “kosong”- nya permohonan Kontrak Karya selama sepuluh tahun. Unsur keberuntungan boleh dikata tak ada di bidang usaha pertambangan. Jim Bob Moffett, CEO Freeport, selalu mengatakan bahwa: “Luck is when hardwork meets opportunity.” Perusahaan-perusahaan pertambangan yang sekarang berada di puncak gunung es itu bukanlah perusahaan-perusahaan yang beruntung. Mereka telah terlebih dahulu mempertaruhkan segala daya dan dana untuk menemukan cebakan mineral yang dikejarnya.

Referensi bacaan :

  1. Bre-X ; Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, Bondan Winarno. bagi yang ingin membacanya dalam bentuk pdf, silakan sudah ada yang berbaik hati menguploadnya di sini.
Historis · Musik

Denting Sonata Berusia 200 Tahun

Saya selalu terpukau dan kagum terhadap karya-karya musisi klasik kelas wahid semacam Beethoven, Mozart, Schubert, Bach atau Schuman (kesemua orang yang keren ini ternyata saling terkoneksi dan membentuk jaringan murid-guru, itu artinya murid yang keren terwarisi juga oleh gurunya yang sama kerennya). Bagaimana mereka bisa menjadikan perasaannya kedalam deretan alunan musik yang indah dan menggetarkan. Coba dengarkan Fur Elise-nya Beethoven yang menyayat hati dan mendayu-dayu itu. Saya selalu berdecak kagum setiap mendengarkan denting piano sonata berusia 200 tahun yang sampai hari ini terus direproduksi untuk berbagai keperluan itu – dari bel pintu dan musik permanen penjual es krim keliling sampai nada dering telepon seluler terbaru. Atau Movement finale symphoninya dia yang ke-9. Bila kita membaca jurnal-jurnal musik yang membedah struktur, komposisi, pesan dan apa yang tersurat dalam deretan note musik itu, kita akan mengerti betapa musik, yang kata Pidi Baiq, itu adalah perasaan yang bisa didengarkan. tanpa musik, hampalah dunia ini. Beneran. 🙂

Setiap mendengarkan Fur Elise-nya Beethoven saya mencoba untuk menghayati bagaimana amuk cinta Beethoven pada Elise (atau dalam versi lain kepada Therease), lalu menghayati bagaimana Beethoven menuangkan kekecewaannya menjadi suatu karya seni yang jempolan. Tapi setiap itu juga usaha saya nyaris selalu gagal. Saya hanya tau bahwa didalamnya mungkin berisi ketulusan, keresahan, dan kesyahduan cinta– juga kegemasan, ketaksabaran dan kadang ketakkuasaan membendung luapan perasaan yang menerjang-nerjang liar tak terkendali. Fur Elise, sebuah symphoni tentang rintihannya yang menyayat hati karena perpisahan dengan orang yang dicintainya. Tepatnya ditinggal nikah sih. :p Begitulah, derita cinta itu memang tiada akhirnya, Cuk.

beethoven
Ini orang yang sedag kita perbincangkan itu. gambar by Joseph Karl Stieler, 1820. diambil dari wikipedia.org

Well, tapi kita pun perlu beruntung, kalau seandainya Beethoven tidak merasakan patah hati, hingga sekarang mungkin kita tidak akan pernah bisa menikmati keindahan Fur Elise. Yap. Kadang, seseorang yang patah hati pun bisa berkarya, karena patah hati juga ternyata merupakan potensi untuk berkarya, seminimalnya dengan begitu kita bisa membuat puisi. Haha. Jadi, daripada terkungkung pada tragedi, sebaiknya dari sekarang kita mulai membiasakan diri untuk melihat celah positif dari apapun yang menimpa kita, yang kalau dari tampaknya seperti sebuah derita. Padahal, bisa jadi itu sumber bahagiamu, juga. Dan satu lagi, Ini juga menjadi alasan bahwa setiap mahasiswa teknik seminimalnya perlu menguasai satu alat musik, entah itu gitar, piano, biola, harmonika atau apapun itu, untuk mengantisipasi keadaan-keadaan ‘full presured’ oleh sebab ditolak cinta. Atau diterima cinta.

Lalu saya juga tidak berhenti kagum kepada Beethoven ini, orang yang membuat saya tak habis heran karena ia menulis Symphony No.6, sebuah puisi musikal yang mengiris (saya menyukai interpretasi dari Cleveland Philharmonic Orchestra). Pusat Studi Beethoven di Universitas Colorado menyimpan beberapa puluh lembar rambut maestro Jerman itu, dan dari sana menyimpulkan bahwa tingginya kadar timah dalam air minum dan air mandinya adalah penyebab ia cepat tua dan berambut perak. meskipun saya juga tertarik untuk tahu dari lapisan batinnya yang manakah ia mengeluarkan Fur Elise – juga Das Lebowl, rintihannya yang menyayat hati karena perpisahan dengan kekasih itu. Orang yang membuat saya mencoba buka-buka dan baca-baca jurnal music yang menganalisis karya-karyanya. Dan ternyata mengasyikan sekali. musik memang ajaib, ia bisa menimbulkan efek sedih, gembira, haru, emosional dan mampu membangkitkan kenangan atau masa lalu. karena itulah musik bisa dijadikan sebagai sebuah terapi. 🙂 seperti misalnya unsur2 musik yang paling mempengaruhi pendengarnya adalah bagian beat, ritme dan harmoni, belum lagi ada unsur2 semacam biomusicology, musical acoustics, music theory, psychoacoustics, embodied music cognition, aesthetic of music, dan comparative musicology, yang tidak akan dijelaskan sekarang. mungkin kapan-kapan lah.

Kalo kita lihat-telaah Movement finale symphoni ke-9-nya Beethoven ini, kita akan tau bahwa itu adalah karya terobosan yang coba dihadirkan oleh Beethoven dalam kehidupan sekaligus karir bermusiknya. Sebuah karya yang menandai depresinya yang akut karena terserang ketulian yang parah. Bayangkan, seorang manusia yang mencintai musik di uji dengan tuli, penderitaan yang luarbiasa menekan dan membuat diri sesak mengap-mengap. Seolah dunia menjadi begitu sempit. Padahal, kata beberapa kritikus musik, Beethoven mengalami ketulian ketika sedang berada di puncak-puncak karirnya. Sungguh miris sekali.

Dari beberapa jurnal musik yang saya baca, saya dapati beberapa detail terkait dengan Beethoven dan karya-karyanya ini yang kadang perlu konteks dan latar cerita didalam ruang dan waktu yang seperti apakah ketika Beethoven mengkreasi ciptaan-ciptaannya. Ini nantinya akan membuat kita menjadi lebih paham setiap alunan nada yang ia hasilkan. Apakah berangkat dari perasaan sedih, marah, bahagia, rindu, merana atau seperti apa. Ada indikasi menebak-nebak, tetapi justru itulah keasyikannya tersendiri ketika bergumul dengan nada-nada indah setiap composer dunia, meski dari dulu saya gak bisa-bisa mainin piano. Haha. Saya hanya penikmat tok. Plus pengamat amatiran.

Makanya tidak mengherankan bila banyak sekali orang yang menaruh minat dan tertarik kepada (karya) Beethoven. Sudah berapa jurnal yang membahas, menganalisis struktur material musiknya, mengujicobakannya, memodifikasinya dan mengembangkannya dalam varian yang baru. Itulah sebabnya dalam dunia music, masalah originalitas itu hanya utopia belaka. Tidak ada yang benar-benar original dan kita bisa bermalam-malam untuk mendiskusikan tentang apa maksudnya original, plagiat, sadur, edit, atau lain sebagainya.

Kritikus music umumnya menyukai tafsiran mereka atas karya-karya Beethoven karena dinilai didalamnya memang terdapat paduan yang unik. Tidak sekedar merepresentasikan perasaannya saja, lebih jauh dari itu Beethoven adalah orangnya yang menjadi jembatan peralihan dari genre music klasik ke eranya music romantic. Artinya Beethoven memang sudah jadi fenomenal. Hingga lagunya yang kita bahas diawal, Fur Elise, cukup menyita perhatian dan mengundang perdebatan yang tidak sebentar. Tentang siapakah sebenarnya Elise itu, apakah ia memang ditujukan untuk Elise, atau cuma karena typo orang yang menyalin karyanya sebagai Therease, atau siapa, hingga saat ini belum diketahui. Sebuah perdebatan yang terasa konyol, tapi percayalah, untuk sesuatu yang engkau cintai, kau ingin tahu segalanya. Sedalam-dalamnya. Disini, fanatik dan cinta menjadi blur dan bias konteks.

Referensi :

“Fur Fathia”, Ahmad Basyaib. sebuah artikel yang menarik yang menginspirasi untuk membuat tulisan serupa. manusia dengan jenis pengetahuan ensiklopedi

“Beethoven’s deafness and his three styles”
Edoardo Saccenti1,2, Age K Smilde1,2, dan Wim H M Saris2,3

  1. Biosystems Data Analysis Group, Swammerdam Institute for Life Sciences, University of Amsterdam, Science Park 904, 1098 XH, Amsterdam, Netherlands
  2. Netherlands Metabolomics Centre, Einsteinweg 55, 2333 CC, Leiden, Netherlands
  3. Department of Human Biology, Maastricht University Medical Centre, Universiteitssingel 50, 6229 ER, Maastricht, Netherlands

“British Medical Journal”, 2011; 343, 20 December 2011

William Kinderman, The Cambridge Companion to Beethoven, Cambridge: Cambridge University Press, 2000, p. 125–126, ISBN 978-0-521-58934-5

Max Unger, diterjemahkan oleh Theodore Baker, “Beethoven and Therese von Malfatti,” The Musikal Quarterly 11, no. 1 (1925): 63–72.

Historis · Politik

Masihkah Rambut Gondrong Mahasiswa Menandakan Idealisme?

*Pernah diposting sebelumnya di LPM 1.0 (Pers Mahasiswa ITS)

Rambut gondrong pernah menjadi musuh awal Orde Baru selain komunisme.

(Anonim)

Setidaknya kita tahu bahwa yang memperjuangkan kemerdekaan ini sebagiannya adalah para pemuda, yang dikemudian hari mempunyai peran yang tidak sepele dalam mengawal kebijakan pemerintahan. Para pemuda atau mahasiswa ini merupakan garda terdepan yang memperjuangkan aspirasi rakyat bawah yang dirasa masih murni mempunyai idealisme dan tidak bias kepentingan. Bila berbicara tentang pemuda atau mahasiswa, saya selalu suka dengan kata-katanya Tan Malaka yang ini, “Hanya idealismelah satu-satunya kemewahan yang dipunyai oleh anak muda”. 

Lantas kita juga tahu bahwa yang melengserkan orde baru itu digerakan oleh spirit ‘perlawanan’ dari kaum intelektual muda ini (meski tidak sesederhana itu juga sih sejarah real di belakang gerakan 98 itu) yang artinya mahasiswa patut diperhitungkan dalam kontestasi perpolitikan di Negara ini. Meski kita lihat belakangan ini ada upaya-upaya untuk mencegah keterlibatan mahasiswa dalam panggung perpolitikan dan mengkerdilkan statusnya untuk sekedar belajar tok di kampus, gak usah macem-macem. Jadi sekarang kalau kita melihat mahasiswa terhadap pmerintah itu bak singa ompong yang sudah kehilangan tajinya.

Pembukaan diatas yang secara singkat menggambarkan pemuda, mahasiswa, sejarah dan politik ini perlu saya kedepankan sebelum membahas tema yang menarik yaitu kaitannya rambut gondrong dengan idealisme mahasiswa. Emang ada kaitannya kah? Eits faktanya rambut gondrong itu pada suatu waktu pernah menjadi spirit perlawanan kaum muda atau mahasiswa dalam merongrong kemapanan kuasa pemerintah yang terlalu mengatur lho.

Bagi generasi millennial semacam kita rambut gondrong bukanlah sesuatu yang ada hubungannya dengan idealisme. Semenjak SD hingga SMA doktrin itu masih terus melekat dalam benak bahwa anak laki-laki gak boleh berambut panjang. Dan kita pun mengiyakannya begitu saja, tanpa kita tahu mengapa harus begitu? Ketika SMP atau SMA saya termasuk yang mempermasalahkan kekonyolan pihak sekolah yang merazia (memotong paksa) siswa yang berambut panjang hanya demi alasan ‘kerapihan’. Citranya sudah kelewat negatif bagi seseorang yang berambut panjang, dicap urakan lah, gak bisa diatur, anak nakal, dan sederet label2 negatif lainnya. Padahal, kan tidak selamanya siswa berambut gondrong begitu, ya ndak?

Kita memang hidup pasca orde baru, sehingga kehidupan kita juga secara tidak langsung masih terwarisi pikiran-pikiran orde baru yang sepenuhnya tidak bisa dihilangkan. Mental “cari aman”, “gimana bapak saja”, “wes manut ae”, dlsb masih mendominasi sebagian besar orang-orang sekarang. Tak terkecuali mahasiswanya juga. Nah, warisan ini akan semakin mudah kita pahami manakala kita tahu konstruksi sejarah yang diciptakan oleh orde baru dan bagaimana orde baru memainkan peran politik dan kuasanya. Bila kita perhatikan mengapa orde baru bisa sampai ‘tahan’ hingga 32 tahun, akan kita dapati bahwa ternyata narasi sejarah yang mereka ciptakan dan mereka tanamkan itu harus dianggap sebagai sebuah kebenaran yang tanpa gugatan.

8035942
Buku yang aduhai muantep dan degilnya. Top! bisa diperoleh di toko buku kesayangan pemiliknya.

Terkait dengan perbincangan kita kali ini, sebetulnya ada satu buku menarik yang kebetulan membahas tema serupa, yaitu tentang wacana rambut gondrong dan instabilitas politik nasional yang dikarang oleh Aria Wiratma Yudistira dengan judul “Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an”, sebuah buku yang sebetulnya merupakan skripsi beliau di Jurusan sejarah UI. Di kalangan mahasiswa sejarah UI buku ini masih merupakan skripsi yang fenomenal dan greget, karena mengangkat tema yang seksi tetapi sangat penting untuk melihat celah kekosongan sejarah nasional kita yang cenderung disetir oleh pemerintah. Bukan hal yang baru bahwa pemerintah memang melegitimasi kekuasannya dengan sejarah. Dalam buku itu secara gamblang ditampilkan bagaimana orde baru sampai harus mengatur rambut masyarakatnya, atau spesifiknya kaum pemuda atau mahasiswanya. Ini bukan hal yang berlebihan mengingat jargon yang digaungkan oleh orde baru adalah tentang stabilitas nasional dalam bidang politik, ekonomi dan budaya. Hal-hal yang merongrong itu semua, sebisa mungkin dipadamkan sebelum menjalar kemana-mana. Termasuk bila para pemuda atau mahasiswa dianggap merongrong kekuasaan orde baru, maka pemerintah tidak akan tinggal diam untuk mendepolitisasi seluruh pergerakan mahasiswa. Contoh sederhananya adalah bagaimana Orba merubah istilah pemuda yang memiliki konotasi politik dan bersifat revolusioner sebagaimana pada periode-periode sebelumnya, menjadi remaja atau yang pada periode 1990-an disebut ABG (Anak Baru Gede). Remaja digambarkan sebagai kumpulan orang belum matang, cenderung bergerombol, kadangkala menggunakan seragam sekolah, tidak disiplin gampang naik darah, liar, dan yang terutama menjadi bagian yang tidak penting, bau kencur dan tidak tahu apa-apa. Ketika zaman Orba kosa kata pemuda haram digunakan.

Anak muda, yang sebelumnya menjadi katalis gerakan rakyat, secara sistematis dimatikan potensinya. Mereka dijauhkan dari kehidupan berpolitik dengan cara memposisikan mereka sebagai pewaris idealisme pembangunan Orde Baru. Demi menjaga stabilitas nasional, tindak preventif yang berlebihan pun dilakukan hingga selera pribadi seperti gaya rambut menjadi ancaman yang dianggap potensial. Kalau sekarang kita akan menganggap kebijakan itu konyol, tapi percayalah bahwa itu pernah terjadi di negeri ini. J

Kronologisnya kira-kira begini, Zaman 60-an itu menandai lahirnya Orde baru, lalu dunia berada dalam suasana perang dingin gontok-gontokan antara kubu Amerika dengan Soviet, Nah ketika itu diikuti juga dengan tren budaya hippies yang sedang marak-maraknya dan mewabah. Budaya Hippies sendiri adalah salah satu gerakan counter-culture yang berkembang di Amerika Serikat pada era itu. Gerakan ini lahir sebagai antitesis dari generasi sebelumnya yang dinilai telah jauh dari alam tempat mereka berasal. Menurut mereka manusia modern telah dibutakan oleh ambisi menaklukkan, perang, dan menang.

Tidak mau kalah oleh tren global, ternyata ada sebagian anak muda Indonesia yang juga ikut-ikutan mengikuti mode tersebut sebagai penyaluran atas ekspresi kebebasan dengan membiarkan rambut gondrong, celana berpotongan cutbrai, dan pakaian tampil kedodoran. Melalui koran, majalah serta radio dan film-film, anak-anak muda di kota-kota besar di Indonesia terbawa pengaruh mode macam ini. Tapi perilaku itu tidak diikuti dengan pemahaman atas nilai-nilai ideologis yang terkandung didalam tren tersebut.

Lalu, rambut panjang yang menjadi gaya khas anak muda Hippies ini mulai menjadi wacana serius di Indonesia pada awal 70-an. Pemerintah tidak tinggal diam. Oleh pemerintah Rambut gondrong dicitrakan dengan negatif lewat wacana di media masa yang mereka gunakan sebagai alat propaganda, sehingga tidak heran bila judul-judul berita ketika itu berkisar seperti “7 gondrong merampok bis”, “6 pemuda gondrong perkosa 2 wanita”, “Disambar si gondrong”, itu menjadi sesuatu yang biasa. Apa yang digambarkan dalam berita itu menunjukan bagaimana citra rambut gondrong dibentuk.

kang Eka.png
Dosen ITS yang nyentrik karena berambut gondrong.Pak Raditya Eka Rizkiantoro, terinspirasi oleh Indian dan Moge. bekas personel The Panasdalam Band. gambar diambil dari majalah Y-ITS edisi ke-3.

Artinya disini kita melihat bahwa Foucault benar ketika menyatakan bahwa kekuasaan menjadi alat untuk menormalisasi individu-individu melalui serangkain norma dan peraturan yang ditetapkan. Kekuasaan cenderung memaksakan kehendaknya. Menurut Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam bahwa “Pelarangan rambut gondrong tahun 60-an dan 70-an itu bukan hanya soal perbedaan persepsi tua versus muda, militer versus sipil, laki-laki versus perempuan, tetapi menyangkut pula masalah praktik kekuasaan dan simbol perlawanan terhadap kekuasaan tersebut. Mengapa penjahat yang ditangkap aparat keamanan kepalanya digunduli ? Apakah ada anasir subversi bersembunyi di bawah rambut itu? Pada era ’70-an biasanya perampok diberitakan berambut gondrong, tetapi sebaliknya era ’90-an penculik para aktivis dikabarkan berambut cepak.”

Nah jadi saat kekuasaan merumuskan bahwa rambut gondrong identik dengan radikalisme dan sikap acuh tak acuh, disitu ada perlawanan dari mahasiswa. Konon, peristiwa Malari tahun 1974 itu juga berawal dari rambut gondrong. Mungkin kapan-kapan kita perlu mendiskusikan tentang peristiwa Malari ini sebagai bagian dari politik identitas bahwa kita harus tahu sejarah yang sebenarnya, insyaAllah.

Menurut Musyafak di Suara Merdeka, setidaknya ada dua sebab pemerintah merepresi rambut gondrong ketika itu. Pertama, pemuda dianggap penting dalam dinamika kebangsaan sebagai generasi penerus kepemimpinan masa depan hingga perlu kontrol dan pembinaan. Namun, saat itu pemuda justru berkembang tidak sesuai keinginan penguasa. Kondisi politik-ekonomi Orde Baru pada awal 1970-an masih labil oleh pelbagai persoalan naiknya harga pangan maupun bahan bakar minyak (BBM), juga pembersihan orang-orang yang dicurigai terkait gerakan Partai Komunis Indonesia PKI sangat menakuti rakyat. Realitas sosial berjalan tidak sesuai cita-cita politik-kebangsaan, secara tidak langsung mendorong kaum muda bertumbuh sebagai counter culture (budaya tanding).

Secara behavioral, budaya tanding terejawantah dalam pola hidup memilih berbeda dari kebiasaan dominan yang jamak dan lumrah. Salah satunya gaya hidup rambut gondrong yang lebih dianggap masyarakat sebagai laku norak, atau bahkan mreman (berlagak preman). Secara ideologis, budaya tanding ini mewujud dalam kepercayaan nurani yang berkehendak lepas dari jejaring kekuatan dominan dan menolak status quo. Konteksnya dengan Orde Baru adalah penolakan secara radikal terhadap pemapanan tata politik yang otoriter dan mewabahnya korupsi, kolusi, serta nepotisme. Counter culture secara behavioral sekaligus ideologis saat itu diperankan oleh mahasiswa atau pemuda, kebanyakan berambut gondrong, yang kerap melakukan aksi protes dan demonstrasi kepada pemerintah. Fakta besar adalah meletusnya peristiwa Malari (15 Januari) 1974 itu.

Kedua, pemerintah risih melihat perilaku kaum muda mengikuti tren kebarat-baratan dengan cara memelihara rambut panjang. Dan ini yang konyol, Orde baru sampai harus mempermainkan sejarah dengan mengatakan bahwa Rambut gondrong merupakan budaya asing dan bukan kepribadian bangsa Indonesia. Karena setelah dilacak, rambut panjang atau gondrong ternyata bisa ditemukan dalam sejarah keadaban manusia nusantara pada masa kerajaan-kerajaan. Thomas Stamford Raffles (2002) mencatat, pada masanya ketika Belanda berada di Indonesia, khususnya di Distrik Sunda dan Cirebon, menemukan kebanyakan petinggi pribumi berambut panjang.

Artinya bahwa gunting ternyata pernah menjadi alat utama Orde Baru untuk mengatur rakyatnya sendiri.  Mempunyai rambut gondrong itu ternyata tidak sesederhana kelihatannya karena terdapat nilai ideologi dan beban makna serta historis dibelakangnya yang turut menyertainya sebagai pengejawantahan atas ekspresi kebebasan. Tapi Kini, masihkah ada dari mahasiswa yang berambut gondrong itu mewarisi spirit perlawanan, penentangan atas dasar idealisme terhadap kemapanan kuasa elit pemerintah? Sebuah pertanyaan yang seharusnya bisa lebih dari sekedar untuk menggugah kesadaran kita, Rek! Nah.

Referensi bacaan :

*Aria Wiratma Yudhistira. 2010. Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an. Tangerang : Marjin Kiri.

**Majalah Historia Online

***Suara Merdeka, Musyafak Timur Banua, 03 Oktober 2010