Culture · Ekonomi · Engineering

Startup untuk Indonesia

unnamedPenetrasi internet sudah semakin luas masuk ke daerah-daerah di Indonesia. Disinyalir bahwa pengguna aktif internet saat ini terhitung sebesar 132,7 juta orang atau sekira 51,8% dari total populasi indonesia. Angka yang cukup besar. Internet sudah bukan barang mewah lagi, melainkan jadi potensi yang seharusnya bisa menghasilkan perbaikan bagi sektor kesejahteraan dan perekonomian Negara. Apa mungkin? Sangat mungkin. Meski pengguna terbesar internet di Indonesia masih belum tersebar merata karena hampir 65%-nya terdapat di pulau Jawa. Ini menjadi potensi yang harus dimaksimalkan agar Indonesia tidak sekedar menjadi konsumen internet tetapi menjadi pemain aktif dan mampu meraih profit dari hingar bingar teknologi internet.

Gerakan nasional 1000 startup terdiri dari beberapa tahap ; ignition, networking session, workshop, hackathon, bootcamp dan incubation. 1000 startup itu sendiri dialokasikan untuk jangka waktu 5 tahun, jadi ada sekira 200 startup setiap tahunnya yang lahir dari 10 kota besar, atau setiap kota-kota itu bisa menelurkan sekira 20 startup baru setiap tahunnya.

Pemerintah, dengan visi jauh kedepan yang dibawa oleh pak Presiden, untungnya secara sadar mau untuk ikut serta dalam perhelatan akbar dari startup ini dengan mencanangkan tujuan Indonesia sebagai the digital energy of asia ; an accelerated and empowered SME-Driven digital economy. Ini langkah taktis yang diambil pemerintah guna mengejar ketertinggalan kita dari negeri-negeri maju lainnya, terlebih adanya pergeseran basis industri dimana kita tidak bisa lagi sepenuhnya bertumpu pada sumber daya alam yang kian hari kian berkurang (minyak, gas, dll). Sudah saatnya Indonesia menjadi pemain baru di kancah penggunaan internet untuk bisnis (karena ini memang dunia baru. Negara-negara lain juga masih sama-sama bingung dan sedang belajar). Startup sendiri diartikan sebagai suatu penyelesaian masalah dengan menggunakan teknologi. Untunglah Indonesia banyak sekali masalahnya :D, kita tidak kekurangan masalah, malah berlimpah, dan itu bagus untuk iklim pengembangan startup. masalah-masalah itu ikut menyuplai ide-ide untuk para founder startup. Karena didalam startup itu ada tiga komponen penting yang menunjangnya, yaitu ada masalah, kemudian dicari solusinya, lalu dibuatlah produk (kreasi) akhirnya yang bisa saja akan terus mengalami perkembangan.

Gerakan nasional 1000 startup digital ini digagas oleh beberapa orang yang peduli kepada Indonesia, yang ingin melihat Indonesia bisa bersaing dengan Negara-negara lain, yang ingin menyelesaikan satu persatu permasalahan di Indonesia, dan yang berharap bahwa Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih baik dan layak untuk ditempati. Orang-orang dibelakang gerakan ini memang secara aktif berdialog dan terjun langsung ke lapangan dunia startup, bahkan diundang oleh presiden dan ikut mendampingi beliau ketika melakukan kunjungan (study banding) ke Silicon Valley, kota pusat pengembangan teknologi di California, Amerika Serikat. Markasnya google, facebook, apple, twitter, dan semua startup besar lainnya. Sepulangnya presiden dari kunjungan yang sangat berkesan dan membuka pikiran itu (untunglah kita punya presiden yang open minded dan tidak kolot) yang dengan menggebu-gebu bilang bahwa ia ingin Indonesia bisa seperti itu. ingin Indonesia ikut dalam pemanfaatan teknologi internet ini. Pernah Pak Yansen Kamto menanyai audiens bahwa berapa banyak dari kita yang hanya sekedar konsumen dan penikmat dari layanan-layanan startup itu, yang hanya menjadi penonton saja. Tetapi kita harus bisa membuatnya.

Dalam melihat perkembangan startup di dunia saat ini, menarik untuk membandingkan visi yang dibawa oleh Amerika dan China. Pada beberapa hal kedua Negara ini mewakili ideologinya masing-masing, dan Indonesia bisa belajar banyak dari mereka. Amerika mempunya visi “membebaskan”, di internet jangan ada kekangan, sehingga itu bisa lebih memberikan keleluasan bagi warga amerika untuk terus berinovasi dan menciptakan hal-hal baru (tidak heran kalau kita lihat bahwa kebanyakan teknologi yang “wah-wah” (ide-ide gila) biasanya terlahir di sana), silicon valley adalah contoh yang tepat untuk menjelaskan visi amerika itu, disana orang bebas berkreasi. Sementara China menerapkan kebijakan Internet plus, maksudnya adalah pemanfaatan internet untuk berbagai sector, semisal internet plus umkm, internet plus ojek, internet plus bisnis, internet plus baso, internet plus cilok, dlsb. *hehe. Polanya di drive oleh pemerintahnya, jadi pemerintah tidak membiarkan warganya berbuat sebebas-bebasnya. Pemerintahnya sangat protektif, sehingga kita tidak akan melihat facebook di China, google pun tidak ada, uber juga dilarang, tapi hasilnya mereka sendiri yang membuatnya, ada facebook versi china, google versi china, uber versi china, dll. Nah, kira-kira Indonesia cocok untuk meniru yang mana? Apakah Indonesia akan bisa berkreasi bila pemerintah membebaskannya? Saya kira tidak akan bisa, indoensia belum siap untuk seperti amerika. Kalaupun ada beberapa pemain besar yang terlahir seperti gojek, tokopedia, bukalapak, dlsb, itu murni accident. Pemerintah malah membuat mereka jadi terkekang dengan beberapa regulasinya. Ya kan? :D. Meskipun sekarang pemerintah sudah mau berubah, sudah lebih mau mendengar karena merasa bahwa kita sedang tertinggal dan perlu mengejar. Ini dibuktikan dengan positioning dari pak presiden dengan menerbitkan 6 policy digital economy, yang melahirkan 14 policy package. Isu-isu kuncinya adalah founding, cyber security, tax, logistic, education and human resources, dll. Pemerintah sangat konsen sekali untuk mengembangkan dan memacu anak bangsa agar bisa menciptakan produk-produk startup.

Artinya dunia sedang berubah (*Tsaaah, kibas rambut). Bahwa saat ini dunia sedang bergeser ke perekonomian digital, orang tidak lagi perlu mengantri lama-lama di bank untuk membuat akun, tinggal duduk manis di rumahnya di depan computer dan semua bisa terlayani, orang tidak lagi perlu berpanas-panas ke jalan atau ke pasar, semuanya tinggal klik klik klik. Tersedia di hape pintar yang tingga di charge bila mau habis batereinya. Tetapi di lain pihak, ini juga menimbulkan distraktif digital ekonomi. Artinya akan banyak lahir peluang pekerjaan-pekerjaan baru yang muncul diikuti hilangnya pekerjaan-pekerjaan lama, seperti sekarang ada orang dengan pekerjaan data analysis, dlsb. Pekerjaan-pekerjaan yang aneh-aneh akan muncul, dan bisa jadi jurusan yang kita ambil sekarang di masa yang akan datang sudah punah pekerjaannya (bila tidak bisa menyesuaikan dan adaptif).

Target akhir dari startup ini adalah e-commerce, bentuknya bisa bermacam-macam ; service (seperti gojek), good product, medium product, dlsb. Dengan angka transisi via internet mencapai dua ribu triliun rupiah. Saat ini hampir 60% GDP ditunjang oleh umkm. Dari 57 juta, sekira 8%nya menyumbang GDP. Nah, tujuan pemerintah adalah bisa mengonlinken umkm tersebut.    

Pemerintah juga mencanangkan program yang bernnama “Palapa ring project”, sebuah program untuk membuat internet highspeed dari fiber optics. Siapa kira-kira yang akan senang kalau internet masuk ke papua? Yap. bukan haynya orang-orang papua saja, melainkan pihak Google, FB, whatsupp, instagram, dll juga ikut senang. Mereka dapat profit tanpa harus mendirikan perusahaan di Indonesia. Artinya mereka dapat penghasilan tanpa harus membayar pajak ke pemerintah Indonesia.

Tahun lalu traffic internet perdetik di Indonesia adalah lima ratus terabyte, dan tahun ini setelah 4G masuk jadi tiga kali lipatnya. Jangan kira kalau kita internetan itu murni menggunakan uang kita saja, tidak sesederhana itu. coba lihat kedalam hape kita, bisa dipastikan bahwa 90% aplikasi yang ada didalam hape kita adalah aplikasi yang dibuat oleh luar negeri, mulai dari facebook, instagram, whatsapp, gmail, google, yahoo, dlsb. Aplikasi yang berbasis di luar negeri itu bila kita akses (servernya kan ada di luar negeri juga) secara tidak langsung morotin devisa Negara, karena Negara jadinya harus membayar untuk setiap bite data yang kita akses dari luar negeri tersebut. Berbeda halnya bila aplikasi itu ada di dalam negeri, ketika kita mengaksesnya, servernya kan local, sehingga jaringan data hanya berputar di Negara sendiri. Itulah arti penting kenapa kita harus mulai mengembangkan startup ini hampir di setiap lini, tidak lain adalah untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap produk-produk dari luar negeri.

Penting juga untuk melihat perbandingan dua Negara yang nyaris sama dalam beberapa hal dan sangat jauh berbeda dalam beberapa hal lainnya, yaitu Indonesia dengan Korea selatan. Dua Negara ini merdeka pada tanggal yang tidak jauh berbeda, hanya selang beberapa belas hari, tapi indeks kesejahteraan dan GDPnya sangat jauh berbeda. Padahal secara sumber daya alam kita lebih unggul, pun begitu juga dengan populasi, tapi ternyata korea selatan jauh melesat di depan kita, bahkan produsi filmnya pun menjadi santapan kita. Padahal jumlah produksi sinetron kita jauh lebih banyak daripada mereka. Tapi itu soal lain, yang jelas, point pentingnya adalah Negara kita dengan populasi lebih dari 250 juta dengan 50% usianya berada pada usia 30 tahun (usia produktif), tetapi ternyata sejumlah 944.666 lulusan kuliahan tidak mempunyai pekerjaan. Kita bisa melihat ini sebagai suatu problem serius, tapi untuk orang-orang optimis, itu sebetulnya adalah potensi. Jadi, marilah kita ubah pola pikir kita. Kita rombak MINDSET. Pola pikir seorang co-founder startup selalu melihat potensi dan peluang dari setiap masalah yang ada. Meskipun membuat startup juga tidak sesederhana dan segampang yang orang kira. Perlu kerjakeras dan kesungguhan yang mampu membuat startup bisa terus berjalan dan berkembang, tidak karam ditengah jalan.

Membuat startup artinya mau berlelah-lelah untuk berbuat dan melakukan sesuatu dengan kerja keras. Dimana-mana yang dinamai pengusaha itu ya merujuk ke orang yang benar-benar mau berusaha. Startup selalu identic dengan inovasi, inovasi itu sendiri adalah sesuatu yang kita sendiri tidak tahu selanjutnya itu akan seperti apa. Makanya dalam dunia startup itu tidak ada kegagalan (dalam proses trial and error), yang ada adalah pembelajaran. Karena setiap kegagalan itu selalu ada nilai pembelajarannya. Startup juga bukan sekedar kita menjual barang lalu diiklankan melalui facebook, whatsapp, instagram atau apa, startup bukan sekedar itu, melainkan sejenis tech company (bukan another trading  company). Intinya harus bisa fokus pada gambaran besarnya.

Penekanan startup adalah Solved problem ; bagaimana ktia bisa meng-add value pada sesuatu, lalu optimize, dan men-disrupt. Contoh, biasanya orang membuat skripsi hanya untuk syarat lulus, setelah itu hanya disimpan dan menjadi tumpukan yang tidak berharga, seorang co-founder startup akan berpikir untuk memanfaatkan masalah ini, dari sekian juta skripsi itu yang terbengkalai, kenapa tidak mencoba untuk mengumpulkannya dan barangkali memang ada ide menarik yang terdapat didalam skripsi itu yang bisa digunakan untuk keperluaan perusahaan orang, atau ada orang yang tertarik untuk mendanai, kan itu bisa jadi peluang usaha juga. Add value itu menambah nilai pada sesuatu yang asalnya seperti tidak mempunyai nilai sama sekali.

Saran baik dari pak Sony yang masih terngiang-nginga di telinga saya adalah ini, “Yang membuat kalian benci, yang membuat kalian annoying pada sesuatu, bisa jadi sesuatu itu peluang karir kalian. Tujuan kalian hidup untuk bisa menyelesaikan atau memberikan solusinya.” Saya berpikir, benar juga. Apa-apa yang mengganggu kita adalah potensi untuk dijadikan ide dasar startup, seperti saya yang kadang suka terganggu dengan susahnya mencari buku-buku bacaan yang bagus karena terkadang di toko buku besar, mereka hanya menjual buku yang laris dan popular, entah bukunya bagus atau sampah, toko buku yang sudah menjadi kapitalistik. Biasanya saya menjumpai buku-buku bagus yang sudah sangat sulit dicari itu lewat pelapak buku bekas, toko buku online yang dikelola oleh beberapa gelintir orang berdedikasi, dlsb. Saya keidean untuk membuat startup yang bisa mengumpulkan ‘orang-orang’ ini. Kadang orang membeli buku hanya untuk dibaca, setelahnya disimpan di dalam rak, ini kan bisa jadi peluang juga untuk saling bertukar dengan oranglain atau mungkin untuk saling jual, siapa tahu kan. 😀

Menurut pak Yansen Kamto, terdapat lima area potensi startup ; agriculture, education, health, tourism dan logistic.  Setiap bidang itu mempunyai masalahnya masing-masing. Pak Yansen memberikan contoh praktis untuk setiap bidangnya, tapi tidak saya tulis karena sepertinya tulisan ini sudah kelewat panjang. Jadi mungkin kali lain.

 

Engineering · Kampus · Science

Keantariksaan kita

Kemarin (17/02) saya menyempatkan hadir di kuliah tamu yang digagas oleh Jurusan Teknik Geomatika ITS yang menghadirkan kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin dengan tema “Peran Iptek dan Antariksa untuk menjadikan Indonesia Maju dan Mandiri”. Disana dibicarakan tentang apa saja yang telah-sedang dan akan dilakukan oleh LAPAN untuk menunjang kebutuhan Indonesia terhadap penguasaan antariksanya yang luarbiasa kerennya. Karena bidang antariksa ini pada gilirannya akan terintegrasi dengan seluruh aspek kehidupan bangsa, tetapi difokuskan pada pengkajian cuaca antariksa, atmosfer, sains keantariksaan (beserta teknologinya yang berupa roket, satelit dan aeronautika atau penerbangan), penginderaan jauh dan kajian kebijakan aerospace dan antariksanya.

LAPAN juga benar-benar menjadi sebuah kebanggaan nasional. Saya terpikir untuk mengambil KP (kerja praktik) disana saking excitednya dengan proyek-proyek LAPAN, terkhusus di bidang teknologi satelit, roket, radar dan penginderaan jauhnya. Itu adalah teknologi-teknologi yang bisa menopang, menunjang dan menyokong kemandirian, kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.

Pengembangan di bidang keantariksaan sudah seharusnya menjadi prioritas dalam pengembangan jangka panjang, kalau tidak, kita akan tertinggal dari Negara-negara lain. Sains antariksa ini bila kita tahu, pada akhirnya merupakan suatu lintas disiplin ilmu yang integratif, saling berhubungan dengan bidang yang lain. Siapa sangka bahwa proyek-proyek keantariksaan bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk komunikasi (yaeyalaah. Haha), navigasi dan prediksi. Saya semakin tertarik untuk memikirkan ulang proyek-proyek yang dikembangkan oleh LAPAN ini untuk mengkorelasikannya dengan teknologi big data dan data science yang sedang booming itu. di ITS sendiri, karena teknologi itu jurusan matematika langsung cabut dari fakultas mipa dan memilih untuk mendirikan fakultas sendiri, fakultas matematika dan aktuaria. Oia, big data dan data science itu sendiri merupakan disiplin ilmu yang relative baru, gabungan antara ilmu matematika (statistika) dan ilmu computer dan lulusannya termasuk yang paling banyak dicari sampe Harvard Business Review pernah memuat tulisan Data Scientist: The Sexiest Job of the 21st Century. Ini bukan tanpa dasar. Karena pada tahun 2011, McKinsey Global Institute memprediksi adanya kekurangan hampir 200 ribu ilmuwan data pada 2018. Ini baru di Amerika Serikat saja. Pantesan kan kalau perusahaan mengiming-imingi mereka dengan gaji ukuran “jumbo”.

Balik lagi ke LAPAN :p. Dari keempat misi utama LAPAN yang telah disebut diatas itu, dipaparkan lebih detail dalam tujuh program utamanya yang berupa pengembangan teknologi satelit, teknologi roket (termasuk di bidang aeronautika dengan mulai mengembangkan pesawat N2-19), pengembangan bank data penginderaan jauh nasional dengan citra satelit resolusi tinggi (ini nantinya bisa digunakan untuk memetakan bencana, bidang agraria, pertanian, kelautan atau kemaritiman, dlsb), dan empat program lainnya saya lupa. Haha. Disini saya hanya akan menuliskan sedikit saja tentang teknologi satelit, roket dan radar serta aplikasi lebih lanjut dari ketiga teknologi itu.

1). Teknologi Satelit

Sesungguhnya yang dikhawatirkan oleh orang saat ini bukan semata-mata kiamat manusia (karena kalau kiamat manusia terjadi, ya sudah. Itu menandai berakhirnya kehidupan manusia di bumi), tetapi kiamat teknologi. Karena hampir keseluruhan system teknologi dan informasi (semisal internet dan jaringan komunikasi data) yang kita gunakan sekarang bergantung sepenuhnya pada ruang antariksa, medan magnet, dan atmosfer dengan gelombang-gelombangnya. Nah bila ada badai matahari atau yang mengacaukan system antariksa itu, maka artinya teknologi itu semua akan ambyar semuanya. Terlebih karena antariksa juga merupakan wilayah operasional satelit, sementara satelit ini kita tahu sangat buanyak sekali kegunaannya. Sehingga menjadi penting untuk bisa mengamati dan memantau cuaca antariksa ini.

Indonesia, yang adalah suatu bangsa yang luas yang disebut sebagai nusantara. Kata Prof Thomas, Nusantara itu sendiri adalah pulau-pulau yang disatukan oleh laut. Maka mutlak untuk menjembatani semua wilayah itu dan mempertahankannya, penguasaan kita terhadap system komunikasi yang berbasis satelit mutlak diperlukan. Dan btw, umur satelit itu ternyata pendek loh, kira-kira 10 sampai beberapa puluhan tahun. Beberapa satelit yang sudah diluncurkan lapan adalah seri A hingga A3 dengan misi yang berbeda-beda. Sisanya yang sedang dikembangkan (sekaligus mencari dana tambahan dari mitra bisnis) adalah lapan A4 (misi kemaritiman) dan A5 (misi radar atau SAR). Serie A ini merupakan serie satelit eksperimen dan dicukupkan hingga A5.

Citra satelit yang bisa dibuat Lapan ada 3 macam ; resolusi rendah (untuk keperluan cuaca dan lingkungan), resolusi menengah (lingkungan dan hutan) dan resolusi tinggi (pembuatan peta skala 1:1000). Nantinya satelit-satelit yang dikembangkan oleh lapan ini bisa digunakan sebagai system pemantau bumi nasional yang meliputi pemantauan kebakaran hutan (deforestasi dan carbon stock atau berupa kajian iklim), bencana, klasifikasi lahan atau tanah, infrastruktur pertanian (berupa system kanal irigasi yang sudah benar atau terlihat ruwet sehingga perlu dan bisa dibenarkan alurnya), fase pertumbuhan padi (jadi nantinya kita bisa menentukan distribusi pupuk dan perkiraan masa panen).

Citra satelit resolusi tinggi ini sangat bermanfaat untuk melihat secara lebih jelas potensi kelautan kita. Dengan itu kita bisa mengetahui suhu permukaan laut, kandungan klorofil, hingga bisa memetakan zona potensi penangkapan ikan yang artinya bisa ikut membantu nelayan  untuk meningkatkan produktifitas tangkapan ikannya. Nelayan gak perlu lagi was-was ketika melaut tidak akan dapat ikan, karena sedari awal sudah ditunjukan tempat mana yang sedang banyak ikannya.

2). Teknologi Transport dan Tanpa Awak

Teknologi ini dimaksudkan pengembangannya untuk pembuatan pesawat terbang (bekerja sama dengan PT. DI untuk pesawat penumpang) dan pesawat tanpa awak (drone) yang dimaksudkan untuk misi penjelajahan dan eksplorasi ke wilayah-wilayah bencana yang kadang sulit ditembus oleh moda transportasi biasa. Ketika bencana terjadi biasanya diikuti dengan kelumpuhan infrastruktur dan komunikasinya. Tapi selain itu, nantinya pesawat tanpa awak ini juga bisa digunakan untuk memantau wilayah maritim kita. Bayangkan betapa akan ekonomisnya bila dibandingkan dengan menerjunkan langsung kapal operasi dengan cost yang tentunya cukup besar.

3). Teknologi Roket

Roket ini digunakan untuk apa lagi coba kalau bukan untuk meluncurkan satelit. Tanpa roket, bagaimana meluncurkan satelit, kan. Dan roket ini akan menjadi sangat ekonomis ketika diluncurkan di wilayah ekuator (kok bisa? iyaaa lah). makanya Lapan juga membuat beberapa bandara antariksa di wilayah-wilayah yang mendekati garis ekuator, salahsatunya di daerah Biak (minus 2 derajat).

Selain untuk peluncuran satelit, roket juga bisa digunakan untuk pembuatan hujan buatan, modifikasi cuaca sehingga dengan penggunaan teknologi roket nantinya hujan bisa diarahkan untuk turun atau jatuh dilaut, jadinya gak akan lagi banjir di daerah padat penduduk (*waaw).

Sebetulnya masih banyak hal yang masih perlu pendalaman dan perlu ditanyakan ke Prof. Thomas, tapi sayangnya karena hari itu adalah hari jumat dan waktunya terasa sangat sebentar sekali, diskusi yang menarik itu terpaksa harus diakhiri. saya padahal mau tanya sesuatu, tetapi jatah penanya hanya satu orang buat mahasiswa, dan saya gak kebagian. Hiks.

Culture · Engineering · Kampus

Merevisi Kaderisasi Kampus

Note : dibawah ini berserakan istilah-istilah yang berhubungan dengan teknik kimia. Jadi jangan kaget ya.

Saya jadinya juga ikut-ikutan menjadi mainstream dengan ikut membahas agenda abadi dan terpenting di segenap pelosok kampus Indonesia ; Kaderisasi. Entah itu dari segi urgensinya, pro-kontra, efisiensi, nirrelevansi, dlsb. Tapi oke lah kita sepakati dari awal bahwa disini saya tidak hendak memprovokasi anda untuk menolak kaderisasi, karena saya percaya bahwa “bila anda ingin menghancurkan sebuah system atau ide atau gagasan, maka anda harus membuat atau memunculkan system atau ide atau gagasan baru untuk menggantikannya”. Jadi daripada berangkat dari nol lagi, kenapa tidak di revisi saja yang sudah ada. Kita hanya perlu melanjutkan upaya-upaya yang sudah dirintis oleh para pendahulu di kampus (*saya tidak mau menyebut mereka senior, karena kontruksi senior-junior adalah fasis dan melahirkan mental inlander! Haha :p), dengan harapan agar proses itu bisa menjadi lebih baik lagi dengan upaya untuk merevisi yang tidak perlu dan menambal beberapa kekurangannya.

gerigi-its
Gerakan Integralistik ITS. gerbang awal Ospek (Kampus), yang selanjutnya akan diikuti dengan sedereta ospek atau kaderisasi di setiap jurusannya.

Revisian ini tentunya dengan mempertimbangkan efisiensi prosesnya, output kaderisasi, visinya yang jauh ke depan, human resources dan upaya-upaya untuk mencari model kaderisasi yang ideal atau setidaknya menuju kepada proses perbaikan segenap elemen massanya. Proses adalah kata lain untuk mengawal perbaikan ini, bahwa semenjak awal perlu ditekankan bahwa kaderisasi bukanlah searah, melainkan dua arah, timbal balik, reversible, di pihak yang dikadernya maupun pengkadernya, sehingga tidak akan melahirkan gap atau pandangan bahwa pengkader adalah segalanya, serba tahu, serba benar, sementara yang di kader dianggap sebagai barang mentah yang masih polos sehingga harus diperlakukan seperti anak kecil yang belum bisa berpikir mandiri dan harus diarahkan segenap perilaku, sikap dan pikirannya. Kaderisasi adalah pendewasaan, adalah pembentukan pola pikir atau konstruksi berpikir yang benar, adalah kesetaraan dan egaliter. Sehingga bila senior salah, tidak menutup kemungkinan untuk dikoreksi, dan harus mau. 🙂

Sebagai langkah awal untuk mencari sebuah sistem kaderisasi yang baik kita bisa berangkat dari studi biografi. Pilih beberapa nama yang bersinar atau sukses, berusia paruh baya sekira 30-35 tahunan (sehingga kehidupan mereka dengan kampusnya tidak terlalu jauh-jauh amat), lalu  pelajarilah proses kaderisasi yang mereka lalui hingga mereka bisa menciptakan karya yang cemerlang. Demikian juga sebaliknya, pilih beberapa nama eks-aktifis kampus yang lahir dari kaderisasi “mainstream” dan kini berusia 30-35 tahun. Kemudian lihatlah kiprah mereka saat ini. In fact, Kenyataannya orang-orang yang sukses paska kehidupan kampus ternyata bukan produk dari kaderisasi “mainstream”. Orang-orang berusia 30-35 tahun yang kini memiliki karya fenomenal kebanyakan adalah yang dulunya “biasa-biasa” saja di kampus (bukan aktifis populer), untuk memberikan contoh ambil saja nama seperti Ceo bukalapak, gojek, atau mungkin Elon musk juga bisa kita masukkan dalam kategori ini. Kita pun tak jarang mendengar beberapa testimoni yang kurang baik tentang eks-aktifis kampus namun sekarang kerjanya nggak becus : Keras kepala, songong, teamworknya jelek (*ini kata alumni :p). Bila kenyataannya memang demikian apakah masih layak untuk mempertahankan kaderisasi semacam ‘itu’ sekian puluh tahun, tentu sangat layak juga untuk mempertanyakan kembali validitasnya dengan melihat seberapa jauh kiprah mantan-mantan kadernya di dunia ‘nyata’ ; di rimba belantara kehidupan yang sebenarnya.

Setiap kaderisasi akan mempunyai coraknya tersendiri. Kampus tertentu akan melahirkan warnanya yang khas. Sehingga antara kampus institute, universitas atau politeknik, sekurangnya akan terdapat perbedaan dari segi kaderisasi dan hasilnya. karakter dari lulusan ITS dan ITB (misalnya), di dunia kerja atau di post-post struktural tertentu ternyata berbeda. Karena resources atau sumberdaya dan permasalahan yang dihadapi pun pasti beda. Input selalu menyertai output, malah bisa dibilang input sepenuhnya dipengaruhi oleh output. Keluaran apa yang diharapkan oleh suatu organisasi, pada saatnya akan menentukan konten, capaian, dan ‘cara’ dari kaderisasi itu sendiri. Makanya, perubahan zaman menjadi sangat relevan disini. Kita tidak mungkin mempertahankan cara kaderisasi lama yang sudah ‘jadul’ atau “yang gak aptudet” untuk tetap dipaksakan dan dicekokan ke mahasiswa baru. Zamannya beda, tantangannya juga beda. Nah, ini sebetulnya bisa menjadi diskusi yang panjang lebar karena telah memasukkan unsur ‘tantangan (zaman)’. Sebetulnya kaderisasi kampus itu tujuannya jangka pendek (skala kehidupan kampus hingga lulus tok) atau jangka panjang (untuk kehidupan setelah kampusnya juga). Bila orientasinya jangka panjang, dan begitulah para senior atau alumni sering menitikberatkan pada kebanyakan konten kaderisasi yang sangat dipengaruhi dan disesuaikan oleh kebutuhan pabrik atau industri (?), yang merupakan tempat nantinya bagi seorang mahasiswa teknik kimia seperti saya misalnya. Tentu saja ada distorsi disini, kalau begitu bagaimana dengan nasib lulusan teknik kimia yang tidak berminat untuk bekerja di industry? “mental” yang sudah diajarkan itu kan menjadi non sense. Kenapa tidak mulai dengan standard yang lebih universal dan bisa berlaku dimana saja? Saya kira nilai-nilai semacam kerja sama, budaya apresiasi, solidaritas, kejujuran, kerja keras dlsb sangat dibutuhkan oleh siapapun orangnya. Makanya diawal, salahsatu solusinya adalah dengan studi biografi tokoh. Karena ini bertumpu pada 2 hal ; aspek empiris dari si pelaku, dan aspek historis oranglain yang bisa ditiru. Sehingga nantinya hanya cukup merubah beberapa hal dan penyesuaian saja untuk diterapkan. Harapannya? Minimal bisa menyamai kesuksesan orang itu. bukankah manusia memang paling suka meniru? Atau dalam bahasa postmo, amati-modifikasi-tiru-inovasi.

Kenapa kaderisasi selalu menjadi sorotan utama dan perlu mendapat perhatian serius? Karena beberapa hal juga sebenarnya. Kaderisasi dianggap vital tidak hanya untuk keberjalanan atau regenerasi dari suatu organisasi, melainkan pada kaderisasi itu juga kita mengharapkan lahirnya bibit-bibit unggul. Terbentuknya mahasiswa yang berkarakter. Sehingga investasi para pengkader untuk menyisihkan waktu yang lebih bagi proses ini tidak berakhir sia-sia.

Kalau pun ada yang menolak kaderisasi, sejatinya ia bukan menolak mentah-mentah kaderisasinya, melainkan cara atau metodenya saja. Siapapun akan sepakat bahwa kaderisasi itu penting, perlu dan bermanfaat. Tetapi bila metodenya salah atau banyak kelirunya, ini akan berimbas pada buruknya citra kaderisasi. Siapapun akan sepakat bahwa Lari keliling kampus dan push up itu baik dan menyehatkan. Mengundang pembicara untuk mengisi materi juga bagus. Jalan bebek, merangkak, atau lainnya, bagus-bagus saja untuk latihan fisik. Tapi kalau diikuti dengan ‘perilaku’ yang tak semestinya seperti ada hierarki senior-junior, ini mulai tidak baik. Yang ingin saya kritisi salahsatunya adalah itu, senioritas sudah gak jaman lagi. Itu benar-benar budaya atau mental inlander. Struktur hierarkis yang menempatkan sekelompok orang diatas sekelompok lainnya adalah penindasan! Haha. Saya tidak pernah setuju dengan senioritas! Apalagi kalau atas nama senior lantas bisa memaksakan yang tidak-tidak atau yang gak masuk akal, sampai kontak fisik misalnya, ini jelas keliru. Penyalahgunaan posisi. Baik kontak fisik (abuse) atau verbal abuse (lewat kata-kata, bentakan atau cercaan) sampai kapanpun tidak akan bisa melahirkan seseorang yang berkarakter kuat, tangguh, dan menjadi SDA unggul. kalau menjadi orang yang gampang mengeluh, pandai mengomel (seperti saya?), menyalahkan orang lain, mungkin bisa. :3

Kata alumni, dia pernah kagum dengan salahsatu organisasi pecinta alam yang kaderisasinya kata dia terbilang bagus. Yaitu wanadri. Kaderisasi di wanadri, selain mempnyai coraknya sendiri, juga terdapat keunikan dari hierarki antara yang dikader dengan pengkader. Jadi di sana itu konon katanya, jika sang pengkader (mereka menyebutnya pelatih) memanggil para peserta, mereka menggunakan sebutan “tuan”. Bandingkan dengan sebutan-sebutan di beberapa ospek yang mengarah pada verbal abuse. Atau hal yang tak pantas lainnya!

Nah, terus corak atau hierarki senior-junior yang buruk lainnya bisa dilihat dari kontraproduktipnya atau berlawanan dengan esensi dari kaderisasi itu sendiri. Hierarki itu tidak memungkinkan yang dikader untuk bisa memunculkan daya kritis. Karena sedari awal sudah dibatasi oleh tembok yang mengatakan, “Kita ini senior. Apa yang kita lakukan benar dan itu untuk kebaikan kalian semua juga. Nanti kalian akan tahu manfaatnya kaderisasi”. Jangan sampai pikiran-pikiran seperi itu menjadi argument normatif untuk mensahihkan perbuatan-perbuatan oportunis selama proses kaderisasi. Jadi alih-alih mempertahankan lingkungan yang menciptakan gap angkatan atau lahirnya senior-junior, kenapa tidak dimulai kaderisasinya dengan konsep egaliter. Kesetaraan, keceriaan, kesenangan, dan hal-hal menarik lainnya harus dimasukkan kedalam kurikulum kaderisasi. 😀

Kenapa saya panjang lebar membahas-soal-kan kaderisasi ini, meski kita juga tidak menutup mata bahwa kaderisasi bisa saja bukan segalanya. Bukan lagi menjadi satu-satunya faktor pembentuk karakter mahasiswa (naïf sekali kalau sampai berpikiran seperti ini). Jadi tidak fair juga kalau semua permasalahan yang berkaitan dengan karakter mahasiswa atau kompetensi, mental dan pikirannya, melulu menjadikan kaderisasi sebagai kambing hitamnya. Hanya yang perlu digaris bawahi adalah ini, bahwasannya kaderisasi itu merupakan kegiatan yang sangat time consuming, jadi wajar saja jika orang mempertanyakan hasilnya. Selain tentang investasi waktu yang telah disisihkan, ini juga berhubungan dengan efisiensi prosesnya, efektivitasnya, dan output yang dihasilkannya.

Seinget saya (saya nggak tahu sekarang bagaimana) ospek dilakukan nyaris satu semester full (atau ada yang sampe setahun). Lupa berapa kali pertemuan yang dilakukan, yang jelas kegiatannya dilakukan nyaris 2 atau 3 kali dalam seminggu (yang resmi dari panitianya). Belum lagi pertemuan angkatan untuk menyelesaikan tugas-tugas dari panitia tersebut. Tugas buku marun emang menyebalkan, saya sampai harus membuatnya 2 kali. *peace. Panitianya juga meluangkan waktu setidaknya dua kali lebih banyak. Jadi, seandainya kaderisasi itu hasilnya baik, kita masih bisa mempertanyakan apakah hasilnya sepadan dengan banyaknya waktu yang diinvestasikan?

Terakhir, asumsi dasar lainnya adalah “corak” lama, sepertinya dipikir-pikir memang efektif untuk membangun solidaritas diantara kader. Saya percaya, meski ketika kaderisasi kami ditampar, disuruh jalan bebek, merangkak, bahkan ada yang lebih absurd lagi selain itu, itu semua ternyata bisa membuat angkatan saya menjadi semakin solid dan saling mengenal.

Dan, ya ampun, saya sepertinya sudah terlalu kebanyakan berbual dalam tulisan ini. Intinya, saya sangat sotoy dengan data yang seadanya. Jadi, dari sekian pemaparan diatas, bisa saja ternyata saya salah. 😀

gerigi-banyakan
Lumayan dapet Muri. :p

Referensi :

*Beberapa ide dalam tulisan ini dianggit dari Kang Zul(kaida) Akbar, yang sedang nyelesain Ph.D di FSU, Amerika. saya berhutang banyak kepada beliau. 🙂

Engineering · Geology · Petroleum

Ring of Fire dan Isi Perut Bumi Indonesia

Berapa sih luas Indonesia? Berapa luas garis pantainya? Berapa kira-kira jarak yang membentang dari sabang sampai Merauke berjejer pulau-pulau? Dulu saya malu ketika ditanya oleh dosen FTK (Fakultas Teknik Kelautan), ITS, tentang luas Indonesia, dan tak ada dari kami yang tahu. Kata beliau, bagaimana mau mencintai Indonesia kalau luasnya saja tidak tahu? Kalau misal ada orang yang mencuri “sebagian” tanah Indonesia, kalau ndak tahu, lah piye? Belum lagi tentang kandungannya. Meskipun untuk mengetahui kandungan perutnya Indonesia ini bukanlah perkara yang gampang.

Makanya ketika diajukan pertanyaan kepada salahseorang dosen Perminyakan ITB tentang bagaimana kalau minyak habis, jawab beliau, sebetulnya bukan habis dalam arti tidak ada lagi minyak sama sekali di bumi, melainkan minyak yang sudah terpetakan itulah yang habis, sementara di banyak tempat belum terpetakan sama sekali dan belum tersentuh eksplorasi minyaknya. Meskipun saya santai-santai kalau pun toh nanti minyak habis, karena saya yakin bila saatnya tiba, manusia sepertinya sudah akan menemukan energy penggantinya. *optimisme. Dulu juga gitu, kan? Sebelum minyak bumi ditemukan, manusia sangat bergantung kepada minyak ikan paus.

oil_reserves
Peta cadangan minyak bumi di tahun 2013. gambar dari wikipedia.org

Ini sebetulnya entah nyata atau tidak, karena dari eksplorasi dan eksploitasi yang ada sekarang, belum diketahui tentang potensi kandungan perut bumi Indonesia. Badan geofisika dan meteriologi juga masih belum bisa mempetakan 100% tentang isi perut bumi Indonesia itu. Padahal peta tentang kandungan didalamnya bisa jadi satu langkah awal bagaimana kelak kita bisa mengelolanya secara arif untuk seluas-luasnya kesejahteraan rakyat Indonesia. Itu kalau memang perut Indonesia berlimpah dengan minyak, emas dan mineral berharga lainnya. Lah kalau ternyata tidak ada dan kosong melompong? Siapa yang tahu?

Masih dari bukunya Pak Bondan, Bre-X ; Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, ada penjelasan tentang konsep yang familiar di dunia pertambangan. Ini perlu kita bahas karena berkaitan dengan potensi perut bumi Indonesia untuk selanjutnya akan kita tengok, sebetulnya apa saja sih isi perut bumi Indonesia itu.

Berangkat dari istilah yang sering kita dengar, bahwa Indonesia itu dikenal sebagai kepulauan yang terlewati oleh Ring of Fire. Cincin api? Apakah maksudnya? Banyak gunung berapinya? Tentu saja. Tapi apa implikasinya?

Nah dalam dunia pertambangan, dikenal istilah beberapa teori yang berguna untuk menjelaskan kandungan mineral suatu wilayah, salahsatunya adalah teori tektonika lempeng (plate tectonics). Konsep ini disusun berdasarkan sejumlah data dan informasi baru dari hasil penelitian geofisika dan geologi kelautan, studi gempa, dan topografi dasar samudera.

Teori tektonika lempeng ini agak mirip dengan teori mengenai apung benua. Teori ini mengatakan bahwa lapisan kerak bumi atau litosfir yang menyelubungi bumi bukanlah merupakan kulit yang utuh, melainkan retak terkerat-kerat. Akibat retakan-retakan itu, terdapat tujuh lempeng litosfir berukuran besar, di samping banyak lagi lempeng pecahan yang berukuran kecil. Lempeng-lempeng ini selalu bergerak, bergeseran satu dengan yang lain, memisah maupun saling bertabrakan. Tabrakan-tabrakan yang terjadi antara dua lempengan mengakibatkan terjadinya suatu proses geologi yang penting, yaitu proses deformasi tepian benua yang menyebabkan terbentuknya jalur pegunungan lipatan, metamorfosa akibat suhu dan tekanan tinggi dalam akar pegunungan, dan pelelehan bagian lempeng yang menghujam dan menghasilkan intrusi bersifat granit dan vulkanisma bersifat andesit pada lempeng yang terungkit. Kegiatan magma ini dapat menimbulkan mineralisasi, seperti halnya juga pemekaran dasar samudera yang mengeluarkan magma ultra basa.

Dengan teori tektonik lempeng ini ternyata dapat dengan lebih mudah dijelaskan berbagai jenis gejala tektonik dan struktur geologi yamg rumit. Dalam kaitannya dengan konsep tektonik lempeng, pada dasarnya dapat dibedakan dua macam lingkungan pembentukkan mineralisasi logam.

Yang pertama, berkaitan dengan batuan yang terbentuk dalam cekungan samudera dan busur kepulauan. Yang kedua, berkaitan dengan batuan benua yang sering berupa granit dan berasal dari batuan kerak bumi. Secara populer, konsep tektonik lempeng itu juga dikenal dengan teori “Ring of Fire”, yaitu sebuah lingkaran semu di sekitar Samudera Pasifik yang terdiri atas rangkaian gunung berapi. Teori itu mengatakan bahwa gunung berapi tidak muncul di sembarang tempat, melainkan di dalam lingkungan “Ring of Fire” ini. Indonesia terletak dalam salah satu busur lingkaran gunung berapi ini. Betapa menakjubkannya bukan? Maka, nikmat yang mana lagikah yang akan engkau dustakan?😀

Kabar gembira lainnya adalah bahwasannya busur-busur kepulauan Indonesia itu merupakan daerah pertemuan dan pertabrakan tiga lempeng kerak bumi, yaitu: lempeng India-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Apa artinya?

Artinya adalah bahwa dengan teori tektonik lempeng dapat dijelaskan pola penyebaran mineralisasi di Indonesia. Prof. Dr. J.A. Katili dan banyak penelitian lain telah menerapkan teori tersebut dalam konsep eksplorasi mineral logam secara regional di Indonesia. Kegiatan eksplorasi mineral dalam 25 tahun terakhir ini di Indonesia –terutama yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing– banyak mengacu pada teori ini.

Isi perut bumi Indonesia

Dalam tulisannya di Kompas, 14 April 1997, Prof. Dr. R.P. Koesoemadinata menulis bahwa dengan adanya peta geologi Indonesia, ditambah lagi dengan data yang dikumpulkan dari aktivitas penambangan sebelumnya –antara lain eksplorasi minyak dan gas bumi– maka para ahli geologi di Indonesia secara umum telah memperoleh gambaran tentang keadaan geologi Indonesia. Maraknya aktivitas perhutanan juga ikut membantu bertambahnya informasi umum geologi, antara lain: penyebaran dan umur batuan, serta susunan dan struktur batuan. Dari informasi tersebut, dan dengan memperhatikan gejala-gejala geologi yang dapat dibaca pada peta geologi, seorang geolog dapat menafsirkan daerah-daerah yang berpeluan untuk menemukan endapan mineral atau minyak dan gas bumi.

Teknologi satelit pun banyak membantu memperkaya informasi geologi umum. Dr. Ir. Indrojono Soesilo di Kompas menulis, inderaja (remote sensing) yang dilakukan dengan fasilitas satelit dapat mengungkap struktur lapisan batuan permukaan bumi, misalnya: apakah strukturnya berpola rekahan (terbuka), atau tertutup (lipatan). Untuk memperoleh citra inderaja yang baik dari udara diperlukan sensor khusus hiperspektral yang spektrumnya mencapai 200 gelombang. Bila untuk melihat struktur batuan digunakan sensor radar, untuk menampilkan rona tanah atau memantau warna batuan mineral ubahan hidrotermal diperlukan sensor optik. Kedua jenis sensor ini dipakai untuk pengambilan citra inderaja.

Tetapi, sekalipun satelit militer Amerika Serikat bisa melakukan inderaja untuk membaca nomor pelat mobil yang diparkir di Kremlin, atau jumlah pasukan dan tank Irak yang sedang bergerak ke Kuwait, teknologi satelit ternyata belum bisa menembus permukaan bumi lebih dari kedalaman beberapa inci. Ini barangkali merupakan suatu kenyataan yang mengecewakan. Teknologi yang sudah berkemampuan mendeteksi keadaan fisik kimia planet Jupiter serta bintang-bintang yang jauh itu ternyata belum mampu melihat isi perut bumi ini sendiri? Satelit ternyata juga mempunyai keterbatasan yang sama untuk mengintip kekayaan samudera. Kecuali tentang ikan-ikan yang berada di dekat permukaan samudera, teknologi satelit tetap belum mampu menembus ke dalam laut. Barangkali dari Jurusan IT bisa membantu membuat satelit yang bisa mendeteksi dan mengetahui isi perut bumi, siapa tahu kan?

Tapi hingga alat itu diketemukan kelak, maka cara konvensional untuk mengetahui bahwa di dalam bumi itu terdapat mineralnya, emas atau minyak, satu-satunya cara adalah dengan langsung mengebornya. Setelah mengebor baru akan bisa kita peroleh kesimpulannya, bahwa disitu ada emas/minyaknya atau tidak. Masalahnya pengeboran itu tidak semurah yang dibayangkan. Kalau beneran ada, ya ndak apa-apa, balik modal. Lah kalo ternyata ndak ada? Tekor. Rugi bandar. Hehe.

Bagaimana membuat peta geologi suatu wilayah?

Nah, simple sebetulnya, jadi dari sebuah citra inderaja itu kita akan tahu informasi lengkap tentang keadaan geologi permukaan (surface geology), seorang ahli geologi dapat menafsirkan –dengan cara memproyeksikan– keadaan geologi di dalam kerak bumi. Namun, yang diproyeksikan itu pun hanyalah gejala geologi dalam skala besarnya, belum terinci. Interprestasi citra satelit, karenanya, baru merupakan informasi awal. Nah makanya kata Pak Bondan, Istilah “berburu emas dengan satelit” adalah pengertian yang menyesatkan.

Disini Pak Koesoemadinata membuat analogi yang cukup menarik. Ibaratnya seorang dokter, dengan stetoskop ia bisa memproyeksikan apa yang kira-kira terjadi di bawah permukaan kulit seorang pasien. Dokter juga memakai alat pengukur tekanan darah, termometer, pengukur denyut nadi. Dengan semua informasi itu seorang dokter dapat memperkirakan dan mencurigai adanya suatu penyakit (verdatch). Untuk memastikan penyakit itu, harus dilakukan lagi berbagai pengujian ke dalam atau dari dalam tubuh si penderita, antara lain: pemeriksaan darah, pemeriksaan urin dan tinja, scanning, serta kadang-kadang bahkan harus dengan biopsi atau pembedahan untuk memastikan penyakit yang dideritanya.

Tapi untuk mengetahui secara pasti apa yang dikandung bumi, hingga saat ini, satu-satunya cara untuk mengetahui adanya suatu endapan mineral atau akumulasi minyak dan gas bumi adalah dengan melakukan pengeboran. Jadi jurusan geologi nyari wilayah yang kira-kira berpotensi (lewat penelitian batuan dan indikasi yang lainnya), lalu bila dirasa berkemungkinan wilayah itu ada mineral dibawahnya, maka giliran anak Pertambangan atau perminyakan yang bekerja. Bila pengeborannya dimaksudkan untuk fluida cair alias minyak, anak perminyakan yang turun tangan. Tapi bila yang di bornya itu mineral atau logam-logam berharga, maka anak pertambangan yang bekerja. Kalau anak Tekkim seperti saya? Cukup menunggu diatas saja, bila bahan-bahan mentah itu sudah ada di atas, baru yang mengelola atau memprosesnya adalah kita. Hehe. Nah nanti dipasarkan oleh anak pemasaran, bisnis atau teknik Industri. Sisanya yang mengurusi lingkungan seperti limbah dan konservasinya, biar anak TL yang main. 😀 sinergi dan harmoni dalam kebersamaan.

Setahu saya, selain pengeboran minyak, anak perminyakan juga diajari untuk menentukan cadangan minyak dan gas bumi. Entah dengan menganalisis reservoirnya atau apa lah. Saya kurang paham. Hanya untuk mengetahui cadangan minyak dan gas itu sedikitnya diperlukan dua sumur bor dengan kedalaman ribuan meter. Satu sumur bor minyak bisa memerlukan biaya puluhan juta dolar. Sedangkan untuk menentukan cebakan mineral diperlukan lebih banyak sumur bor, tetapi cukup dengan kedalaman beberapa ratus meter saja. Untuk menentukan adanya mineralisasi emas, misalnya, dibutuhkan sangat banyak lubang bor mengingat kadar emas serta penyebarannya yang sangat bervariasi. Kadangkala dari ratusan pemboran itu baru bisa dihitung sumberdaya tereka (inferred resources). Untuk memperoleh angka sumberdaya terukur (measured resources) bagi komoditi emas, harus dilakukan tiga lubang pengeboran pada jarak 25 meter, dan harus ada terowongan yang dibuka. Penghitungan dilakukan dengan metode geostatistik, sehingga masih membuka peluang kesalahan. Sedangkan untuk memperoleh angka hitungan sumberdaya terindikasi (indicated resources), standarnya adalah dua lubang pengeboran pada jarak 25 meter.

Karena itu, adalah hal yang nyaris mustahil bagi Pemerintah untuk mengadakan semacam inventaris teradap potensi endapan mineral maupun minyak dan gas bumi yang tersimpan di dalam perut bumi Indonesia. Tak ada satu negara pun di dunia ini yang mempunyai data potensial kekayaan hasil tambangnya. Di samping biayanya yang sangat tinggi, aktivitas pekerjaanya pun sangat luas dan akan memerlukan sumberdaya manusia terampil dalam jumlah yang sangat besar. Karena itu pulalah Pemerintah mengakui tingkat kesulitan para penambang, dan memberikan berbagai insentif serta fasilitas untuk melaksanakan kegiatannya.

Referensi bacaan lanjut :

  1. Teknik Penggambaran Peta Geologi ; https://www.scribd.com/doc/138495829/Teknik-Penggambaran-Peta-Geologi
  2. Penyusunan Peta Geologi, http://psdg.bgl.esdm.go.id/kepmen_pp_uu/susun-peta-geologi%20(1).pdf
  3. Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, Bondan Winarno.
Engineering · Historis · Politik

Pertambangan di Indonesia

(Sebetulnya tulisan ini lebih tepat dijuduli ringkasan dari bukunya Pak Bondan yang berjudul Sebongkah Emas Di Kaki Pelangi, karena saya menuliskan ini juga setelah membaca buku itu, tetapi jelas bukan dimaksudkan sebagai review karena fokus di tulisan ini adalah bahwasannya saya ingin menampilkan tentang perkembangan dunia tambang di Indonesia dari masa ke masa. Jadi kalau di buku itu tujuannya adalah untuk mengungkap kasus penipuan terbesar dalam dunia pertambangan Indonesia oleh perusahaan Bre-X, maka saya disini mencukupkan diri pada beberapa data yang ada dalam buku itu untuk melengkapi pemahaman saya terhadap bagaimana jalannya sejarah pertambangan di Indonesia, yang kata orang sumber daya alamnya melimpah itu. Oia, buku Pak Bondan itu adalah hasil reportase dan investigasinya atas kasus Bre-X)

Nah jadi dari awal saya sudah bilang, meski rujukan primer tulisan saya adalah buku itu, tetapi ini bukan review. 😀 Intinya ingin bercerita tentang sejarah panjang pengelolaan pertambangan dan perminyakan nasional di tempat strategis ; Kalimantan (?) dan Irian Jaya atau Papua (Gunung Ersberg, dan Grasberg), dan beberapa revisian peraturan didalamnya seperti Kontrak Karya, Kuasa Pertambangan, dlsb.

Isu tentang kekayaan yang dikandung perut bumi Indonesia sepertinya memang tidak akan lekang oleh waktu dan tak akan pernah habis bosan untuk diperbincangkan. Tentang bagaimana pengelolaannya, apakah pemerintah sudah benar dalam bertindak dan bersikap khususnya terkait PMA (Penanaman modal asing), tentang daulat energi (terkesan sangat keren dan nasionalis sekali bukan istilah ini? :D), dan sederet hal-hal lainnya yang ternyata masih berupa opini, terkaan dan dangkal sekali. Jauh dari analisis kenyataan dan lapangan. Justru di medan aslinya, bisnis di sektor pertambangan ini sangat rawan dan beresiko tinggi. Nanti kita akan tahu kenapa hanya segelintir perusahaan atau orang yang mau terjun ke bisnis ini. Ibaratnya, investasi awal di bisnis ini tergolong sangat besar dengan kepastian yang belum tentu. Kan ini namanya gambling, iya ndak? Baik di sektor pertambangan atau perminyakan.

Konon, untuk mengadakan eksplorasi dan eksploitasi minyak hingga pengeborannya diperlukan sekurangnya 20 sumur yang harus di bor dengan biaya persumurnya mencapai 20 juta dollars. Dan dari 20 sumur tersebut belum tentu ada minyaknya. Tetapi kalau ada satu saja sumur yang ada minyaknya, itu sudah mengcover biaya awal tadi. 😀 makanya minyak bisa jadi sedemikian mahalnya. Tapi, subsektor pertambangan minyak risikonya jauh lebih kecil dibanding dengan pertambangan emas.

Nah, kata Jim Bob Moffett juga begitu, doi yang merupakan orang elit di PT Freeport pernah mengatakan bahwa usaha di bidang pertambangan adalah usaha yang sangat tinggi resikonya.

“Bila Anda mau memasuki bidang usaha pertambangan, Anda harus memiliki kepiawaian teknis, ditunjang dengan konsultan ahli yang punya reputasi baik, di samping modal yang sangat besar. Tidak ada jalan pintas. Anda harus mengikuti program eksplorasi yang komplet untuk menemukan cebakan yang bernilai komersiel tinggi. Peluang bagi seseorang yang punya modal pas-pasan – memperhitungkan kondisi alam Indonesia yang berat – untuk menemukan endapan mineral adalah sangat kecil, seperti keajaiban.”

Kemahsyuran Sumatera sebagai Pulau Emas telah berlangsung selama dua ribu tahun (?)*Kita tentu boleh bertanya angka tahun itu pak bondan dapat darimana :mrgreen: . Tapi sayangnya, tak cukup banyak catatan tentang kegiatan penambangan emas di Swarnadwipa ini. Peta kuno pra-kolonial Sumatera menunjukkan adanya dua tempat penambangan emas, yaitu: Rejanglebong di bagian utara Bengkulu, dan Batanggadis dibagian selatan Sumatera Barat. Tempat-tempat lain di Sumatera yang diketahui mempunyai deposit emas pada masa itu adalah di sekitar: Meulaboh di Aceh; Kotacina di Sumatera Utara; Muarasipongi, Buo, Batangasai, dan Salida di Sumatera Barat. Kotacina, misalnya, merupakan pelabuhan dagang yang ramai pada abad 11-13. Tak ada catatan sejarah tentang penambangan emas di Kotacina, tetapi penggalian arkeologis di sekitar Kotacina menemukan berbagai perhiasan emas purba.

Lalu tentang Kalimantan, …

– Pulau ketiga terbesar di dunia, setelah Greenland dan Irian – sangat sedikit kehadiran catatan-catatan etnografi masa lampau yang menunjukkan adanya kandungan emas. T.M. van Leeuwen, penemu cebakan emas Kelian, dalam Journal of Geochemical Exploration hanya menulis secara sepintas tentang penambangan emas oleh orang-orang Cina di Kalimantan pada abad ke-4. Sebuah catatan lain menunjukkan adanya temuan benda purbakala terbuat dari emas di Sambas dan Limbang, Kalimantan Barat. Mineral emas juga tercatat ditemukan di sekitar Monterado di Kalimantan Tengah, sekitar Martapura di Kalimantan Selatan, dan sekitar Barito di Kalimantan Selatan (John N. Miksic, 1989). Kegiatan penambangan di Kalimantan yang tercatat di masa lalu – berdasarkan catatan geologi Belanda pada 1930 adalah sebuah tambang batubara enam kilometer dari muara Sungai Kelian, Kecamatan Longiram, Kabupaten Kutai, Di masa modern, sumberdaya tambang yang terkenal di Kalimantan adalah minyak. Pada masa Perang Dunia II, Jepang berusaha keras menduduki Kalimantan karena minyak bumi yang akan dipakai untuk menggerakkan mesin-mesin perang.

Sebagian orang juga berteori bahwa nama Kalimantan sebetulnya berasal dari kata “kali”,”emas”, dan “intan”, yang menunjukkan adanya keterkaitan pulau ini dengan hasil tambang emas dan intan. Intan yang merupakan alotropi karbon – dan merupakan zat alami terkeras yang dikenal orang – sudah ditemukan di berbagai tempat di Kalimantan Tengah, Selatan, dan Barat selama beberapa abad. Tambang intan tradisional yang terkenal di Kalimantan adalah Martapura. Di Campaka, dekat Martapura, Kalimantan Selatan, pada 1965 ditemukan intan sebesar 166 karat yang terkenal dan diberi nama “Trisakti”.

Sebenarnyalah terdapat cukup banyak bukti yang menunjukkan adanya kegiatan penambangan emas dan intan di Kalimantan. Pada pertengahan abad 18, Sultan Mempawah (Kalimantan Barat) mendatangkan sekitar 20 orang Cina dari Provinsi Kwantung untuk dipekerjakan di tambang-tambang emas di Kalimantan Barat. Keberhasilan pekerja-pekerja tambang dari Cina itu membuat Sultan Sambas dan para sultan lainnya pun mulai mendatangkan pekerja-pekerja tambang dari Cina. (Catatan Penulis: satu abad kemudian para penjajah Belanda meniru cara yang sama dengan mendatangkan pekerja-pekerja tambang dari Cina untuk menggarap pertambangan timah di pulau-pulau Bangka, Belitung, dan Singkep).

Kalau kita pelajari perjanjian kerja antara para sultan dan pekerja tambang di masa itu, sebenarnyalah mereka sudah menggunakan konsep profit sharing atau production sharing. Kedua belah pihak mempunyai kedudukan yang setara (equal partners) dalam perjanjian bagi hasil itu. Kabar pun segera terdengar di kalangan orang-orang Hakka dan Hoklo di Provinsi Kwantung tentang adanya cebakan emas di Kalimantan Barat. Semacam gold rush pun terjadi ketika orang-orang dari Kwantung ini berduyun-duyun datang ke Kalimantan Barat.

Sejarah Gunung Emas Cartenz, Irian Jaya. (Hal 5)

Dibanding temuan-temuan cebakan emas di kalimantan, nyatanya, penemuan emas di Irian Jaya lah yang merupakan salah satu surprise zaman modern Indonesia. Awalnya adalah pada tahun 1936, seorang geolog Belanda bernama Jean-Jacques Dozy yang menjadi anggota ekspedisi Colijn berhasil mencapai Ngga Pulu, 4906 meter. Ngga Pulu pada waktu itu adalah puncak yang tertinggi pada garis antara Puncak Himalaya dan Puncak Andes. Pada waktu itu Ngga Pulu bahkan lebih tinggi dari Puncak Jaya, puncak tertinggi Pegunungan Carstenz pada saat ini. Mencairnya es pada Puncak Ngga Pulu membuat ketinggiannya terus menurun dari tahun ke tahun. Perlu dicatat bahwa Ekspedisi Colijn bukanlah ekspedisi geologi, melainkan untuk melihat gunung berpuncak es yang tampak oleh pelaut-pelaut Belanda yang melintasi perairan Irian.

Pada ketinggian 3500 meter, Jean-Jacques Dozy, terperangah melihat sebuah bukit yang tampak hitam pekat, menjulang dengan ketinggian 75 meter di atas padang rumput alpin. Naluri geologinya segera mengatakan bahwa bukit yang sedang dilihatnya itu adalah sebuah cebakan mineral yang teramat kaya. Ia menamakan julangan itu sebagai Ertsberg, Gunung Bijih. “Tak salah lagi,” kata Dozy ketika itu. “Tak seorang geolog pun bisa tertipu oleh gunung hitam ini. Titik hijau dan birunya terlalu nyata untuk mendeteksi kandungan tembaga yang kaya di dalamnya.” Itulah mungkin yang disebut sebagai sense of engineering atau intuisinya engineer, anak teknik pasti tahu istilah itu. 😀

Laporan Jean-Jacques Dozy itu diterbitkan pada 1939 dan sejak itu mendekam di perpustakaan Universitas Leiden, mengumpulkan debu. Perang Dunia II yang kemudian pecah menciptakan prioritas-prioritas baru yang membuat laporan Dozy itu semakin terlupakan. Baru pada 1959 seorang Forbes Wilson –ketika itu geolog pada Freeport Sulphur yang berpusat di Louisiana, Amerika Serikat– dalam riset kepustakaannya menemukan laporan Dozy itu. Dozy tak hanya menulis tentang kekayaan cebakan yang diduga mengandung tembaga itu, tetapi juga melaporkan bahwa tempat itu mungkin merupakan lokasi tambang yang paling sulit di dunia. Bulu Kuduk Forbes Wilson bangkit. Ia tahu bahwa ia sedang dalam proses menemukan sebuah harta karun yang tiada terperi.

Pada tahun 1960 Forbes Wilson sudah merayap mendaki Ngga Pulu. Bila pada 1936 Dozy memerlukan 57 hari setelah diterjunkan dengan parasut, pada 1960 Wilson memerlukan 17 hari untuk mencapai tempat itu. Wilson segera menemukan kesalahanDozy. Gunung Bijih itu bukan 75 meter tingginya, melainkan 179 meter. Lebih daripada itu, Wilson juga menaksir bahwa kandungan tembaga dari Ertsberg bisa ditemukan hingga kedalaman 360 meter. Apa yang ditemukan Wilson adalah jauh lebih besar daripada apa yang diduga Dozy (George A. Mealey, 1996). Tetapi, Freeport belum bisa segera melaksanakan niatnya untuk menambang kekayaan Irian Jaya. Kondisi politik Indonesia pada waktu itu sedang mengalami berbagai kerawanan. Baru pada awal Pemerintahan Orde Baru, Freeport mengajukan izin dan menjadi PMA (Penanaman Modal Asing) yang pertama di Indonesia. Freeport kemudian mengontrak Betchel – perusahaan konstruksi terkemuka di Amerika Serikat – untuk membangun sarana penambangan di medan yang sangat sulit itu. Dan Freeport pun menemukan keberuntungannya. Tambang tembaga itu ternyata mempunyai kandungan emas yang sangat tinggi.

Berburu Emas

Dari baheula hingga sekarang ternyata ketergila-gilaan manusia terhadap logam mulia, yaitu emas, tak pernah kunjung surut. Bahkan dalam sejarahnya, ilmu kimia pun juga sempat dibayang-bayangi oleh mitos tentang emas ini, yaitu bagaimana pencarian para kimiawan terhadap senyawa atau unsur apapun (kayu misalnya) yang bila direaksikan akan menghasilkan emas.

Nah, Penemuan emas ternyata masih merupakan hal yang diburu orang. Dari Stockwatch Canada (informasi bursa saham Canada) yang mempunyai situs web di Internet, setiap minggu sedikitnya ada tiga berita tentang temuan emas di berbagai penjuru dunia. Ini berkaitan dengan banyaknya junior companies Canada yang bergerak di bidang ekplorasi mineral di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia saat ini diperkirakan sekitar seratus junior companies Canada melakukan kegiatan penelitian umum dan eksplorasi.

Sebelum abad 18, penghasil utama emas di dunia adalah Amerika Selatan. Pada abad 16, ekspedisi-ekspedisi yang dikirim Spanyol untuk menemukan El Dorado di Amerika Selatan, malah menemukan harta karun Aztec di Meksiko dan Inca di Peru, serta menjarahnya untuk dibawa pulang ke Spanyol. Emas pada masa itu kebanyakan dipakai sebagai mata uang dan perhiasan. Oia, bisa dipastian bahwa disamping emas, pasti selalu ada kolonialisme disana. Inget prinsip 3G kaum penjajah kan? Gold adalah salahsatu motifnya. 😀

Sekilas tentang Kontrak Karya. (Hal 17)

Sedikit menyinggung tentang regulasi pemerintah Indonesia di bidang emas, minyak atau gas yang dikategorikan sebagai sumber daya alam. Di UUD kita, secara jelas hal tersebut dinyatakan dalam ayat 3 Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Bersumber dari amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang sakral itulah semua peraturan tentang pertambangan diderivaksikan. Secara bijaksana pula Pemerintah membuat penafsiran, bahwa “menguasai” tidaklah identik dengan “memiliki”. Penafsiran ini merupakan landasan penciptaan peraturan-peraturan di bidang usaha pertambangan Indonesia. Dalam sebuah diskusi di Sekretariat Negara sekitar sepuluh tahun yang lalu, Pemerintah bertekad untuk mengurangi kesan (down tone) kepemilikan, dan sebaliknya mencuatkan kepentingan pemasukan negara, kesempatan kerja, dan mengurangi kesenjangan dengan memakai aset yang dikuasai Negara.

Hasil tambang yang pertama kali diatur oleh Pemerintah adalah minyak bumi. Pada dasarnya, Pemerintah menerapkan konsep production sharing dalam pengelolaan sumberdaya minyak bumi Indonesia dengan kontraktor-kontraktor asing. Kurangnya pengalaman Pemerintah pada waktu itu (baca : sekira zaman orba) dalam menangani kontrak-kontrak yang melibatkan perusahaan besar dari mancanegara, membuat Pemerintah memperlakukannya dengan penuh kewaspadaan. Salah satu hal yang dianggap “menakutkan” bagi pemerintah pada waktu itu adalah munculnya kekuatan tujuh perusahaan minyak raksasa yang dikenal dengan sebutan “The Seven Sisters”. Pada satu titik, “The Seven Sisters” ini, baik secara sendiri-sendiri maupun beraliansi, bisa saja mendikte pemerintah dengan usulkan klausal-klausal perjanjian yang menguntungkan mereka.

Untuk mencegah kemungkinan itu, Pemerintah menerapkan strategi merangkul perusahaan-perusahaan ekplorasi perminyakan berskala kecil (junior companies) untuk beroperasi di Indonesia. Asamera, misalnya, adalah salah satu perusahaan ekplorasi minyak pertama yang oleh Ibnu Sutowo, Direktur Utama Pertamina pada masa itu (kalo pernah baca novelnya Habibi-Ainun gak akan asing dengan nama itu. Hehe), diberi kontrak untuk melakukan eksplorasi di Indonesia. Asamera berhasil dan hingga kini masih eksis, bahkan telah men-transformasi-kan dirinya menjadi perusahaan minyak yang andal, tidak lagi sekadar yunior. Contoh perusahaan yang semula kecil dan kini telah berhasil di bidang perminyakan Indonesia adalah IIAPCO.

Kontrak Pertambangan berdasarkan production sharing itu hanya berlaku bagi komoditi minyak dan gas bumi, serta batubara. Batubara dimasukkan dalam klasifikasi yang sama karena fungsinya sebaga sumber energi. Untuk jenis-jenis mineral lain, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pertambangan, Pemerintah menerapkan sistem Kuasa Pertambangan (KP, hanya untuk pengusaha nasional), Dan Kontrak Karya (KK, hanya untuk perusahaan asing). Lahirnya Undang-Undang Pertambangan itu juga memberikan landasan yang lebih mantap bagi peningkatan operasi penambangan mineral. Pada 1952, misalnya, telah berakhir masa konsesi bagi perusahaan-perusahaan pertambangan Belanda yang melakukan penambangan timah di pulau-pulau Bangka, Belitung, dan Singkep. Sebelum lahirnya Undang-Undang Pertambangan, perusahaan tambang timah negara itu nyaris beroperasi di atas aturan-aturan yang ad hoc, antara lain dengan Perpu 37.

Pembedaan sistem itu sebetulnya sangat berlandasan. Penambangan mineral jauh lebih tinggi risikonya dibandingkan penambangan minyak dan gas bumi. Perusahaan minyak, misalnya, cukup mengebor dua lubang – di Indonesia pada kedalaman 600-2000 meter, di tempat-tempat lain bisa sampai 3000 meter –dengan biaya sekitar AS$4 juta per lubang, untuk bisa memutuskan apakah terdapat cebakan ekonomis di kawasan itu. “Bahkan, bila tajam analisis seismiknya untuk menemukan oil trap atau gas trap di dalam perut bumi, dengan satu lubang pun sudah ketemu,” kata B.M.W. Siagian, seorang geolog kawakan yang kini memimpin PT Timah Investasi Mineral. Perusahaan tambang mineral, sebaliknya, harus melakukan pengeboran sebanyak ratusan lubang sebelum bisa menarik kesimpulan tentang adanya cebakan ekonomis. Biaya pengeboran rata-rata mencapai AS$100 per meter, atau sekitar AS$25,000 per lubang. “Tergantung jenis batuan di mana mineralisasi ditemukan. Bisa mahal, bisa kurang mahal,” kata Siagian. Perbedaan utama antara KPS (Kontrak Production Sharing) dan KK (Kontrak Karya) adalah bahwa KPS manajemen seluruh kontraktor asing ditengani oleh Indonesia, dalam hal ini Pertamina. Setiap perencanaan pengembangan harus disetujui Pemerintah. Untuk produk minyak, Indonesia memperoleh bagian 85%, sedangkan kontraktor memperoleh 15% sebagai upah. Untuk gas bumi, kontraktor memperoleh upah lebih besar, yaitu 30%.

Susahnya Menambang Mineral itu, … (Hal 21)

Menurut Soetaryo Sigit bahwa success rate untuk usaha pertambangan mineral emas rasionya adalah kurang dari 3:100. Padahal di subsektor minyak dan gas bumi angka keberhasilannya bisa mencapai 1:2. Sukses yang dicapai segelintir perusahaan tambang mineral hanyalah sebuah puncak gunung es yang tampak di atas permukaan laut. Di bawahnya terpuruk ratusan perusahaan tambang yang sedang berusaha untuk mencapai puncak gunung es, dan sebagian besar bahkan sudah terkubur beku di bawah sana.

Risiko teringgi yang dihadapi perusahaan pertambangan adalah biaya eksplorasi yang tak ada batasnya. Siapa yang bisa memastikan bahwa setelah sumur bor keseratus akan ditemukan emas? Tingginya risiko usaha pertambangan juga diperkuat dengan unsur-unsur berikut: lokasinya yang jauh di pelosok tanpa infrastruktur memadai, memerlukan modal yang sangat besar (capital intensive), usia penambangan yang terbatas, serta pencegahan pencemaran dan rehabilitasi lingkungan yang juga mahal biayanya (sosial maupun aktual). Kuntoro Mangkusubroto dalam ceramahnya di Metal Mining Agency of Japan pada akhir September 1996 mengatakan: “Every mineral prospect is now the site of intense environmental, social and political negotiation.” Harga komoditi mineral yang ditetapkan oleh pasar membuat perusahaan penambangan hanya menjadi price taker yang setiap saat berada dalam posisi rawan oleh goyangan harga pasar. Belum lagi bila harus dipertimbangkan upaya-upaya Pengembangan wilayah (community development) mengingat lokasi operasi biasanya berada di daerah terpencil yang terbelakang pembangunannya. Semua risiko itu juga membuat rintangan lain bagi perusahaan pertambangan: sulitnya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan. Anggapan-anggapan umum dan para pakar yang kurang memahami masalah untuk memperketat aturan-aturan Kontrak Karya – apalagi mengubahnya menjadi Undang-Undang – akan berakibat kontra-produktif. Misalnya, Rachman Wiriosudarmo, mengatakan bila kontraktor ditekan dengan pajak yang semakin tinggi, dampaknya adalah pada merosotnya komitmen di bidang perlindungan lingkungan, konservasi mineral, dan pengembangan wilayah. Pada masa Mohamad Sadli menjadi Menteri Pertambangan, misalnya, pernah diberlakukan ketentuan tentang windfall profit (bila keuntungan melebihi 15% dikenai pajak tambahan) yang antara lain membuat “kosong”- nya permohonan Kontrak Karya selama sepuluh tahun. Unsur keberuntungan boleh dikata tak ada di bidang usaha pertambangan. Jim Bob Moffett, CEO Freeport, selalu mengatakan bahwa: “Luck is when hardwork meets opportunity.” Perusahaan-perusahaan pertambangan yang sekarang berada di puncak gunung es itu bukanlah perusahaan-perusahaan yang beruntung. Mereka telah terlebih dahulu mempertaruhkan segala daya dan dana untuk menemukan cebakan mineral yang dikejarnya.

Referensi bacaan :

  1. Bre-X ; Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, Bondan Winarno. bagi yang ingin membacanya dalam bentuk pdf, silakan sudah ada yang berbaik hati menguploadnya di sini.