Culture · Ekonomi · Engineering

Startup untuk Indonesia

unnamedPenetrasi internet sudah semakin luas masuk ke daerah-daerah di Indonesia. Disinyalir bahwa pengguna aktif internet saat ini terhitung sebesar 132,7 juta orang atau sekira 51,8% dari total populasi indonesia. Angka yang cukup besar. Internet sudah bukan barang mewah lagi, melainkan jadi potensi yang seharusnya bisa menghasilkan perbaikan bagi sektor kesejahteraan dan perekonomian Negara. Apa mungkin? Sangat mungkin. Meski pengguna terbesar internet di Indonesia masih belum tersebar merata karena hampir 65%-nya terdapat di pulau Jawa. Ini menjadi potensi yang harus dimaksimalkan agar Indonesia tidak sekedar menjadi konsumen internet tetapi menjadi pemain aktif dan mampu meraih profit dari hingar bingar teknologi internet.

Gerakan nasional 1000 startup terdiri dari beberapa tahap ; ignition, networking session, workshop, hackathon, bootcamp dan incubation. 1000 startup itu sendiri dialokasikan untuk jangka waktu 5 tahun, jadi ada sekira 200 startup setiap tahunnya yang lahir dari 10 kota besar, atau setiap kota-kota itu bisa menelurkan sekira 20 startup baru setiap tahunnya.

Pemerintah, dengan visi jauh kedepan yang dibawa oleh pak Presiden, untungnya secara sadar mau untuk ikut serta dalam perhelatan akbar dari startup ini dengan mencanangkan tujuan Indonesia sebagai the digital energy of asia ; an accelerated and empowered SME-Driven digital economy. Ini langkah taktis yang diambil pemerintah guna mengejar ketertinggalan kita dari negeri-negeri maju lainnya, terlebih adanya pergeseran basis industri dimana kita tidak bisa lagi sepenuhnya bertumpu pada sumber daya alam yang kian hari kian berkurang (minyak, gas, dll). Sudah saatnya Indonesia menjadi pemain baru di kancah penggunaan internet untuk bisnis (karena ini memang dunia baru. Negara-negara lain juga masih sama-sama bingung dan sedang belajar). Startup sendiri diartikan sebagai suatu penyelesaian masalah dengan menggunakan teknologi. Untunglah Indonesia banyak sekali masalahnya :D, kita tidak kekurangan masalah, malah berlimpah, dan itu bagus untuk iklim pengembangan startup. masalah-masalah itu ikut menyuplai ide-ide untuk para founder startup. Karena didalam startup itu ada tiga komponen penting yang menunjangnya, yaitu ada masalah, kemudian dicari solusinya, lalu dibuatlah produk (kreasi) akhirnya yang bisa saja akan terus mengalami perkembangan.

Gerakan nasional 1000 startup digital ini digagas oleh beberapa orang yang peduli kepada Indonesia, yang ingin melihat Indonesia bisa bersaing dengan Negara-negara lain, yang ingin menyelesaikan satu persatu permasalahan di Indonesia, dan yang berharap bahwa Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih baik dan layak untuk ditempati. Orang-orang dibelakang gerakan ini memang secara aktif berdialog dan terjun langsung ke lapangan dunia startup, bahkan diundang oleh presiden dan ikut mendampingi beliau ketika melakukan kunjungan (study banding) ke Silicon Valley, kota pusat pengembangan teknologi di California, Amerika Serikat. Markasnya google, facebook, apple, twitter, dan semua startup besar lainnya. Sepulangnya presiden dari kunjungan yang sangat berkesan dan membuka pikiran itu (untunglah kita punya presiden yang open minded dan tidak kolot) yang dengan menggebu-gebu bilang bahwa ia ingin Indonesia bisa seperti itu. ingin Indonesia ikut dalam pemanfaatan teknologi internet ini. Pernah Pak Yansen Kamto menanyai audiens bahwa berapa banyak dari kita yang hanya sekedar konsumen dan penikmat dari layanan-layanan startup itu, yang hanya menjadi penonton saja. Tetapi kita harus bisa membuatnya.

Dalam melihat perkembangan startup di dunia saat ini, menarik untuk membandingkan visi yang dibawa oleh Amerika dan China. Pada beberapa hal kedua Negara ini mewakili ideologinya masing-masing, dan Indonesia bisa belajar banyak dari mereka. Amerika mempunya visi “membebaskan”, di internet jangan ada kekangan, sehingga itu bisa lebih memberikan keleluasan bagi warga amerika untuk terus berinovasi dan menciptakan hal-hal baru (tidak heran kalau kita lihat bahwa kebanyakan teknologi yang “wah-wah” (ide-ide gila) biasanya terlahir di sana), silicon valley adalah contoh yang tepat untuk menjelaskan visi amerika itu, disana orang bebas berkreasi. Sementara China menerapkan kebijakan Internet plus, maksudnya adalah pemanfaatan internet untuk berbagai sector, semisal internet plus umkm, internet plus ojek, internet plus bisnis, internet plus baso, internet plus cilok, dlsb. *hehe. Polanya di drive oleh pemerintahnya, jadi pemerintah tidak membiarkan warganya berbuat sebebas-bebasnya. Pemerintahnya sangat protektif, sehingga kita tidak akan melihat facebook di China, google pun tidak ada, uber juga dilarang, tapi hasilnya mereka sendiri yang membuatnya, ada facebook versi china, google versi china, uber versi china, dll. Nah, kira-kira Indonesia cocok untuk meniru yang mana? Apakah Indonesia akan bisa berkreasi bila pemerintah membebaskannya? Saya kira tidak akan bisa, indoensia belum siap untuk seperti amerika. Kalaupun ada beberapa pemain besar yang terlahir seperti gojek, tokopedia, bukalapak, dlsb, itu murni accident. Pemerintah malah membuat mereka jadi terkekang dengan beberapa regulasinya. Ya kan? :D. Meskipun sekarang pemerintah sudah mau berubah, sudah lebih mau mendengar karena merasa bahwa kita sedang tertinggal dan perlu mengejar. Ini dibuktikan dengan positioning dari pak presiden dengan menerbitkan 6 policy digital economy, yang melahirkan 14 policy package. Isu-isu kuncinya adalah founding, cyber security, tax, logistic, education and human resources, dll. Pemerintah sangat konsen sekali untuk mengembangkan dan memacu anak bangsa agar bisa menciptakan produk-produk startup.

Artinya dunia sedang berubah (*Tsaaah, kibas rambut). Bahwa saat ini dunia sedang bergeser ke perekonomian digital, orang tidak lagi perlu mengantri lama-lama di bank untuk membuat akun, tinggal duduk manis di rumahnya di depan computer dan semua bisa terlayani, orang tidak lagi perlu berpanas-panas ke jalan atau ke pasar, semuanya tinggal klik klik klik. Tersedia di hape pintar yang tingga di charge bila mau habis batereinya. Tetapi di lain pihak, ini juga menimbulkan distraktif digital ekonomi. Artinya akan banyak lahir peluang pekerjaan-pekerjaan baru yang muncul diikuti hilangnya pekerjaan-pekerjaan lama, seperti sekarang ada orang dengan pekerjaan data analysis, dlsb. Pekerjaan-pekerjaan yang aneh-aneh akan muncul, dan bisa jadi jurusan yang kita ambil sekarang di masa yang akan datang sudah punah pekerjaannya (bila tidak bisa menyesuaikan dan adaptif).

Target akhir dari startup ini adalah e-commerce, bentuknya bisa bermacam-macam ; service (seperti gojek), good product, medium product, dlsb. Dengan angka transisi via internet mencapai dua ribu triliun rupiah. Saat ini hampir 60% GDP ditunjang oleh umkm. Dari 57 juta, sekira 8%nya menyumbang GDP. Nah, tujuan pemerintah adalah bisa mengonlinken umkm tersebut.    

Pemerintah juga mencanangkan program yang bernnama “Palapa ring project”, sebuah program untuk membuat internet highspeed dari fiber optics. Siapa kira-kira yang akan senang kalau internet masuk ke papua? Yap. bukan haynya orang-orang papua saja, melainkan pihak Google, FB, whatsupp, instagram, dll juga ikut senang. Mereka dapat profit tanpa harus mendirikan perusahaan di Indonesia. Artinya mereka dapat penghasilan tanpa harus membayar pajak ke pemerintah Indonesia.

Tahun lalu traffic internet perdetik di Indonesia adalah lima ratus terabyte, dan tahun ini setelah 4G masuk jadi tiga kali lipatnya. Jangan kira kalau kita internetan itu murni menggunakan uang kita saja, tidak sesederhana itu. coba lihat kedalam hape kita, bisa dipastikan bahwa 90% aplikasi yang ada didalam hape kita adalah aplikasi yang dibuat oleh luar negeri, mulai dari facebook, instagram, whatsapp, gmail, google, yahoo, dlsb. Aplikasi yang berbasis di luar negeri itu bila kita akses (servernya kan ada di luar negeri juga) secara tidak langsung morotin devisa Negara, karena Negara jadinya harus membayar untuk setiap bite data yang kita akses dari luar negeri tersebut. Berbeda halnya bila aplikasi itu ada di dalam negeri, ketika kita mengaksesnya, servernya kan local, sehingga jaringan data hanya berputar di Negara sendiri. Itulah arti penting kenapa kita harus mulai mengembangkan startup ini hampir di setiap lini, tidak lain adalah untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap produk-produk dari luar negeri.

Penting juga untuk melihat perbandingan dua Negara yang nyaris sama dalam beberapa hal dan sangat jauh berbeda dalam beberapa hal lainnya, yaitu Indonesia dengan Korea selatan. Dua Negara ini merdeka pada tanggal yang tidak jauh berbeda, hanya selang beberapa belas hari, tapi indeks kesejahteraan dan GDPnya sangat jauh berbeda. Padahal secara sumber daya alam kita lebih unggul, pun begitu juga dengan populasi, tapi ternyata korea selatan jauh melesat di depan kita, bahkan produsi filmnya pun menjadi santapan kita. Padahal jumlah produksi sinetron kita jauh lebih banyak daripada mereka. Tapi itu soal lain, yang jelas, point pentingnya adalah Negara kita dengan populasi lebih dari 250 juta dengan 50% usianya berada pada usia 30 tahun (usia produktif), tetapi ternyata sejumlah 944.666 lulusan kuliahan tidak mempunyai pekerjaan. Kita bisa melihat ini sebagai suatu problem serius, tapi untuk orang-orang optimis, itu sebetulnya adalah potensi. Jadi, marilah kita ubah pola pikir kita. Kita rombak MINDSET. Pola pikir seorang co-founder startup selalu melihat potensi dan peluang dari setiap masalah yang ada. Meskipun membuat startup juga tidak sesederhana dan segampang yang orang kira. Perlu kerjakeras dan kesungguhan yang mampu membuat startup bisa terus berjalan dan berkembang, tidak karam ditengah jalan.

Membuat startup artinya mau berlelah-lelah untuk berbuat dan melakukan sesuatu dengan kerja keras. Dimana-mana yang dinamai pengusaha itu ya merujuk ke orang yang benar-benar mau berusaha. Startup selalu identic dengan inovasi, inovasi itu sendiri adalah sesuatu yang kita sendiri tidak tahu selanjutnya itu akan seperti apa. Makanya dalam dunia startup itu tidak ada kegagalan (dalam proses trial and error), yang ada adalah pembelajaran. Karena setiap kegagalan itu selalu ada nilai pembelajarannya. Startup juga bukan sekedar kita menjual barang lalu diiklankan melalui facebook, whatsapp, instagram atau apa, startup bukan sekedar itu, melainkan sejenis tech company (bukan another trading  company). Intinya harus bisa fokus pada gambaran besarnya.

Penekanan startup adalah Solved problem ; bagaimana ktia bisa meng-add value pada sesuatu, lalu optimize, dan men-disrupt. Contoh, biasanya orang membuat skripsi hanya untuk syarat lulus, setelah itu hanya disimpan dan menjadi tumpukan yang tidak berharga, seorang co-founder startup akan berpikir untuk memanfaatkan masalah ini, dari sekian juta skripsi itu yang terbengkalai, kenapa tidak mencoba untuk mengumpulkannya dan barangkali memang ada ide menarik yang terdapat didalam skripsi itu yang bisa digunakan untuk keperluaan perusahaan orang, atau ada orang yang tertarik untuk mendanai, kan itu bisa jadi peluang usaha juga. Add value itu menambah nilai pada sesuatu yang asalnya seperti tidak mempunyai nilai sama sekali.

Saran baik dari pak Sony yang masih terngiang-nginga di telinga saya adalah ini, “Yang membuat kalian benci, yang membuat kalian annoying pada sesuatu, bisa jadi sesuatu itu peluang karir kalian. Tujuan kalian hidup untuk bisa menyelesaikan atau memberikan solusinya.” Saya berpikir, benar juga. Apa-apa yang mengganggu kita adalah potensi untuk dijadikan ide dasar startup, seperti saya yang kadang suka terganggu dengan susahnya mencari buku-buku bacaan yang bagus karena terkadang di toko buku besar, mereka hanya menjual buku yang laris dan popular, entah bukunya bagus atau sampah, toko buku yang sudah menjadi kapitalistik. Biasanya saya menjumpai buku-buku bagus yang sudah sangat sulit dicari itu lewat pelapak buku bekas, toko buku online yang dikelola oleh beberapa gelintir orang berdedikasi, dlsb. Saya keidean untuk membuat startup yang bisa mengumpulkan ‘orang-orang’ ini. Kadang orang membeli buku hanya untuk dibaca, setelahnya disimpan di dalam rak, ini kan bisa jadi peluang juga untuk saling bertukar dengan oranglain atau mungkin untuk saling jual, siapa tahu kan. 😀

Menurut pak Yansen Kamto, terdapat lima area potensi startup ; agriculture, education, health, tourism dan logistic.  Setiap bidang itu mempunyai masalahnya masing-masing. Pak Yansen memberikan contoh praktis untuk setiap bidangnya, tapi tidak saya tulis karena sepertinya tulisan ini sudah kelewat panjang. Jadi mungkin kali lain.

 

Culture · Historis

Muslim itu Mesti Peka

(*Pernah diposting sebelumnya di website Percikan Iman, 2015 silam)

Manusia adalah makhluk sosial yang tak sekedar memikirkan keadaan dirinya sendiri, tetapi juga lingkungan tempat dimana ia tinggal dan berinteraksi. Dunia memang tak pernah mengijinkan bagi manusia untuk hidup sendirian, karena mesti bagaimanapun, mereka saling terhubung dan saling membutuhkan antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Teorinya manusia itu adalah makhluk sosial, tapi bukan karena semata-mata teori itu lantas kita harus merasa wajib untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Tetapi karena secara fithrah dan naluriah kita memang memerlukan orang lain, sehingga jadi absahlah teori tersebut. Lihatlah Nabi Adam ‘alaihi salam, meskipun beliau sudah enak dan nyaman tinggal di surga, tetap saja merasa tidak kerasan ketika beliau hidup sendirian, dan akhirnya diberilah Siti Hawa untuk mendampingi dan menentramkan hatinya. Artinya, bahagia saja tidak cukup. Perlu ada orang lain untuk menggenapkan kebahagiaan tersebut. :p

Mungkin bisa saja kita untuk memilih dan memutuskan hidup menyendiri dan sendirian. Jauh dari keramaian, dan tertolak akses terhadap manusia lainnya, tetapi, ketahuilah, bahwa hidup yang seperti itu, secara tidak langsung telah mematikan kehidupan itu sendiri. Manusia tidak akan pernah mencapai nilai kemanusiaannya tanpa melibatkan orang lain. Taruhlah bahwa nilai kebermanfaatan manusia, yang dalam hal ini menyangkut kebahagiaannya dan kesuksesannya, selalu berkaitan dengan manusia lain, semacam memberikan dedikasi hidupnya agar berguna untuk orang lain.

Bisa kita lihat beberapa contoh kehidupan orang-orang  kaya dunia saat ini, akan kita dapati bahwa kebahagiaan hidup mereka tidak sepenuhnya terletak dalam uang dan kekayaan. Mereka malah lebih suka untuk mengeluarkan uangnya demi bakti sosial dan kegiatan kemasyarakatan atau kegiatan-kegiatan filantropis (derma) lainnya, dan ternyata, itu membuat mereka merasa bahagia. Dan konon kabarnya, mereka malah ketagihan untuk terus menerus melakukan bakti tersebut. Semacam ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa dibeli oleh uang atau materi.

Hidup memang kompleks. Tidak sekedar berpikir tentang makan apa saya hari ini, lalu bagaimana besok, atau dapatkah cita-cita masa kecil terwujud, bagaimana berpelesiran ke luar negeri, dan sekelumit keinginan-keinginan ilusional yang membayang dalam benak dan seakan ketika kita bisa meraihnya, maka kebahagiaan sudah pasti teraih. Padahal tentu saja tidak demikian.

Nyatanya kebahagiaan itu sangat sederhana yang melibatkan orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang perlu mendapatkan “secuil” perhatian dan kepeduliaan kita. Bahwa dengan keberadaan mereka, menjadikan keberadaan kita menjadi bermakna dalam artian bahwa secara tidak langsung mereka telah menyediakan peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan. Maka, sebetulnya yang perlu berterimakasih atas kebaikan kita itu bukan mereka yang mendapatkan kebaikan tersebut, tetapi kitalah, yang karena mereka, masih terbuka peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila dunia ini sudah di dominasi oleh orang-orang yang kaya dan tidak perlu mendapatkan bantuan?

Maka, sebelum engkau makan dengan lahap dan enaknya, perhatikan dulu tetanggamu, perhatikan lingkungan sekitarmu. Apakah mereka sudah kenyang? Sudah makan dan tak kebingungan dengan masalah dunia dan penghidupan? Apakah anak mereka masih suka menangis karena menahan laparnya perut mereka dan orang tuanya yang seakan sudah kehabisan akal dan alasan untuk bagaimana lagi memberi tahukan kepada anaknya bahwa saat itu mereka sedang tidak punya sesuatu untuk di makan? Ataukah keberadaan kita memang sudah kehilangan nilai dan makna, sehingga ada dan tidak adanya kita tidak mempunyai perbedaan sama sekali. Kita kenyang dan tercukupi kebutuhan, sementara di samping rumah kita perut-perut tetangga kita masih tidak bisa tenang dan harus menahan pedihnya lapar.

Ada satu kisah menarik dari sang Kholilullah, yakni Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam. Terkait dengan mengapa beliau mendapatkan gelar Kholil-nya Allah. Gelar yang tidak sembarangan nabi bisa memperolehnya, bahkan diyakini bahwa dengan segala keutamaannya, Nabi Ibrahim di dapuk menjadi nabi yang terbilang paling terpandang diantara sekian banyak nabi. Selain beliau merupakan salahsatu dari ke-5 nabi yang mempunyai predikat Ulul Azmi (yang terbaik kesabaran dan kesyukurannya serta paling tangguh dalam menghadapi cobaan), berkat beliau pula, yang berdoa tiada henti, akhirnya dikabulkan doanya dengan terlahirnya sang cucu jauh, Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wassalam, sebagai perwujudan dari rahmatan lil alamin untuk segenap alam dan sepanjang masa.

Kisah ini adalah tentang bagaimana Nabi Ibrahim mempunyai kebiasaan untuk tidak pernah mau makan sendirian, sebelum ditemani oleh 80 orang tetangga atau orang lain, siapa saja, tidak membeda-bedakan. Dalam keyakinannya, beliau tidak akan makan bila belum berkumpul dengan 80 orang yang akan diajaknya makan. Masya Allah, … bisa dibayangkan bagaimana pemurah, pengasih dan dermawannya Nabi Ibrahim. Dan ini setiap kali beliau mau makan. Jadi kalau misalnya beliau makan 2 atau 3 kali sehari, itu artinya ada 160 atau 240 orang yang beliau beri makan.

Beliau, dalam kisah tersebut, hingga sampai berlelah-lelah untuk mengumpulkan orang sebanyak itu. Dan setelah berkumpul orang banyak tersebut, maka dimulailah makan sambil mengucap syukur dan tiada hentinya mengucapkan terimakasih kepada orang-orang tersebut karena telah mau menemani beliau makan. Karena tiada keberkahan yang berlimpah pada makanan yang hanya di makan untuk diri sendiri, sehingga kita pun sering mendengar istilah yang terkenal di kalangan orang desa atau santri, bahwa tak penting menu makannya apa, tetapi bila makan dengan kawan atau keluarga, maka ada keberkahan tersendiri yang menjadikan makanan tersebut terasa nikmat sekali. Jadi, hampir setiap kali makan, nabi Ibrahim, seperti sedang mengadakan acara syukuran atau hajatan. Karena memang saking banyaknya orang yang beliau undang. Maka itulah Islam,itulah muslim dan mukmin. Perilaku dan tindak tanduk kesehariannya selalu memberikan manfaat kepada orang di sekitarnya. Kebaikan yang tersebar ke sekelilingnya,sehingga benar lah adanya  apa yang telah Rasul Saw sabdakan, “Manusia terbaik itu adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Dalam hadits tersebut, tidak dikatakan orang yang paling bermanfaat itu adalah orang yang kaya. Karena kita tahu, kekayaan saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang baik dan bermanfaat untuk orang lain. Bahkan, terkadang sering kita lihat orang yang tak berpunya, dan malah seharusnya mendapatkan santunan dari pihak lain, malah mendermakan sebagian materinya untuk orang lain. Itulah manfaat. Ia tidak bisa dimonopoli oleh harta dan materi, tetapi merupakan pembuktian kualitas keimanan seorang muslim.

Iman memang letaknya di hati, tetapi buahnya, selalu bisa dilihat dari perilaku yang tampak. Perilaku tersebut merupakan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak cukup untuk disebut sebagai orang yang beriman, ketika lidah dan perbuatannya malah membahayakan orang lain, sehingga orang lain merasa tidak aman dan tidak tenang atas perbuatannya. Tidak cukup pula iman itu dirasakan oleh dirinya sendiri, karena iman yang sejati, dan sebenar-benarnya iman, perlu pembuktian dengan tindakan. Mau sesepele atau sekecil apapun perbuatan baik tersebut, itu tak jadi soal. Lihatlah dawuh Rasul di kesempatan yang lain, ketika beliau menyebutkan bahwa cabang iman itu ada banyak, dan salah satu diantaranya adalah dengan menyingkirkan batu kerikil, cucuk, paku, serpihan kaca atau apapun yang membahayakan di jalan, agar supaya tidak membahayakan orang lain. Lihatlah, ..dengan perbuatan sederhana seperti menyingkirkan batu kerikil di jalan yang dikhawatirkan akan membahayakan orang lain saja, tercatat sebagai perilaku orang yang beriman, dan perbuatan tersebut termasuk pula dari cabang iman.

Jadi, sudahkah anda berbuat baik hari ini?

Ref :

*Link tulisan yang pernah dipublish itu, http://percikaniman.id/2015/10/04/muslim-itu-peka-terhadap-sesama/

Culture · Uncategorized

Mahasiswa ; Kembalilah Ke Budaya Membaca Buku, Bukan Internet.

Zaman memang telah berubah, dan akan selalu berubah. Bahkan mungkin saja roda zaman telah menggilas kita, dan kita terseret tertatih-tatih. Bila tidak bisa menyesuaikan, bisa-bisa kita tergulung olehnya. Tapi perubahan itu tidak selalu positif dan tidak selalu harus diikuti, kan?. Untuk suatu perubahan yang negative, masak harus diikuti, kan amboi anehnya. Terhadap perubahan kita punya pilihan dan berhak untuk memilih. Kata siapa status quo selalu bermakna kolot, jasdul dan norak? Dan kali ini, saya menjadi sangat ingin menuliskan tentang budaya yang kian mengganas dikalangan mahasiswa ; menjadikan internet sebagai segalanya. Yang membuat buku, jendela dunia itu, menjadi kian tidak menarik dan kehilangan tajinya. Alih-alih menaikkan tingkat literasi, saya pikir internet malah membuat budaya literasi di kalangan mahasiswa turun drastis bak ipk-mu, rek. *Eh.

perpusnas
Ya ampuun.. perih mata ini.*Gambar diambil dari web Perpusnas

Bila kita melihat kecenderungan dunia digital dengan akses terhadap informasi yang tak ada habis-habisnya melemparkan kita pada suatu kondisi (yang jauh lebih mengerikan dari) alienasinya Karl Marx. Kita dibingungkan oleh serbuan informasi yang terus menerus, membuat batas antara benar dan salah menjadi setipis harapanku padamu (loh?). Haha. banjir informasi di internet sekarang dengan perspektif yang berbeda-beda ini akan membuat kita bagai minum air asin ; semakin diminum semakin haus. akhirnya alih-alih membuat kita paham, malah membuat kita bingung, salah kaprah dan keblinger. maka, definisi kebenaran bukan lagi sesuatu yang sejati, melainkan jadi sekedar suatu repetisi yang dipaksakan. Kebenaran adalah kebohongan dikali 500 kali. Artinya apa? Kebohongan yang diulang-ulang pada suatu waktu akan menjadi kebenaran dan menjadi opini umum atas suatu masalah.

Buku telah menjadi media alternative dalam menyimpan pengetahuan. Dan itu memang tidak pernah mengecewakan. Tetapi dengan menyingsingnya fajar era internet, apakah masih relevan dan patut bahwa yang memonopoli peng’arsipan’ atas pengetahuan itu dipegang oleh buku? Apakah internet bisa menjadi cara baru kita dalam merawat kewarasan berpikir dan sumber mencari pengetahuan, informasi dan ilmu? Kita sepertinya masih ragu untuk sampai ketahap itu. terlebih, setahu saya google itu, misalnya, isinya adalah sampah semua. Belum lagi fakta yang mengejutkan bahwa apa yang kita cari dari google, Wikipedia, Yahoo atau blog hanya 4% dari apa yang ada di samudera luas internet. Kita masih berada di permukaannya saja (itulah mengapa kita sering mendengar untuk aktivitas kita mencari informasi di google dinamai dengan istilah surfing atau berselancar), karena 96% informasi di internet (yang jarang atau susah di akses?) terdapat di kedalamannya yang dikenal dengan istilah deepweb atau bahkan ada lagi yang lebih dalam ; darkweb. Disana terdapat jurnal-jurnal ilmu pengetahuan, riset dari yang normal hingga yang absurd bahkan bengis pun ada. Tapi bukan tempatnya disini untuk membincangkan tentang keeksotisan deepweb. *Tsaah

perpus-geologi-ugm
Doi sejati eykeu

Nah, Sebuah paper yang ditulis oleh John Gehl dan Suzanne Douglas yang berjudul From Movable Type to Data Deluge, yang diterbitkan oleh Jurnal Educom Review, menjelaskan tentang berubahnya kendali informasi dan pengetahuan. di era sebelumnya, kita menganggap pembawa pesan memiliki lebih banyak informasi dan pengetahuan daripada pembaca. di era internet, posisi itu berubah ; pemilik kontrol bukan si pembawa pesan, tapi si pemegang gadget.

Kata gehl dan douglas, internet telah membuat penggunanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena akses dan kesetaraan informasi. dengan ketersediaan informasi yang sangat luas itu yang bisa mereka akses lewat ujung jari, pengguna internet merasa bahwa level pengetahuan mereka setara dengan siapapun. sementara kalau menurut Elias Aboujaoude, seorang doktor ilmu kejiwaan klinis dari stanford university, mengemukakan bahwa internet meyakinkan kita bahwa kita lebih terpelajar, lebih dewasa atau lebih pintar dibanding kita yang sebenarnya. internet telah menjadi mesin peningkat rasa percaya diri yang belum pernah ada dalam peradaban manusia. Padahal aslinya bisa jadi kita tidak seperti anggapan tersebut.

Mengutip tulisannya Hilman Fajrian yang menyebutkan laporan British Library pada tahun 2008, bahwa pembaca buku dan pembaca digital itu mempunyai perilaku yang berbeda. Otak pun bekerja dengan cara yang berbeda antara membaca buku dan digital. pembaca digital cenderung tak menyortir, tidak konsisten, tak kritis, melompat-lompat dan tak sabar. rata-rata pembaca onlen hanya menghabiskan 4 menit untuk sebuah buku elektronik, setelah itu melompat ke buku elektronik lain atau internet. dilaporan itu juga disbut 89% mahasiswa inggris menggunakan google untuk mendapatkan informasi. Sebenarnya, sebut british library, pembaca online atau digital tidak benar-benar membaca, tapi “memindai” (scaning atau skimming) halaman. pemindaian inilah yang kita kenal dengan istilah power browse ; cepat dan melompat-lompat. perilaku ini sangat berbeda dengan cara membaca buku yang kita kenal ; perlahan, sabar dan bersedia mengulang. power browse berimplikasi pada tingkat kedalaman pemahaman bacaan, daya kritis, dan daya ingat. yang ujung-ujungnya adalah rendahnya kualitas pengetahuan yang didapat. Cara membaca cepat ini wajar mengingat bahwa ketika kita membaca di layar itu lebih melelahkan ketimbang membaca buku.

Nicholas Carr dalam bukunya yang berjudul “Is Google Making us Stupid?” mengatakan bahwa budaya literasi sebelum masa internet itu seperti berenang di lautan ; perlahan tapi penuh pengalaman. dengan internet, kita seperti mengendarai jetski ; cepat tapi minim pengalaman. Di internet, bahasannya bukan lagi salah atau benar, melainkan yang populer dan tidak. maka siapapun tiba-tiba bisa menulis apa saja, bisa menjadi ahli apa saja, dan bisa menjadi sangat sotoy (:p) dan itu yang berbahaya bagi iklim kebudayaan intelektual kita. Kegiatan untuk mengkonfirmasi terhadap berita juga menunjukan kebalikannya daripada afirmasi di era internet sekarang ini (makanya jangan menelan bulat-bulat setiap berita, khawatirnya keselek. Kunyah dulu pelan-pelan dan utamakan ‘tabayun’ (baca ; kroscek). karena perilaku mengkonfirmasi pemberitaan ini memang jauh lebih melelahkan, lama, dan susah. Sementara di internet, siapa cepat maka itulah yang paling dilirik. Sebelum berintanya menjadi basi dan sudah tidak menarik lagi. akhirnya, kita hanya menerima pemberitaan begitu saja. benar tidaknya tergantung siapa yang paling banyak pembacanya (populer). semakin banyak orang yang setuju (yang ditandai dengan banyaknya like atau share), semakin kelihatanlah benarnya pemberitaan itu. padahal kan belum tentu. perasaan skeptis terhadap isi berita, kekritisan dan curiga jadi hilang begitu saja. Lagi-lagi kata Gehl dan Douglas, “Kalau anda menginginkan informasi yang sejati di internet, berarti anda punya masalah”. hehe. Nah, kan!

Seperti kemarin misalnya, ketika muncul isu rencana aksi mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai ‘aksi bela rakyat’. Semua mahasiswa mendadak menjadi ahli ekonomi, ahli politik, ikut menyuarakan pendapatnya antara yang pro-aksi dan kontra. Saya kira informasi yang mereka tahu hanya sebatas apa yang ada di internet. Meskipun hampir di setiap kampus menyelenggarakan kajian analisis terhadap isu-isu tersebut sebelum memunculkan sikapnya masing-masing, tetap saja internet menjadi andalan untuk berbicara, beropini dan menyanggah. Saya tidak hendak mengomentari tentang aksi tersebut, tapi lebih kepada bagaimana konstruk berpikir mahasiswa yang bila informasinya searah hanya dari internet, akan seperti apa dampaknya. Tapi kalau bukan dari internet, lantas kita dapat ‘pengetahuan’ itu darimana? Nah, bisa banyak sebetulnya, bisa dari dosen, pakar, koran, atau majalah. Tapi itu hanya input, prosesnya tetap ada di kepala mahasiswa, bagaimana dia mengolah akan sangat menentukan apa outputnya. Itu yang lebih kurang bisa menunjukan independensi dari sikap seorang mahasiswa. Ah tiba-tiba saya jadi mau mengutip kata-kata Pram yang sangat membekas di novel Bumi Manusia, “Sebagai orang yang terpelajar, harus sudah bisa adil sejak dalam pikiran.” meskipun mahasiswa juga tidak semestinya di judge atas setiap outputannya itu, karena sepanjang itulah mahasiswa bergelut dengan pemikiran, lingkungan dan keresahan internal jiwanya. Bila pun ternyata keliru, kan masih bisa dianggap wajar, sebagai sekelompok orang yang masih dalam tahap belajar dan merasa.

Kalau kita menganggap bahwa pemerintah anti-kritik karena berpikir semua kebijakannya itu lahir dari pikiran para ahli dan politisi, ini juga keliru.  Proses dinamika dalam kehidupan berbangsa itu harus terus ada. Maka, meskipun gagasan yang diusung mahasiswa keliru (misalnya), tetap saja itu satu nilai yang harus diapresiasi. Saya sepakat dengan Fauzan Fikry, yang mengutip Pak Ashjar Imron, salahseorang anggota MPM ITS era 70-an, yang mengatakan bahwa dahulu kalau mahasiswa ditanya solusi, ada jawaban standar ; kami ini ibarat pasien, bukan dokter. Pasien yang merasakan sakitnya masyarakat. Sementara anda lah dokternya yang kami bayar yang harus mencari solusinya. Jangan terjebak dengan kajian atau analisis mereka yang pasti lebih hebat dan punya jam terbang yang lebih tinggi. Konsentrasilah sebagai pasien, berbicara moral mewakili denyut nadi wong cilik.

Kembali lagi kepada internet sebagai sumber informasi. Apakah ia sah sebagai sumber? Sah-sah saja, selama itu hanya menjadi pembanding atau sumber sekunder. Yang jadi masalah adalah menjadikan internet segala-galanya terlebih tanpa melihat siapa yang berbicara atau yang menulis.  

Tapi, meskipun pada akhirnya kembali lagi kepada proses kreatif dan kearifan manusianya itu sendiri dalam mempergunakan internet. Kita sudah tahu bahwa internet itu sepertihalnya pisau bermata dua. Bisa negative, bisa pula positif. Karena teknologi itu netral. Manusialah yang memberikan makna kedalamnya. Dulu juga Aristoteles pernah mengkritik tulisan, karena ia dianggap menghilangkan tradisi diskusi dan menumpulkan ingatan. Yang jelas perubahan itu pasti, setiap teknologi baru bisa jadi akan menimbulkan ketakutan. Tapi manusia selalu bisa menyesuaikan diri dengan tingkat survival yang luar biasa dan sungguh mengagumkan. Bukankah keberadaan manusia yang sudah ribuan tahuan hingga sekarang membuktikan, bahwa kita telah bisa menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup itu sendiri. Jadi, bisa jadi apa yang saya tulis ini keliru, dan tugas kita lah untuk terus mencari dengan membuat antitesa dari setiap tesa yang ada. Selalu begitu proses dialektika yang kadang melelahkan, tapi terdapat kenikmatan dan keasyikannya sendiri.

perpus
Kalo surga itu memang ada, maka didalamnya pasti bakalan banyak buku. (Garcia)

Referensi :

Jakob Nielsen, How Little Do Users Read, 06 mei 2008.

Harald Weinreich, Hartmut Obendorf, Eelco Herder, and Matthias Mayer: “Not Quite the Average: An Empirical Study of Web Use,” in the ACM Transactions on the Web, vol. 2, no. 1 (February 2008), article #5.

Hilman Fajrian, Internet membuat kita makin ‘bodoh’. 2012. Kompasiana.

John Gehl, Suzanne Douglas, From Movable Type to Data Deluge, diterbitkan oleh Jurnal Educom Review.

Nicholas Carr, Is Google Making us Stupid?

Culture · Engineering · Kampus

Merevisi Kaderisasi Kampus

Note : dibawah ini berserakan istilah-istilah yang berhubungan dengan teknik kimia. Jadi jangan kaget ya.

Saya jadinya juga ikut-ikutan menjadi mainstream dengan ikut membahas agenda abadi dan terpenting di segenap pelosok kampus Indonesia ; Kaderisasi. Entah itu dari segi urgensinya, pro-kontra, efisiensi, nirrelevansi, dlsb. Tapi oke lah kita sepakati dari awal bahwa disini saya tidak hendak memprovokasi anda untuk menolak kaderisasi, karena saya percaya bahwa “bila anda ingin menghancurkan sebuah system atau ide atau gagasan, maka anda harus membuat atau memunculkan system atau ide atau gagasan baru untuk menggantikannya”. Jadi daripada berangkat dari nol lagi, kenapa tidak di revisi saja yang sudah ada. Kita hanya perlu melanjutkan upaya-upaya yang sudah dirintis oleh para pendahulu di kampus (*saya tidak mau menyebut mereka senior, karena kontruksi senior-junior adalah fasis dan melahirkan mental inlander! Haha :p), dengan harapan agar proses itu bisa menjadi lebih baik lagi dengan upaya untuk merevisi yang tidak perlu dan menambal beberapa kekurangannya.

gerigi-its
Gerakan Integralistik ITS. gerbang awal Ospek (Kampus), yang selanjutnya akan diikuti dengan sedereta ospek atau kaderisasi di setiap jurusannya.

Revisian ini tentunya dengan mempertimbangkan efisiensi prosesnya, output kaderisasi, visinya yang jauh ke depan, human resources dan upaya-upaya untuk mencari model kaderisasi yang ideal atau setidaknya menuju kepada proses perbaikan segenap elemen massanya. Proses adalah kata lain untuk mengawal perbaikan ini, bahwa semenjak awal perlu ditekankan bahwa kaderisasi bukanlah searah, melainkan dua arah, timbal balik, reversible, di pihak yang dikadernya maupun pengkadernya, sehingga tidak akan melahirkan gap atau pandangan bahwa pengkader adalah segalanya, serba tahu, serba benar, sementara yang di kader dianggap sebagai barang mentah yang masih polos sehingga harus diperlakukan seperti anak kecil yang belum bisa berpikir mandiri dan harus diarahkan segenap perilaku, sikap dan pikirannya. Kaderisasi adalah pendewasaan, adalah pembentukan pola pikir atau konstruksi berpikir yang benar, adalah kesetaraan dan egaliter. Sehingga bila senior salah, tidak menutup kemungkinan untuk dikoreksi, dan harus mau. 🙂

Sebagai langkah awal untuk mencari sebuah sistem kaderisasi yang baik kita bisa berangkat dari studi biografi. Pilih beberapa nama yang bersinar atau sukses, berusia paruh baya sekira 30-35 tahunan (sehingga kehidupan mereka dengan kampusnya tidak terlalu jauh-jauh amat), lalu  pelajarilah proses kaderisasi yang mereka lalui hingga mereka bisa menciptakan karya yang cemerlang. Demikian juga sebaliknya, pilih beberapa nama eks-aktifis kampus yang lahir dari kaderisasi “mainstream” dan kini berusia 30-35 tahun. Kemudian lihatlah kiprah mereka saat ini. In fact, Kenyataannya orang-orang yang sukses paska kehidupan kampus ternyata bukan produk dari kaderisasi “mainstream”. Orang-orang berusia 30-35 tahun yang kini memiliki karya fenomenal kebanyakan adalah yang dulunya “biasa-biasa” saja di kampus (bukan aktifis populer), untuk memberikan contoh ambil saja nama seperti Ceo bukalapak, gojek, atau mungkin Elon musk juga bisa kita masukkan dalam kategori ini. Kita pun tak jarang mendengar beberapa testimoni yang kurang baik tentang eks-aktifis kampus namun sekarang kerjanya nggak becus : Keras kepala, songong, teamworknya jelek (*ini kata alumni :p). Bila kenyataannya memang demikian apakah masih layak untuk mempertahankan kaderisasi semacam ‘itu’ sekian puluh tahun, tentu sangat layak juga untuk mempertanyakan kembali validitasnya dengan melihat seberapa jauh kiprah mantan-mantan kadernya di dunia ‘nyata’ ; di rimba belantara kehidupan yang sebenarnya.

Setiap kaderisasi akan mempunyai coraknya tersendiri. Kampus tertentu akan melahirkan warnanya yang khas. Sehingga antara kampus institute, universitas atau politeknik, sekurangnya akan terdapat perbedaan dari segi kaderisasi dan hasilnya. karakter dari lulusan ITS dan ITB (misalnya), di dunia kerja atau di post-post struktural tertentu ternyata berbeda. Karena resources atau sumberdaya dan permasalahan yang dihadapi pun pasti beda. Input selalu menyertai output, malah bisa dibilang input sepenuhnya dipengaruhi oleh output. Keluaran apa yang diharapkan oleh suatu organisasi, pada saatnya akan menentukan konten, capaian, dan ‘cara’ dari kaderisasi itu sendiri. Makanya, perubahan zaman menjadi sangat relevan disini. Kita tidak mungkin mempertahankan cara kaderisasi lama yang sudah ‘jadul’ atau “yang gak aptudet” untuk tetap dipaksakan dan dicekokan ke mahasiswa baru. Zamannya beda, tantangannya juga beda. Nah, ini sebetulnya bisa menjadi diskusi yang panjang lebar karena telah memasukkan unsur ‘tantangan (zaman)’. Sebetulnya kaderisasi kampus itu tujuannya jangka pendek (skala kehidupan kampus hingga lulus tok) atau jangka panjang (untuk kehidupan setelah kampusnya juga). Bila orientasinya jangka panjang, dan begitulah para senior atau alumni sering menitikberatkan pada kebanyakan konten kaderisasi yang sangat dipengaruhi dan disesuaikan oleh kebutuhan pabrik atau industri (?), yang merupakan tempat nantinya bagi seorang mahasiswa teknik kimia seperti saya misalnya. Tentu saja ada distorsi disini, kalau begitu bagaimana dengan nasib lulusan teknik kimia yang tidak berminat untuk bekerja di industry? “mental” yang sudah diajarkan itu kan menjadi non sense. Kenapa tidak mulai dengan standard yang lebih universal dan bisa berlaku dimana saja? Saya kira nilai-nilai semacam kerja sama, budaya apresiasi, solidaritas, kejujuran, kerja keras dlsb sangat dibutuhkan oleh siapapun orangnya. Makanya diawal, salahsatu solusinya adalah dengan studi biografi tokoh. Karena ini bertumpu pada 2 hal ; aspek empiris dari si pelaku, dan aspek historis oranglain yang bisa ditiru. Sehingga nantinya hanya cukup merubah beberapa hal dan penyesuaian saja untuk diterapkan. Harapannya? Minimal bisa menyamai kesuksesan orang itu. bukankah manusia memang paling suka meniru? Atau dalam bahasa postmo, amati-modifikasi-tiru-inovasi.

Kenapa kaderisasi selalu menjadi sorotan utama dan perlu mendapat perhatian serius? Karena beberapa hal juga sebenarnya. Kaderisasi dianggap vital tidak hanya untuk keberjalanan atau regenerasi dari suatu organisasi, melainkan pada kaderisasi itu juga kita mengharapkan lahirnya bibit-bibit unggul. Terbentuknya mahasiswa yang berkarakter. Sehingga investasi para pengkader untuk menyisihkan waktu yang lebih bagi proses ini tidak berakhir sia-sia.

Kalau pun ada yang menolak kaderisasi, sejatinya ia bukan menolak mentah-mentah kaderisasinya, melainkan cara atau metodenya saja. Siapapun akan sepakat bahwa kaderisasi itu penting, perlu dan bermanfaat. Tetapi bila metodenya salah atau banyak kelirunya, ini akan berimbas pada buruknya citra kaderisasi. Siapapun akan sepakat bahwa Lari keliling kampus dan push up itu baik dan menyehatkan. Mengundang pembicara untuk mengisi materi juga bagus. Jalan bebek, merangkak, atau lainnya, bagus-bagus saja untuk latihan fisik. Tapi kalau diikuti dengan ‘perilaku’ yang tak semestinya seperti ada hierarki senior-junior, ini mulai tidak baik. Yang ingin saya kritisi salahsatunya adalah itu, senioritas sudah gak jaman lagi. Itu benar-benar budaya atau mental inlander. Struktur hierarkis yang menempatkan sekelompok orang diatas sekelompok lainnya adalah penindasan! Haha. Saya tidak pernah setuju dengan senioritas! Apalagi kalau atas nama senior lantas bisa memaksakan yang tidak-tidak atau yang gak masuk akal, sampai kontak fisik misalnya, ini jelas keliru. Penyalahgunaan posisi. Baik kontak fisik (abuse) atau verbal abuse (lewat kata-kata, bentakan atau cercaan) sampai kapanpun tidak akan bisa melahirkan seseorang yang berkarakter kuat, tangguh, dan menjadi SDA unggul. kalau menjadi orang yang gampang mengeluh, pandai mengomel (seperti saya?), menyalahkan orang lain, mungkin bisa. :3

Kata alumni, dia pernah kagum dengan salahsatu organisasi pecinta alam yang kaderisasinya kata dia terbilang bagus. Yaitu wanadri. Kaderisasi di wanadri, selain mempnyai coraknya sendiri, juga terdapat keunikan dari hierarki antara yang dikader dengan pengkader. Jadi di sana itu konon katanya, jika sang pengkader (mereka menyebutnya pelatih) memanggil para peserta, mereka menggunakan sebutan “tuan”. Bandingkan dengan sebutan-sebutan di beberapa ospek yang mengarah pada verbal abuse. Atau hal yang tak pantas lainnya!

Nah, terus corak atau hierarki senior-junior yang buruk lainnya bisa dilihat dari kontraproduktipnya atau berlawanan dengan esensi dari kaderisasi itu sendiri. Hierarki itu tidak memungkinkan yang dikader untuk bisa memunculkan daya kritis. Karena sedari awal sudah dibatasi oleh tembok yang mengatakan, “Kita ini senior. Apa yang kita lakukan benar dan itu untuk kebaikan kalian semua juga. Nanti kalian akan tahu manfaatnya kaderisasi”. Jangan sampai pikiran-pikiran seperi itu menjadi argument normatif untuk mensahihkan perbuatan-perbuatan oportunis selama proses kaderisasi. Jadi alih-alih mempertahankan lingkungan yang menciptakan gap angkatan atau lahirnya senior-junior, kenapa tidak dimulai kaderisasinya dengan konsep egaliter. Kesetaraan, keceriaan, kesenangan, dan hal-hal menarik lainnya harus dimasukkan kedalam kurikulum kaderisasi. 😀

Kenapa saya panjang lebar membahas-soal-kan kaderisasi ini, meski kita juga tidak menutup mata bahwa kaderisasi bisa saja bukan segalanya. Bukan lagi menjadi satu-satunya faktor pembentuk karakter mahasiswa (naïf sekali kalau sampai berpikiran seperti ini). Jadi tidak fair juga kalau semua permasalahan yang berkaitan dengan karakter mahasiswa atau kompetensi, mental dan pikirannya, melulu menjadikan kaderisasi sebagai kambing hitamnya. Hanya yang perlu digaris bawahi adalah ini, bahwasannya kaderisasi itu merupakan kegiatan yang sangat time consuming, jadi wajar saja jika orang mempertanyakan hasilnya. Selain tentang investasi waktu yang telah disisihkan, ini juga berhubungan dengan efisiensi prosesnya, efektivitasnya, dan output yang dihasilkannya.

Seinget saya (saya nggak tahu sekarang bagaimana) ospek dilakukan nyaris satu semester full (atau ada yang sampe setahun). Lupa berapa kali pertemuan yang dilakukan, yang jelas kegiatannya dilakukan nyaris 2 atau 3 kali dalam seminggu (yang resmi dari panitianya). Belum lagi pertemuan angkatan untuk menyelesaikan tugas-tugas dari panitia tersebut. Tugas buku marun emang menyebalkan, saya sampai harus membuatnya 2 kali. *peace. Panitianya juga meluangkan waktu setidaknya dua kali lebih banyak. Jadi, seandainya kaderisasi itu hasilnya baik, kita masih bisa mempertanyakan apakah hasilnya sepadan dengan banyaknya waktu yang diinvestasikan?

Terakhir, asumsi dasar lainnya adalah “corak” lama, sepertinya dipikir-pikir memang efektif untuk membangun solidaritas diantara kader. Saya percaya, meski ketika kaderisasi kami ditampar, disuruh jalan bebek, merangkak, bahkan ada yang lebih absurd lagi selain itu, itu semua ternyata bisa membuat angkatan saya menjadi semakin solid dan saling mengenal.

Dan, ya ampun, saya sepertinya sudah terlalu kebanyakan berbual dalam tulisan ini. Intinya, saya sangat sotoy dengan data yang seadanya. Jadi, dari sekian pemaparan diatas, bisa saja ternyata saya salah. 😀

gerigi-banyakan
Lumayan dapet Muri. :p

Referensi :

*Beberapa ide dalam tulisan ini dianggit dari Kang Zul(kaida) Akbar, yang sedang nyelesain Ph.D di FSU, Amerika. saya berhutang banyak kepada beliau. 🙂

Culture

Kopi dan Mahasiswa

Disklaimer ; Sebelumnya, perlu diketahui bahwa didepan saya yang sedang menulis ini ada secangkir kopi hangat Chocino dengan sedikit Glukosa tambahan yang sedang mengepul dan enak lalu tak mau berbagi.dan disklaimer ini benar-benar tidak penting! :v

Saya termasuk orang yang tidak suka bersikap fanatik. Karena fanatisme dalam hal apapun tidak mengijinkan adanya intervensi dari nalar, yang artinya seseorang yang (dibutakan) oleh fanatisme itu murni karena kecintaan yang membabi buta, tidak tersisa didalamnya logika. Makanya, bila saya sedang menghadapi orang yang fanatik (terhadap bola, tokoh, orang, band atau agama apapun itu), tak perlu saya sodori argumen, fakta atau referensi ilmiah, karena itu tidak akan terlalu membantu dan berguna. Intinya saya tidak suka fanatik, tapi setelah dipikir-pikir, kalaupun ternyata saya dipaksa untuk bersikap fanatik, maka kefanatikan saya hanya pada 2 hal ; buku dan kopi. Untuk dua hal itu saya rela melakukan apa saja. *Uhuuk.

Dalam hal kopi, sehari (menurut Nat Geo) itu sekira 300 mg caffeine yang masuk kedalam tubuh seseorang disebut sebagai takaran yang moderat. Nah bila takaran ini dioper ke kopi, maka bila satu atau dua cangkir kopi itu beratnya 12 ons, yang artinya tergantung berapa besar ukuran cangkir kopi Anda, yang adapun kalau cangkir saya tergolong kecil, karena saya hanya butuh menyeruput kopi setiap kali ngantuk. Maka, bila saya timbang bubuk kopi saya pergelas kecil itu, ternyata beratnya hanya 7 gram. Itu artinya, jika dalam sehari saya minum 4 gelas “kopi kecil”, saya berjarak 2 gram dari batas 300 miligram yang diperbolehkan tsb. jadi masih tergolong aman. Bagaimanapun, selera, pilihan dan kesukaan terhadap sesuatu tidak seharusnya menumpulkan akal, logika dan nalar kita, kan? Jadi, ingat juga kesehatan. Kopi tidak seharusnya menjadi sumber bencana, karena seperti yang akan kita diskusikan selanjutnya, akan didapati bahwa terdapat romantikanya tersendiri yang ada di dalam secangkir kopi.

ojekparis
Obrolan urban, membahas tema-tema sederhana dengan kata yang mempesona. salut buat Seno Gumira

Kita mulai dengan satu postulat sederhana, bahwa kopi bukan sekedar minuman biasa, tetapi telah menjadi makna. Hal ini bisa dipahami bila kita mau menengok sebentar sejarah kopi dari masa ke masa dan pergulatan wacana yang ditimbulkan oleh sebab kopi, karena Semenjak booming Starbucks, ternyata kopi disebut-sebut sebagai “Legal drug”. Majalah National Geographic bahkan menyebutkan betapa abad modern sebetulnya digerakkan oleh kopi yang bikin orang melek, siang maupun malam, dan menghidupkan kota-kota dunia. Untungnya, manusia bisa menarik diri dengan mudah dari ketagihan kopi ini. dengan kata lain, tidak seperti narkoba, tidak akan ada istilah “sakauw” kopi. Yang ada hanyalah beberapa efek pada saraf selama beberapa hari (withdrawal syndrome), namun kemudian tubuh akan segera menyeimbangkan diri. Perilaku minum kopi telah menggelindingkan sejarah serta memberi bentuk dan inspirasi terhadap keberlangsungan budaya kita sekarang. Jadi tidak sekedar nikmatnya saja yang kita sesap, hirup dan sruput (ini istilah anak-anak Lpm yang menggambarkan pemakanaa terhadap suatu fenomena seperti halnya menyeruput kopi, untuk mendapatkan kenikmatan puncak yang perlu pelan-pelan dan sambil dihayati betul), kopi telah menjelmakan diri sebagai suatu wacana. Ada yang bilang bahwa kopi itu diciptakan oleh sejarah, tetapi nikmatnya oleh filsapat. Saya kira ada benarnya juga. Coba bayangkan sudah berapa ratus lembar kertas yang tertuang didalamnya kesyahduan mencicip kopi dengan aromanya yang khas, ampasnya yang pekat (bak rindu), rasanya yang memikat, dan seabrek keistimewaan lainnya dari kopi yang tidak akan bisa kita temui di minuman yang lain. Kita tidak perlu vodka, whiski, atau jack daniels, karena pada secangkir kopi, tersimpan berjuta rasa yang membangkitkan romantika jiwa mahasiswa.

Dalam salahsatu esainya yang aduhai gurihnya, Seno Gumira pernah mengatakan bahwa kopi bukan hanya caffein, kopi telah menjadi makna! Begini, dalam percaturan kopi, Indonesia nyatanya bisa cukup berbangga diri. karena salahsatu varietasnya, yaitu “Kopi luwak” yang diberitakan The Jakarta Post tanggal 18 february 2005 ; ternyata inilah kopi termahal di dunia, karena hanya biji kopi yang terbungkus faeces (tinja) luwaklah yang dianggap sahih sebagai ‘kopi luwak’ –jadi bukan sekedar ber-merk Kopi luwak. Bahkan yang membuat kita tercengang adalah harga bijinya yang mencapai US$250 perkilo (unroasted) dan US$600 perkilo (roasted). dan percangkirnya bisa mencapai US$5. kita memang bicara tentang dunia kopi internasional, meski kebun penyuplai ‘kopi luwak’ dunia ini hanya ada di sumatera, tetapi dimiliki Daarhnour dari Belanda, yang mendistribusikannya terutama ke Amerika serikat, dengan M. P. Mountanos Inc, di Los angeles, sebagai pelanggan terbesar. tentu jadi ironis ; ‘kopi luwak’ yang tulen ternyata tak bisa dibeli di Indonesia karena sudah kadung dibawa keluar.

images
Tidak ada yang mengalahkan taik hewan yang satu ini.

Lalu diskusi tentang kopi juga pada satu titik bisa menjadi teramat serius. Bagaimana orang-orang bisa menjadikan kopi sebagai sebuah studi yang asyik. Karena pada kopi terbuka kemungkinan untuk diteliti dan dikaji secara mendalam. Ambil contoh seperti laporan The Jakarta Post edisi 23 februari lalu. dibawah judul Coffee and its effect on culture, a popular topic on college campuses, Murray Evans dari Asociated press melaporkan telah berlangsungnya diskusi “The cafe and public life” di Centre College, Dallas, Kentucky, yang memperdebatkan kopi sebagai bagian dari (citra) kelas. tesis diskusi itu, kopi bukan sekedar minuman, karena konsumsinya telah mengubah masyarakat dari abad ke abad. topik ini mungkin tampak aneh, tetapi justru menunjukan eksistensi kopi, bahwa makna kehadirannya bisa dibongkar dalam perbincangan yang serius dan berbobot. Keren, kan? Jangan remehkan hal-hal kecil di sekitar kita.

Sebagai sebuah wacana kopi membangkitkan gairah intelektualitas kita, dan sebagai sebuah fungsi, kopi merupakan minuman praktis yang memungkinkan mahasiswa bisa tahan bergadang hingga dini hari. Kopi siap menemani waktu-waktu sepi ketika malam menghampiri. Terlalu berharga jika melewatkan malam hanya dengan tidur. Mahasiswa perlu tidur, itu jelas. Tetapi bukan untuk tidur, mahasiswa itu ada. Maksudnya, tidur hanya sekedar untuk melepas lelah dan melepas kesadaran. Barang 2 atau 3 jam seharusnya sudah lebih dari cukup. Itu kalau menganggap waktu menjadi sedemikian berarti dan pentingnya. Tapi mahasiswa mana yang tidak menganggap entitas waktu tidak seperti itu, kan? Karena waktulah yang nantinya akan membentuk dia. kolektifitas dia memaknai waktunya itu yang akan memberitahukan siapa dan bagaimana kualitas dirinya. Waktu yang tersedia untuk semua mahasiswa sama, tetapi untuk apa dan bagaimana waktu itu dipergunakan, bisa jadi berbeda-beda.

Malam bagi saya sudah menjadi tidak ada bedanya dengan siang. Sama-sama terdapat aktifitas yang tidak bisa ditinggalkan dan ditanggalkan. Kata pepatah bijak, doi pernah mengatakan, “Malam itu panjang, Janganlah tidurmu membuatnya menjadi pendek. Begitu juga, Siang itu terang, janganlah perbuatan burukmu membuatnya menjadi gelap.” Terlebih saya termasuk pengagum berat langit malam (baca : astronomi), kan konyol kalau sewaktu mengamati hujan meteor orionid (seperti beberapa minggu yang lalu) saya pulas tidur. Waktu-waktu langit menunjukan keindahannya itu justru ketika malam hari. Nah, kan!

Berbicara tentang kopi seperti tidak akan ada habisnya. Misal, hubungan kopi dan panjang umur pun sempat-sempatnya diteliti, papernya pertama kali dipublikasikan oleh Harvard Study secara online pada Nov. 16, 2015, oleh Circulation yang menemukan bahwa jika anda minum kopi pada takaran yang moderat, ternyata itu berhubungan dengan rendahnya resiko dari kematian dini. Intinya apa? Kopi bisa membuat anda panjang umur! Riset itu dievaluasi dari jawaban Quesioner yang disebar dan dijawab oleh lebih dari 208,000 laki-laki dan perempuan, pada usia 30 tahunan.

Yang lainnya, adalah kajian yang dipublikasikan oleh jurnal Scientific Reports. Dikatakan bahwa kopi yang kita minum akan menempel (tercetak) dalam gen kita. Meskipun riset ini masih perlu diteliti lebih lanjut, seperti kata salah seorang penelitinya, Dr Nicola Pirastu, yang mengatakan bahwa “Kita perlu melakukan penelitian lebih lanjut terkait ini untuk mengkonfirmasi penemuan ini juga menjelaskan mekanisme biologis diantara PDSS2 terhadap konsumsi kopi.”

Yang jelas, kopi sangat berhubungan dengan tingkat kefokusan. Yang artinya bisa membuat kita belajar dengan lebih mudah. Mahasiswa-mahasiswa malam tahu rasanya terjaga sembari ditemani secangkir kopi yang sedang mengepulkan aromanya yang aduhai maknyusnya.

23328842052_d87782d0f8
Mari di sruput kopinya.

Referensi :

Tiada Ojek Di Paris, 2015, Seno Gumira Ajidarma.

The Jakarta Post.

Majalah National Geographic

Journal Reference: Nicola Pirastu, Maarten Kooyman, Antonietta Robino, Ashley van der Spek, Luciano Navarini, Najaf Amin, Lennart C. Karssen, Cornelia M Van Duijn, Paolo Gasparini. “Non-additive genome-wide association scan reveals a new gene associated with habitual coffee consumption”. Scientific Reports, 2016; 6: 31590 DOI: 10.1038/srep31590