Culture · Ekonomi · Engineering

Startup untuk Indonesia

unnamedPenetrasi internet sudah semakin luas masuk ke daerah-daerah di Indonesia. Disinyalir bahwa pengguna aktif internet saat ini terhitung sebesar 132,7 juta orang atau sekira 51,8% dari total populasi indonesia. Angka yang cukup besar. Internet sudah bukan barang mewah lagi, melainkan jadi potensi yang seharusnya bisa menghasilkan perbaikan bagi sektor kesejahteraan dan perekonomian Negara. Apa mungkin? Sangat mungkin. Meski pengguna terbesar internet di Indonesia masih belum tersebar merata karena hampir 65%-nya terdapat di pulau Jawa. Ini menjadi potensi yang harus dimaksimalkan agar Indonesia tidak sekedar menjadi konsumen internet tetapi menjadi pemain aktif dan mampu meraih profit dari hingar bingar teknologi internet.

Gerakan nasional 1000 startup terdiri dari beberapa tahap ; ignition, networking session, workshop, hackathon, bootcamp dan incubation. 1000 startup itu sendiri dialokasikan untuk jangka waktu 5 tahun, jadi ada sekira 200 startup setiap tahunnya yang lahir dari 10 kota besar, atau setiap kota-kota itu bisa menelurkan sekira 20 startup baru setiap tahunnya.

Pemerintah, dengan visi jauh kedepan yang dibawa oleh pak Presiden, untungnya secara sadar mau untuk ikut serta dalam perhelatan akbar dari startup ini dengan mencanangkan tujuan Indonesia sebagai the digital energy of asia ; an accelerated and empowered SME-Driven digital economy. Ini langkah taktis yang diambil pemerintah guna mengejar ketertinggalan kita dari negeri-negeri maju lainnya, terlebih adanya pergeseran basis industri dimana kita tidak bisa lagi sepenuhnya bertumpu pada sumber daya alam yang kian hari kian berkurang (minyak, gas, dll). Sudah saatnya Indonesia menjadi pemain baru di kancah penggunaan internet untuk bisnis (karena ini memang dunia baru. Negara-negara lain juga masih sama-sama bingung dan sedang belajar). Startup sendiri diartikan sebagai suatu penyelesaian masalah dengan menggunakan teknologi. Untunglah Indonesia banyak sekali masalahnya :D, kita tidak kekurangan masalah, malah berlimpah, dan itu bagus untuk iklim pengembangan startup. masalah-masalah itu ikut menyuplai ide-ide untuk para founder startup. Karena didalam startup itu ada tiga komponen penting yang menunjangnya, yaitu ada masalah, kemudian dicari solusinya, lalu dibuatlah produk (kreasi) akhirnya yang bisa saja akan terus mengalami perkembangan.

Gerakan nasional 1000 startup digital ini digagas oleh beberapa orang yang peduli kepada Indonesia, yang ingin melihat Indonesia bisa bersaing dengan Negara-negara lain, yang ingin menyelesaikan satu persatu permasalahan di Indonesia, dan yang berharap bahwa Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih baik dan layak untuk ditempati. Orang-orang dibelakang gerakan ini memang secara aktif berdialog dan terjun langsung ke lapangan dunia startup, bahkan diundang oleh presiden dan ikut mendampingi beliau ketika melakukan kunjungan (study banding) ke Silicon Valley, kota pusat pengembangan teknologi di California, Amerika Serikat. Markasnya google, facebook, apple, twitter, dan semua startup besar lainnya. Sepulangnya presiden dari kunjungan yang sangat berkesan dan membuka pikiran itu (untunglah kita punya presiden yang open minded dan tidak kolot) yang dengan menggebu-gebu bilang bahwa ia ingin Indonesia bisa seperti itu. ingin Indonesia ikut dalam pemanfaatan teknologi internet ini. Pernah Pak Yansen Kamto menanyai audiens bahwa berapa banyak dari kita yang hanya sekedar konsumen dan penikmat dari layanan-layanan startup itu, yang hanya menjadi penonton saja. Tetapi kita harus bisa membuatnya.

Dalam melihat perkembangan startup di dunia saat ini, menarik untuk membandingkan visi yang dibawa oleh Amerika dan China. Pada beberapa hal kedua Negara ini mewakili ideologinya masing-masing, dan Indonesia bisa belajar banyak dari mereka. Amerika mempunya visi “membebaskan”, di internet jangan ada kekangan, sehingga itu bisa lebih memberikan keleluasan bagi warga amerika untuk terus berinovasi dan menciptakan hal-hal baru (tidak heran kalau kita lihat bahwa kebanyakan teknologi yang “wah-wah” (ide-ide gila) biasanya terlahir di sana), silicon valley adalah contoh yang tepat untuk menjelaskan visi amerika itu, disana orang bebas berkreasi. Sementara China menerapkan kebijakan Internet plus, maksudnya adalah pemanfaatan internet untuk berbagai sector, semisal internet plus umkm, internet plus ojek, internet plus bisnis, internet plus baso, internet plus cilok, dlsb. *hehe. Polanya di drive oleh pemerintahnya, jadi pemerintah tidak membiarkan warganya berbuat sebebas-bebasnya. Pemerintahnya sangat protektif, sehingga kita tidak akan melihat facebook di China, google pun tidak ada, uber juga dilarang, tapi hasilnya mereka sendiri yang membuatnya, ada facebook versi china, google versi china, uber versi china, dll. Nah, kira-kira Indonesia cocok untuk meniru yang mana? Apakah Indonesia akan bisa berkreasi bila pemerintah membebaskannya? Saya kira tidak akan bisa, indoensia belum siap untuk seperti amerika. Kalaupun ada beberapa pemain besar yang terlahir seperti gojek, tokopedia, bukalapak, dlsb, itu murni accident. Pemerintah malah membuat mereka jadi terkekang dengan beberapa regulasinya. Ya kan? :D. Meskipun sekarang pemerintah sudah mau berubah, sudah lebih mau mendengar karena merasa bahwa kita sedang tertinggal dan perlu mengejar. Ini dibuktikan dengan positioning dari pak presiden dengan menerbitkan 6 policy digital economy, yang melahirkan 14 policy package. Isu-isu kuncinya adalah founding, cyber security, tax, logistic, education and human resources, dll. Pemerintah sangat konsen sekali untuk mengembangkan dan memacu anak bangsa agar bisa menciptakan produk-produk startup.

Artinya dunia sedang berubah (*Tsaaah, kibas rambut). Bahwa saat ini dunia sedang bergeser ke perekonomian digital, orang tidak lagi perlu mengantri lama-lama di bank untuk membuat akun, tinggal duduk manis di rumahnya di depan computer dan semua bisa terlayani, orang tidak lagi perlu berpanas-panas ke jalan atau ke pasar, semuanya tinggal klik klik klik. Tersedia di hape pintar yang tingga di charge bila mau habis batereinya. Tetapi di lain pihak, ini juga menimbulkan distraktif digital ekonomi. Artinya akan banyak lahir peluang pekerjaan-pekerjaan baru yang muncul diikuti hilangnya pekerjaan-pekerjaan lama, seperti sekarang ada orang dengan pekerjaan data analysis, dlsb. Pekerjaan-pekerjaan yang aneh-aneh akan muncul, dan bisa jadi jurusan yang kita ambil sekarang di masa yang akan datang sudah punah pekerjaannya (bila tidak bisa menyesuaikan dan adaptif).

Target akhir dari startup ini adalah e-commerce, bentuknya bisa bermacam-macam ; service (seperti gojek), good product, medium product, dlsb. Dengan angka transisi via internet mencapai dua ribu triliun rupiah. Saat ini hampir 60% GDP ditunjang oleh umkm. Dari 57 juta, sekira 8%nya menyumbang GDP. Nah, tujuan pemerintah adalah bisa mengonlinken umkm tersebut.    

Pemerintah juga mencanangkan program yang bernnama “Palapa ring project”, sebuah program untuk membuat internet highspeed dari fiber optics. Siapa kira-kira yang akan senang kalau internet masuk ke papua? Yap. bukan haynya orang-orang papua saja, melainkan pihak Google, FB, whatsupp, instagram, dll juga ikut senang. Mereka dapat profit tanpa harus mendirikan perusahaan di Indonesia. Artinya mereka dapat penghasilan tanpa harus membayar pajak ke pemerintah Indonesia.

Tahun lalu traffic internet perdetik di Indonesia adalah lima ratus terabyte, dan tahun ini setelah 4G masuk jadi tiga kali lipatnya. Jangan kira kalau kita internetan itu murni menggunakan uang kita saja, tidak sesederhana itu. coba lihat kedalam hape kita, bisa dipastikan bahwa 90% aplikasi yang ada didalam hape kita adalah aplikasi yang dibuat oleh luar negeri, mulai dari facebook, instagram, whatsapp, gmail, google, yahoo, dlsb. Aplikasi yang berbasis di luar negeri itu bila kita akses (servernya kan ada di luar negeri juga) secara tidak langsung morotin devisa Negara, karena Negara jadinya harus membayar untuk setiap bite data yang kita akses dari luar negeri tersebut. Berbeda halnya bila aplikasi itu ada di dalam negeri, ketika kita mengaksesnya, servernya kan local, sehingga jaringan data hanya berputar di Negara sendiri. Itulah arti penting kenapa kita harus mulai mengembangkan startup ini hampir di setiap lini, tidak lain adalah untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap produk-produk dari luar negeri.

Penting juga untuk melihat perbandingan dua Negara yang nyaris sama dalam beberapa hal dan sangat jauh berbeda dalam beberapa hal lainnya, yaitu Indonesia dengan Korea selatan. Dua Negara ini merdeka pada tanggal yang tidak jauh berbeda, hanya selang beberapa belas hari, tapi indeks kesejahteraan dan GDPnya sangat jauh berbeda. Padahal secara sumber daya alam kita lebih unggul, pun begitu juga dengan populasi, tapi ternyata korea selatan jauh melesat di depan kita, bahkan produsi filmnya pun menjadi santapan kita. Padahal jumlah produksi sinetron kita jauh lebih banyak daripada mereka. Tapi itu soal lain, yang jelas, point pentingnya adalah Negara kita dengan populasi lebih dari 250 juta dengan 50% usianya berada pada usia 30 tahun (usia produktif), tetapi ternyata sejumlah 944.666 lulusan kuliahan tidak mempunyai pekerjaan. Kita bisa melihat ini sebagai suatu problem serius, tapi untuk orang-orang optimis, itu sebetulnya adalah potensi. Jadi, marilah kita ubah pola pikir kita. Kita rombak MINDSET. Pola pikir seorang co-founder startup selalu melihat potensi dan peluang dari setiap masalah yang ada. Meskipun membuat startup juga tidak sesederhana dan segampang yang orang kira. Perlu kerjakeras dan kesungguhan yang mampu membuat startup bisa terus berjalan dan berkembang, tidak karam ditengah jalan.

Membuat startup artinya mau berlelah-lelah untuk berbuat dan melakukan sesuatu dengan kerja keras. Dimana-mana yang dinamai pengusaha itu ya merujuk ke orang yang benar-benar mau berusaha. Startup selalu identic dengan inovasi, inovasi itu sendiri adalah sesuatu yang kita sendiri tidak tahu selanjutnya itu akan seperti apa. Makanya dalam dunia startup itu tidak ada kegagalan (dalam proses trial and error), yang ada adalah pembelajaran. Karena setiap kegagalan itu selalu ada nilai pembelajarannya. Startup juga bukan sekedar kita menjual barang lalu diiklankan melalui facebook, whatsapp, instagram atau apa, startup bukan sekedar itu, melainkan sejenis tech company (bukan another trading  company). Intinya harus bisa fokus pada gambaran besarnya.

Penekanan startup adalah Solved problem ; bagaimana ktia bisa meng-add value pada sesuatu, lalu optimize, dan men-disrupt. Contoh, biasanya orang membuat skripsi hanya untuk syarat lulus, setelah itu hanya disimpan dan menjadi tumpukan yang tidak berharga, seorang co-founder startup akan berpikir untuk memanfaatkan masalah ini, dari sekian juta skripsi itu yang terbengkalai, kenapa tidak mencoba untuk mengumpulkannya dan barangkali memang ada ide menarik yang terdapat didalam skripsi itu yang bisa digunakan untuk keperluaan perusahaan orang, atau ada orang yang tertarik untuk mendanai, kan itu bisa jadi peluang usaha juga. Add value itu menambah nilai pada sesuatu yang asalnya seperti tidak mempunyai nilai sama sekali.

Saran baik dari pak Sony yang masih terngiang-nginga di telinga saya adalah ini, “Yang membuat kalian benci, yang membuat kalian annoying pada sesuatu, bisa jadi sesuatu itu peluang karir kalian. Tujuan kalian hidup untuk bisa menyelesaikan atau memberikan solusinya.” Saya berpikir, benar juga. Apa-apa yang mengganggu kita adalah potensi untuk dijadikan ide dasar startup, seperti saya yang kadang suka terganggu dengan susahnya mencari buku-buku bacaan yang bagus karena terkadang di toko buku besar, mereka hanya menjual buku yang laris dan popular, entah bukunya bagus atau sampah, toko buku yang sudah menjadi kapitalistik. Biasanya saya menjumpai buku-buku bagus yang sudah sangat sulit dicari itu lewat pelapak buku bekas, toko buku online yang dikelola oleh beberapa gelintir orang berdedikasi, dlsb. Saya keidean untuk membuat startup yang bisa mengumpulkan ‘orang-orang’ ini. Kadang orang membeli buku hanya untuk dibaca, setelahnya disimpan di dalam rak, ini kan bisa jadi peluang juga untuk saling bertukar dengan oranglain atau mungkin untuk saling jual, siapa tahu kan. 😀

Menurut pak Yansen Kamto, terdapat lima area potensi startup ; agriculture, education, health, tourism dan logistic.  Setiap bidang itu mempunyai masalahnya masing-masing. Pak Yansen memberikan contoh praktis untuk setiap bidangnya, tapi tidak saya tulis karena sepertinya tulisan ini sudah kelewat panjang. Jadi mungkin kali lain.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s