Culture · Uncategorized

Mahasiswa ; Kembalilah Ke Budaya Membaca Buku, Bukan Internet.

Zaman memang telah berubah, dan akan selalu berubah. Bahkan mungkin saja roda zaman telah menggilas kita, dan kita terseret tertatih-tatih. Bila tidak bisa menyesuaikan, bisa-bisa kita tergulung olehnya. Tapi perubahan itu tidak selalu positif dan tidak selalu harus diikuti, kan?. Untuk suatu perubahan yang negative, masak harus diikuti, kan amboi anehnya. Terhadap perubahan kita punya pilihan dan berhak untuk memilih. Kata siapa status quo selalu bermakna kolot, jasdul dan norak? Dan kali ini, saya menjadi sangat ingin menuliskan tentang budaya yang kian mengganas dikalangan mahasiswa ; menjadikan internet sebagai segalanya. Yang membuat buku, jendela dunia itu, menjadi kian tidak menarik dan kehilangan tajinya. Alih-alih menaikkan tingkat literasi, saya pikir internet malah membuat budaya literasi di kalangan mahasiswa turun drastis bak ipk-mu, rek. *Eh.

perpusnas
Ya ampuun.. perih mata ini.*Gambar diambil dari web Perpusnas

Bila kita melihat kecenderungan dunia digital dengan akses terhadap informasi yang tak ada habis-habisnya melemparkan kita pada suatu kondisi (yang jauh lebih mengerikan dari) alienasinya Karl Marx. Kita dibingungkan oleh serbuan informasi yang terus menerus, membuat batas antara benar dan salah menjadi setipis harapanku padamu (loh?). Haha. banjir informasi di internet sekarang dengan perspektif yang berbeda-beda ini akan membuat kita bagai minum air asin ; semakin diminum semakin haus. akhirnya alih-alih membuat kita paham, malah membuat kita bingung, salah kaprah dan keblinger. maka, definisi kebenaran bukan lagi sesuatu yang sejati, melainkan jadi sekedar suatu repetisi yang dipaksakan. Kebenaran adalah kebohongan dikali 500 kali. Artinya apa? Kebohongan yang diulang-ulang pada suatu waktu akan menjadi kebenaran dan menjadi opini umum atas suatu masalah.

Buku telah menjadi media alternative dalam menyimpan pengetahuan. Dan itu memang tidak pernah mengecewakan. Tetapi dengan menyingsingnya fajar era internet, apakah masih relevan dan patut bahwa yang memonopoli peng’arsipan’ atas pengetahuan itu dipegang oleh buku? Apakah internet bisa menjadi cara baru kita dalam merawat kewarasan berpikir dan sumber mencari pengetahuan, informasi dan ilmu? Kita sepertinya masih ragu untuk sampai ketahap itu. terlebih, setahu saya google itu, misalnya, isinya adalah sampah semua. Belum lagi fakta yang mengejutkan bahwa apa yang kita cari dari google, Wikipedia, Yahoo atau blog hanya 4% dari apa yang ada di samudera luas internet. Kita masih berada di permukaannya saja (itulah mengapa kita sering mendengar untuk aktivitas kita mencari informasi di google dinamai dengan istilah surfing atau berselancar), karena 96% informasi di internet (yang jarang atau susah di akses?) terdapat di kedalamannya yang dikenal dengan istilah deepweb atau bahkan ada lagi yang lebih dalam ; darkweb. Disana terdapat jurnal-jurnal ilmu pengetahuan, riset dari yang normal hingga yang absurd bahkan bengis pun ada. Tapi bukan tempatnya disini untuk membincangkan tentang keeksotisan deepweb. *Tsaah

perpus-geologi-ugm
Doi sejati eykeu

Nah, Sebuah paper yang ditulis oleh John Gehl dan Suzanne Douglas yang berjudul From Movable Type to Data Deluge, yang diterbitkan oleh Jurnal Educom Review, menjelaskan tentang berubahnya kendali informasi dan pengetahuan. di era sebelumnya, kita menganggap pembawa pesan memiliki lebih banyak informasi dan pengetahuan daripada pembaca. di era internet, posisi itu berubah ; pemilik kontrol bukan si pembawa pesan, tapi si pemegang gadget.

Kata gehl dan douglas, internet telah membuat penggunanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena akses dan kesetaraan informasi. dengan ketersediaan informasi yang sangat luas itu yang bisa mereka akses lewat ujung jari, pengguna internet merasa bahwa level pengetahuan mereka setara dengan siapapun. sementara kalau menurut Elias Aboujaoude, seorang doktor ilmu kejiwaan klinis dari stanford university, mengemukakan bahwa internet meyakinkan kita bahwa kita lebih terpelajar, lebih dewasa atau lebih pintar dibanding kita yang sebenarnya. internet telah menjadi mesin peningkat rasa percaya diri yang belum pernah ada dalam peradaban manusia. Padahal aslinya bisa jadi kita tidak seperti anggapan tersebut.

Mengutip tulisannya Hilman Fajrian yang menyebutkan laporan British Library pada tahun 2008, bahwa pembaca buku dan pembaca digital itu mempunyai perilaku yang berbeda. Otak pun bekerja dengan cara yang berbeda antara membaca buku dan digital. pembaca digital cenderung tak menyortir, tidak konsisten, tak kritis, melompat-lompat dan tak sabar. rata-rata pembaca onlen hanya menghabiskan 4 menit untuk sebuah buku elektronik, setelah itu melompat ke buku elektronik lain atau internet. dilaporan itu juga disbut 89% mahasiswa inggris menggunakan google untuk mendapatkan informasi. Sebenarnya, sebut british library, pembaca online atau digital tidak benar-benar membaca, tapi “memindai” (scaning atau skimming) halaman. pemindaian inilah yang kita kenal dengan istilah power browse ; cepat dan melompat-lompat. perilaku ini sangat berbeda dengan cara membaca buku yang kita kenal ; perlahan, sabar dan bersedia mengulang. power browse berimplikasi pada tingkat kedalaman pemahaman bacaan, daya kritis, dan daya ingat. yang ujung-ujungnya adalah rendahnya kualitas pengetahuan yang didapat. Cara membaca cepat ini wajar mengingat bahwa ketika kita membaca di layar itu lebih melelahkan ketimbang membaca buku.

Nicholas Carr dalam bukunya yang berjudul “Is Google Making us Stupid?” mengatakan bahwa budaya literasi sebelum masa internet itu seperti berenang di lautan ; perlahan tapi penuh pengalaman. dengan internet, kita seperti mengendarai jetski ; cepat tapi minim pengalaman. Di internet, bahasannya bukan lagi salah atau benar, melainkan yang populer dan tidak. maka siapapun tiba-tiba bisa menulis apa saja, bisa menjadi ahli apa saja, dan bisa menjadi sangat sotoy (:p) dan itu yang berbahaya bagi iklim kebudayaan intelektual kita. Kegiatan untuk mengkonfirmasi terhadap berita juga menunjukan kebalikannya daripada afirmasi di era internet sekarang ini (makanya jangan menelan bulat-bulat setiap berita, khawatirnya keselek. Kunyah dulu pelan-pelan dan utamakan ‘tabayun’ (baca ; kroscek). karena perilaku mengkonfirmasi pemberitaan ini memang jauh lebih melelahkan, lama, dan susah. Sementara di internet, siapa cepat maka itulah yang paling dilirik. Sebelum berintanya menjadi basi dan sudah tidak menarik lagi. akhirnya, kita hanya menerima pemberitaan begitu saja. benar tidaknya tergantung siapa yang paling banyak pembacanya (populer). semakin banyak orang yang setuju (yang ditandai dengan banyaknya like atau share), semakin kelihatanlah benarnya pemberitaan itu. padahal kan belum tentu. perasaan skeptis terhadap isi berita, kekritisan dan curiga jadi hilang begitu saja. Lagi-lagi kata Gehl dan Douglas, “Kalau anda menginginkan informasi yang sejati di internet, berarti anda punya masalah”. hehe. Nah, kan!

Seperti kemarin misalnya, ketika muncul isu rencana aksi mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai ‘aksi bela rakyat’. Semua mahasiswa mendadak menjadi ahli ekonomi, ahli politik, ikut menyuarakan pendapatnya antara yang pro-aksi dan kontra. Saya kira informasi yang mereka tahu hanya sebatas apa yang ada di internet. Meskipun hampir di setiap kampus menyelenggarakan kajian analisis terhadap isu-isu tersebut sebelum memunculkan sikapnya masing-masing, tetap saja internet menjadi andalan untuk berbicara, beropini dan menyanggah. Saya tidak hendak mengomentari tentang aksi tersebut, tapi lebih kepada bagaimana konstruk berpikir mahasiswa yang bila informasinya searah hanya dari internet, akan seperti apa dampaknya. Tapi kalau bukan dari internet, lantas kita dapat ‘pengetahuan’ itu darimana? Nah, bisa banyak sebetulnya, bisa dari dosen, pakar, koran, atau majalah. Tapi itu hanya input, prosesnya tetap ada di kepala mahasiswa, bagaimana dia mengolah akan sangat menentukan apa outputnya. Itu yang lebih kurang bisa menunjukan independensi dari sikap seorang mahasiswa. Ah tiba-tiba saya jadi mau mengutip kata-kata Pram yang sangat membekas di novel Bumi Manusia, “Sebagai orang yang terpelajar, harus sudah bisa adil sejak dalam pikiran.” meskipun mahasiswa juga tidak semestinya di judge atas setiap outputannya itu, karena sepanjang itulah mahasiswa bergelut dengan pemikiran, lingkungan dan keresahan internal jiwanya. Bila pun ternyata keliru, kan masih bisa dianggap wajar, sebagai sekelompok orang yang masih dalam tahap belajar dan merasa.

Kalau kita menganggap bahwa pemerintah anti-kritik karena berpikir semua kebijakannya itu lahir dari pikiran para ahli dan politisi, ini juga keliru.  Proses dinamika dalam kehidupan berbangsa itu harus terus ada. Maka, meskipun gagasan yang diusung mahasiswa keliru (misalnya), tetap saja itu satu nilai yang harus diapresiasi. Saya sepakat dengan Fauzan Fikry, yang mengutip Pak Ashjar Imron, salahseorang anggota MPM ITS era 70-an, yang mengatakan bahwa dahulu kalau mahasiswa ditanya solusi, ada jawaban standar ; kami ini ibarat pasien, bukan dokter. Pasien yang merasakan sakitnya masyarakat. Sementara anda lah dokternya yang kami bayar yang harus mencari solusinya. Jangan terjebak dengan kajian atau analisis mereka yang pasti lebih hebat dan punya jam terbang yang lebih tinggi. Konsentrasilah sebagai pasien, berbicara moral mewakili denyut nadi wong cilik.

Kembali lagi kepada internet sebagai sumber informasi. Apakah ia sah sebagai sumber? Sah-sah saja, selama itu hanya menjadi pembanding atau sumber sekunder. Yang jadi masalah adalah menjadikan internet segala-galanya terlebih tanpa melihat siapa yang berbicara atau yang menulis.  

Tapi, meskipun pada akhirnya kembali lagi kepada proses kreatif dan kearifan manusianya itu sendiri dalam mempergunakan internet. Kita sudah tahu bahwa internet itu sepertihalnya pisau bermata dua. Bisa negative, bisa pula positif. Karena teknologi itu netral. Manusialah yang memberikan makna kedalamnya. Dulu juga Aristoteles pernah mengkritik tulisan, karena ia dianggap menghilangkan tradisi diskusi dan menumpulkan ingatan. Yang jelas perubahan itu pasti, setiap teknologi baru bisa jadi akan menimbulkan ketakutan. Tapi manusia selalu bisa menyesuaikan diri dengan tingkat survival yang luar biasa dan sungguh mengagumkan. Bukankah keberadaan manusia yang sudah ribuan tahuan hingga sekarang membuktikan, bahwa kita telah bisa menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup itu sendiri. Jadi, bisa jadi apa yang saya tulis ini keliru, dan tugas kita lah untuk terus mencari dengan membuat antitesa dari setiap tesa yang ada. Selalu begitu proses dialektika yang kadang melelahkan, tapi terdapat kenikmatan dan keasyikannya sendiri.

perpus
Kalo surga itu memang ada, maka didalamnya pasti bakalan banyak buku. (Garcia)

Referensi :

Jakob Nielsen, How Little Do Users Read, 06 mei 2008.

Harald Weinreich, Hartmut Obendorf, Eelco Herder, and Matthias Mayer: “Not Quite the Average: An Empirical Study of Web Use,” in the ACM Transactions on the Web, vol. 2, no. 1 (February 2008), article #5.

Hilman Fajrian, Internet membuat kita makin ‘bodoh’. 2012. Kompasiana.

John Gehl, Suzanne Douglas, From Movable Type to Data Deluge, diterbitkan oleh Jurnal Educom Review.

Nicholas Carr, Is Google Making us Stupid?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s