Buku · Ekonomi · Historis · Review

Sang Maestro ; Sebuah Review

maestro
Covernya

Data buku :

Judul : Sang Maestro ; Sejarah Pemikiran Ekonomi
Pengarang : Mark Skousen
Penerbit : Prenada Media Grup
Halaman : 564 hlm + xii
Cetakan : 5, Januari 2015
Ukuran : 15×23 cm

Sudah sejak lama saya ‘ngebet’ dengan ide-ide yang membentuk pemikiran ekonomi dan keberjalanan sejarahnya hingga membentuk tatanan dunia seperti sekarang ini. Meskipun saya berlatarbelakang pendidikan teknik, dan di kelas hanya sekilassingkat saja tentang ekonomi, itu pun yang praktis semacam pengantar untuk manajemen finansial, perhitungan biaya atau resiko, analis investasi, dlsb. Padahal ekonomi jauh lebih menarik daripada hal-hal semacam itu saja.

Buku ini adalah koentji, yang saya dapati belakangan ini, agak terlambat memang. Buku yang diterjemahkan sejak tahun 2004 dan baru saya tahu akhir tahun lalu dan baru berkesempatan untuk mengkhotamkannya kemarin di sela-sela EAS (Evaluasi Akhir Semester) dan kesibukan lainnya. Saya menikmati pembacaan terhadap buku ini, buku yang menghadirkan sebuah keunikan dalam penyampaiannya oleh Mark Skousen. Selamat, tujuan anda tercapai bung. Buku ekonomi yang benar-benar menarik, renyah, dan jauh dari kata kering, muram atau gersang. Sejak dari halaman pertama, sudah menimbulkan ‘hasrat’ yang menggebu-gebu untuk menuntaskannya. Jarang ada buku yang punya efek seperti itu. 😀

Buku ini membuat saya lebih paham tentang sejarah ide, libertarian, sosialisme, kapitalis, sejarah uang, dlsb, hingga bisa merampungkan satu artikel yang ditujukan untuk diikutsertakan sebagai prasyarat mengikuti kelas singkat Mazhab Ekonomi Austri a.k.a Mises BootCamp, di Jakarta, yang diselenggarakan oleh SFL (Student For Liberty) Indonesia. Sayangnya saya malah ndak jadi berangkat karena alasan konyol ; kehabisan tiket kereta Surabaya-Jakarta. *Bbrrrr

Review ini sengaja saya buat karena dalam benak saya, belum tuntas sebuah pembacaan terhadap buku hingga ia dituliskan, hingga ia bisa dipahami dalam bentuk yang lain. Kata sebuah pepatah, “Kau belum benar-benar paham hingga bisa menjelaskannya ke nenekmu, dengan sesederhana mungkin tetapi isinya sampai”. Itu memang susah dan perlu pembiasaan, makanya setiap baca buku, sebaiknya hasilnya didiskusikan dengan teman atau dituliskan. Karena bila hanya selesai dan berhenti di titik terakhir dari halaman terakhir buku, bisa jadi proses pengendapan buku itu tidak akan terlalu mendalam. Karena kalau yang membedakan setiap orang adalah dari bacaan bukunya, maka akan lebih komplit lagi untuk menyempurnakan pembacaan itu dengan mendiskusikannya. Walaupun saya juga seseringnya memperlakukan buku semenjak halaman pertama sebagai teman diskusi (selain teman duduk). Artinya dalam pembacaan saya, ada proses diskusi didalamnya. Kadang saya tidak sepakat dengan apa yang dituliskan penulis, kadang sepakat, kadang perlu saya bubuhkan komentar di bawahnya, kadang saya caci apa yang ditulis penulisnya, dlsb. Saya tidak mentah-mentah menerima begitu saja. Makanya jangan pernah mau meminjamka buku ke saya, karena bisa dipastikan buku itu akan kembali tidak seperti sedia kala. Bukan karena tidak utuh, melainkan sudah akan penuh dengan coretan-coretan saya. Haha. Saya jadi ingat kata-kata Gusdur, “Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya kepada orang lain, tapi orang lebih bodoh lagi kalau mengembalikan buku yang ia pinjam”. *satir. Halah kok malah melebar kesini. *Kebiasaan. :p

Tesis dari buku ini sebetulnya sederhana ; ingin menampilkan perkembangan ilmu ekonomi dari mula kemunculannya yang ditandai oleh tokohnya yang terkemuka ; Adam Smith dengan magnum opusnya yang berjudul The Wealth of Nations hingga hari ini dengan cara yang unik. Dijalin dalam alur semenarik novel dengan tokoh-tokoh yang saling berkaitan dan tak terpisah. Semuanya berkumpul untuk membangun sebuah rumah ‘ekonomi’ yang bisa kita saksikan seperti sekarang ini. Sebuah rumah yang menaungi dunia ini dengan visinya untuk menciptakan kekayaan universal, meningkatkan standard hidup semua orang, menjunjung kebebasan, pasar bebas, distribusi merata, kesempatan yang sama, dan untuk hidup yang diharapkan akan menjadi semakin lebih baik dan lebih baik lagi.

Buku ini juga menampilkan ide-ide libertarian, yang diserang oleh sosialisme terutama serangan gigih dari Karl Marx, namun fakta telah menunjukan siapa yang menang diantara pertarungan 2 wacana atau ide tersebut. Ide-ide sosialis dan marxisme sudah tidak akan pernah dilirik lagi oleh dunia, karena kegagalannya yang pasti di Uni Soviet. Jadi, gak perlu sebegitunya takut dengan kebangkitan PKI. Hehe. Orang dungu mana yang mau menerapkan sebuah sistem yang sudah nyata-nyata gagal. Karena dalam system ekonomi, satu teori tidak akan pernah dipakai bila ternyata gagal dalam tataran praktis atau realnya. Ilmu ekonomi selalu menyandingkan dan menyandarkan antara kenyataan dengan teori. Bila teori tidak mendapatkan landasannya dalam dunia nyata, yang mereka sebut sebagai teori menara gading, jelas-jelas sebuah keburukan. Makanya dalam sejarah ekonomi ada yang disebut dengan istilah Kejahatan Ricardian. Saya kira apa, ternyata karena David Ricardo yang memasukkan terlalu banyak teori matematika kedalam ilmu ekonomi tanpa ada pembuktian real di lapangannya. Meski kuat secara logika, ia jadi tidak terlalu berguna dan malah membuat ilmu ekonomi jadi gersang, tidak menarik, dan menjauhkannya dari dunia nyata.

Di hal sampul ada 3 kutipan yang menarik untuk membuka buku yang setebal 563 halaman ini ;

“Mencari kekayaan, .. bagi sebagian besar manusia adalah sumber perbaikan moral terbesar.”

–Nassau Senior

“Ide dari filsuf politik dan ekonomi, baik itu benar atau salah, lebih kuat ketimbang yang diperkirakan. Sesungguhnya dunia ini dikuasai oleh segelintir orang.” – Jhon Maynard Keynes

“Ilmu ekonomi membahas drama terbesar dari seluruh umat manusia, yakni perjuangan umat manusia untuk melepaskan diri dari keinginan.” – John M. Ferguson

Laissez Faire

Adalah sebuah konsep tentang kesejahteraan manusia yang mengacu kepada system pasar bebas dan tanpa intervensi (yang berlebihan) dari Negara, sehingga mekanisme pasar yang ‘diatur’ oleh tangan alamiah atau tangan ghaib bekerja sebagaimana mestinya. Nantinya konsep ini akan bertarung dengan konsep sosialisme marxis (paham intervensionisme). Dan kita tahu siapa yang keluar sebagai pemenang dari pertarungan itu.:D Hail ya Adam Smith !

Jadi semua perjalanan ide-ide ekonomi (teori dan praktik) itu cuma berkisar dari pondasi yang telah diletakkan oleh Adam Smith, lalu dari sana dimulailah periode revisian, koreksi, hingga lahirnya tesis yang bertentangan, dan akhirnya menuju penyempurnaan di penghujung abad 19 atau awal 20. Lebih kurang cerita ringkasnya adalah begitu. Filsapat kebebasan alamiah dan invisible hand yang diajarkan Smith menjadi karakter utama dalam sejarah ekonomi modern ketika revolusi industry dan kebebasan politik muncul ke panggung sejarah umat manusia, dan menciptakan era baru kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi sepanjang dua abad sesudahnya.

Tantangan pertama yang berusaha menggoyahkan tatanan dari Smith berasal dari 2 muridnya yang terkenal dan berpengaruh ; Robert Malthus dan David Ricardo. Keduanya mengemukakan doktrin yang muram tentang hukum besi upah subsisten (standar minimum atau gaji pas-pasan bagi pekerja) dan penderitaan yang tiada akhir dari kelas buruh. Lalu muncul lah Jhon Stuart Mill yang digalaukan oleh kebebasan (liberty) dan sosialisme pada saat komunitarianisme sedang ada di puncak-puncaknya. Terus pada revolusi industry di abad ke 19 pertengahan, muncul tokoh yang radikal dengan kehadiran Karl Marx ke panggung sejarah secara mengejutkan. Ia bicara tentang eksploitasi (buruh) dan alienasi (keterasingan) di kalangan kaum buruh industry. Sebetulnya gampang sekali sekarang untuk mematahkan argument-argumen dari Karl Marx, karena secara kenyataan konsepnya sudah jadul dan gak di upgrade. Konsepnya hanya berlaku ketika revolusi industry sedang marak. Sementara sekarang, dengan kemajuan zaman, perbaikan kualitas hidup, standar kesejahteraan buruh, motif kerja dlsb, menjadi jelas bahwa konsep Karl Marx sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Apalagi selepas ujicobanya yang gagal di Negara Soviet. Konon, China juga sudah gak komunis-komunis amat, system ekonominya malah menganut ekonomi pasar bebas. Komunismenya hanya disimpan untuk urusan politik tok. Nah kan? Atau kita bisa melihat negara yang komunis tulen sekarang seperti Cuba dan Korea utara, dan siapa pulak yang mau hidup terbelakang seperti mereka? Terisolir dari dunia luar dan takut perubahan. :p

Setelah era Marx, si anak nakal yang kurang ajar, lalu munculah revolusi marginal yang dihidupkan oleh 3 tokohnya yang berperan penting ; Carl Menger di Austri, Leon Walras di Swiss, dan William Stenley Jevons di Inggris. Setelah itu muncul depresi besar karena krisis ekonomi yang parah di tahun 1929-1930 dengan memunculkan Maynard Keyness sebagai tokoh kuncinya. Tapi sekarang kita juga tahu bahwa beberapa teoriya ternyata tidak cukup akurat untuk memprediksi kelakuan ekonomi makro, mikro dan relasi uang yang menghubungkan diantara keduanya. Dan siapakah yang bisa menjembatani permasalahan yang serius itu? yap, dia adalah Ludwig Von Misses, yang sekarang di puja-puja, apalagi oleh kalangan libertarian. Ekonom asal austri ini, bersama temannya, Friedrich Von Hayyek (yang pernah memenangkan nobel ekonomi) berhasil menyelamatkan kapitalisme. Oia, Keynes pernah dipuja-puja karena komprominya antara ekonomi kapitalis dengan intervensi dari pemerintah. Keyness ini bukan pewaris adam smith yang sah. Haha. Ia mencampurkan konsep kapitalis dan sosialis, pemerintah diberi bagiannya untuk turut ikut campur dalam perekonomian di lapangan (secara makro).

Babak terakhir (yang dikisahkan oleh buku ini) adalah setelah perang dunia kedua. Para ekonom monetaris yang anti revolusi, dipimpin oleh Milton Friedman dari Chicago, mulai memfokuskan pada kajian tentang ketidakstabilan kebijakan makro pemerintah. Nah, Friedman yang suka karya empiris ketimbang model abstrak, menunjukan bahwa ikut campurnya pemerintah kebanyakan menghasilkan efek negative. Ia mencontohkan biang keladi yang memicu depresi besar ternyata adalah kebijakan2nya Federal Reserve. Akhirnya, dengan mengadopsi kebijakan moneter yang stabil, maka ekonomi pasar yang mengatur diri sendiri a la Adam Smith sekali lagi bisa kembali berkembang.

Yang menarik dari buku ini adalah selain menampilkan ide-ide dari para ekonom, juga dilengkapi secara ringkas kisah hidup dan latarbelakang keilmuannya sehingga bisa melahirkan teorinya itu. ini yang penting, karena kita juga perlu memahami kehidupannya selain memahami ide-ide mereka. Karena jelas tidak adil jika kita mengabaikan suatu teori dari seorang filsup hanya karena dia mungkin seorang suami yang buruk atau pemabuk. Kita tahu kehidupan Karl Marx memang patut dicela, tetapi apakah itu berarti teori alieanasi dan eksploitasinya keliru? Ide-ide mempunyai manfaat dan dasarnya tersendiri, dan manfaat itu tidak ada hubungannya dengan orang yang menggagasnya.   

Buku ini diperuntukkan untuk pembaca umum bahkan untuk orang yang bukan dari jurusan ekonomi macem saya pun bisa sangat menikmatinya. Ekonomi dibuat sesederhana dan sejelas mungkin. Cocok bagi yang ingin mengetahui terbuat dari apa ekonomi modern itu. sebuah cerita yang menarik dan based on true.

Kata Paul Samuelson, Akan kuberitahu kalian satu rahasia. Ahli-ahli ekonomi sering dipandang sebagai orang yang berpikiran segersang debu dan menjemukan. Anggapan itu keliru, sebab yang benar adalah sebaliknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s