Engineering · Geology · Petroleum

Ring of Fire dan Isi Perut Bumi Indonesia

Berapa sih luas Indonesia? Berapa luas garis pantainya? Berapa kira-kira jarak yang membentang dari sabang sampai Merauke berjejer pulau-pulau? Dulu saya malu ketika ditanya oleh dosen FTK (Fakultas Teknik Kelautan), ITS, tentang luas Indonesia, dan tak ada dari kami yang tahu. Kata beliau, bagaimana mau mencintai Indonesia kalau luasnya saja tidak tahu? Kalau misal ada orang yang mencuri “sebagian” tanah Indonesia, kalau ndak tahu, lah piye? Belum lagi tentang kandungannya. Meskipun untuk mengetahui kandungan perutnya Indonesia ini bukanlah perkara yang gampang.

Makanya ketika diajukan pertanyaan kepada salahseorang dosen Perminyakan ITB tentang bagaimana kalau minyak habis, jawab beliau, sebetulnya bukan habis dalam arti tidak ada lagi minyak sama sekali di bumi, melainkan minyak yang sudah terpetakan itulah yang habis, sementara di banyak tempat belum terpetakan sama sekali dan belum tersentuh eksplorasi minyaknya. Meskipun saya santai-santai kalau pun toh nanti minyak habis, karena saya yakin bila saatnya tiba, manusia sepertinya sudah akan menemukan energy penggantinya. *optimisme. Dulu juga gitu, kan? Sebelum minyak bumi ditemukan, manusia sangat bergantung kepada minyak ikan paus.

oil_reserves
Peta cadangan minyak bumi di tahun 2013. gambar dari wikipedia.org

Ini sebetulnya entah nyata atau tidak, karena dari eksplorasi dan eksploitasi yang ada sekarang, belum diketahui tentang potensi kandungan perut bumi Indonesia. Badan geofisika dan meteriologi juga masih belum bisa mempetakan 100% tentang isi perut bumi Indonesia itu. Padahal peta tentang kandungan didalamnya bisa jadi satu langkah awal bagaimana kelak kita bisa mengelolanya secara arif untuk seluas-luasnya kesejahteraan rakyat Indonesia. Itu kalau memang perut Indonesia berlimpah dengan minyak, emas dan mineral berharga lainnya. Lah kalau ternyata tidak ada dan kosong melompong? Siapa yang tahu?

Masih dari bukunya Pak Bondan, Bre-X ; Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, ada penjelasan tentang konsep yang familiar di dunia pertambangan. Ini perlu kita bahas karena berkaitan dengan potensi perut bumi Indonesia untuk selanjutnya akan kita tengok, sebetulnya apa saja sih isi perut bumi Indonesia itu.

Berangkat dari istilah yang sering kita dengar, bahwa Indonesia itu dikenal sebagai kepulauan yang terlewati oleh Ring of Fire. Cincin api? Apakah maksudnya? Banyak gunung berapinya? Tentu saja. Tapi apa implikasinya?

Nah dalam dunia pertambangan, dikenal istilah beberapa teori yang berguna untuk menjelaskan kandungan mineral suatu wilayah, salahsatunya adalah teori tektonika lempeng (plate tectonics). Konsep ini disusun berdasarkan sejumlah data dan informasi baru dari hasil penelitian geofisika dan geologi kelautan, studi gempa, dan topografi dasar samudera.

Teori tektonika lempeng ini agak mirip dengan teori mengenai apung benua. Teori ini mengatakan bahwa lapisan kerak bumi atau litosfir yang menyelubungi bumi bukanlah merupakan kulit yang utuh, melainkan retak terkerat-kerat. Akibat retakan-retakan itu, terdapat tujuh lempeng litosfir berukuran besar, di samping banyak lagi lempeng pecahan yang berukuran kecil. Lempeng-lempeng ini selalu bergerak, bergeseran satu dengan yang lain, memisah maupun saling bertabrakan. Tabrakan-tabrakan yang terjadi antara dua lempengan mengakibatkan terjadinya suatu proses geologi yang penting, yaitu proses deformasi tepian benua yang menyebabkan terbentuknya jalur pegunungan lipatan, metamorfosa akibat suhu dan tekanan tinggi dalam akar pegunungan, dan pelelehan bagian lempeng yang menghujam dan menghasilkan intrusi bersifat granit dan vulkanisma bersifat andesit pada lempeng yang terungkit. Kegiatan magma ini dapat menimbulkan mineralisasi, seperti halnya juga pemekaran dasar samudera yang mengeluarkan magma ultra basa.

Dengan teori tektonik lempeng ini ternyata dapat dengan lebih mudah dijelaskan berbagai jenis gejala tektonik dan struktur geologi yamg rumit. Dalam kaitannya dengan konsep tektonik lempeng, pada dasarnya dapat dibedakan dua macam lingkungan pembentukkan mineralisasi logam.

Yang pertama, berkaitan dengan batuan yang terbentuk dalam cekungan samudera dan busur kepulauan. Yang kedua, berkaitan dengan batuan benua yang sering berupa granit dan berasal dari batuan kerak bumi. Secara populer, konsep tektonik lempeng itu juga dikenal dengan teori “Ring of Fire”, yaitu sebuah lingkaran semu di sekitar Samudera Pasifik yang terdiri atas rangkaian gunung berapi. Teori itu mengatakan bahwa gunung berapi tidak muncul di sembarang tempat, melainkan di dalam lingkungan “Ring of Fire” ini. Indonesia terletak dalam salah satu busur lingkaran gunung berapi ini. Betapa menakjubkannya bukan? Maka, nikmat yang mana lagikah yang akan engkau dustakan?😀

Kabar gembira lainnya adalah bahwasannya busur-busur kepulauan Indonesia itu merupakan daerah pertemuan dan pertabrakan tiga lempeng kerak bumi, yaitu: lempeng India-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Apa artinya?

Artinya adalah bahwa dengan teori tektonik lempeng dapat dijelaskan pola penyebaran mineralisasi di Indonesia. Prof. Dr. J.A. Katili dan banyak penelitian lain telah menerapkan teori tersebut dalam konsep eksplorasi mineral logam secara regional di Indonesia. Kegiatan eksplorasi mineral dalam 25 tahun terakhir ini di Indonesia –terutama yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing– banyak mengacu pada teori ini.

Isi perut bumi Indonesia

Dalam tulisannya di Kompas, 14 April 1997, Prof. Dr. R.P. Koesoemadinata menulis bahwa dengan adanya peta geologi Indonesia, ditambah lagi dengan data yang dikumpulkan dari aktivitas penambangan sebelumnya –antara lain eksplorasi minyak dan gas bumi– maka para ahli geologi di Indonesia secara umum telah memperoleh gambaran tentang keadaan geologi Indonesia. Maraknya aktivitas perhutanan juga ikut membantu bertambahnya informasi umum geologi, antara lain: penyebaran dan umur batuan, serta susunan dan struktur batuan. Dari informasi tersebut, dan dengan memperhatikan gejala-gejala geologi yang dapat dibaca pada peta geologi, seorang geolog dapat menafsirkan daerah-daerah yang berpeluan untuk menemukan endapan mineral atau minyak dan gas bumi.

Teknologi satelit pun banyak membantu memperkaya informasi geologi umum. Dr. Ir. Indrojono Soesilo di Kompas menulis, inderaja (remote sensing) yang dilakukan dengan fasilitas satelit dapat mengungkap struktur lapisan batuan permukaan bumi, misalnya: apakah strukturnya berpola rekahan (terbuka), atau tertutup (lipatan). Untuk memperoleh citra inderaja yang baik dari udara diperlukan sensor khusus hiperspektral yang spektrumnya mencapai 200 gelombang. Bila untuk melihat struktur batuan digunakan sensor radar, untuk menampilkan rona tanah atau memantau warna batuan mineral ubahan hidrotermal diperlukan sensor optik. Kedua jenis sensor ini dipakai untuk pengambilan citra inderaja.

Tetapi, sekalipun satelit militer Amerika Serikat bisa melakukan inderaja untuk membaca nomor pelat mobil yang diparkir di Kremlin, atau jumlah pasukan dan tank Irak yang sedang bergerak ke Kuwait, teknologi satelit ternyata belum bisa menembus permukaan bumi lebih dari kedalaman beberapa inci. Ini barangkali merupakan suatu kenyataan yang mengecewakan. Teknologi yang sudah berkemampuan mendeteksi keadaan fisik kimia planet Jupiter serta bintang-bintang yang jauh itu ternyata belum mampu melihat isi perut bumi ini sendiri? Satelit ternyata juga mempunyai keterbatasan yang sama untuk mengintip kekayaan samudera. Kecuali tentang ikan-ikan yang berada di dekat permukaan samudera, teknologi satelit tetap belum mampu menembus ke dalam laut. Barangkali dari Jurusan IT bisa membantu membuat satelit yang bisa mendeteksi dan mengetahui isi perut bumi, siapa tahu kan?

Tapi hingga alat itu diketemukan kelak, maka cara konvensional untuk mengetahui bahwa di dalam bumi itu terdapat mineralnya, emas atau minyak, satu-satunya cara adalah dengan langsung mengebornya. Setelah mengebor baru akan bisa kita peroleh kesimpulannya, bahwa disitu ada emas/minyaknya atau tidak. Masalahnya pengeboran itu tidak semurah yang dibayangkan. Kalau beneran ada, ya ndak apa-apa, balik modal. Lah kalo ternyata ndak ada? Tekor. Rugi bandar. Hehe.

Bagaimana membuat peta geologi suatu wilayah?

Nah, simple sebetulnya, jadi dari sebuah citra inderaja itu kita akan tahu informasi lengkap tentang keadaan geologi permukaan (surface geology), seorang ahli geologi dapat menafsirkan –dengan cara memproyeksikan– keadaan geologi di dalam kerak bumi. Namun, yang diproyeksikan itu pun hanyalah gejala geologi dalam skala besarnya, belum terinci. Interprestasi citra satelit, karenanya, baru merupakan informasi awal. Nah makanya kata Pak Bondan, Istilah “berburu emas dengan satelit” adalah pengertian yang menyesatkan.

Disini Pak Koesoemadinata membuat analogi yang cukup menarik. Ibaratnya seorang dokter, dengan stetoskop ia bisa memproyeksikan apa yang kira-kira terjadi di bawah permukaan kulit seorang pasien. Dokter juga memakai alat pengukur tekanan darah, termometer, pengukur denyut nadi. Dengan semua informasi itu seorang dokter dapat memperkirakan dan mencurigai adanya suatu penyakit (verdatch). Untuk memastikan penyakit itu, harus dilakukan lagi berbagai pengujian ke dalam atau dari dalam tubuh si penderita, antara lain: pemeriksaan darah, pemeriksaan urin dan tinja, scanning, serta kadang-kadang bahkan harus dengan biopsi atau pembedahan untuk memastikan penyakit yang dideritanya.

Tapi untuk mengetahui secara pasti apa yang dikandung bumi, hingga saat ini, satu-satunya cara untuk mengetahui adanya suatu endapan mineral atau akumulasi minyak dan gas bumi adalah dengan melakukan pengeboran. Jadi jurusan geologi nyari wilayah yang kira-kira berpotensi (lewat penelitian batuan dan indikasi yang lainnya), lalu bila dirasa berkemungkinan wilayah itu ada mineral dibawahnya, maka giliran anak Pertambangan atau perminyakan yang bekerja. Bila pengeborannya dimaksudkan untuk fluida cair alias minyak, anak perminyakan yang turun tangan. Tapi bila yang di bornya itu mineral atau logam-logam berharga, maka anak pertambangan yang bekerja. Kalau anak Tekkim seperti saya? Cukup menunggu diatas saja, bila bahan-bahan mentah itu sudah ada di atas, baru yang mengelola atau memprosesnya adalah kita. Hehe. Nah nanti dipasarkan oleh anak pemasaran, bisnis atau teknik Industri. Sisanya yang mengurusi lingkungan seperti limbah dan konservasinya, biar anak TL yang main. 😀 sinergi dan harmoni dalam kebersamaan.

Setahu saya, selain pengeboran minyak, anak perminyakan juga diajari untuk menentukan cadangan minyak dan gas bumi. Entah dengan menganalisis reservoirnya atau apa lah. Saya kurang paham. Hanya untuk mengetahui cadangan minyak dan gas itu sedikitnya diperlukan dua sumur bor dengan kedalaman ribuan meter. Satu sumur bor minyak bisa memerlukan biaya puluhan juta dolar. Sedangkan untuk menentukan cebakan mineral diperlukan lebih banyak sumur bor, tetapi cukup dengan kedalaman beberapa ratus meter saja. Untuk menentukan adanya mineralisasi emas, misalnya, dibutuhkan sangat banyak lubang bor mengingat kadar emas serta penyebarannya yang sangat bervariasi. Kadangkala dari ratusan pemboran itu baru bisa dihitung sumberdaya tereka (inferred resources). Untuk memperoleh angka sumberdaya terukur (measured resources) bagi komoditi emas, harus dilakukan tiga lubang pengeboran pada jarak 25 meter, dan harus ada terowongan yang dibuka. Penghitungan dilakukan dengan metode geostatistik, sehingga masih membuka peluang kesalahan. Sedangkan untuk memperoleh angka hitungan sumberdaya terindikasi (indicated resources), standarnya adalah dua lubang pengeboran pada jarak 25 meter.

Karena itu, adalah hal yang nyaris mustahil bagi Pemerintah untuk mengadakan semacam inventaris teradap potensi endapan mineral maupun minyak dan gas bumi yang tersimpan di dalam perut bumi Indonesia. Tak ada satu negara pun di dunia ini yang mempunyai data potensial kekayaan hasil tambangnya. Di samping biayanya yang sangat tinggi, aktivitas pekerjaanya pun sangat luas dan akan memerlukan sumberdaya manusia terampil dalam jumlah yang sangat besar. Karena itu pulalah Pemerintah mengakui tingkat kesulitan para penambang, dan memberikan berbagai insentif serta fasilitas untuk melaksanakan kegiatannya.

Referensi bacaan lanjut :

  1. Teknik Penggambaran Peta Geologi ; https://www.scribd.com/doc/138495829/Teknik-Penggambaran-Peta-Geologi
  2. Penyusunan Peta Geologi, http://psdg.bgl.esdm.go.id/kepmen_pp_uu/susun-peta-geologi%20(1).pdf
  3. Sebongkah Emas di Kaki Pelangi, Bondan Winarno.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s