Culture

Kopi dan Mahasiswa

Disklaimer ; Sebelumnya, perlu diketahui bahwa didepan saya yang sedang menulis ini ada secangkir kopi hangat Chocino dengan sedikit Glukosa tambahan yang sedang mengepul dan enak lalu tak mau berbagi.dan disklaimer ini benar-benar tidak penting! :v

Saya termasuk orang yang tidak suka bersikap fanatik. Karena fanatisme dalam hal apapun tidak mengijinkan adanya intervensi dari nalar, yang artinya seseorang yang (dibutakan) oleh fanatisme itu murni karena kecintaan yang membabi buta, tidak tersisa didalamnya logika. Makanya, bila saya sedang menghadapi orang yang fanatik (terhadap bola, tokoh, orang, band atau agama apapun itu), tak perlu saya sodori argumen, fakta atau referensi ilmiah, karena itu tidak akan terlalu membantu dan berguna. Intinya saya tidak suka fanatik, tapi setelah dipikir-pikir, kalaupun ternyata saya dipaksa untuk bersikap fanatik, maka kefanatikan saya hanya pada 2 hal ; buku dan kopi. Untuk dua hal itu saya rela melakukan apa saja. *Uhuuk.

Dalam hal kopi, sehari (menurut Nat Geo) itu sekira 300 mg caffeine yang masuk kedalam tubuh seseorang disebut sebagai takaran yang moderat. Nah bila takaran ini dioper ke kopi, maka bila satu atau dua cangkir kopi itu beratnya 12 ons, yang artinya tergantung berapa besar ukuran cangkir kopi Anda, yang adapun kalau cangkir saya tergolong kecil, karena saya hanya butuh menyeruput kopi setiap kali ngantuk. Maka, bila saya timbang bubuk kopi saya pergelas kecil itu, ternyata beratnya hanya 7 gram. Itu artinya, jika dalam sehari saya minum 4 gelas “kopi kecil”, saya berjarak 2 gram dari batas 300 miligram yang diperbolehkan tsb. jadi masih tergolong aman. Bagaimanapun, selera, pilihan dan kesukaan terhadap sesuatu tidak seharusnya menumpulkan akal, logika dan nalar kita, kan? Jadi, ingat juga kesehatan. Kopi tidak seharusnya menjadi sumber bencana, karena seperti yang akan kita diskusikan selanjutnya, akan didapati bahwa terdapat romantikanya tersendiri yang ada di dalam secangkir kopi.

ojekparis
Obrolan urban, membahas tema-tema sederhana dengan kata yang mempesona. salut buat Seno Gumira

Kita mulai dengan satu postulat sederhana, bahwa kopi bukan sekedar minuman biasa, tetapi telah menjadi makna. Hal ini bisa dipahami bila kita mau menengok sebentar sejarah kopi dari masa ke masa dan pergulatan wacana yang ditimbulkan oleh sebab kopi, karena Semenjak booming Starbucks, ternyata kopi disebut-sebut sebagai “Legal drug”. Majalah National Geographic bahkan menyebutkan betapa abad modern sebetulnya digerakkan oleh kopi yang bikin orang melek, siang maupun malam, dan menghidupkan kota-kota dunia. Untungnya, manusia bisa menarik diri dengan mudah dari ketagihan kopi ini. dengan kata lain, tidak seperti narkoba, tidak akan ada istilah “sakauw” kopi. Yang ada hanyalah beberapa efek pada saraf selama beberapa hari (withdrawal syndrome), namun kemudian tubuh akan segera menyeimbangkan diri. Perilaku minum kopi telah menggelindingkan sejarah serta memberi bentuk dan inspirasi terhadap keberlangsungan budaya kita sekarang. Jadi tidak sekedar nikmatnya saja yang kita sesap, hirup dan sruput (ini istilah anak-anak Lpm yang menggambarkan pemakanaa terhadap suatu fenomena seperti halnya menyeruput kopi, untuk mendapatkan kenikmatan puncak yang perlu pelan-pelan dan sambil dihayati betul), kopi telah menjelmakan diri sebagai suatu wacana. Ada yang bilang bahwa kopi itu diciptakan oleh sejarah, tetapi nikmatnya oleh filsapat. Saya kira ada benarnya juga. Coba bayangkan sudah berapa ratus lembar kertas yang tertuang didalamnya kesyahduan mencicip kopi dengan aromanya yang khas, ampasnya yang pekat (bak rindu), rasanya yang memikat, dan seabrek keistimewaan lainnya dari kopi yang tidak akan bisa kita temui di minuman yang lain. Kita tidak perlu vodka, whiski, atau jack daniels, karena pada secangkir kopi, tersimpan berjuta rasa yang membangkitkan romantika jiwa mahasiswa.

Dalam salahsatu esainya yang aduhai gurihnya, Seno Gumira pernah mengatakan bahwa kopi bukan hanya caffein, kopi telah menjadi makna! Begini, dalam percaturan kopi, Indonesia nyatanya bisa cukup berbangga diri. karena salahsatu varietasnya, yaitu “Kopi luwak” yang diberitakan The Jakarta Post tanggal 18 february 2005 ; ternyata inilah kopi termahal di dunia, karena hanya biji kopi yang terbungkus faeces (tinja) luwaklah yang dianggap sahih sebagai ‘kopi luwak’ –jadi bukan sekedar ber-merk Kopi luwak. Bahkan yang membuat kita tercengang adalah harga bijinya yang mencapai US$250 perkilo (unroasted) dan US$600 perkilo (roasted). dan percangkirnya bisa mencapai US$5. kita memang bicara tentang dunia kopi internasional, meski kebun penyuplai ‘kopi luwak’ dunia ini hanya ada di sumatera, tetapi dimiliki Daarhnour dari Belanda, yang mendistribusikannya terutama ke Amerika serikat, dengan M. P. Mountanos Inc, di Los angeles, sebagai pelanggan terbesar. tentu jadi ironis ; ‘kopi luwak’ yang tulen ternyata tak bisa dibeli di Indonesia karena sudah kadung dibawa keluar.

images
Tidak ada yang mengalahkan taik hewan yang satu ini.

Lalu diskusi tentang kopi juga pada satu titik bisa menjadi teramat serius. Bagaimana orang-orang bisa menjadikan kopi sebagai sebuah studi yang asyik. Karena pada kopi terbuka kemungkinan untuk diteliti dan dikaji secara mendalam. Ambil contoh seperti laporan The Jakarta Post edisi 23 februari lalu. dibawah judul Coffee and its effect on culture, a popular topic on college campuses, Murray Evans dari Asociated press melaporkan telah berlangsungnya diskusi “The cafe and public life” di Centre College, Dallas, Kentucky, yang memperdebatkan kopi sebagai bagian dari (citra) kelas. tesis diskusi itu, kopi bukan sekedar minuman, karena konsumsinya telah mengubah masyarakat dari abad ke abad. topik ini mungkin tampak aneh, tetapi justru menunjukan eksistensi kopi, bahwa makna kehadirannya bisa dibongkar dalam perbincangan yang serius dan berbobot. Keren, kan? Jangan remehkan hal-hal kecil di sekitar kita.

Sebagai sebuah wacana kopi membangkitkan gairah intelektualitas kita, dan sebagai sebuah fungsi, kopi merupakan minuman praktis yang memungkinkan mahasiswa bisa tahan bergadang hingga dini hari. Kopi siap menemani waktu-waktu sepi ketika malam menghampiri. Terlalu berharga jika melewatkan malam hanya dengan tidur. Mahasiswa perlu tidur, itu jelas. Tetapi bukan untuk tidur, mahasiswa itu ada. Maksudnya, tidur hanya sekedar untuk melepas lelah dan melepas kesadaran. Barang 2 atau 3 jam seharusnya sudah lebih dari cukup. Itu kalau menganggap waktu menjadi sedemikian berarti dan pentingnya. Tapi mahasiswa mana yang tidak menganggap entitas waktu tidak seperti itu, kan? Karena waktulah yang nantinya akan membentuk dia. kolektifitas dia memaknai waktunya itu yang akan memberitahukan siapa dan bagaimana kualitas dirinya. Waktu yang tersedia untuk semua mahasiswa sama, tetapi untuk apa dan bagaimana waktu itu dipergunakan, bisa jadi berbeda-beda.

Malam bagi saya sudah menjadi tidak ada bedanya dengan siang. Sama-sama terdapat aktifitas yang tidak bisa ditinggalkan dan ditanggalkan. Kata pepatah bijak, doi pernah mengatakan, “Malam itu panjang, Janganlah tidurmu membuatnya menjadi pendek. Begitu juga, Siang itu terang, janganlah perbuatan burukmu membuatnya menjadi gelap.” Terlebih saya termasuk pengagum berat langit malam (baca : astronomi), kan konyol kalau sewaktu mengamati hujan meteor orionid (seperti beberapa minggu yang lalu) saya pulas tidur. Waktu-waktu langit menunjukan keindahannya itu justru ketika malam hari. Nah, kan!

Berbicara tentang kopi seperti tidak akan ada habisnya. Misal, hubungan kopi dan panjang umur pun sempat-sempatnya diteliti, papernya pertama kali dipublikasikan oleh Harvard Study secara online pada Nov. 16, 2015, oleh Circulation yang menemukan bahwa jika anda minum kopi pada takaran yang moderat, ternyata itu berhubungan dengan rendahnya resiko dari kematian dini. Intinya apa? Kopi bisa membuat anda panjang umur! Riset itu dievaluasi dari jawaban Quesioner yang disebar dan dijawab oleh lebih dari 208,000 laki-laki dan perempuan, pada usia 30 tahunan.

Yang lainnya, adalah kajian yang dipublikasikan oleh jurnal Scientific Reports. Dikatakan bahwa kopi yang kita minum akan menempel (tercetak) dalam gen kita. Meskipun riset ini masih perlu diteliti lebih lanjut, seperti kata salah seorang penelitinya, Dr Nicola Pirastu, yang mengatakan bahwa “Kita perlu melakukan penelitian lebih lanjut terkait ini untuk mengkonfirmasi penemuan ini juga menjelaskan mekanisme biologis diantara PDSS2 terhadap konsumsi kopi.”

Yang jelas, kopi sangat berhubungan dengan tingkat kefokusan. Yang artinya bisa membuat kita belajar dengan lebih mudah. Mahasiswa-mahasiswa malam tahu rasanya terjaga sembari ditemani secangkir kopi yang sedang mengepulkan aromanya yang aduhai maknyusnya.

23328842052_d87782d0f8
Mari di sruput kopinya.

Referensi :

Tiada Ojek Di Paris, 2015, Seno Gumira Ajidarma.

The Jakarta Post.

Majalah National Geographic

Journal Reference: Nicola Pirastu, Maarten Kooyman, Antonietta Robino, Ashley van der Spek, Luciano Navarini, Najaf Amin, Lennart C. Karssen, Cornelia M Van Duijn, Paolo Gasparini. “Non-additive genome-wide association scan reveals a new gene associated with habitual coffee consumption”. Scientific Reports, 2016; 6: 31590 DOI: 10.1038/srep31590

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s