Cerita tentang Islam, Fitrah dan Ruh

Makhluk bernama Islam

Islam itu artinya tunduk patuh, berserah diri, menyerah, kepada Tuhan. Maksudnya kepada Allah SWT, Tuhannya orang-orang Islam. Jadi berislam berarti tunduk patuh, berserah diri dan menyerahkan segalanya kepada Allah swt. Tetapi bukan berarti bahwa Allah perlu hal itu. Allah tidak perlu kita menjadi Islam, karena buat apa. Yang lebih butuh itu adalah kita, sehingga Islam itu dihadirkan untuk kita, bukan untuk Allah.

Islam adalah salahsatu cara, panduan, atau bimbingan agar kita bisa mengerti posisi kita selama di dunia ini harus bagaimana, cara hidup yang diinginkan oleh Allah. Tetapi Allah itu bebas untuk berkeinginan apa saja, bebas juga untuk tidak berkeinginan, karena Allah adalah mutlak. Allah tidak disetir oleh keinginan, Allah bebas sekehendak-Nya, tanpa disetir oleh kehendak-Nya itu. Allah, terserah diri-Nya. Bebas dari kehendak, dari keinginan, dari apapun selain-Nya. Jadi maksud dari berserah diri kepada Allah itu, mengindikasikan bahwa perlu bagi kita untuk menyerahkan diri kita kepada siapa, kepada apa. Meskipun lagi-lagi, Allah itu bebas dari pertanyaan siapa atau apa. Allah itu diatas itu semua. Diatas logika Bahasa manusia. Kalaupun Allah dipahami dengan Bahasa, yang mana Bahasa itu merupakan satu dari sekian ciptaannya juga –yang termasuk dari konstruksi sosial dan budaya manusia– ya selebihnya, itu hanya keterbatasan manusianya saja.

Islam itu salahsatu dari sekian ciptaan-Nya. Semua Nabi itu Islam. Karena semuanya berserah diri kepada Allah swt. Jadi Islam tidak dimulai sejak zaman Nabi Muhammad, tetapi sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Islam itu juga berproses, sebagaimana manusia berproses dari masa bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga tua. Islam pun begitu, berproses sejak zaman nabi Adam, hingga zaman nabi Muhammad. Islam dan Zaman dengan sendirinya selalu beriringan, karena selalu berproses, menuju kesempurnaan. Itu tidak berarti bahwa islamnya nabi adam belum sempurna, melainkan hanya segi-segi tertentunya saja yang berubah berdasar zaman, sementara fundamenfundamennya akan selalu sama ; tauhid. Bentuk pengesaan terhadap Allah. Semua Nabi menyembah Allah Yang Maha Esa. Tunggal. Satu. Tak terbagi-bagi.

Islam itu salahsatu cara untuk kita mengenal Allah. Apakah ada cara lain? Ada, yaitu dengan piranti yang telah Allah persiapkan untuk kita, yaitu Akal. Akal dan nalar juga mampu berpikir dan memahami Allah. Itu lah mengapa tidak semuanya dalam hidup ini mesti ada didalam islam atau al-Quran. Karena Akal bisa memproses sebagian yang tidak ada di dalam al-Quran atau Islam. Apa yang baik menurut akal, begitu pula baik menurut islam. Islam itu bisa dipahami oleh Akal, dan akal diposisikan sebagaimana mestinya oleh Islam. Keduanya tidak bertentangan dan tidak juga saling menguasai. Tetapi sebagai cara-cara saja, sarana, untuk semakin mengerti dan memposisikan diri bagaimana kita bersikap di hadapan Allah swt.

Sejak kapan saya berislam?

Disini ada dua subjek yang mengalami dan teralami. saya dan islam. saya yang mengalami islam atau islam sebagai bentuk pengalaman bagi saya. Cak Nun pernah membahas tentang siapa yang lebih duluan ada, Islam dulu atau manusia dulu? lebih kurang penjelasan beliau begini,

“Islam sebagai apa dulu yang mau diketahui kelahirannya? Apakah Islam sebagai Agama resmi atau Islam sebagai nilai? Islam sebagai substansi atau Islam sebagai lembaga atau institusi?

Kalau Islam, katakanlah, baru ada di abad 7 Masehi, yang maksudmu tentu bersamaan dengan datangnya Kanjeng Nabi Muhammad sebagai Rasul Pamungkas, berarti ribuan Nabi dan puluhan Rasul sebelum beliau bukan Muslimin. Padahal Nabi Adam pun seorang Muslim.

Islam sama sekali bukan lembaga, dan tidak pernah merupakan institusi, meskipun manusia pemeluknya bisa melahirkan institusi, aliran, kelompok sampai ormas untuk mewujudkan dan memanifestasi Islam untuk keperluan dan konteks tertentu.

Tetapi untuk secara gampangnya, Baiklah kita anggap dalam pengetahuan formal Kaum Muslimin zaman sekarang dan juga wacana-wacana ilmu di dunia, Islam itu lahir melalui Rasul Muhammad. Tapi pada hakikatnya, detik pertama Allah menyelenggarakan penciptaan dengan Kun-fayakun itu yang diciptakan adalah Islam. Wujudnya Nur Muhammad, tetapi sistem eksistensi yang dibabar secara keseluruhan adalah Islam itu sendiri, yang berlaku hingga hari Kiamat. Islam berlaku kholidina fiha abada. Kekal dan abadi. Tak hanya kekal, tapi juga abadi, meskipun hanya Allah yang tahu ukuran waktunya.

Itu artinya Islam sudah ada jauh jauh jauh sebelum kita ada. Jauh jauh jauh sebelum kita menyadarinya. Itu bagi wujud alam semesta di mana kita semua menjadi bagian dari prosesnya. “Islam sudah jauh lebih dulu lahir begitu Allah melaksanakan gagasan-Nya untuk menciptakan jagat raya dan makhluk-makhluk. Tetapi bagi konteks dan jagat kehidupan kita, Islam baru lahir bersamaan dengan awal makrifat akal kita atasnya. Mungkin bagi sejumlah Muslimin bisa saja sebenarnya Islam belum lahir di dalam dirinya atau pada hidupnya….”

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan itu kita merujuk kepada al-Quran dan Hadits. Kalau dari al-Quran sendiri, jawabannya adalah sejak pertama kali kita diciptakan. Mula dari alam ruh, kita sudah di-islam-kan oleh Allah swt. Tertera di surat al-A’raaf ayat 172 yang menjelaskan perjanjian Allah dengan manusia. Perjanjian untuk mengakui bahwa Allah adalah Tuhan, adalah Zat yang harus di sembah.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). (Qs. Al-A’raf: 172)

Kemudian dari hadits nabi, kita pun tahu, bahwa setiap bayi yang lahir itu dalam keadaan fithrah. berikut haditsnya ;

“Setiap anak tidak dilahirkan kecuali dalam kondisi fitrah (suci) maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, Majusi atau musyrik”. (Hr. Bukhari-Muslim)

Istilah fithrah disini merujuk kepada kondisi suci, kembali ke asal, atau dalam kondisi ‘islam’. Itu artinya sejak lahir kita itu islam. Tetapi ayah bundanya lah yang membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau lain-lainnya. Di islam sendiri ada batasan rentang waktu seseorang dalam kaitannya dengan perkembangan potensi internal yang disebut akalnya itu. akal inilah yang mempunyai kemampuan dan potensi untuk bisa dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dalam islam, seseorang yang telah dewasa akalnya dikatakan sudah mencapai Aqil Baligh. Istilah Aqil baligh ini menjelaskan dua hal, aqil itu bermakna berakal (bisa membedakan baik dan buruk dan mengikuti yang baik), dan baligh yang bermakna menyampaikan (kebaikan atau kebenaran lewat perilakunya sehari-hari). Dan dalam islam, aqil baligh inilah yang menjadi batas seseorang di kenai taklif atau beban syariat. Bila tidak melakukan perintah agama, maka akan dikenai punishment berupa dosa.

Jadi untuk anak-anak yang lahir dari keluarga islam, sejak lahir mereka sudah islam hingga setelahnya, kecuali mereka memutuskan suatu waktu untuk murtad. Tetapi bagi anak-anak yang lahir dari keluarga yang bukan islam, karena masa kecil mereka di cekoki oleh faham dan keyakinan orangtuanya, maka mereka baru di hitung setelah akalnya dewasa untuk memutuskan apakah mereka mau berislam atau tetap dengan keyakinan orangtuanya.

Syahadat itu hanya perlu untuk orang yang sebelumnya bukan islam. Sementara yang dari kecil sudah islam, tak perlu ‘bersyahadat’ untuk masuk islam. ngapain bersyhadat kalau sudah yakin, kan? Toh kalimat syahadat ini sering diulang-ulang juga, kan? Dalam sholat, dalam adzan-qomat, dalam doa sehabis wudhu, dlsb. Syahadat adalah bentuk formal sebagai pertanda kesaksian untuk memasuki islam, itulah mengapa syahadat masuk kedalam rukun Islam.

Lantas, Apakah fitrah sama dengan sifat-sifat bawaan manusia? 

Setiap orang memiliki fitrah itu, walau seringkali — karena kesibukan dan dosa – suara fitrahnya begitu lemah atau tidak terdengar lagi. Karena itu, kalau ada orang yang mengingkari wujud dan ke-Esaan Allah maka pengingkaran tersebut bersifat sementara. Dalam arti bahwa pada akhirnya sebelum ruhnya berpisah dengan jasadnya, maka ia akan mengakui-Nya kembali.

Memang boleh jadi ada saat-saat dalam hidup ini, singkat atau panjang dimana manusia mengalami keraguan tentang wujud-Nya, bahkan boleh jadi keraguan tersebut mengantarnya untuk menolak kehadiran Tuhan dan menanggalkan kepercayaannya, akan tetapi karena manusia mempunyai naluri mengharap, cemas, dan rasa takut. Maka fitrah akan wujud Tuhan akan selalu muncul demi untuk memudahkan segala kesulitan. Inilah sebabnya mengapa kita melihat bahwa kebanyakan sufi membuktikan eksistensi Allah dan pengendalian-Nya akan urusan-urusan dunia ini dengan merujuk pada keadaan pikiran dan kesadaran ketika berhadapan dengan peristiwa-peristiwa mengerikan seperti tenggelam atau kebakaran.

Manusia yang terlibat dan tenggelam dalam perubahan dunia temporal, menyebabkan pada akhirnya dia akan lupa dengan pengetahuan dan pengalaman langsung akan Tuhan dan pencipta yang pernah dimiiknya. Kelupaan ini merupakan sesuatu yang sama dengan “dirinya sendiri” itu. Salah satu penderitaan paling pedih yang dialami manusia di dunia ini, seperti kehidupan dan problem-problemnya, akibatnya manusia sama sekai lupa akan dirinya, hal ini pun menghancurkan kesadaran mereka akan Tuhan. Terkadang karena keberhasilan, manusia lalu menjadi sama sekali buta terhadap, dan tidak mengenal Tuhan, meskipum Tuhan benar-benar nyata didepan mata mereka.

Pada akhirnya, dapat kita tarik pelajaran bahwa perjanjian yang dilakukan manusia di hadapan Tuhan sebagaimana dijelaskan di atas, tidak cukup kuat untuk senantiasa menempatkan manusia untuk sepanjang waktu dijalan lurus, suatu jalan penyembahan kepada Allah. Namun, perjanjian dan pengakuan tersebut berpengaruh pada penempatan jiwa dan hati nurani manusia untuk senantiasa siap mencari pengetahuan tentang Allah sehingga pada hari pengadilan tidak ada seorang pun yang dapat berdalih bahwa “kami semua tidak mengetahui masalah ini”.

Kesiapan fitrah untuk mencari Tuhan ini cukup kuat, sehingga setiap manusia mampu melepaskan diri dari kepercayaan-kepercayaan yang dianut oleh para orang tua dan leluhur mereka, dengan kata lain setiap manusia mampu menapak di jalan kebenaran.

Kesaksian ruh menunjukkan bahwa manusia dilahirkan dengan citra yang baik, seperti membawa potensi suci, ber-Islam, bertauhid, ikhlas, mampu memikul amanah Allah Swt untuk menjadi khalifah dan hamba-Nya di muka bumi, dan memiliki potensi daya pilih. Sehingga apabila seorang anak kecil lahir ke dunia, dan meninggal sebelum sampai pertimbangan akalnya, diapun dihitung mati dalam fitrah, yang berarti juga dalam Islam, dan langsung masuk surga. [1]

Manusia secara fitrah telah memiliki watak dan kecenderungan tauhid, walaupun masih di alam imateri (alam ruhalam alastu). Menurut Ikhwan al-Shafa, firman tersebut berkaitan dengan perjanjian ruh manusia di alam perjanjian (alam mitsaq) atau disebut juga ‘alam al-‘ardh al-awwal. Perjanjian itu harus diikrarkan ulang pada perjanjian terakhir (al-mitsaq al-akhir) di alam materi setelah baligh. [2]

Menurut al-Thabathaba’i dialog dengan Allah di alam arwah diatas merupakan sunnah penciptaan ketuhanan (sunnah al-khilqah al-ilahiyah) yang berlaku untuk semua manusia di dunia kelak. [3]  Ibnu al-Arabiy menyebutkan dengan fitrah manusia yang universal. Sedangkan Rasyid Ridha menyebutkan dengan perjanjian fitrah dan akal yang dilakukan dengan lisan al-hal dan lisan al-maqal.

Berdasarkan pemaknaan tersebut, maka muncul dua pandapat “apakah bertauhid itu sesuatu yang primer ataukah sekunder yang datang kemudian?” Jawaban yang kuat adalah bahwa bertauhid merupakan sesuatu yang asli dan fitrah, sedangkan musyrik itu berasal dari kealpaan, ketidaktahuan, dan keangkuhan.

Potensi yang baik tersebut perlu diaktualisasikan dalam tingkah laku yang nyata. Citra baik tersebut pada mulanya disangsikan oleh Malaikat dan iblis, namun setelah Allah Swt meyakinkannya maka Malaikat percaya akan kemampuan manusia, sementara iblis dengan kesombongannya tetap mengingkarinya. Jika terdapat manusia yang masih menentukan citra buruk manusia, berarti ia mengikuti persepsi iblis.

Dan dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (Qs. al-Ahzab: 27))

Berbicara mengenai manusia, dalam al-Qur’an, ada tiga istilah kunci yang mengacu kepada makna pokok manusia: basyarinsan dan alNas. Ada konsep-konsep lain yang jarang dipergunakan dalam al-Qur’an dan dapat dilacak pada salah satu diantara tiga istilah kunci tadi, yaitu unasunasyinsyins.

Tampak sekali bahwa al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan sosial. Sebagaimana ada hukum-hukum yang berkenaan dengan karakteristik biologis manusia, maka ada juga hukum-hukum yang mengatur manusia sebagai makhluk psikologis dan makhluk sosial.

Manusia sebagai basyar berkaitan dengan unsur materialnya, yang dilambangkan dengan unsur tanah. Pada keadaan ini, manusia secara otomatis tunduk kepada takdir Allah di alam semesta, sama taatnya seperti matahari, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ia dengan sendirinya musyayar. Namun, manusia sebagai insan dan al-Nas bertalian dengan hembusan Ilahi. Kepadanya dikenakan aturan-aturan, tapi ia diberikan kekuatan untuk tunduk atau melepaskan diri daripadanya. Ia menjadi makhluk yang mukhayyar. Ia menyerap sifat-sifat rabbaniyah menurut ungkapan Ibnu ‘Arabi, seperti sama’basharkalamqadar. Ia mengembangkan wilayah ilahiah, seperti kata al-Thabathaba’i, karena itu, ia dituntut untuk bertanggung jawab.

Karena pada diri manusia ada predisposisi negatif dan positif sekaligus, menurut al-Qur’an, maka kewajiban manusia ialah untuk memenangkan predisposisi positif. Ini terjadi bila manusia tetap setia pada amanah yang dipikulkan kepadanya. Artinya, secara konkret, kesetiaan ini diungkapkan dengan kepatuhan pada syari’at Islam yang dirancang sesuai dengan amanah itu. Al-Qur’an tak lain hanya merupakan rangkaian ayat yang mengingatkan manusia untuk memenuhi janjinya itu.

Ada dua komponen esensial yang membentuk hakikat manusia yang sekaligus membedakannya dari binatang, yaitu potensi untuk mengembangkan iman dan ilmu. Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut amal shaleh, karenanya kita menyimpulkan bahwa ilmu dan iman adalah dasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Inilah hakikat kemanusiaanya. Keduanya harus dikembangkan secara seimbang.

Dalam kenyataannya, sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman sekaligus. Sedikit orang yang beriman, sedikit orang yang berilmu, dan lebih sedikit lagi orang yang berilmu dan beriman (al-Mujadilah ayat 11). Makna hidup manusia diukur sejauh mana ia mengembangkan iman dan ilmunya.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Qs. al-Mulk: 2)

Lalu, terakhir tentang Ruh

Perlu diperhatikan bahwa manusia selain mempunyai jasad, manusia juga memiliki ruh yang berasal dari Tuhan. Ruh sebagaimana uraian di atas, ruh merupakan esensi kehidupan manusia. Melalui fitrah ruhani maka hakikat manusia tidak hanya dilihat dari aspek biologis, namun juga dari aspek ruhaniah. Boleh jadi, secara biologis manusia lebih buruk dari iblis, karena ia tercipta dari tanah sedang iblis dari api, tetapi secara ruhaniyah manusia lebih baik dari pada iblis, bahkan lebih baik dari pada malaikat, sebab manusia mampu memikul amanah Allah. Karena itu, hakekat manusia bukan hewan yang berakal, tetapi manusia adalah makhluk Allah yang mulia dan berakal.

Selanjutnya, kebutuhan ruh yang utama adalah agama yang teraktualisasi dalam bentuk ibadah. Beragama bukan berarti delusi, ilusi, atau irasional, tetapi menduduki tingkat supra kesadaran manusia. Agama menjadi frame bagi kehidupan manusia yang menjiwai hidup berbudaya, berekonomi, berpolitik, bersosial, beretika, dan berestetika. Maka dari itu, motivasi hidup adalah beribadah kepada Allah sebagai realisasi diri terhadap amanah Allah Swt.

Kehidupan manusia bukan hanya sekedar dilahirkan terus dimatikan, tetapi jauh sebelum dan sesudahnya masih terdapat alam lagi, yaitu alam perjanjian (pra-kehidupan dunia), alam dunia, dan alam akhirat (pasca-kehidupan dunia). Semua perbuatan manusia tidak akan sia-sia sebab perbuatan baik yang dilakukan manusia di dunia akan mendapat balasan yang baik pula akhirat kelak, meskipun di dunia manusia mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Sebagai makhluk yang memiliki bentuk dan rupa yang sempurna dibanding makhluk lain, manusia harus selalu berfikir tentang asal kejadiannya.

Manusia yang berfikir adalah mereka yang selalu ingat dengan kuasa dan iradah-Nya. Manusia yang tidak berfikir, yang selalu sibuk dengan kehidupan dunia, adalah mereka yang lupa asal kejadiannya, sehingga sifat congkak dan sombongnya semakin menjadi-jadi, baik dihadapan Allah maupun manusia yang lain. Perlu diperhatikan oleh manusia, bahwa manusia disamping sebagai khalifah,[4] manusia juga bertugas untuk mengabdi secara penuh kepada Allah:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Qs. adz-Dzariyat: 56).

Kata ‘abd dipakai untuk menyebut manusia pada umumnya, karena manusia pada dasarnya adalah ciptaan dan menjadi ‘abd atau hamba bagi penciptanya. Esensi ‘abd adalah ketaatan, ketundukan manusia pada dasarnya hanya layak diberikan kepada Allah yang tercermin pada ketaatan, kepatuhan dan ketundukan pada keadilan dan kebenaran.

Jadi, manusia sebagai khalifah adalah manusia yang diberi kebebasan dan kreativitas, sedangkan manusia sebagai ‘abd merupakan hal kodrat yang diberikan oleh Allah manusia, mau tidak mau manusia harus taat dan patuh kepada penciptanya, yaitu Allah. Maka dari itu, jika manusia tidak mau menyadari akan misi kehambaan dan kekhalifahannya, maka manusia tidak menyakini eksistensi Allah dan manusia seperti itu, akan berjalan di luar kesepakatan.

***

Referensi :

[1] H. Salim Bahreisy, H. Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibn Katsier, jilid III, Surabaya: Bina Ilmu, tth, hlm. 503.

[2] Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Beirut: Dar al-Fikr, 1342 H, jilid IX, hlm. 390.

[3] al-Thabathaba’i, Tafsir al-Mizan, Beirut: Muassasah al-‘alamiy li Mathbu’at, 1991, jilid VIII, hlm. 315.

[4] Dalam tafsir al-Razi di terangkan bahwa khalifah adalah orang yang menggantikan dan menempati kedudukan orang lain. (lihat Muhammad Fakhr al-Din al-Razi, Tafsir al-Razi, jilid II, Beirut: Libanon Dar al-Fikr,1985, hlm. 180.)

*Pembahasan tentang fitrah dan ruh diambil dari berbagai sumber.

Advertisements

Prospek Pasar Petrokimia Global

Bagi mahasiswa tingkat akhir cem saya, sosial media yang paling powerfull dan yang mesti di tongkrongin bukan lagi Instagram, facebook, atau Line, tetapi LinkedIn (da juga kaskus tentu saja emoticon-Big Grin). Social media untuk bisnis dan semua hal yang berkaitan dengan karir dan pekerjaan, mempertemukan para eksekutip dari berbagai perusahaan dengan orang-orang yang mencari pekerjaan. Apalagi fitur premiumnya yang sangat ciamik karena menyediakan berbagai informasi yang relevan dengan keinginan kita seperti misalnya ingin dicarikan pekerjaan di bidang apa, yang kayak gimana, kisaran gaji, lowongan, kemudahan apply, dlsb. Tapi disini saya bukan hendak ingin membicarakan tentang LinkedIn, tetapi prospek pasar Petrokimia global setelah membaca laporan (singkat) tentang analisis pangsa pasar petrokimia global hingga tahun 2030.

Laporan ini sangat berguna untuk menunjukan seberapa prospektifnya lulusan teknik kimia dalam persaingan global nantinya, beberapa produknya juga seharusnya bisa menginspirasi mahasiswa teknik kimia dalam merancang pabri misalnya, dan yang lainnya, perusahaan-perusahaan yang menjadi pemain utama di sector ini bisa menjadi pilihan yang aduhai mantapnya untuk mulai menata awal perjalan karir kita (eaaa).
 
Sektor Petrokimia

Prospek sektor Petrokimia memang lagi marak-maraknya ketika sekarang sedang adanya pergeseran fungsi dari industry minyak dan gas. Semenjak ditemukannya teknologi shale oil dan shale gas yang membuat harga minyak dunia jatuh sejatuh-jatuhnya, sekarang fokusnya dialihkan pada pemanfaatan minyak dan gas (yang masih berlimpah di timur tengah) ke industry petrokimia hulu dan hilir. 
 
Di laporan itu disebutkan bahwa Petrokimia memainkan peran penting dalam gaya hidup abad 21 dan digunakan dalam berbagai industri penggunaan akhir. Industri minyak & gas menyediakan bahan baku dalam bentuk minyak mentah, gas alam dan turunannya. Berbagai jenis proses yang digunakan pada minyak mentah, dan gas alam menghasilkan produk yang berbeda. Produk yang paling banyak dicari adalah ethylene, yang memegang 25% pangsa pasar di pasar petrokimia global. Ini digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan polyethylene, polystyrene, ethylene glycol dan ethanol.
 
Produk-produk semacam Etilena yang disusul oleh benzena, propilena, xilena, butadiena dalam hal pangsa pasar sangat prospektip. Beberapa produk petrokimia digunakan secara luas di seluruh dunia dalam berbagai aplikasi termasuk pewarna, deterjen, cat, plastik, karet, tekstil dan pupuk. Hal ini menyebabkan adanya ketergantungan yang tinggi dan kurangnya alternatif skala besar untuk produk petrokimia. 😀 
 
Pasar Petrokimia global diperkirakan akan tumbuh menjadi 948 miliar USD pada akhir tahun 2024 dengan 421 miliar USD pada tahun 2015. Permintaan global dari industri pengguna akhir seperti otomotif, tekstil, konstruksi, industri, medis, farmasi, elektronik dan barang-barang konsumsi industri mendorong pasar menuju tren peningkatan dalam periode perkiraan. Ekspansi populasi secara keseluruhan dan peningkatan daya beli individu telah menghasilkan peningkatan permintaan untuk barang jadi dan konsumsi energi yang lebih besar di Cina, India dan Amerika Latin. 

Key Product Categories & Technologies
Technology Outlook :
Top Players and Company Share Insights :
Referensi :
5. Pernah di publish di Kaskus juga, sih. 

Sakura Program

Intro

Sakura Exchange Program in Science merupakan program berkunjung ke Jepang yang diselenggarakan dan didanai oleh Japan Science and Technology Agency (JST). Aktifitas dari program ini meliputi pengenalan riset, budaya dan obyek wisata di Jepang. Fasilitas yang diperoleh adalah tiket pesawat pulang pergi, biaya penginapan, serta uang saku selama di Jepang. Program ini disupervisi oleh profesor (sensei) di berbagai kampus di Jepang. Kali ini saya berkesempatan untuk mengikutnya atas kerjasama pembimbing saya di Laboratorium Pengolahan Limbah Industri (PLI), Teknik Kimia ITS, dengan Prof Masato Tominaga di Saga University, Faculty of Applied Science and Chemistry, Saga University.

Awal tahun ini (2018) saya berkesempatan untuk menggunakan passport saya untuk pertama kalinya. visa pertama pun sudah tertera. entah mengapa, perjalanan ke luar negeri selalu menyenangkan dengan berbagai kejutan yang ditemui. waktu itu adalah waktu-waktu hectic ketika di kampus sedang berlangsung sidang pabrik (Pra-rancang pabrik Kimia), tapi saya malah pergi ke Jepang. dan mulai jatuh cinta dengan negara itu, termasuk dengan orang-orangnya. sebelum berangkat, saya pernah dikasih wejangan oleh teman seperjalanan, Shaimah Rinda, tentang perjalanan ke luar negeri ini, katanya, sensasinya itu, apa ya, semacam sepulangnya, kamu akan merasakan sesuatu yang berbeda, semacam ketagihan untuk melakukan perjalanan lainnya. dan benar saja, sepulang dari sana, ada sesuau yang berbeda dan berubah dengan diri saya yang susah dijelaskan oleh kata-kata. :p

“Kamu sering bertanya: Apakah kegembiraan hidup? Sebuah pesta? Sepotong musik jazz? Semangkok bakso? Sebait puisi? Sebatang rokok? Seorang istri?

Ah ya, apakah kebahagiaan hidup? Selembar ijazah? Sebuah rumah? Sebuah mobil? Walkman?ganja? Kamu selalu bertanya bagaimana caranya menikmati hidup.

Aku tidak ingin kaya. Aku hanya ingin hidup. Aku ingin melihat banyak tempat… Aku ingin menghirup seribu satu bau kehidupan.” (SGA)

Program ini berdurasi sepuluh hari dan diisi dengan beragam kegiatan dengan main eventnya berupa visit lab. Para mahasiswa sensei di labnya menjadi teman selama hari-hari itu. mereka menunjukan dan memperlihatkan alat-alat di labnya sekaligus cara mereka bekerja dengan alat-alat tersebut. Beruntung bagi saya, karena tema skripsi saya juga merupakan tema riset yang sedang digarap di sana, sehingga saya diperkenalkan dengan teori-teori dasar, rujukan, jurnal, hingga alat-alat analisisnya (termasuk menginterpretasikan setiap data yang diambil). Selain visit lab, ada juga kunjungan museum (pertukaran budaya dan sejarah Jepang), ke beberapa castle bersejarah di Saga dan Kumamoto, sightseeing ke Kumamoto, Suijenzi Park, dan tempat-tempat bersejarah lainnya.

Berangkat dari Surabaya pada tanggal 15 Januari dengan menggunakan Silk Air untuk selanjutnya transit di Singapura dan dilanjutkan ke Fukuoka, Jepang, dengan menggunakan Singapore Airlines. Perjalanan lebih kurang selama 7 jam dan tiba di Fukuoka keesokan harinya jam 08:20 waktu setempat, yang ternyata sudah ditunggu oleh dua orang mahasiswanya Sensei ; Mr Takuya dan Syunfei yang langsung mengantarkan kami menuju kampus Saga University setelah proses pemeriksaan di bagian imigrasi.

Siangnya kami melakukan orientasi, perkenalan, makan siang, pengaturan konektivitas dan akses wifi kampus serta campus tour bersama sensei dan semua mahasiswa di labnya yang berjumlah 7 orang dengan rincian 4 orang S1 (Kazufumi, Kazuki, Seigo dan Yusuke) dan 3 orang S2 (Syunfei, Takuya dan Motofumi). Selanjutnya check in di guest house international sembari menaruh semua barang-barang dan istirahat. Malamnya kami bertemu dengan orang-orang Indonesia yang sedang berkuliah di Saga University (PPI Saga). Lewat mereka kami ditunjukan beberapa tempat untuk belanja keperluan pribadi yang aman di kantong, tempat makan yang halal, dan lain-lain. Untuk makanan, intinya kita memang harus selektif, karena sangat takut salah memasukan sesuatu ke dalam mulut. Namun, ternyata ada lebih banyak makanan yang bisa kami makan. Jika standar pencariannya makanan berlabel halal, akan sangat susah ditemukan. Tapi, kalau standar pencariannya adalah makanan halal yang tidak mengandung bahan – bahan haram, ada. Intinya tidak mengandung segala sesuatu yang berasal dari babi, alkohol, daging hewan yang disembelih dan lemak hewan (takutnya berasal dari babi). Selain itu insyaallah halal. Hari-hari berikutnya kami mulai belanja sendiri. Memilih makanan yang sudah yakin halal, dan meninggalkan makanan yang menimbulkan keraguan, meski dengan ekpresi mupeng (muka pengen) dan penasaran.

Dari jadwal 10 hari selama disini, 5 hari diantaranya berupa kegiatan eksperimen di lab, kami dibagi dua kelompok dengan fokus eksperimen yang berbeda. Saya didampingi oleh Mr Syunfei melakukan eksperimen MFC atau Mud Battery dari lumpur, sementara Mrs Yunita dan Rinda didampingi oleh Mr Takuya melakukan eksperimen tentang electrode carbon nano tube dan Single walled Carbon.

Hari kedua kami melakukan kunjungan (sightseeing) ke Museum Okuma, salah satu tokoh pendiri Saga University dan tokoh pendidikan nasional Jepang. Okuma merupakan satu dari sekian tokoh yang menjadi bagian dari restorasi besar-besaran di Jepang khususnya dalam bidang pendidikan, sains dan teknologi. Di museum itu kami melihat banyak peninggalan beliau termasuk rumah masa kecil dan kelahirannya yang terawat apik dan bagus. Rumah klasik khas Jepang dengan atap dari tumpukan jerami yang tersusun menebal. Setelah itu kami mengunjungi Saga Castle dengan segenap peninggalan historis dan sisa-sisa kejayaan serta kemegahannya. Kunjungan museum yang menjadi satu dari sekian rangkaian kegiatan sakura ini bertujuan untuk mengenalkan budaya dan sejarah Jepang yang masih mereka rawat dan terjaga. Betapa Jepang ditengah arus modernisasinya, juga tidak lupa untuk menjaga sejarahnya.

 

sakura1

Gambar 1. Berfoto bersama di Museum Okuma. Dari kanan ke kiri : Sensei Tominaga, Saya, Ibu Yunita, Shaimah Rinda.

Hari ketiga dan keempat diisi dengan aktivitas di laboratoirum yang super duper lengkap dan canggih. Peralatan dan fasilitas lab yang terdapat disana bisa dibilang sangat lengkap dan serba canggih. Lab yang terdapat di lantai 7 di Fakultas Sains Terapan dan Kimia (disana jurusan teknik kimia dan kimia tergabung dalam satu fakultas yang sama). Sensei kami, Prof Tominaga, menunjukan dan menjelaskan semua alat-alat yang ada di labnya yang memang merupakan alat-alat beliau yang diboyong dari Kampus Kumamoto University, kampus dimana beliau mengabdi sebagai dosen sebelumnya. 

sakura2

Selama di lab, saya didampingi oleh Mr Syunfei (Terimakasih mas atas kebaikannya yang berlimpah. wkwk) untuk melakukan riset di bidang MFC (Microbial Fuel Cells) dengan menggunakan lumpur dan electrode tertentu seperti elektroda Titanium, Carbon Cloth dan Carbon Cloth-Modified (pencampuran dengan kitchen bran atau dedak padi). Kita ingin tahu jenis elektroda mana yang menghasilkan power density atau listik yang paling besar dalam system MFC itu untuk digunakan sebagai mud battery. Persiapan-persiapan untuk membuat mud battery dari awal dijelaskan secara rinci, detail, jelas dan lengkap dengan praktikumnya ; membuat setiap electrode, penyiapan lumpur dan pembuatan electrode reference. sementara Ibu Yunita dan Rinda di dampingi oleh Takuya untuk riset di bidang elektroda, seperti Carbon-Nanotube Electrode, dlsb.

Hari kelima, tepatnya hari Sabtu, kami melakukan Sightseeing di Kumamoto dengan menggunakan kereta Shinkansen dari Stasiun Saga bersama tiga orang ; Mr Syunfei, Takuya dan Motofumi. Di sana, kami mengunjungi Suijenzi Park dan beberapa kuil yang terdapat disana. Tempat yang tenang, asri, dengan suhu yang cukup dingin untuk kulit tropis kami, lebih kurang 7o C. Suasana yang sangat mendukung untuk proses meditasi, berpikir dan merenung. Disana kami juga melakukan ritual minum teh yang unik dan berkesan. Dari taman itu, kami melanjutkan kunjungan ke Kumamoto Castle yang sedang di perbaiki karena terkena dampak gempa di tahun 2016. Lagi-lagi, di Kumamoto pun kami mendapatkan kesan betapa Jepang sangat menjaga betul sejarahnya sehingga mereka tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi. Membuat saya lagi-lagi harus berdecak kagum sembari diam-diam takjub dan menghormati peradaban yang mereka bangun, dari dulu hingga sekarang tetap terawat.

Hari ketujuh dan kedelapan diisi dengan aktivitas lab kembali, pembimbing yang sama, Mr Syunfei, mengajarkan cara menggunakan alat-alat yang berhubungan dengan riset MFC seperti penggunaan multi meter dengan eksternal resistor yang beragam, cyclic voltammetry, dan uji SEM untuk melihat lapisan biofilm di elektrodanya. Beliau juga mengintrepretasikan dan menggunakan data-data yang sudah kami ambil itu ke dalam bagan grafik agar bisa lebih mudah dimengerti dan ditarik kesimpulan, tentu saja kegiatan ini sangat berguna untuk skripsi saya di kampus karena, selain temanya yang sama, beberapa jurnal referensi yang beliau gunakan juga sangat relevan dengan skripsi saya tentang MFC dari lumpur lapindo dan stillage.

Hari kesembilan, yang merupakan hari terakhir di lab diisi dengan sesi presentasi dari kami (riset kami dan laporan eksperimen yang telah dilakukan selama disana), termasuk penyajian presentasi dari setiap mahasiswa profesornya, masing-masing mempresentasikan hasil penelitiannya selama ini. Setelah itu, sebelum farewell party (pesta takoyaki sampai kenyang sekenyang-kenyangnya), profesor menutup kegiatan sakura program ini dengan seremonial dan pemberian sertifikat dan foto bersama. Sejak saat itu, maka kami bertiga, telah secara resmi menjadi bagian dari keluarga besar alumni JST Sakura Program. Farewell party diisi dengan kegiatan-kegiatan santai, hangat dan penuh keakraban.

Dan tak terasa, setelah 9 hari disana dengan beragam kegiatan dan kenangan (Eaa). hari kesepuluh, alias esoknya, kami harus pulang ke Indonesia, perjalanan Saga – Fukuoka Airport dengan menggunakan bus, ditemani oleh profesor dan kedua mahasiswanya. Banyak hal-hal yang beliau ceritakan kepada saya selama di perjalanan itu dan sangat mendalam atas kesan saya terhadap beliau, terhadap Jepang, dan segala hal yang saya lihat selama disana. Meski hanya sepuluh hari, tetapi itu adalah hari-hari saya yang berharga, dan tak mungkin akan bisa saya lupakan.

 

Note : *Catatan ini adalah tulisan saya yang serupa di website Teknik Kimia ITS, sebagai laporan perjalanan.

Pacaran, Cinta dan Dialektika Pernikahan : Pandangan dari Chandra Natadipurba dan kearifan dari Hamid Basyaib

socrates

Tak ada habis-habisnya bila kita membincangkan cinta, karena memang ia adalah bahasan yang objek (atau subjek) nya dialami oleh semua orang (dewasa), dalam segala spektrumnya. Tak bisa dipungkiri bahwa spectrum cinta memang luas, jauh lebih luas dari alam semesta ini. Bahkan karena cinta pula, alam semesta ini ada ; yaitu Cinta Tuhan kepada makhluk-makhluk-Nya. Boleh dikata, cinta adalah sebab musabab atau asal muasal dari kehidupan ini. Tanpa cinta, tidak akan ada pula kehidupan. Tentu saja saya asal-asalan saja bilang begitu. *Eeeegubraak

Kita kesampingkan cinta yang umum itu untuk membahas cinta yang lebih spesifik (meski kita juga bisa berdebat tentang apakah pacaran itu termasuk manifestasi atau ekspresi dari cinta :mrgreen: ) yaitu pacaran. Di kalangan mahasiswa (di kalangan manapun sih, kecuali kalangan anak-anak TK yang masih murni. *Haha, apapula ini. *skiip) gejala pacaran bisa dengan mudah dijumpai. Orang biasanya pacaran dengan beragam alasan. Entah kebutuhan, entah keinginan, entah pelampiasan, atau entah-entah yang lainnya. Dan diantara sederet alasan yang kalau dijumlahkan sekira sepuluh juta dua ratus tiga puluh satu alasan itu, ada satu alasan yang nampaknya logis dan mulia, yaitu, pacaran sebagai medium untuk mengenal kepribadian pasangannya. Kan tujuan pacaran itu cuma dua, kalau gak nikah, ya untuk berpisah. Nah, perlu gak perlu sih untuk benar-benar memastikan apakah dia memang pantas untuk dijadikan teman hidup (atau teman jalan tok), perlu karena kita tidak sedang memilih kucing dalam karung ketika memutuskan untuk menikahi seseorang, terus gak perlunya, karena jodoh itu sudah ditentukan (tapi anehnya lho kita masih bisa milih-milih, meski sudah ditentukan, iya gak? yang 4 kriteria menurut Nabi), intinya sih pandangan orang yang bilang gak perlu (pacaran) itu karena yang disebut jodoh adalah dia yang berjabat tangan dengan orangtua atau walinya si perempuan dan dibilang sah sah sah sama setiap saksi yang hadir saat itu. karena, katanya, “bagian tersulit dari cinta bukan menunggu, menerima, menjaga ataupun setia. Bagian tersulit dari cinta adalah mempertanggungjawabkannya. Jika cinta itu benar milik Sang Penguasa Alam, perjuangan jalan yang Dia ridhoi hingga ombak membawamu terdampar pada satu daratan tempat dirimu akan singgah selamanya”.

Balik lagi ke soalan yang menganggap bahwa untuk mengenal pasangan lebih dalam lewat medium yang kita namakan Pacaran itu apakah absah dan valid atau tidak, seperti misalnya apakah “hanya” dengan pacaran, kita benar-benar bisa mengenal seseorang yang akan dijadikan pasangan hidup? Tentu saja bahasan ini akan sepenuhnya berkelumit tentang masalah kepribadian atau personality. Saya jadi ingat esainya Chandra Natadipurba di Aufklarung yang menjelaskan hal ini dan sangat saya sukai, lebih kurang beliau bilang begini,

Kepribadian atau personality berasal dari akar kata persona. Dalam bahasa yunani Persona berarti topeng atau kedok. Karenanya, dalam dunia psikopop (psikologi popular), personality adalah tampilan luar dari performansi seseorang. Ia adalah fungsi dari sesuatu yang lebih esensial dan lebih dalam dari dirinya yaitu character (watak). Ibarat gunung es, personality adalah puncak gunung es yang ada diatas permukaan laut, sedangkan character adalah keseluruhannya, termasuk dasar gunung es yang terletak jauh dibawah permukaan laut. Dan kita biasanya menyebut character sebagai akhlak, yaitu sesuatu yang kita kerjakan tanpa melalui proses berpikir lagi. Jelajah literature yang lebih jauh membuat anda akan menemukan kajian yag lebih dalam dan popular tentang etika karakter dan etika kepribadian. Salahsatu kajian yang terkanal adalah dalam bab pertama 7 habits of highly effective people karya Stephen R. Covey.

Nah, Perbedaan yang paling mendasar dari keduanya adalah pada kondisi berlakunya. Kalau personality bersifat temporer, dialektis dan oportunis, maka character biasanya inheren, tetap dan terinternalisasi dalam diri seseorang. Hal ini disebabkan oleh karena personality muncul dari proses berfikir. Perhitungan untung rugi atau asas manfaat dan penyikapan sementara terhadap sebuah stimulus, terlebih jika berhubungan dengan orang lain. Sedangkan karakter muncul dari kombinasi kode genetic, nilai-nilai dan keyakinan plus pengalaman serta lingkungan masa kecil yang tidak bisa diubah secara otomatis, sehingga karakter hampir mustahil bisa diubah dan dimanipulasi. Biasanya karakter kita selalu tampil apa adanya.

Sebagai manusia kita berkecenderungan untuk menampilkan topeng yang baik-baik saja walaupun kadang-kadang topeng tersebut tidak sesuai dengan realitas kita. Sebagai contoh, jika seorang teller bank murah senyum ketika menghadapi pelanggan. Performansi yang muncul dari teller tersebut adalah kepribadiannya, sebab dia memang dibayar untuk tersenyum pada pelanggan. Namun, belum tentu karakternya adalah ramah. Ketika kita bertemunya sebagai orang biasa di pasar dan tak sengaja bersenggolan dengannya, bisa jadi dia judes pada kita. Dan kita akan kecewa karena ternyata dia tidak seramah yang kita kira. Dengan analogi demikian, dalam konteks ini, maka ketika dua orang berpacaran, mereka sebenarnya sedang berlomba-lomba memunculkan topeng terbaik pada pasangannya, dalam bentuk, apa yang saya sebut dengan, “Kepribadian yang termanipulasi”. Kita memang terkadang terpaksa memanipulasinya sebab kita ingin tampil sempurna dihadapannya dan karena tidak ingin ‘pasaran’ kita turun.

Misalnya adalah karena sejatinya manusia akan selalu punya cela, maka usaha ini sebenarnya utopis (tidak mungkin dilakukan). Karena justru saat pacaran itulah pasangan kita giat menyembunyikan hal-hal buruk dan menampilkan hal-hal yang baik saja dari dirinya. rajin menggunakan topeng “kepribadian”nya yang memikat. Dan kita, dalam hal ini terutama wanita, sangat senang diberikan kebohongan terselubung ini. Itulah mengapa walaupun para wanita tahu rayuan laki-laki itu gombal belaka, setiap wanita akan melayang-layang, berbunga-bunga dan bersemu merah jika ada laki-laki yang memujinya. Sehingga, kalau kita berharap bahwa kita akan semakin mengenal pasangan kita dengan medium ini sebenarnya usaha itu seperti menggantang asap alias melakukan pekerjaan yang sia-sia.

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pacaran bukanlah medium yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan diawal pembicaraan kita.

Coba deh, kalau mau kita lihat secara jujur, aktivitas yang kita lakukan ketika pacaran sebenarnya tidak membuka peluang untuk mengenal pasangan kita lebih jauh. Nonton film, makan berdua, jalan-jalan ke mal tidak akan sanggup membuka tabir karakter pasangan kita. Bukan aktivitas diatas, melainkan ada empat aktivitas yang kalau kita lakukan akan memberi tahu kita sebenarnya bagaimana karakter teman kita : pertama, berjalan kaki jauh melintasi medan yang sulit, kedua, bertetangga dengannya dalam jangka waktu yang lama, ketiga, melakukan transaksi perdagangan dengan orang tersebut, dan, keempat bersama-sama mengalami kondisi-kondisi ekstrim tertentu. Kegiatan-kegiatan yang bisa pasangan pacaran lakukan biasanya malah semakin menyembunyikan topeng dari kedoknya. Oleh karenanya, membangun sebuah hubungan yang penuh dengan topeng dan kedok seperti itu, ibarat membangun sebuah rumah laba-laba, rapuh dan mudah sekali hancur.

Atau katakanlah akhirnya setelah melalui medium pacaran, pasangan kita ini melanjutkan perjalanan ke bahtera rumah tangga. Tentu saja, pasangan ini berangkat dengan pengalaman-pengalaman semasa pacarannya. Dalam masa itu, sadar atau tidak, telah terbentuk semacam persepsi tertentu dalam diri pasangan kita. Sesuatu yang hendak saya sebut dengan “horizon harapan”. Nah, karena dalam pacaran kita hanya menampilkan yang baik-baik saja dari diri kita, wajar kalau kemudian “horizon harapan” itu terlalu tinggi. Harapan yang terlalu tinggi dan kemudian bertemu dengan realitas diri kita yang tidak sesuai dengan “horizon harapan” itulah yang kemudian menimbulkan kekecewaan dan ketidakharmonisan. Kekecewaan dan ketidakharmonisan muncul karena pada hakikatnya tidak ada seoragpun didunia ini yang benar-benar suka dibohongi dan diberi kepalsuan. Wajar kemudian kalau kita banyak mendengar kisah pasangan yang tujuh tahun pacaran, namun ketika menikah tujuh bulan kemudian langsung cerai. karena kecewa, marah atau merasa “tertipu” mungkin. Karena si “dia” ternyata tidak selembut, semacho, sepintar, seromantis, sebertanggungjawab dan se-se-lainnya yang diduga. Ironis!

Sisi pragmatis dari diri kita kemudian mungkin bertanya, “Kalau pacaran bukan cara yang tepat mengenal pasangan kita, lantas?” tentang ini si jenius Socrates punya jawaban, “Menikahlah. Kalau kau menemukan istri yang baik, kau akan hidup bahagia. Kalau istrimu tidak baik, maka kau akan belajar jadi filosof.”

***

Kalau kamu suka seseorang (atau ingin menikahi seseorang sekalipun), saran saya, jangan pernah memberikan cintamu 100%. Kamu harus tetap memberikan ruang bagi cinta untuk tumbuh (*Eaa). Karena kalau cinta kamu seratus persen, kamu tidak punya ruang lagi untuk berpikir.

Nah, penjelasan selanjutnya, dikutip (dengan sedikit perubahan untuk menyesuaikan dengan alur pembahasan) dari Hamid Basyaib, bahwa tanpa ruang sisa itu, cinta akan rutin, dan karenanya membosankan, setidaknya tak mungkin lagi mekar – tak mungkin tumbuh ke berbagai arah yang barangkali tak terduga, tapi lebih kaya. Dan setiap hal yang setinggi seratus persen hanya punya satu arah perubahan: menurun, berkurang, mengalami erosi. Mungkin akhirnya mati. Cinta memang tak pernah bunuh-diri. Ia biasanya mati karena dibunuh oleh satu atau kedua pelaku yang terlibat dalam percintaan itu.

Pernyataan itu sebetulnya tertafsirkan dari Kahlil Gibran, yang menyarankan supaya dalam kebersamaan tetap harus ada ruang bagi kedua pihak. Kita harus menginsafi, bahwa perkawinan bukanlah penunggalan dua pribadi, tapi kesepakatan antara dua orang yang punya sejarah personal masing-masing untuk memandang ke satu arah yang sama. Keduanya tak perlu, tak boleh, melebur menyatu. Masa sih? Sebab harga termurah dari peleburan itu adalah hilangnya diri kita, berubah menjadi bukan siapa-siapa, menjadi bukan apa-apa.

Saya pun tak pernah tahu ada statistik tentang tingkat kelanggengan suatu perkawinan berdasarkan lama masa pacaran. Apakah panjang masa pacaran mampu menjamin keawetan sebuah perkawinan? Apakah masa yang singkat berpeluang besar untuk kegagalannya? Saya belum pernah baca data yang meyakinkan. Yang saya tahu: ada pasangan yang perkawinannya langgeng sampai akhir hayat, setelah melalui masa pacaran yang singkat (atau tak pernah melewatinya sama sekali karena dijodohkan orangtua); ada pasangan yang usia perkawinannya jauh lebih singkat daripada masa pacarannya, sampai para tamu resepsi pernikahan mereka mengeluh: belum habis letih dari menghadiri pestanya, perkawinannya sudah hancur.

Meski cinta pada dasarnya emosional, keingintahuan orang di sepanjang sejarah selalu berusaha memperluas pangsa rasionalnya. Geloranya universal. Semua kebudayaan besar memiliki epos cinta masing-masing – Rama & Shinta, Romeo & Juliet, Qais & Layla, Sam Pek Eng Tay, Tristan & Isolde, Marc Anthony & Cleopatra. Daya pukau kisah-kisah itu, bahkan berikut kepahitan dan tragedi mereka, terus memancar sampai hari ini, mendorong para penggubah menulis pelbagai versi turunan; membuat nama-nama itu bagian integral dari nomenklatur sebuah bangsa dan bahasa mereka masing-masing, bahkan menjadikan nama-nama itu idiom bahasa dan budaya universal.

Tapi keuniversalan cerita mereka tak pernah mampu mereduksi kekhususan kisah cinta orang-orang biasa seperti kita. Teks besar cinta mereka tak membuat cinta kita sekadar catatan kaki. Bukankah kita pun merasakan segenap getaran yang tak terkira, yang tak terkatakan itu? Getaran yang membuat kita hanya mampu menangis, satu-satunya cara kita menyerah karena tak sanggup merumuskannya dengan seluruh simpanan perbendaharaan kata kita?

Itu sebabnya beribu-ribu lagu terus ditulis orang di seputar cinta. Setiap hari kita mendengar lahirnya lagu baru tentang tema ini. Dan pernahkah kamu menerka-nerka berapa novel dan film bertema cinta yang pernah dibuat orang? Tak akan pernah ada yang mampu menghitungnya.

Mengapa kita, tetap berani menikah di tengah kepungan wajah-wajah murung akibat ketakbahagiaan perkawinan mereka; di tengah serakan marriage jokes yang membuat kita tergelak tapi juga miris?

Kamu pasti ingat sejumlah lelucon ironis itu. Ada yang bilang perkawinan ideal adalah antara perempuan buta dan lelaki tuli – si isteri tak akan melihat ulah suaminya yang menjengkelkan, sang suami tak bisa mendengar omelan isteri yang tak pernah putus.

Seorang suami mengaku tak takut lagi pada terorisme karena sudah menikah selama dua tahun. Katherine Hepburn menyilakan para gadis untuk menikah jika mereka “ingin mengganti kekaguman dan pemujaan ribuan lelaki dengan kritik satu orang” – suami, konon, selalu hanya melihat kekurangan isterinya.

Setelah tujuh atau dua belas kali menikah, Zsa Zsa Gabor mengaku tak kapok kawin asalkan suami berikutnya “berusia 85, punya simpanan seratus juta dolar, dan mau menandatangani perjanjian bahwa enam bulan lagi dia akan mati.” Dan dewi Hollywood itu mengaku tak mengerti apa-apa tentang seks, “karena saya selalu menikah.”

Agatha Christie juga tak henti berganti suami, dan sampai pada kearifan untuk ia sarankan pada gadis-gadis yang sedang mencari pasangan hidup: kawinlah dengan arkeolog, sebab makin tua kita (isteri) akan makin tertarik dia. Jika suami bukan ahli purbakala, semua perempuan sudah tahu apa yang sering terjadi.

Apa resep perkawinan yang awet? Seorang suami mengaku dia dan isterinya sanggup menjaga perkawinan selama tujuh belas tahun karena mereka rutin makan di restoran yang baik, dengan red wine lezat dan temaram candle light yang membangun suasana mesra. “Saya melakukannya tiap Senin malam,” katanya, “dan isteri saya Kamis malam”. Suami lain mengaku rumah-tangganya benar-benar bahagia selama dua puluh tahun – tapi kemudian ia dan isterinya tinggal serumah.

Mungkin catatan tertua tentang ironi semacam ini adalah dari Socrates, dari masa sekitar 2500 tahun silam. “Bagaimanapun, kawinlah”, sarannya pada para pria. “Jika kau mendapatkan isteri yang baik, kau akan bahagia. Jika kau mendapat isteri yang buruk, kau akan jadi filosof.” Kini kita tahu kenapa dia jadi filosof. *Hahaha

Mungkin benar bahwa perkawinan itu seperti benteng terkepung: yang di dalam ingin keluar, yang di luar ingin masuk. Atau kita termasuk golongan yang disindir Voltaire, yang mengumumkan bahwa perkawinan adalah satu-satunya medan petualangan yang terbuka bagi para pengecut?

Jadi, mengapa akhirnya kita memutuskan untuk menikah? Mungkinkah sekadar karena kita, di tengah konstruk masyarakat tempat kita hidup ini, tak sanggup menanggung beratnya tekanan sosial yang tak menoleransi kebersamaan hidup kita tanpa dukungan dokumen-dokumen negara dan aturan agama – hal-hal yang tak berhubungan dengan cinta yang merekat kebersamaan kita? Juga karena kita tak akan sanggup melawan kuasa negara yang tak akan memberi status hukum bagi anak-anak yang mungkin lahir dari kebersamaan kita?

Atau mungkin karena diam-diam kita curiga bahwa pasangan-pasangan yang sinis itu hanya menonjolkan aspek-aspek buruk dari perkawinan mereka. Mereka telah berlaku seperti wartawan yang terus berpedoman pada kredo usang: bad news is good news. Mereka curang karena menonjolkan keburukan yang cuma secuil di tengah kebaikan yang melimpah. Mereka menampilkan diri sebagai serangga yang terperangkap.

Mereka berlomba untuk tampil sebagai korban, bukan pelaku, dari perkawinan hasil kerja sama dengan pasangan masing-masing. Status sebagai korban memang menyamankan perasaan – dengan itu mereka bukan hanya tak bersalah atas ketaksempurnaan perkawinan mereka, tapi sekaligus menderita dan dirugikan akibat tindakan pasangan. Tidak ada kekuatan yang lebih besar dalam menarik simpati daripada derita ganda ini.

Tapi katakanlah sinisme mereka sahih; bahwa mereka memang mewakili gejala yang makin umum tentang mengecewakannya perkawinan, seperti terlihat dari statistik perceraian yang meningkat di banyak tempat. Dengan semua itu agaknya kita percaya bahwa kita masih mungkin mencuri kebahagiaan dari situasi umum kekecewaan itu. Sebab kita memaknai kebahagiaan lebih sebagai kata kerja ketimbang kata benda; sebagai konsep dinamis, yang harus diupayakan secara aktif dengan sepenuh kesungguhan, bukan sesuatu yang akan kita terima dengan pasif karena ia kita sangka bisa hadir begitu saja di ruang tamu rumah kita.

Ia pasti terkait erat dengan cinta yang enigmatik itu. Ada ribuan definisi cinta – dan tak ada yang memadai. Kamu boleh memilihnya satu atau beberapa sekaligus. Tapi saya harap kamu sepakat dengan rumusan yang saya ramu dari bahan-bahan Scott Peck: cinta adalah kehendak untuk melampaui kemampuan kita sendiri guna memungkinkan pasangan kita tumbuh secara spiritual.

Dan spiritualitas, seperti kita pahami bersama, bercakupan lebih luas daripada hal-ihwal yang terkait dengan agama, apalagi sekadar dengan aspek ritualnya. Spiritualitas membuat kita bersedia mendaki puncak-puncak kemanusiaan kita; juga membuat kita tak terpaku pada keremehan suatu benda, melainkan mengintai makna yang lebih dalam daripada arti yang lazim ditawarkan oleh benda itu. Seperti kata seorang bijak, “Jika kau tahu bagaimana proses mengelopaknya sekuntum bunga, maka seluruh hidupmu akan berubah.”

Notes : saya berterimakasih sekali terhadap dua orang itu untuk penafsirannya atas hal-hal yang menarik ini. Ini semua sepenuhnya berasal dari inspirasi mereka. saya hanya (seperti kata Newton) sedang berdiri di bahu raksasa, untuk mengambil yang baik-baik dan bagus-bagusnya saja.

—————-

*Referensi :

Chandra Natadipurba. 2008. “Pacaran”. Bandung : Aufklarung.

Hamid Basyaib. 2007. “Fur Fathia ; Surat cinta menuju pernikahan”. Jakarta.

Wacana Bernegara

Tulisan ini sepenuhnya diambil dari diskusi di TMI (Teknokrat muda ITS), Surabaya, pada hari sabtu, 04 maret 2017 di selasar perkapalan dengan rujukan utama dari perspektif Benedict Anderson di bukunya yang berjudul “Imagined Communitites”. Saya sendiri belum sempat membaca langsung buku itu, tapi sepertinya memang menarik. Dan mengapa tulisan yang diskusinya sudah lama ini baru di posting sekarang? Itu semata karena kemalasan saya untuk menyelesaikan penulisan ini. *hehe. Dan karena tidak tega melihat tulisan setengah jadi ini teronggok begitu saja di leptop akhirnya saya tuntaskan juga, karena katanya, tulisan yang baik itu adalah tulisan yang selesai.

Beberapa pertanyaan awal untuk memantik diskusi ini diantaranya adalah; Apakah alasan munculnya Negara? Apakah Negara itu? dan apakah atau siapakah yang menjadi Negara pertama? bagaimanakah caranya untuk menghilangkan Negara dan siapa yang berhak untuk melakukan itu? dlsb. Hmm, pertanyaan-pertanyaan itu kembali ke awal sih, bahwa ini semua sepenuhnya tentang sejarah Negara itu sendiri, yang mengacu ke perjanjian westpalia (Jerman). Perjanjian ini dinilai menjadi cikal bakal atau gen awal dari pembentuk konsep Negara, yang seiring waktu mengalami koreksi dan perbaikan system hingga menjadi bentuk Negara seperti sekarang ini. Jadi sebelum adanya perjanjian itu boleh dikata di dunia ini belum ada Negara, dunia kebanyakan masih disebut kerajaan, kesultanan, keratin, koloni, wilayah, dlsb, tergantung keinginan penguasa ditempat itu inginnya disebut apa. 

Perjanjian westpalia dilahirkan pada tahun 1648 sebagai respon atas kekuasan kerajaan yang dinilai anarki (setara). Setiap kerajaan tidak boleh mengerajai (?) kerajaan lainnya atau mensubordinatnya. Tidak boleh ada satu raja dengan kerajaan lebih dari satu. Dalam tatanan kekuasaan yang ingin disepakati ketika itu adalah kesepakatan untuk menjamin bahwa dari kekuasaan yang hirarki agar bisa menjadi anarki. Jadi tidak boleh antara kerajaan menindas kerajaan lainnya. Konsep ini pada evolusi selanjutnya berubah bentuk menjadi system kenegaraan, sehingga dengan itu dimulailah era wilayah-wilayah yang awalnya adalah jajahan, mulai memerdekan diri dan menyatakan dirinya sebagai Negara. Pada era ini Negara-negara baru yang terbentuk disebut sebagai Negara dunia pertama. istilah ini mengacu pada pembabakan sejarah Negara. Kita mengenal bahwa Indonesia termasuk Negara dunia ketiga, artinya Negara Indonesia baru hadir di akhir-akhir periodisasi negara. Jadi, istilah Negara itu sebenarnya mengacu kepada term yang menyatakan bahwa ia tidak boleh berada di bawah subordinat Negara lain. Antara satu Negara dengan lainnya harus equal atau setara (equal dalam hal apa?). 

Awal mula sekali era dari dunia ini adalah era imperialism, era ekspansi kekuasaa dimana dunia sepenuhnya diperebutkan oleh orang-orang yang kuat dan powerful. Eranya penaklukan. Dunia diatur oleh seperti tidak ada bedanya dengan sistem rimba, hanya yang kuatlah yang berhak memerintah. Tidak ada tempat bagi yang lemah. Setelah era imperialisme lalu terbitlah era kolonialisme, tidak sekedar ekspansi tetapi juga mulai melakukan eksploitasi di wilayah taklukan (penjajahan) untuk mengambil manfaat sebanyak mungkin dari Negara yang terjajah tersebut. Tetapi lambat laun di era ini mulai terjadi perkembangan hingga akhirnya pihak penjajah (dengan pertimbangan tertentu) sudah mau memberikan hak politis bagi negeri jajahannya. Mungkin itu dianggap adil sebagai timbal balik atau rasa terimakasih dari penjajah ke si terjajah. Dari era kolonialisme inilah muncul rasa nasionalisme dari orang yang terjajah, yang merasa bahwa negaranya haruslah ditentukan dan digerakkan oleh rakyat Negara itu sendiri tanpa ada campur tangan dari pihak luar. Setelah era kolonialisme lalu ada era modern yang ditandai dengan terbentuknya liga bangsa-bangsa, ini terbentuk setelah dunia mengalami perang dunia pertama dan perlu ada suatu badan khusus yang diakui oleh semua Negara yang mempunyai otoritas atau wewenang untuk menjaga ketertiban dan kedamaian dunia, selain itu juga karena setiap Negara juga ternyata mau tidak mau mempunyai ketergantungan kepada Negara lainnya, tidak bisa jalan bila sendiri-sendiri.

Teori-teori tentang pembentukan Negara ada beberapa versi, yang paling kuno atau jadul diajukan oleh Thomas Aquinas yang menyatakan bahwa Negara itu adalah anugerah dari Tuhan, sehingga orang yang berkuasa secara tidak langsung adalah representasi dari kehendak Tuhan itu sendiri. Orang yang berkuasa adalah tangan kanan atau ditunjuk oleh Tuhan (Kaisar = anak dewa). Teori kedua adalah kontrak social, perumusnya ada Jhon Locke, Thomas Hook, dll, yang menyatakan bahwa Negara itu adalah suatu proyek bersama, suatu kontrak social yang dikehendaki oleh sekelompok atau mayoritas orang yang merasa harus mewakilkan kekuasaannya pada segelintir orang untuk mengatur hajat hidup orang banyak. Dari teori inilah kemudian muncul demokrasi. Nah, ada beberapa istilah kunci untuk memahami ini, ada Negara, negeri dan bangsa. Ketiganya jelas berbeda. Negara adalah dari perspektif hukum atau pemerintah, sementara negeri adalah dari perspektif wilayah atau land dari Negara itu sendiri, dan bangsa merujuk kepada people atau orang-orang yang mendiami tempat itu sendiri (rakyat). Jadi, dari kontrak social kita menjadi tahu bahwa Negara itu dibuat atas dasar kesepakatan bersama (proyek bersama) dengan tujuan untuk menyelenggarakan kemaslahatan yang semaksimal mungkin atau melangsungkan kesejahteraan rakyatnya. Atau secara lebih gampang dan mudahnya, Negara itu dibentuk oleh wacana atau opini dari semua rakyat di suatu wilayah (kesepakatan). Wacana itulah yang menjadi pokok dasar pembentukan Negara. Nah, bila kita melihat Indonesia, maka Negara Indonesia dibentuk atas dasar wacana setiap founding father yang sudah merumuskan bentuk dari bangunan Negara Indonesia ini. Seberapa kuat dasar yang diberikan kepada Indonesia menentukan seberapa kuat Negara ini akan tetap ada. Artinya bila wacana-wacana itu yang berupa dasar Negara (UUD 1945 dan Pancasila) digugat oleh semua rakyat, maka mau tidak mau Indonesia ini akan runtuh pula. Dan keruntuhan itu bisa dilihat dari apakah masih relevan dasar-dasar yang ditanamkan oleh founding father itu dengan kenyataan Indonesia saat ini? Ini jadi seperti kita ingin menagih janji kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh mereka, apakah sudah terpenuhi belum realisasinya.

Dalam undang-undang dasar 1945, pokok penting penyelenggaraan Negara Indonesia ini didasarkan ada empat hal yang menjadi capaian dan kerja dari pemerintah atau Negara untuk rakyatnya secara keseluruhan yaitu :

1). Di bidang hukum ; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia

2). Di bidang perekonimian ; memajukan kesejahteraan umum.

3). Di bidang pendidikan ; mencerdaskan kehidupan bangsa.

4). Di bidang social politik global ; dan, ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Nah cara terbaik untuk menganalisis lebih dalam dan memahami setiap point dari tujuan adanya Negara Indonesia adalah degan merujuk kembali para pencetusnya dan apa maksud mereka atau tafsirannya terhadap point-point itu. kita kembali ke sumber awal dari suatu kerangka yang ada, semisal point pertama yang berbicara tentang hukum, apa maksud founding father kita dengan “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia” itu, kita bisa merujuk kepada pemikiran Soekarno, bahwa point ini menjamin seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan hukum yang adil, tidak terpisah-pisah atau terbagi-bagi, sehingga jadi jelaslah bahwa di Indonesia hanya ada satu jenis rakyat, yaitu rakyat Indonesia, tidak ada istilah pribumi, asing, non-asing, dlsb. Siapapun yang lahir dan tumbuh serta mencari penghidupan di Indonesia adalah rakyat Indonesia (yang dibuktikan dengan kartu tanda penduduk dan administrasi lainnya). Bangsa kita adalah bangsa yang bhineka dan beraneka ragam, kepentingan bangsa diatas kepentingan golongan atau suku, sehingga tidak ada istilah mayoritas atau minoritas, tidak ada istilah suku jawa lebih unggul daripada suku lain. Indonesia adalah gabungan dari semua suku yang ada dengan keunikan dan khasnya masing-masing, suku Sunda, Jawa, Madura, Dayak, Papua, Aceh, Melayu, dlsb.

Kemudian point kedua berbicara tentang perekonomian Negara, bahwa tujuan adanya Indonesia ini adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Kira-kira siapakah sosok atau tokoh yang relevan dan kompeten di bidang ini? Kita mengenal Bung Hatta sebagai bapak koperasi Indonesia, focus dan konsen perjuangan beliau selain memperjuangkan kemerdekaan negeri ini adalah menciptakan konsep yang memungkinkan semua rakyat bisa sejahtera dengan konsep koperasinya. Perpaduan antara kapitalis dan sosialis yang sesuai dengan tabiat rakyat Indonesia yang suka gotong royong. Dalam bukunya, Bung Hatta dengan gamblang menyebutkan apa maksud dari system koperasinya itu,

Problem di bidang hukum ; tirani mayoritas (?), Negara yang seperti absen dalam penderitaan setiap warga atau golongan, hukum tajam kebawah tetapi tumpul ke atas. klise sekali, bukan? tetapi ini masalah mendasar di sebuah negara yang mengatasnamakan negara hukum. sewaktu SMA, ini doktrin yang paling melekat yang saya dapatkan dari pelajaran PKN, bahwa Indonesia itu adalah negara hukum. terkesan bertolakbelakang dengan realitas? itu lain soal (problem juga sebenarnya). tapi dasar ini yang seharusnya menjadi panduan dan pedoman kita dalam berkebangsaan. hukum kita mungkin masih jauh dari sempurna (ya iyalaah), tetapi itu bukan alasan untuk tidak menggunakan hukum itu sendiri bukan? kalau lah hukum kita masih bersifat kolonialis (karena diwariskan dari Belanda), ya apa salahnya kalau direvisi dan dikoreksi bersama-sama sehingga menghasilkan hukum yang berkeadilan, beradab dan memihak pada kebenaran. hukum ini adalah masalah fundamental, dan bagamana warga negara memandang hukum itu, dengan sendirinya mencerminkan pandangan seberapa jauh warga negaranya itu beradab dan maju. hukum menjadi tolak ukur. hukum tidak di desain untuk menjadi alat politik dan kekuasaan semata yang dengan seenaknya bisa digunakan untuk menindas yang lemah, tetapi hukum ada untuk menjaga neraca keadilan itu tetap seimbang. hukum tidak bertujuan untuk menghukum semata, tetapi lebih jauh daripada itu, hukum dibuat untuk mencegah para bajingan bertindak seenaknya. hukum adalah wajah peradaban dan emanusiaan yang tertinggi, itusebabnya Pram pernah berujar dalam novel tetraloginya yang aduhai keren gilanya itu, “Kalau kemanusiaan (dan hukum) tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia itu seorang sarjana.”

Problem di bidang perekonomian ; Tingkat pengangguran dan gaps antara yang kaya dengan yang miskin semakin menganga, isu-isu liberalisasi asset Negara, keterlibatan dalam pasar bebas (ekonom neo-liberal), dlsb. tentang isu pasar bebas itu sendiri, ini masalah ekonomi yang tidak mudah membeberkannya dalam beberapa kata, perlu ruang tersendiri. anak-anak SFL (Student For Liberty) Indonesia, giat sekali mengkampanyekan isu ini.

Problem di bidang pendidikan saat ini ;

PTN-BH atau Perguruan tinggi negeri badan hukum yang baru-baru ini ramai diterapkan dibeberapa perguruan tinggi negeri seperti ITB, UI, UGM, UB, Unair, ITS, dll. Terdapat pro-kontra tentang penerapan status ini di kampus-kampus tersebut, mulai dari elemen mahasiswa, dosen, hingga birokrat kampus. Kampus yang menyandang status PTN BH diartikan sebagai kampus yang otonom atau mandiri dalam masalah anggaran penyelenggaraan pendidikannya. Disini Negara tidak  lagi memberikan 100% APBN untuk setiap kampus negeri. Jadi pihak kampus mau tidak mau harus mencari anggarannya dari mana saja, bisa dari sponshorship dengan perusahaan, biaya masuk mahasiswa, biaya persemester, dlsb, jadi boleh dikata  bahwa PTN BH itu adalah Upaya Pemerintah Menswastakan Negeri.

Di akhir, dan yang perlu di garis bawahi, bahwa kita perlu mengingat kembali bahwasannya Indonesia ini adalah rumah kita. kita harus paham betul apakah Indonesia itu, dan disinilah kita bisa berperan. Indonesia sebagai wacana, dan kita sah-sah saja menganggapnya demikian, adalah sebuah konsep atau gagasan yang bisa jadi belum tentu final. Indonesia dirumuskan oleh para founding fathers kita (kita sangat berterimakasih kepada mereka), dimana orang-orangnya sama juga seperti kita, manusia biasa yang bisa saja khilaf dan salah, sehingga jangan menganggap bahwa wacana Indoneisa ini adalah wacana yang final. sebagai wacana, ia bisa mengalami perubahan, dan untuk itulah kedewasaan kita dalam berbangsa ditimbang. dinamika kebangsaan kita itu terus berubah. para founding fathers adalah generasi perintis dan pelopor, dan generasi kita adalah generasi perubah, yang semoga saja di tangan generasi kita, Indonesia bisa bernasib lebih baik lagi, menjadi negara yang maju dan sejahtera, dimana rakyatnya mempunyai nilai dan kualitas kemanusiaan yang tinggi. Kalau doanya Mbah Moen (KH Maimun Zubair, ulama sepuh NU), beliau sangat berharap bahwa Indonesia bisa menjadi pemimpin dunia ini, menjadi kiblat utama tentang bagaimana sebaiknya manusia menjadi manusia.

Saya tidak memaksudkan bahwa Indonesia sebagai wacana yang belum final sebagai keinginan atau keharusan untuk merubah ideologi negara. indonesia bukan negara agama (karena rakyatnya tidak hanya memeluk satu agama tok), tetapi adalah negara multikultur dan muti etnis serta multi agama, sehingga keberagaman ini tidak mungkin bisa ditampung dalam sebuah ideologi agama tertentu (khilafah). untuk lebih jelasnya mengapa Indonesia tidak cocok bila menggunakan ideologi agama, bisa membaca buku Ilusi negara Islam, karangan Abdurahman Wahid, Gus Mus dan Syafi’i Maarif (supervisinya).

*Dicukupkan segitu dulu bualannya, karena saya akan segera hibernasi kembali untuk waktu yang tidak akan ditentukan. 😀

Startup untuk Indonesia

unnamedPenetrasi internet sudah semakin luas masuk ke daerah-daerah di Indonesia. Disinyalir bahwa pengguna aktif internet saat ini terhitung sebesar 132,7 juta orang atau sekira 51,8% dari total populasi indonesia. Angka yang cukup besar. Internet sudah bukan barang mewah lagi, melainkan jadi potensi yang seharusnya bisa menghasilkan perbaikan bagi sektor kesejahteraan dan perekonomian Negara. Apa mungkin? Sangat mungkin. Meski pengguna terbesar internet di Indonesia masih belum tersebar merata karena hampir 65%-nya terdapat di pulau Jawa. Ini menjadi potensi yang harus dimaksimalkan agar Indonesia tidak sekedar menjadi konsumen internet tetapi menjadi pemain aktif dan mampu meraih profit dari hingar bingar teknologi internet.

Gerakan nasional 1000 startup terdiri dari beberapa tahap ; ignition, networking session, workshop, hackathon, bootcamp dan incubation. 1000 startup itu sendiri dialokasikan untuk jangka waktu 5 tahun, jadi ada sekira 200 startup setiap tahunnya yang lahir dari 10 kota besar, atau setiap kota-kota itu bisa menelurkan sekira 20 startup baru setiap tahunnya.

Pemerintah, dengan visi jauh kedepan yang dibawa oleh pak Presiden, untungnya secara sadar mau untuk ikut serta dalam perhelatan akbar dari startup ini dengan mencanangkan tujuan Indonesia sebagai the digital energy of asia ; an accelerated and empowered SME-Driven digital economy. Ini langkah taktis yang diambil pemerintah guna mengejar ketertinggalan kita dari negeri-negeri maju lainnya, terlebih adanya pergeseran basis industri dimana kita tidak bisa lagi sepenuhnya bertumpu pada sumber daya alam yang kian hari kian berkurang (minyak, gas, dll). Sudah saatnya Indonesia menjadi pemain baru di kancah penggunaan internet untuk bisnis (karena ini memang dunia baru. Negara-negara lain juga masih sama-sama bingung dan sedang belajar). Startup sendiri diartikan sebagai suatu penyelesaian masalah dengan menggunakan teknologi. Untunglah Indonesia banyak sekali masalahnya :D, kita tidak kekurangan masalah, malah berlimpah, dan itu bagus untuk iklim pengembangan startup. masalah-masalah itu ikut menyuplai ide-ide untuk para founder startup. Karena didalam startup itu ada tiga komponen penting yang menunjangnya, yaitu ada masalah, kemudian dicari solusinya, lalu dibuatlah produk (kreasi) akhirnya yang bisa saja akan terus mengalami perkembangan.

Gerakan nasional 1000 startup digital ini digagas oleh beberapa orang yang peduli kepada Indonesia, yang ingin melihat Indonesia bisa bersaing dengan Negara-negara lain, yang ingin menyelesaikan satu persatu permasalahan di Indonesia, dan yang berharap bahwa Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih baik dan layak untuk ditempati. Orang-orang dibelakang gerakan ini memang secara aktif berdialog dan terjun langsung ke lapangan dunia startup, bahkan diundang oleh presiden dan ikut mendampingi beliau ketika melakukan kunjungan (study banding) ke Silicon Valley, kota pusat pengembangan teknologi di California, Amerika Serikat. Markasnya google, facebook, apple, twitter, dan semua startup besar lainnya. Sepulangnya presiden dari kunjungan yang sangat berkesan dan membuka pikiran itu (untunglah kita punya presiden yang open minded dan tidak kolot) yang dengan menggebu-gebu bilang bahwa ia ingin Indonesia bisa seperti itu. ingin Indonesia ikut dalam pemanfaatan teknologi internet ini. Pernah Pak Yansen Kamto menanyai audiens bahwa berapa banyak dari kita yang hanya sekedar konsumen dan penikmat dari layanan-layanan startup itu, yang hanya menjadi penonton saja. Tetapi kita harus bisa membuatnya.

Dalam melihat perkembangan startup di dunia saat ini, menarik untuk membandingkan visi yang dibawa oleh Amerika dan China. Pada beberapa hal kedua Negara ini mewakili ideologinya masing-masing, dan Indonesia bisa belajar banyak dari mereka. Amerika mempunya visi “membebaskan”, di internet jangan ada kekangan, sehingga itu bisa lebih memberikan keleluasan bagi warga amerika untuk terus berinovasi dan menciptakan hal-hal baru (tidak heran kalau kita lihat bahwa kebanyakan teknologi yang “wah-wah” (ide-ide gila) biasanya terlahir di sana), silicon valley adalah contoh yang tepat untuk menjelaskan visi amerika itu, disana orang bebas berkreasi. Sementara China menerapkan kebijakan Internet plus, maksudnya adalah pemanfaatan internet untuk berbagai sector, semisal internet plus umkm, internet plus ojek, internet plus bisnis, internet plus baso, internet plus cilok, dlsb. *hehe. Polanya di drive oleh pemerintahnya, jadi pemerintah tidak membiarkan warganya berbuat sebebas-bebasnya. Pemerintahnya sangat protektif, sehingga kita tidak akan melihat facebook di China, google pun tidak ada, uber juga dilarang, tapi hasilnya mereka sendiri yang membuatnya, ada facebook versi china, google versi china, uber versi china, dll. Nah, kira-kira Indonesia cocok untuk meniru yang mana? Apakah Indonesia akan bisa berkreasi bila pemerintah membebaskannya? Saya kira tidak akan bisa, indoensia belum siap untuk seperti amerika. Kalaupun ada beberapa pemain besar yang terlahir seperti gojek, tokopedia, bukalapak, dlsb, itu murni accident. Pemerintah malah membuat mereka jadi terkekang dengan beberapa regulasinya. Ya kan? :D. Meskipun sekarang pemerintah sudah mau berubah, sudah lebih mau mendengar karena merasa bahwa kita sedang tertinggal dan perlu mengejar. Ini dibuktikan dengan positioning dari pak presiden dengan menerbitkan 6 policy digital economy, yang melahirkan 14 policy package. Isu-isu kuncinya adalah founding, cyber security, tax, logistic, education and human resources, dll. Pemerintah sangat konsen sekali untuk mengembangkan dan memacu anak bangsa agar bisa menciptakan produk-produk startup.

Artinya dunia sedang berubah (*Tsaaah, kibas rambut). Bahwa saat ini dunia sedang bergeser ke perekonomian digital, orang tidak lagi perlu mengantri lama-lama di bank untuk membuat akun, tinggal duduk manis di rumahnya di depan computer dan semua bisa terlayani, orang tidak lagi perlu berpanas-panas ke jalan atau ke pasar, semuanya tinggal klik klik klik. Tersedia di hape pintar yang tingga di charge bila mau habis batereinya. Tetapi di lain pihak, ini juga menimbulkan distraktif digital ekonomi. Artinya akan banyak lahir peluang pekerjaan-pekerjaan baru yang muncul diikuti hilangnya pekerjaan-pekerjaan lama, seperti sekarang ada orang dengan pekerjaan data analysis, dlsb. Pekerjaan-pekerjaan yang aneh-aneh akan muncul, dan bisa jadi jurusan yang kita ambil sekarang di masa yang akan datang sudah punah pekerjaannya (bila tidak bisa menyesuaikan dan adaptif).

Target akhir dari startup ini adalah e-commerce, bentuknya bisa bermacam-macam ; service (seperti gojek), good product, medium product, dlsb. Dengan angka transisi via internet mencapai dua ribu triliun rupiah. Saat ini hampir 60% GDP ditunjang oleh umkm. Dari 57 juta, sekira 8%nya menyumbang GDP. Nah, tujuan pemerintah adalah bisa mengonlinken umkm tersebut.    

Pemerintah juga mencanangkan program yang bernnama “Palapa ring project”, sebuah program untuk membuat internet highspeed dari fiber optics. Siapa kira-kira yang akan senang kalau internet masuk ke papua? Yap. bukan haynya orang-orang papua saja, melainkan pihak Google, FB, whatsupp, instagram, dll juga ikut senang. Mereka dapat profit tanpa harus mendirikan perusahaan di Indonesia. Artinya mereka dapat penghasilan tanpa harus membayar pajak ke pemerintah Indonesia.

Tahun lalu traffic internet perdetik di Indonesia adalah lima ratus terabyte, dan tahun ini setelah 4G masuk jadi tiga kali lipatnya. Jangan kira kalau kita internetan itu murni menggunakan uang kita saja, tidak sesederhana itu. coba lihat kedalam hape kita, bisa dipastikan bahwa 90% aplikasi yang ada didalam hape kita adalah aplikasi yang dibuat oleh luar negeri, mulai dari facebook, instagram, whatsapp, gmail, google, yahoo, dlsb. Aplikasi yang berbasis di luar negeri itu bila kita akses (servernya kan ada di luar negeri juga) secara tidak langsung morotin devisa Negara, karena Negara jadinya harus membayar untuk setiap bite data yang kita akses dari luar negeri tersebut. Berbeda halnya bila aplikasi itu ada di dalam negeri, ketika kita mengaksesnya, servernya kan local, sehingga jaringan data hanya berputar di Negara sendiri. Itulah arti penting kenapa kita harus mulai mengembangkan startup ini hampir di setiap lini, tidak lain adalah untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap produk-produk dari luar negeri.

Penting juga untuk melihat perbandingan dua Negara yang nyaris sama dalam beberapa hal dan sangat jauh berbeda dalam beberapa hal lainnya, yaitu Indonesia dengan Korea selatan. Dua Negara ini merdeka pada tanggal yang tidak jauh berbeda, hanya selang beberapa belas hari, tapi indeks kesejahteraan dan GDPnya sangat jauh berbeda. Padahal secara sumber daya alam kita lebih unggul, pun begitu juga dengan populasi, tapi ternyata korea selatan jauh melesat di depan kita, bahkan produsi filmnya pun menjadi santapan kita. Padahal jumlah produksi sinetron kita jauh lebih banyak daripada mereka. Tapi itu soal lain, yang jelas, point pentingnya adalah Negara kita dengan populasi lebih dari 250 juta dengan 50% usianya berada pada usia 30 tahun (usia produktif), tetapi ternyata sejumlah 944.666 lulusan kuliahan tidak mempunyai pekerjaan. Kita bisa melihat ini sebagai suatu problem serius, tapi untuk orang-orang optimis, itu sebetulnya adalah potensi. Jadi, marilah kita ubah pola pikir kita. Kita rombak MINDSET. Pola pikir seorang co-founder startup selalu melihat potensi dan peluang dari setiap masalah yang ada. Meskipun membuat startup juga tidak sesederhana dan segampang yang orang kira. Perlu kerjakeras dan kesungguhan yang mampu membuat startup bisa terus berjalan dan berkembang, tidak karam ditengah jalan.

Membuat startup artinya mau berlelah-lelah untuk berbuat dan melakukan sesuatu dengan kerja keras. Dimana-mana yang dinamai pengusaha itu ya merujuk ke orang yang benar-benar mau berusaha. Startup selalu identic dengan inovasi, inovasi itu sendiri adalah sesuatu yang kita sendiri tidak tahu selanjutnya itu akan seperti apa. Makanya dalam dunia startup itu tidak ada kegagalan (dalam proses trial and error), yang ada adalah pembelajaran. Karena setiap kegagalan itu selalu ada nilai pembelajarannya. Startup juga bukan sekedar kita menjual barang lalu diiklankan melalui facebook, whatsapp, instagram atau apa, startup bukan sekedar itu, melainkan sejenis tech company (bukan another trading  company). Intinya harus bisa fokus pada gambaran besarnya.

Penekanan startup adalah Solved problem ; bagaimana ktia bisa meng-add value pada sesuatu, lalu optimize, dan men-disrupt. Contoh, biasanya orang membuat skripsi hanya untuk syarat lulus, setelah itu hanya disimpan dan menjadi tumpukan yang tidak berharga, seorang co-founder startup akan berpikir untuk memanfaatkan masalah ini, dari sekian juta skripsi itu yang terbengkalai, kenapa tidak mencoba untuk mengumpulkannya dan barangkali memang ada ide menarik yang terdapat didalam skripsi itu yang bisa digunakan untuk keperluaan perusahaan orang, atau ada orang yang tertarik untuk mendanai, kan itu bisa jadi peluang usaha juga. Add value itu menambah nilai pada sesuatu yang asalnya seperti tidak mempunyai nilai sama sekali.

Saran baik dari pak Sony yang masih terngiang-nginga di telinga saya adalah ini, “Yang membuat kalian benci, yang membuat kalian annoying pada sesuatu, bisa jadi sesuatu itu peluang karir kalian. Tujuan kalian hidup untuk bisa menyelesaikan atau memberikan solusinya.” Saya berpikir, benar juga. Apa-apa yang mengganggu kita adalah potensi untuk dijadikan ide dasar startup, seperti saya yang kadang suka terganggu dengan susahnya mencari buku-buku bacaan yang bagus karena terkadang di toko buku besar, mereka hanya menjual buku yang laris dan popular, entah bukunya bagus atau sampah, toko buku yang sudah menjadi kapitalistik. Biasanya saya menjumpai buku-buku bagus yang sudah sangat sulit dicari itu lewat pelapak buku bekas, toko buku online yang dikelola oleh beberapa gelintir orang berdedikasi, dlsb. Saya keidean untuk membuat startup yang bisa mengumpulkan ‘orang-orang’ ini. Kadang orang membeli buku hanya untuk dibaca, setelahnya disimpan di dalam rak, ini kan bisa jadi peluang juga untuk saling bertukar dengan oranglain atau mungkin untuk saling jual, siapa tahu kan. 😀

Menurut pak Yansen Kamto, terdapat lima area potensi startup ; agriculture, education, health, tourism dan logistic.  Setiap bidang itu mempunyai masalahnya masing-masing. Pak Yansen memberikan contoh praktis untuk setiap bidangnya, tapi tidak saya tulis karena sepertinya tulisan ini sudah kelewat panjang. Jadi mungkin kali lain.

 

Resensi buku The Elements of Journalism

Judul               : The Element of Journalism

Penulis             : Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

Tahun Terbit    : 2001

Halaman          : 214 hlm

Peresensi         : Sandri

(*Pernah dipublish oleh Persma ITS, LPM 1.0)

buku 9 element of jouralism
Diterjemahkan oleh Yayasan Pantau, tahun 2006

Diantara buku-buku yang membahas tentang dunia jurnalisme (yang kebanyakan ditulis oleh Jurnalis), tidak banyak yang membahas tentang prinsip-prinsip dasar yang bersifat umum dalam mekanisme kerja jurnalisme itu sendiri, apalagi yang bisa dijadikan “kitab suci”nya kaum jurnalis. Padahal dunia pers itu sendiri mendapatkan momentumnya sudah sejak jauh-jauh hari dan semakin mendapatkan tajinya ketika dunia dimasuki oleh teknologi informasi ; televisi, radio dan sekarang, internet. Jadi kebayang kan betapa urgent-nya untuk menetapkan standard dan elementary principlesnya, sesuatu yang mendesak, gawat dan tak bisa ditawar-tawar lagi.

Pers atau jurnalisme dipandang sebagai senjata yang ampuh dalam mendikte kehidupan masyarakat, sesuatu yang paling disukai oleh kaum yang memerintah. Maka sering kita mendengar ocehan ‘hadits’ yang tak bersanad, bahwa barangsiapa yang menguasai pers atau media, maka ia akan menguasai dunia.

Karena urgenitas itu seakan-akan diabaikan dan ditunda-tunda, akhirnya malapetaka itu terjadi. tepatnya di tahun 90-an era kegelapan dalam dunia jurnalisme mengalami katastropi yang mengerikan ; pers tidak lagi dipercaya oleh masyarakat sebagai pemberi berita atau informasi. Kredibilitas pers diragukan dengan semaraknya permainan kapitalistik dan penguasa. Pers penuh dengan bisnis dan mengesampingkan etika atau kaidah jurnalistik. Dan ini tidak baik untuk kehidupan pers jangka panjang. Akhirnya di tahun itu beberapa jurnalis senior berkumpul dan mengadakan forum untuk menentukan dasar-dasar atau prinsip jurnalisme yang menempatkannya kedalam tempatnya lagi, agar jurnalisme kembali terhormat. Isi dan hasil dari forum itu dituangkan dalam buku ini, The Element of Journalism. Sebuah buku apik yang meletakan prinsip-prinsip dasar dan kaidah jurnalisme yang bisa dipakai oleh siapa saja,khususnya kaum jurnalis, dalam kaitannya untuk mewartakan ‘kebenaran’ atau informasi yang bias dari keliru atau salah. Lebih dari 1200 wartawan terlibat dalam pembuatan buku ini (dalam bentuk wawancara dan sumbang saran).

Setelah di cetak ulang entah yang keberapa kalinya, buku ini benar-benar dijadikan kitab sucinya media atau jurnalisme. Belum lengkap rasanya bila yang bergiat dibidang jurnalistik tidak membaca buku ini. Katanya Majalah Gatra sampai harus menerjemahkan buku ini untuk konsumsi pribadi perusahaannya, mau tidak mau setiap karyawannya diharuskan untuk membaca buku ini.

Buku ini diawali dengan perbincangan tentang wacana jurnalisme itu sendiri. Sangat runut dan sistematis. Apa sebetulnya yang dimaksud jurnalisme, siapa yang berhak mendefinisikannya, dari sudut pandang apa hingga mengapa kita harus membakukan definisi itu. di halaman 16 dan 17 tercatat bahwa :

“Teknologi sekarang membuat informasi tersedia untuk banyak orang, dengan ritme yang terlalu cepat. Dan informasi itu ternyata menciptakan demokrasi. (hal 16). Prinsip dan maksud dari jurnalisme itu sendiri didefinisikan oleh sesuatu yang seharusnya menjadi dasar, yang berfungsi sebagai permainan baru dalam kehidupan orang. jurnalisme tidak seharusnya didefinisikan oleh teknologi, oleh jurnalis, atau pers atau teknik yang mereka kerjakan. tapi harus mengacu ke basik atau dasar dari keberadaan jurnalisme itu sendiri. “Maksud atau tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan bagi masyarakat umum informasi yang mereka perlukan untuk bebas dan pemerintahan sendiri.” (hal 17) .

Elemen atau prinsip dasar jurnalisme itu semuanya ada sembilan, prinsip2 ini bisa menjadikan jurnalisme sebagai penyedia akses informasi yang kredibel yang dibutuhkan masyarakat adalah sebagai berikut ;

1). Jurnalisme adalah (mewartakan) kebenaran

2). Kesetian pertama adalah untuk masyarakat

3). Disiplin dalam melakukan verifikasi

4). Jurnalis harus menjaga independensi

5). Jurnalisme sebagai pemantau kekuasaan dan penyambung lidah mereka yang tertindas

6). Jurnalisme sebagai forum publik

7). Jurnalisme itu harus memikat sekaligus relevan

8). Kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif

9). Setiap wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. 

Elemen jurnalisme yang pertama adalah kebenaran, yang ironisnya, ternyata yang paling membingungkan. Karena definisi kebenaran itu bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang yang digunakan. Bisa bermacam-macam tergantung situasi dan kondisi. Dan kita bisa sampai berbusa-busa ketika mendiskusikan tentang kebenaran. Saya sendiri sudah muak dengan banyaknya filsup yang mencoba mendefinisikan kebenaran itu. tapi akhirnya mendapatkan kompromi dari kenyataan bahwa ternyata kebenaran itu relatif *Tsaah, kibas rambut.

Kebingungan itu sejatinya karena dalam teorinya, kebenaran itu ada banyak macamnya seperti kebenaran fungsional, kebenaran objektif, kebenaran subjektif, kebenaran realitas, teori kebenaran koherensi lah, teori kebenaran korespondensi, teori kebenaran performatif, kebenaran pragmatis, kebenaran proposisi, kebenaran paradigmatik, dlsb. Jadi ketika Bill menjelaskan bahwa kebenaran adalah prinsip pertama jurnalisme, kita akan bertanya lebih lanjut, bahwa yang dimaksudkan doi itu kebenaran yang mana? Kebenaran menurut siapa? karena setiap orang itu punya latarbelakang yang berbeda-beda, pengalaman yang beragam, tingkat intelektualitas, buku bacaan, agama, etnis, dlsb yang sangat menentukan cara pandang, cara berpikir dan definisinya terhadap kebenaran. Terus lahyaopo, rek?

Nah, ternyata dari berbagai kebenaran itu, jurnalisme hanya mendasarkan kebenarannya pada kebenaran fungsional, kebenaran dalam tataran praktis, kebenaran yang bisa dibentuk dari hari ke hari. *skip dulu ya, bakalan panjang kalo harus dijelaskan disini. :p

Lanjut ke prinsip kedua, bahwa seorang jurnalis harus menempatkan loyalitasnya untuk masyarakat, bukan untuk perusahaannya. Loyalitas ini sangat penting apalagi sejak tahun 1980-an kabarnya banyak wartawan amerika yang berubah jadi orang bisnis. Sebuah survei menemukan separuh wartawan Amerika menghabiskan setidaknya sepertiga waktu mereka buat urusan manajemen ketimbang jurnalisme.

Prinsip ketiga adalah disiplin dalam melakukan verifikasi. Ini berguna untuk membedakan mana gosip, mana fakta, mana isu, mana propaganda, atau mana fiksi. Jadi harus ada batas yang jelas antara fiksi dan jurnalisme. Jurnalisme tidak boleh dicampuri oleh fiksi atau hal-hal yang dramatis misalnya. Ini sebetulnya membingunkan juga karena kalau hanya menyajikan apa adanya, terasa tulisan itu akan kering tanpa bumbu-bumbu fiksi atau sastra, tapi nanti akan kita lihat di prinsip selanjutnya. Intinya sih jurnalisme itu meliput untuk kepentingan masyarakat yang bisa menghibur tapi juga bisa tidak. Kalau tidak menghibur, ya jangan dipaksa-paksakan untuk bisa menghibur.

Prinsip ke empat adalah independensi. Dan itu tidak berarti netral. Karena menjadi netral itu bukan prinsip dasar jurnalisme. Prinsipnya, wartawan harus bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput. Intinya jurnalisme harus mengabdi pada kepentingan masyarakat, dan memenuhi berbagai ketentuan lain yang harus ditaati oleh seorang wartawan.

Prinsip kelima adalah fungsi jurnalisme sebagai pemantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Memantau kekuasaan ini dilakukan dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi. Salah satu cara pemantauan ini adalah melakukan investigative reporting, sebuah jenis reportase di mana si wartawan berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, siapa yang seharusnya jadi terdakwa, mirip-mirip teknik pengungkapan suatu kejahatan oleh seorang detektif. Betapa kerennya menjadi seorang jurnalis itu kan? Haha. Ayo masuk LPM (lumayan numpang promosi :p ).

Prinsip ke enam adalah jurnalisme sebagai forum publik. Kalau untuk prinsip ini sudah jamak bahwa di setiap surat kabar umumnya mereka menyediakan rubrik khusus pembaca atau masyarakat untuk mengungkapkan uneg-unegnya semisal surat pembaca. Termasuk untuk mempertanyakan berita yang di muat di surat kabar itu juga. Karena umumnya masyarakat juga ingin berkomentar terhadap suatu peristiwa. nantinya komentar-komentar itu akan didengar oleh para politisi dan birokrat yang menjalankan roda pemerintahan. Memang tugas merekalah untuk menangkap aspirasi masyarakat. Dengan demikian, fungsi jurnalisme sebagai forum publik sangatlah penting karena, seperti pada zaman Yunani baheula, lewat forum inilah demokrasi bisa ditegakkan. *Eeaaa.

Prinsip ketujuh adalah perlunya jurnalis yang memikat sekaligus relevan. Ini terbilang susah. Teknik penulisan berita yang sesuai fakta, tanpa adanya penambahan hal-hal fiksi atau lebay, tapi tetap bisa memikat sekaligus relevan. Bill Kovack menyarankan untuk setiap jurnalis agar tidak kering atau garing dalam tulisannya untuk belajar menulis narasi (narrative report) atau nonfiksi yang menjadikan narasinya bercorak kesastra-sastraan. Jadi bagaimana menampilkan sebuah laporan atau tulisan yang “enak dibaca dan perlu” (motto majalah Tempo). Jangan sampai isi laporannya hanya angka-angka, data, dan hal-hal membosankan lainnya. Untuk melihat laporan yang memikat sekaligus relevan bisa membaca bukunya Seno Gumira semisal Tidak ada Ojek di Paris, Ketika Jurnalisme Di Bungkam Sastra Harus Bicara, Layar Kata, Kisah Mata, Surat Dari Palmerah atau Sembilan Wali dan Siti Jenar.

Lalu prinsip ke delapan adalah kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif. Kovach dan Rosenstiel mengatakan banyak suratkabar yang menyajikan berita yang tak proporsional. Judul-judulnya sensional. Penekanannya pada aspek yang emosional. Yang judul-judulnya ndak proporsional dan cenderung membuat kita muak duluan semisal berita-berita di U*C news. Haha. Saya sudah lama menguninstal aplikasi browser ini karena blas tidak mencerdaskan sama sekali. Wkwkwk

Terakhir, prinsip ke sembilan adalah bahwa setiap jurnalis harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Ini prinsip yang menjamin aktualisasi dan idealisme seorang jurnalis yang tidak musti di dikte oleh perusahaan atau kelompoknya. Ini murni kata hatinya (kalo hatinya belum patah loh yah). Jadi bisa saja seorang wartawan tidak setuju dengan pandangan dewan direksi atau bosnya dan bebas-bebas saja ia untuk mendebatnya, untuk mengungkapkan kata hatinya. Makanya biasanya di ruang redaksi itu kerap terjadi “suara-suara berisik”. Ruang redaksi tidak seharusnya menjadi sebuah ruang kediktatoran, kan. Karena pimred itu bukan Tuhan, yang bisa saja keliru, khilaf atau salah. :p Nah setiap redaktur sepatutnya harus paham ini, mereka memang bertugas untuk mengambil keputusan final terhadap apa yang akan di publis, tapi mereka juga harus bisa mengakomodir dan membuka diri agar setiap orang yang hendak memberikan kritik atau pandangannya bisa terakomodasi. Kata Bob Woodward dari The Washington Post pernah mengatakan bahwa, “Jurnalisme yang paling baik seringkali muncul ketika ia menentang manajemennya.” Nah kan.