Culture · Historis · Kampus · Uncategorized

Pacaran, Cinta dan Dialektika Pernikahan : Pandangan dari Chandra Natadipurba dan kearifan dari Hamid Basyaib

socrates

Tak ada habis-habisnya bila kita membincangkan cinta, karena memang ia adalah bahasan yang objek (atau subjek) nya dialami oleh semua orang (dewasa), dalam segala spektrumnya. Tak bisa dipungkiri bahwa spectrum cinta memang luas, jauh lebih luas dari alam semesta ini. Bahkan karena cinta pula, alam semesta ini ada ; yaitu Cinta Tuhan kepada makhluk-makhluk-Nya. Boleh dikata, cinta adalah sebab musabab atau asal muasal dari kehidupan ini. Tanpa cinta, tidak akan ada pula kehidupan. Tentu saja saya asal-asalan saja bilang begitu. *Eeeegubraak

Kita kesampingkan cinta yang umum itu untuk membahas cinta yang lebih spesifik (meski kita juga bisa berdebat tentang apakah pacaran itu termasuk manifestasi atau ekspresi dari cinta :mrgreen: ) yaitu pacaran. Di kalangan mahasiswa (di kalangan manapun sih, kecuali kalangan anak-anak TK yang masih murni. *Haha, apapula ini. *skiip) gejala pacaran bisa dengan mudah dijumpai. Orang biasanya pacaran dengan beragam alasan. Entah kebutuhan, entah keinginan, entah pelampiasan, atau entah-entah yang lainnya. Dan diantara sederet alasan yang kalau dijumlahkan sekira sepuluh juta dua ratus tiga puluh satu alasan itu, ada satu alasan yang nampaknya logis dan mulia, yaitu, pacaran sebagai medium untuk mengenal kepribadian pasangannya. Kan tujuan pacaran itu cuma dua, kalau gak nikah, ya untuk berpisah. Nah, perlu gak perlu sih untuk benar-benar memastikan apakah dia memang pantas untuk dijadikan teman hidup (atau teman jalan tok), perlu karena kita tidak sedang memilih kucing dalam karung ketika memutuskan untuk menikahi seseorang, terus gak perlunya, karena jodoh itu sudah ditentukan (tapi anehnya lho kita masih bisa milih-milih, meski sudah ditentukan, iya gak? yang 4 kriteria menurut Nabi), intinya sih pandangan orang yang bilang gak perlu (pacaran) itu karena yang disebut jodoh adalah dia yang berjabat tangan dengan orangtua atau walinya si perempuan dan dibilang sah sah sah sama setiap saksi yang hadir saat itu. karena, katanya, “bagian tersulit dari cinta bukan menunggu, menerima, menjaga ataupun setia. Bagian tersulit dari cinta adalah mempertanggungjawabkannya. Jika cinta itu benar milik Sang Penguasa Alam, perjuangan jalan yang Dia ridhoi hingga ombak membawamu terdampar pada satu daratan tempat dirimu akan singgah selamanya”.

Balik lagi ke soalan yang menganggap bahwa untuk mengenal pasangan lebih dalam lewat medium yang kita namakan Pacaran itu apakah absah dan valid atau tidak, seperti misalnya apakah “hanya” dengan pacaran, kita benar-benar bisa mengenal seseorang yang akan dijadikan pasangan hidup? Tentu saja bahasan ini akan sepenuhnya berkelumit tentang masalah kepribadian atau personality. Saya jadi ingat esainya Chandra Natadipurba di Aufklarung yang menjelaskan hal ini dan sangat saya sukai, lebih kurang beliau bilang begini,

Kepribadian atau personality berasal dari akar kata persona. Dalam bahasa yunani Persona berarti topeng atau kedok. Karenanya, dalam dunia psikopop (psikologi popular), personality adalah tampilan luar dari performansi seseorang. Ia adalah fungsi dari sesuatu yang lebih esensial dan lebih dalam dari dirinya yaitu character (watak). Ibarat gunung es, personality adalah puncak gunung es yang ada diatas permukaan laut, sedangkan character adalah keseluruhannya, termasuk dasar gunung es yang terletak jauh dibawah permukaan laut. Dan kita biasanya menyebut character sebagai akhlak, yaitu sesuatu yang kita kerjakan tanpa melalui proses berpikir lagi. Jelajah literature yang lebih jauh membuat anda akan menemukan kajian yag lebih dalam dan popular tentang etika karakter dan etika kepribadian. Salahsatu kajian yang terkanal adalah dalam bab pertama 7 habits of highly effective people karya Stephen R. Covey.

Nah, Perbedaan yang paling mendasar dari keduanya adalah pada kondisi berlakunya. Kalau personality bersifat temporer, dialektis dan oportunis, maka character biasanya inheren, tetap dan terinternalisasi dalam diri seseorang. Hal ini disebabkan oleh karena personality muncul dari proses berfikir. Perhitungan untung rugi atau asas manfaat dan penyikapan sementara terhadap sebuah stimulus, terlebih jika berhubungan dengan orang lain. Sedangkan karakter muncul dari kombinasi kode genetic, nilai-nilai dan keyakinan plus pengalaman serta lingkungan masa kecil yang tidak bisa diubah secara otomatis, sehingga karakter hampir mustahil bisa diubah dan dimanipulasi. Biasanya karakter kita selalu tampil apa adanya.

Sebagai manusia kita berkecenderungan untuk menampilkan topeng yang baik-baik saja walaupun kadang-kadang topeng tersebut tidak sesuai dengan realitas kita. Sebagai contoh, jika seorang teller bank murah senyum ketika menghadapi pelanggan. Performansi yang muncul dari teller tersebut adalah kepribadiannya, sebab dia memang dibayar untuk tersenyum pada pelanggan. Namun, belum tentu karakternya adalah ramah. Ketika kita bertemunya sebagai orang biasa di pasar dan tak sengaja bersenggolan dengannya, bisa jadi dia judes pada kita. Dan kita akan kecewa karena ternyata dia tidak seramah yang kita kira. Dengan analogi demikian, dalam konteks ini, maka ketika dua orang berpacaran, mereka sebenarnya sedang berlomba-lomba memunculkan topeng terbaik pada pasangannya, dalam bentuk, apa yang saya sebut dengan, “Kepribadian yang termanipulasi”. Kita memang terkadang terpaksa memanipulasinya sebab kita ingin tampil sempurna dihadapannya dan karena tidak ingin ‘pasaran’ kita turun.

Misalnya adalah karena sejatinya manusia akan selalu punya cela, maka usaha ini sebenarnya utopis (tidak mungkin dilakukan). Karena justru saat pacaran itulah pasangan kita giat menyembunyikan hal-hal buruk dan menampilkan hal-hal yang baik saja dari dirinya. rajin menggunakan topeng “kepribadian”nya yang memikat. Dan kita, dalam hal ini terutama wanita, sangat senang diberikan kebohongan terselubung ini. Itulah mengapa walaupun para wanita tahu rayuan laki-laki itu gombal belaka, setiap wanita akan melayang-layang, berbunga-bunga dan bersemu merah jika ada laki-laki yang memujinya. Sehingga, kalau kita berharap bahwa kita akan semakin mengenal pasangan kita dengan medium ini sebenarnya usaha itu seperti menggantang asap alias melakukan pekerjaan yang sia-sia.

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pacaran bukanlah medium yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan diawal pembicaraan kita.

Coba deh, kalau mau kita lihat secara jujur, aktivitas yang kita lakukan ketika pacaran sebenarnya tidak membuka peluang untuk mengenal pasangan kita lebih jauh. Nonton film, makan berdua, jalan-jalan ke mal tidak akan sanggup membuka tabir karakter pasangan kita. Bukan aktivitas diatas, melainkan ada empat aktivitas yang kalau kita lakukan akan memberi tahu kita sebenarnya bagaimana karakter teman kita : pertama, berjalan kaki jauh melintasi medan yang sulit, kedua, bertetangga dengannya dalam jangka waktu yang lama, ketiga, melakukan transaksi perdagangan dengan orang tersebut, dan, keempat bersama-sama mengalami kondisi-kondisi ekstrim tertentu. Kegiatan-kegiatan yang bisa pasangan pacaran lakukan biasanya malah semakin menyembunyikan topeng dari kedoknya. Oleh karenanya, membangun sebuah hubungan yang penuh dengan topeng dan kedok seperti itu, ibarat membangun sebuah rumah laba-laba, rapuh dan mudah sekali hancur.

Atau katakanlah akhirnya setelah melalui medium pacaran, pasangan kita ini melanjutkan perjalanan ke bahtera rumah tangga. Tentu saja, pasangan ini berangkat dengan pengalaman-pengalaman semasa pacarannya. Dalam masa itu, sadar atau tidak, telah terbentuk semacam persepsi tertentu dalam diri pasangan kita. Sesuatu yang hendak saya sebut dengan “horizon harapan”. Nah, karena dalam pacaran kita hanya menampilkan yang baik-baik saja dari diri kita, wajar kalau kemudian “horizon harapan” itu terlalu tinggi. Harapan yang terlalu tinggi dan kemudian bertemu dengan realitas diri kita yang tidak sesuai dengan “horizon harapan” itulah yang kemudian menimbulkan kekecewaan dan ketidakharmonisan. Kekecewaan dan ketidakharmonisan muncul karena pada hakikatnya tidak ada seoragpun didunia ini yang benar-benar suka dibohongi dan diberi kepalsuan. Wajar kemudian kalau kita banyak mendengar kisah pasangan yang tujuh tahun pacaran, namun ketika menikah tujuh bulan kemudian langsung cerai. karena kecewa, marah atau merasa “tertipu” mungkin. Karena si “dia” ternyata tidak selembut, semacho, sepintar, seromantis, sebertanggungjawab dan se-se-lainnya yang diduga. Ironis!

Sisi pragmatis dari diri kita kemudian mungkin bertanya, “Kalau pacaran bukan cara yang tepat mengenal pasangan kita, lantas?” tentang ini si jenius Socrates punya jawaban, “Menikahlah. Kalau kau menemukan istri yang baik, kau akan hidup bahagia. Kalau istrimu tidak baik, maka kau akan belajar jadi filosof.”

***

Kalau kamu suka seseorang (atau ingin menikahi seseorang sekalipun), saran saya, jangan pernah memberikan cintamu 100%. Kamu harus tetap memberikan ruang bagi cinta untuk tumbuh (*Eaa). Karena kalau cinta kamu seratus persen, kamu tidak punya ruang lagi untuk berpikir.

Nah, penjelasan selanjutnya, dikutip (dengan sedikit perubahan untuk menyesuaikan dengan alur pembahasan) dari Hamid Basyaib, bahwa tanpa ruang sisa itu, cinta akan rutin, dan karenanya membosankan, setidaknya tak mungkin lagi mekar – tak mungkin tumbuh ke berbagai arah yang barangkali tak terduga, tapi lebih kaya. Dan setiap hal yang setinggi seratus persen hanya punya satu arah perubahan: menurun, berkurang, mengalami erosi. Mungkin akhirnya mati. Cinta memang tak pernah bunuh-diri. Ia biasanya mati karena dibunuh oleh satu atau kedua pelaku yang terlibat dalam percintaan itu.

Pernyataan itu sebetulnya tertafsirkan dari Kahlil Gibran, yang menyarankan supaya dalam kebersamaan tetap harus ada ruang bagi kedua pihak. Kita harus menginsafi, bahwa perkawinan bukanlah penunggalan dua pribadi, tapi kesepakatan antara dua orang yang punya sejarah personal masing-masing untuk memandang ke satu arah yang sama. Keduanya tak perlu, tak boleh, melebur menyatu. Masa sih? Sebab harga termurah dari peleburan itu adalah hilangnya diri kita, berubah menjadi bukan siapa-siapa, menjadi bukan apa-apa.

Saya pun tak pernah tahu ada statistik tentang tingkat kelanggengan suatu perkawinan berdasarkan lama masa pacaran. Apakah panjang masa pacaran mampu menjamin keawetan sebuah perkawinan? Apakah masa yang singkat berpeluang besar untuk kegagalannya? Saya belum pernah baca data yang meyakinkan. Yang saya tahu: ada pasangan yang perkawinannya langgeng sampai akhir hayat, setelah melalui masa pacaran yang singkat (atau tak pernah melewatinya sama sekali karena dijodohkan orangtua); ada pasangan yang usia perkawinannya jauh lebih singkat daripada masa pacarannya, sampai para tamu resepsi pernikahan mereka mengeluh: belum habis letih dari menghadiri pestanya, perkawinannya sudah hancur.

Meski cinta pada dasarnya emosional, keingintahuan orang di sepanjang sejarah selalu berusaha memperluas pangsa rasionalnya. Geloranya universal. Semua kebudayaan besar memiliki epos cinta masing-masing – Rama & Shinta, Romeo & Juliet, Qais & Layla, Sam Pek Eng Tay, Tristan & Isolde, Marc Anthony & Cleopatra. Daya pukau kisah-kisah itu, bahkan berikut kepahitan dan tragedi mereka, terus memancar sampai hari ini, mendorong para penggubah menulis pelbagai versi turunan; membuat nama-nama itu bagian integral dari nomenklatur sebuah bangsa dan bahasa mereka masing-masing, bahkan menjadikan nama-nama itu idiom bahasa dan budaya universal.

Tapi keuniversalan cerita mereka tak pernah mampu mereduksi kekhususan kisah cinta orang-orang biasa seperti kita. Teks besar cinta mereka tak membuat cinta kita sekadar catatan kaki. Bukankah kita pun merasakan segenap getaran yang tak terkira, yang tak terkatakan itu? Getaran yang membuat kita hanya mampu menangis, satu-satunya cara kita menyerah karena tak sanggup merumuskannya dengan seluruh simpanan perbendaharaan kata kita?

Itu sebabnya beribu-ribu lagu terus ditulis orang di seputar cinta. Setiap hari kita mendengar lahirnya lagu baru tentang tema ini. Dan pernahkah kamu menerka-nerka berapa novel dan film bertema cinta yang pernah dibuat orang? Tak akan pernah ada yang mampu menghitungnya.

Mengapa kita, tetap berani menikah di tengah kepungan wajah-wajah murung akibat ketakbahagiaan perkawinan mereka; di tengah serakan marriage jokes yang membuat kita tergelak tapi juga miris?

Kamu pasti ingat sejumlah lelucon ironis itu. Ada yang bilang perkawinan ideal adalah antara perempuan buta dan lelaki tuli – si isteri tak akan melihat ulah suaminya yang menjengkelkan, sang suami tak bisa mendengar omelan isteri yang tak pernah putus.

Seorang suami mengaku tak takut lagi pada terorisme karena sudah menikah selama dua tahun. Katherine Hepburn menyilakan para gadis untuk menikah jika mereka “ingin mengganti kekaguman dan pemujaan ribuan lelaki dengan kritik satu orang” – suami, konon, selalu hanya melihat kekurangan isterinya.

Setelah tujuh atau dua belas kali menikah, Zsa Zsa Gabor mengaku tak kapok kawin asalkan suami berikutnya “berusia 85, punya simpanan seratus juta dolar, dan mau menandatangani perjanjian bahwa enam bulan lagi dia akan mati.” Dan dewi Hollywood itu mengaku tak mengerti apa-apa tentang seks, “karena saya selalu menikah.”

Agatha Christie juga tak henti berganti suami, dan sampai pada kearifan untuk ia sarankan pada gadis-gadis yang sedang mencari pasangan hidup: kawinlah dengan arkeolog, sebab makin tua kita (isteri) akan makin tertarik dia. Jika suami bukan ahli purbakala, semua perempuan sudah tahu apa yang sering terjadi.

Apa resep perkawinan yang awet? Seorang suami mengaku dia dan isterinya sanggup menjaga perkawinan selama tujuh belas tahun karena mereka rutin makan di restoran yang baik, dengan red wine lezat dan temaram candle light yang membangun suasana mesra. “Saya melakukannya tiap Senin malam,” katanya, “dan isteri saya Kamis malam”. Suami lain mengaku rumah-tangganya benar-benar bahagia selama dua puluh tahun – tapi kemudian ia dan isterinya tinggal serumah.

Mungkin catatan tertua tentang ironi semacam ini adalah dari Socrates, dari masa sekitar 2500 tahun silam. “Bagaimanapun, kawinlah”, sarannya pada para pria. “Jika kau mendapatkan isteri yang baik, kau akan bahagia. Jika kau mendapat isteri yang buruk, kau akan jadi filosof.” Kini kita tahu kenapa dia jadi filosof. *Hahaha

Mungkin benar bahwa perkawinan itu seperti benteng terkepung: yang di dalam ingin keluar, yang di luar ingin masuk. Atau kita termasuk golongan yang disindir Voltaire, yang mengumumkan bahwa perkawinan adalah satu-satunya medan petualangan yang terbuka bagi para pengecut?

Jadi, mengapa akhirnya kita memutuskan untuk menikah? Mungkinkah sekadar karena kita, di tengah konstruk masyarakat tempat kita hidup ini, tak sanggup menanggung beratnya tekanan sosial yang tak menoleransi kebersamaan hidup kita tanpa dukungan dokumen-dokumen negara dan aturan agama – hal-hal yang tak berhubungan dengan cinta yang merekat kebersamaan kita? Juga karena kita tak akan sanggup melawan kuasa negara yang tak akan memberi status hukum bagi anak-anak yang mungkin lahir dari kebersamaan kita?

Atau mungkin karena diam-diam kita curiga bahwa pasangan-pasangan yang sinis itu hanya menonjolkan aspek-aspek buruk dari perkawinan mereka. Mereka telah berlaku seperti wartawan yang terus berpedoman pada kredo usang: bad news is good news. Mereka curang karena menonjolkan keburukan yang cuma secuil di tengah kebaikan yang melimpah. Mereka menampilkan diri sebagai serangga yang terperangkap.

Mereka berlomba untuk tampil sebagai korban, bukan pelaku, dari perkawinan hasil kerja sama dengan pasangan masing-masing. Status sebagai korban memang menyamankan perasaan – dengan itu mereka bukan hanya tak bersalah atas ketaksempurnaan perkawinan mereka, tapi sekaligus menderita dan dirugikan akibat tindakan pasangan. Tidak ada kekuatan yang lebih besar dalam menarik simpati daripada derita ganda ini.

Tapi katakanlah sinisme mereka sahih; bahwa mereka memang mewakili gejala yang makin umum tentang mengecewakannya perkawinan, seperti terlihat dari statistik perceraian yang meningkat di banyak tempat. Dengan semua itu agaknya kita percaya bahwa kita masih mungkin mencuri kebahagiaan dari situasi umum kekecewaan itu. Sebab kita memaknai kebahagiaan lebih sebagai kata kerja ketimbang kata benda; sebagai konsep dinamis, yang harus diupayakan secara aktif dengan sepenuh kesungguhan, bukan sesuatu yang akan kita terima dengan pasif karena ia kita sangka bisa hadir begitu saja di ruang tamu rumah kita.

Ia pasti terkait erat dengan cinta yang enigmatik itu. Ada ribuan definisi cinta – dan tak ada yang memadai. Kamu boleh memilihnya satu atau beberapa sekaligus. Tapi saya harap kamu sepakat dengan rumusan yang saya ramu dari bahan-bahan Scott Peck: cinta adalah kehendak untuk melampaui kemampuan kita sendiri guna memungkinkan pasangan kita tumbuh secara spiritual.

Dan spiritualitas, seperti kita pahami bersama, bercakupan lebih luas daripada hal-ihwal yang terkait dengan agama, apalagi sekadar dengan aspek ritualnya. Spiritualitas membuat kita bersedia mendaki puncak-puncak kemanusiaan kita; juga membuat kita tak terpaku pada keremehan suatu benda, melainkan mengintai makna yang lebih dalam daripada arti yang lazim ditawarkan oleh benda itu. Seperti kata seorang bijak, “Jika kau tahu bagaimana proses mengelopaknya sekuntum bunga, maka seluruh hidupmu akan berubah.”

Notes : saya berterimakasih sekali terhadap dua orang itu untuk penafsirannya atas hal-hal yang menarik ini. Ini semua sepenuhnya berasal dari inspirasi mereka. saya hanya (seperti kata Newton) sedang berdiri di bahu raksasa, untuk mengambil yang baik-baik dan bagus-bagusnya saja.

—————-

*Referensi :

Chandra Natadipurba. 2008. “Pacaran”. Bandung : Aufklarung.

Hamid Basyaib. 2007. “Fur Fathia ; Surat cinta menuju pernikahan”. Jakarta.

Historis · Kampus · Politik

Wacana Bernegara

Tulisan ini sepenuhnya diambil dari diskusi di TMI (Teknokrat muda ITS), Surabaya, pada hari sabtu, 04 maret 2017 di selasar perkapalan dengan rujukan utama dari perspektif Benedict Anderson di bukunya yang berjudul “Imagined Communitites”. Saya sendiri belum sempat membaca langsung buku itu, tapi sepertinya memang menarik. Dan mengapa tulisan yang diskusinya sudah lama ini baru di posting sekarang? Itu semata karena kemalasan saya untuk menyelesaikan penulisan ini. *hehe. Dan karena tidak tega melihat tulisan setengah jadi ini teronggok begitu saja di leptop akhirnya saya tuntaskan juga, karena katanya, tulisan yang baik itu adalah tulisan yang selesai.

Beberapa pertanyaan awal untuk memantik diskusi ini diantaranya adalah; Apakah alasan munculnya Negara? Apakah Negara itu? dan apakah atau siapakah yang menjadi Negara pertama? bagaimanakah caranya untuk menghilangkan Negara dan siapa yang berhak untuk melakukan itu? dlsb. Hmm, pertanyaan-pertanyaan itu kembali ke awal sih, bahwa ini semua sepenuhnya tentang sejarah Negara itu sendiri, yang mengacu ke perjanjian westpalia (Jerman). Perjanjian ini dinilai menjadi cikal bakal atau gen awal dari pembentuk konsep Negara, yang seiring waktu mengalami koreksi dan perbaikan system hingga menjadi bentuk Negara seperti sekarang ini. Jadi sebelum adanya perjanjian itu boleh dikata di dunia ini belum ada Negara, dunia kebanyakan masih disebut kerajaan, kesultanan, keratin, koloni, wilayah, dlsb, tergantung keinginan penguasa ditempat itu inginnya disebut apa. 

Perjanjian westpalia dilahirkan pada tahun 1648 sebagai respon atas kekuasan kerajaan yang dinilai anarki (setara). Setiap kerajaan tidak boleh mengerajai (?) kerajaan lainnya atau mensubordinatnya. Tidak boleh ada satu raja dengan kerajaan lebih dari satu. Dalam tatanan kekuasaan yang ingin disepakati ketika itu adalah kesepakatan untuk menjamin bahwa dari kekuasaan yang hirarki agar bisa menjadi anarki. Jadi tidak boleh antara kerajaan menindas kerajaan lainnya. Konsep ini pada evolusi selanjutnya berubah bentuk menjadi system kenegaraan, sehingga dengan itu dimulailah era wilayah-wilayah yang awalnya adalah jajahan, mulai memerdekan diri dan menyatakan dirinya sebagai Negara. Pada era ini Negara-negara baru yang terbentuk disebut sebagai Negara dunia pertama. istilah ini mengacu pada pembabakan sejarah Negara. Kita mengenal bahwa Indonesia termasuk Negara dunia ketiga, artinya Negara Indonesia baru hadir di akhir-akhir periodisasi negara. Jadi, istilah Negara itu sebenarnya mengacu kepada term yang menyatakan bahwa ia tidak boleh berada di bawah subordinat Negara lain. Antara satu Negara dengan lainnya harus equal atau setara (equal dalam hal apa?). 

Awal mula sekali era dari dunia ini adalah era imperialism, era ekspansi kekuasaa dimana dunia sepenuhnya diperebutkan oleh orang-orang yang kuat dan powerful. Eranya penaklukan. Dunia diatur oleh seperti tidak ada bedanya dengan sistem rimba, hanya yang kuatlah yang berhak memerintah. Tidak ada tempat bagi yang lemah. Setelah era imperialisme lalu terbitlah era kolonialisme, tidak sekedar ekspansi tetapi juga mulai melakukan eksploitasi di wilayah taklukan (penjajahan) untuk mengambil manfaat sebanyak mungkin dari Negara yang terjajah tersebut. Tetapi lambat laun di era ini mulai terjadi perkembangan hingga akhirnya pihak penjajah (dengan pertimbangan tertentu) sudah mau memberikan hak politis bagi negeri jajahannya. Mungkin itu dianggap adil sebagai timbal balik atau rasa terimakasih dari penjajah ke si terjajah. Dari era kolonialisme inilah muncul rasa nasionalisme dari orang yang terjajah, yang merasa bahwa negaranya haruslah ditentukan dan digerakkan oleh rakyat Negara itu sendiri tanpa ada campur tangan dari pihak luar. Setelah era kolonialisme lalu ada era modern yang ditandai dengan terbentuknya liga bangsa-bangsa, ini terbentuk setelah dunia mengalami perang dunia pertama dan perlu ada suatu badan khusus yang diakui oleh semua Negara yang mempunyai otoritas atau wewenang untuk menjaga ketertiban dan kedamaian dunia, selain itu juga karena setiap Negara juga ternyata mau tidak mau mempunyai ketergantungan kepada Negara lainnya, tidak bisa jalan bila sendiri-sendiri.

Teori-teori tentang pembentukan Negara ada beberapa versi, yang paling kuno atau jadul diajukan oleh Thomas Aquinas yang menyatakan bahwa Negara itu adalah anugerah dari Tuhan, sehingga orang yang berkuasa secara tidak langsung adalah representasi dari kehendak Tuhan itu sendiri. Orang yang berkuasa adalah tangan kanan atau ditunjuk oleh Tuhan (Kaisar = anak dewa). Teori kedua adalah kontrak social, perumusnya ada Jhon Locke, Thomas Hook, dll, yang menyatakan bahwa Negara itu adalah suatu proyek bersama, suatu kontrak social yang dikehendaki oleh sekelompok atau mayoritas orang yang merasa harus mewakilkan kekuasaannya pada segelintir orang untuk mengatur hajat hidup orang banyak. Dari teori inilah kemudian muncul demokrasi. Nah, ada beberapa istilah kunci untuk memahami ini, ada Negara, negeri dan bangsa. Ketiganya jelas berbeda. Negara adalah dari perspektif hukum atau pemerintah, sementara negeri adalah dari perspektif wilayah atau land dari Negara itu sendiri, dan bangsa merujuk kepada people atau orang-orang yang mendiami tempat itu sendiri (rakyat). Jadi, dari kontrak social kita menjadi tahu bahwa Negara itu dibuat atas dasar kesepakatan bersama (proyek bersama) dengan tujuan untuk menyelenggarakan kemaslahatan yang semaksimal mungkin atau melangsungkan kesejahteraan rakyatnya. Atau secara lebih gampang dan mudahnya, Negara itu dibentuk oleh wacana atau opini dari semua rakyat di suatu wilayah (kesepakatan). Wacana itulah yang menjadi pokok dasar pembentukan Negara. Nah, bila kita melihat Indonesia, maka Negara Indonesia dibentuk atas dasar wacana setiap founding father yang sudah merumuskan bentuk dari bangunan Negara Indonesia ini. Seberapa kuat dasar yang diberikan kepada Indonesia menentukan seberapa kuat Negara ini akan tetap ada. Artinya bila wacana-wacana itu yang berupa dasar Negara (UUD 1945 dan Pancasila) digugat oleh semua rakyat, maka mau tidak mau Indonesia ini akan runtuh pula. Dan keruntuhan itu bisa dilihat dari apakah masih relevan dasar-dasar yang ditanamkan oleh founding father itu dengan kenyataan Indonesia saat ini? Ini jadi seperti kita ingin menagih janji kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh mereka, apakah sudah terpenuhi belum realisasinya.

Dalam undang-undang dasar 1945, pokok penting penyelenggaraan Negara Indonesia ini didasarkan ada empat hal yang menjadi capaian dan kerja dari pemerintah atau Negara untuk rakyatnya secara keseluruhan yaitu :

1). Di bidang hukum ; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia

2). Di bidang perekonimian ; memajukan kesejahteraan umum.

3). Di bidang pendidikan ; mencerdaskan kehidupan bangsa.

4). Di bidang social politik global ; dan, ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Nah cara terbaik untuk menganalisis lebih dalam dan memahami setiap point dari tujuan adanya Negara Indonesia adalah degan merujuk kembali para pencetusnya dan apa maksud mereka atau tafsirannya terhadap point-point itu. kita kembali ke sumber awal dari suatu kerangka yang ada, semisal point pertama yang berbicara tentang hukum, apa maksud founding father kita dengan “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia” itu, kita bisa merujuk kepada pemikiran Soekarno, bahwa point ini menjamin seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan hukum yang adil, tidak terpisah-pisah atau terbagi-bagi, sehingga jadi jelaslah bahwa di Indonesia hanya ada satu jenis rakyat, yaitu rakyat Indonesia, tidak ada istilah pribumi, asing, non-asing, dlsb. Siapapun yang lahir dan tumbuh serta mencari penghidupan di Indonesia adalah rakyat Indonesia (yang dibuktikan dengan kartu tanda penduduk dan administrasi lainnya). Bangsa kita adalah bangsa yang bhineka dan beraneka ragam, kepentingan bangsa diatas kepentingan golongan atau suku, sehingga tidak ada istilah mayoritas atau minoritas, tidak ada istilah suku jawa lebih unggul daripada suku lain. Indonesia adalah gabungan dari semua suku yang ada dengan keunikan dan khasnya masing-masing, suku Sunda, Jawa, Madura, Dayak, Papua, Aceh, Melayu, dlsb.

Kemudian point kedua berbicara tentang perekonomian Negara, bahwa tujuan adanya Indonesia ini adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Kira-kira siapakah sosok atau tokoh yang relevan dan kompeten di bidang ini? Kita mengenal Bung Hatta sebagai bapak koperasi Indonesia, focus dan konsen perjuangan beliau selain memperjuangkan kemerdekaan negeri ini adalah menciptakan konsep yang memungkinkan semua rakyat bisa sejahtera dengan konsep koperasinya. Perpaduan antara kapitalis dan sosialis yang sesuai dengan tabiat rakyat Indonesia yang suka gotong royong. Dalam bukunya, Bung Hatta dengan gamblang menyebutkan apa maksud dari system koperasinya itu,

Problem di bidang hukum ; tirani mayoritas (?), Negara yang seperti absen dalam penderitaan setiap warga atau golongan, hukum tajam kebawah tetapi tumpul ke atas. klise sekali, bukan? tetapi ini masalah mendasar di sebuah negara yang mengatasnamakan negara hukum. sewaktu SMA, ini doktrin yang paling melekat yang saya dapatkan dari pelajaran PKN, bahwa Indonesia itu adalah negara hukum. terkesan bertolakbelakang dengan realitas? itu lain soal (problem juga sebenarnya). tapi dasar ini yang seharusnya menjadi panduan dan pedoman kita dalam berkebangsaan. hukum kita mungkin masih jauh dari sempurna (ya iyalaah), tetapi itu bukan alasan untuk tidak menggunakan hukum itu sendiri bukan? kalau lah hukum kita masih bersifat kolonialis (karena diwariskan dari Belanda), ya apa salahnya kalau direvisi dan dikoreksi bersama-sama sehingga menghasilkan hukum yang berkeadilan, beradab dan memihak pada kebenaran. hukum ini adalah masalah fundamental, dan bagamana warga negara memandang hukum itu, dengan sendirinya mencerminkan pandangan seberapa jauh warga negaranya itu beradab dan maju. hukum menjadi tolak ukur. hukum tidak di desain untuk menjadi alat politik dan kekuasaan semata yang dengan seenaknya bisa digunakan untuk menindas yang lemah, tetapi hukum ada untuk menjaga neraca keadilan itu tetap seimbang. hukum tidak bertujuan untuk menghukum semata, tetapi lebih jauh daripada itu, hukum dibuat untuk mencegah para bajingan bertindak seenaknya. hukum adalah wajah peradaban dan emanusiaan yang tertinggi, itusebabnya Pram pernah berujar dalam novel tetraloginya yang aduhai keren gilanya itu, “Kalau kemanusiaan (dan hukum) tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia itu seorang sarjana.”

Problem di bidang perekonomian ; Tingkat pengangguran dan gaps antara yang kaya dengan yang miskin semakin menganga, isu-isu liberalisasi asset Negara, keterlibatan dalam pasar bebas (ekonom neo-liberal), dlsb. tentang isu pasar bebas itu sendiri, ini masalah ekonomi yang tidak mudah membeberkannya dalam beberapa kata, perlu ruang tersendiri. anak-anak SFL (Student For Liberty) Indonesia, giat sekali mengkampanyekan isu ini.

Problem di bidang pendidikan saat ini ;

PTN-BH atau Perguruan tinggi negeri badan hukum yang baru-baru ini ramai diterapkan dibeberapa perguruan tinggi negeri seperti ITB, UI, UGM, UB, Unair, ITS, dll. Terdapat pro-kontra tentang penerapan status ini di kampus-kampus tersebut, mulai dari elemen mahasiswa, dosen, hingga birokrat kampus. Kampus yang menyandang status PTN BH diartikan sebagai kampus yang otonom atau mandiri dalam masalah anggaran penyelenggaraan pendidikannya. Disini Negara tidak  lagi memberikan 100% APBN untuk setiap kampus negeri. Jadi pihak kampus mau tidak mau harus mencari anggarannya dari mana saja, bisa dari sponshorship dengan perusahaan, biaya masuk mahasiswa, biaya persemester, dlsb, jadi boleh dikata  bahwa PTN BH itu adalah Upaya Pemerintah Menswastakan Negeri.

Di akhir, dan yang perlu di garis bawahi, bahwa kita perlu mengingat kembali bahwasannya Indonesia ini adalah rumah kita. kita harus paham betul apakah Indonesia itu, dan disinilah kita bisa berperan. Indonesia sebagai wacana, dan kita sah-sah saja menganggapnya demikian, adalah sebuah konsep atau gagasan yang bisa jadi belum tentu final. Indonesia dirumuskan oleh para founding fathers kita (kita sangat berterimakasih kepada mereka), dimana orang-orangnya sama juga seperti kita, manusia biasa yang bisa saja khilaf dan salah, sehingga jangan menganggap bahwa wacana Indoneisa ini adalah wacana yang final. sebagai wacana, ia bisa mengalami perubahan, dan untuk itulah kedewasaan kita dalam berbangsa ditimbang. dinamika kebangsaan kita itu terus berubah. para founding fathers adalah generasi perintis dan pelopor, dan generasi kita adalah generasi perubah, yang semoga saja di tangan generasi kita, Indonesia bisa bernasib lebih baik lagi, menjadi negara yang maju dan sejahtera, dimana rakyatnya mempunyai nilai dan kualitas kemanusiaan yang tinggi. Kalau doanya Mbah Moen (KH Maimun Zubair, ulama sepuh NU), beliau sangat berharap bahwa Indonesia bisa menjadi pemimpin dunia ini, menjadi kiblat utama tentang bagaimana sebaiknya manusia menjadi manusia.

Saya tidak memaksudkan bahwa Indonesia sebagai wacana yang belum final sebagai keinginan atau keharusan untuk merubah ideologi negara. indonesia bukan negara agama (karena rakyatnya tidak hanya memeluk satu agama tok), tetapi adalah negara multikultur dan muti etnis serta multi agama, sehingga keberagaman ini tidak mungkin bisa ditampung dalam sebuah ideologi agama tertentu (khilafah). untuk lebih jelasnya mengapa Indonesia tidak cocok bila menggunakan ideologi agama, bisa membaca buku Ilusi negara Islam, karangan Abdurahman Wahid, Gus Mus dan Syafi’i Maarif (supervisinya).

*Dicukupkan segitu dulu bualannya, karena saya akan segera hibernasi kembali untuk waktu yang tidak akan ditentukan. 😀

Culture · Ekonomi · Engineering

Startup untuk Indonesia

unnamedPenetrasi internet sudah semakin luas masuk ke daerah-daerah di Indonesia. Disinyalir bahwa pengguna aktif internet saat ini terhitung sebesar 132,7 juta orang atau sekira 51,8% dari total populasi indonesia. Angka yang cukup besar. Internet sudah bukan barang mewah lagi, melainkan jadi potensi yang seharusnya bisa menghasilkan perbaikan bagi sektor kesejahteraan dan perekonomian Negara. Apa mungkin? Sangat mungkin. Meski pengguna terbesar internet di Indonesia masih belum tersebar merata karena hampir 65%-nya terdapat di pulau Jawa. Ini menjadi potensi yang harus dimaksimalkan agar Indonesia tidak sekedar menjadi konsumen internet tetapi menjadi pemain aktif dan mampu meraih profit dari hingar bingar teknologi internet.

Gerakan nasional 1000 startup terdiri dari beberapa tahap ; ignition, networking session, workshop, hackathon, bootcamp dan incubation. 1000 startup itu sendiri dialokasikan untuk jangka waktu 5 tahun, jadi ada sekira 200 startup setiap tahunnya yang lahir dari 10 kota besar, atau setiap kota-kota itu bisa menelurkan sekira 20 startup baru setiap tahunnya.

Pemerintah, dengan visi jauh kedepan yang dibawa oleh pak Presiden, untungnya secara sadar mau untuk ikut serta dalam perhelatan akbar dari startup ini dengan mencanangkan tujuan Indonesia sebagai the digital energy of asia ; an accelerated and empowered SME-Driven digital economy. Ini langkah taktis yang diambil pemerintah guna mengejar ketertinggalan kita dari negeri-negeri maju lainnya, terlebih adanya pergeseran basis industri dimana kita tidak bisa lagi sepenuhnya bertumpu pada sumber daya alam yang kian hari kian berkurang (minyak, gas, dll). Sudah saatnya Indonesia menjadi pemain baru di kancah penggunaan internet untuk bisnis (karena ini memang dunia baru. Negara-negara lain juga masih sama-sama bingung dan sedang belajar). Startup sendiri diartikan sebagai suatu penyelesaian masalah dengan menggunakan teknologi. Untunglah Indonesia banyak sekali masalahnya :D, kita tidak kekurangan masalah, malah berlimpah, dan itu bagus untuk iklim pengembangan startup. masalah-masalah itu ikut menyuplai ide-ide untuk para founder startup. Karena didalam startup itu ada tiga komponen penting yang menunjangnya, yaitu ada masalah, kemudian dicari solusinya, lalu dibuatlah produk (kreasi) akhirnya yang bisa saja akan terus mengalami perkembangan.

Gerakan nasional 1000 startup digital ini digagas oleh beberapa orang yang peduli kepada Indonesia, yang ingin melihat Indonesia bisa bersaing dengan Negara-negara lain, yang ingin menyelesaikan satu persatu permasalahan di Indonesia, dan yang berharap bahwa Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih baik dan layak untuk ditempati. Orang-orang dibelakang gerakan ini memang secara aktif berdialog dan terjun langsung ke lapangan dunia startup, bahkan diundang oleh presiden dan ikut mendampingi beliau ketika melakukan kunjungan (study banding) ke Silicon Valley, kota pusat pengembangan teknologi di California, Amerika Serikat. Markasnya google, facebook, apple, twitter, dan semua startup besar lainnya. Sepulangnya presiden dari kunjungan yang sangat berkesan dan membuka pikiran itu (untunglah kita punya presiden yang open minded dan tidak kolot) yang dengan menggebu-gebu bilang bahwa ia ingin Indonesia bisa seperti itu. ingin Indonesia ikut dalam pemanfaatan teknologi internet ini. Pernah Pak Yansen Kamto menanyai audiens bahwa berapa banyak dari kita yang hanya sekedar konsumen dan penikmat dari layanan-layanan startup itu, yang hanya menjadi penonton saja. Tetapi kita harus bisa membuatnya.

Dalam melihat perkembangan startup di dunia saat ini, menarik untuk membandingkan visi yang dibawa oleh Amerika dan China. Pada beberapa hal kedua Negara ini mewakili ideologinya masing-masing, dan Indonesia bisa belajar banyak dari mereka. Amerika mempunya visi “membebaskan”, di internet jangan ada kekangan, sehingga itu bisa lebih memberikan keleluasan bagi warga amerika untuk terus berinovasi dan menciptakan hal-hal baru (tidak heran kalau kita lihat bahwa kebanyakan teknologi yang “wah-wah” (ide-ide gila) biasanya terlahir di sana), silicon valley adalah contoh yang tepat untuk menjelaskan visi amerika itu, disana orang bebas berkreasi. Sementara China menerapkan kebijakan Internet plus, maksudnya adalah pemanfaatan internet untuk berbagai sector, semisal internet plus umkm, internet plus ojek, internet plus bisnis, internet plus baso, internet plus cilok, dlsb. *hehe. Polanya di drive oleh pemerintahnya, jadi pemerintah tidak membiarkan warganya berbuat sebebas-bebasnya. Pemerintahnya sangat protektif, sehingga kita tidak akan melihat facebook di China, google pun tidak ada, uber juga dilarang, tapi hasilnya mereka sendiri yang membuatnya, ada facebook versi china, google versi china, uber versi china, dll. Nah, kira-kira Indonesia cocok untuk meniru yang mana? Apakah Indonesia akan bisa berkreasi bila pemerintah membebaskannya? Saya kira tidak akan bisa, indoensia belum siap untuk seperti amerika. Kalaupun ada beberapa pemain besar yang terlahir seperti gojek, tokopedia, bukalapak, dlsb, itu murni accident. Pemerintah malah membuat mereka jadi terkekang dengan beberapa regulasinya. Ya kan? :D. Meskipun sekarang pemerintah sudah mau berubah, sudah lebih mau mendengar karena merasa bahwa kita sedang tertinggal dan perlu mengejar. Ini dibuktikan dengan positioning dari pak presiden dengan menerbitkan 6 policy digital economy, yang melahirkan 14 policy package. Isu-isu kuncinya adalah founding, cyber security, tax, logistic, education and human resources, dll. Pemerintah sangat konsen sekali untuk mengembangkan dan memacu anak bangsa agar bisa menciptakan produk-produk startup.

Artinya dunia sedang berubah (*Tsaaah, kibas rambut). Bahwa saat ini dunia sedang bergeser ke perekonomian digital, orang tidak lagi perlu mengantri lama-lama di bank untuk membuat akun, tinggal duduk manis di rumahnya di depan computer dan semua bisa terlayani, orang tidak lagi perlu berpanas-panas ke jalan atau ke pasar, semuanya tinggal klik klik klik. Tersedia di hape pintar yang tingga di charge bila mau habis batereinya. Tetapi di lain pihak, ini juga menimbulkan distraktif digital ekonomi. Artinya akan banyak lahir peluang pekerjaan-pekerjaan baru yang muncul diikuti hilangnya pekerjaan-pekerjaan lama, seperti sekarang ada orang dengan pekerjaan data analysis, dlsb. Pekerjaan-pekerjaan yang aneh-aneh akan muncul, dan bisa jadi jurusan yang kita ambil sekarang di masa yang akan datang sudah punah pekerjaannya (bila tidak bisa menyesuaikan dan adaptif).

Target akhir dari startup ini adalah e-commerce, bentuknya bisa bermacam-macam ; service (seperti gojek), good product, medium product, dlsb. Dengan angka transisi via internet mencapai dua ribu triliun rupiah. Saat ini hampir 60% GDP ditunjang oleh umkm. Dari 57 juta, sekira 8%nya menyumbang GDP. Nah, tujuan pemerintah adalah bisa mengonlinken umkm tersebut.    

Pemerintah juga mencanangkan program yang bernnama “Palapa ring project”, sebuah program untuk membuat internet highspeed dari fiber optics. Siapa kira-kira yang akan senang kalau internet masuk ke papua? Yap. bukan haynya orang-orang papua saja, melainkan pihak Google, FB, whatsupp, instagram, dll juga ikut senang. Mereka dapat profit tanpa harus mendirikan perusahaan di Indonesia. Artinya mereka dapat penghasilan tanpa harus membayar pajak ke pemerintah Indonesia.

Tahun lalu traffic internet perdetik di Indonesia adalah lima ratus terabyte, dan tahun ini setelah 4G masuk jadi tiga kali lipatnya. Jangan kira kalau kita internetan itu murni menggunakan uang kita saja, tidak sesederhana itu. coba lihat kedalam hape kita, bisa dipastikan bahwa 90% aplikasi yang ada didalam hape kita adalah aplikasi yang dibuat oleh luar negeri, mulai dari facebook, instagram, whatsapp, gmail, google, yahoo, dlsb. Aplikasi yang berbasis di luar negeri itu bila kita akses (servernya kan ada di luar negeri juga) secara tidak langsung morotin devisa Negara, karena Negara jadinya harus membayar untuk setiap bite data yang kita akses dari luar negeri tersebut. Berbeda halnya bila aplikasi itu ada di dalam negeri, ketika kita mengaksesnya, servernya kan local, sehingga jaringan data hanya berputar di Negara sendiri. Itulah arti penting kenapa kita harus mulai mengembangkan startup ini hampir di setiap lini, tidak lain adalah untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap produk-produk dari luar negeri.

Penting juga untuk melihat perbandingan dua Negara yang nyaris sama dalam beberapa hal dan sangat jauh berbeda dalam beberapa hal lainnya, yaitu Indonesia dengan Korea selatan. Dua Negara ini merdeka pada tanggal yang tidak jauh berbeda, hanya selang beberapa belas hari, tapi indeks kesejahteraan dan GDPnya sangat jauh berbeda. Padahal secara sumber daya alam kita lebih unggul, pun begitu juga dengan populasi, tapi ternyata korea selatan jauh melesat di depan kita, bahkan produsi filmnya pun menjadi santapan kita. Padahal jumlah produksi sinetron kita jauh lebih banyak daripada mereka. Tapi itu soal lain, yang jelas, point pentingnya adalah Negara kita dengan populasi lebih dari 250 juta dengan 50% usianya berada pada usia 30 tahun (usia produktif), tetapi ternyata sejumlah 944.666 lulusan kuliahan tidak mempunyai pekerjaan. Kita bisa melihat ini sebagai suatu problem serius, tapi untuk orang-orang optimis, itu sebetulnya adalah potensi. Jadi, marilah kita ubah pola pikir kita. Kita rombak MINDSET. Pola pikir seorang co-founder startup selalu melihat potensi dan peluang dari setiap masalah yang ada. Meskipun membuat startup juga tidak sesederhana dan segampang yang orang kira. Perlu kerjakeras dan kesungguhan yang mampu membuat startup bisa terus berjalan dan berkembang, tidak karam ditengah jalan.

Membuat startup artinya mau berlelah-lelah untuk berbuat dan melakukan sesuatu dengan kerja keras. Dimana-mana yang dinamai pengusaha itu ya merujuk ke orang yang benar-benar mau berusaha. Startup selalu identic dengan inovasi, inovasi itu sendiri adalah sesuatu yang kita sendiri tidak tahu selanjutnya itu akan seperti apa. Makanya dalam dunia startup itu tidak ada kegagalan (dalam proses trial and error), yang ada adalah pembelajaran. Karena setiap kegagalan itu selalu ada nilai pembelajarannya. Startup juga bukan sekedar kita menjual barang lalu diiklankan melalui facebook, whatsapp, instagram atau apa, startup bukan sekedar itu, melainkan sejenis tech company (bukan another trading  company). Intinya harus bisa fokus pada gambaran besarnya.

Penekanan startup adalah Solved problem ; bagaimana ktia bisa meng-add value pada sesuatu, lalu optimize, dan men-disrupt. Contoh, biasanya orang membuat skripsi hanya untuk syarat lulus, setelah itu hanya disimpan dan menjadi tumpukan yang tidak berharga, seorang co-founder startup akan berpikir untuk memanfaatkan masalah ini, dari sekian juta skripsi itu yang terbengkalai, kenapa tidak mencoba untuk mengumpulkannya dan barangkali memang ada ide menarik yang terdapat didalam skripsi itu yang bisa digunakan untuk keperluaan perusahaan orang, atau ada orang yang tertarik untuk mendanai, kan itu bisa jadi peluang usaha juga. Add value itu menambah nilai pada sesuatu yang asalnya seperti tidak mempunyai nilai sama sekali.

Saran baik dari pak Sony yang masih terngiang-nginga di telinga saya adalah ini, “Yang membuat kalian benci, yang membuat kalian annoying pada sesuatu, bisa jadi sesuatu itu peluang karir kalian. Tujuan kalian hidup untuk bisa menyelesaikan atau memberikan solusinya.” Saya berpikir, benar juga. Apa-apa yang mengganggu kita adalah potensi untuk dijadikan ide dasar startup, seperti saya yang kadang suka terganggu dengan susahnya mencari buku-buku bacaan yang bagus karena terkadang di toko buku besar, mereka hanya menjual buku yang laris dan popular, entah bukunya bagus atau sampah, toko buku yang sudah menjadi kapitalistik. Biasanya saya menjumpai buku-buku bagus yang sudah sangat sulit dicari itu lewat pelapak buku bekas, toko buku online yang dikelola oleh beberapa gelintir orang berdedikasi, dlsb. Saya keidean untuk membuat startup yang bisa mengumpulkan ‘orang-orang’ ini. Kadang orang membeli buku hanya untuk dibaca, setelahnya disimpan di dalam rak, ini kan bisa jadi peluang juga untuk saling bertukar dengan oranglain atau mungkin untuk saling jual, siapa tahu kan. 😀

Menurut pak Yansen Kamto, terdapat lima area potensi startup ; agriculture, education, health, tourism dan logistic.  Setiap bidang itu mempunyai masalahnya masing-masing. Pak Yansen memberikan contoh praktis untuk setiap bidangnya, tapi tidak saya tulis karena sepertinya tulisan ini sudah kelewat panjang. Jadi mungkin kali lain.

 

Buku · Kampus · Review

Resensi buku The Elements of Journalism

Judul               : The Element of Journalism

Penulis             : Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

Tahun Terbit    : 2001

Halaman          : 214 hlm

Peresensi         : Sandri

(*Pernah dipublish oleh Persma ITS, LPM 1.0)

buku 9 element of jouralism
Diterjemahkan oleh Yayasan Pantau, tahun 2006

Diantara buku-buku yang membahas tentang dunia jurnalisme (yang kebanyakan ditulis oleh Jurnalis), tidak banyak yang membahas tentang prinsip-prinsip dasar yang bersifat umum dalam mekanisme kerja jurnalisme itu sendiri, apalagi yang bisa dijadikan “kitab suci”nya kaum jurnalis. Padahal dunia pers itu sendiri mendapatkan momentumnya sudah sejak jauh-jauh hari dan semakin mendapatkan tajinya ketika dunia dimasuki oleh teknologi informasi ; televisi, radio dan sekarang, internet. Jadi kebayang kan betapa urgent-nya untuk menetapkan standard dan elementary principlesnya, sesuatu yang mendesak, gawat dan tak bisa ditawar-tawar lagi.

Pers atau jurnalisme dipandang sebagai senjata yang ampuh dalam mendikte kehidupan masyarakat, sesuatu yang paling disukai oleh kaum yang memerintah. Maka sering kita mendengar ocehan ‘hadits’ yang tak bersanad, bahwa barangsiapa yang menguasai pers atau media, maka ia akan menguasai dunia.

Karena urgenitas itu seakan-akan diabaikan dan ditunda-tunda, akhirnya malapetaka itu terjadi. tepatnya di tahun 90-an era kegelapan dalam dunia jurnalisme mengalami katastropi yang mengerikan ; pers tidak lagi dipercaya oleh masyarakat sebagai pemberi berita atau informasi. Kredibilitas pers diragukan dengan semaraknya permainan kapitalistik dan penguasa. Pers penuh dengan bisnis dan mengesampingkan etika atau kaidah jurnalistik. Dan ini tidak baik untuk kehidupan pers jangka panjang. Akhirnya di tahun itu beberapa jurnalis senior berkumpul dan mengadakan forum untuk menentukan dasar-dasar atau prinsip jurnalisme yang menempatkannya kedalam tempatnya lagi, agar jurnalisme kembali terhormat. Isi dan hasil dari forum itu dituangkan dalam buku ini, The Element of Journalism. Sebuah buku apik yang meletakan prinsip-prinsip dasar dan kaidah jurnalisme yang bisa dipakai oleh siapa saja,khususnya kaum jurnalis, dalam kaitannya untuk mewartakan ‘kebenaran’ atau informasi yang bias dari keliru atau salah. Lebih dari 1200 wartawan terlibat dalam pembuatan buku ini (dalam bentuk wawancara dan sumbang saran).

Setelah di cetak ulang entah yang keberapa kalinya, buku ini benar-benar dijadikan kitab sucinya media atau jurnalisme. Belum lengkap rasanya bila yang bergiat dibidang jurnalistik tidak membaca buku ini. Katanya Majalah Gatra sampai harus menerjemahkan buku ini untuk konsumsi pribadi perusahaannya, mau tidak mau setiap karyawannya diharuskan untuk membaca buku ini.

Buku ini diawali dengan perbincangan tentang wacana jurnalisme itu sendiri. Sangat runut dan sistematis. Apa sebetulnya yang dimaksud jurnalisme, siapa yang berhak mendefinisikannya, dari sudut pandang apa hingga mengapa kita harus membakukan definisi itu. di halaman 16 dan 17 tercatat bahwa :

“Teknologi sekarang membuat informasi tersedia untuk banyak orang, dengan ritme yang terlalu cepat. Dan informasi itu ternyata menciptakan demokrasi. (hal 16). Prinsip dan maksud dari jurnalisme itu sendiri didefinisikan oleh sesuatu yang seharusnya menjadi dasar, yang berfungsi sebagai permainan baru dalam kehidupan orang. jurnalisme tidak seharusnya didefinisikan oleh teknologi, oleh jurnalis, atau pers atau teknik yang mereka kerjakan. tapi harus mengacu ke basik atau dasar dari keberadaan jurnalisme itu sendiri. “Maksud atau tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan bagi masyarakat umum informasi yang mereka perlukan untuk bebas dan pemerintahan sendiri.” (hal 17) .

Elemen atau prinsip dasar jurnalisme itu semuanya ada sembilan, prinsip2 ini bisa menjadikan jurnalisme sebagai penyedia akses informasi yang kredibel yang dibutuhkan masyarakat adalah sebagai berikut ;

1). Jurnalisme adalah (mewartakan) kebenaran

2). Kesetian pertama adalah untuk masyarakat

3). Disiplin dalam melakukan verifikasi

4). Jurnalis harus menjaga independensi

5). Jurnalisme sebagai pemantau kekuasaan dan penyambung lidah mereka yang tertindas

6). Jurnalisme sebagai forum publik

7). Jurnalisme itu harus memikat sekaligus relevan

8). Kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif

9). Setiap wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. 

Elemen jurnalisme yang pertama adalah kebenaran, yang ironisnya, ternyata yang paling membingungkan. Karena definisi kebenaran itu bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang yang digunakan. Bisa bermacam-macam tergantung situasi dan kondisi. Dan kita bisa sampai berbusa-busa ketika mendiskusikan tentang kebenaran. Saya sendiri sudah muak dengan banyaknya filsup yang mencoba mendefinisikan kebenaran itu. tapi akhirnya mendapatkan kompromi dari kenyataan bahwa ternyata kebenaran itu relatif *Tsaah, kibas rambut.

Kebingungan itu sejatinya karena dalam teorinya, kebenaran itu ada banyak macamnya seperti kebenaran fungsional, kebenaran objektif, kebenaran subjektif, kebenaran realitas, teori kebenaran koherensi lah, teori kebenaran korespondensi, teori kebenaran performatif, kebenaran pragmatis, kebenaran proposisi, kebenaran paradigmatik, dlsb. Jadi ketika Bill menjelaskan bahwa kebenaran adalah prinsip pertama jurnalisme, kita akan bertanya lebih lanjut, bahwa yang dimaksudkan doi itu kebenaran yang mana? Kebenaran menurut siapa? karena setiap orang itu punya latarbelakang yang berbeda-beda, pengalaman yang beragam, tingkat intelektualitas, buku bacaan, agama, etnis, dlsb yang sangat menentukan cara pandang, cara berpikir dan definisinya terhadap kebenaran. Terus lahyaopo, rek?

Nah, ternyata dari berbagai kebenaran itu, jurnalisme hanya mendasarkan kebenarannya pada kebenaran fungsional, kebenaran dalam tataran praktis, kebenaran yang bisa dibentuk dari hari ke hari. *skip dulu ya, bakalan panjang kalo harus dijelaskan disini. :p

Lanjut ke prinsip kedua, bahwa seorang jurnalis harus menempatkan loyalitasnya untuk masyarakat, bukan untuk perusahaannya. Loyalitas ini sangat penting apalagi sejak tahun 1980-an kabarnya banyak wartawan amerika yang berubah jadi orang bisnis. Sebuah survei menemukan separuh wartawan Amerika menghabiskan setidaknya sepertiga waktu mereka buat urusan manajemen ketimbang jurnalisme.

Prinsip ketiga adalah disiplin dalam melakukan verifikasi. Ini berguna untuk membedakan mana gosip, mana fakta, mana isu, mana propaganda, atau mana fiksi. Jadi harus ada batas yang jelas antara fiksi dan jurnalisme. Jurnalisme tidak boleh dicampuri oleh fiksi atau hal-hal yang dramatis misalnya. Ini sebetulnya membingunkan juga karena kalau hanya menyajikan apa adanya, terasa tulisan itu akan kering tanpa bumbu-bumbu fiksi atau sastra, tapi nanti akan kita lihat di prinsip selanjutnya. Intinya sih jurnalisme itu meliput untuk kepentingan masyarakat yang bisa menghibur tapi juga bisa tidak. Kalau tidak menghibur, ya jangan dipaksa-paksakan untuk bisa menghibur.

Prinsip ke empat adalah independensi. Dan itu tidak berarti netral. Karena menjadi netral itu bukan prinsip dasar jurnalisme. Prinsipnya, wartawan harus bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput. Intinya jurnalisme harus mengabdi pada kepentingan masyarakat, dan memenuhi berbagai ketentuan lain yang harus ditaati oleh seorang wartawan.

Prinsip kelima adalah fungsi jurnalisme sebagai pemantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Memantau kekuasaan ini dilakukan dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi. Salah satu cara pemantauan ini adalah melakukan investigative reporting, sebuah jenis reportase di mana si wartawan berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, siapa yang seharusnya jadi terdakwa, mirip-mirip teknik pengungkapan suatu kejahatan oleh seorang detektif. Betapa kerennya menjadi seorang jurnalis itu kan? Haha. Ayo masuk LPM (lumayan numpang promosi :p ).

Prinsip ke enam adalah jurnalisme sebagai forum publik. Kalau untuk prinsip ini sudah jamak bahwa di setiap surat kabar umumnya mereka menyediakan rubrik khusus pembaca atau masyarakat untuk mengungkapkan uneg-unegnya semisal surat pembaca. Termasuk untuk mempertanyakan berita yang di muat di surat kabar itu juga. Karena umumnya masyarakat juga ingin berkomentar terhadap suatu peristiwa. nantinya komentar-komentar itu akan didengar oleh para politisi dan birokrat yang menjalankan roda pemerintahan. Memang tugas merekalah untuk menangkap aspirasi masyarakat. Dengan demikian, fungsi jurnalisme sebagai forum publik sangatlah penting karena, seperti pada zaman Yunani baheula, lewat forum inilah demokrasi bisa ditegakkan. *Eeaaa.

Prinsip ketujuh adalah perlunya jurnalis yang memikat sekaligus relevan. Ini terbilang susah. Teknik penulisan berita yang sesuai fakta, tanpa adanya penambahan hal-hal fiksi atau lebay, tapi tetap bisa memikat sekaligus relevan. Bill Kovack menyarankan untuk setiap jurnalis agar tidak kering atau garing dalam tulisannya untuk belajar menulis narasi (narrative report) atau nonfiksi yang menjadikan narasinya bercorak kesastra-sastraan. Jadi bagaimana menampilkan sebuah laporan atau tulisan yang “enak dibaca dan perlu” (motto majalah Tempo). Jangan sampai isi laporannya hanya angka-angka, data, dan hal-hal membosankan lainnya. Untuk melihat laporan yang memikat sekaligus relevan bisa membaca bukunya Seno Gumira semisal Tidak ada Ojek di Paris, Ketika Jurnalisme Di Bungkam Sastra Harus Bicara, Layar Kata, Kisah Mata, Surat Dari Palmerah atau Sembilan Wali dan Siti Jenar.

Lalu prinsip ke delapan adalah kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif. Kovach dan Rosenstiel mengatakan banyak suratkabar yang menyajikan berita yang tak proporsional. Judul-judulnya sensional. Penekanannya pada aspek yang emosional. Yang judul-judulnya ndak proporsional dan cenderung membuat kita muak duluan semisal berita-berita di U*C news. Haha. Saya sudah lama menguninstal aplikasi browser ini karena blas tidak mencerdaskan sama sekali. Wkwkwk

Terakhir, prinsip ke sembilan adalah bahwa setiap jurnalis harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Ini prinsip yang menjamin aktualisasi dan idealisme seorang jurnalis yang tidak musti di dikte oleh perusahaan atau kelompoknya. Ini murni kata hatinya (kalo hatinya belum patah loh yah). Jadi bisa saja seorang wartawan tidak setuju dengan pandangan dewan direksi atau bosnya dan bebas-bebas saja ia untuk mendebatnya, untuk mengungkapkan kata hatinya. Makanya biasanya di ruang redaksi itu kerap terjadi “suara-suara berisik”. Ruang redaksi tidak seharusnya menjadi sebuah ruang kediktatoran, kan. Karena pimred itu bukan Tuhan, yang bisa saja keliru, khilaf atau salah. :p Nah setiap redaktur sepatutnya harus paham ini, mereka memang bertugas untuk mengambil keputusan final terhadap apa yang akan di publis, tapi mereka juga harus bisa mengakomodir dan membuka diri agar setiap orang yang hendak memberikan kritik atau pandangannya bisa terakomodasi. Kata Bob Woodward dari The Washington Post pernah mengatakan bahwa, “Jurnalisme yang paling baik seringkali muncul ketika ia menentang manajemennya.” Nah kan.

Engineering · Kampus · Science

Keantariksaan kita

Kemarin (17/02) saya menyempatkan hadir di kuliah tamu yang digagas oleh Jurusan Teknik Geomatika ITS yang menghadirkan kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin dengan tema “Peran Iptek dan Antariksa untuk menjadikan Indonesia Maju dan Mandiri”. Disana dibicarakan tentang apa saja yang telah-sedang dan akan dilakukan oleh LAPAN untuk menunjang kebutuhan Indonesia terhadap penguasaan antariksanya yang luarbiasa kerennya. Karena bidang antariksa ini pada gilirannya akan terintegrasi dengan seluruh aspek kehidupan bangsa, tetapi difokuskan pada pengkajian cuaca antariksa, atmosfer, sains keantariksaan (beserta teknologinya yang berupa roket, satelit dan aeronautika atau penerbangan), penginderaan jauh dan kajian kebijakan aerospace dan antariksanya.

LAPAN juga benar-benar menjadi sebuah kebanggaan nasional. Saya terpikir untuk mengambil KP (kerja praktik) disana saking excitednya dengan proyek-proyek LAPAN, terkhusus di bidang teknologi satelit, roket, radar dan penginderaan jauhnya. Itu adalah teknologi-teknologi yang bisa menopang, menunjang dan menyokong kemandirian, kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.

Pengembangan di bidang keantariksaan sudah seharusnya menjadi prioritas dalam pengembangan jangka panjang, kalau tidak, kita akan tertinggal dari Negara-negara lain. Sains antariksa ini bila kita tahu, pada akhirnya merupakan suatu lintas disiplin ilmu yang integratif, saling berhubungan dengan bidang yang lain. Siapa sangka bahwa proyek-proyek keantariksaan bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk komunikasi (yaeyalaah. Haha), navigasi dan prediksi. Saya semakin tertarik untuk memikirkan ulang proyek-proyek yang dikembangkan oleh LAPAN ini untuk mengkorelasikannya dengan teknologi big data dan data science yang sedang booming itu. di ITS sendiri, karena teknologi itu jurusan matematika langsung cabut dari fakultas mipa dan memilih untuk mendirikan fakultas sendiri, fakultas matematika dan aktuaria. Oia, big data dan data science itu sendiri merupakan disiplin ilmu yang relative baru, gabungan antara ilmu matematika (statistika) dan ilmu computer dan lulusannya termasuk yang paling banyak dicari sampe Harvard Business Review pernah memuat tulisan Data Scientist: The Sexiest Job of the 21st Century. Ini bukan tanpa dasar. Karena pada tahun 2011, McKinsey Global Institute memprediksi adanya kekurangan hampir 200 ribu ilmuwan data pada 2018. Ini baru di Amerika Serikat saja. Pantesan kan kalau perusahaan mengiming-imingi mereka dengan gaji ukuran “jumbo”.

Balik lagi ke LAPAN :p. Dari keempat misi utama LAPAN yang telah disebut diatas itu, dipaparkan lebih detail dalam tujuh program utamanya yang berupa pengembangan teknologi satelit, teknologi roket (termasuk di bidang aeronautika dengan mulai mengembangkan pesawat N2-19), pengembangan bank data penginderaan jauh nasional dengan citra satelit resolusi tinggi (ini nantinya bisa digunakan untuk memetakan bencana, bidang agraria, pertanian, kelautan atau kemaritiman, dlsb), dan empat program lainnya saya lupa. Haha. Disini saya hanya akan menuliskan sedikit saja tentang teknologi satelit, roket dan radar serta aplikasi lebih lanjut dari ketiga teknologi itu.

1). Teknologi Satelit

Sesungguhnya yang dikhawatirkan oleh orang saat ini bukan semata-mata kiamat manusia (karena kalau kiamat manusia terjadi, ya sudah. Itu menandai berakhirnya kehidupan manusia di bumi), tetapi kiamat teknologi. Karena hampir keseluruhan system teknologi dan informasi (semisal internet dan jaringan komunikasi data) yang kita gunakan sekarang bergantung sepenuhnya pada ruang antariksa, medan magnet, dan atmosfer dengan gelombang-gelombangnya. Nah bila ada badai matahari atau yang mengacaukan system antariksa itu, maka artinya teknologi itu semua akan ambyar semuanya. Terlebih karena antariksa juga merupakan wilayah operasional satelit, sementara satelit ini kita tahu sangat buanyak sekali kegunaannya. Sehingga menjadi penting untuk bisa mengamati dan memantau cuaca antariksa ini.

Indonesia, yang adalah suatu bangsa yang luas yang disebut sebagai nusantara. Kata Prof Thomas, Nusantara itu sendiri adalah pulau-pulau yang disatukan oleh laut. Maka mutlak untuk menjembatani semua wilayah itu dan mempertahankannya, penguasaan kita terhadap system komunikasi yang berbasis satelit mutlak diperlukan. Dan btw, umur satelit itu ternyata pendek loh, kira-kira 10 sampai beberapa puluhan tahun. Beberapa satelit yang sudah diluncurkan lapan adalah seri A hingga A3 dengan misi yang berbeda-beda. Sisanya yang sedang dikembangkan (sekaligus mencari dana tambahan dari mitra bisnis) adalah lapan A4 (misi kemaritiman) dan A5 (misi radar atau SAR). Serie A ini merupakan serie satelit eksperimen dan dicukupkan hingga A5.

Citra satelit yang bisa dibuat Lapan ada 3 macam ; resolusi rendah (untuk keperluan cuaca dan lingkungan), resolusi menengah (lingkungan dan hutan) dan resolusi tinggi (pembuatan peta skala 1:1000). Nantinya satelit-satelit yang dikembangkan oleh lapan ini bisa digunakan sebagai system pemantau bumi nasional yang meliputi pemantauan kebakaran hutan (deforestasi dan carbon stock atau berupa kajian iklim), bencana, klasifikasi lahan atau tanah, infrastruktur pertanian (berupa system kanal irigasi yang sudah benar atau terlihat ruwet sehingga perlu dan bisa dibenarkan alurnya), fase pertumbuhan padi (jadi nantinya kita bisa menentukan distribusi pupuk dan perkiraan masa panen).

Citra satelit resolusi tinggi ini sangat bermanfaat untuk melihat secara lebih jelas potensi kelautan kita. Dengan itu kita bisa mengetahui suhu permukaan laut, kandungan klorofil, hingga bisa memetakan zona potensi penangkapan ikan yang artinya bisa ikut membantu nelayan  untuk meningkatkan produktifitas tangkapan ikannya. Nelayan gak perlu lagi was-was ketika melaut tidak akan dapat ikan, karena sedari awal sudah ditunjukan tempat mana yang sedang banyak ikannya.

2). Teknologi Transport dan Tanpa Awak

Teknologi ini dimaksudkan pengembangannya untuk pembuatan pesawat terbang (bekerja sama dengan PT. DI untuk pesawat penumpang) dan pesawat tanpa awak (drone) yang dimaksudkan untuk misi penjelajahan dan eksplorasi ke wilayah-wilayah bencana yang kadang sulit ditembus oleh moda transportasi biasa. Ketika bencana terjadi biasanya diikuti dengan kelumpuhan infrastruktur dan komunikasinya. Tapi selain itu, nantinya pesawat tanpa awak ini juga bisa digunakan untuk memantau wilayah maritim kita. Bayangkan betapa akan ekonomisnya bila dibandingkan dengan menerjunkan langsung kapal operasi dengan cost yang tentunya cukup besar.

3). Teknologi Roket

Roket ini digunakan untuk apa lagi coba kalau bukan untuk meluncurkan satelit. Tanpa roket, bagaimana meluncurkan satelit, kan. Dan roket ini akan menjadi sangat ekonomis ketika diluncurkan di wilayah ekuator (kok bisa? iyaaa lah). makanya Lapan juga membuat beberapa bandara antariksa di wilayah-wilayah yang mendekati garis ekuator, salahsatunya di daerah Biak (minus 2 derajat).

Selain untuk peluncuran satelit, roket juga bisa digunakan untuk pembuatan hujan buatan, modifikasi cuaca sehingga dengan penggunaan teknologi roket nantinya hujan bisa diarahkan untuk turun atau jatuh dilaut, jadinya gak akan lagi banjir di daerah padat penduduk (*waaw).

Sebetulnya masih banyak hal yang masih perlu pendalaman dan perlu ditanyakan ke Prof. Thomas, tapi sayangnya karena hari itu adalah hari jumat dan waktunya terasa sangat sebentar sekali, diskusi yang menarik itu terpaksa harus diakhiri. saya padahal mau tanya sesuatu, tetapi jatah penanya hanya satu orang buat mahasiswa, dan saya gak kebagian. Hiks.

Culture · Historis

Muslim itu Mesti Peka

(*Pernah diposting sebelumnya di website Percikan Iman, 2015 silam)

Manusia adalah makhluk sosial yang tak sekedar memikirkan keadaan dirinya sendiri, tetapi juga lingkungan tempat dimana ia tinggal dan berinteraksi. Dunia memang tak pernah mengijinkan bagi manusia untuk hidup sendirian, karena mesti bagaimanapun, mereka saling terhubung dan saling membutuhkan antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Teorinya manusia itu adalah makhluk sosial, tapi bukan karena semata-mata teori itu lantas kita harus merasa wajib untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Tetapi karena secara fithrah dan naluriah kita memang memerlukan orang lain, sehingga jadi absahlah teori tersebut. Lihatlah Nabi Adam ‘alaihi salam, meskipun beliau sudah enak dan nyaman tinggal di surga, tetap saja merasa tidak kerasan ketika beliau hidup sendirian, dan akhirnya diberilah Siti Hawa untuk mendampingi dan menentramkan hatinya. Artinya, bahagia saja tidak cukup. Perlu ada orang lain untuk menggenapkan kebahagiaan tersebut. :p

Mungkin bisa saja kita untuk memilih dan memutuskan hidup menyendiri dan sendirian. Jauh dari keramaian, dan tertolak akses terhadap manusia lainnya, tetapi, ketahuilah, bahwa hidup yang seperti itu, secara tidak langsung telah mematikan kehidupan itu sendiri. Manusia tidak akan pernah mencapai nilai kemanusiaannya tanpa melibatkan orang lain. Taruhlah bahwa nilai kebermanfaatan manusia, yang dalam hal ini menyangkut kebahagiaannya dan kesuksesannya, selalu berkaitan dengan manusia lain, semacam memberikan dedikasi hidupnya agar berguna untuk orang lain.

Bisa kita lihat beberapa contoh kehidupan orang-orang  kaya dunia saat ini, akan kita dapati bahwa kebahagiaan hidup mereka tidak sepenuhnya terletak dalam uang dan kekayaan. Mereka malah lebih suka untuk mengeluarkan uangnya demi bakti sosial dan kegiatan kemasyarakatan atau kegiatan-kegiatan filantropis (derma) lainnya, dan ternyata, itu membuat mereka merasa bahagia. Dan konon kabarnya, mereka malah ketagihan untuk terus menerus melakukan bakti tersebut. Semacam ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa dibeli oleh uang atau materi.

Hidup memang kompleks. Tidak sekedar berpikir tentang makan apa saya hari ini, lalu bagaimana besok, atau dapatkah cita-cita masa kecil terwujud, bagaimana berpelesiran ke luar negeri, dan sekelumit keinginan-keinginan ilusional yang membayang dalam benak dan seakan ketika kita bisa meraihnya, maka kebahagiaan sudah pasti teraih. Padahal tentu saja tidak demikian.

Nyatanya kebahagiaan itu sangat sederhana yang melibatkan orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang perlu mendapatkan “secuil” perhatian dan kepeduliaan kita. Bahwa dengan keberadaan mereka, menjadikan keberadaan kita menjadi bermakna dalam artian bahwa secara tidak langsung mereka telah menyediakan peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan. Maka, sebetulnya yang perlu berterimakasih atas kebaikan kita itu bukan mereka yang mendapatkan kebaikan tersebut, tetapi kitalah, yang karena mereka, masih terbuka peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila dunia ini sudah di dominasi oleh orang-orang yang kaya dan tidak perlu mendapatkan bantuan?

Maka, sebelum engkau makan dengan lahap dan enaknya, perhatikan dulu tetanggamu, perhatikan lingkungan sekitarmu. Apakah mereka sudah kenyang? Sudah makan dan tak kebingungan dengan masalah dunia dan penghidupan? Apakah anak mereka masih suka menangis karena menahan laparnya perut mereka dan orang tuanya yang seakan sudah kehabisan akal dan alasan untuk bagaimana lagi memberi tahukan kepada anaknya bahwa saat itu mereka sedang tidak punya sesuatu untuk di makan? Ataukah keberadaan kita memang sudah kehilangan nilai dan makna, sehingga ada dan tidak adanya kita tidak mempunyai perbedaan sama sekali. Kita kenyang dan tercukupi kebutuhan, sementara di samping rumah kita perut-perut tetangga kita masih tidak bisa tenang dan harus menahan pedihnya lapar.

Ada satu kisah menarik dari sang Kholilullah, yakni Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam. Terkait dengan mengapa beliau mendapatkan gelar Kholil-nya Allah. Gelar yang tidak sembarangan nabi bisa memperolehnya, bahkan diyakini bahwa dengan segala keutamaannya, Nabi Ibrahim di dapuk menjadi nabi yang terbilang paling terpandang diantara sekian banyak nabi. Selain beliau merupakan salahsatu dari ke-5 nabi yang mempunyai predikat Ulul Azmi (yang terbaik kesabaran dan kesyukurannya serta paling tangguh dalam menghadapi cobaan), berkat beliau pula, yang berdoa tiada henti, akhirnya dikabulkan doanya dengan terlahirnya sang cucu jauh, Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wassalam, sebagai perwujudan dari rahmatan lil alamin untuk segenap alam dan sepanjang masa.

Kisah ini adalah tentang bagaimana Nabi Ibrahim mempunyai kebiasaan untuk tidak pernah mau makan sendirian, sebelum ditemani oleh 80 orang tetangga atau orang lain, siapa saja, tidak membeda-bedakan. Dalam keyakinannya, beliau tidak akan makan bila belum berkumpul dengan 80 orang yang akan diajaknya makan. Masya Allah, … bisa dibayangkan bagaimana pemurah, pengasih dan dermawannya Nabi Ibrahim. Dan ini setiap kali beliau mau makan. Jadi kalau misalnya beliau makan 2 atau 3 kali sehari, itu artinya ada 160 atau 240 orang yang beliau beri makan.

Beliau, dalam kisah tersebut, hingga sampai berlelah-lelah untuk mengumpulkan orang sebanyak itu. Dan setelah berkumpul orang banyak tersebut, maka dimulailah makan sambil mengucap syukur dan tiada hentinya mengucapkan terimakasih kepada orang-orang tersebut karena telah mau menemani beliau makan. Karena tiada keberkahan yang berlimpah pada makanan yang hanya di makan untuk diri sendiri, sehingga kita pun sering mendengar istilah yang terkenal di kalangan orang desa atau santri, bahwa tak penting menu makannya apa, tetapi bila makan dengan kawan atau keluarga, maka ada keberkahan tersendiri yang menjadikan makanan tersebut terasa nikmat sekali. Jadi, hampir setiap kali makan, nabi Ibrahim, seperti sedang mengadakan acara syukuran atau hajatan. Karena memang saking banyaknya orang yang beliau undang. Maka itulah Islam,itulah muslim dan mukmin. Perilaku dan tindak tanduk kesehariannya selalu memberikan manfaat kepada orang di sekitarnya. Kebaikan yang tersebar ke sekelilingnya,sehingga benar lah adanya  apa yang telah Rasul Saw sabdakan, “Manusia terbaik itu adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Dalam hadits tersebut, tidak dikatakan orang yang paling bermanfaat itu adalah orang yang kaya. Karena kita tahu, kekayaan saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang baik dan bermanfaat untuk orang lain. Bahkan, terkadang sering kita lihat orang yang tak berpunya, dan malah seharusnya mendapatkan santunan dari pihak lain, malah mendermakan sebagian materinya untuk orang lain. Itulah manfaat. Ia tidak bisa dimonopoli oleh harta dan materi, tetapi merupakan pembuktian kualitas keimanan seorang muslim.

Iman memang letaknya di hati, tetapi buahnya, selalu bisa dilihat dari perilaku yang tampak. Perilaku tersebut merupakan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak cukup untuk disebut sebagai orang yang beriman, ketika lidah dan perbuatannya malah membahayakan orang lain, sehingga orang lain merasa tidak aman dan tidak tenang atas perbuatannya. Tidak cukup pula iman itu dirasakan oleh dirinya sendiri, karena iman yang sejati, dan sebenar-benarnya iman, perlu pembuktian dengan tindakan. Mau sesepele atau sekecil apapun perbuatan baik tersebut, itu tak jadi soal. Lihatlah dawuh Rasul di kesempatan yang lain, ketika beliau menyebutkan bahwa cabang iman itu ada banyak, dan salah satu diantaranya adalah dengan menyingkirkan batu kerikil, cucuk, paku, serpihan kaca atau apapun yang membahayakan di jalan, agar supaya tidak membahayakan orang lain. Lihatlah, ..dengan perbuatan sederhana seperti menyingkirkan batu kerikil di jalan yang dikhawatirkan akan membahayakan orang lain saja, tercatat sebagai perilaku orang yang beriman, dan perbuatan tersebut termasuk pula dari cabang iman.

Jadi, sudahkah anda berbuat baik hari ini?

Ref :

*Link tulisan yang pernah dipublish itu, http://percikaniman.id/2015/10/04/muslim-itu-peka-terhadap-sesama/

Culture · Uncategorized

Mahasiswa ; Kembalilah Ke Budaya Membaca Buku, Bukan Internet.

Zaman memang telah berubah, dan akan selalu berubah. Bahkan mungkin saja roda zaman telah menggilas kita, dan kita terseret tertatih-tatih. Bila tidak bisa menyesuaikan, bisa-bisa kita tergulung olehnya. Tapi perubahan itu tidak selalu positif dan tidak selalu harus diikuti, kan?. Untuk suatu perubahan yang negative, masak harus diikuti, kan amboi anehnya. Terhadap perubahan kita punya pilihan dan berhak untuk memilih. Kata siapa status quo selalu bermakna kolot, jasdul dan norak? Dan kali ini, saya menjadi sangat ingin menuliskan tentang budaya yang kian mengganas dikalangan mahasiswa ; menjadikan internet sebagai segalanya. Yang membuat buku, jendela dunia itu, menjadi kian tidak menarik dan kehilangan tajinya. Alih-alih menaikkan tingkat literasi, saya pikir internet malah membuat budaya literasi di kalangan mahasiswa turun drastis bak ipk-mu, rek. *Eh.

perpusnas
Ya ampuun.. perih mata ini.*Gambar diambil dari web Perpusnas

Bila kita melihat kecenderungan dunia digital dengan akses terhadap informasi yang tak ada habis-habisnya melemparkan kita pada suatu kondisi (yang jauh lebih mengerikan dari) alienasinya Karl Marx. Kita dibingungkan oleh serbuan informasi yang terus menerus, membuat batas antara benar dan salah menjadi setipis harapanku padamu (loh?). Haha. banjir informasi di internet sekarang dengan perspektif yang berbeda-beda ini akan membuat kita bagai minum air asin ; semakin diminum semakin haus. akhirnya alih-alih membuat kita paham, malah membuat kita bingung, salah kaprah dan keblinger. maka, definisi kebenaran bukan lagi sesuatu yang sejati, melainkan jadi sekedar suatu repetisi yang dipaksakan. Kebenaran adalah kebohongan dikali 500 kali. Artinya apa? Kebohongan yang diulang-ulang pada suatu waktu akan menjadi kebenaran dan menjadi opini umum atas suatu masalah.

Buku telah menjadi media alternative dalam menyimpan pengetahuan. Dan itu memang tidak pernah mengecewakan. Tetapi dengan menyingsingnya fajar era internet, apakah masih relevan dan patut bahwa yang memonopoli peng’arsipan’ atas pengetahuan itu dipegang oleh buku? Apakah internet bisa menjadi cara baru kita dalam merawat kewarasan berpikir dan sumber mencari pengetahuan, informasi dan ilmu? Kita sepertinya masih ragu untuk sampai ketahap itu. terlebih, setahu saya google itu, misalnya, isinya adalah sampah semua. Belum lagi fakta yang mengejutkan bahwa apa yang kita cari dari google, Wikipedia, Yahoo atau blog hanya 4% dari apa yang ada di samudera luas internet. Kita masih berada di permukaannya saja (itulah mengapa kita sering mendengar untuk aktivitas kita mencari informasi di google dinamai dengan istilah surfing atau berselancar), karena 96% informasi di internet (yang jarang atau susah di akses?) terdapat di kedalamannya yang dikenal dengan istilah deepweb atau bahkan ada lagi yang lebih dalam ; darkweb. Disana terdapat jurnal-jurnal ilmu pengetahuan, riset dari yang normal hingga yang absurd bahkan bengis pun ada. Tapi bukan tempatnya disini untuk membincangkan tentang keeksotisan deepweb. *Tsaah

perpus-geologi-ugm
Doi sejati eykeu

Nah, Sebuah paper yang ditulis oleh John Gehl dan Suzanne Douglas yang berjudul From Movable Type to Data Deluge, yang diterbitkan oleh Jurnal Educom Review, menjelaskan tentang berubahnya kendali informasi dan pengetahuan. di era sebelumnya, kita menganggap pembawa pesan memiliki lebih banyak informasi dan pengetahuan daripada pembaca. di era internet, posisi itu berubah ; pemilik kontrol bukan si pembawa pesan, tapi si pemegang gadget.

Kata gehl dan douglas, internet telah membuat penggunanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena akses dan kesetaraan informasi. dengan ketersediaan informasi yang sangat luas itu yang bisa mereka akses lewat ujung jari, pengguna internet merasa bahwa level pengetahuan mereka setara dengan siapapun. sementara kalau menurut Elias Aboujaoude, seorang doktor ilmu kejiwaan klinis dari stanford university, mengemukakan bahwa internet meyakinkan kita bahwa kita lebih terpelajar, lebih dewasa atau lebih pintar dibanding kita yang sebenarnya. internet telah menjadi mesin peningkat rasa percaya diri yang belum pernah ada dalam peradaban manusia. Padahal aslinya bisa jadi kita tidak seperti anggapan tersebut.

Mengutip tulisannya Hilman Fajrian yang menyebutkan laporan British Library pada tahun 2008, bahwa pembaca buku dan pembaca digital itu mempunyai perilaku yang berbeda. Otak pun bekerja dengan cara yang berbeda antara membaca buku dan digital. pembaca digital cenderung tak menyortir, tidak konsisten, tak kritis, melompat-lompat dan tak sabar. rata-rata pembaca onlen hanya menghabiskan 4 menit untuk sebuah buku elektronik, setelah itu melompat ke buku elektronik lain atau internet. dilaporan itu juga disbut 89% mahasiswa inggris menggunakan google untuk mendapatkan informasi. Sebenarnya, sebut british library, pembaca online atau digital tidak benar-benar membaca, tapi “memindai” (scaning atau skimming) halaman. pemindaian inilah yang kita kenal dengan istilah power browse ; cepat dan melompat-lompat. perilaku ini sangat berbeda dengan cara membaca buku yang kita kenal ; perlahan, sabar dan bersedia mengulang. power browse berimplikasi pada tingkat kedalaman pemahaman bacaan, daya kritis, dan daya ingat. yang ujung-ujungnya adalah rendahnya kualitas pengetahuan yang didapat. Cara membaca cepat ini wajar mengingat bahwa ketika kita membaca di layar itu lebih melelahkan ketimbang membaca buku.

Nicholas Carr dalam bukunya yang berjudul “Is Google Making us Stupid?” mengatakan bahwa budaya literasi sebelum masa internet itu seperti berenang di lautan ; perlahan tapi penuh pengalaman. dengan internet, kita seperti mengendarai jetski ; cepat tapi minim pengalaman. Di internet, bahasannya bukan lagi salah atau benar, melainkan yang populer dan tidak. maka siapapun tiba-tiba bisa menulis apa saja, bisa menjadi ahli apa saja, dan bisa menjadi sangat sotoy (:p) dan itu yang berbahaya bagi iklim kebudayaan intelektual kita. Kegiatan untuk mengkonfirmasi terhadap berita juga menunjukan kebalikannya daripada afirmasi di era internet sekarang ini (makanya jangan menelan bulat-bulat setiap berita, khawatirnya keselek. Kunyah dulu pelan-pelan dan utamakan ‘tabayun’ (baca ; kroscek). karena perilaku mengkonfirmasi pemberitaan ini memang jauh lebih melelahkan, lama, dan susah. Sementara di internet, siapa cepat maka itulah yang paling dilirik. Sebelum berintanya menjadi basi dan sudah tidak menarik lagi. akhirnya, kita hanya menerima pemberitaan begitu saja. benar tidaknya tergantung siapa yang paling banyak pembacanya (populer). semakin banyak orang yang setuju (yang ditandai dengan banyaknya like atau share), semakin kelihatanlah benarnya pemberitaan itu. padahal kan belum tentu. perasaan skeptis terhadap isi berita, kekritisan dan curiga jadi hilang begitu saja. Lagi-lagi kata Gehl dan Douglas, “Kalau anda menginginkan informasi yang sejati di internet, berarti anda punya masalah”. hehe. Nah, kan!

Seperti kemarin misalnya, ketika muncul isu rencana aksi mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai ‘aksi bela rakyat’. Semua mahasiswa mendadak menjadi ahli ekonomi, ahli politik, ikut menyuarakan pendapatnya antara yang pro-aksi dan kontra. Saya kira informasi yang mereka tahu hanya sebatas apa yang ada di internet. Meskipun hampir di setiap kampus menyelenggarakan kajian analisis terhadap isu-isu tersebut sebelum memunculkan sikapnya masing-masing, tetap saja internet menjadi andalan untuk berbicara, beropini dan menyanggah. Saya tidak hendak mengomentari tentang aksi tersebut, tapi lebih kepada bagaimana konstruk berpikir mahasiswa yang bila informasinya searah hanya dari internet, akan seperti apa dampaknya. Tapi kalau bukan dari internet, lantas kita dapat ‘pengetahuan’ itu darimana? Nah, bisa banyak sebetulnya, bisa dari dosen, pakar, koran, atau majalah. Tapi itu hanya input, prosesnya tetap ada di kepala mahasiswa, bagaimana dia mengolah akan sangat menentukan apa outputnya. Itu yang lebih kurang bisa menunjukan independensi dari sikap seorang mahasiswa. Ah tiba-tiba saya jadi mau mengutip kata-kata Pram yang sangat membekas di novel Bumi Manusia, “Sebagai orang yang terpelajar, harus sudah bisa adil sejak dalam pikiran.” meskipun mahasiswa juga tidak semestinya di judge atas setiap outputannya itu, karena sepanjang itulah mahasiswa bergelut dengan pemikiran, lingkungan dan keresahan internal jiwanya. Bila pun ternyata keliru, kan masih bisa dianggap wajar, sebagai sekelompok orang yang masih dalam tahap belajar dan merasa.

Kalau kita menganggap bahwa pemerintah anti-kritik karena berpikir semua kebijakannya itu lahir dari pikiran para ahli dan politisi, ini juga keliru.  Proses dinamika dalam kehidupan berbangsa itu harus terus ada. Maka, meskipun gagasan yang diusung mahasiswa keliru (misalnya), tetap saja itu satu nilai yang harus diapresiasi. Saya sepakat dengan Fauzan Fikry, yang mengutip Pak Ashjar Imron, salahseorang anggota MPM ITS era 70-an, yang mengatakan bahwa dahulu kalau mahasiswa ditanya solusi, ada jawaban standar ; kami ini ibarat pasien, bukan dokter. Pasien yang merasakan sakitnya masyarakat. Sementara anda lah dokternya yang kami bayar yang harus mencari solusinya. Jangan terjebak dengan kajian atau analisis mereka yang pasti lebih hebat dan punya jam terbang yang lebih tinggi. Konsentrasilah sebagai pasien, berbicara moral mewakili denyut nadi wong cilik.

Kembali lagi kepada internet sebagai sumber informasi. Apakah ia sah sebagai sumber? Sah-sah saja, selama itu hanya menjadi pembanding atau sumber sekunder. Yang jadi masalah adalah menjadikan internet segala-galanya terlebih tanpa melihat siapa yang berbicara atau yang menulis.  

Tapi, meskipun pada akhirnya kembali lagi kepada proses kreatif dan kearifan manusianya itu sendiri dalam mempergunakan internet. Kita sudah tahu bahwa internet itu sepertihalnya pisau bermata dua. Bisa negative, bisa pula positif. Karena teknologi itu netral. Manusialah yang memberikan makna kedalamnya. Dulu juga Aristoteles pernah mengkritik tulisan, karena ia dianggap menghilangkan tradisi diskusi dan menumpulkan ingatan. Yang jelas perubahan itu pasti, setiap teknologi baru bisa jadi akan menimbulkan ketakutan. Tapi manusia selalu bisa menyesuaikan diri dengan tingkat survival yang luar biasa dan sungguh mengagumkan. Bukankah keberadaan manusia yang sudah ribuan tahuan hingga sekarang membuktikan, bahwa kita telah bisa menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup itu sendiri. Jadi, bisa jadi apa yang saya tulis ini keliru, dan tugas kita lah untuk terus mencari dengan membuat antitesa dari setiap tesa yang ada. Selalu begitu proses dialektika yang kadang melelahkan, tapi terdapat kenikmatan dan keasyikannya sendiri.

perpus
Kalo surga itu memang ada, maka didalamnya pasti bakalan banyak buku. (Garcia)

Referensi :

Jakob Nielsen, How Little Do Users Read, 06 mei 2008.

Harald Weinreich, Hartmut Obendorf, Eelco Herder, and Matthias Mayer: “Not Quite the Average: An Empirical Study of Web Use,” in the ACM Transactions on the Web, vol. 2, no. 1 (February 2008), article #5.

Hilman Fajrian, Internet membuat kita makin ‘bodoh’. 2012. Kompasiana.

John Gehl, Suzanne Douglas, From Movable Type to Data Deluge, diterbitkan oleh Jurnal Educom Review.

Nicholas Carr, Is Google Making us Stupid?