Culture · Ekonomi · Engineering

Startup untuk Indonesia

unnamedPenetrasi internet sudah semakin luas masuk ke daerah-daerah di Indonesia. Disinyalir bahwa pengguna aktif internet saat ini terhitung sebesar 132,7 juta orang atau sekira 51,8% dari total populasi indonesia. Angka yang cukup besar. Internet sudah bukan barang mewah lagi, melainkan jadi potensi yang seharusnya bisa menghasilkan perbaikan bagi sektor kesejahteraan dan perekonomian Negara. Apa mungkin? Sangat mungkin. Meski pengguna terbesar internet di Indonesia masih belum tersebar merata karena hampir 65%-nya terdapat di pulau Jawa. Ini menjadi potensi yang harus dimaksimalkan agar Indonesia tidak sekedar menjadi konsumen internet tetapi menjadi pemain aktif dan mampu meraih profit dari hingar bingar teknologi internet.

Gerakan nasional 1000 startup terdiri dari beberapa tahap ; ignition, networking session, workshop, hackathon, bootcamp dan incubation. 1000 startup itu sendiri dialokasikan untuk jangka waktu 5 tahun, jadi ada sekira 200 startup setiap tahunnya yang lahir dari 10 kota besar, atau setiap kota-kota itu bisa menelurkan sekira 20 startup baru setiap tahunnya.

Pemerintah, dengan visi jauh kedepan yang dibawa oleh pak Presiden, untungnya secara sadar mau untuk ikut serta dalam perhelatan akbar dari startup ini dengan mencanangkan tujuan Indonesia sebagai the digital energy of asia ; an accelerated and empowered SME-Driven digital economy. Ini langkah taktis yang diambil pemerintah guna mengejar ketertinggalan kita dari negeri-negeri maju lainnya, terlebih adanya pergeseran basis industri dimana kita tidak bisa lagi sepenuhnya bertumpu pada sumber daya alam yang kian hari kian berkurang (minyak, gas, dll). Sudah saatnya Indonesia menjadi pemain baru di kancah penggunaan internet untuk bisnis (karena ini memang dunia baru. Negara-negara lain juga masih sama-sama bingung dan sedang belajar). Startup sendiri diartikan sebagai suatu penyelesaian masalah dengan menggunakan teknologi. Untunglah Indonesia banyak sekali masalahnya :D, kita tidak kekurangan masalah, malah berlimpah, dan itu bagus untuk iklim pengembangan startup. masalah-masalah itu ikut menyuplai ide-ide untuk para founder startup. Karena didalam startup itu ada tiga komponen penting yang menunjangnya, yaitu ada masalah, kemudian dicari solusinya, lalu dibuatlah produk (kreasi) akhirnya yang bisa saja akan terus mengalami perkembangan.

Gerakan nasional 1000 startup digital ini digagas oleh beberapa orang yang peduli kepada Indonesia, yang ingin melihat Indonesia bisa bersaing dengan Negara-negara lain, yang ingin menyelesaikan satu persatu permasalahan di Indonesia, dan yang berharap bahwa Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih baik dan layak untuk ditempati. Orang-orang dibelakang gerakan ini memang secara aktif berdialog dan terjun langsung ke lapangan dunia startup, bahkan diundang oleh presiden dan ikut mendampingi beliau ketika melakukan kunjungan (study banding) ke Silicon Valley, kota pusat pengembangan teknologi di California, Amerika Serikat. Markasnya google, facebook, apple, twitter, dan semua startup besar lainnya. Sepulangnya presiden dari kunjungan yang sangat berkesan dan membuka pikiran itu (untunglah kita punya presiden yang open minded dan tidak kolot) yang dengan menggebu-gebu bilang bahwa ia ingin Indonesia bisa seperti itu. ingin Indonesia ikut dalam pemanfaatan teknologi internet ini. Pernah Pak Yansen Kamto menanyai audiens bahwa berapa banyak dari kita yang hanya sekedar konsumen dan penikmat dari layanan-layanan startup itu, yang hanya menjadi penonton saja. Tetapi kita harus bisa membuatnya.

Dalam melihat perkembangan startup di dunia saat ini, menarik untuk membandingkan visi yang dibawa oleh Amerika dan China. Pada beberapa hal kedua Negara ini mewakili ideologinya masing-masing, dan Indonesia bisa belajar banyak dari mereka. Amerika mempunya visi “membebaskan”, di internet jangan ada kekangan, sehingga itu bisa lebih memberikan keleluasan bagi warga amerika untuk terus berinovasi dan menciptakan hal-hal baru (tidak heran kalau kita lihat bahwa kebanyakan teknologi yang “wah-wah” (ide-ide gila) biasanya terlahir di sana), silicon valley adalah contoh yang tepat untuk menjelaskan visi amerika itu, disana orang bebas berkreasi. Sementara China menerapkan kebijakan Internet plus, maksudnya adalah pemanfaatan internet untuk berbagai sector, semisal internet plus umkm, internet plus ojek, internet plus bisnis, internet plus baso, internet plus cilok, dlsb. *hehe. Polanya di drive oleh pemerintahnya, jadi pemerintah tidak membiarkan warganya berbuat sebebas-bebasnya. Pemerintahnya sangat protektif, sehingga kita tidak akan melihat facebook di China, google pun tidak ada, uber juga dilarang, tapi hasilnya mereka sendiri yang membuatnya, ada facebook versi china, google versi china, uber versi china, dll. Nah, kira-kira Indonesia cocok untuk meniru yang mana? Apakah Indonesia akan bisa berkreasi bila pemerintah membebaskannya? Saya kira tidak akan bisa, indoensia belum siap untuk seperti amerika. Kalaupun ada beberapa pemain besar yang terlahir seperti gojek, tokopedia, bukalapak, dlsb, itu murni accident. Pemerintah malah membuat mereka jadi terkekang dengan beberapa regulasinya. Ya kan? :D. Meskipun sekarang pemerintah sudah mau berubah, sudah lebih mau mendengar karena merasa bahwa kita sedang tertinggal dan perlu mengejar. Ini dibuktikan dengan positioning dari pak presiden dengan menerbitkan 6 policy digital economy, yang melahirkan 14 policy package. Isu-isu kuncinya adalah founding, cyber security, tax, logistic, education and human resources, dll. Pemerintah sangat konsen sekali untuk mengembangkan dan memacu anak bangsa agar bisa menciptakan produk-produk startup.

Artinya dunia sedang berubah (*Tsaaah, kibas rambut). Bahwa saat ini dunia sedang bergeser ke perekonomian digital, orang tidak lagi perlu mengantri lama-lama di bank untuk membuat akun, tinggal duduk manis di rumahnya di depan computer dan semua bisa terlayani, orang tidak lagi perlu berpanas-panas ke jalan atau ke pasar, semuanya tinggal klik klik klik. Tersedia di hape pintar yang tingga di charge bila mau habis batereinya. Tetapi di lain pihak, ini juga menimbulkan distraktif digital ekonomi. Artinya akan banyak lahir peluang pekerjaan-pekerjaan baru yang muncul diikuti hilangnya pekerjaan-pekerjaan lama, seperti sekarang ada orang dengan pekerjaan data analysis, dlsb. Pekerjaan-pekerjaan yang aneh-aneh akan muncul, dan bisa jadi jurusan yang kita ambil sekarang di masa yang akan datang sudah punah pekerjaannya (bila tidak bisa menyesuaikan dan adaptif).

Target akhir dari startup ini adalah e-commerce, bentuknya bisa bermacam-macam ; service (seperti gojek), good product, medium product, dlsb. Dengan angka transisi via internet mencapai dua ribu triliun rupiah. Saat ini hampir 60% GDP ditunjang oleh umkm. Dari 57 juta, sekira 8%nya menyumbang GDP. Nah, tujuan pemerintah adalah bisa mengonlinken umkm tersebut.    

Pemerintah juga mencanangkan program yang bernnama “Palapa ring project”, sebuah program untuk membuat internet highspeed dari fiber optics. Siapa kira-kira yang akan senang kalau internet masuk ke papua? Yap. bukan haynya orang-orang papua saja, melainkan pihak Google, FB, whatsupp, instagram, dll juga ikut senang. Mereka dapat profit tanpa harus mendirikan perusahaan di Indonesia. Artinya mereka dapat penghasilan tanpa harus membayar pajak ke pemerintah Indonesia.

Tahun lalu traffic internet perdetik di Indonesia adalah lima ratus terabyte, dan tahun ini setelah 4G masuk jadi tiga kali lipatnya. Jangan kira kalau kita internetan itu murni menggunakan uang kita saja, tidak sesederhana itu. coba lihat kedalam hape kita, bisa dipastikan bahwa 90% aplikasi yang ada didalam hape kita adalah aplikasi yang dibuat oleh luar negeri, mulai dari facebook, instagram, whatsapp, gmail, google, yahoo, dlsb. Aplikasi yang berbasis di luar negeri itu bila kita akses (servernya kan ada di luar negeri juga) secara tidak langsung morotin devisa Negara, karena Negara jadinya harus membayar untuk setiap bite data yang kita akses dari luar negeri tersebut. Berbeda halnya bila aplikasi itu ada di dalam negeri, ketika kita mengaksesnya, servernya kan local, sehingga jaringan data hanya berputar di Negara sendiri. Itulah arti penting kenapa kita harus mulai mengembangkan startup ini hampir di setiap lini, tidak lain adalah untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap produk-produk dari luar negeri.

Penting juga untuk melihat perbandingan dua Negara yang nyaris sama dalam beberapa hal dan sangat jauh berbeda dalam beberapa hal lainnya, yaitu Indonesia dengan Korea selatan. Dua Negara ini merdeka pada tanggal yang tidak jauh berbeda, hanya selang beberapa belas hari, tapi indeks kesejahteraan dan GDPnya sangat jauh berbeda. Padahal secara sumber daya alam kita lebih unggul, pun begitu juga dengan populasi, tapi ternyata korea selatan jauh melesat di depan kita, bahkan produsi filmnya pun menjadi santapan kita. Padahal jumlah produksi sinetron kita jauh lebih banyak daripada mereka. Tapi itu soal lain, yang jelas, point pentingnya adalah Negara kita dengan populasi lebih dari 250 juta dengan 50% usianya berada pada usia 30 tahun (usia produktif), tetapi ternyata sejumlah 944.666 lulusan kuliahan tidak mempunyai pekerjaan. Kita bisa melihat ini sebagai suatu problem serius, tapi untuk orang-orang optimis, itu sebetulnya adalah potensi. Jadi, marilah kita ubah pola pikir kita. Kita rombak MINDSET. Pola pikir seorang co-founder startup selalu melihat potensi dan peluang dari setiap masalah yang ada. Meskipun membuat startup juga tidak sesederhana dan segampang yang orang kira. Perlu kerjakeras dan kesungguhan yang mampu membuat startup bisa terus berjalan dan berkembang, tidak karam ditengah jalan.

Membuat startup artinya mau berlelah-lelah untuk berbuat dan melakukan sesuatu dengan kerja keras. Dimana-mana yang dinamai pengusaha itu ya merujuk ke orang yang benar-benar mau berusaha. Startup selalu identic dengan inovasi, inovasi itu sendiri adalah sesuatu yang kita sendiri tidak tahu selanjutnya itu akan seperti apa. Makanya dalam dunia startup itu tidak ada kegagalan (dalam proses trial and error), yang ada adalah pembelajaran. Karena setiap kegagalan itu selalu ada nilai pembelajarannya. Startup juga bukan sekedar kita menjual barang lalu diiklankan melalui facebook, whatsapp, instagram atau apa, startup bukan sekedar itu, melainkan sejenis tech company (bukan another trading  company). Intinya harus bisa fokus pada gambaran besarnya.

Penekanan startup adalah Solved problem ; bagaimana ktia bisa meng-add value pada sesuatu, lalu optimize, dan men-disrupt. Contoh, biasanya orang membuat skripsi hanya untuk syarat lulus, setelah itu hanya disimpan dan menjadi tumpukan yang tidak berharga, seorang co-founder startup akan berpikir untuk memanfaatkan masalah ini, dari sekian juta skripsi itu yang terbengkalai, kenapa tidak mencoba untuk mengumpulkannya dan barangkali memang ada ide menarik yang terdapat didalam skripsi itu yang bisa digunakan untuk keperluaan perusahaan orang, atau ada orang yang tertarik untuk mendanai, kan itu bisa jadi peluang usaha juga. Add value itu menambah nilai pada sesuatu yang asalnya seperti tidak mempunyai nilai sama sekali.

Saran baik dari pak Sony yang masih terngiang-nginga di telinga saya adalah ini, “Yang membuat kalian benci, yang membuat kalian annoying pada sesuatu, bisa jadi sesuatu itu peluang karir kalian. Tujuan kalian hidup untuk bisa menyelesaikan atau memberikan solusinya.” Saya berpikir, benar juga. Apa-apa yang mengganggu kita adalah potensi untuk dijadikan ide dasar startup, seperti saya yang kadang suka terganggu dengan susahnya mencari buku-buku bacaan yang bagus karena terkadang di toko buku besar, mereka hanya menjual buku yang laris dan popular, entah bukunya bagus atau sampah, toko buku yang sudah menjadi kapitalistik. Biasanya saya menjumpai buku-buku bagus yang sudah sangat sulit dicari itu lewat pelapak buku bekas, toko buku online yang dikelola oleh beberapa gelintir orang berdedikasi, dlsb. Saya keidean untuk membuat startup yang bisa mengumpulkan ‘orang-orang’ ini. Kadang orang membeli buku hanya untuk dibaca, setelahnya disimpan di dalam rak, ini kan bisa jadi peluang juga untuk saling bertukar dengan oranglain atau mungkin untuk saling jual, siapa tahu kan. 😀

Menurut pak Yansen Kamto, terdapat lima area potensi startup ; agriculture, education, health, tourism dan logistic.  Setiap bidang itu mempunyai masalahnya masing-masing. Pak Yansen memberikan contoh praktis untuk setiap bidangnya, tapi tidak saya tulis karena sepertinya tulisan ini sudah kelewat panjang. Jadi mungkin kali lain.

 

Buku · Kampus · Review

Resensi buku The Elements of Journalism

Judul               : The Element of Journalism

Penulis             : Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

Tahun Terbit    : 2001

Halaman          : 214 hlm

Peresensi         : Sandri

(*Pernah dipublish oleh Persma ITS, LPM 1.0)

buku 9 element of jouralism
Diterjemahkan oleh Yayasan Pantau, tahun 2006

Diantara buku-buku yang membahas tentang dunia jurnalisme (yang kebanyakan ditulis oleh Jurnalis), tidak banyak yang membahas tentang prinsip-prinsip dasar yang bersifat umum dalam mekanisme kerja jurnalisme itu sendiri, apalagi yang bisa dijadikan “kitab suci”nya kaum jurnalis. Padahal dunia pers itu sendiri mendapatkan momentumnya sudah sejak jauh-jauh hari dan semakin mendapatkan tajinya ketika dunia dimasuki oleh teknologi informasi ; televisi, radio dan sekarang, internet. Jadi kebayang kan betapa urgent-nya untuk menetapkan standard dan elementary principlesnya, sesuatu yang mendesak, gawat dan tak bisa ditawar-tawar lagi.

Pers atau jurnalisme dipandang sebagai senjata yang ampuh dalam mendikte kehidupan masyarakat, sesuatu yang paling disukai oleh kaum yang memerintah. Maka sering kita mendengar ocehan ‘hadits’ yang tak bersanad, bahwa barangsiapa yang menguasai pers atau media, maka ia akan menguasai dunia.

Karena urgenitas itu seakan-akan diabaikan dan ditunda-tunda, akhirnya malapetaka itu terjadi. tepatnya di tahun 90-an era kegelapan dalam dunia jurnalisme mengalami katastropi yang mengerikan ; pers tidak lagi dipercaya oleh masyarakat sebagai pemberi berita atau informasi. Kredibilitas pers diragukan dengan semaraknya permainan kapitalistik dan penguasa. Pers penuh dengan bisnis dan mengesampingkan etika atau kaidah jurnalistik. Dan ini tidak baik untuk kehidupan pers jangka panjang. Akhirnya di tahun itu beberapa jurnalis senior berkumpul dan mengadakan forum untuk menentukan dasar-dasar atau prinsip jurnalisme yang menempatkannya kedalam tempatnya lagi, agar jurnalisme kembali terhormat. Isi dan hasil dari forum itu dituangkan dalam buku ini, The Element of Journalism. Sebuah buku apik yang meletakan prinsip-prinsip dasar dan kaidah jurnalisme yang bisa dipakai oleh siapa saja,khususnya kaum jurnalis, dalam kaitannya untuk mewartakan ‘kebenaran’ atau informasi yang bias dari keliru atau salah. Lebih dari 1200 wartawan terlibat dalam pembuatan buku ini (dalam bentuk wawancara dan sumbang saran).

Setelah di cetak ulang entah yang keberapa kalinya, buku ini benar-benar dijadikan kitab sucinya media atau jurnalisme. Belum lengkap rasanya bila yang bergiat dibidang jurnalistik tidak membaca buku ini. Katanya Majalah Gatra sampai harus menerjemahkan buku ini untuk konsumsi pribadi perusahaannya, mau tidak mau setiap karyawannya diharuskan untuk membaca buku ini.

Buku ini diawali dengan perbincangan tentang wacana jurnalisme itu sendiri. Sangat runut dan sistematis. Apa sebetulnya yang dimaksud jurnalisme, siapa yang berhak mendefinisikannya, dari sudut pandang apa hingga mengapa kita harus membakukan definisi itu. di halaman 16 dan 17 tercatat bahwa :

“Teknologi sekarang membuat informasi tersedia untuk banyak orang, dengan ritme yang terlalu cepat. Dan informasi itu ternyata menciptakan demokrasi. (hal 16). Prinsip dan maksud dari jurnalisme itu sendiri didefinisikan oleh sesuatu yang seharusnya menjadi dasar, yang berfungsi sebagai permainan baru dalam kehidupan orang. jurnalisme tidak seharusnya didefinisikan oleh teknologi, oleh jurnalis, atau pers atau teknik yang mereka kerjakan. tapi harus mengacu ke basik atau dasar dari keberadaan jurnalisme itu sendiri. “Maksud atau tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan bagi masyarakat umum informasi yang mereka perlukan untuk bebas dan pemerintahan sendiri.” (hal 17) .

Elemen atau prinsip dasar jurnalisme itu semuanya ada sembilan, prinsip2 ini bisa menjadikan jurnalisme sebagai penyedia akses informasi yang kredibel yang dibutuhkan masyarakat adalah sebagai berikut ;

1). Jurnalisme adalah (mewartakan) kebenaran

2). Kesetian pertama adalah untuk masyarakat

3). Disiplin dalam melakukan verifikasi

4). Jurnalis harus menjaga independensi

5). Jurnalisme sebagai pemantau kekuasaan dan penyambung lidah mereka yang tertindas

6). Jurnalisme sebagai forum publik

7). Jurnalisme itu harus memikat sekaligus relevan

8). Kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif

9). Setiap wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. 

Elemen jurnalisme yang pertama adalah kebenaran, yang ironisnya, ternyata yang paling membingungkan. Karena definisi kebenaran itu bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang yang digunakan. Bisa bermacam-macam tergantung situasi dan kondisi. Dan kita bisa sampai berbusa-busa ketika mendiskusikan tentang kebenaran. Saya sendiri sudah muak dengan banyaknya filsup yang mencoba mendefinisikan kebenaran itu. tapi akhirnya mendapatkan kompromi dari kenyataan bahwa ternyata kebenaran itu relatif *Tsaah, kibas rambut.

Kebingungan itu sejatinya karena dalam teorinya, kebenaran itu ada banyak macamnya seperti kebenaran fungsional, kebenaran objektif, kebenaran subjektif, kebenaran realitas, teori kebenaran koherensi lah, teori kebenaran korespondensi, teori kebenaran performatif, kebenaran pragmatis, kebenaran proposisi, kebenaran paradigmatik, dlsb. Jadi ketika Bill menjelaskan bahwa kebenaran adalah prinsip pertama jurnalisme, kita akan bertanya lebih lanjut, bahwa yang dimaksudkan doi itu kebenaran yang mana? Kebenaran menurut siapa? karena setiap orang itu punya latarbelakang yang berbeda-beda, pengalaman yang beragam, tingkat intelektualitas, buku bacaan, agama, etnis, dlsb yang sangat menentukan cara pandang, cara berpikir dan definisinya terhadap kebenaran. Terus lahyaopo, rek?

Nah, ternyata dari berbagai kebenaran itu, jurnalisme hanya mendasarkan kebenarannya pada kebenaran fungsional, kebenaran dalam tataran praktis, kebenaran yang bisa dibentuk dari hari ke hari. *skip dulu ya, bakalan panjang kalo harus dijelaskan disini. :p

Lanjut ke prinsip kedua, bahwa seorang jurnalis harus menempatkan loyalitasnya untuk masyarakat, bukan untuk perusahaannya. Loyalitas ini sangat penting apalagi sejak tahun 1980-an kabarnya banyak wartawan amerika yang berubah jadi orang bisnis. Sebuah survei menemukan separuh wartawan Amerika menghabiskan setidaknya sepertiga waktu mereka buat urusan manajemen ketimbang jurnalisme.

Prinsip ketiga adalah disiplin dalam melakukan verifikasi. Ini berguna untuk membedakan mana gosip, mana fakta, mana isu, mana propaganda, atau mana fiksi. Jadi harus ada batas yang jelas antara fiksi dan jurnalisme. Jurnalisme tidak boleh dicampuri oleh fiksi atau hal-hal yang dramatis misalnya. Ini sebetulnya membingunkan juga karena kalau hanya menyajikan apa adanya, terasa tulisan itu akan kering tanpa bumbu-bumbu fiksi atau sastra, tapi nanti akan kita lihat di prinsip selanjutnya. Intinya sih jurnalisme itu meliput untuk kepentingan masyarakat yang bisa menghibur tapi juga bisa tidak. Kalau tidak menghibur, ya jangan dipaksa-paksakan untuk bisa menghibur.

Prinsip ke empat adalah independensi. Dan itu tidak berarti netral. Karena menjadi netral itu bukan prinsip dasar jurnalisme. Prinsipnya, wartawan harus bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput. Intinya jurnalisme harus mengabdi pada kepentingan masyarakat, dan memenuhi berbagai ketentuan lain yang harus ditaati oleh seorang wartawan.

Prinsip kelima adalah fungsi jurnalisme sebagai pemantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Memantau kekuasaan ini dilakukan dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi. Salah satu cara pemantauan ini adalah melakukan investigative reporting, sebuah jenis reportase di mana si wartawan berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, siapa yang seharusnya jadi terdakwa, mirip-mirip teknik pengungkapan suatu kejahatan oleh seorang detektif. Betapa kerennya menjadi seorang jurnalis itu kan? Haha. Ayo masuk LPM (lumayan numpang promosi :p ).

Prinsip ke enam adalah jurnalisme sebagai forum publik. Kalau untuk prinsip ini sudah jamak bahwa di setiap surat kabar umumnya mereka menyediakan rubrik khusus pembaca atau masyarakat untuk mengungkapkan uneg-unegnya semisal surat pembaca. Termasuk untuk mempertanyakan berita yang di muat di surat kabar itu juga. Karena umumnya masyarakat juga ingin berkomentar terhadap suatu peristiwa. nantinya komentar-komentar itu akan didengar oleh para politisi dan birokrat yang menjalankan roda pemerintahan. Memang tugas merekalah untuk menangkap aspirasi masyarakat. Dengan demikian, fungsi jurnalisme sebagai forum publik sangatlah penting karena, seperti pada zaman Yunani baheula, lewat forum inilah demokrasi bisa ditegakkan. *Eeaaa.

Prinsip ketujuh adalah perlunya jurnalis yang memikat sekaligus relevan. Ini terbilang susah. Teknik penulisan berita yang sesuai fakta, tanpa adanya penambahan hal-hal fiksi atau lebay, tapi tetap bisa memikat sekaligus relevan. Bill Kovack menyarankan untuk setiap jurnalis agar tidak kering atau garing dalam tulisannya untuk belajar menulis narasi (narrative report) atau nonfiksi yang menjadikan narasinya bercorak kesastra-sastraan. Jadi bagaimana menampilkan sebuah laporan atau tulisan yang “enak dibaca dan perlu” (motto majalah Tempo). Jangan sampai isi laporannya hanya angka-angka, data, dan hal-hal membosankan lainnya. Untuk melihat laporan yang memikat sekaligus relevan bisa membaca bukunya Seno Gumira semisal Tidak ada Ojek di Paris, Ketika Jurnalisme Di Bungkam Sastra Harus Bicara, Layar Kata, Kisah Mata, Surat Dari Palmerah atau Sembilan Wali dan Siti Jenar.

Lalu prinsip ke delapan adalah kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif. Kovach dan Rosenstiel mengatakan banyak suratkabar yang menyajikan berita yang tak proporsional. Judul-judulnya sensional. Penekanannya pada aspek yang emosional. Yang judul-judulnya ndak proporsional dan cenderung membuat kita muak duluan semisal berita-berita di U*C news. Haha. Saya sudah lama menguninstal aplikasi browser ini karena blas tidak mencerdaskan sama sekali. Wkwkwk

Terakhir, prinsip ke sembilan adalah bahwa setiap jurnalis harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Ini prinsip yang menjamin aktualisasi dan idealisme seorang jurnalis yang tidak musti di dikte oleh perusahaan atau kelompoknya. Ini murni kata hatinya (kalo hatinya belum patah loh yah). Jadi bisa saja seorang wartawan tidak setuju dengan pandangan dewan direksi atau bosnya dan bebas-bebas saja ia untuk mendebatnya, untuk mengungkapkan kata hatinya. Makanya biasanya di ruang redaksi itu kerap terjadi “suara-suara berisik”. Ruang redaksi tidak seharusnya menjadi sebuah ruang kediktatoran, kan. Karena pimred itu bukan Tuhan, yang bisa saja keliru, khilaf atau salah. :p Nah setiap redaktur sepatutnya harus paham ini, mereka memang bertugas untuk mengambil keputusan final terhadap apa yang akan di publis, tapi mereka juga harus bisa mengakomodir dan membuka diri agar setiap orang yang hendak memberikan kritik atau pandangannya bisa terakomodasi. Kata Bob Woodward dari The Washington Post pernah mengatakan bahwa, “Jurnalisme yang paling baik seringkali muncul ketika ia menentang manajemennya.” Nah kan.

Engineering · Kampus · Science

Keantariksaan kita

Kemarin (17/02) saya menyempatkan hadir di kuliah tamu yang digagas oleh Jurusan Teknik Geomatika ITS yang menghadirkan kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin dengan tema “Peran Iptek dan Antariksa untuk menjadikan Indonesia Maju dan Mandiri”. Disana dibicarakan tentang apa saja yang telah-sedang dan akan dilakukan oleh LAPAN untuk menunjang kebutuhan Indonesia terhadap penguasaan antariksanya yang luarbiasa kerennya. Karena bidang antariksa ini pada gilirannya akan terintegrasi dengan seluruh aspek kehidupan bangsa, tetapi difokuskan pada pengkajian cuaca antariksa, atmosfer, sains keantariksaan (beserta teknologinya yang berupa roket, satelit dan aeronautika atau penerbangan), penginderaan jauh dan kajian kebijakan aerospace dan antariksanya.

LAPAN juga benar-benar menjadi sebuah kebanggaan nasional. Saya terpikir untuk mengambil KP (kerja praktik) disana saking excitednya dengan proyek-proyek LAPAN, terkhusus di bidang teknologi satelit, roket, radar dan penginderaan jauhnya. Itu adalah teknologi-teknologi yang bisa menopang, menunjang dan menyokong kemandirian, kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.

Pengembangan di bidang keantariksaan sudah seharusnya menjadi prioritas dalam pengembangan jangka panjang, kalau tidak, kita akan tertinggal dari Negara-negara lain. Sains antariksa ini bila kita tahu, pada akhirnya merupakan suatu lintas disiplin ilmu yang integratif, saling berhubungan dengan bidang yang lain. Siapa sangka bahwa proyek-proyek keantariksaan bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk komunikasi (yaeyalaah. Haha), navigasi dan prediksi. Saya semakin tertarik untuk memikirkan ulang proyek-proyek yang dikembangkan oleh LAPAN ini untuk mengkorelasikannya dengan teknologi big data dan data science yang sedang booming itu. di ITS sendiri, karena teknologi itu jurusan matematika langsung cabut dari fakultas mipa dan memilih untuk mendirikan fakultas sendiri, fakultas matematika dan aktuaria. Oia, big data dan data science itu sendiri merupakan disiplin ilmu yang relative baru, gabungan antara ilmu matematika (statistika) dan ilmu computer dan lulusannya termasuk yang paling banyak dicari sampe Harvard Business Review pernah memuat tulisan Data Scientist: The Sexiest Job of the 21st Century. Ini bukan tanpa dasar. Karena pada tahun 2011, McKinsey Global Institute memprediksi adanya kekurangan hampir 200 ribu ilmuwan data pada 2018. Ini baru di Amerika Serikat saja. Pantesan kan kalau perusahaan mengiming-imingi mereka dengan gaji ukuran “jumbo”.

Balik lagi ke LAPAN :p. Dari keempat misi utama LAPAN yang telah disebut diatas itu, dipaparkan lebih detail dalam tujuh program utamanya yang berupa pengembangan teknologi satelit, teknologi roket (termasuk di bidang aeronautika dengan mulai mengembangkan pesawat N2-19), pengembangan bank data penginderaan jauh nasional dengan citra satelit resolusi tinggi (ini nantinya bisa digunakan untuk memetakan bencana, bidang agraria, pertanian, kelautan atau kemaritiman, dlsb), dan empat program lainnya saya lupa. Haha. Disini saya hanya akan menuliskan sedikit saja tentang teknologi satelit, roket dan radar serta aplikasi lebih lanjut dari ketiga teknologi itu.

1). Teknologi Satelit

Sesungguhnya yang dikhawatirkan oleh orang saat ini bukan semata-mata kiamat manusia (karena kalau kiamat manusia terjadi, ya sudah. Itu menandai berakhirnya kehidupan manusia di bumi), tetapi kiamat teknologi. Karena hampir keseluruhan system teknologi dan informasi (semisal internet dan jaringan komunikasi data) yang kita gunakan sekarang bergantung sepenuhnya pada ruang antariksa, medan magnet, dan atmosfer dengan gelombang-gelombangnya. Nah bila ada badai matahari atau yang mengacaukan system antariksa itu, maka artinya teknologi itu semua akan ambyar semuanya. Terlebih karena antariksa juga merupakan wilayah operasional satelit, sementara satelit ini kita tahu sangat buanyak sekali kegunaannya. Sehingga menjadi penting untuk bisa mengamati dan memantau cuaca antariksa ini.

Indonesia, yang adalah suatu bangsa yang luas yang disebut sebagai nusantara. Kata Prof Thomas, Nusantara itu sendiri adalah pulau-pulau yang disatukan oleh laut. Maka mutlak untuk menjembatani semua wilayah itu dan mempertahankannya, penguasaan kita terhadap system komunikasi yang berbasis satelit mutlak diperlukan. Dan btw, umur satelit itu ternyata pendek loh, kira-kira 10 sampai beberapa puluhan tahun. Beberapa satelit yang sudah diluncurkan lapan adalah seri A hingga A3 dengan misi yang berbeda-beda. Sisanya yang sedang dikembangkan (sekaligus mencari dana tambahan dari mitra bisnis) adalah lapan A4 (misi kemaritiman) dan A5 (misi radar atau SAR). Serie A ini merupakan serie satelit eksperimen dan dicukupkan hingga A5.

Citra satelit yang bisa dibuat Lapan ada 3 macam ; resolusi rendah (untuk keperluan cuaca dan lingkungan), resolusi menengah (lingkungan dan hutan) dan resolusi tinggi (pembuatan peta skala 1:1000). Nantinya satelit-satelit yang dikembangkan oleh lapan ini bisa digunakan sebagai system pemantau bumi nasional yang meliputi pemantauan kebakaran hutan (deforestasi dan carbon stock atau berupa kajian iklim), bencana, klasifikasi lahan atau tanah, infrastruktur pertanian (berupa system kanal irigasi yang sudah benar atau terlihat ruwet sehingga perlu dan bisa dibenarkan alurnya), fase pertumbuhan padi (jadi nantinya kita bisa menentukan distribusi pupuk dan perkiraan masa panen).

Citra satelit resolusi tinggi ini sangat bermanfaat untuk melihat secara lebih jelas potensi kelautan kita. Dengan itu kita bisa mengetahui suhu permukaan laut, kandungan klorofil, hingga bisa memetakan zona potensi penangkapan ikan yang artinya bisa ikut membantu nelayan  untuk meningkatkan produktifitas tangkapan ikannya. Nelayan gak perlu lagi was-was ketika melaut tidak akan dapat ikan, karena sedari awal sudah ditunjukan tempat mana yang sedang banyak ikannya.

2). Teknologi Transport dan Tanpa Awak

Teknologi ini dimaksudkan pengembangannya untuk pembuatan pesawat terbang (bekerja sama dengan PT. DI untuk pesawat penumpang) dan pesawat tanpa awak (drone) yang dimaksudkan untuk misi penjelajahan dan eksplorasi ke wilayah-wilayah bencana yang kadang sulit ditembus oleh moda transportasi biasa. Ketika bencana terjadi biasanya diikuti dengan kelumpuhan infrastruktur dan komunikasinya. Tapi selain itu, nantinya pesawat tanpa awak ini juga bisa digunakan untuk memantau wilayah maritim kita. Bayangkan betapa akan ekonomisnya bila dibandingkan dengan menerjunkan langsung kapal operasi dengan cost yang tentunya cukup besar.

3). Teknologi Roket

Roket ini digunakan untuk apa lagi coba kalau bukan untuk meluncurkan satelit. Tanpa roket, bagaimana meluncurkan satelit, kan. Dan roket ini akan menjadi sangat ekonomis ketika diluncurkan di wilayah ekuator (kok bisa? iyaaa lah). makanya Lapan juga membuat beberapa bandara antariksa di wilayah-wilayah yang mendekati garis ekuator, salahsatunya di daerah Biak (minus 2 derajat).

Selain untuk peluncuran satelit, roket juga bisa digunakan untuk pembuatan hujan buatan, modifikasi cuaca sehingga dengan penggunaan teknologi roket nantinya hujan bisa diarahkan untuk turun atau jatuh dilaut, jadinya gak akan lagi banjir di daerah padat penduduk (*waaw).

Sebetulnya masih banyak hal yang masih perlu pendalaman dan perlu ditanyakan ke Prof. Thomas, tapi sayangnya karena hari itu adalah hari jumat dan waktunya terasa sangat sebentar sekali, diskusi yang menarik itu terpaksa harus diakhiri. saya padahal mau tanya sesuatu, tetapi jatah penanya hanya satu orang buat mahasiswa, dan saya gak kebagian. Hiks.

Culture · Historis

Muslim itu Mesti Peka

(*Pernah diposting sebelumnya di website Percikan Iman, 2015 silam)

Manusia adalah makhluk sosial yang tak sekedar memikirkan keadaan dirinya sendiri, tetapi juga lingkungan tempat dimana ia tinggal dan berinteraksi. Dunia memang tak pernah mengijinkan bagi manusia untuk hidup sendirian, karena mesti bagaimanapun, mereka saling terhubung dan saling membutuhkan antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Teorinya manusia itu adalah makhluk sosial, tapi bukan karena semata-mata teori itu lantas kita harus merasa wajib untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Tetapi karena secara fithrah dan naluriah kita memang memerlukan orang lain, sehingga jadi absahlah teori tersebut. Lihatlah Nabi Adam ‘alaihi salam, meskipun beliau sudah enak dan nyaman tinggal di surga, tetap saja merasa tidak kerasan ketika beliau hidup sendirian, dan akhirnya diberilah Siti Hawa untuk mendampingi dan menentramkan hatinya. Artinya, bahagia saja tidak cukup. Perlu ada orang lain untuk menggenapkan kebahagiaan tersebut. :p

Mungkin bisa saja kita untuk memilih dan memutuskan hidup menyendiri dan sendirian. Jauh dari keramaian, dan tertolak akses terhadap manusia lainnya, tetapi, ketahuilah, bahwa hidup yang seperti itu, secara tidak langsung telah mematikan kehidupan itu sendiri. Manusia tidak akan pernah mencapai nilai kemanusiaannya tanpa melibatkan orang lain. Taruhlah bahwa nilai kebermanfaatan manusia, yang dalam hal ini menyangkut kebahagiaannya dan kesuksesannya, selalu berkaitan dengan manusia lain, semacam memberikan dedikasi hidupnya agar berguna untuk orang lain.

Bisa kita lihat beberapa contoh kehidupan orang-orang  kaya dunia saat ini, akan kita dapati bahwa kebahagiaan hidup mereka tidak sepenuhnya terletak dalam uang dan kekayaan. Mereka malah lebih suka untuk mengeluarkan uangnya demi bakti sosial dan kegiatan kemasyarakatan atau kegiatan-kegiatan filantropis (derma) lainnya, dan ternyata, itu membuat mereka merasa bahagia. Dan konon kabarnya, mereka malah ketagihan untuk terus menerus melakukan bakti tersebut. Semacam ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa dibeli oleh uang atau materi.

Hidup memang kompleks. Tidak sekedar berpikir tentang makan apa saya hari ini, lalu bagaimana besok, atau dapatkah cita-cita masa kecil terwujud, bagaimana berpelesiran ke luar negeri, dan sekelumit keinginan-keinginan ilusional yang membayang dalam benak dan seakan ketika kita bisa meraihnya, maka kebahagiaan sudah pasti teraih. Padahal tentu saja tidak demikian.

Nyatanya kebahagiaan itu sangat sederhana yang melibatkan orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang perlu mendapatkan “secuil” perhatian dan kepeduliaan kita. Bahwa dengan keberadaan mereka, menjadikan keberadaan kita menjadi bermakna dalam artian bahwa secara tidak langsung mereka telah menyediakan peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan. Maka, sebetulnya yang perlu berterimakasih atas kebaikan kita itu bukan mereka yang mendapatkan kebaikan tersebut, tetapi kitalah, yang karena mereka, masih terbuka peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila dunia ini sudah di dominasi oleh orang-orang yang kaya dan tidak perlu mendapatkan bantuan?

Maka, sebelum engkau makan dengan lahap dan enaknya, perhatikan dulu tetanggamu, perhatikan lingkungan sekitarmu. Apakah mereka sudah kenyang? Sudah makan dan tak kebingungan dengan masalah dunia dan penghidupan? Apakah anak mereka masih suka menangis karena menahan laparnya perut mereka dan orang tuanya yang seakan sudah kehabisan akal dan alasan untuk bagaimana lagi memberi tahukan kepada anaknya bahwa saat itu mereka sedang tidak punya sesuatu untuk di makan? Ataukah keberadaan kita memang sudah kehilangan nilai dan makna, sehingga ada dan tidak adanya kita tidak mempunyai perbedaan sama sekali. Kita kenyang dan tercukupi kebutuhan, sementara di samping rumah kita perut-perut tetangga kita masih tidak bisa tenang dan harus menahan pedihnya lapar.

Ada satu kisah menarik dari sang Kholilullah, yakni Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam. Terkait dengan mengapa beliau mendapatkan gelar Kholil-nya Allah. Gelar yang tidak sembarangan nabi bisa memperolehnya, bahkan diyakini bahwa dengan segala keutamaannya, Nabi Ibrahim di dapuk menjadi nabi yang terbilang paling terpandang diantara sekian banyak nabi. Selain beliau merupakan salahsatu dari ke-5 nabi yang mempunyai predikat Ulul Azmi (yang terbaik kesabaran dan kesyukurannya serta paling tangguh dalam menghadapi cobaan), berkat beliau pula, yang berdoa tiada henti, akhirnya dikabulkan doanya dengan terlahirnya sang cucu jauh, Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wassalam, sebagai perwujudan dari rahmatan lil alamin untuk segenap alam dan sepanjang masa.

Kisah ini adalah tentang bagaimana Nabi Ibrahim mempunyai kebiasaan untuk tidak pernah mau makan sendirian, sebelum ditemani oleh 80 orang tetangga atau orang lain, siapa saja, tidak membeda-bedakan. Dalam keyakinannya, beliau tidak akan makan bila belum berkumpul dengan 80 orang yang akan diajaknya makan. Masya Allah, … bisa dibayangkan bagaimana pemurah, pengasih dan dermawannya Nabi Ibrahim. Dan ini setiap kali beliau mau makan. Jadi kalau misalnya beliau makan 2 atau 3 kali sehari, itu artinya ada 160 atau 240 orang yang beliau beri makan.

Beliau, dalam kisah tersebut, hingga sampai berlelah-lelah untuk mengumpulkan orang sebanyak itu. Dan setelah berkumpul orang banyak tersebut, maka dimulailah makan sambil mengucap syukur dan tiada hentinya mengucapkan terimakasih kepada orang-orang tersebut karena telah mau menemani beliau makan. Karena tiada keberkahan yang berlimpah pada makanan yang hanya di makan untuk diri sendiri, sehingga kita pun sering mendengar istilah yang terkenal di kalangan orang desa atau santri, bahwa tak penting menu makannya apa, tetapi bila makan dengan kawan atau keluarga, maka ada keberkahan tersendiri yang menjadikan makanan tersebut terasa nikmat sekali. Jadi, hampir setiap kali makan, nabi Ibrahim, seperti sedang mengadakan acara syukuran atau hajatan. Karena memang saking banyaknya orang yang beliau undang. Maka itulah Islam,itulah muslim dan mukmin. Perilaku dan tindak tanduk kesehariannya selalu memberikan manfaat kepada orang di sekitarnya. Kebaikan yang tersebar ke sekelilingnya,sehingga benar lah adanya  apa yang telah Rasul Saw sabdakan, “Manusia terbaik itu adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Dalam hadits tersebut, tidak dikatakan orang yang paling bermanfaat itu adalah orang yang kaya. Karena kita tahu, kekayaan saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang baik dan bermanfaat untuk orang lain. Bahkan, terkadang sering kita lihat orang yang tak berpunya, dan malah seharusnya mendapatkan santunan dari pihak lain, malah mendermakan sebagian materinya untuk orang lain. Itulah manfaat. Ia tidak bisa dimonopoli oleh harta dan materi, tetapi merupakan pembuktian kualitas keimanan seorang muslim.

Iman memang letaknya di hati, tetapi buahnya, selalu bisa dilihat dari perilaku yang tampak. Perilaku tersebut merupakan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak cukup untuk disebut sebagai orang yang beriman, ketika lidah dan perbuatannya malah membahayakan orang lain, sehingga orang lain merasa tidak aman dan tidak tenang atas perbuatannya. Tidak cukup pula iman itu dirasakan oleh dirinya sendiri, karena iman yang sejati, dan sebenar-benarnya iman, perlu pembuktian dengan tindakan. Mau sesepele atau sekecil apapun perbuatan baik tersebut, itu tak jadi soal. Lihatlah dawuh Rasul di kesempatan yang lain, ketika beliau menyebutkan bahwa cabang iman itu ada banyak, dan salah satu diantaranya adalah dengan menyingkirkan batu kerikil, cucuk, paku, serpihan kaca atau apapun yang membahayakan di jalan, agar supaya tidak membahayakan orang lain. Lihatlah, ..dengan perbuatan sederhana seperti menyingkirkan batu kerikil di jalan yang dikhawatirkan akan membahayakan orang lain saja, tercatat sebagai perilaku orang yang beriman, dan perbuatan tersebut termasuk pula dari cabang iman.

Jadi, sudahkah anda berbuat baik hari ini?

Ref :

*Link tulisan yang pernah dipublish itu, http://percikaniman.id/2015/10/04/muslim-itu-peka-terhadap-sesama/

Culture · Uncategorized

Mahasiswa ; Kembalilah Ke Budaya Membaca Buku, Bukan Internet.

Zaman memang telah berubah, dan akan selalu berubah. Bahkan mungkin saja roda zaman telah menggilas kita, dan kita terseret tertatih-tatih. Bila tidak bisa menyesuaikan, bisa-bisa kita tergulung olehnya. Tapi perubahan itu tidak selalu positif dan tidak selalu harus diikuti, kan?. Untuk suatu perubahan yang negative, masak harus diikuti, kan amboi anehnya. Terhadap perubahan kita punya pilihan dan berhak untuk memilih. Kata siapa status quo selalu bermakna kolot, jasdul dan norak? Dan kali ini, saya menjadi sangat ingin menuliskan tentang budaya yang kian mengganas dikalangan mahasiswa ; menjadikan internet sebagai segalanya. Yang membuat buku, jendela dunia itu, menjadi kian tidak menarik dan kehilangan tajinya. Alih-alih menaikkan tingkat literasi, saya pikir internet malah membuat budaya literasi di kalangan mahasiswa turun drastis bak ipk-mu, rek. *Eh.

perpusnas
Ya ampuun.. perih mata ini.*Gambar diambil dari web Perpusnas

Bila kita melihat kecenderungan dunia digital dengan akses terhadap informasi yang tak ada habis-habisnya melemparkan kita pada suatu kondisi (yang jauh lebih mengerikan dari) alienasinya Karl Marx. Kita dibingungkan oleh serbuan informasi yang terus menerus, membuat batas antara benar dan salah menjadi setipis harapanku padamu (loh?). Haha. banjir informasi di internet sekarang dengan perspektif yang berbeda-beda ini akan membuat kita bagai minum air asin ; semakin diminum semakin haus. akhirnya alih-alih membuat kita paham, malah membuat kita bingung, salah kaprah dan keblinger. maka, definisi kebenaran bukan lagi sesuatu yang sejati, melainkan jadi sekedar suatu repetisi yang dipaksakan. Kebenaran adalah kebohongan dikali 500 kali. Artinya apa? Kebohongan yang diulang-ulang pada suatu waktu akan menjadi kebenaran dan menjadi opini umum atas suatu masalah.

Buku telah menjadi media alternative dalam menyimpan pengetahuan. Dan itu memang tidak pernah mengecewakan. Tetapi dengan menyingsingnya fajar era internet, apakah masih relevan dan patut bahwa yang memonopoli peng’arsipan’ atas pengetahuan itu dipegang oleh buku? Apakah internet bisa menjadi cara baru kita dalam merawat kewarasan berpikir dan sumber mencari pengetahuan, informasi dan ilmu? Kita sepertinya masih ragu untuk sampai ketahap itu. terlebih, setahu saya google itu, misalnya, isinya adalah sampah semua. Belum lagi fakta yang mengejutkan bahwa apa yang kita cari dari google, Wikipedia, Yahoo atau blog hanya 4% dari apa yang ada di samudera luas internet. Kita masih berada di permukaannya saja (itulah mengapa kita sering mendengar untuk aktivitas kita mencari informasi di google dinamai dengan istilah surfing atau berselancar), karena 96% informasi di internet (yang jarang atau susah di akses?) terdapat di kedalamannya yang dikenal dengan istilah deepweb atau bahkan ada lagi yang lebih dalam ; darkweb. Disana terdapat jurnal-jurnal ilmu pengetahuan, riset dari yang normal hingga yang absurd bahkan bengis pun ada. Tapi bukan tempatnya disini untuk membincangkan tentang keeksotisan deepweb. *Tsaah

perpus-geologi-ugm
Doi sejati eykeu

Nah, Sebuah paper yang ditulis oleh John Gehl dan Suzanne Douglas yang berjudul From Movable Type to Data Deluge, yang diterbitkan oleh Jurnal Educom Review, menjelaskan tentang berubahnya kendali informasi dan pengetahuan. di era sebelumnya, kita menganggap pembawa pesan memiliki lebih banyak informasi dan pengetahuan daripada pembaca. di era internet, posisi itu berubah ; pemilik kontrol bukan si pembawa pesan, tapi si pemegang gadget.

Kata gehl dan douglas, internet telah membuat penggunanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena akses dan kesetaraan informasi. dengan ketersediaan informasi yang sangat luas itu yang bisa mereka akses lewat ujung jari, pengguna internet merasa bahwa level pengetahuan mereka setara dengan siapapun. sementara kalau menurut Elias Aboujaoude, seorang doktor ilmu kejiwaan klinis dari stanford university, mengemukakan bahwa internet meyakinkan kita bahwa kita lebih terpelajar, lebih dewasa atau lebih pintar dibanding kita yang sebenarnya. internet telah menjadi mesin peningkat rasa percaya diri yang belum pernah ada dalam peradaban manusia. Padahal aslinya bisa jadi kita tidak seperti anggapan tersebut.

Mengutip tulisannya Hilman Fajrian yang menyebutkan laporan British Library pada tahun 2008, bahwa pembaca buku dan pembaca digital itu mempunyai perilaku yang berbeda. Otak pun bekerja dengan cara yang berbeda antara membaca buku dan digital. pembaca digital cenderung tak menyortir, tidak konsisten, tak kritis, melompat-lompat dan tak sabar. rata-rata pembaca onlen hanya menghabiskan 4 menit untuk sebuah buku elektronik, setelah itu melompat ke buku elektronik lain atau internet. dilaporan itu juga disbut 89% mahasiswa inggris menggunakan google untuk mendapatkan informasi. Sebenarnya, sebut british library, pembaca online atau digital tidak benar-benar membaca, tapi “memindai” (scaning atau skimming) halaman. pemindaian inilah yang kita kenal dengan istilah power browse ; cepat dan melompat-lompat. perilaku ini sangat berbeda dengan cara membaca buku yang kita kenal ; perlahan, sabar dan bersedia mengulang. power browse berimplikasi pada tingkat kedalaman pemahaman bacaan, daya kritis, dan daya ingat. yang ujung-ujungnya adalah rendahnya kualitas pengetahuan yang didapat. Cara membaca cepat ini wajar mengingat bahwa ketika kita membaca di layar itu lebih melelahkan ketimbang membaca buku.

Nicholas Carr dalam bukunya yang berjudul “Is Google Making us Stupid?” mengatakan bahwa budaya literasi sebelum masa internet itu seperti berenang di lautan ; perlahan tapi penuh pengalaman. dengan internet, kita seperti mengendarai jetski ; cepat tapi minim pengalaman. Di internet, bahasannya bukan lagi salah atau benar, melainkan yang populer dan tidak. maka siapapun tiba-tiba bisa menulis apa saja, bisa menjadi ahli apa saja, dan bisa menjadi sangat sotoy (:p) dan itu yang berbahaya bagi iklim kebudayaan intelektual kita. Kegiatan untuk mengkonfirmasi terhadap berita juga menunjukan kebalikannya daripada afirmasi di era internet sekarang ini (makanya jangan menelan bulat-bulat setiap berita, khawatirnya keselek. Kunyah dulu pelan-pelan dan utamakan ‘tabayun’ (baca ; kroscek). karena perilaku mengkonfirmasi pemberitaan ini memang jauh lebih melelahkan, lama, dan susah. Sementara di internet, siapa cepat maka itulah yang paling dilirik. Sebelum berintanya menjadi basi dan sudah tidak menarik lagi. akhirnya, kita hanya menerima pemberitaan begitu saja. benar tidaknya tergantung siapa yang paling banyak pembacanya (populer). semakin banyak orang yang setuju (yang ditandai dengan banyaknya like atau share), semakin kelihatanlah benarnya pemberitaan itu. padahal kan belum tentu. perasaan skeptis terhadap isi berita, kekritisan dan curiga jadi hilang begitu saja. Lagi-lagi kata Gehl dan Douglas, “Kalau anda menginginkan informasi yang sejati di internet, berarti anda punya masalah”. hehe. Nah, kan!

Seperti kemarin misalnya, ketika muncul isu rencana aksi mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai ‘aksi bela rakyat’. Semua mahasiswa mendadak menjadi ahli ekonomi, ahli politik, ikut menyuarakan pendapatnya antara yang pro-aksi dan kontra. Saya kira informasi yang mereka tahu hanya sebatas apa yang ada di internet. Meskipun hampir di setiap kampus menyelenggarakan kajian analisis terhadap isu-isu tersebut sebelum memunculkan sikapnya masing-masing, tetap saja internet menjadi andalan untuk berbicara, beropini dan menyanggah. Saya tidak hendak mengomentari tentang aksi tersebut, tapi lebih kepada bagaimana konstruk berpikir mahasiswa yang bila informasinya searah hanya dari internet, akan seperti apa dampaknya. Tapi kalau bukan dari internet, lantas kita dapat ‘pengetahuan’ itu darimana? Nah, bisa banyak sebetulnya, bisa dari dosen, pakar, koran, atau majalah. Tapi itu hanya input, prosesnya tetap ada di kepala mahasiswa, bagaimana dia mengolah akan sangat menentukan apa outputnya. Itu yang lebih kurang bisa menunjukan independensi dari sikap seorang mahasiswa. Ah tiba-tiba saya jadi mau mengutip kata-kata Pram yang sangat membekas di novel Bumi Manusia, “Sebagai orang yang terpelajar, harus sudah bisa adil sejak dalam pikiran.” meskipun mahasiswa juga tidak semestinya di judge atas setiap outputannya itu, karena sepanjang itulah mahasiswa bergelut dengan pemikiran, lingkungan dan keresahan internal jiwanya. Bila pun ternyata keliru, kan masih bisa dianggap wajar, sebagai sekelompok orang yang masih dalam tahap belajar dan merasa.

Kalau kita menganggap bahwa pemerintah anti-kritik karena berpikir semua kebijakannya itu lahir dari pikiran para ahli dan politisi, ini juga keliru.  Proses dinamika dalam kehidupan berbangsa itu harus terus ada. Maka, meskipun gagasan yang diusung mahasiswa keliru (misalnya), tetap saja itu satu nilai yang harus diapresiasi. Saya sepakat dengan Fauzan Fikry, yang mengutip Pak Ashjar Imron, salahseorang anggota MPM ITS era 70-an, yang mengatakan bahwa dahulu kalau mahasiswa ditanya solusi, ada jawaban standar ; kami ini ibarat pasien, bukan dokter. Pasien yang merasakan sakitnya masyarakat. Sementara anda lah dokternya yang kami bayar yang harus mencari solusinya. Jangan terjebak dengan kajian atau analisis mereka yang pasti lebih hebat dan punya jam terbang yang lebih tinggi. Konsentrasilah sebagai pasien, berbicara moral mewakili denyut nadi wong cilik.

Kembali lagi kepada internet sebagai sumber informasi. Apakah ia sah sebagai sumber? Sah-sah saja, selama itu hanya menjadi pembanding atau sumber sekunder. Yang jadi masalah adalah menjadikan internet segala-galanya terlebih tanpa melihat siapa yang berbicara atau yang menulis.  

Tapi, meskipun pada akhirnya kembali lagi kepada proses kreatif dan kearifan manusianya itu sendiri dalam mempergunakan internet. Kita sudah tahu bahwa internet itu sepertihalnya pisau bermata dua. Bisa negative, bisa pula positif. Karena teknologi itu netral. Manusialah yang memberikan makna kedalamnya. Dulu juga Aristoteles pernah mengkritik tulisan, karena ia dianggap menghilangkan tradisi diskusi dan menumpulkan ingatan. Yang jelas perubahan itu pasti, setiap teknologi baru bisa jadi akan menimbulkan ketakutan. Tapi manusia selalu bisa menyesuaikan diri dengan tingkat survival yang luar biasa dan sungguh mengagumkan. Bukankah keberadaan manusia yang sudah ribuan tahuan hingga sekarang membuktikan, bahwa kita telah bisa menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup itu sendiri. Jadi, bisa jadi apa yang saya tulis ini keliru, dan tugas kita lah untuk terus mencari dengan membuat antitesa dari setiap tesa yang ada. Selalu begitu proses dialektika yang kadang melelahkan, tapi terdapat kenikmatan dan keasyikannya sendiri.

perpus
Kalo surga itu memang ada, maka didalamnya pasti bakalan banyak buku. (Garcia)

Referensi :

Jakob Nielsen, How Little Do Users Read, 06 mei 2008.

Harald Weinreich, Hartmut Obendorf, Eelco Herder, and Matthias Mayer: “Not Quite the Average: An Empirical Study of Web Use,” in the ACM Transactions on the Web, vol. 2, no. 1 (February 2008), article #5.

Hilman Fajrian, Internet membuat kita makin ‘bodoh’. 2012. Kompasiana.

John Gehl, Suzanne Douglas, From Movable Type to Data Deluge, diterbitkan oleh Jurnal Educom Review.

Nicholas Carr, Is Google Making us Stupid?

Buku · Ekonomi · Historis · Review

Sang Maestro ; Sebuah Review

maestro
Covernya

Data buku :

Judul : Sang Maestro ; Sejarah Pemikiran Ekonomi
Pengarang : Mark Skousen
Penerbit : Prenada Media Grup
Halaman : 564 hlm + xii
Cetakan : 5, Januari 2015
Ukuran : 15×23 cm

Sudah sejak lama saya ‘ngebet’ dengan ide-ide yang membentuk pemikiran ekonomi dan keberjalanan sejarahnya hingga membentuk tatanan dunia seperti sekarang ini. Meskipun saya berlatarbelakang pendidikan teknik, dan di kelas hanya sekilassingkat saja tentang ekonomi, itu pun yang praktis semacam pengantar untuk manajemen finansial, perhitungan biaya atau resiko, analis investasi, dlsb. Padahal ekonomi jauh lebih menarik daripada hal-hal semacam itu saja.

Buku ini adalah koentji, yang saya dapati belakangan ini, agak terlambat memang. Buku yang diterjemahkan sejak tahun 2004 dan baru saya tahu akhir tahun lalu dan baru berkesempatan untuk mengkhotamkannya kemarin di sela-sela EAS (Evaluasi Akhir Semester) dan kesibukan lainnya. Saya menikmati pembacaan terhadap buku ini, buku yang menghadirkan sebuah keunikan dalam penyampaiannya oleh Mark Skousen. Selamat, tujuan anda tercapai bung. Buku ekonomi yang benar-benar menarik, renyah, dan jauh dari kata kering, muram atau gersang. Sejak dari halaman pertama, sudah menimbulkan ‘hasrat’ yang menggebu-gebu untuk menuntaskannya. Jarang ada buku yang punya efek seperti itu. 😀

Buku ini membuat saya lebih paham tentang sejarah ide, libertarian, sosialisme, kapitalis, sejarah uang, dlsb, hingga bisa merampungkan satu artikel yang ditujukan untuk diikutsertakan sebagai prasyarat mengikuti kelas singkat Mazhab Ekonomi Austri a.k.a Mises BootCamp, di Jakarta, yang diselenggarakan oleh SFL (Student For Liberty) Indonesia. Sayangnya saya malah ndak jadi berangkat karena alasan konyol ; kehabisan tiket kereta Surabaya-Jakarta. *Bbrrrr

Review ini sengaja saya buat karena dalam benak saya, belum tuntas sebuah pembacaan terhadap buku hingga ia dituliskan, hingga ia bisa dipahami dalam bentuk yang lain. Kata sebuah pepatah, “Kau belum benar-benar paham hingga bisa menjelaskannya ke nenekmu, dengan sesederhana mungkin tetapi isinya sampai”. Itu memang susah dan perlu pembiasaan, makanya setiap baca buku, sebaiknya hasilnya didiskusikan dengan teman atau dituliskan. Karena bila hanya selesai dan berhenti di titik terakhir dari halaman terakhir buku, bisa jadi proses pengendapan buku itu tidak akan terlalu mendalam. Karena kalau yang membedakan setiap orang adalah dari bacaan bukunya, maka akan lebih komplit lagi untuk menyempurnakan pembacaan itu dengan mendiskusikannya. Walaupun saya juga seseringnya memperlakukan buku semenjak halaman pertama sebagai teman diskusi (selain teman duduk). Artinya dalam pembacaan saya, ada proses diskusi didalamnya. Kadang saya tidak sepakat dengan apa yang dituliskan penulis, kadang sepakat, kadang perlu saya bubuhkan komentar di bawahnya, kadang saya caci apa yang ditulis penulisnya, dlsb. Saya tidak mentah-mentah menerima begitu saja. Makanya jangan pernah mau meminjamka buku ke saya, karena bisa dipastikan buku itu akan kembali tidak seperti sedia kala. Bukan karena tidak utuh, melainkan sudah akan penuh dengan coretan-coretan saya. Haha. Saya jadi ingat kata-kata Gusdur, “Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya kepada orang lain, tapi orang lebih bodoh lagi kalau mengembalikan buku yang ia pinjam”. *satir. Halah kok malah melebar kesini. *Kebiasaan. :p

Tesis dari buku ini sebetulnya sederhana ; ingin menampilkan perkembangan ilmu ekonomi dari mula kemunculannya yang ditandai oleh tokohnya yang terkemuka ; Adam Smith dengan magnum opusnya yang berjudul The Wealth of Nations hingga hari ini dengan cara yang unik. Dijalin dalam alur semenarik novel dengan tokoh-tokoh yang saling berkaitan dan tak terpisah. Semuanya berkumpul untuk membangun sebuah rumah ‘ekonomi’ yang bisa kita saksikan seperti sekarang ini. Sebuah rumah yang menaungi dunia ini dengan visinya untuk menciptakan kekayaan universal, meningkatkan standard hidup semua orang, menjunjung kebebasan, pasar bebas, distribusi merata, kesempatan yang sama, dan untuk hidup yang diharapkan akan menjadi semakin lebih baik dan lebih baik lagi.

Buku ini juga menampilkan ide-ide libertarian, yang diserang oleh sosialisme terutama serangan gigih dari Karl Marx, namun fakta telah menunjukan siapa yang menang diantara pertarungan 2 wacana atau ide tersebut. Ide-ide sosialis dan marxisme sudah tidak akan pernah dilirik lagi oleh dunia, karena kegagalannya yang pasti di Uni Soviet. Jadi, gak perlu sebegitunya takut dengan kebangkitan PKI. Hehe. Orang dungu mana yang mau menerapkan sebuah sistem yang sudah nyata-nyata gagal. Karena dalam system ekonomi, satu teori tidak akan pernah dipakai bila ternyata gagal dalam tataran praktis atau realnya. Ilmu ekonomi selalu menyandingkan dan menyandarkan antara kenyataan dengan teori. Bila teori tidak mendapatkan landasannya dalam dunia nyata, yang mereka sebut sebagai teori menara gading, jelas-jelas sebuah keburukan. Makanya dalam sejarah ekonomi ada yang disebut dengan istilah Kejahatan Ricardian. Saya kira apa, ternyata karena David Ricardo yang memasukkan terlalu banyak teori matematika kedalam ilmu ekonomi tanpa ada pembuktian real di lapangannya. Meski kuat secara logika, ia jadi tidak terlalu berguna dan malah membuat ilmu ekonomi jadi gersang, tidak menarik, dan menjauhkannya dari dunia nyata.

Di hal sampul ada 3 kutipan yang menarik untuk membuka buku yang setebal 563 halaman ini ;

“Mencari kekayaan, .. bagi sebagian besar manusia adalah sumber perbaikan moral terbesar.”

–Nassau Senior

“Ide dari filsuf politik dan ekonomi, baik itu benar atau salah, lebih kuat ketimbang yang diperkirakan. Sesungguhnya dunia ini dikuasai oleh segelintir orang.” – Jhon Maynard Keynes

“Ilmu ekonomi membahas drama terbesar dari seluruh umat manusia, yakni perjuangan umat manusia untuk melepaskan diri dari keinginan.” – John M. Ferguson

Laissez Faire

Adalah sebuah konsep tentang kesejahteraan manusia yang mengacu kepada system pasar bebas dan tanpa intervensi (yang berlebihan) dari Negara, sehingga mekanisme pasar yang ‘diatur’ oleh tangan alamiah atau tangan ghaib bekerja sebagaimana mestinya. Nantinya konsep ini akan bertarung dengan konsep sosialisme marxis (paham intervensionisme). Dan kita tahu siapa yang keluar sebagai pemenang dari pertarungan itu.:D Hail ya Adam Smith !

Jadi semua perjalanan ide-ide ekonomi (teori dan praktik) itu cuma berkisar dari pondasi yang telah diletakkan oleh Adam Smith, lalu dari sana dimulailah periode revisian, koreksi, hingga lahirnya tesis yang bertentangan, dan akhirnya menuju penyempurnaan di penghujung abad 19 atau awal 20. Lebih kurang cerita ringkasnya adalah begitu. Filsapat kebebasan alamiah dan invisible hand yang diajarkan Smith menjadi karakter utama dalam sejarah ekonomi modern ketika revolusi industry dan kebebasan politik muncul ke panggung sejarah umat manusia, dan menciptakan era baru kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi sepanjang dua abad sesudahnya.

Tantangan pertama yang berusaha menggoyahkan tatanan dari Smith berasal dari 2 muridnya yang terkenal dan berpengaruh ; Robert Malthus dan David Ricardo. Keduanya mengemukakan doktrin yang muram tentang hukum besi upah subsisten (standar minimum atau gaji pas-pasan bagi pekerja) dan penderitaan yang tiada akhir dari kelas buruh. Lalu muncul lah Jhon Stuart Mill yang digalaukan oleh kebebasan (liberty) dan sosialisme pada saat komunitarianisme sedang ada di puncak-puncaknya. Terus pada revolusi industry di abad ke 19 pertengahan, muncul tokoh yang radikal dengan kehadiran Karl Marx ke panggung sejarah secara mengejutkan. Ia bicara tentang eksploitasi (buruh) dan alienasi (keterasingan) di kalangan kaum buruh industry. Sebetulnya gampang sekali sekarang untuk mematahkan argument-argumen dari Karl Marx, karena secara kenyataan konsepnya sudah jadul dan gak di upgrade. Konsepnya hanya berlaku ketika revolusi industry sedang marak. Sementara sekarang, dengan kemajuan zaman, perbaikan kualitas hidup, standar kesejahteraan buruh, motif kerja dlsb, menjadi jelas bahwa konsep Karl Marx sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Apalagi selepas ujicobanya yang gagal di Negara Soviet. Konon, China juga sudah gak komunis-komunis amat, system ekonominya malah menganut ekonomi pasar bebas. Komunismenya hanya disimpan untuk urusan politik tok. Nah kan? Atau kita bisa melihat negara yang komunis tulen sekarang seperti Cuba dan Korea utara, dan siapa pulak yang mau hidup terbelakang seperti mereka? Terisolir dari dunia luar dan takut perubahan. :p

Setelah era Marx, si anak nakal yang kurang ajar, lalu munculah revolusi marginal yang dihidupkan oleh 3 tokohnya yang berperan penting ; Carl Menger di Austri, Leon Walras di Swiss, dan William Stenley Jevons di Inggris. Setelah itu muncul depresi besar karena krisis ekonomi yang parah di tahun 1929-1930 dengan memunculkan Maynard Keyness sebagai tokoh kuncinya. Tapi sekarang kita juga tahu bahwa beberapa teoriya ternyata tidak cukup akurat untuk memprediksi kelakuan ekonomi makro, mikro dan relasi uang yang menghubungkan diantara keduanya. Dan siapakah yang bisa menjembatani permasalahan yang serius itu? yap, dia adalah Ludwig Von Misses, yang sekarang di puja-puja, apalagi oleh kalangan libertarian. Ekonom asal austri ini, bersama temannya, Friedrich Von Hayyek (yang pernah memenangkan nobel ekonomi) berhasil menyelamatkan kapitalisme. Oia, Keynes pernah dipuja-puja karena komprominya antara ekonomi kapitalis dengan intervensi dari pemerintah. Keyness ini bukan pewaris adam smith yang sah. Haha. Ia mencampurkan konsep kapitalis dan sosialis, pemerintah diberi bagiannya untuk turut ikut campur dalam perekonomian di lapangan (secara makro).

Babak terakhir (yang dikisahkan oleh buku ini) adalah setelah perang dunia kedua. Para ekonom monetaris yang anti revolusi, dipimpin oleh Milton Friedman dari Chicago, mulai memfokuskan pada kajian tentang ketidakstabilan kebijakan makro pemerintah. Nah, Friedman yang suka karya empiris ketimbang model abstrak, menunjukan bahwa ikut campurnya pemerintah kebanyakan menghasilkan efek negative. Ia mencontohkan biang keladi yang memicu depresi besar ternyata adalah kebijakan2nya Federal Reserve. Akhirnya, dengan mengadopsi kebijakan moneter yang stabil, maka ekonomi pasar yang mengatur diri sendiri a la Adam Smith sekali lagi bisa kembali berkembang.

Yang menarik dari buku ini adalah selain menampilkan ide-ide dari para ekonom, juga dilengkapi secara ringkas kisah hidup dan latarbelakang keilmuannya sehingga bisa melahirkan teorinya itu. ini yang penting, karena kita juga perlu memahami kehidupannya selain memahami ide-ide mereka. Karena jelas tidak adil jika kita mengabaikan suatu teori dari seorang filsup hanya karena dia mungkin seorang suami yang buruk atau pemabuk. Kita tahu kehidupan Karl Marx memang patut dicela, tetapi apakah itu berarti teori alieanasi dan eksploitasinya keliru? Ide-ide mempunyai manfaat dan dasarnya tersendiri, dan manfaat itu tidak ada hubungannya dengan orang yang menggagasnya.   

Buku ini diperuntukkan untuk pembaca umum bahkan untuk orang yang bukan dari jurusan ekonomi macem saya pun bisa sangat menikmatinya. Ekonomi dibuat sesederhana dan sejelas mungkin. Cocok bagi yang ingin mengetahui terbuat dari apa ekonomi modern itu. sebuah cerita yang menarik dan based on true.

Kata Paul Samuelson, Akan kuberitahu kalian satu rahasia. Ahli-ahli ekonomi sering dipandang sebagai orang yang berpikiran segersang debu dan menjemukan. Anggapan itu keliru, sebab yang benar adalah sebaliknya.

Culture · Engineering · Kampus

Merevisi Kaderisasi Kampus

Note : dibawah ini berserakan istilah-istilah yang berhubungan dengan teknik kimia. Jadi jangan kaget ya.

Saya jadinya juga ikut-ikutan menjadi mainstream dengan ikut membahas agenda abadi dan terpenting di segenap pelosok kampus Indonesia ; Kaderisasi. Entah itu dari segi urgensinya, pro-kontra, efisiensi, nirrelevansi, dlsb. Tapi oke lah kita sepakati dari awal bahwa disini saya tidak hendak memprovokasi anda untuk menolak kaderisasi, karena saya percaya bahwa “bila anda ingin menghancurkan sebuah system atau ide atau gagasan, maka anda harus membuat atau memunculkan system atau ide atau gagasan baru untuk menggantikannya”. Jadi daripada berangkat dari nol lagi, kenapa tidak di revisi saja yang sudah ada. Kita hanya perlu melanjutkan upaya-upaya yang sudah dirintis oleh para pendahulu di kampus (*saya tidak mau menyebut mereka senior, karena kontruksi senior-junior adalah fasis dan melahirkan mental inlander! Haha :p), dengan harapan agar proses itu bisa menjadi lebih baik lagi dengan upaya untuk merevisi yang tidak perlu dan menambal beberapa kekurangannya.

gerigi-its
Gerakan Integralistik ITS. gerbang awal Ospek (Kampus), yang selanjutnya akan diikuti dengan sedereta ospek atau kaderisasi di setiap jurusannya.

Revisian ini tentunya dengan mempertimbangkan efisiensi prosesnya, output kaderisasi, visinya yang jauh ke depan, human resources dan upaya-upaya untuk mencari model kaderisasi yang ideal atau setidaknya menuju kepada proses perbaikan segenap elemen massanya. Proses adalah kata lain untuk mengawal perbaikan ini, bahwa semenjak awal perlu ditekankan bahwa kaderisasi bukanlah searah, melainkan dua arah, timbal balik, reversible, di pihak yang dikadernya maupun pengkadernya, sehingga tidak akan melahirkan gap atau pandangan bahwa pengkader adalah segalanya, serba tahu, serba benar, sementara yang di kader dianggap sebagai barang mentah yang masih polos sehingga harus diperlakukan seperti anak kecil yang belum bisa berpikir mandiri dan harus diarahkan segenap perilaku, sikap dan pikirannya. Kaderisasi adalah pendewasaan, adalah pembentukan pola pikir atau konstruksi berpikir yang benar, adalah kesetaraan dan egaliter. Sehingga bila senior salah, tidak menutup kemungkinan untuk dikoreksi, dan harus mau. 🙂

Sebagai langkah awal untuk mencari sebuah sistem kaderisasi yang baik kita bisa berangkat dari studi biografi. Pilih beberapa nama yang bersinar atau sukses, berusia paruh baya sekira 30-35 tahunan (sehingga kehidupan mereka dengan kampusnya tidak terlalu jauh-jauh amat), lalu  pelajarilah proses kaderisasi yang mereka lalui hingga mereka bisa menciptakan karya yang cemerlang. Demikian juga sebaliknya, pilih beberapa nama eks-aktifis kampus yang lahir dari kaderisasi “mainstream” dan kini berusia 30-35 tahun. Kemudian lihatlah kiprah mereka saat ini. In fact, Kenyataannya orang-orang yang sukses paska kehidupan kampus ternyata bukan produk dari kaderisasi “mainstream”. Orang-orang berusia 30-35 tahun yang kini memiliki karya fenomenal kebanyakan adalah yang dulunya “biasa-biasa” saja di kampus (bukan aktifis populer), untuk memberikan contoh ambil saja nama seperti Ceo bukalapak, gojek, atau mungkin Elon musk juga bisa kita masukkan dalam kategori ini. Kita pun tak jarang mendengar beberapa testimoni yang kurang baik tentang eks-aktifis kampus namun sekarang kerjanya nggak becus : Keras kepala, songong, teamworknya jelek (*ini kata alumni :p). Bila kenyataannya memang demikian apakah masih layak untuk mempertahankan kaderisasi semacam ‘itu’ sekian puluh tahun, tentu sangat layak juga untuk mempertanyakan kembali validitasnya dengan melihat seberapa jauh kiprah mantan-mantan kadernya di dunia ‘nyata’ ; di rimba belantara kehidupan yang sebenarnya.

Setiap kaderisasi akan mempunyai coraknya tersendiri. Kampus tertentu akan melahirkan warnanya yang khas. Sehingga antara kampus institute, universitas atau politeknik, sekurangnya akan terdapat perbedaan dari segi kaderisasi dan hasilnya. karakter dari lulusan ITS dan ITB (misalnya), di dunia kerja atau di post-post struktural tertentu ternyata berbeda. Karena resources atau sumberdaya dan permasalahan yang dihadapi pun pasti beda. Input selalu menyertai output, malah bisa dibilang input sepenuhnya dipengaruhi oleh output. Keluaran apa yang diharapkan oleh suatu organisasi, pada saatnya akan menentukan konten, capaian, dan ‘cara’ dari kaderisasi itu sendiri. Makanya, perubahan zaman menjadi sangat relevan disini. Kita tidak mungkin mempertahankan cara kaderisasi lama yang sudah ‘jadul’ atau “yang gak aptudet” untuk tetap dipaksakan dan dicekokan ke mahasiswa baru. Zamannya beda, tantangannya juga beda. Nah, ini sebetulnya bisa menjadi diskusi yang panjang lebar karena telah memasukkan unsur ‘tantangan (zaman)’. Sebetulnya kaderisasi kampus itu tujuannya jangka pendek (skala kehidupan kampus hingga lulus tok) atau jangka panjang (untuk kehidupan setelah kampusnya juga). Bila orientasinya jangka panjang, dan begitulah para senior atau alumni sering menitikberatkan pada kebanyakan konten kaderisasi yang sangat dipengaruhi dan disesuaikan oleh kebutuhan pabrik atau industri (?), yang merupakan tempat nantinya bagi seorang mahasiswa teknik kimia seperti saya misalnya. Tentu saja ada distorsi disini, kalau begitu bagaimana dengan nasib lulusan teknik kimia yang tidak berminat untuk bekerja di industry? “mental” yang sudah diajarkan itu kan menjadi non sense. Kenapa tidak mulai dengan standard yang lebih universal dan bisa berlaku dimana saja? Saya kira nilai-nilai semacam kerja sama, budaya apresiasi, solidaritas, kejujuran, kerja keras dlsb sangat dibutuhkan oleh siapapun orangnya. Makanya diawal, salahsatu solusinya adalah dengan studi biografi tokoh. Karena ini bertumpu pada 2 hal ; aspek empiris dari si pelaku, dan aspek historis oranglain yang bisa ditiru. Sehingga nantinya hanya cukup merubah beberapa hal dan penyesuaian saja untuk diterapkan. Harapannya? Minimal bisa menyamai kesuksesan orang itu. bukankah manusia memang paling suka meniru? Atau dalam bahasa postmo, amati-modifikasi-tiru-inovasi.

Kenapa kaderisasi selalu menjadi sorotan utama dan perlu mendapat perhatian serius? Karena beberapa hal juga sebenarnya. Kaderisasi dianggap vital tidak hanya untuk keberjalanan atau regenerasi dari suatu organisasi, melainkan pada kaderisasi itu juga kita mengharapkan lahirnya bibit-bibit unggul. Terbentuknya mahasiswa yang berkarakter. Sehingga investasi para pengkader untuk menyisihkan waktu yang lebih bagi proses ini tidak berakhir sia-sia.

Kalau pun ada yang menolak kaderisasi, sejatinya ia bukan menolak mentah-mentah kaderisasinya, melainkan cara atau metodenya saja. Siapapun akan sepakat bahwa kaderisasi itu penting, perlu dan bermanfaat. Tetapi bila metodenya salah atau banyak kelirunya, ini akan berimbas pada buruknya citra kaderisasi. Siapapun akan sepakat bahwa Lari keliling kampus dan push up itu baik dan menyehatkan. Mengundang pembicara untuk mengisi materi juga bagus. Jalan bebek, merangkak, atau lainnya, bagus-bagus saja untuk latihan fisik. Tapi kalau diikuti dengan ‘perilaku’ yang tak semestinya seperti ada hierarki senior-junior, ini mulai tidak baik. Yang ingin saya kritisi salahsatunya adalah itu, senioritas sudah gak jaman lagi. Itu benar-benar budaya atau mental inlander. Struktur hierarkis yang menempatkan sekelompok orang diatas sekelompok lainnya adalah penindasan! Haha. Saya tidak pernah setuju dengan senioritas! Apalagi kalau atas nama senior lantas bisa memaksakan yang tidak-tidak atau yang gak masuk akal, sampai kontak fisik misalnya, ini jelas keliru. Penyalahgunaan posisi. Baik kontak fisik (abuse) atau verbal abuse (lewat kata-kata, bentakan atau cercaan) sampai kapanpun tidak akan bisa melahirkan seseorang yang berkarakter kuat, tangguh, dan menjadi SDA unggul. kalau menjadi orang yang gampang mengeluh, pandai mengomel (seperti saya?), menyalahkan orang lain, mungkin bisa. :3

Kata alumni, dia pernah kagum dengan salahsatu organisasi pecinta alam yang kaderisasinya kata dia terbilang bagus. Yaitu wanadri. Kaderisasi di wanadri, selain mempnyai coraknya sendiri, juga terdapat keunikan dari hierarki antara yang dikader dengan pengkader. Jadi di sana itu konon katanya, jika sang pengkader (mereka menyebutnya pelatih) memanggil para peserta, mereka menggunakan sebutan “tuan”. Bandingkan dengan sebutan-sebutan di beberapa ospek yang mengarah pada verbal abuse. Atau hal yang tak pantas lainnya!

Nah, terus corak atau hierarki senior-junior yang buruk lainnya bisa dilihat dari kontraproduktipnya atau berlawanan dengan esensi dari kaderisasi itu sendiri. Hierarki itu tidak memungkinkan yang dikader untuk bisa memunculkan daya kritis. Karena sedari awal sudah dibatasi oleh tembok yang mengatakan, “Kita ini senior. Apa yang kita lakukan benar dan itu untuk kebaikan kalian semua juga. Nanti kalian akan tahu manfaatnya kaderisasi”. Jangan sampai pikiran-pikiran seperi itu menjadi argument normatif untuk mensahihkan perbuatan-perbuatan oportunis selama proses kaderisasi. Jadi alih-alih mempertahankan lingkungan yang menciptakan gap angkatan atau lahirnya senior-junior, kenapa tidak dimulai kaderisasinya dengan konsep egaliter. Kesetaraan, keceriaan, kesenangan, dan hal-hal menarik lainnya harus dimasukkan kedalam kurikulum kaderisasi. 😀

Kenapa saya panjang lebar membahas-soal-kan kaderisasi ini, meski kita juga tidak menutup mata bahwa kaderisasi bisa saja bukan segalanya. Bukan lagi menjadi satu-satunya faktor pembentuk karakter mahasiswa (naïf sekali kalau sampai berpikiran seperti ini). Jadi tidak fair juga kalau semua permasalahan yang berkaitan dengan karakter mahasiswa atau kompetensi, mental dan pikirannya, melulu menjadikan kaderisasi sebagai kambing hitamnya. Hanya yang perlu digaris bawahi adalah ini, bahwasannya kaderisasi itu merupakan kegiatan yang sangat time consuming, jadi wajar saja jika orang mempertanyakan hasilnya. Selain tentang investasi waktu yang telah disisihkan, ini juga berhubungan dengan efisiensi prosesnya, efektivitasnya, dan output yang dihasilkannya.

Seinget saya (saya nggak tahu sekarang bagaimana) ospek dilakukan nyaris satu semester full (atau ada yang sampe setahun). Lupa berapa kali pertemuan yang dilakukan, yang jelas kegiatannya dilakukan nyaris 2 atau 3 kali dalam seminggu (yang resmi dari panitianya). Belum lagi pertemuan angkatan untuk menyelesaikan tugas-tugas dari panitia tersebut. Tugas buku marun emang menyebalkan, saya sampai harus membuatnya 2 kali. *peace. Panitianya juga meluangkan waktu setidaknya dua kali lebih banyak. Jadi, seandainya kaderisasi itu hasilnya baik, kita masih bisa mempertanyakan apakah hasilnya sepadan dengan banyaknya waktu yang diinvestasikan?

Terakhir, asumsi dasar lainnya adalah “corak” lama, sepertinya dipikir-pikir memang efektif untuk membangun solidaritas diantara kader. Saya percaya, meski ketika kaderisasi kami ditampar, disuruh jalan bebek, merangkak, bahkan ada yang lebih absurd lagi selain itu, itu semua ternyata bisa membuat angkatan saya menjadi semakin solid dan saling mengenal.

Dan, ya ampun, saya sepertinya sudah terlalu kebanyakan berbual dalam tulisan ini. Intinya, saya sangat sotoy dengan data yang seadanya. Jadi, dari sekian pemaparan diatas, bisa saja ternyata saya salah. 😀

gerigi-banyakan
Lumayan dapet Muri. :p

Referensi :

*Beberapa ide dalam tulisan ini dianggit dari Kang Zul(kaida) Akbar, yang sedang nyelesain Ph.D di FSU, Amerika. saya berhutang banyak kepada beliau. 🙂